03 January 2012

Panggilan Kekerabatan Keluarga Tionghoa



Oleh WENS GERDYMAN
Arek Tionghoa Surabaya, tinggal di Amerika serikat

Seperti orang Asia pada umumnya, orang keturunan China atau orang Tionghoa di Indonesia punya kebiasaan berbeda-beda untuk memanggil kerabat mereka, tergantung mereka mengikuti tradisi barat, Indonesia, atau masih berorientasi tanah leluhur.

Yang Hollands-spreken atau kakek neneknya berpendidikan Belanda, sudah mengikuti tradisi barat. Semua paman dipanggil Oom. Semua bibi dipanggil Tante. Semua kakek dipanggil Opa dan semua nenek dipanggil Oma. Kakak dipanggil nama, tidak lagi memakai sebutan mas atau mbak.

Gampang dan praktis, seperti tradisi Barat pada umumnya. Yang lucu, anak-anak dipanggil dengan akhiran –tje atau –sje, akhiran yang merupakan term of endearment atau sebutan kasih sayang untuk si kecil. Misalnya nama anak Gwan, jadi Gwantje, Min jadi Mintje. Han jadi Hansje. Namanya Hokkian, tapi akhiran Belanda.

Terkadang, sampai sudah usia gocap (50) lebih pun masih dipanggil menurut nama kecilnya, hehehe.

Yang peranakan, terutama di Jawa, maunya mempertahankan tradisi Tionghoa, tapi bunyi dan struktur panggilannya sudah terkena pengaruh dan tradisi Indonesia. Misalnya panggilan untuk kakek. Dalam bahasa Hokkian (kebanyakan orang Tionghoa di Indonesia berasal dari Hokkian selatan), kakek itu “kong”.

Di Jawa, semua kata diberi suara awal m, n, atau ng, agar enak menyebutnya: mBak, mBadhok, ngGanteng, nDablek, dll. Juga kata yang akhirannya berupa bunyi vokal, agar lebih enak bunyinya diberi akhiran “k”: “buka” jadi “bukak”, dll. Akibatnya, Kong jadi Engkong. Koh (kakak lelaki) jadi Engkoh, Ci (kakak perempuan) jadi Cik.

Cek (adik lelaki papa) jadi Encek. Pa’ (kakak lelaki papa) jadi Empek. So (saudara ipar perempuan) jadi Enso, Ku (saudara lelaki mama) jadi Engku. Yi (saudara perempuan mama) jadi Yik. Hanya Kou (saudara perempuan papa) yang tidak berubah, tetap Kou.

Selain bunyi yang terpengaruh Jawa, ada lagi pengaruh lainnya. Orang Tionghoa peranakan masih mau mempertahankan tradisi Konfusius yang sangat mempertahankan hirarki, menghormati yang dituakan. Kalau punya saudara lelaki tiga orang, dalam tradisi Tionghoa yang sebenarnya, yang tertua dipanggil Toa-Koh (toa = besar), yang kedua dipanggil Ji-Koh (ji = 2), dst.

Tapi dalam tradisi peranakan yang sudah terpengaruh Jawa, yang paling besar dipanggil Koh-De, yang nomer dua dipanggil Koh-Ngah, yang paling kecil dipanggil Koh-Lik. De, Ngah, dan Lik itu bukan bahasa Tionghoa, tapi bahasa Jawa: Gede, Tengah, dan Cilik, seperti Pak-De, Paklik, Bu-De dan Bu-Lik. Memang lucu, tapi pembauran budaya ini nyata. Kadang-kadang, biar gampang, yang lebih muda memanggilnya “De!” atau “Ngah!”, sehingga kalau kebetulan ada di satu ruangan Cik-De dan Koh-De dua-duanya menoleh!

