29 February 2012

Ayam tiongkok berkeliaran




Tak ada negara yang menandingi Tiongkok dalam urusan dagang. Produk-produk made in China bisa dijumpai dengan mudah di berbagai negara. Ironisnya, komoditas Cungkuo ini termasuk wanita-wanita penghibur atau biasa disebut ayam-ayam Cungkuo.

Di kota-kota besar macam Surabaya ayam-ayam Cungkuo sudah lama berkeliaran di tempat hiburan malam. Pasarnya luar biasa. Tentu saja konsumennya hanya orang-orang kaya yang uangnya banyak buanget. Maklum, ayam-ayam kuning sipit ini rakusnya bukan main.

Yang menarik, ayam-ayam ini tak hanya dinikmati sesaat, tapi juga dibawa pulang. Dijadikan simpanan. Dicarikan kontrakan di apartemen. Diberi fasilitas yang wah.

"Nona-nona Cungkuo ini bikin kita semangat," kata seorang bos yang punya simpanan dari negara tirai bambu.

Tapi namanya juga ayam, biasanya konsumennya cepat atau lambat akan bosan. Lalu dibiarkan keleleran atau dibuang begitu saja. Itu yang terjadi di Surabaya belum lama ini. Ujung-ujungnya deportasi karena nona-nona nakal ini biasanya tidak punya dokumen lengkap.

Siapa yang harus membeli tiket pesawat, penginapan, dan sebagainya?

Inilah yang jadi masalah karena pihak perwakilan Tiongkok biasanya malas menangani urusan ayam alias lendir seperti ini. Sama sekali tak ada urusan dengan diplomatik dan kepentingan dagang.

Maka, beban pun jatuh ke orang-orang tertentu yang selama ini punya kedekatan dengan negeri Tiongkok. "Apes, saya ditipu sama si ayam," kata seorang pengusaha kepada saya.

Memang dialah yang 'meminjam' uang untuk tike si xiaojie cungkoo. Dia marah betul karena sampai sekarang si ayam tak pernah mengontak dirinya.

Tidak gampang memang menghentikan masuknya ayam-ayam Cungkuo ini. Sebab, itu tadi, pasarnya selalu lestari sejak dulu. Tapi tak ada salahnya pemerintah Tiongkok dan Indonesia bersikap lebih tegas.

Jangan biarkan masuk wanita-wanita Cungkuo yang tujuannya tidak jelas. Turis bukan, kerja bukan... tapi tiba-tiba nongol di tempat hiburan malam dan tak pulang-pulang ke negaranya.

Mafia human trafficking harus dihentikan!

28 February 2012

Ganda Charisma Kristi Nyanyi di Rumania



Tak banyak yang tahu kalau Ganda Charisma Kristi menjadi satu-satunya orang Indonesia yang ikut World Youth Choir (WYC). Paduan suara dunia ini mengisi acara penganugerahan Hadiah Nobel di Oslo, Norwegia.


Di Surabaya sendiri, Ganda Charisma Kristi (27 tahun) sebetulnya cukup dikenal di kalangan komunitas pecinta musik klasik dan paduan suara. Selain tampil di sejumlah pergelaran, alumni Sastra Inggris Universitas Kristen Petra ini juga melatih sejumlah paduan suara, mulai kor gereja, universitas, hingga komunitas Tionghoa.

Berikut petikan percakapan Radar Surabaya dengan putra kedua pasangan Eko Hendri Kristi dan Dwi Astiti asal Mojowarno, Kabupaten Jombang, itu.

BAGAIMANA CERITANYA ANDA BISA TERPILIH KE OSLO?

Begini. Rekrutmen penyanyinya terbilang confidential, tidak ada woro-woro sebelumnya. Sebelumnya saya mendaftarkan diri pada audisi summer session di Barcelona (Spanyol) dan meraih nilai tertinggi. Setahun kemudian, di Argentina, saya juga meraih nilai yang sama untuk kategori penyanyi bersuara tenor. Yah, Tuhan membuka jalan untuk saya.

LATIHANNYA BAGAIMANA?

Saya harus berlatih dengan serius menyanyikan 20 lagu yang dibawakan WYC di Oslo. Praktis, selama dua bulan sebelum berangkat, saya harus belajar menguasai semua lagu tersebut. Lagu-lagu itu berbahasa Inggris, Latin, Jerman, dan Norwegia.

TIDAK KESULITAN?

Tentu saja ada, tapi bisa diatasi. Yang paling susah itu menghapalkan lagu berbahasa Norwegia. Susah sekali karena tidak pernah saya kenal sebelumnya. Beda dengan bahasa Inggris, Latin, atau Jerman.

PADUAN SUARA WYC SENDIRI SEPERTI APA?

WYC itu paduan suara yang anggotanya berasal dari para pemuda-pemudi dari seluruh dunia. WYC kali ini terdiri dari 60 orang dari 37 negara. Saya satu-satunya penyanyi dari Indonesia. Saya sendiri kaget bisa diterima di WYC.

Setelah mempersiapkan diri dengan cukup matang, termasuk tampil di hadapan komunitas musik klasiki, pada 5 Desember 2011, Ganda Charisma pun terbang ke Oslo, Norwegia. Di Bandara Gardermoen, sekitar pukul 13.30 waktu setempat, Ganda dijemput staf Badan Musik Norwegia. Kemudian meneruskan perjalanan dengan kereta supercepat, seorang diri.

“Saya kesasar, kebablasan sampai lima stasiun. Saya keluar kereta, sangat sepi. Tidak kuat menahan dingin karena cuaca kala itu sekitar nol derajat Celcius. Dan, maaf, ingus saya terus keluar,” kenang Ganda ketika menginjakkan kaki pertama kali di Kota Oslo.

Beruntung, seorang kondektur wanita turun dari kereta. Ganda pun mengatakan bahwa dirinya tersasar karena baru datang dari Indonesia dan akan menyanyi di ajang penerimaan Hadiah Nobel. Wajah kondektur wanita itu iba dan menaikkan Ganda ke kereta tanpa membayar tiket sampai ke stasiun sentral.

Ganda akhirnya bertemu dua penjemput semula di bandara yang kelabakan mencarinya dan mengantar ke Hotel Haraldsheim. Para penyanyi dari berbagai belahan dunia menyambut Ganda dengan peluk cium.

APA SAJA KEGIATAN ANDA SESAMPAINYA DI OSLO?

Berkenalan dengan teman-teman dari negara lain, kemudian berlatih. Kegiatan sangat padatnya, mulai berlatih dari pagi hingga malam hari. Selama tiga hari sebelum hari-H, kami harus berlatih selama sembilan jam. Komposisi-komposisi karya Brahms, Schoenberg, lagu-lagu Natal, kemudian lagu etnik Norwegia yang rancak wajib kami hapalkan.

APA YANG MENARIK DARI WYC INI?

Lagu-lagu yang dibawakan WYC itu simpel dan variatif. Banyak paduan suara kita yang menyanyikan lagu-lagu terlalu kaku dan kurang variatif. WYC memberikan contoh yang baik bagaimana memperhatikan tingkat kesulitan komposisi kepada para penyanyinya.

Sikap konduktor Grete Pedersen, yang berusia 51 tahun, juga sangat menarik. Beliau tidak banyak bicara, kreatif, sabar, dan mudah berkomunikasi dengan semua penyanyi. Senyumnya keibuan, enak dipandang mata, dan low profile, sehingga membuat kami semangat bernyanyi.

Paduan Suara WYC kemudian mengadakan konser membawakan 15 lagu di Oslo City Hall untuk memperingati 100 tahun Universitas Oslo berbarengan dengan Bulan Nobel. Hadir menyaksikan konser tersebut para dedengkot musik Eropa, dosen, mahasiswa musik, serta duta besar dari 37 negara asal para penyanyi WYC.

Konser tersebut terbilang sukses besar. Saat membawakan lagu Brahms bertajuk Warum ist Das Licht Gegeben Dem Museligen, beberapa pejabat memuji paduan suara tahun ini sebagai 'paling bagus' dari 10 tahun terakhir.

APA YANG BERKESAN DARI TEMAN-TEMAN ANDA DI WYC?

Menurut saya, tim yang ada sekarang memang kombinasi paling bagus. Semua anggota yang direkrut memiliki nilai terbaik dari berbagai generasi. Aku paling muda dan amatir. Sekitar 90 persen adalah mahasiswa musik dan alumni sekolah musik. Kecepatan belajar dan adaptasi mereka sangat tinggi. Tentu saja, saya merasa terkatrol dalam hal kemajuan belajar.

ANDA BERTEMU DUBES ATAU PERWAKILAN INDONESIA DI NORWEGIA?

Benar. Selesai tampil di konser, di ruang ganti seorang teman memanggil karena ada orang yang ingin bertemu. Tentu saja saya kaget karena saya tidak punya teman di Oslo. Oh, rupanya Ibu Esti Andayani, duta besar Indonesia untuk Norwegia. Beliau senang melihat ada wakil dari Indonesia di WYC. Beliau menanyakan asalku, saya jawab Jombang. Ibu Esti langsung bilang, "Oalah, wong Jombang to!" Hehehe.... (*)




Mengajar Belasan Paduan Suara di Surabaya

SELAIN tampil di acara penganugerahan Hadiah Nobel di Oslo Spectrum, Norwegia, Ganda Charisma Kristi bersama World Youth Choir (WYC) unjuk kebolahan di depan Raja Harald V, sang ratu, pangeran, putri, serta para duta besar. Kebanggaan Ganda semakin berganda kala tampil di hadapan 6.000 pasang mata unadangan.


Malam harinya, anggota WYC diundang makan malam bersama para artis di Hotel Raddison Oslo yang tidak terlalu besar. Suguhan musik hip-hop Afrika mewarnai suasana yang ceria meski suhu udaha sangat dingin. Maklum, Eropa sedang dilanda salju tebal.

Keesokan pagi, Ganda harus kembali ke tanah air. Menekuni pekerjaan sekaligus hobinya sebagai guru vokal dan pelatih paduan suara di 10 gereja di Kota Surabaya. Selain kor gereja, Ganda juga melatih paduan suara anak-anak yatim piatu di Panti Asuhan Immanuel di Jalan Gatotan Surabaya.

“Melatih anak-anak agar bisa kompak dalam sebuah paduan suara memang sulit. Sebab, mereka itu kan masih maunya sendiri. Berbeda dengan ibu-ibu yang mudah diajarkan menyanyi dalam satu tim,” ujarnya seraya tersenyum.

Selain itu, Ganda juga diminta membimbing Paduan Suara Marga Huang Jatim. Kelompok paduan suara ini bahkan sudah pernah tampil di beberapa negara di Asia. Pujian datang dari Agus Wibisono, tokoh marga Huang, yang sangat bangga atas prestasi Ganda dan ketelatenannya membina paduan suara di Surabaya.

Menurut Ganda, jadwal mengajar setiap hari sudah terlalu padat. Bayangkan, rata-rata delapan jam sehari dan berpindah-pindah tempat. Namun, dia bersyukur karena dari pengalaman itu pula, putra sang pendeta ini lolos menjadi penyanyi WYC di Norwegia.

