02 February 2012

Bakar lilin di Lembata


Salah satu komoditas yang laris manis di Lembata, dan NTT umumnya, adalah lilin. Yah, lilin putih yang biasa dijual di toko2 itu. Lilin ini tidak dipakai untuk penerangan, karena listrik padam, tapi untuk nyekar dan berdoa.

Mayoritas orang Lembata beragama Katolik. Sama dengan Flores, Adonara, Solor. Orang Katolik di NTT senantiasa menggunakan lilin untuk sembahyang pribadi, doa bersama, hingga misa di gereja.

Orang Katolik di Jawa pun pakai lilin, tapi tidak sehebat di NTT. Orang Jawa atau Tionghoa yang Katolik di Jakarta atau Surabaya biasa berdoa tanpa lilin. Beda dengan orang NTT yang merasa kurang afdal kalau berdoa tanpa lilin. Seakan-akan ada sesuatu yang hilang atau kurang.

Kalau diJawa orang nyekar ke kuburan pakai kembang atau bunga, di Lembata atau Flores pakai lilin. Tidak perlu bunga. Kita cukup membawa lilin untuk dipasang di atas makam. Jumlahnya terserah kita sajalah.

Tradisi nyekar macam ini disebut TUTUNG LILIN alias bakar lilin. Tutung = bakar dalam bahasa Lamaholot. Dan bakar lilin ini akan sangat ramai pada 24 Desember, jelang misa malam Natal. Juga tanggal 2 November.

Bakar lilin sekaligus membersihkan makam keluarga atau sanak famili. Dengan bakar lilin serta berdoa singkat di makam, kita dianggap tidak lupa akan jasa2 mereka yang sudah meninggal.

Bakar lilin juga biasa dipakai untuk kulonuwun atau lapor diri. Orang yang lama merantau, ketika pulang kampung, dianjurkan bakar lilin di makam keluarga dekat, khususnya orangtua yang sudah meninggal. Berdoa dan AMET MARING, seakan-akan kita sedang bicara dengan orang yang sudah meninggal itu.

Maka, ketika mudik ke kampung halaman, orang selalu bertanya, "Kamu sudah bakar lilin ke makam mama belum?"

Maklum, ibu saya sudah meninggal dunia pada 1998. Biasanya saya cepat2 mampir ke kuburan untuk bakar lilin karena memang begitulah tradisi yang hidup di Lembata maupun Flores.

Dan, yang menarik, orang2 Lembata yang Katolik ini juga bakar lilin di makam famili yang beragama Islam. Dan berdoa secara Katolik tentu saja. RIP!

No comments:

Post a Comment