25 February 2012

Kaki Suramadu yang kian sepi

Hampir lima bulan saya tidak jalan2 ke Madura lewat jembatan Suramadu. Baru kemarin saya mampir ke kaki Suramadu di Labang, Bangkalan.

Rasanya tidak banyak perubahan. Belum ada bangunan atau tawaran menarik yang membuat orang di Jawa, khususnya Surabaya, rame2 pelesir ke Bangkalan, khususnya Labang yang hanya 2,5 km itu.

Panas banget. Kios2 banyak yang mangkrak. Termasuk langganan saya di samping jembatan. Siang itu 4 stan kosong. Beda dengan ketika Suramadu baru diresmikan tahun 2009.

Rupanya seleksi alam sudah terjadi terhadap PKL2 itu. Hanya sedikit yang bertahan, itu pun kurang laku. Kenapa?Jumlah pengunjung dari Surabaya sangat sedikit. Hampir tidak ada orang yang khusus datang ke Labang untuk berwisata.

Wisata kuliner? Hmm.. susah juga karena makanan dan jajanan kurang asyik. Kopi, teh, es degan sering pakai pemanis buatan, bukan gula pasir, sehingga saya langsung kapok.

Mau cari ikan segar, sea food, juga tidak ada, padahal Suramadu terletak di pinggir laut, bahkan melintas laut. Karena tak ada selling point itulah, kaki Suramadu justru merosot meskipun sudah mau masuk usia tiga tahun.

Belum lagi persoalan manajemen Suramadu yang terus diributkan oleh pejabat, politisi, dan aktivis di Madura. Dari dulu kisruh soal ini tak kunjung tuntas.

Maka, sementara ini Suramadu hanya efektif sebagai pengganti lalu lintas laut, jembatan yang mempercepat hubungan antara Surabaya dan Madura. Dan itu lebih banyak dimanfaatkan oleh orang Madura sendiri untuk pulang kampung. Belum meningkat menjadi sarana untuk menyedot sebanyak mungkin wisatawan ke pulau garam.

Saya memanfaatkan balai2 yang kosong di salah satu stan untuk tidur karena capek. Dan saya mendengar keluhan seorang ibu yang mengaku dagangannya makin sepi dari hari ke hari.

1 comment:

  1. Bapak Lambertus Hurek Yth., Mengapa artikel ini dimuat dus kali kemarin?

    ReplyDelete