Menyanyi, mengajar paduan suara, telah menjadi bagian dari kehidupan seorang Ganda. “Bukan hanya hobi atau pekerjaan, tapi sudah seperti darah saya yang mengalir,” ujar pria yang menjaga stamina setiap hari dengan berlari kecil selama 15 menit. (*)

CV SINGKAT

Nama : Ganda Charisma
Lahir : Jombang, 25 September 1984
Orangtua : Eko Hendri Kristi dan Dwi Astiti
Profesi : Penyanyi, guru vocal
Hobi : Nyanyi, jogging
Prestasi : Tampil di ajang penganugerahan Hadiah Nobel di Oslo, Norwegia

Pendidikan
TK/SD/SMP Kristen Jombang
SMAN 2 Jombang
Universitas Kristen Surabaya (Fakultas Sastra Inggris)




27 February 2012

Zhong Ruiming pamerkan 104 foto



Zhong Ruiming bukan diplomat biasa. Sejak bertugas di Indonesia 10 tahun lalu Zhong memanfaatkan waktu luang untuk menekuni hobi lamanya: fotografi.

Berbekal kamera cukup canggih, Tuan Zhong yang sekarang menjabat wakil duta besar Tiongkok itu mengabadikan pemandangan, seni budaya, dan berbagai hal tentang Indonesia. Dia selalu memuji alam Indonesia yang katanya sangat indah dan eksotik.

Sejak 2006 Zhong Ruiming makin serius melakukan hunting foto-foto di berbagai daerah di tanah air. Setelah bertugas sebagai diplomat, dia ganti profesi sebagai tukang foto. Tak heran dia punya ratusan, mungkin ribuan, foto tentang Indonesia.

Daya jelalah Zhong mungkin jauh lebih luas ketimbang fotografer kita yang biasanya hanya berkutat di seputar Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota2 besar lainnya. Angle seorang diplomat, pilihan objek, selera... pun tentu beda dengan tukang foto jurnalistik.

Pada 4-11 Maret 2012 Zhong Ruiming menggelar pameran foto di Ciputra World Surabaya. Ada 104 foto jepretan mantan wakil konjen Tiongkok di Surabaya ini yang dipamerkan.

Lulusan Universitas Bahasa Asing Beijing jurusan bahasa Indonesia ini juga pernah menggelar pameran serupa di Jakarta pada 17 Oktober 2011.

"Sebelum pameran sudah banyak kolektor yang pesan foto beliau. Bagus-bagus sih," kata Liem Ouyen, ketua panitia, kepada saya.

Hmm.. the man behind the gun! Kamera boleh sama, boleh lebih mahal dan canggih...

Tapi siapa gerangan di balik kamera itu ikut menentukan foto bagus tidak bagus, laku tidak laku. Kalau semua diplomat rajin hunting, bisa2 fotografer bakal kehilangan pekerjaan.

26 February 2012

EYD nama Indonesia

Ejaan yang disempurnakan mulai berlaku sejak 1972. Sudah 40 tahun. Tapi saya perhatikan masih banyak nama orang Indonesia yang ditulis pakai ejaan lama baik ejaan Belanda (prakemerdekaan) maupun ejaan republik (1947).

Anehnya, banyak orang Indonesia khususnya di Jawa yang lebih suka menulis namanya dengan ejaan Belanda. Misalnya SOEDJARWO bukan SUJARWO, TJAHJONO bukan CAHYONO. Orang-orang ini rupanya masih punya romantisme dengan penjajah Belanda meski sebenarnya kurang sadar.

Anehnya lagi, orang-orang yang sok lawas ini banyak yang kelahiran 1980-an, bahkan 1990-an. Masih bisa dimaklumi kalau nama-nama dengan ejaan lama ini orang Indonesia yang lahir tahun 1930-an, 1940-an, atau 1960-an. Surat-surat resmi, dokumen, dan sebagainya sudah telanjur pakai ejaan lama sehingga apa boleh buat.

Sudah selayaknya kita mengikuti prinsip Bung Karno yang secara tegas meminta namanya ditulis SUKARNO bukan SOEKARNO. Tanda tangan sang proklamator ini memang SOEKARNO karena sudah jadi ciri khas jauh sebelum kemerdekaan.

Maka, bandar udara di Jakarta (lebih tepat: Cengkareng) harus ditulis Bandara SUKARNO-HATTA, bukan Bandara Soekarno-Hatta. Salut untuk pengelola bandar udara di Surabaya (lebih tepatnya di Sedati, Kabupaten Sidoarjo) yang menggunakan nama Bandara JUANDA, bukan Bandara DJUANDA atau Bandara DJOEANDA. Kita tahu Ir H Djoeanda hidup seangkatan dengan Bung Karno, sehingga nama resminya sudah pasti ditulis dalam ejaan Belanda alias ejaan Ophuijsen 1901.

Yang aneh juga nama orang Tionghoa di Indonesia. Saya kebetulan sedang membaca cerita tentang wayang potehi di Jawa Timur. Ada dalang terkenal bernama LIEM SING TJWAN. Mengapa tidak ditulis LIM SING CUAN saja? Lebih hemat huruf dan cocok dengan EYD.

Jelas LIEM SING TJWAN ini romanisasi nama Tionghoa ke ejaan Belanda. Adapun nama Tionghoa dalam karakter hanzi tidak berubah kecuali ada sedikit penyederhanaan. Karena itu, seharusnya nama-nama Tionghoa di-EYD-kan.

Saya sendiri sejak dulu tidak setuju orang Tionghoa ganti nama seperti kebijakan Orde Baru yang rasis itu. Biarlah LIEM SING TJWAN menjadi LIM SING CUAN bukan GUNAWAN. Ejaannya yang disesuaikan dengan EYD, sementara hanzi-nya tetap. Kalau mau lebih internasional, silakan pakai versi pinyin ala Beijing.

Saya gembira karena nama-nama orang Flores, NTT, hampir 100% menggunakan EYD. Tidak ada orang Flores yang nama resminya KAROLOES KIA melainkan KAROLUS KIA. Tidak ada LAMBERTOES MANOEK melainkan LAMBERTUS MANUK. Dan konsistensi nama-nama orang Flores yang taat EYD itu terlihat di semua kabupaten.

Nama bupati Lembata misalnya YANCE SUNUR bukan JANTJE SOENOER.

Nama gubernur NTT, yang berasal dari Flores Timur, adalah FRANS LEBU RAYA, bukan FRANS LEBU RAJA.

Nama mantan gubernur NTT, yang juga berasal dari Flores Timur, adalah HENDRIKUS FERNANDEZ, bukan HENDRICOES FERNANDEZ.

Ehm... tidak ada salahnya kalau bangsa Indonesia menggunakan EYD dalam menulis nama diri. Bukan DEASSY ISTHIANTY tapi DESI ISTIANTI.

Sederhana saja! Kayak orang Flores! Gak suka neko-neko!






25 February 2012

Kaki Suramadu yang kian sepi

Hampir lima bulan saya tidak jalan2 ke Madura lewat jembatan Suramadu. Baru kemarin saya mampir ke kaki Suramadu di Labang, Bangkalan.

Rasanya tidak banyak perubahan. Belum ada bangunan atau tawaran menarik yang membuat orang di Jawa, khususnya Surabaya, rame2 pelesir ke Bangkalan, khususnya Labang yang hanya 2,5 km itu.

Panas banget. Kios2 banyak yang mangkrak. Termasuk langganan saya di samping jembatan. Siang itu 4 stan kosong. Beda dengan ketika Suramadu baru diresmikan tahun 2009.

Rupanya seleksi alam sudah terjadi terhadap PKL2 itu. Hanya sedikit yang bertahan, itu pun kurang laku. Kenapa?Jumlah pengunjung dari Surabaya sangat sedikit. Hampir tidak ada orang yang khusus datang ke Labang untuk berwisata.

Wisata kuliner? Hmm.. susah juga karena makanan dan jajanan kurang asyik. Kopi, teh, es degan sering pakai pemanis buatan, bukan gula pasir, sehingga saya langsung kapok.

Mau cari ikan segar, sea food, juga tidak ada, padahal Suramadu terletak di pinggir laut, bahkan melintas laut. Karena tak ada selling point itulah, kaki Suramadu justru merosot meskipun sudah mau masuk usia tiga tahun.

Belum lagi persoalan manajemen Suramadu yang terus diributkan oleh pejabat, politisi, dan aktivis di Madura. Dari dulu kisruh soal ini tak kunjung tuntas.

Maka, sementara ini Suramadu hanya efektif sebagai pengganti lalu lintas laut, jembatan yang mempercepat hubungan antara Surabaya dan Madura. Dan itu lebih banyak dimanfaatkan oleh orang Madura sendiri untuk pulang kampung. Belum meningkat menjadi sarana untuk menyedot sebanyak mungkin wisatawan ke pulau garam.

Saya memanfaatkan balai2 yang kosong di salah satu stan untuk tidur karena capek. Dan saya mendengar keluhan seorang ibu yang mengaku dagangannya makin sepi dari hari ke hari.

23 February 2012

Bubi Chen dikremasi

Selama tiga hari Bubi Chen, yang meninggal pada 16 Februari 2012 di Semarang, berhasil mengumpulkan para musisi dan penggemar musik, khususnya jazz di Surabaya. Jarang sekali ada event yang bisa mempertemukan sekian banyak musisi Surabaya dan kota2 lain.

Selama tiga malam digelar jam session, konser kecil di samping peti jenazah Om Bubi. Kita kehilangan sang maestro jazz tapi tidak boleh sedih, apalagi putus asa. Harus tetap senyum. kata Bubi.

Bahkan, setelah dua kakinya diamputasi pun Bubi Chen selalu tersenyum. Ketika orang lain prihatin melihat kondisinya, sedih, Bubi justru tetap semangat dan senyum. Itulah yang kira2 mendasari acara jam session di ruang persemayaman Adi Jasa selama tiga malam.

Semangat! Senyum! Optimis! Itulah warisan sang legenda Bubi Chen.

Rabu 22 Februari, jenazah Bubi Chen dibawa ke Eka Praya Kembang Kuning untuk dikremasi. Diiringi upacara pemakaman ala Katolik, pemusik yang juga bernama Gregorius Suprawoto ini diantar ratusan orang: keluarga, relasi, kenalan, sahabat, hingga pengagumnya. Tampak gitaris Dewa Bujana, Leo Kristi, dan para musisi Surabaya kasih pengormatan terakhir untuk sang maestro.

Tapi tak ada satu pun pejabat Pemkot Surabaya dan Pemprov Jatim yang datang melayat. Padahal Bubi Chen telah berjasa melambungkan nama Surabaya dan Jawa Timur dalam peta musik jazz dunia. Ini juga sekaligus memperlihatkan kualitas apresiasi pejabat2 kita terhadapa seniman besar.

