16 February 2012

Wayang kulit meriahkan nyadran Bluru Kidul



Masih terkait tasyakuran laut atau nyadran, Rabu malam (15/2/2012), ratusan warga menikmati pergelaran campursari dan wayang kulit semalam suntuk. Panggung untuk pesta masyarakat nelayan kerang ini dibuat persis di atas dermaga Bluru Kidul.

Sebelumnya, pagi hari, digelar ruwatan untuk dua putra H Waras, ketua panitia nyadran sekaligus koordinator nelayan Bluru Kidul. "Kita ingin nguri-uri atau melestarikan seni budaya Jawa agar bisa diteruskan oleh generasi muda," katanya.

Ritual dan prosesi puluhan perahu ke makam Dewi Sekardadi di Pantai Kepetingan sudah dilakukn pada Minggu (12/2) lalu. Acara-acara inti sudah dilewati. "Campursari dan wayangan ini hanya sekadar hiburan untuk masyarakat Bluru Kidul," tutur Waras.

Selepas magrib, warga berdatangan ke lokasi pergelaran musik campursari dan wayang kulit. Ruas jalan di sekitar jembatan ditutup dan dijadikan ajang jual-beli kuliner khas Bluru, khususnya sate dan lontong kerang. Warga memanfaatkan pesta rakyat itu untuk menjajakan aneka makanan dan jajanan murah.

Sementara itu, di panggung utama, para penyanyi secara bergantian menghibur penonton dengan lagu-lagu dangdut dan campursari populer. Tak ayal beberapa penonton naik ke atas panggung untuk berjoget bersama si penyanyi cantik.

Kepala Desa Bluru Kidul Prasetyono bahkan ikut berduet membawakan lagu Malam Terakhir. Warga pun ramai-ramai memberikan aplaus kepada kades yang merakyat itu.

"Pak Kades ini luar biasa. Beliau memberi dukungan penuh agar acara nyadran ini bisa jalan. Dan, alhamdulillah, tahun ini bisa berjalan dengan lancar dan meriah," kata Waras.

Sekitar pukul 24.00 acara campursari selesai dan diganti pergelaran wayang kulit semalam suntuk. Ki Bambang Sugiyo, dalang kondang asal Sukodono, mengambil alih acara hingga menjelang subuh. Meski tidak semeriah campursari, sekitar 70 orang bertahan menikmati pertunjukan wayang kulit hingga tancap kayon.

1 comment: