23 February 2012

Bubi Chen dikremasi

Selama tiga hari Bubi Chen, yang meninggal pada 16 Februari 2012 di Semarang, berhasil mengumpulkan para musisi dan penggemar musik, khususnya jazz di Surabaya. Jarang sekali ada event yang bisa mempertemukan sekian banyak musisi Surabaya dan kota2 lain.

Selama tiga malam digelar jam session, konser kecil di samping peti jenazah Om Bubi. Kita kehilangan sang maestro jazz tapi tidak boleh sedih, apalagi putus asa. Harus tetap senyum. kata Bubi.

Bahkan, setelah dua kakinya diamputasi pun Bubi Chen selalu tersenyum. Ketika orang lain prihatin melihat kondisinya, sedih, Bubi justru tetap semangat dan senyum. Itulah yang kira2 mendasari acara jam session di ruang persemayaman Adi Jasa selama tiga malam.

Semangat! Senyum! Optimis! Itulah warisan sang legenda Bubi Chen.

Rabu 22 Februari, jenazah Bubi Chen dibawa ke Eka Praya Kembang Kuning untuk dikremasi. Diiringi upacara pemakaman ala Katolik, pemusik yang juga bernama Gregorius Suprawoto ini diantar ratusan orang: keluarga, relasi, kenalan, sahabat, hingga pengagumnya. Tampak gitaris Dewa Bujana, Leo Kristi, dan para musisi Surabaya kasih pengormatan terakhir untuk sang maestro.

Tapi tak ada satu pun pejabat Pemkot Surabaya dan Pemprov Jatim yang datang melayat. Padahal Bubi Chen telah berjasa melambungkan nama Surabaya dan Jawa Timur dalam peta musik jazz dunia. Ini juga sekaligus memperlihatkan kualitas apresiasi pejabat2 kita terhadapa seniman besar.

Dewa Bujana mengaku menimba banyak pelajaran dari Bubi Chen. Tak hanya di bidang musik tapi juga bagaimana menghadapi tantangan dan beban hidup.

Ketika Bujana sedih melihat kakinya yang sudah diamputasi, Bubi justru marah. Sebab, bagi Bubi, seniman musik harus tetap semangat dalam keadaan seburuk apa pun. Ojo manja, ojo cengeng!

Selamat jalan Om Bubi!

Rest in peace!

Salam jazz!

No comments:

Post a Comment