Dewa Bujana mengaku menimba banyak pelajaran dari Bubi Chen. Tak hanya di bidang musik tapi juga bagaimana menghadapi tantangan dan beban hidup.

Ketika Bujana sedih melihat kakinya yang sudah diamputasi, Bubi justru marah. Sebab, bagi Bubi, seniman musik harus tetap semangat dalam keadaan seburuk apa pun. Ojo manja, ojo cengeng!

Selamat jalan Om Bubi!

Rest in peace!

Salam jazz!

21 February 2012

Jam session di sisi jenazah Bubi Chen



Saat ini, pukul 22.00, saya duduk persis di depan peti jenazah maestro jazz Bubi Chen. Ruangan di Adi Jasa Surabaya ini terisi 70%. Cukup ramai.

Howie Chen, putra Bubi Chen, main drum bersama band jazz dadakan. Ada Bagus, pianis tunanetra muridnya almarhum Om Bubi. Sebuah konser jazz unik sembari menunggu kremasi pada 22 Februari 2012.

Benar2 suasana baru bagi saya. Belum pernah saya alami ada konser musik meski spntanitas di depan jenazah yang belum dimakamkan atau dikremasi. Unik.

Tapi begitulah cara jazz lover di Surabaya mengapresiasi sang legenda Bubi Chen. Toh kemampuan bermusik jazz mereka pun tak lepas dari ajaran dan pengaruh Om Bubi.

Saya coba menikmati irama musik jazz yang memang asyik itu. Irama yang ditekuni Om Bubi hingga ajal menjemput di usia 74. Yah, Bubi Chen memang sudah identik dengan jazz.

Maka suasana persemayaman pun bergaya jazz pula. Adakah di alam sana pun Om Bubi pun sedang main jazz juga?

Salam jazz Om Bubi!

19 February 2012

Bubi Chen sudah selesai


Siang tadi saya menatap dalam2 wajah pria 74 tahun di dalam peti jenazah di Adi Jasa Surabaya. Meski sudah kehitaman, maklum sudah 3 hari, sosoknya sangat mudah dikenali. Wajah yang ramah dan murah senyum.

Tangannya terkatup memegang rosario. Dialah Gregorius Suprawoto yang lebih dikenal dengan nama BUBI CHEN. Yah, sang maestro jazz, legenda musik asal Surabaya, itu telah meninggalkan kita untuk selamanya.

"Tugas bapak sudah selesai. Dan rupanya Tuhan memanggil bapak kembali ke pangkuan-Nya," kata Howie Chen, putra almarhum Bubi Chen. Saya lihat Howie yang juga pemusik jazz ini begitu sibuk melayani para relasi dan kenalan yang datang melayat.

Tugas Om Bubi memang sudah selesai. Baik sebagai suami, ayah, opa.. maupun sebagai pemusik. Orang yang mewakafkan sebagian besar hidupnya untuk musik, khususnya jazz. Pianis yang rendah hati, ramai, luwes.. meski tercatat sebagai salah satu pianis jazz terbaik di dunia.

Saya ingat wawancara terakhir saya dengan Om Bubi di Garden Palace, Mei 2001. Ketika itu Radio SSFM memberikan apresiasi atas dedikasi beliau mengasuh Jazz Show di radio itu selama 25 tahun.

Om Bubi tampak semangat, penuh senyum, meski kedua kakinya sudah diamputasi. Seperti diketahui, beliau sudah lama mengidap diabetes. "Saya merasa tidak sakit lagi (setelah kaki diamputasi)," katanya.

Om Bubi senang karena kedua tangannya, jarinya, masih utuh. Bisa main piano dengan skill kelas atas layaknya maestro jazz. Dan beliau tetap bermusik hingga kondisi fisiknya drop, kemudian dirawat di rumah sakit di Semarang.

Sudah terlalu banyak kata yang pernah saya tulis tentang Bubi Chen. Begitu pula apresiasi luar biasa dari komunitas musisi dan penggemar jazz di Indonesia. "Om Bubi itu maestro yang tak tergantikan," kata Indah Kurnia, penyanyi yang kini anggota DPR RI.

Tak hanya Indah, begitu banyak orang lain yang menyampaikan hal senada. Kini, Om Bubi sudah menyelesaikan tugasnya secara tuntas. Kembali ke pengakuan sang Maestro Agung yang telah menitipkan talenta spesial kepada Om Bubi.

BACA JUGA

18 February 2012

Teror monyet di Sidoarjo




Syukurlah, Kamis lalu (16/2/2012) monyet liar itu tertangkap di kompleks pabrik baja Jatim Taman Steel, Taman. Tim gabungan BKSDA, KBS, TSI melumpuhkan si monyet dengan tembakan bius.

Monyet ini meski ukurannya kecil, tampak sangar. Empat taringnya tajam. Mungkin dialah tersangka penyerangan 26 orang di kawasan Taman, Kabupaten Sidoarjo. Serangannya begitu cepat. Tiba2 muncul di rumah, lalu mencakar dan menggigit orang.

Dikejar ramai2, si monyet (ekor panjang) -- beda dengan kera yang tanpa ekor -- langsung menghilang. Warga pun resah. Polisi, pemkab, hingga BKSDA, KBS, dan Taman Safari turun tangan.

Ada sekitar 7 desa yang diteror monyet liar itu: Nambangan, Tawangsari, Ketegan, Beringinbendo, Bebekan, Kedungboto, dan Jemundo. Desa Taman juga didatangi tapi keburu dikepung oleh tim BKSDA.

Monyet itu dari mana? Punya orang yang lepas? Dari hutankah? Yang jelas, kawasan Taman sudah lama tak punya hutan. BKSDA sendiri belum tahu asal-usul monyet yang katanya sedang birahi, sehingga jadi ganas itu.

Dan apakah sudah tidak ada monyet2 lain yang berkeliaran di Taman? Pak Widodo dari BKSDA menyatakan pihaknya masih melakuka penyelidikan. Tapi petugas tetap siaga di posko. Manakala ada laporan warga, tim segera turun dengan senjata andalan buatan Jerman itu.

Sebetulnya ada satu lagi monyet kecil yang ditangkap warga di Sidorejo, Krian, Minggu (12/2) pagi. Tapi monyet ini kelewat jinak dan diyakini bukan yang menyerang puluhan warga Taman. Apalagi si kethek itu memakai rantai pertanda binatang peliharaan warga.

Mudah2an saja tidak ada lagi monyet liar yang gentayangan di Sidoarjo. Warga sudah enam tahun ini diserang 'monyet' lain yang lebih ganas, yakni semburan lumpur lapindo di Porong. Semburan yang tak diketahui kapan akan berakhir.

"Mudah2an warga bisa tenang setelah penangkapan kemarin," kata Pak Widodo.

Bamag Sidoarjo menggeliat


Saya baru saja mampir di kantor Badan Musyawarah Antargereja (Bamag) Sidoarjo di Jl Pahlawan. Agus Susanto usai memimpin rapat terbatas bersama sejumlah tokoh gereja di Kabupaten Sidoarjo.

Suasana gayeng, santai, ditemani air gelasan. Tak ada jajanan atau makanan. Ya, bamag ini memang organisasi kecil yang tidak punya kantor atau sekretariat. Karena itu, kantor pribadinya Mas Agus dan Mbak Lina, istrinya, dinunuti.

"Kantor bamag itu ya di gereja2 yang ada di Sidoarjo," kata Agus disambut tawa peserta rapat. Meski baru memimpin bamag, Agus sebetulnya bukan orang baru di bamag. Boleh dikata, dia ikut merintas badan lintas gereja dari berbagai denominasi ini. Sebagai aktivis GKJW, tahun 1990an Agus Susanto banyak bergerak bersama Prof Wismoady Wahono (alm), pemimpin tertinggi GKJW.

Karena itu, Agus punya network dengan tokoh2 lintas agama macam KH Hasyim Muzadi. Dia juga aktif di forum kerukunan umat beragama yang anggotanya tokoh2 berbagai agama.

Bukan itu saja. Agus pun asing lagi dengan pejabat2 penting di Sidoarjo. Maka, dia diharapkan bisa menjalin komunikasi dengan macam2 elemen di Sidoarjo. Demi kepentingan bamag, umat kristiani, dan masyarakat umumnya.

Sebagai kota santri, umat serani di Kabupaten Sidoarjo sangat sedikit. Saking sedikitnya sering dianggap tidak ada. Padahal, kalau mau jujur, ada beberapa kampung yang pernah menjadi cikal-bakal umat kristen di Sidoarjo. Paling tidak masih ada GKJW Melaten dan GKJW Luwung yang sudah eksis sejak zaman Belanda.

Zaman terus bergerak maju. Makin banyak pendatang di Sidoarjo. Perumahan2 muncul di mana2. Orang nasrani pun makin banyak. Lalu muncul kebutuhan untuk membangun gereja baru karena pendatang2 ini sudah menjadi penduduk Sidoarjo.

Di situlah terjadi dinamika di lapangan. Izin gereja itu gampang2 sulit. Ada yang cepat keluar, ada yang butuh waktu bertahun-tahun. Harus sabar, sabar, dan sabar. Bukankah kasih itu sabar, kata Rasul Paulus?

Nah, pengurus bamag seperti Agus Susanto tentu akan banyak bicara soal ini. Perlu sabar dan kasih!

16 February 2012

Wayang kulit meriahkan nyadran Bluru Kidul



Masih terkait tasyakuran laut atau nyadran, Rabu malam (15/2/2012), ratusan warga menikmati pergelaran campursari dan wayang kulit semalam suntuk. Panggung untuk pesta masyarakat nelayan kerang ini dibuat persis di atas dermaga Bluru Kidul.

Sebelumnya, pagi hari, digelar ruwatan untuk dua putra H Waras, ketua panitia nyadran sekaligus koordinator nelayan Bluru Kidul. "Kita ingin nguri-uri atau melestarikan seni budaya Jawa agar bisa diteruskan oleh generasi muda," katanya.

Ritual dan prosesi puluhan perahu ke makam Dewi Sekardadi di Pantai Kepetingan sudah dilakukn pada Minggu (12/2) lalu. Acara-acara inti sudah dilewati. "Campursari dan wayangan ini hanya sekadar hiburan untuk masyarakat Bluru Kidul," tutur Waras.

Selepas magrib, warga berdatangan ke lokasi pergelaran musik campursari dan wayang kulit. Ruas jalan di sekitar jembatan ditutup dan dijadikan ajang jual-beli kuliner khas Bluru, khususnya sate dan lontong kerang. Warga memanfaatkan pesta rakyat itu untuk menjajakan aneka makanan dan jajanan murah.

Sementara itu, di panggung utama, para penyanyi secara bergantian menghibur penonton dengan lagu-lagu dangdut dan campursari populer. Tak ayal beberapa penonton naik ke atas panggung untuk berjoget bersama si penyanyi cantik.

Kepala Desa Bluru Kidul Prasetyono bahkan ikut berduet membawakan lagu Malam Terakhir. Warga pun ramai-ramai memberikan aplaus kepada kades yang merakyat itu.

