08 February 2012

Mengapa orang Lembata jarang pulang



Orang Lembata, Flores Timur umumnya, sejak 1950an suka merantau. Kerja di luar karena memang sulit cari uang di negeri sendiri. Kalau sudah merantau, hampir tidak ada yang lekas pulang.

Biasanya 5, 6, 10.. bahkan 20 tahun baru pulang. Lalu merantau lagi. Mengapa bisa begitu?

1. BIAYA TRANSPORTASI SANGAT MAHAL

Lembata itu pulau kecil di pelosok NTT. Harus langgar laut. Ongkos pesawat sangat mahal. Apalagi pulang bersama istri anak. Uang kita yang dikumpulkan bertahun2 hangus di pesawat atau kapal.

2. TRADISI MUDIK TIDAK ADA

Kendala transportasi membuat orang Lembata sulit mudik saat Natal. Beda dengan orang Jawa yang WAJIB mudik saat Lebaran karena transportasi tersedia. Lagi pula akhir Desember cuaca di laut tidak bersahabat. Kapal motor antarpulau sering dilarang berlayar. Karena itu, orang Lembata yang tinggal di Kupang pun sebetulnya jarang, bahkan tidak pernah mudik ke kampung.

3. MALU TIDAK MEMBAWA APA-APA

Kalaupun bisa beli tiket pesawat atau kapal laut, ada beban mental kalau pulang kampung dengan tangan kosong. Harus membawa oleh2 yang tidak murah. Perantau Malaysia biasanya membawa bahan2 bangunan seperti seng, semen, cat untuk renovasi rumah.

4. KURANG DIHARGAI KALAU PULANG KOSONG

Buat apa merantau lama2 tapi pulang tidak membawa apa2? Begitu gugatan orang2 kampung. Ini jadi beban psikologis yang berat. Maka orang pun takut pulang jika tabungannya sedikit.

5. BELUM PUNYA ISTRI DAN ANAK

Orang2 kampung di Lembata kurang menghargai orang yang belum menikah, padahal usianya di sudah di atas 30. Kecuali orang yang terpanggil menjadi pastor, frater, bruder, atau suster. Pulang kampung sebagai bujang lapuk akan jadi bahan ledekan warga. "Kami lebih suka gendong engkau punya anak, bukan lihat engkau punya wajah," kata mereka.

Setelah dapat istri, kemudian punya anak, makin sulit pulang karena biaya transportasi berlipat ganda.

6. PINDAH AGAMA ATAU PINDAH GEREJA

Pindah agama, bagi laki2 Lembata, jadi masalah besar. Kalau wanita tukar agama karena ikut suami no problem. Maka, orang Lembata di Jawa yang pindah agama ikut istri biasanya tidak berani pulang kampung. Sebab, akan jadi pergunjingan orang2 kampung.

Orang Lembata, seperti Flores, mayoritas beragama Katolik. Gereja-gereja lain macam Protestan, Pentakosta, Karismatik, Baptis, Advent, Bala Keselamatan, dan sebagainya dianggap gereja-gereja asing yang tidak cocok dengan kultur Lamaholot. Karena itu, orang2 kampung akan sangat heran jika ada orang Lembata pulang kampung sebagai jemaat gereja non-Katolik.

7. ORANGTUA SUDAH TIADA

Kalau ayah dan ibu sudah meninggal, ikatan dengan kampung jelas makin lemah. Keinigin untuk pulang makin tipis. Wong ketika orangtua masih hidup saja sudah jarang pulang.

8. TAK DIIZINKAN ISTRI

Menikah dengan wanita dari etnis lain seperti Jawa, Betawi, atau Dayak di negeri orang membawa konsekuensi. Si Lembata harus melebur dalam tradisi dan budaya tempatan. Makin sulit meyakinkan istri agar menyisihkan uang untuk mudik. Duit untuk kebutuhan sehari-hari saja susah, apalagi membuang jutaan rupiah di pesawat.

9. MERASA SUDAH JADI ORANG KOTA

Bertahun-tahun tinggal di kota membuat orang Lembata makin merasa sebagai orang kota. Kultur kampung atau Lamaholot yang dinilai boros, tidak efisien, semakin ditinggalkan. Pulang kampung berarti harus ikut menanggung biaya acara adat yang tidak sedikit. Banyak orang kampung yang sengaja hijrah ke kota untuk menghindari beban tetek bengek adat istiadat.

10. PUNYA MASALAH ADAT ATAU WARISAN

Masalah adat atau tanah jadi isu utama di kampung. Kalau sudah bicara warisan, sesama anak atau saudara bisa berkelahi. Ada yang puluhan tahun tidak saling bicara atau saling mendiamkan. Maka, daripada ribut2 di kampung, orang memilih 'menyepi' di kota.

11. SUDAH GENERASI KEDUA

Hanya generasi pertama yang punya ikatan dengan kampung. Generasi pertama ini lahir di Lembata, berbahasa Lamaholot, tahu adat Lamaholot, punya orangtua dan sanak kerabat di Lembata. Dia merantau pada usia belasan atau 20an tahun, kemudian menetap di kota.

Anak2nya sudah jadi generasi kedua yang tidak lagi merasa sebagai orang Lembata. Sulit bagi mereka untuk kembali ke Lembata. Generasi ketiga, keempat... praktis bukan lagi orang Lembata.

Generasi kedua ini bakal jadi orang Lembata kalau dia mau menikah dengan orang Lembata yang baru datang kuliah atau kerja di kota. Tapi biasanya anak2 kota ini kurang sreg dan berbeda pandangan dengan orang kampung.

2 comments:

  1. mari kita generasi penerus harus fokus pada keinganan membangun lembata.

    ReplyDelete
  2. hehehe menarik banget sharing tentang Lembata dan kebiasannya.

    ReplyDelete