Yang kakek neneknya dari keluarga totok alias baru turun kapal atau FOB (fresh off the boat) di 1920-1930, panggilan nama kerabat tidak boleh dianggap main-main. Yang merasa dituakan bisa tersinggung kalau panggilannya tidak tepat. Misalnya kakek: beda antara kakek dari garis papa (Ah-Kong atau Engkong saja) atau kakek dari garis mama (Wai-Kong atau kakek luar); ibunya papa (Ah-P’o atau P’o-p’o) atau ibunya mama (Wai-P’o atau nenek luar).

Urusan yang menyangkut marga seperti orang Batak, harus jelas, karena ujung-ujungnya menyangkut warisan yang mengikuti tradisi patrilineal. Saudara Engkong pun harus jelas; yang lebih tua disebut Pek-Kong atau paman-kakek; saudara engkong yang lebih muda dipanggil Cek-Kong, bahkan kalau saudaranya banyak bisa jadi ada Ji-Cek-Kong, San-Cek-Kong, Si-Cek-Kong, dst. urut seperti merk rokok Ji-Sam-Su (234).

Keluarga totok jaman sekarang, biasanya generasi berikutnya lahir di Indonesia antara tahun 1935–1955, yang masih mengalami sekolah Tionghoa sebelum ditutup oleh rejim Suharto di tahun 1966, jadi mereka masih lancar berbahasa Mandarin (bahasa persatuan di Tiongkok). Akibatnya, sebutan honorifik untuk yang dituakan pun bercampur-campur antara bahasa Hokkian (atau bahasa dialek asli kakek nenek, entah Hokchia, Tiochiu, Henghua, Hakka, Konghu, dll.) dan bahasa Mandarin.

Dalam keluarga saya, memanggil saudara perempuan papa tidak memakai bahasa Hokkian (Kou), tapi bahasa Mandarin (ejaan Indonesia: Kuku; pinyin: Gugu). Karena saudara perempuan papa saya ada tujuh, susah mengingatnya mana yang nomer 3-4-5 dan 6. Jadi kita memanggilnya Kuku plus namanya.

Kalau menurut bahasa Mandarin yang benar, seharusnya MD atau Menerangkan Diterangkan, jadi Hun-Kuku, Hua-Kuku. Berhubung generasi berikutnya bersekolah Indonesia, kita memanggilnya mengikuti tata bahasa Indonesia: DM (diterangkan menerangkan), yaitu Kuku Hun (Tante Hun), Kuku Tjen (Tante Tjen).

Suami-suami mereka kita panggil dengan sebutan Ku-tjang (tjang dari tjang-fu atau pinyin zhang-fu; artinya suami); Kutjang Hap, Kutjang An, dll. Tetapi kita memanggil paman masih menggunakan bahasa Hokkian dan Hokchia:

Papa saya yang merupakan saudara lelaki tertua dipanggil Empek. Saya memanggil adik-adik lelaki papa dengan Ah-Cik (bahasa Hokchia, sama dengan Ah-Cek atau Encek); saudara lelaki mama dengan Ah-Kiu (bahasa Hokchia, sama dengan bahasa Hokkian Ah-ku atau Engku).

Jadi, kebiasaan tiap keluarga itu lain, tergantung situasi kondisinya. Apa lagi kalau sudah kawin campur antara totok dan peranakan, atau dengan orang Jawa atau yang asli lainnya.

Di generasi Tionghoa sekarang (yang lahir sesudah 1980), tradisi memanggil menurut sebutan honorifik ini sudah luntur. Memang lebih mudah menggunakan Oom, Tante, Opa, Oma, daripada sebutan Tionghoa yang macam-macam dan susah diingat itu.

Sebenarnya tradisi ini maksudnya bagus yaitu menghorrmati yang lebih tua dan ada fungsi praktisnya yaitu memberi kejelasan mana yang dari pihak papa dan pihak mama. Mungkin tidak perlu terlalu mendetil sampai harus tahu urutannya, cukuplah jika generasi muda itu tahu dalam bahasa Mandarin:

Ah-Yi (saudara perempuan mama), Kuku (saudara perempuan papa), Shushu (saudara lelaki papa), dan Tjiu-tjiu (saudara lelaki mama, pinyin: Jiu-jiu), dan masih menghormati kakaknya, entah dengan sebutan Koh (Mandarin: Ge), atau Ci (Mandarin: Jie).