"Pak Kades ini luar biasa. Beliau memberi dukungan penuh agar acara nyadran ini bisa jalan. Dan, alhamdulillah, tahun ini bisa berjalan dengan lancar dan meriah," kata Waras.

Sekitar pukul 24.00 acara campursari selesai dan diganti pergelaran wayang kulit semalam suntuk. Ki Bambang Sugiyo, dalang kondang asal Sukodono, mengambil alih acara hingga menjelang subuh. Meski tidak semeriah campursari, sekitar 70 orang bertahan menikmati pertunjukan wayang kulit hingga tancap kayon.

Prita Laura bercanda di Metro TV


Ada pemandangan menarik di metrotv kemarin pagi. Usai jeda iklan dua presenter terkenal, Tommy Tjokro dan Prita Laura melakukan adegan yang menghibur. Lumayan untuk hiburan pagi hari.

Tommy meminta Prita bergaya dan... klik! Si presenter wanita itu dipotret si Tommy dengan ponsel. Prita yang rupanya senang difoto pun bergaya ala model profesional.

"Diulang..." kata Prita lalu bergaya lagi. Tommy senyam-senyum karena sudah berhasil memotret teman kerjanya itu.

Saya sudah curiga sejak awal bahwa acara foto2 ini tidak ada hubungan dengan program metrotv pagi itu. Yah, sekadar iseng2 para presenter saat off air sembari menunggu iklan selesai.

Masalahnya, adegan off air yang santai dan alamiah ini jadi on air tanpa disadari kedua presenter. Terlalu asyik berfoto membuat fokus perhatian Tommy-Prita terbagi. Dan adegan off air itu pun jadi on air.

"Hehehe... sudah on air," celetuk Prita yang bisa disaksikan jutaan pemirsa metrotv pagi itu.

Dasar presenter kawakan, jam terbang tinggi, Prita Laura bisa dengan cepat mengatasi kegalauan. Senyam-senyum, tenang, seakan-akan tidak terjadi kecelakaan kecil off air yang kadung disiarkan secara langsung itu.

Adegan tak disengaja Tommy-Prita ini sebetulnya juga terjadi di stasiun lain. Yang paling banyak adalah ketika si repoter di lapangan sudah selesai reportase, kemudian kehabisan bahan, tapi iklannya terlambat sehingga si reporter terlihat bengong.

Hikmah: Guyon si guyon tapi gak ole kebablasan!

Mahasiswa fikom tidak baca koran



Aneh bin ajaib. Mahasiswa fakultas ilmu komunikasi (fikom) yang berhubungan erat dengan media massa jarang membaca koran, majalah, atau tabloid. Kenyataan pahit itu saya pergoki dari beberapa mahasiswa fikom di Surabaya.

Kebetulan akhir2 ini saya sering ditemui beberapa mahasiswa fikom di Surabaya. Mereka bikin penelitian tentang media untuk skripsi atau tugas akhir. Saya terkejut karena mereka hampir tidak pernah baca koran. Termasuk membaca koran yang akan diteliti.

"Anda baca Jawa Pos? Kompas? Surya? Radar Surabaya?" tanya saya yang dijawab tidak.

Memang minat baca mahasiswa bimbingan saya ini sangat rendah. Baca media online di internet pun tidak. Maka, tidak heran mereka tidak tahu kalau ada beberapa rubrik yang sudah dihapus atau rubrik baru di media tertentu. Kalaupun sempat baca biasanya karena ditugasi dosennya. Itu pun sambil lalu saja. Tidak bisa menemukan benang merah antara teori jurnalistik saat kuliah dengan aplikasi dalam media massa.

Tentu saja tidak semua mahasiswa fikom malas membaca koran. Tapi saya terlalu banyak menjumpai mahasiswa2 komunikasi yang kurang interes mengikuti isu2 di media cetak.

Aneh karena mereka2 ini sebetulnya calon pekerja media di masa depan. Aneh juga karena dosen2 komunikasi sering mengecam wartawan2 yang dinilai tidak profesional lewat talkshow konsumen media di radio. Lha kok mahasiswanya sendiri tidak diurus?

Sejak dulu Indonesia dikenal sebagai negara yang tidak punya reading habit. Budaya baca sangat kurang. Para mahasiswa fikom yang saya temui ini hampir pasti punya ayah dan ibu yang tidak suka membaca. Dan pasti tidak berlangganan koran atau majalah.

Tapi kalau mahasiswa fikom, calon pekerja media, tidak suka baca koran jelas ironi besar bagi negara ini. Bayangkan, sebentar lagi mereka lulus, biasanya dengan IP di atas 3, tapi sejatinya sangat tidak siap masuk ke industri media.

Jangan heran kalau makin lama makin sedikit alumni fikom yang diterima di perusahaan media. Yang doyan baca koran dan bikin analisis media justru arek2 ITS.

13 February 2012

Whitney Houston ratu nada tinggi

Kualitas seorang penyanyi bisa dilihat saat tampil live. Penyanyi yang suaranya pas2an, asal bunyi, fals akan ketahuan di panggung. Jangan heran akhir2 ini banyak penyanyi Indonesia yang takut tampil live. Acara2 musik di televisi kita umumnya tidak live, tapi pakai taping.

Si penyanyi pura2 buka mulut, seakan2 nyanyi, padahal sudah direkam dulu. Suara asli sih hancur2an karena memang seniman karbitan. Beda dengan WHITNEY HOUSTON. Diva pop yang baru meninggal kemarin ini punya kualitas vokal yang sangat luar biasa. Kualitasnya makin kelihatan justru ketika menyanyi langsung atau live. Siapa kagum banget dengan olah vokal dan cara Whitney menyanyi.

Perhatikan cara Whitney tampil live di youtube. Paling dahsyat ketika dia membawakan lagu kebangsaan USA pada 31 Maret 1991. Juga lagu Greatest Love of All. Nada2 tinggi dimakan dengan enteng oleh Whitney. Bahkan dia senyam-senyum karena tidak ada kesulitan sama sekali.

Mengapa begitu? Kalau saya perhatikan, Whitney dianugerahi alat2 produksi vokal yang istimewa. Pita suara. Bentuk rahang. Cara bernapas. Titik2 resonansi. Dan sebagainya.

Semua penyanyi pasti keder dengan nada tinggi karena ambitus suara manusia jelas terbatas. Tapi Whitney tidak. Ketika membawakan nada2 tinggi, mulutnya otomatis dibuka begitu lebar dan suara langsung diresonansikan dengan enak.

Maka, Whitney bisa membawakan nada2 tinggi tanpa perlu falsetto. Di lagu Greatest Love misalnya Whitney langsung meloncat dari C tinggi ke F saat refren. Kemudian makin tinggi dan tinggi hingga coda atau ending.

Cara menyanyi macam Whitney memang khas diva yang talented. Ada beberapa hal yang bisa dipelajari seperti pernapasan, frasering, ekspresi, dinamika.. tapi jauh lebih banyak yang tidak bisa dipelajari karena sudah dari sononya. Whitney itu orang yang born to sing. Dilahirkan untuk menyanyi.

Karena itu, begitu banyak orang di dunia merasa sangat kehilangan Whitney. Diva yang benar2 diva memang idak bisa muncul setiap saat. Kalau diva2an yang sering dilabelkan di Indonesia sih banyak. Misalnya diva dangdut atau diva koplo. Preeet!!!!

Whitney sang idola


Sejak punya komputer pribadi (PC) sekitar 10 tahun lalu, saya memasang
foto WHITNEY HOUSTON sebagai wallpaper. Penyanyi manis yang suara
emasnya sukar dicari tandingannya. Sampai sekarang.

Lagu2 Whitney memang tiada duanya. Kaset2 lamanya saya koleksi.
Kemudian di era digital saya simpan dan putar di komputer. Makin
sering diputar makin enak. Saya tidak pernah bosan menikmati suara
emas sang diva.

Karena itu, saya terkejut membaca berita di yahoo.com, di atas perahu
di mtara sungai kawasan Sidoarjo bahwa Whitney meninggal dunia.
Usianya 48 tahun. Untuk ukuran vokalis sekalis Whitney seharusnya dia
bisa tetap menyanyi hingga 84 tahun.

Tapi jalan hidup orang siapa yang tahu? Tadinya saya bayangkan Whitney
ini bisa konser keliling dunia macam Rod Stewart yang barusan ke
Jakarta. Rest in peace!

Hidup itu singkat tapi seni abadi. Saya kira penggemar musik di
seluruh dunia tak akan melupakan Whitney. Dan tetap memutar lagu2
Whitney. Terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan seorang
Whitney di industri musik pop.

Generasi 1980-90an macam saya beruntung mendapatkan Whitney di puncak
kejayaan. Beruntung karena mendapat referensi seorang penyanyi dengan
kualitas vokal sempurna, teknik istimewa, pembawaan bagus, aransemen
musik luar biasa. Semua yang superlatif ada pada Whitney.

Singkatnya, hampir semua teori vokal dan musik, how to sing...
pelajaran seni suara dipenuhi Whitney. Maka, penyanyi manis ini pun
menjadi standar atau benchmark dalam musik.

Kalau mau nyanyi bagus ya tirulah Whitney! Begitu ujaran guru2 vokal
era 80-90an.

Yah, saya kira standar tinggi ala Whitney belum dilampau penyanyi2 pop
lain di dunia. Dan gara2 standar vokal yang terlalu Whitney, kita
kurang menghargai penyanyi2 masa kini yang gaya bernyanyi dan
bermusiknya sudah jauh berbeda.

Tapi begitulah Whitney Houston... Dia telah membius jutaan orang di
seluruh dunia, termasuk saya. KOMPAS menulis: "Whitney salah satu
penyanyi pop tersukses dengan suara terindah dalam sejarah musik
dunia..."

Saya setuju 500 persen.

12 February 2012

Selamat hari minggu


Orang Flores, dan NTT umumnya, punya kebiasaan mengucapkan selamat
hari minggu. Minggu dianggap hari yang lebih istimewa ketimbang enam
hari lain.

Selain libur, ke gereja, setiap hari minggu makanan di rumah
diusahakan sebisa mungkin lebih berkualitas. Orang makan daging hanya
pada hari minggu. Maka, anak2 sangat suka hari minggu.

Rupanya di zaman modern ini tradisi mengagungkan hari minggu masih ada
tapi tidak sehebat sebelum 1990an. Sebab saat ini tidak sedikit orang
yang tetap kerja meski hari minggu. Bisa ambil libur di hari2 lain. Ke
gereja sih tetap tapi harus bekerja juga, khususnya di Jawa yang orang
seraninya minoritas. Saya bahkan lebih sering mendapat beban tambahan justru hari minggu.

Karena itu, saya sering tersenyum geli membaca SMS selamat hari minggu
dari orang2 NTT baik yang di Jawa maupun NTT. Kenapa? Di Jawa kita
tetap kerja di hari minggu.

