03 January 2012

PULANG KAMPUNG NATALAN


Sabtu siang, 24 Desember 2011, saya duduk di pantai Lamawara, Pulau Lembata. Kampung halaman saya nun di pelosok NTT. Hanya beberapa jam sebelum misa malam Natal di kampung halaman bersama ayah, saudara, kerabat, dan orang-orang yang punya hubungan darah dengan saya.

Pengalaman berkesan karena selama bertahun-tahun saya bermalam Natal di Jawa atau Bali. Suasana di kampung sunyi, tapi asyik. Ada juga motor dan mobil yang lewat, tapi tidak banyak. Orang-orang saling menyapa dan berbasa-basi. Semua orang seperti saling kenal.

Tapi suasana Natal di kampung sudah beda dengan sebelum tahun 1990-an. Dulu semua orang dari 15 desa di Kecamatan Ileape berkumpul di satu desa. Misa malam Natal ramai-ramai. Kita harus jalan kaki ke kampung lain yang jadi tuan rumah. Lalu menginap semalam. Makan minum layaknya keluarga sendiri.

Sekarang Ileape sudah dipecah jadi dua paroki dan dua kecamatan. Pastornya makin banyak. Jadi, 15 desa tidak perlu lagi kumpul sama-sama untuk natalan. Kurang efisien. Maklum, kampung-kampung yang dulu polos makin mengkota.

Dua tiga desa kumpul untuk natalan, tapi tidak perlu satu kecamatan. Atawatung dan Mawa natalan di Gereja Mawa. Bungamuda, Lamawara, Lewotolok, Waowala, Tanjungbatu natalan di Gereja Waowala.

"Saya baru pulang kerja bakti di Gereja Waowala," kata bapak saya yang terkejut melihat saya berada di rumah.

Saya memang sama sekali tidak menyampaikan kabar kalau akan ke kampung. Saya ingin bikin kejutan, tahu-tahu berada di kampung halaman. Juga tak ingin merepotkan mereka yang pasti akan ram-rame datang menjemput saya di Bandara Wunopito.

Namanya juga kampung sederhana, tak ada pesta atau kemeriahan menyambut hari kelahiran Sang Kristus. Semua orang biasa-biasa saja. Anak-anak main di pantai. Ibu-ibu ke sumur menimba air. Tukang ojek cari penumpang. Yang nganggur luntang-lantung di pinggir jalan.

Yang penting, damai Natal tetap terasa di hati.
______________________________

No comments:

Post a Comment