69 comments:

  1. mantap banget n sgt menambah wawasan kita. moga2 tulisan kayak gini bisa diperbanyak.. kamsia

    ReplyDelete
  2. Hahah ini surabaya banget .. Koh De, Koh Nga, Cik De, Cik Nga :D Salam dari arek suroboyo

    ReplyDelete
  3. a impressively concise and informative asal usul panggilan2 yg berseliweran... masih perlukan dipertahankan untuk generasi mendatang? menurut gue sih perlu. that meks us unique :)

    ReplyDelete
  4. informatif n bisa menjelaskan banyak hal yg selama ini aq gak tau. selamat!

    ReplyDelete
  5. Cucu-gua blasteran cino sama jerman. gua sudah wanti2 kepada anak2-gua, jangan se-kali2 anak2 mereka memanggil gua, Opa ! Kalau menyebut gua engkong, baru gua kasih mereka angpao. Orang bule merasa derajad mereka lebih tinggi daripada bangsa2 lainnya, itu hak mereka beranggapan sesuka udelnya, yang penting kita mau mengakui atau tidak.
    Misalnya kata tante. Tante apa ? Dibudaya Cina,
    khan ada macam2 tante: A-kouw, Encim, A-em,
    A-yi, Eng-kim.

    ReplyDelete
    Replies
    1. setujuuuu...!! musti buat gerakkan untuk mempertahankan adat istiadat...., mas ada mertua yang maunya dipanggil oma, padahal jelas2 dia cina totok dan bicaranya hokkien dan konghu terus.....mau tau alasannya??? mungkin karena malu...yg lain pakai oma opa, masa dia dioanggi emak??

      Delete
  6. Pelajaran Budaya China untuk para wanita Tionghoa di Indonesia.
    Disaat kalian menikah dengan seorang lelaki Tionghoa, maka derajad-generasi kalian turun satu tingkat, sepadan dengan generasi anak2 kalian.
    Contohnya : Istri abang-saya yang tertua, atau Enso-saya yang tertua, walaupun usianya 12 tahun lebih tua daripada saya, dia selalu memanggil saya dengan kata Encek, seperti anak2-nya memanggil saya. Inilah tradisi Tionghoa yang asli. Kalian para wanita Tionghoa-Indonesia mau mengakui tradisi atau tidak, itu terserah kepada kalian. Kalau menolak, silahkan menikah dengan anak sulung, pria Jawa, maka derajad kalian naik menjadi Bu-de atau Mbok-de.
    Atau kawin dengan pria bule, dimana diseluruh keluarga, kalian dijambal, hanya dipanggil namanya saja, bahkan oleh anak atau keponakan kalian.

    ReplyDelete
  7. Anonymous bilang "disaat kalian menikah dengan seorang lelaki Tionghoa, maka derajad-generasi kalian turun satu tingkat, sepadan dengan generasi anak2 kalian." Wah, saya yang dari keluarga Tionghoa totok yang masih gunakan bahasa Cina dan panggilan2 seperti di artikel di atas pun gak pernah dengar yang satu ini.

    Enso atau sao2 yang tertua, kalau memanggil lu menggunakan "encek", itu hanya memberi anak2nya contoh yang baik saja. Misalnya mama saya memanggil adik2 lelaki papa (dan juga istri2 mereka) hanya dengan namanya saja: Ming, An, Lan, Tjien) sedangkan mereka panggil dia dengan sebutan hormat Ta-sao (artinya kakak ipar yang tertua). Tradisi keluarga lu itu ngawur.

    Di abad ke-21 sekarang keluarga Tionghoa totok pun sudah maju, perempuan sama derajatnya dengan lelaki, jangan disamakan dengan jaman feudal 50 tahun lalu.

