20 January 2012

Sanggar Agung jelang Imlek


Para dewa sudah pergi ke kahyangan. Kelenteng dianggap kosong. Yang ada cuma rupang-rupang biasa tanpa sukma.

Maka, inilah kesempatan terbaik untuk membersihkan seluruh areal kelenteng. Patung dewa-dewi dicuci bersih, aksesoris, tempat hio, hingga aksesoris di halaman.

Itulah yang terlihat di Sanggar Agung, kelenteng terkenal di Kenjeran Park Surabaya. Acara bersih-bersih ini dilakukan sejak 17 Januari 2012. Tepatnya setelah sembahyang bersama melepas kepergian para dewa ke kahyangan.

"Setelah itu umat dan pekerja melakukan kerja bakti bersih-bersih kelenteng," kata Yuni, bio kong alias pengurus harian Sanggar Agung.

Sebagai kelenteng besar, acara tahunan ini tak hanya dilakukan umat. Sekitar 20 orang, sebagian besar wanita, dikerahkan untuk membersihkan seluruh bagian kelenteng. Altar-altar mulai di bagian depan, samping, belakang dibersihkan.

Lotus raksasa dibagian depan juga dikeroyok ramai-ramai. Kelihatan sederhana, tapi cukup rumit mengingat banyaknya rupang berukuran kecil.

Pembersihan ini penting agar umat Tridharma bisa mengikuti ritual Sincia alias tahun baru dalam suasana yang serbabaru dan bersih.

Sanggar Agung memang selalu menjadi jujukan utama warga Tionghoa untuk sembahyangan. Lokasinya strategis di pantai wisata dengan patung Dewi Kwan Im ukuran raksasa. Kemudian patung Buddha Empat Muka simbol sang Brahmana.

Yang tak kalah penting, areal parkirnya sangat luas. Bisa menampung berapa pun mobil yang datang. Beda dengan kelenteng-kelenteng lain yang tak punya areal parkir.

"Persiapan kami di sini, ya, tidak banyak karena Sincia itu kan sudah rutin. Biasa-biasa sajalah," kata Yuni yang asli Jawa ini.

No comments:

Post a Comment