Mau makan enak pun tidak perlu tunggu hari minggu. Kapan saja kita
mau, kalau punya uang, kita bisa makan enak di restoran. Maka, makin
lama tujuh hari itu tak ada lagi perbedaan. Cuma hari minggu kota
besar macam Surabaya tidak sampai macet parah.

Saya sangat terharu membaca SMS Pak Ong, tokoh Tionghoa di
Surabaya, yang bukan serani, setiap hari minggu. Pak Ong ini selalu menulis kata2 mutiara berbahasa Inggris sebelum mengucapkan selamat hari minggu.

Dan ini selalu dilakukan Pak Ong selama bertahun-tahun. Teman2,
relasi, kenalan... biasanya dikirimi SMS khusus selamat hari minggu.
Membaca SMS Pak Ong rasanya teduh dan tenteram.

Saya diingatkan akan tradisi lama di Flores ketika semua orang
memperlakukan hari minggu secara khusus. Ada baju khusus, sepatu
khusus, parfum khusus, acara khusus, piknik... hingga makanan khusus
hanya di hari minggu.

Sudah terlalu lama saya tidak mengucapkan selamat hari minggu kepada
sahabat, keluarga, kenalan... karena memang tidak umum di Jawa. Pak
Ong ini termasuk perkecualian.

Selamat hari minggu Pak Ong! Semoga Tuhan memberkati keluarga sampean!

Krisis pengamat musik


Di Indonesia pengamat sepak bola paling banyak. Orang2 kampung, anak
kecil, artis, hingga wartawan jago membahas Liga Inggris, Italia,
Spanyol, atau Liga Indonesia. Sepak terjang pemain2 Barcelona, MU,
Real Madrid, Chelsea... dikuasai dengan baik oleh khalayak.

Saya sering nonton bareng sepak bola di pinggir jalan. Wah, ternyata
komentar2 wong cilik ini tidak kalah dengan pengamat di televisi.
Bahkan lebih bermutu ketimbang seorang pengamat bola di tvOne yang
terlalu mendewakan Barcelona dan menyudutkan Real Madrid.

Kita memang kelebihan stok pengamat bola, tap krisis pengamat basket,
tinju, atau bulu tangkis. Yang lebih parah lagi pengamat musik. Sangat
jarang muncul analis atau komentator musik yang berusia di bawah 30
tahun.

Padahal, musik dan sepak bola sama2 disukai orang Indonesia. Jadi
pengamat musik memang membutuhkan skill, pengetahuan, wawasan, dan
pengalaman lebih ketimbang pengamat bola.

Saya lihat Radio Show di tvOne hanya menampilkan pengamat musik lawas
macam Bens Leo dan Danny Sakrie. Dua orang ini wartawan musik yang
konsisten sejak era 1970an sampai sekarang. Tidak bosan meski tren
musik selalu berubah.

Pengamat2 musik kawakan, maksudnya musik industri atau pop culture,
umumnya berlatar belakang wartawan musik. Atau kerja di majalah musik.
Di masa lalu ada majalah AKTUIL yang melahirkan pengamat musik macam
Remy Sylado, Bens Leo, Theodore KS.

Ada pula wartawan media umum yang jadi penulis musik jempolan macam
Budiarto dari Kompas atau Fajar Budiman dari Sinar Harapan. Frans
Sartono dari Kompas juga rupanya sangat fokus di musik industri.

Lalu mengapa tidak muncul nama2 lain meski media makin banyak? Saya
kira ini tak lepas dari dunia kewartawanan sekarang yang bersifat
general reporting. Semua isu diliput dan ditulis. Tidak ada
spesialisasi seperti wartawan2 tempo dulu.

Rotasi atau rolling terlalu cepat sebelum si reporter benar2 menguasai
masalah. Baru kenal beberapa musisi, si reporter sudah digeser ke
bidang kriminalitas.

Mana bisa mengerti tren musik?

10 February 2012

Macet tanda kemakmuran



Setiap kali hujan deras Surabaya macet parah. Meski kemacetan di
Surabaya masih gak ada apa2nya dibanding Jakarta, pengendara mobil
pribadi biasanya ngroweng.

Menelepon Radio Suara Surabaya, kemudian bicara ngalor-ngidul. Marah2.
Menyalahkan pemkot yang kurang becus atasi banjir dan jalan raya.
Memaki-maki pengendara motor yang dinilai ngawur.

Maka, kalau hujan lebat sebaiknya jangan putar SS. Pikiran kita yang
sudah kacau diperkeruh dengan traffic report dari para pemilik mobil.
Mereka tak sadar bahwa kepemilikan roda empat itu juga ikut menyumbang
kemacetan.

Paling enak memang menyalahkan orang lain. Diri sendiri selalu benar.

Sebagai orang pelosok Flores yang tinggal di Surabaya, saya justru
bersyukur melihat jalan raya macet. Makin macet makin bersyukur.
Kenapa? Kemacetan itu pertanda kemakmuran. Pertanda kehidupan ekonomi
masyarakat sangat baik.

Kota yang macet adalah kota yang rakyatnya mampu membeli mobil mulai
dari yang biasa hingga yang 3-5 miliar. Sebaliknya, kota2 yang
jalannya sepi, tidak pernah macet, bisa dipastikan daya beli
masyarakatnya kurang.

Jakarta menjadi kota yang sangat macet karena ekonominya sangat bagus.
Dalam jangka panjang semua keluarga di Jakarta punya mobil sehingga
kemacetan lebih parah lagi. Dan biasanya akan muncul ide2 dan resep2
baru untuk mengatasi kemacetan.

Belum lama ini saya naik motor di Lembata, pelosok NTT. Saya sedih
karena di perjalanan sejauh 30an km itu saya hanya berpapasan dengan
SATU mobil. Itu pun pikap yang mengangkut petani2 di ladang jagung.

Jalan raya lengang dan gelap. Saya pun cemas bukan main, khawatir ban
gembos. Dan itu berarti saya akan menuntun sepeda motor sangat jauh.
Syukurlah, aman dan lancar.

Mengapa daerah2 luar Jawa seperti NTT ini tidak pernah macet? Jawabnya
sudah terang-benderang: rakyat belum makmur atau terlalu miskin.
Jangankan beli mobil atau motor, untuk makan sehari-hari saja susah.

Maka, berbahagialah kota2 yang dirundung kemacetan setiap hari. Kalian
adalah orang2 makmur dan berdaya beli tinggi.

Junkies Jakarta masuk pesantren

Selain sisi positifnya dengan kemajuan dan pembangunan yang luar
biasa, Jakarta punya sisi buruk. Khususnya dalam hal peredaran
narkoba. Korban2 narkoba berjatuhan di kalangan usia produktif dan
remaja.

Mengerikan, karena pengguna2 narkoba di Jakarta ini tidak hanya
kalangan the haves, gedongan, tapi juga warga kampung2 yang padat
rumah itu. Tak sedikit penganggur pun kena narkoba.

"Saya baru lulus dari pesantren, Bang," kata seorang kenalan, di
kawasan Karet. Mulanya saya pikir pesantren biasa, tempat ngaji,
belajar agama Islam. Eh, ternyata pesantren ini maksudnya penjara di
Cipinang.

Saat duduk2 ngopi dengan anak2 muda Betawi, saya dapat informasi bahwa
banyak teman mereka yang terpaksa nginap di pesantren. Gara2 nyabu,
makan ganja, heroin.. dsb. Uangnya dari mana? Bukankah uang anak2
kampung ini pas2an?

Saya makin terpukul karena kenalan akrab saya si M pun berada di
pesantren. Lima tahun bahkan. "Sekarang baru jalan dua tahun. Aman di
pesantren biar kapok," kata temannya cengengesan.

Dari dulu sebetulnya sudah ada tanda2 kalau si M ini junkies. Kurus
kering. Menyendiri di kamar. Tidur melulu berjam2. Sulit diajak bicara
serius.

Sayang, Jakarta penuh dengan orang sibuk yang saling cuek. Kontrol
sosial sangat lemah, bahkan keluarga sendiri pun tidak tahu kalau
putra mereka sudah masuk perangkat mafia narkoba.

"Saya dulu juga makai tapi gak sampe ke pesantren. Hehehe," kata pria
20an tahun seraya tertawa lebar.

Saya tidak tahu harus bilang apa. Saya juga sedih karena biasanya si M
ini yang mau mengantar saya jalan2 di Jakarta.

Transjakarta asyik juga




Dua tahun lebih saya tidak ke Jakarta. Maka, begitu ada peluang, saya
sempatkan jalan2 melihat perkembangan ibukota RI itu.

Kesan saya masih sama: Jakarta terlalu jauh dibandingkan Surabaya.
Surabaya yang disebut kota kedua itu sebetulnya gak ada apa2nya. Kalah
jauh. Yah, uang beredar hampir menumpuk di Jakarta sehingga dia bisa
membangun apa saja.

Hanya dalam tempo dua tahun saya pangling di kawasan Sudirman. Menara2
baru sudah tegak. Jalan kecil dari Sudirman ke Karet Setiabudi, yang
biasa saya lewati, sudah berubah wajah.

Yang paling menyenangkan bagi orang daerah macam saya adalah bus
transjakarta. Saya coba keliling dari ujung ke ujung untuk wisata mata
di Jakarta. Asyik banget. Cukup bayar 3500 kita sudah bisa jalan jauh
dengan nyaman.

Bus bersih, AC, tidak sesak (karena dibatasi petugas), dan
penumpangnya pun keren2. Yang perempuan berdandan rapi, gaul, bawa BB
atau smartphone ke mana2. Pertanda transjakarta ini buka hanya
tumpangan warga kelas bawah yang tak mampu membeli mobil.

Sebagai kota raya dengan 8-10 juta penduduk, angkutan masal macam
transjakarta memang sangat membantu mengurangi kemacetan. Bayangkan
bila setengah saja penumpang transjakarta turun untuk naik mobil atau
motor sendiri2. Berapa space jalan di Jakarta yang harus dipakai?

Transjakarta membuat minat kita untuk jalan2 dengan kendaraan umum di
Jakarta meningkat. Seharusnya pemprov DKI bikin terobosan2 lagi
seperti transjakarta ini. Biarkan saja pemilik2 kendaraan pribadi
menggerutu karena justru mereka2 itulah yang selama ini bikin macet
Jakarta.

Sayang, busway atau transjakarta belum ada di Surabaya. Bus2 umum dan
angkot di Surabaya pun bobrok dan tidak aman. Maka pejabat hingga
rakyat jelata rame2 naik mobil atau motor. Tidak ada pikiran untuk
membuat sistem angkutan masal yang nyaman macam transjakarta.

Tunggu sampai macet cet cet dulu baru bikin. Dan pasti terlambat banget.

08 February 2012

Mengapa orang Lembata jarang pulang



Orang Lembata, Flores Timur umumnya, sejak 1950an suka merantau. Kerja di luar karena memang sulit cari uang di negeri sendiri. Kalau sudah merantau, hampir tidak ada yang lekas pulang.