    ReplyDelete
  8. setau wa juga ngak ada istilah turun 1 derajat,mungkin anda salah penafsiran aja.

    ReplyDelete
  9. Saya mau tanya, sy seorang wanita tionghoa dr suku kwantong umur 23 thn, menikah dgn pria 30 thn dr suku hokkian.
    Suami sy mempunyai kakak laki2 dan istrinya berumur skitar 28 thn.
    Panggilan apa yg harus sy berikan? Trima ksh atas saranx

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kakak laki suami dipanggil Koh (Mandarin: Ge). Istrinya kakak lelaki dipanggil A-So (Mandarin: Sao-sao).

      Delete
  10. thanks, berguna bgt buat saya (dan juga generasi saya) yang kelahiran tahun 80-90an dimana panggilan honorifik seperti ini sulit untuk dimengerti. mau tanya ke yang lebih tua, kadang malu, bahkan bgmn memanggilnya saja tidak tau harus panggil apa.

    ReplyDelete
  11. Hahahaha serius karena hidup sendiri sejak dulu kadang belibet kalo mau manggil sodara2 sampe sesekali dimarahin. Udah kemakan luntur ama formalitas indonesia nih tante, om, dkk.

    Suroboyo asek rek... Ini ownernya suroboyo ta? Hahaha isin rek aku berkesan tionghoaku luntur 😂😂

    ReplyDelete
  12. Ralat. Istilah "honorifik" ini sebenarnya salah. Honorifik itu panggilan untuk Presiden, Raja, Ratu, Paus, Duta Besar, Perdana Menteri. Dalam Bahasa Inggris ada Your Honor untuk hakim, Your Majesty untuk Raja / Ratu, Your Excellency untuk Presiden / Perdana Menteri, Your Holiness untuk Paus / Dalai Lama / Ayatollah, Your Royal Highness untuk Pangeran / Puteri, dll.

    Kalau yang disebut di artikel ini, sebenarnya itu hanyalah panggilan kekerabatan, bukan honorifik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. oke cak Wens, sudah saya koreksi judulnya tanpa menguta-atik isinya yang asli. matur nuwun karena artikel sampeyan ini membuat blog ini punya hit yang tinggi. selalu jadi the best 10 artikel sejak dulu. kamsia.

      Delete
  13. Ibu dipanggilnya apa ? Emak gua padahal bukan orang China, ga ada keturunan China, mentang-mentang kulit putih dipanggil Enci, padahal Ibu-ibu ? kan Enci untuk kakak perempuan ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di dalam bahasa-bahasa Cina, memang untuk memanggil ibu-ibu terkadang dipakai Ci (kakak perempuan) tergantung usia yang memanggil. Resminya sih memanggil ibu-ibu dengan sebutan Tai-tai (Madam, atau Nyonya) dan bapak-bapak dengan sebutan Xiansheng (Sir, atau Tuan / Bapak). Tetapi itu formal sekali, dan kadang-kadang yang dipanggil merasa risih atau tidak suka, jadi mereka minta dipanggil Ci atau Koh (Bahasa Hokkian). Bisa juga digunakan Cim (tante, saudara tuanya papa, Bahasa Hokkian ... tapi ini bisa bikin orang marah krn kesannya wanita udah tua) atau A-yi (tante, saudaranya mama, bhs Mandarin).

      Delete
  14. Kalo orang Chinesse kan ada beragam suku, mo nanya kalo Kantonesse panggilan kekerabatannya gimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Contohnya ada di http://kwanfamily.info/culture/familytitles_table.php dengan bahasa pengantar dalam Bahasa Inggris.

      Delete
  15. Thanx dapat banyak pelajaran baru, Kong saya cina Totok asal daerah Hainan dan saya sendiri sdh campuran, cina n indonesia ( Ambon Maluku ) ada beberapa panggilan2 diatas sampai saat ini sebagian besar masih kami gunakan dalam keluarga besar kami.., Salam.

