04 January 2012

Prof Hardi Prasetyo Pemikir BPLS


Oleh LAMBERTUS HUREK

Sejak Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) dibentuk pada pertengahan 2007, Prof Dr Ir Hardi Prasetyo selalu berada di kawasan semburan lumpur di Porong, Sidoarjo. Bersama para petugas BPLS, profesor lulusan Amerika Serikat ini sibuk mencatat dan menganalisis berbagai perkembangan yang terkait dengan semburan Lumpur.

Kini, wakil ketua badan pelaksana BPLS ini punya tugas tambahan baru di Pulau Sarinah, pulau buatan hasil reklamasi yang dilakukan BPLS. Wartawan Radar Surabaya sempat menemui Prof Hardi Prasetyo di Pulau Sarinah, pekan lalu. Berikut petikan wawancara khusus dengan mantan dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Pajajaran Bandung ini.

Mengapa pulau buatan BPLS ini dinamakan Pulau Sarinah?

Oh, BPLS tidak pernah memberikan nama. Yang memberi nama itu kan masyarakat setempat, kemudian dipubliksan di media massa.

Apa sebetulnya konsep pembuatan pulau ini?

Yang jelas, ini tidak lepas dari tugas BPLS untuk menanggulangi lumpur Sidoarjo. Sejak 8 April 2007 BPLS resmi menggantikan Lapindo Brantas Inc. Sebagian air lumpur itu kami alirkan melalui Sungai Porong untuk selanjutnya ke laut. Nah, itu semua harus dipantau dan dikendalikan. Salah satu caranya adalah membuat sebuah pulau seperti ini. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sendiri meminta agar sebisa mungkin (Lumpur) ini bisa dimanfaatkan.

Pengerukan dan pengurukan apa masih dilakukan?

Sekarang sudah selesai. Dulu ada empat kapal (yang mengeruk dan kemudian menguruk hasil kerukunan untuk dijadikan pulau). Maka, sekarang kami tinggal mengembangkan lahan yang sudah ada ini.

Berapa luas Pulau Sarinah ini?

Sekitar 80 hektare. Kalau jalan kaki dari ujung ke ujung cukup lama juga. Tapi saya suka jalan keliling untuk melihat kondisi di sini.

Konsep pengembangan pulau ini seperti apa?

Konsepnya wanamina, hutan yang dikombinasikan dengan perikanan. Penanaman bakau (mangrove) sudah dilakukan, begitu pula dengan perikananya. Tapi bakau-bakaunya belum besar. Dalam beberapa tahun ke depan, setelah bakau-bakaunya besar, wanamina ini sudah bisa teralisasi dalam satu sistem. Kami bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Di sini ikannya bandeng. Yang paling penting itu bagaimana kita melancarkan jalan sungai dan membantu komunitas nelayan di sekitar sini. Pulau ini jadi semacam tempat perlindungan.

Tapi selama ini orang berdatangan ke sini karena menganggap Pulau Sarinah sebagai tempat wisata?

Yah, itu alamiah saja. Silakan kalau warga mau datang ke sini. Sebagai lembagai pemerintah, kami dari BPLS siap menerima. Ingat, BPLS ini bukan bagian dari Lapindo, melainkan pemerintah. Anggarannya dari APBN, uang rakyat. Saya perlu menegaskan hal ini karena ada pendapat yang salah seolah-olah BPLS itu identik dengan Lapindo. Kami ini bagian dari pemerintah.

Apakah BPLS menempatkan petugasnya secara rutin di sini?

Kami punya pos pantau yang melakukan pemantauan setiap hari. Divisi operasi ada sembilan orang yang melakukan pemantauan, pencatatan, kemudian membuat laporan. Jadi, semua perkembangan yang menyangkut lumpur Sidoarjo selalu kami ikuti.

Sebagai staf ahli menteri yang biasa bekerja di Jakarta, apa Anda tidak merasa kesepian bertugas di tempat terpencil seperti sekarang?

Hehehe... tidak. Ini sudah menjadi bagian dari tugas dan panggilan hidup saya. lagi pula, di sini saya banyak didatangi ahli-ahli dari luar negeri seperti dari Arizona, Amerika Serikat.

Kalau akses jalan ke Tlocor, yang mulus, dermaga nelayan, kemudian monumen itu dibuat BPLS juga?

Ya. Dan itu merupakan bagian dari upaya BPLS dalam mengendalikan dan memantau aliran lumpur. Jalan raya itu suatu saat nanti akan diserahkan kepada pemerintah daerah. Begitu juga dermaga untuk pengembangan ekonomi masyarakat nelayan. Monumen itu memang sebagai simbol untuk mencintai dan melestarikan lingkungan hidup.

