28 February 2012

Ganda Charisma Kristi Nyanyi di Rumania



Tak banyak yang tahu kalau Ganda Charisma Kristi menjadi satu-satunya orang Indonesia yang ikut World Youth Choir (WYC). Paduan suara dunia ini mengisi acara penganugerahan Hadiah Nobel di Oslo, Norwegia.


Di Surabaya sendiri, Ganda Charisma Kristi (27 tahun) sebetulnya cukup dikenal di kalangan komunitas pecinta musik klasik dan paduan suara. Selain tampil di sejumlah pergelaran, alumni Sastra Inggris Universitas Kristen Petra ini juga melatih sejumlah paduan suara, mulai kor gereja, universitas, hingga komunitas Tionghoa.

Berikut petikan percakapan Radar Surabaya dengan putra kedua pasangan Eko Hendri Kristi dan Dwi Astiti asal Mojowarno, Kabupaten Jombang, itu.

BAGAIMANA CERITANYA ANDA BISA TERPILIH KE OSLO?

Begini. Rekrutmen penyanyinya terbilang confidential, tidak ada woro-woro sebelumnya. Sebelumnya saya mendaftarkan diri pada audisi summer session di Barcelona (Spanyol) dan meraih nilai tertinggi. Setahun kemudian, di Argentina, saya juga meraih nilai yang sama untuk kategori penyanyi bersuara tenor. Yah, Tuhan membuka jalan untuk saya.

LATIHANNYA BAGAIMANA?

Saya harus berlatih dengan serius menyanyikan 20 lagu yang dibawakan WYC di Oslo. Praktis, selama dua bulan sebelum berangkat, saya harus belajar menguasai semua lagu tersebut. Lagu-lagu itu berbahasa Inggris, Latin, Jerman, dan Norwegia.

TIDAK KESULITAN?

Tentu saja ada, tapi bisa diatasi. Yang paling susah itu menghapalkan lagu berbahasa Norwegia. Susah sekali karena tidak pernah saya kenal sebelumnya. Beda dengan bahasa Inggris, Latin, atau Jerman.

PADUAN SUARA WYC SENDIRI SEPERTI APA?

WYC itu paduan suara yang anggotanya berasal dari para pemuda-pemudi dari seluruh dunia. WYC kali ini terdiri dari 60 orang dari 37 negara. Saya satu-satunya penyanyi dari Indonesia. Saya sendiri kaget bisa diterima di WYC.

Setelah mempersiapkan diri dengan cukup matang, termasuk tampil di hadapan komunitas musik klasiki, pada 5 Desember 2011, Ganda Charisma pun terbang ke Oslo, Norwegia. Di Bandara Gardermoen, sekitar pukul 13.30 waktu setempat, Ganda dijemput staf Badan Musik Norwegia. Kemudian meneruskan perjalanan dengan kereta supercepat, seorang diri.

“Saya kesasar, kebablasan sampai lima stasiun. Saya keluar kereta, sangat sepi. Tidak kuat menahan dingin karena cuaca kala itu sekitar nol derajat Celcius. Dan, maaf, ingus saya terus keluar,” kenang Ganda ketika menginjakkan kaki pertama kali di Kota Oslo.

Beruntung, seorang kondektur wanita turun dari kereta. Ganda pun mengatakan bahwa dirinya tersasar karena baru datang dari Indonesia dan akan menyanyi di ajang penerimaan Hadiah Nobel. Wajah kondektur wanita itu iba dan menaikkan Ganda ke kereta tanpa membayar tiket sampai ke stasiun sentral.

Ganda akhirnya bertemu dua penjemput semula di bandara yang kelabakan mencarinya dan mengantar ke Hotel Haraldsheim. Para penyanyi dari berbagai belahan dunia menyambut Ganda dengan peluk cium.

APA SAJA KEGIATAN ANDA SESAMPAINYA DI OSLO?

Berkenalan dengan teman-teman dari negara lain, kemudian berlatih. Kegiatan sangat padatnya, mulai berlatih dari pagi hingga malam hari. Selama tiga hari sebelum hari-H, kami harus berlatih selama sembilan jam. Komposisi-komposisi karya Brahms, Schoenberg, lagu-lagu Natal, kemudian lagu etnik Norwegia yang rancak wajib kami hapalkan.

APA YANG MENARIK DARI WYC INI?

Lagu-lagu yang dibawakan WYC itu simpel dan variatif. Banyak paduan suara kita yang menyanyikan lagu-lagu terlalu kaku dan kurang variatif. WYC memberikan contoh yang baik bagaimana memperhatikan tingkat kesulitan komposisi kepada para penyanyinya.

Sikap konduktor Grete Pedersen, yang berusia 51 tahun, juga sangat menarik. Beliau tidak banyak bicara, kreatif, sabar, dan mudah berkomunikasi dengan semua penyanyi. Senyumnya keibuan, enak dipandang mata, dan low profile, sehingga membuat kami semangat bernyanyi.

Paduan Suara WYC kemudian mengadakan konser membawakan 15 lagu di Oslo City Hall untuk memperingati 100 tahun Universitas Oslo berbarengan dengan Bulan Nobel. Hadir menyaksikan konser tersebut para dedengkot musik Eropa, dosen, mahasiswa musik, serta duta besar dari 37 negara asal para penyanyi WYC.