    ReplyDelete
  16. Kalau untuk pangilan kerabat misal sebaya atau seumur kayak bro gitu gimana ya koh?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah itu kamu sudah gunakan, koh, hehehe.

      Delete
  17. Sebagai orang keturunan Cina kita harus bangga dengan budaya kita. Berdarah Cina berbangsa Indonesia, nggak usah malu, bangsa lain saja bangga dengan budaya Cina seperti Korea dan Jepang. Coba kalau suka nonton film korea, mereka panggil orang tua mereka fumu-nim(
    bahasa Cina kuno untuk papa dan mama), tante imu, dll. Belum lagi tradisi imlek
    korea yang sama persis dengan orang Cina. Budaya Cina lebih
    dilestarikan di luar Cina, Korea(budaya cina jaman dinasti Ming), Jepang (budaya Cina jaman dinasti Tang), Indonesia ( campur aduk dari jaman
    prasejarah sampai dinasti terakhir, contohnya pakaian pengantin
    wanita Palembang, kebaya (Ming), betawi (dinasti Ching). Budaya ini sudah diakui sebagai budaya asli Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Orang keturunan Cina di Indonesia sangatlah beragam. Jadi budaya mana yang mau dibanggakan? Ada yang Hokkian, Hokchia, Hakka, Hinghwa, Tiociu, dll. Ada yang baru 3 generasi, ada yang sudah 10 generasi dan tidak berbahasa Cina lagi. Benang merahnya ialah: hormat kepada orangtua, hemat, etos kerja, dan suka makan ... hahaa.

      Delete
    2. Saya generasi ke-3 di Indonesia. Budaya saya sebagian kecil saja yang masih Tionghoa: makanan, cara menghitung, sembahyangan, dll. Sebagian besar ya budaya barat: musik yang saya suka, filem. Sebagian besar budaya Jawa: bahasa pergaulan, makanan, teman-teman.

      Delete
  18. mau nanya di kluarga almarhum papa saya,saya memanggil kakak tertua papa saya dengan pek de dan adek prempuan papa saya dngan wak kou (g tau bner g nulisnya)yg saya bngung saya hrus manggil apa sm istri pek de apkah wak de?mohon ptunjuk thanks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Istri ah-pek dipanggil ah-mu.

      Pek = kakak lelaki papa. de dari gede.
      Kou = saudara perempuan papa, wak dari twa (perubahan bunyi, pengaruh Jawa), artinya gede atau tertua.

      Wak-de itu ga ada, wak = tua atau gede, jadinya lak tua-tua, atau gede-gede.

      Delete
  19. Kalo au itu panggilan untuk siapa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. A'u itu panggilan untuk untuk saudara lelakinya ibu oleh orang dari daerah Putian, yang biasa disebut sukubangsa Hing-hwa. Kalau bahasa Hokkian Ah-kiu; bahasa Mandarin Jiu, biasanya diulang menjadi Jiu-jiu (akar kata: 舅).

      Di Indonesia ada beberapa orang keturunan Hinghwa yang sukses sekali, misalnya keluarga Riady, termasuk bos Mayapada Group Dato Tahir.

      Seterusnya lihat: https://en.wikipedia.org/wiki/Putian_people

      Delete
  20. Pengen nanya, dikeluarga mama saya, tante yang lebih tua dipanggil wak, yang lebih muda yik. Apakah wak itu panggilan gampangnya untuk wak yik ya? Bgmn saya memanggil suami tante?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keluargamu itu sudah menjawa. Saudaranya mama dipanggil yi, itu sudah benar. Saudara perempuan mama yang paling tua biasanya dipanggil twa-yi, akhirnya menjawa jadi wak-yi. Akhirnya yi-nya dihilangkan pisan, tinggal wak. Wak itu artinya apa? Ga ada artinya. Salah kaprah.

