06 January 2012

Sepeda Hilang di Lembata


Ada yang janggal di Pulau Lembata, NTT. Ketika di kota-kota besar sedang demam sepeda, orang lembata, khususnya Ileape, justru menghilangkan budaya bersepeda.

Saat melintas dari jalan raya Lewoleba ke Bungamuda pekan lalu, saya sama sekali melihat orang naik sepeda. yang ada hanya ojek motor atau satu dua mobil. Atau beberapa orang jalan kaki sambil menjunjung barang di kepala.

Ke mana sepeda-sepeda yang sangat marak sebelum 1990-an itu?

Tidak jelas. Dua sepeda ontel di rumah saya pun entah ke mana. Orang-orang lama yang dulu merintis gerakan bersepeda, termasuk bapak saya, sudah lama gantung sepeda.

Kayaknya hanya Ama Gaba Gilo dan Ama Daniel Benikakan yang masih setia bersepeda. Maka, jalanan pun bersih dari sepeda angin.

Hilangnya sepeda di Lembata jelas ironi besar. Sebab, saat ini jalan-jalan sudah mulus dan rata ketimbang tahun 1980-an yang tidak karuan. Ketika masih SD di Mawa, saya selalu ke mana-mana pakai sepeda. Bahkan ngontel jauh ke Lewoleba sejauh 50 km pergi pulang.

Ironi lain: harga bensin di Lembata saat ini sangat mahal. Sekitar Rp 10.000, Padahal harga asli hanya Rp 4.500. Tarif ojek pun jadi sangat mahal.

Mengapa tidak naik sepeda saja untuk jarak 5 atau 8 km?

Mungkin Bupati Yance Sunur dan Wakil Bupati Viktor Mado Watun mulai menggalakkan kembali gerakan bersepeda sehat di seluruh Lembata.

No comments:

Post a Comment