Konser tersebut terbilang sukses besar. Saat membawakan lagu Brahms bertajuk Warum ist Das Licht Gegeben Dem Museligen, beberapa pejabat memuji paduan suara tahun ini sebagai 'paling bagus' dari 10 tahun terakhir.

APA YANG BERKESAN DARI TEMAN-TEMAN ANDA DI WYC?

Menurut saya, tim yang ada sekarang memang kombinasi paling bagus. Semua anggota yang direkrut memiliki nilai terbaik dari berbagai generasi. Aku paling muda dan amatir. Sekitar 90 persen adalah mahasiswa musik dan alumni sekolah musik. Kecepatan belajar dan adaptasi mereka sangat tinggi. Tentu saja, saya merasa terkatrol dalam hal kemajuan belajar.

ANDA BERTEMU DUBES ATAU PERWAKILAN INDONESIA DI NORWEGIA?

Benar. Selesai tampil di konser, di ruang ganti seorang teman memanggil karena ada orang yang ingin bertemu. Tentu saja saya kaget karena saya tidak punya teman di Oslo. Oh, rupanya Ibu Esti Andayani, duta besar Indonesia untuk Norwegia. Beliau senang melihat ada wakil dari Indonesia di WYC. Beliau menanyakan asalku, saya jawab Jombang. Ibu Esti langsung bilang, "Oalah, wong Jombang to!" Hehehe.... (*)




Mengajar Belasan Paduan Suara di Surabaya

SELAIN tampil di acara penganugerahan Hadiah Nobel di Oslo Spectrum, Norwegia, Ganda Charisma Kristi bersama World Youth Choir (WYC) unjuk kebolahan di depan Raja Harald V, sang ratu, pangeran, putri, serta para duta besar. Kebanggaan Ganda semakin berganda kala tampil di hadapan 6.000 pasang mata unadangan.


Malam harinya, anggota WYC diundang makan malam bersama para artis di Hotel Raddison Oslo yang tidak terlalu besar. Suguhan musik hip-hop Afrika mewarnai suasana yang ceria meski suhu udaha sangat dingin. Maklum, Eropa sedang dilanda salju tebal.

Keesokan pagi, Ganda harus kembali ke tanah air. Menekuni pekerjaan sekaligus hobinya sebagai guru vokal dan pelatih paduan suara di 10 gereja di Kota Surabaya. Selain kor gereja, Ganda juga melatih paduan suara anak-anak yatim piatu di Panti Asuhan Immanuel di Jalan Gatotan Surabaya.

“Melatih anak-anak agar bisa kompak dalam sebuah paduan suara memang sulit. Sebab, mereka itu kan masih maunya sendiri. Berbeda dengan ibu-ibu yang mudah diajarkan menyanyi dalam satu tim,” ujarnya seraya tersenyum.

Selain itu, Ganda juga diminta membimbing Paduan Suara Marga Huang Jatim. Kelompok paduan suara ini bahkan sudah pernah tampil di beberapa negara di Asia. Pujian datang dari Agus Wibisono, tokoh marga Huang, yang sangat bangga atas prestasi Ganda dan ketelatenannya membina paduan suara di Surabaya.

Menurut Ganda, jadwal mengajar setiap hari sudah terlalu padat. Bayangkan, rata-rata delapan jam sehari dan berpindah-pindah tempat. Namun, dia bersyukur karena dari pengalaman itu pula, putra sang pendeta ini lolos menjadi penyanyi WYC di Norwegia.

Menyanyi, mengajar paduan suara, telah menjadi bagian dari kehidupan seorang Ganda. “Bukan hanya hobi atau pekerjaan, tapi sudah seperti darah saya yang mengalir,” ujar pria yang menjaga stamina setiap hari dengan berlari kecil selama 15 menit. (*)

CV SINGKAT

Nama : Ganda Charisma
Lahir : Jombang, 25 September 1984
Orangtua : Eko Hendri Kristi dan Dwi Astiti
Profesi : Penyanyi, guru vocal
Hobi : Nyanyi, jogging
Prestasi : Tampil di ajang penganugerahan Hadiah Nobel di Oslo, Norwegia

Pendidikan
TK/SD/SMP Kristen Jombang
SMAN 2 Jombang
Universitas Kristen Surabaya (Fakultas Sastra Inggris)




5 comments:

  1. Huebat! Yang begini ini harus diceritakan. Orang Indonesia bukan hanya bisanya korupsi dan kekerasan saja.

    ReplyDelete
  2. Thank you, Mas Hurek. Matursuwun sanget. Salam Damai

    ReplyDelete
  3. bukti orn indonesia punya kemampuan seni tingkat dunia....

    ReplyDelete
  4. choir2 kita emang bagus2 dan punya prestasi di tingkat nasional. kalau ada kesempatan mereka pasti bisa unjuk gigi di tingkat dunia.

    ReplyDelete
  5. Luar biasa suaranya saat sy mendgrkan lsg di Gereja.

    ReplyDelete