Biasanya 5, 6, 10.. bahkan 20 tahun baru pulang. Lalu merantau lagi. Mengapa bisa begitu?

1. BIAYA TRANSPORTASI SANGAT MAHAL

Lembata itu pulau kecil di pelosok NTT. Harus langgar laut. Ongkos pesawat sangat mahal. Apalagi pulang bersama istri anak. Uang kita yang dikumpulkan bertahun2 hangus di pesawat atau kapal.

2. TRADISI MUDIK TIDAK ADA

Kendala transportasi membuat orang Lembata sulit mudik saat Natal. Beda dengan orang Jawa yang WAJIB mudik saat Lebaran karena transportasi tersedia. Lagi pula akhir Desember cuaca di laut tidak bersahabat. Kapal motor antarpulau sering dilarang berlayar. Karena itu, orang Lembata yang tinggal di Kupang pun sebetulnya jarang, bahkan tidak pernah mudik ke kampung.

3. MALU TIDAK MEMBAWA APA-APA

Kalaupun bisa beli tiket pesawat atau kapal laut, ada beban mental kalau pulang kampung dengan tangan kosong. Harus membawa oleh2 yang tidak murah. Perantau Malaysia biasanya membawa bahan2 bangunan seperti seng, semen, cat untuk renovasi rumah.

4. KURANG DIHARGAI KALAU PULANG KOSONG

Buat apa merantau lama2 tapi pulang tidak membawa apa2? Begitu gugatan orang2 kampung. Ini jadi beban psikologis yang berat. Maka orang pun takut pulang jika tabungannya sedikit.

5. BELUM PUNYA ISTRI DAN ANAK

Orang2 kampung di Lembata kurang menghargai orang yang belum menikah, padahal usianya di sudah di atas 30. Kecuali orang yang terpanggil menjadi pastor, frater, bruder, atau suster. Pulang kampung sebagai bujang lapuk akan jadi bahan ledekan warga. "Kami lebih suka gendong engkau punya anak, bukan lihat engkau punya wajah," kata mereka.

Setelah dapat istri, kemudian punya anak, makin sulit pulang karena biaya transportasi berlipat ganda.

6. PINDAH AGAMA ATAU PINDAH GEREJA

Pindah agama, bagi laki2 Lembata, jadi masalah besar. Kalau wanita tukar agama karena ikut suami no problem. Maka, orang Lembata di Jawa yang pindah agama ikut istri biasanya tidak berani pulang kampung. Sebab, akan jadi pergunjingan orang2 kampung.

Orang Lembata, seperti Flores, mayoritas beragama Katolik. Gereja-gereja lain macam Protestan, Pentakosta, Karismatik, Baptis, Advent, Bala Keselamatan, dan sebagainya dianggap gereja-gereja asing yang tidak cocok dengan kultur Lamaholot. Karena itu, orang2 kampung akan sangat heran jika ada orang Lembata pulang kampung sebagai jemaat gereja non-Katolik.

7. ORANGTUA SUDAH TIADA

Kalau ayah dan ibu sudah meninggal, ikatan dengan kampung jelas makin lemah. Keinigin untuk pulang makin tipis. Wong ketika orangtua masih hidup saja sudah jarang pulang.

8. TAK DIIZINKAN ISTRI

Menikah dengan wanita dari etnis lain seperti Jawa, Betawi, atau Dayak di negeri orang membawa konsekuensi. Si Lembata harus melebur dalam tradisi dan budaya tempatan. Makin sulit meyakinkan istri agar menyisihkan uang untuk mudik. Duit untuk kebutuhan sehari-hari saja susah, apalagi membuang jutaan rupiah di pesawat.

9. MERASA SUDAH JADI ORANG KOTA

Bertahun-tahun tinggal di kota membuat orang Lembata makin merasa sebagai orang kota. Kultur kampung atau Lamaholot yang dinilai boros, tidak efisien, semakin ditinggalkan. Pulang kampung berarti harus ikut menanggung biaya acara adat yang tidak sedikit. Banyak orang kampung yang sengaja hijrah ke kota untuk menghindari beban tetek bengek adat istiadat.

10. PUNYA MASALAH ADAT ATAU WARISAN

Masalah adat atau tanah jadi isu utama di kampung. Kalau sudah bicara warisan, sesama anak atau saudara bisa berkelahi. Ada yang puluhan tahun tidak saling bicara atau saling mendiamkan. Maka, daripada ribut2 di kampung, orang memilih 'menyepi' di kota.

11. SUDAH GENERASI KEDUA

Hanya generasi pertama yang punya ikatan dengan kampung. Generasi pertama ini lahir di Lembata, berbahasa Lamaholot, tahu adat Lamaholot, punya orangtua dan sanak kerabat di Lembata. Dia merantau pada usia belasan atau 20an tahun, kemudian menetap di kota.

Anak2nya sudah jadi generasi kedua yang tidak lagi merasa sebagai orang Lembata. Sulit bagi mereka untuk kembali ke Lembata. Generasi ketiga, keempat... praktis bukan lagi orang Lembata.

Generasi kedua ini bakal jadi orang Lembata kalau dia mau menikah dengan orang Lembata yang baru datang kuliah atau kerja di kota. Tapi biasanya anak2 kota ini kurang sreg dan berbeda pandangan dengan orang kampung.

Komentar anonim jadi masalah




Akan sangat bagus kalau komentar2 di blog atau website tidak disensor.
Apa adanya. Tak perlu dinotifikasi. Dengan begitu, pendapat si penulis
atau komentator langsung nongol.

Sayang, rupanya pengguna internet di Indonesia belum cukup dewasa,
tenang, dan bertanggung jawab. Kebebasan berpendapat dan berekspresi
di internet justru sering dimanfaatkan untuk melontarkan pendapat2
yang tidak bertanggung jawab. Asal njeplak.

Celakanya lagi, komentar2 anonim itu sudah melanggar garis SARA,
khususnya ras dan agama. Dua isu yang sensitif di Indonesia, bahkan
dunia. Ingat, pemain Liverpool Luis Suarez dihukum 8 laga gara2
melontarkan ucapan rasis kepada Evra, pemain MU. Sanksi yang sangat
berat meski Suarez minta maaf.

Karena komentar2 asal njeplak itulah, pengelola blog Kompasiana
memilih untuk menutup rubrik agama. Rupanya, editornya kewalahan
karena terlalu banyak komentar anonim yang kebablasan. Tidak sehat dan
merusak kebersamaan dan kedamaian di tanah air.

Blogger2 senior pun umumnya menolak komentar anonim. Sebab sumber
anonim dalam dunia jurnalistik memang sangat merusak kualitas tulisan.
Bikin capek kalau kita harus berdebat kusir dengan komentator anonim!

Bukan itu saja. Pemilik laman atau blog bisa terjerat UU ITE karena
dianggap membiarkan blognya jadi ajang fitnah, caci maki, atau
pencemaran nama baik.

Karena itu, apa boleh buat, saya terpaksa kembali menotifikasi
komentar. Semacam sensor ringan. Komentar2 tidak dilepas begitu saja
tapi dibaca dulu. Agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

Tentu saja ada ruang untuk komentar anonim yang netral atau positif.
Tapi akan sangat bagus jika semua komentator mau bertanggung jawab
dengan mencantumkan identitasnya.

07 February 2012

Menelepon Lan Fang di surga



Membuka ponsel lama, saya menemukan sms dari Lan Fang. Penulis dan aktivis ini meninggal dunia pada 25 Desember 2011. SMS lama tentang kegalauan Lan Fang akan kebisingan di Taman Bungkul Surabaya.

Orang2 yang tinggal di dekat Bungkul tentu terganggu. Mereka juga sulit masuk ke rumah sendiri karena akses jalan ditutup. Semasa hidup Lan Fang memang sering memberikan bahan2 berita lewat sms semacam ini. Biasanya digali lagi wartawan2 di Surabaya menjadi liputan bagus.

Melihat nomor HP-nya saya pun mencoba menelepon pengarang keturunan Tionghoa itu. Tak ada jawaban. Sebab Lan Fang tak ada lagi di dunia. Jasadnya yang terkena kanker hati itu sudah dibakar, jadi abu, di Eka Pralaya.

Tapi mungkin saja nomor Lan Fang dipakai anaknya yang kembar tiga itu. Atau dipakai Janet, adiknya, yang saya temui di RS Adi Jasa menjelang dibawa ke Singapura. Tapi tidak, nomor HP itu hilang bersama jasadnya.

Saya pun terdiam mengenang sosok ramah yang suka membawa jajanan, khususnya pizza, ke kantor itu. Bagaimana dia bercanda dengan Koko, anaknya kayak sahabat saja.

Ah, rasanya sahabat Lan Fang masih ada di sini. Aktif membahas begitu banyak hal baik yang serius, setengah serius, hingga bikin workshop di pesantren2.

"Tolong diliput ya, saya mau ke Tebuireng," katanya setiap kali akan berangkat ke Jombang untuk mendidik santri2 yang belajar menulis prosa.

Ah, kehidupan yang sulit diraba insan daif. Dua minggu lalu kita bercanda, ngobrol ngalor-ngidul, lalu tiba2 Lan Fang meninggalkan kita untuk selamanya.

Saya kemudian membongkar rak buku. Ah, ketemu beberapa novel Lan Fang. Salah satunya PEREMPUAN KEMBANG JEPUN. Sampulnya bergambar seorang perempuan yang murung, tertunduk, punya beban berat. Beda banget dengan Lan Fang yang ceria dan suka ketawa renyah.

"Kematian menciumku maka merah flamboyan tak cukup terang nyalakan mataku..," tulis Lan Fang di kata pengantar novelnya.

Ada lagi kata2 Lan Fang yang saya ingat:

"... Mau miskin miskinlah! Mau mati matilah!"

Dan Lan Fang pun matilah. Meninggalkan tiga vajra, si kembar tiga.

Pilot nyabu di Surabaya


Untuk kesekian kalinya pilot Lion Air ditangkap polisi karena nyabu.
Saiful Salam, si pilot 44 tahun, dicokok di Hotel Garden Palace
Surabaya. Hotel yang punya kafe jazz di Jl Yos Sudarso itu sejak dulu
memang jadi jujukan awak kabin Lion Air untuk menginap.

Kaget bukan main karena Sabtu pagi itu, 4/2/12, itu saya naik Lion Air
tujuan Jakarta. Sementara SS hendak menerbangkan Lion Air ke Makassar.
Andaikan tidak ditangkap, sudah pasti SS tetap lenggang kangkung
membawa ratusan penumpang ke Makassar.

SS mengaku sudah lama memakai sabu alias SS. Dus, bisa diduga kalau SS
biasa mengkonsumsi sabu sebelum menyetir pesawat. Hanya saja dia baru
apes pada Sabtu Pon itu sehingga ditangkap.

Sangat mengerikan membayangkan risiko penerbangan jika kristal putih
itu merusak konsentrasi sang pilot. Kita masih ingat beberapa tragedi
penerbangan yang marak pada 2006-2008.

