25 January 2012

Pelacuran merusak Lembata



Lembata mulai memisahkan diri dari Kabupaten Flores Timur pada tahun 2000. Tak banyak kemajuan di pulau yang dulu disebut Lomblen itu. Jalan raya dibiarkan rusak. Infrastruktur lain pun begitu2 saja.

Yang maju justru ini: Pelacuran!

Dulu orang Lembata tak pernah membayangkan ada nona-nona yang cari nafkah dengan menjual diri. Sebab, di NTT hanya ada satu lokalisasi prostitusi setengah resmi di Kupang. Yakni di dekat Pelabuhan Tenau.

Tapi laporan wartawan Kompas Kornelis Kewa Ama bikin kita geleng2 kepala. Prostitusi justru terjadi terang2an di Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata. Ironisnya, menurut tulisan Kornelis, konsumennya juga kalangan politisi, pejabat, dan pengusaha.

Bisnis kafe, karaoke, panti pijat marak di kabupaten baru ini. Tak hanya jualan minuman keras, juga memajang nona-nona dari Surabaya dan Makassar. Usia wanita penghibur ini 15-45 tahun. Yang muda mejeng di karaoke atau kafe, yang tua2 melayani tamu di gubuk2 sederhana.

Memprihatinkan! Masyarakat Pada tak bisa berbuat banyak karena bisnis kotor itu diduga kuat melibatkan orang2 kuat. Ada beking di belakangnya. Apalagi omzet esek2 itu memang menggiurkan.

Menurut Kompas, konsumen para PSK liar itu kebanyakan anak2 muda di Lewoleba, juga dari 9 kecamatan. Mereka sudah tahu kompleks tak resmi yang sudah terkenal itu. Bahkan, ada orang Adonara dan Solor pun memaksa diri ke Lewoleba untuk mencicipi surga dunia itu.

Sudah sering tokoh masyarakat protes. Pastor2 marah. Ulama meradang. Tokoh2 Lembata di Kupang pun sudah beberapa kali mendesak pemkab untuk membersihkan pulau miskin itu dari prostitusi. Tapi hasilnya nol besar. Setiap hari bisnis esek2 it jalan terus.

Sebetulnya pemkab punya momentum bagus untuk bertindak. Mumpung bupati dan wakil bupati masih baru menjabat. Senyampang bisnis seks ini masih berskala kecil.

Kalau dibiarkan terus-menerus justru akan menjadi bom waktu di masa mendatang. Bupati Sunur sebagai orang nomor satu di Lembata dituntut lebih tegas! Begitu juga Wabup Watun. Jangan terlalu sering ke Kupang, Bung!

9 comments:

  1. sangat disayangkan.. kabupaten baru yang hendaknya bisa menjadikan diri sebagai kab yang bisa berkembang ke arah yang lbh baik, tetapi malah terperosok ke tujuan yang sbnrnya sangat tidak penting dalam kemajuan daerah.... titip slam bwt org2 besarnya;)

    ReplyDelete
  2. hmm... bupati nya baru apa bukan malah minta sumbangan baru ya? semoga tidak... :)

    ReplyDelete
  3. kasihan,,, prostitusi yang ada di kabupaten lembata bukan hal yang baru bagi kita, itu sedah menjadi tatapan yang biasa bagi masyarakat setempat,,, aku dan masyarakat heran kenapa sampai hari ini tidak ditutup atau di tiadakan???
    wahai para pejabat,,, bukalah mata kalian dan tatap baik-baik keadaan ini jagan selalu berpolitik untuk kepentingan pribadi karena prostitusi yang ada di depan kalian adalah suatu masalh bagi generasi lembata berikutnya,,,,,
    atau mungkin kalian (pejabat kotor) yang ada di belakang prostitusi????

    ReplyDelete
  4. betul sekali. pemkab, satpol, pp harus bertindak tegas menutup tempat2 pelacuran itu. akan semakin parah kalau rakyat melakukan tindakan sendiri.

    ReplyDelete
  5. ini merupakan salah satu obyek wisata kawan2 yg memiliki magnit sangat kuat, dan dg adanya bisnis ini niscaya lembata akan cepat maju, utk antisipasi perlu perkuat iman dan mental sj agar tidak terpengaruh dg yg lainnya dan jg ini bs meningkatkan perekonomian masyarakat disana. Bagi sdh sadar itu tdk baik/dosa jgnlah kesana, klu sdh tdk ada pengunjung akan sepi dan bahkan akan tutup dg sendirinya, okey kawan2....:)

    ReplyDelete
  6. itu sbg gaya tarik/magnit yg kuat utk lbh memajukan Lembata dan meningkatkan pendapatan daerah dan perekonomian warga disana

    ReplyDelete
  7. Jangan bodoh....malah jadi pelanggan setia kepada aids....bisnis ini kalau setiap hari tidak ada pelanggan pasti gulung tikarnya dan lari jauh2 dari lembata..sekali lagi lembata sudah bodoh banget dalam perkara yang satu ini.

    ReplyDelete
  8. Pelacuran menjadi daya tarik para lelaki idung belang di lembata. hal ini menghindari pemerkosaan. asal jangan orang lembata yang tingal di lokasi pelacuran. biasanya orang lembata yang menjadi germo. di kedang sempat di buka lokalisasi pelacuran, namu lewo tanah dan leluhur tidak setuju maka tidak terjadi.

    aku lihat sendiri di pada tempat lokalisasinya di rumah warga. gimana perasaan mereka dengan anak2 dibawa umur.

    kasihat rakyat lembata dengan generasi mudanya.

    ReplyDelete
  9. Jangan melacurkan diri dengan setumpuk barang busuk itu....

    ReplyDelete