06 February 2012

Dari Bandara Soekarno-Hatta ke Karet

Semua bandara praktis berada di luar kota. Bandara Juanda Surabaya
terletak di Sedati, Sidoarjo. Bandara El Tari, Kupang, di Penfui.
Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng.

Dari semua bandara di tanah air, Jakarta yang paling ekstrem. Jarak
bandara dengan kota Jakarta sendiri alangkah jauhnya. Dan alangkah
macetnya. Alangkah banyak waktu hilang di jalan dari Cengkareng ke
tempat tujuan anda di Jakarta.

Macet memang sudah menjadi cerita lama di Jakarta. Macet ekstrem.
Orang Surabaya sering komplain macet di Ahmad Yani, yang sebenarnya
belum apa2 dibandingkan di Jakarta. Macet di Jakarta itu macet cet cet
cet.

Karena tahu Jakarta macet ekstrem (tidak tahu 10 atau 20 tahun lagi),
Sabtu lalu saya memilih pesawat yang paling pagi. Tiba di Jakarta
sekitar 07.40. Naik ojek ketimbang taksi tujuan Karet, Setiabudi.
Motor tentu bisa mencari celah2 ketimbang mobil, bukan?

Tapi pagi itu, akhir pekan, macet sudah terasa di kawasan Cengkareng.
Makin dekat Jakarta makin macet. Masuk Jakarta tambah macet lagi.
Padahal si ojek sudah menerabas busway yang sebetulnya hanya untuk bus
transjakarta. Padahal acara akad nikah Linda, saudara sepupu, mulai
jam 10:00.

Benar saja. Tiba di Karet Belakang (Karbela) sudah lewat jam 10:00.
Rombongan pengantin dan keluarga sudah standby di masjid. Ganti baju,
saya pun menyusul ke masjid di Karbela selatan itu. Tergesa-gesa.

"Belum mulai, pak penghulunya terlambat. Katanya, macet di jalan,"
kata seorang kerabat mempelai.

Hehehe... Macet lagi, macet lagi! Ternyata macet juga ada untungnya.
Gara2 pak penghulu kemacetan, saya bisa mengikuti acara akad nikah itu
sejak awal.

Mungkin, ke depan perlu ada modifikasi surat undangan di Jakarta.
Harus ada keterangan, misalnya, acara dilaksanakan pukul 10:00 (kalau
tidak macet di jalan).

No comments:

Post a Comment