      Delete
  21. Terima kasih penjelasannya. Iya, keluarga saya sudah menjawa sekali dan beberapa istilah salah kaprah. Satu lagi, apa panggilan untuk suami tante? Mohon petunjuknya. Tks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suami tante yg mana? Yi atau Ku? Dlm bahasa Mandarin ditambahi Tjang, Dari tjangfu artinya suami. Jadi Yi-tjang atau Ku-tjang.

      Delete
    2. Terima kasih banyak. Penjelasannya sangat membantu sekali. 😊

      Delete
  22. Matur nuwun atas penjelasan berantai yg makin memperjelas panggilan tionghoa di tanah air. Saya sendiri memanggil semua orang di Jawa Timur dengan cara jowo aja. Maya yg asli tionghoa pecinan jalan bibis saya panggil mbak Maya. Pak Liem di kembang jepun ya saya panggil pak Liem. Kadang2 Lin Xiansheng biar terkesan aku ngerti mandarin hehehe... Orang Batak di surabaya pun saya panggil mas Simanjuntak atau mbak Pasaribu dsb. Saya juga selalu dipanggil mas Hurek atau cak Hurek..

    Mboten nopo2.. bebas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cak Hurek, anda ini mengikuti pepatah bahasa Inggris: "When in Rome, do what the Romans do". Saya kira dalam pergaulan itu bagus. Tetapi yang ditanyakan ini dalam keluarga, jadi agak lain. Dan saya rasa banyak keluarga Tionghoa yang mau mencari akarnya dengan menggunakan kembali panggilan-panggilan yang sudah kadaluarsa.

      Delete
  23. Utk suku hokchia, apa sebutan utk kakak laki2 papa dan istrinya? Dan panggilan utk kakak perempuan papa dan suaminya? Trims ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kakak lelaki papa dalam bhs Hokchia sama dgn Hokkian: Ah-Pak tapi k nya lebih lembut. Istrinya dipanggil Ah-mu.

      Saudara perempuan papa dipanggil Ah-Ku. Suaminya dipanggil Ku-riong atau Ku-liong - antara r dan l gak jelas gitu, hehehe.

      Maaf, aku dewe yo ga lancar hanya tahu dari yang pernah didengar aja. Untuk benarnya sebaiknya anda pergi ke klenteng Kampung Dukuh, masih ada orang2 tua Hokchia.

      Delete
    2. Kebetulan saya org hokchia jg. Klo kakak laki2 papa dipanggil ah-pek istrinya dipanggil ah-mu tp lidah jowo kepleset jd mpek sm imu.

      Sodara perempuan papa udah bener ah-ku suaminya ku-liong. Tp lagi2 lidah jowo jd kuku dan ku-liong.

      Delete
    3. Ya sebenarnya Ah-pek itu lebih Min-nan (Hokkian Selatan) drpd Hokchia (Min-dong atau Hokkian Timur). Sdr papa saya yang ke-3, dulu saya panggil Sam-pa -- jadi bikin ketawa diri sendiri krn menyebut Oom kok Sampah!

      Delete
  24. Komentar2 teman2 makin memperlihatkan bahwa warga Tionghoa sudah sangat mengindonesia. Bahkan orang tua yg notabene masih sedikit paham kata2 sapaan khas tionghoa pun sengaja tidak memberitahukan kepada anak2nya. Apalagi di masa orde baru semua yg berbau tionghoa sangat dilarang oleh rezim yg berkuasa. Orang tionghoa kebanyakan cari aman, tidak mau berurusan dengan aparat hanya gara2 mengajarkan adat dan tradisi tionghoa di rumah. Masih untung ada orang2 kelenteng yg bisa jadi cagar budaya tionghoa yg sangat tangguh.

    Ada tokoh jurnalis terkemuka di indonesia, mas Ong, malah menganjurkan orang indonesia utk tidak pakai kata sandang koh, mas bung mbak cik dsb dsb.. Langsung panggil nama saja meskipun kepada orang tua berusia 70 atau 80 tahun. Maka anak SD memanggil kakeknya John kayak manggil teman atau adiknya aja: John, sudah makan atau belum? John jangan sering keluar malam nanti sakit. Hehe...

