29 February 2012

Ayam tiongkok berkeliaran




Tak ada negara yang menandingi Tiongkok dalam urusan dagang. Produk-produk made in China bisa dijumpai dengan mudah di berbagai negara. Ironisnya, komoditas Cungkuo ini termasuk wanita-wanita penghibur atau biasa disebut ayam-ayam Cungkuo.

Di kota-kota besar macam Surabaya ayam-ayam Cungkuo sudah lama berkeliaran di tempat hiburan malam. Pasarnya luar biasa. Tentu saja konsumennya hanya orang-orang kaya yang uangnya banyak buanget. Maklum, ayam-ayam kuning sipit ini rakusnya bukan main.

Yang menarik, ayam-ayam ini tak hanya dinikmati sesaat, tapi juga dibawa pulang. Dijadikan simpanan. Dicarikan kontrakan di apartemen. Diberi fasilitas yang wah.

"Nona-nona Cungkuo ini bikin kita semangat," kata seorang bos yang punya simpanan dari negara tirai bambu.

Tapi namanya juga ayam, biasanya konsumennya cepat atau lambat akan bosan. Lalu dibiarkan keleleran atau dibuang begitu saja. Itu yang terjadi di Surabaya belum lama ini. Ujung-ujungnya deportasi karena nona-nona nakal ini biasanya tidak punya dokumen lengkap.

Siapa yang harus membeli tiket pesawat, penginapan, dan sebagainya?

Inilah yang jadi masalah karena pihak perwakilan Tiongkok biasanya malas menangani urusan ayam alias lendir seperti ini. Sama sekali tak ada urusan dengan diplomatik dan kepentingan dagang.

Maka, beban pun jatuh ke orang-orang tertentu yang selama ini punya kedekatan dengan negeri Tiongkok. "Apes, saya ditipu sama si ayam," kata seorang pengusaha kepada saya.

Memang dialah yang 'meminjam' uang untuk tike si xiaojie cungkoo. Dia marah betul karena sampai sekarang si ayam tak pernah mengontak dirinya.

Tidak gampang memang menghentikan masuknya ayam-ayam Cungkuo ini. Sebab, itu tadi, pasarnya selalu lestari sejak dulu. Tapi tak ada salahnya pemerintah Tiongkok dan Indonesia bersikap lebih tegas.

Jangan biarkan masuk wanita-wanita Cungkuo yang tujuannya tidak jelas. Turis bukan, kerja bukan... tapi tiba-tiba nongol di tempat hiburan malam dan tak pulang-pulang ke negaranya.

Mafia human trafficking harus dihentikan!

2 comments:

  1. Seperti Bung Hurek ketahui, prostitusi adalah salah satu cabang wirausaha yang tertua didunia, sudah ada sejak zaman firaun, yunani- dan romawi-kuno. Tidak bakal ada yang bisa memberantas usaha tsb. Biarkanlah mereka berusaha, sesuai dengan hati nurani mereka sendiri. Kita hanya bisa mengharap, Insya Allah, jangan sampai anak perempuan-kita sendiri yang terjerumus.
    Yang ingin saya komentari adalah fenomena Xiao-jie Zhong-guo. Hal ini menunjukkan betapa merosotnya Achlak dan Moral bangsa China achir2 ini. Mao Tze-dong menyemboyankan Wei Renmin Fuwu. Sekarang semboyan orang China, Wei Renminbi. Mereka sekarang sudah melupakan rasa malu. Pokoknya dapat uang sebanyak secepat mungkin, apapun caranya, korupsi, menipu, merampas, haram2, semuanya okey2 saja.
    Jadi slogan2 ajaran Konfuzius dan Lao-tze, yang menganjurkan orang China, agar selalu menjaga muka, mempertahankan Mian-zi, sudah tidak berlaku lagi. Sebab itu saya kuatir, anak2 muda Indonesia yang belajar di China, pulang2 moralnya tambah menjadi rusak. Saya pribadi sudah lama melalang buana, belum pernah saya lihat kapitalisme dan ke-dekadenz-an yang seliar di China.

    ReplyDelete