12 February 2012

Krisis pengamat musik


Di Indonesia pengamat sepak bola paling banyak. Orang2 kampung, anak
kecil, artis, hingga wartawan jago membahas Liga Inggris, Italia,
Spanyol, atau Liga Indonesia. Sepak terjang pemain2 Barcelona, MU,
Real Madrid, Chelsea... dikuasai dengan baik oleh khalayak.

Saya sering nonton bareng sepak bola di pinggir jalan. Wah, ternyata
komentar2 wong cilik ini tidak kalah dengan pengamat di televisi.
Bahkan lebih bermutu ketimbang seorang pengamat bola di tvOne yang
terlalu mendewakan Barcelona dan menyudutkan Real Madrid.

Kita memang kelebihan stok pengamat bola, tap krisis pengamat basket,
tinju, atau bulu tangkis. Yang lebih parah lagi pengamat musik. Sangat
jarang muncul analis atau komentator musik yang berusia di bawah 30
tahun.

Padahal, musik dan sepak bola sama2 disukai orang Indonesia. Jadi
pengamat musik memang membutuhkan skill, pengetahuan, wawasan, dan
pengalaman lebih ketimbang pengamat bola.

Saya lihat Radio Show di tvOne hanya menampilkan pengamat musik lawas
macam Bens Leo dan Danny Sakrie. Dua orang ini wartawan musik yang
konsisten sejak era 1970an sampai sekarang. Tidak bosan meski tren
musik selalu berubah.

Pengamat2 musik kawakan, maksudnya musik industri atau pop culture,
umumnya berlatar belakang wartawan musik. Atau kerja di majalah musik.
Di masa lalu ada majalah AKTUIL yang melahirkan pengamat musik macam
Remy Sylado, Bens Leo, Theodore KS.

Ada pula wartawan media umum yang jadi penulis musik jempolan macam
Budiarto dari Kompas atau Fajar Budiman dari Sinar Harapan. Frans
Sartono dari Kompas juga rupanya sangat fokus di musik industri.

Lalu mengapa tidak muncul nama2 lain meski media makin banyak? Saya
kira ini tak lepas dari dunia kewartawanan sekarang yang bersifat
general reporting. Semua isu diliput dan ditulis. Tidak ada
spesialisasi seperti wartawan2 tempo dulu.

Rotasi atau rolling terlalu cepat sebelum si reporter benar2 menguasai
masalah. Baru kenal beberapa musisi, si reporter sudah digeser ke
bidang kriminalitas.

Mana bisa mengerti tren musik?

3 comments:

  1. Baik artikel maupun penulisnya sama berbobot. Kapan Radar Surabaya mengutus Bung Lambertus Hurek untuk meliput Java Jazz dan Aula Simfonia Jakarta?

    ReplyDelete
  2. hehehe.. koran2 di surabaya agaknya kurang punya ruang untuk musik jazz. agak berat untuk segmen pasar di jawa timur. terima kasih atas apresiasi dan kesenian anda menungjungi blog ini.

    ReplyDelete
  3. Siapa bilang Pengamat Musik di Indonesia hanya bisa diHitung jari...? atau bahasa kasarnya 'Krisis', mungkin bisa di Intip di kelompok KPMI (Komunitas Pencinta Musik Indonesia) atau di beberapa Komunitas di fesbuk yang belum terEkspose media saja.. namun diam2 sudah hasilkan tulisan2 yang diminati dan notabene banyak membantu sebagai acuan para penyiar Radio dan beberapa anak2 muda yang minat membaca...

    ReplyDelete