Lion Airsedang naik daun saat ini. Pilotnya 600 lebih. Tentu saja jauh
lebih banyak pilot baik2 yang antinarkoba. Jadi, kasus pilot Saiful
ini hanya ulah individual alias oknum belaka.

Tapi bagaimanapun imej Lion Air tercoreng karena tiga pilotnya
tertangkap nyabu dalam bererapa waktu terakhir. Masyarakat pun
bertanya ada apa dengan Lion Air? Jangan2 beban atau tekanan kerja di
Lion Air terlalu berat sehingga awak kabin harus pakai doping obat2an
terlarang.

Bisnis airline sedang marak di Indonesia. Selain Lion, masih banyak
maskapai yang mempekerjakan begitu banyak pilot dan awak kabin lain.
Bisa jadi beberapa pilot nyabu ini hanya fenomena puncak gunung es
nakorba di kalangan awak penerbangan.

Maka, inilah momentum emas untuk mengenyahkan narkoba dan obat2an
terlarang di Indonesia. Tak hanya di kalangan pilot, tapi juga
profesi2 lain.

06 February 2012

Dari Bandara Soekarno-Hatta ke Karet

Semua bandara praktis berada di luar kota. Bandara Juanda Surabaya
terletak di Sedati, Sidoarjo. Bandara El Tari, Kupang, di Penfui.
Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng.

Dari semua bandara di tanah air, Jakarta yang paling ekstrem. Jarak
bandara dengan kota Jakarta sendiri alangkah jauhnya. Dan alangkah
macetnya. Alangkah banyak waktu hilang di jalan dari Cengkareng ke
tempat tujuan anda di Jakarta.

Macet memang sudah menjadi cerita lama di Jakarta. Macet ekstrem.
Orang Surabaya sering komplain macet di Ahmad Yani, yang sebenarnya
belum apa2 dibandingkan di Jakarta. Macet di Jakarta itu macet cet cet
cet.

Karena tahu Jakarta macet ekstrem (tidak tahu 10 atau 20 tahun lagi),
Sabtu lalu saya memilih pesawat yang paling pagi. Tiba di Jakarta
sekitar 07.40. Naik ojek ketimbang taksi tujuan Karet, Setiabudi.
Motor tentu bisa mencari celah2 ketimbang mobil, bukan?

Tapi pagi itu, akhir pekan, macet sudah terasa di kawasan Cengkareng.
Makin dekat Jakarta makin macet. Masuk Jakarta tambah macet lagi.
Padahal si ojek sudah menerabas busway yang sebetulnya hanya untuk bus
transjakarta. Padahal acara akad nikah Linda, saudara sepupu, mulai
jam 10:00.

Benar saja. Tiba di Karet Belakang (Karbela) sudah lewat jam 10:00.
Rombongan pengantin dan keluarga sudah standby di masjid. Ganti baju,
saya pun menyusul ke masjid di Karbela selatan itu. Tergesa-gesa.

"Belum mulai, pak penghulunya terlambat. Katanya, macet di jalan,"
kata seorang kerabat mempelai.

Hehehe... Macet lagi, macet lagi! Ternyata macet juga ada untungnya.
Gara2 pak penghulu kemacetan, saya bisa mengikuti acara akad nikah itu
sejak awal.

Mungkin, ke depan perlu ada modifikasi surat undangan di Jakarta.
Harus ada keterangan, misalnya, acara dilaksanakan pukul 10:00 (kalau
tidak macet di jalan).

05 February 2012

Monas tetap menarik

Untung Jakarta punya monas. Tetenger di tenga kota yang memungkinkan orang Indonesia bisa menikmati ibukota dengan segala kelebihannya. Paru2 kota yang memasok oksigen untuk warga.

Saat ini saya lihat begitu banyak orang, sebagian besar dari luar Jakarta, berpiknik di monas. Main gitar, jualan kopi, jualan jasa motret, nyewa tikar, hingga pacaran.

Wajah2 Tionghoa pun tidak sedikit. Begitu pula yang keriting, kulit gelap. Satu dua bule pun terkesan sangat menikmati taman yang dibuat pada era Bung Karno itu.

Oh ya tiba2 ada seorang waria muncul di depan saya. Memutar lagu Alamat Palsu dari Ayu Ting Ting lalu berjoget dan ketawa2 sendiri. Bukan gila, tapi ngamen cari uang receh.

Syukurlah, Jakarta masih merawat hutan kota di kompleks monas ini. Tanaman2 makin besar dan rimbun. Saya yang dua tahun tak mampir ke monas pun kagum dengan tanaman2 yang hijau dan terus menghijau.

Apa jadinya hutan kota itu 10 atau 20 tahun ke depan? Mudah2an tidak dialihfungsikan sebagai plaza, mal, atau tempat hiburan. Biarkan monas tetap jadi jujukan warga. Biarkan tanaman2 itu terus tumbuh, membesar, jadi hutan... yang bisa dinikmati siapa saja.

Ini penting agar Jakarta tidak hanya terkenal dengan gedung2 jangkung dan hutan beton. Salam lestari!

Bahas Lembata dari Jakarta

Sangat jarang orang Lembata yang merantau di kota2 besar bisa bertemu
muka. Semua sibuk kerja, cari uang. Maka ketika ada kesempatan
berkumpul, suasana pun seru.

Itu yang terjadi di halaman masjid di Karbela Selatan, Jakarta. Acara
pokoknya adalah resepsi pernikahan Linda dan Rommy. Linda ini putri
almarhum Kanis Kia Hurek yang tinggal di Karbela, Setiabudi. Dekat
dengan kawasan elite Jl Sudirman.

Tak sampai 10 orang Lembata, khususnya Ileape, yang saya lihat. Ada
Ben Hur, Muhammad (yang jadi saksi nikah Linda), kemudian beberapa
anak muda asal Bungamuda dan Lewotolok.

Sambil mencicipi hidangan, topik bahasan pun tiba2 lari ke kampung:
Lembata. Muhammad getol menyoroti kinerja polisi. Katanya, ada
beberapa kasus lama yang ngendon sampai sekarang.

Tokoh marga Hurek di Jakarta ini juga mengkritik wartawan di kampung
yang asal nulis. Datanya ngawur, fitnah. "Wartawan macam ini harus
diproses," katanya.

Saya diam saja, sekadar mendengarkan, karena tidak tahu masalahnya.
Ada juga yg membahas otonomi daerah sejak 2000 di Lembata, tapi kurang
berdampak pada kemajuan Lewotanah.

Ini obrolan rumpu-rampe alias gado2. Tapi intinya sama: para perantau
yang sudah bertahun2 di Jakarta itu tetap concern dengan kampung
halamannya. Yang dibahas justru Lembata, bukan Jakarta yang sebentar
lagi mau pemilihan gubernur.

Dan tema2 seputar lewotanah (kampung) hampir selalu saya temukan di
Jakarta, Surabaya, bahkan Malaysia. Semakin jauh dari kampung justru
perhatian terhadap perkembangan daerah makin besar. Meskipun
kebanyakan masih sekadar kata-kata alias omdo: omong doang.

Beda lagi dengan tema pembicaran di Lembata, khususnya Ileape. Orang2
kampung sibuk membahas musim hujan tahun ini yang sulit ditebak.
Sempat mula wata (tanam jagung) dua kali, tapi mati semua gara2 hujan
terlambat. Ketika hujan turun lagi, benih2 jagung sudah tak ada lagi.

Maka, jangan sepelekan suara2 orang Lembata di luar Lembata. Pesan
mereka: semoga bupati dan wakil bupati tetap kompak! Salam lewotanah!

04 February 2012

Sering di pintu darurat



Entah mengapa, setiap naik pesawat saya selalu ditempatkan di seat dekat pintu darurat. Termasuk ketika naik Lion Air tadi pagi (4/2/2012) dari Surabaya ke Jakarta. Saya dapat kursi 20B.

Seat nomor 20 dan 19 di sebelah kiri kanan memang untuk pintu darurat. Seperti biasa, si pramugari cantik kasih brifing khusus kepada 6 penumpang yang duduk di pintu darurat itu. Kalau ada apa2, orang2 di samping pintu darurat itu harus membantu awak kabin untuk melakukan evakuasi.

Evakuasi? Ngeri juga mendengar kata ini, apalagi sedang di dalam pesawat. Tapi memang awak kabin dan penumpang harus siap menghadapi risiko terburuk.

Ketika pertama kali duduk di pintu darurat, saya agak takut juga. Bagaimana saya harus mengadakan action yang tidak pernah dilatih sebelumnya? Tapi lama-kelamaan terbiasa saking seringnya dapat kehormatan duduk di seat yang justru ditolak penumpang2 lain itu.

Ada 10 syarat yang harus dipenuhi penumpang yang duduk dekat pintu emergency. Seperti badan sehat, tidak lekas panik, bisa mengatasi kepanikan penumpang lain dsb. Begitu pula ada 10 tugas yang harus diemban. Saya tidak ingat semua. Yang saya ingat menarik gagang pintu agar terbuka kala pendaratan darurat.

Saya kadang2 geli sendiri. Kok saya yang dipasang di situ? Kok bukan penumpang lain? Yah, mungkin hanya kebetulan saja saya ketiban sampur di pintu darurat. Kebetulan kok berkali-kali.

Menurut saya, maskapai penerbangan sekali2 bikin latihan untuk penumpang bagaimana cara menghadapi situasi darurat. Penumpang2 yang tergolong pelanggan, sangat sering naik pesawat tertentu, dikumpulkan untuk ikut latihan.

Nah, orang2 yang sudah dilatih inilah yang ditempatkan di pintu darurat. Tidak asal comot seperti sekarang.

03 February 2012

Lewouran masuk televisi


Dr Markus Solo SVD, putra asli Lewouran di Vatikan City.

Mungkin baru kali ini Lewouran masuk televisi nasional. Maka orang2
kampung begitu bersukacita, ramai2 menari hedung, bikin upacara adat
untuk menyambut kru METRO TV.

Putri Ayuningtyas, presenter Metro, disambut dengan adat Lamaholot
layaknya menyambut tamu istimewa. Orang Lewouran di Vatikan pun begitu
gembira. Dan mengirim email agar kenalannya ikut menonton tayangan di
Metro itu.

Reportase Putri singkat saja, tak sampai 5 menit. Putri kaget karena
Lewouran di Flores Timur, NTT, belum dialiri listrik PLN. Kampung yang
gelap dan serderhana dengan orang2 kampung yang bersahaja.

Ada apa kok Metro mengirim kru dari Jakarta ke Lewouran? Putri yang
tiap hari muncu di Wide Shot itu harus dikirim ke Flores? Ehm.. sejak
awal saya curiga ada peran Pater Markus Solo Kewuta SVD. Salah satu
penasihat Paus Benediktus XVI ini memang lahir di Lewouran. Maka saya
pun kirim email ke sang pastor hebat itu.

Benar saja. Kedatangan tim Metro itu memang untuk membuat liputan
khusus tentang Dr Markus Solo. Bagaimana mungkin orang pelosok NTT
menjadi orang Indonesia pertama yang masuk lingkaran dalam Vatikan.
Benar2 langka!

