10 February 2012

Junkies Jakarta masuk pesantren

Selain sisi positifnya dengan kemajuan dan pembangunan yang luar
biasa, Jakarta punya sisi buruk. Khususnya dalam hal peredaran
narkoba. Korban2 narkoba berjatuhan di kalangan usia produktif dan
remaja.

Mengerikan, karena pengguna2 narkoba di Jakarta ini tidak hanya
kalangan the haves, gedongan, tapi juga warga kampung2 yang padat
rumah itu. Tak sedikit penganggur pun kena narkoba.

"Saya baru lulus dari pesantren, Bang," kata seorang kenalan, di
kawasan Karet. Mulanya saya pikir pesantren biasa, tempat ngaji,
belajar agama Islam. Eh, ternyata pesantren ini maksudnya penjara di
Cipinang.

Saat duduk2 ngopi dengan anak2 muda Betawi, saya dapat informasi bahwa
banyak teman mereka yang terpaksa nginap di pesantren. Gara2 nyabu,
makan ganja, heroin.. dsb. Uangnya dari mana? Bukankah uang anak2
kampung ini pas2an?

Saya makin terpukul karena kenalan akrab saya si M pun berada di
pesantren. Lima tahun bahkan. "Sekarang baru jalan dua tahun. Aman di
pesantren biar kapok," kata temannya cengengesan.

Dari dulu sebetulnya sudah ada tanda2 kalau si M ini junkies. Kurus
kering. Menyendiri di kamar. Tidur melulu berjam2. Sulit diajak bicara
serius.

Sayang, Jakarta penuh dengan orang sibuk yang saling cuek. Kontrol
sosial sangat lemah, bahkan keluarga sendiri pun tidak tahu kalau
putra mereka sudah masuk perangkat mafia narkoba.

"Saya dulu juga makai tapi gak sampe ke pesantren. Hehehe," kata pria
20an tahun seraya tertawa lebar.

Saya tidak tahu harus bilang apa. Saya juga sedih karena biasanya si M
ini yang mau mengantar saya jalan2 di Jakarta.

No comments:

Post a Comment