08 February 2012

Komentar anonim jadi masalah




Akan sangat bagus kalau komentar2 di blog atau website tidak disensor.
Apa adanya. Tak perlu dinotifikasi. Dengan begitu, pendapat si penulis
atau komentator langsung nongol.

Sayang, rupanya pengguna internet di Indonesia belum cukup dewasa,
tenang, dan bertanggung jawab. Kebebasan berpendapat dan berekspresi
di internet justru sering dimanfaatkan untuk melontarkan pendapat2
yang tidak bertanggung jawab. Asal njeplak.

Celakanya lagi, komentar2 anonim itu sudah melanggar garis SARA,
khususnya ras dan agama. Dua isu yang sensitif di Indonesia, bahkan
dunia. Ingat, pemain Liverpool Luis Suarez dihukum 8 laga gara2
melontarkan ucapan rasis kepada Evra, pemain MU. Sanksi yang sangat
berat meski Suarez minta maaf.

Karena komentar2 asal njeplak itulah, pengelola blog Kompasiana
memilih untuk menutup rubrik agama. Rupanya, editornya kewalahan
karena terlalu banyak komentar anonim yang kebablasan. Tidak sehat dan
merusak kebersamaan dan kedamaian di tanah air.

Blogger2 senior pun umumnya menolak komentar anonim. Sebab sumber
anonim dalam dunia jurnalistik memang sangat merusak kualitas tulisan.
Bikin capek kalau kita harus berdebat kusir dengan komentator anonim!

Bukan itu saja. Pemilik laman atau blog bisa terjerat UU ITE karena
dianggap membiarkan blognya jadi ajang fitnah, caci maki, atau
pencemaran nama baik.

Karena itu, apa boleh buat, saya terpaksa kembali menotifikasi
komentar. Semacam sensor ringan. Komentar2 tidak dilepas begitu saja
tapi dibaca dulu. Agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

Tentu saja ada ruang untuk komentar anonim yang netral atau positif.
Tapi akan sangat bagus jika semua komentator mau bertanggung jawab
dengan mencantumkan identitasnya.

2 comments:

  1. memang komentar anonim itu sungguh menjengkelkan!

    ReplyDelete
  2. anonim itu hanya berani menghina tanpa berani menunjukkan jati diri yang sebenarnya :)

    ReplyDelete