07 February 2012

Menelepon Lan Fang di surga



Membuka ponsel lama, saya menemukan sms dari Lan Fang. Penulis dan aktivis ini meninggal dunia pada 25 Desember 2011. SMS lama tentang kegalauan Lan Fang akan kebisingan di Taman Bungkul Surabaya.

Orang2 yang tinggal di dekat Bungkul tentu terganggu. Mereka juga sulit masuk ke rumah sendiri karena akses jalan ditutup. Semasa hidup Lan Fang memang sering memberikan bahan2 berita lewat sms semacam ini. Biasanya digali lagi wartawan2 di Surabaya menjadi liputan bagus.

Melihat nomor HP-nya saya pun mencoba menelepon pengarang keturunan Tionghoa itu. Tak ada jawaban. Sebab Lan Fang tak ada lagi di dunia. Jasadnya yang terkena kanker hati itu sudah dibakar, jadi abu, di Eka Pralaya.

Tapi mungkin saja nomor Lan Fang dipakai anaknya yang kembar tiga itu. Atau dipakai Janet, adiknya, yang saya temui di RS Adi Jasa menjelang dibawa ke Singapura. Tapi tidak, nomor HP itu hilang bersama jasadnya.

Saya pun terdiam mengenang sosok ramah yang suka membawa jajanan, khususnya pizza, ke kantor itu. Bagaimana dia bercanda dengan Koko, anaknya kayak sahabat saja.

Ah, rasanya sahabat Lan Fang masih ada di sini. Aktif membahas begitu banyak hal baik yang serius, setengah serius, hingga bikin workshop di pesantren2.

"Tolong diliput ya, saya mau ke Tebuireng," katanya setiap kali akan berangkat ke Jombang untuk mendidik santri2 yang belajar menulis prosa.

Ah, kehidupan yang sulit diraba insan daif. Dua minggu lalu kita bercanda, ngobrol ngalor-ngidul, lalu tiba2 Lan Fang meninggalkan kita untuk selamanya.

Saya kemudian membongkar rak buku. Ah, ketemu beberapa novel Lan Fang. Salah satunya PEREMPUAN KEMBANG JEPUN. Sampulnya bergambar seorang perempuan yang murung, tertunduk, punya beban berat. Beda banget dengan Lan Fang yang ceria dan suka ketawa renyah.

"Kematian menciumku maka merah flamboyan tak cukup terang nyalakan mataku..," tulis Lan Fang di kata pengantar novelnya.

Ada lagi kata2 Lan Fang yang saya ingat:

"... Mau miskin miskinlah! Mau mati matilah!"

Dan Lan Fang pun matilah. Meninggalkan tiga vajra, si kembar tiga.

2 comments:

  1. Saya pernah mau berkenalan dengan penulis Omi Intan Naomi. Saya kirim email ke alamatnya yang saya gali susah payah di Internet (thn 2007 awal), ternyata dia sudah meninggal dunia di tahun 2006 akhir. Rest in peace, Lan Fang.

    ReplyDelete
  2. Dari judulnya tersirat harapan dan kepercayaan Bung Lambertus Hurek bahwa Lan Fang ada di surga. Semoga ......

    ReplyDelete