17 January 2012

Penyulingan mangkrak di Bungamuda


Proyek instalasi penyulingan air laut di Bungamuda, Ileape, Lembata, NTT, ini maksudnya baik. Menyediakan air tawar untuk konsumsi masyarakat. Maklum, desa di bukit itu tidak punya satu pun sumur.

Warga terpaksa jalan cukup jauh, 1-2 km, untuk menimba sumur di Lamawara. Setiap hari, turun-temurun. Maka, Bupati Andreas Manuk yang juga orang Bungamuda membuat proyek desalinasi alias penyulingan itu.

Sayang, rupanya proyek bernilai 10 miliar ini tidak didukung studi kelayakan yang memadai. Juga tidak mempertimbangkan kesinambungannya. Juga tidak memperhitungka reaksi masyarakat alias konsumen air suling itu.

Maka, instalasi di dekat laut itu pun mangkrak. Saat Pak Ande Manuk masih menjabat bupati pun proyek itu tidak jalan. Airnya tidak dikonsumsi warga. Apalagi kini setelah Pak Ande lengser pada Agustus 2011.

Saat berlibur di kampung pada akhir Desember 2011, saya lihat instalasi itu mangkrak. Tak ada aktivitas. Saya juga perhatikan bak penampungan di Ebaken. Tidak berfungsi.

Mau diapakan proyek Pemkab Lembata itu? Tidak jelas. Warga Kecamatan Ileape biasanya ketawa-ketawa kalau ditanya proyek itu. Sebab, sejak awal merek memang tidak menghendakinya.

Yang diinginkan rakyat sederhana saja: Air leding yang ditarik dari sumber air di Kalikasa, Lewoleba, atau kawasan Lembata tengah yang memang berlimpah air. Pipa-pipa bahkan sudah dipasang di desa-desa.

Tapi, karena tak ada air mengalir, pipa-pipa itu banyak yang rusak... dan hilang. Sejak Lembata masih gabung dengan Flores Timur, sudah ada ide dan janji mengalirkan air leding ke Ileape. Tapi kenyataannya?

Saat ini masyarakat Bungamuda, dan Ileape dan Ileape Timur umumnya, kembali berharap pada bupati baru: Yance Sunur. Mungkinkah dalam lima tahun ini air leding bisa masuk Ileape?

Biarkan saja proyek penyulingan di Bungamuda itu mangkrak. Toh, selama ini air sulingnya tidak pernah dipakai.

No comments:

Post a Comment