26 February 2012

EYD nama Indonesia

Ejaan yang disempurnakan mulai berlaku sejak 1972. Sudah 40 tahun. Tapi saya perhatikan masih banyak nama orang Indonesia yang ditulis pakai ejaan lama baik ejaan Belanda (prakemerdekaan) maupun ejaan republik (1947).

Anehnya, banyak orang Indonesia khususnya di Jawa yang lebih suka menulis namanya dengan ejaan Belanda. Misalnya SOEDJARWO bukan SUJARWO, TJAHJONO bukan CAHYONO. Orang-orang ini rupanya masih punya romantisme dengan penjajah Belanda meski sebenarnya kurang sadar.

Anehnya lagi, orang-orang yang sok lawas ini banyak yang kelahiran 1980-an, bahkan 1990-an. Masih bisa dimaklumi kalau nama-nama dengan ejaan lama ini orang Indonesia yang lahir tahun 1930-an, 1940-an, atau 1960-an. Surat-surat resmi, dokumen, dan sebagainya sudah telanjur pakai ejaan lama sehingga apa boleh buat.

Sudah selayaknya kita mengikuti prinsip Bung Karno yang secara tegas meminta namanya ditulis SUKARNO bukan SOEKARNO. Tanda tangan sang proklamator ini memang SOEKARNO karena sudah jadi ciri khas jauh sebelum kemerdekaan.

Maka, bandar udara di Jakarta (lebih tepat: Cengkareng) harus ditulis Bandara SUKARNO-HATTA, bukan Bandara Soekarno-Hatta. Salut untuk pengelola bandar udara di Surabaya (lebih tepatnya di Sedati, Kabupaten Sidoarjo) yang menggunakan nama Bandara JUANDA, bukan Bandara DJUANDA atau Bandara DJOEANDA. Kita tahu Ir H Djoeanda hidup seangkatan dengan Bung Karno, sehingga nama resminya sudah pasti ditulis dalam ejaan Belanda alias ejaan Ophuijsen 1901.

Yang aneh juga nama orang Tionghoa di Indonesia. Saya kebetulan sedang membaca cerita tentang wayang potehi di Jawa Timur. Ada dalang terkenal bernama LIEM SING TJWAN. Mengapa tidak ditulis LIM SING CUAN saja? Lebih hemat huruf dan cocok dengan EYD.

Jelas LIEM SING TJWAN ini romanisasi nama Tionghoa ke ejaan Belanda. Adapun nama Tionghoa dalam karakter hanzi tidak berubah kecuali ada sedikit penyederhanaan. Karena itu, seharusnya nama-nama Tionghoa di-EYD-kan.

Saya sendiri sejak dulu tidak setuju orang Tionghoa ganti nama seperti kebijakan Orde Baru yang rasis itu. Biarlah LIEM SING TJWAN menjadi LIM SING CUAN bukan GUNAWAN. Ejaannya yang disesuaikan dengan EYD, sementara hanzi-nya tetap. Kalau mau lebih internasional, silakan pakai versi pinyin ala Beijing.

Saya gembira karena nama-nama orang Flores, NTT, hampir 100% menggunakan EYD. Tidak ada orang Flores yang nama resminya KAROLOES KIA melainkan KAROLUS KIA. Tidak ada LAMBERTOES MANOEK melainkan LAMBERTUS MANUK. Dan konsistensi nama-nama orang Flores yang taat EYD itu terlihat di semua kabupaten.

Nama bupati Lembata misalnya YANCE SUNUR bukan JANTJE SOENOER.

Nama gubernur NTT, yang berasal dari Flores Timur, adalah FRANS LEBU RAYA, bukan FRANS LEBU RAJA.

Nama mantan gubernur NTT, yang juga berasal dari Flores Timur, adalah HENDRIKUS FERNANDEZ, bukan HENDRICOES FERNANDEZ.

Ehm... tidak ada salahnya kalau bangsa Indonesia menggunakan EYD dalam menulis nama diri. Bukan DEASSY ISTHIANTY tapi DESI ISTIANTI.

Sederhana saja! Kayak orang Flores! Gak suka neko-neko!






2 comments:

  1. kl politik kan beda pak Lambertus, dibikin ejaan lama biar "di-tua kan" =D

    ReplyDelete
  2. Gejala ini karena orang Indonesia (Jawa) suka yang unik-unik, tetapi malah salah kaprah. Begitu pula kita suka pakai nama barat, tapi mau pakai ejaan Belanda atau Inggris, bingung. Akhirnya diawur dan ditambah-tambahi sendiri. Misalnya ada teman yang memberi nama anaknya ala Bahasa Perancis jadi Marc, padahal Perancis tidak pernah punya pengaruh langsung di Indonesia. Padahal padanan Indonesianya sudah jelas menurut Bahasa Latin, yaitu Markus. Ada kenalan orang Batak yang diberi nama orangtuanya menurut pahlawan kemerdekaan Filipina Jose Rizal. Padahal pahlawan kemerdekaan Indonesia nggak kurang-kurang: Sukarno, Hatta, Syahrir, dll.

    ReplyDelete