15 March 2012

Asli Flores lahir di Surabaya

Ada kasus pembunuhan besar di Surabaya. Pelakunya Emil Budi Santosa. Koran top di Surabaya menyebut Emil sebagai 'pria asli Flores yang lahir di Surabaya'.

Bagi orang yang lama tinggal di Jawa Timur, frase itu tidak asing lagi. Bisa ditebak maksudnya ayah si Emil berasal atau lahir di Flores. Bukan asli Surabaya dalam arti leluhurnya wong Suroboyo.

Pertanyaannya, mengapa Emil yang lahir di Surabaya, tidak bisa berbahasa daerah Flores, sekolah dari TK sampai universitas di Surabaya... tetap dicap asli Flores? Mengapa tidak disebut warga Surabaya saja? Bukankah dia ber-KTP Surabaya, bayar pajak untuk Surabaya?

Lantas, anak2 Emil yang sudah jelas lahir dan besar di Surabaya, tak pernah ke Flores, tak bisa bahasa lokal di Flores.. juga dianggap 'asli Flores kelahiran Surabaya'? Tidak jelas.

Masalah kependudukan memang mudah diselesaikan dengan KTP. Tapi soal asli tidak asli rupanya agak jelimet. Sampai sekarang generasi ketiga dan seterusnya belum dianggap ASLI hanya karena kakek-neneknya bukan asal Surabaya.

Persoalan ini tak lepas dari budaya mudik yang sangat kuat di Jawa. Mudik jadi ritual wajib dan ditradisikan dari generasi ke generasi. Maka, generasi ketiga atau keempat yang leluhurnya asal Madiun misalnya tetap merasa sebagai orang Madiun meski hanya mudik ke Madiun sekali setahun.

Karena itu, meski penduduk Surabaya bertambah tiap tahun, mendekati 5 juta jiwa, tetap saja orang asli Surabaya tidak pernah bertambah. Bahkan, wali kota Surabaya seperti Tri Rismaharini atau mantan wali kota Surabaya Bambang DH pun tetap ditulis di koran bukan asli Surabaya.

Yang menarik, dan perlu diapresiasi, koran2 Surabaya selalu menulis legenda jazz Bubi Chen atau penyanyi Ervinna sebagai asli arek Surabaya meskipun keturunan Tionghoa. Jadi, tidak ditulis 'pemusik asli Tiongkok yang lahir di Surabaya'. Ini juga menunjukkan bahwa etnis Tionghoa sudah dianggap sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Surabaya.

No comments:

Post a Comment