23 January 2012

Sincia di Kelenteng Cokro


Hujan rintik-rintik mewarnai malam tahun baru Imlek di Kelenteng Hong San Ko Tee Surabaya. Selepas magrib, jemaat mulai berdatangan ke kelenteng di Cokroaminoto 12 itu.

Ada yang sembahyang kemudian pulang karena ingin melewatkan malam sincia di rumah atau restoran. Ada pula yang sibuk mengurus persiapan ramah-tamah selepas sembahyang bersama.

Sesuai tradisi, kelenteng in menggelar doa bersama melepas tahun lama dan menyambut tahun baru pada pukul 00:00. Karena itu, kelenteng baru ramai setelah pukul 22:00.

Tak hanya jemaat atau orang Tionghoa, warga sekitar pun datang karena akan ada atraksi barongsai. Maklum, dragon dance TITD Hong San Ko Tee diperkuat oleh anak-anak muda di kawasan Cokroaminoto dan pandegiling.

Pukul 23:00 kelenteng mulai penuh. Asap hio pun menyebar ke mana-mana. Aroma wewangian khas Tionghoa itu pun tercium ke jalan raya. Juliani Pudjiastuti, pimpinan kelenteng, meminta para petugas upacara untuk bersiap.

Mendekati pergantian tahun, jemaat rame-rame mengambil posisi berdiri di depan atar utama. Memegang hio di tangan. Lalu lonceng dan tambur tanda doa bersama ditabuh. Sang rohaniwan membacakan doa dalam bahasa campuran Indonesia dan Hokkian. Intinya meminta berkat, rezeki dan perlindungan di tahun baru yang tinggal beberapa menit lagi.

Doa bersama pun usai. Jemaat saling bersalaman dan mengucapkan gong xi, selamat. Acara dilanjutkan dengan ramah-tamah dan melekan bersama. Baku cerita ngalor ngidul.

"Malam ini malamnya rezeki makanya jangan tidur. Kalau ada kotoran di lantai jangan disapu dulu karena sama saja dengan buang-buang rezeki," kata Budi, jemaat yang juga aktivis kelenteng.

Sementara itu, pasukan barongsai mulai beraksi menghibur umat serta warga sekitar. Kesempatan untuk panen angpao karena di malam sincia biasanya orang-orang lebih murah hati.

GONGXI FACAI!

No comments:

Post a Comment