"Desember lalu orang Metro TV bertemu saya di Vatikan. Lalu rupanya
mereka tertarik untuk membuat liputan tentang saya," tulis Pater
Markus. Kru Metro pun melacak kampung Lewouran, Seminari Hokeng,
hingga kondisi alam dan masyarakat Flores Timur.

Syukurlah, ada Pater Markus Solo yang melejit ke beberapa kota di
Eropa, kemudian ditarik ke Vatikan. Kalau tidak kampung Lewouran
mungkin tidak pernah masuk televisi.

Mengutip kata2 Pater Markus, kedatangan kru Metro TV di kampungnya
adalah peristiwa luar biasa. Karena itu, Putri Ayuningtyas dkk pun
disambut secara istimewa dengan prosesi adat lengkap dengan tarian
hedung.

Semoga dengan reportase itu orang Indonesia semakin mengenal Flores.
Pulau kecil, terbelakang, listrik masih sedikit... tapi telah banyak
menghasilkan pastor2 untuk Indonesia dan dunia. Termasuk Pater Markus
Solo SVD.

Pater Markus, terima kasih, mo soga naran lewotana!

02 February 2012

Orkes Keroncong Delta Irama



Musik keroncong kian tergusur dari belantika musik tanah air. Kita makin sulit menemukan orkes keroncong yang eksis di Kabupaten Sidoarjo. Apalagi orkes keroncong yang diperkuat musisi muda.

Syukurlah, di Sidoarjo masih ada Orkes Keroncong Delta Irama yang berusaha melestarikan keroncong agar tidak sampai punas. Selama satu dasawarsa terakhir mereka aktif berlatih di kawasan Mayjen Sungkono Sidoarjo.

Menurut Teguh Wibowo, pemain cello yang juga koordinator, cikal-bakal orkes keroncong ini sebetulnya sudah ada puluhan tahun lalu. Waktu itu namanya OK Delta. Namun, karena sepi tanggapan dan kesibukan masing-masing anggota, orkes ini pun vakum. Baru pada 1999 Teguh menghidupkan lagi orkes ini dengan nama OK Delta Irama. "Beberapa pemain lama juga meninggal karena memang sudah sepuh," kata Teguh.

Saat vakum itulah Teguh dan beberapa penggemar keroncong berusaha melestarikan musik lawas ini dengan bermain bersama. Semacam jam session. Lama-kelamaan semua personel terisi layaknya sebuah orkes keroncong.

Selain Teguh yang main celloa, ada Heru (biola), Lanu (bas), Yudi (ukulele), Joko (saksofon), Agus (gitar). Vokalisnya cukup banyak karena banyak orang yang ingin menyanyi diiringi orkes keroncong. Mereka adalah Sri Retno, Endang, Utami, Hartini, dan Suroso.

Saat ini setiap Jumat malam para pemain OK Delta Irama berkumpul untuk latihan bersama. Bukan karena ada job atau tanggapan, tapi lebih karena hobi. "Yah, untuk silaturahmi sekaligus hiburan," kata Teguh.

Dia mengakui musik keroncong makin kehilangan peminat dalam 20 tahun terakhir. Orkes-orkes yang pernah ada di Sidoarjo bubar satu per satu. Kalaupun ada satu dua grup yang mencoba bertahan, tidak pernah ditanggap untuk mengisi hajatan-hajatan seperti perkawinan.

"Kita masih kumpul dan berlatih karena memang hobi saja. Tapi kalau ada orang yang mau nanggap ya silakan," kata pria 36 tahun ini.

Tak mudah mempertahankan keroncong di tengah masyarakat Sidoarjo yang gila dangdut dan pop. Namun, Teguh dkk tak putus asa. Mereka tetap berlati dan bermusik dengan gembira.

Bakar lilin di Lembata


Salah satu komoditas yang laris manis di Lembata, dan NTT umumnya, adalah lilin. Yah, lilin putih yang biasa dijual di toko2 itu. Lilin ini tidak dipakai untuk penerangan, karena listrik padam, tapi untuk nyekar dan berdoa.

Mayoritas orang Lembata beragama Katolik. Sama dengan Flores, Adonara, Solor. Orang Katolik di NTT senantiasa menggunakan lilin untuk sembahyang pribadi, doa bersama, hingga misa di gereja.

Orang Katolik di Jawa pun pakai lilin, tapi tidak sehebat di NTT. Orang Jawa atau Tionghoa yang Katolik di Jakarta atau Surabaya biasa berdoa tanpa lilin. Beda dengan orang NTT yang merasa kurang afdal kalau berdoa tanpa lilin. Seakan-akan ada sesuatu yang hilang atau kurang.

Kalau diJawa orang nyekar ke kuburan pakai kembang atau bunga, di Lembata atau Flores pakai lilin. Tidak perlu bunga. Kita cukup membawa lilin untuk dipasang di atas makam. Jumlahnya terserah kita sajalah.

Tradisi nyekar macam ini disebut TUTUNG LILIN alias bakar lilin. Tutung = bakar dalam bahasa Lamaholot. Dan bakar lilin ini akan sangat ramai pada 24 Desember, jelang misa malam Natal. Juga tanggal 2 November.

Bakar lilin sekaligus membersihkan makam keluarga atau sanak famili. Dengan bakar lilin serta berdoa singkat di makam, kita dianggap tidak lupa akan jasa2 mereka yang sudah meninggal.

Bakar lilin juga biasa dipakai untuk kulonuwun atau lapor diri. Orang yang lama merantau, ketika pulang kampung, dianjurkan bakar lilin di makam keluarga dekat, khususnya orangtua yang sudah meninggal. Berdoa dan AMET MARING, seakan-akan kita sedang bicara dengan orang yang sudah meninggal itu.

Maka, ketika mudik ke kampung halaman, orang selalu bertanya, "Kamu sudah bakar lilin ke makam mama belum?"

Maklum, ibu saya sudah meninggal dunia pada 1998. Biasanya saya cepat2 mampir ke kuburan untuk bakar lilin karena memang begitulah tradisi yang hidup di Lembata maupun Flores.

Dan, yang menarik, orang2 Lembata yang Katolik ini juga bakar lilin di makam famili yang beragama Islam. Dan berdoa secara Katolik tentu saja. RIP!

01 February 2012

Dokter terlalu muda di NTT


Misalkan anda berkenalan dengan seorang dokter di Lembata, NTT. Tahun depan atau tiga tahun lagi si dokter itu sudah kembali ke kota2 besar di Jawa. Lalu diganti dokter2 fresh from the oven dari Jawa. Tradisi lama sejak kita mengenal puskesmas itu masih berlangsung sampai sekarang.

NTT dan daerah2 tertinggal memang jadi ajang dokter2 muda untuk cari pengalaman. Itu pun karena dipaksa oleh peraturan pemerintah. Karena itu, dokter2 di NTT kebanyakan masih berusia 20-an tahun. Muda2 dan cantik2. Jarang kita menemukan dokter2 senior yang sengaja memilih NTT sebagai ladang pengabdiannya.

"Kondisi pelayanan medik di luar Jawa memang memprihatinkan," kata seorang dokter senior di Surabaya. Dan itu tidak lepas dari kualitas peralatan, rumah sakit, dan dokter.

Di mana2 masyarakat lebih suka dilayani dokter senior. Karena itu, tempat praktek dokter2 senior di Surabaya selalu penuh. Beda dengan dokter2 muda yang perlu jam terbang lebih banyak lagi.

Menurut pak dokter senior itu, NTT dan wilayah luar Jawa bukan pasar yang empuk untuk profesi dokter. Uang masuk sedikit. Apalagi banyak warga yang tak mampu membayar dokter atau rumah sakit.

Maka, setelah kerja bakti di NTT, dokter2 itu balik ke kota. Buka praktek. Kerja di beberapa rumah sakit. Uang masuk tentu lancar jaya. Bisa cepat makmur.

Koran hari ini memberitakan biaya masuk fakultas kedokteran universitas negeri sekitar 175 juta. Itu hanya semacam tiket. Belum SPP, uang lab dan sebagainya. Sudah jelas ratusan juta bahkan miliaran.

Kalau uang keluar untuk biaya kuliah begitu banyak, sudah pasti harus ada uang masuk yang banyak juga. Agar impas. Maka, jangan heran biaya kesehatan di Indonesia menjadi sangat mahal. Dan jangan heran jarang ada dokter2 senior yang bekerja total di NTT.

Hari gini bicara pengabdian? Mimpi kali!

Rod Stewart dan penyanyi kita



ROD STEWART, 67 tahun, baru manggung di Jakarta. Tiketnya mahal tapi laku. Paling murah 1,5 juta dan paling mahal 15 juta. Wow, orang Jakarta hebat, punya daya beli luar biasa!

Rod Stewart dan artis2 lawas Barat memang sangat beruntung ketimbang artis2 kita. Di usia mendekati 70, bahkan 80 tahun, masih bisa konser tur keliling dunia. Dibayar mahal, tak kalah dengan artis2 muda.

Rod dan artis2 Barat sepertinya bisa bermusik sepanjang hayat. Uang terus mengalir. Masih dielu-elukan meskipun cucu2nya sudah dewasa. Inilah untungnya artis yang hidup dalam sistem industri musik yang sehat. Bahkan, setelah meninggal pun royalti masih mengalir ke rekening si ahli waris.

Kontras nian dengan artis Indonesia. Terlalu payah. Karir artis2 kita tak pernah panjang. Usia masuk 30, apalagi 40... habislah dia. Sulit bikin album, apalagi tur keliling Jawa misalnya. Pendapatan langsung seret. Nganggur.

Ucok AKA Harahap (alm), rocker top seangkatan Rod Stewart. Setelah surut dari industri musik, dia mengembara ke mana2. Tak ada tanda2 kalau dia ini pernah sangat berjaya di blantika musik rock.

Ucok hanya bisa mengisi kafe2 dengan honor yang sangat murah. Beli laptop pun tak bisa. Maka, Ucok sering bikin press release dengan... tulisan tangan.

Karena bandnya bubar, jarang konser, Ucok malah menekuni dunia spiritual: semadi dan ritual2 ala dukun. Dia pernah ke Porong untuk menutup semburan lumpur dengan cara gaib. Namun, proposalnya ditolak pemerintah kabupaten Sidoarjo.

Ucok hanyalah satu contoh betapa begitu banyak mantan bintang musik atau film kita yang mengalami anomali setelah bintangnya redup. Begitu banyak eks artis yang terlunta2 ketika sakit. Jangankan bayar rumah sakit, mmbeli kebutuhan sehari2 saja susah bukan main.

Belum lama ini Mbak Indah Kurnia bikin acara reuni artis2 lawas di Grand City Surabaya. Begitu banyak yang hadir, mulai penyanyi dangdut, pop, jazz, hingga campursari. Sisa2 kebintangan tak lagi terlihat di wajah mereka. Banyak yang sakit berat.