Bagaimana dengan sebagian pendapat bahwa lumpur itu bisa membuat ikan-ikan mati?

Itu sama sekali tidak benar. Buktinya, ikan-ikan yang kami budidayakan di sini sehat-sehat dan besar-besar. karena itu, sistem wanamina yang dikembangkan di pulau ini sekaligus menjadi bukti untuk membantah pendapat-pendapat negatif seperti itu. (rek)


Tentang Prof Hardi

Nama : Prof Dr Ir Hardi Prasetyo
Lahir/Usia : Jogjakarta, 66 tahun
Jabatan : Wakil Kepala Badan Pelaksana BPLS
Hobi : Bersepeda, jalan
Alamat : Gayung Kebonsari 50 Surabaya 60235
Telepon : 031 8285746

Pendidikan terakhir : University of California Los Angeles (UCLA), USA
Kompetensi : Research Professor in Earch Sciences

Karir :
Dosen ITB, Unpad, dan seju
mlah perguruan tinggi
Staf Ahli Menteri ESDM





Belajar Pancasila di Amerika

PROF Dr Ir Hari Prasetyo sangat terkesan ketika mengambil program doktor di UCLA (University of California Los Angeles), Amerika Serikat. Begitu banyak hal yang sebetulnya sederhana, tapi sangat fundamental yang bisa dia pelajari dari negara Abang Sam itu.

Misalnya soal kejujuran. Sejak kecil anak-anak dilatih untuk jujur kepada diri sendiri, orangtua, guru, dan siapa saja. Karena itu, tidak ada pelajar atau mahasiswa yang mencontek atau mencontoh pekerjaan temannya.

"Kita di Indonesia kan sudah biasa nyontek. Nah, di Amerika tidak ada satu mahasiswa pun yang melakukan itu," kenangnya seraya tertawa kecil.

Karena itu, saat ujian tiba, tidak perlu ada pengawasan yang ketat. Guru atau dosen hanya bertugas membagikan soal untuk digarap peserta ujian. Si pengawas itu pun dengan enteng meninggalkan kelas atau membaca buku. Semua siswa sibuk mengerjakan soalnya.

Kejujuran ini akhirnya menjadi budaya masyarakat di hampir semua bidang. Tak ada skripsi atau disertasi jiplakan. Bahkan, software bajakan tidak laku karena semua orang hanya membeli perangkat lunak yang legal.

"Tidak ada anak-anak muda di sana yang meng-copy software. Mereka sangat menghargai hak cipta dan kejujuran," tegasnya.

Ada lagi yang dikagumi Hardi dari Amerika di bidang keadilan sosial.
Ketika kuliah di UCLA, Hardi memboyong dua anaknya ke sana. Mereka tentu saja harus bersekolah. Hardi sempat bingung karena duitnya pas-pasan. Betapa kagetnya dia karena ternyata negara sudah punya sistem untuk meng-cover biaya pendidikan rakyatnya. Kedua anak Hardi pun bisa menempuh pendidikan di sekolah bermutu. Gratis pula.

"Makanya, saya sering bilang bahwa saya justru belajar pancasila di amerika serikat. Nilai-nilai Pancasila itu sebenarnya sudah dilaksanakan di sana," katanya.

Pelajaran lain yang penting, menurut dia, anak-anak Amerika sejak kecil sudah dibiasakan untuk membuat diari atau catatan. kegiatan harian dicatat. Termasuk mencatat uang yang dipakai belanja. "Membeli apa saja, meskipun nilainya kecil, selalu dicatat anak-anak," tutur Hardi.

Nah, kebiasaan ini akhirnya terbawa ketika mereka dewasa. orang-orang amerika pun menjadi sangat lancar menulis atau membuat laporan. Pakar-pakar USA yang datang meninjau semburan lumpur di sidoarjo, misalnya, menurut Hardi, secara otomatis membuat laporan dari waktu ke waktu. Kebiasaan ini yang kurang tampak dalam diri orang Indonesia.

Karena itu, Hardi selalu berpesan kepada para pelajar untuk selalu membiasakan diri melakukan field trip atau studi lapangan. (rek)



1 comment:

  1. Orang Jawa di Kalipornia1:32 AM, January 15, 2012

    Memang travel atau tinggal di negeri orang apalagi yang sudah maju akan membuka mata dan hati kita. Sayangnya banyak orang Indonesia yang lebih mengagungkan cara berpikir negara2 Arab yang terbelakang dibandingkan negara2 barat yang menganjurkan pencerahan berpikir.

    ReplyDelete