    Saya pun kalau sama orang Barat selalu tembak langsung nama seperti itu. Tapi di Jawa kebanyakan orang risi kalau kita panggil orang tanpa kata sandang mas mbak mbah eyang pakde paklik dik... dsb.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anjuran Pak Ong itu dapat dimengerti tujuannya, tetapi tidak bagus dilaksanakan di Indonesia. Sebenarnya mudah.

      Untuk pergaulan informal di luar keluarga, gunakan kearifan lokal: mas, mbak, dik, cak, ning. Untuk pertemuan profesional, gunakan standar nasional (Bahasa Indonesia): Pak, Bu, Kak, dll. antara sejawat. Bahkan di rumah sakit, klinik dokter, atau apotek, kita masih dipanggil dengan sebutan Tuan, Nyonya, Nona.

      Di dalam keluarga, barulah gunakan istilah-istilah adat.

      Yang saya sangat tidak suka ialah kalau pas berbelanja, dipanggil Ko hanya krn kulit saya kuning. Pengucapannya saja tidak benar. Kalau Bhs Hokkian, yang benar Koh (o seperti oblong). Kalau Bhs Mandarin, yang benar KĂȘ (e seperti kera). Tetapi Ko diucapkan seperti ou, dengan intonasi tertentu dlm Bhs Mandarin berarti "anjing". "Suka warna yang mana, njing?"

      Bathukmu sempal! Panggil mas, saja.

      Delete
    2. Pak Lambertus, memang begitulah faktanya. Pd waktu saya berkelana ke Kamboja tahun lalu, sempat ngobrol dengan keturunan Tionghoa di sana. Mereka tidak bisa lagi berbahasa Cina, tahunya hanya panggilan-panggilan kekerabatan dalam bahasa Hokkian seperti: Amah (nenek), Ah-so (saudara ipar perempuan). Apalagi di sana masyarakatnya beragama Buddha (campuran Hindu), jadi Orang Tionghoa gampang sekali membaur.

      Delete
  25. Saya keturunan cina yg bahkan tidak tau suku apa. Krn emak menikah dg kong saya . Saya hanya mengikuti tradisi mereka dgn memanggil empek(pakde) dan cek(adik( dr papa saya. Dan saya panggil a'i (untuk budhe) nah kalo anak saya panggil budhe saya apa dong???? oma kah? mkch

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anakmu bisa panggil dia yi-po; po = nenek.

      Delete
  26. Kalo artinya cok anyong apa ya, saya punya bos org cina bangka, kalo ktmu tmn nya (perempuan) di toko atau kios milik tmn nya bos saya selalu panggil cok anyong, kta nya artinya nyonya besar, emang bener itu artinya, soal nya bos saya suka ngibul... hahaha.... thank's

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, yg itu gak pernah dengar, Mas Agung.

      Delete
  27. Terimakasih pengetahuannya gan..

    ReplyDelete
  28. Kalau kita nak panggil aunty2 yg kat kedai2 atau jiran2 kita, sesuai kah pakai ah yi?

    Terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi orang Malaysia, boleh saja kau panggil ah-yi sebagai tanda hormat, asal dia tidak tersinggung lalu marah karena dia rasa lebih muda daripada kamu. Kalau kamu bikin dia senang, bisa panggil da-jie (kakak perempuan). Atau yang pemilik kedai bisa kau panggil lao-ban-niang (bos perempuan).

      Delete
    2. Hehehe boleh juga jiran Malaysia ikut komen di laman ini. Kita di Indonesia yg bukan chinese pun bingung pakai kata apa kerana istilah kekerabatan tionghoa banyak sangat. Semoga artikel ini sikit membantu Lakaran Tinta. Saya senang tuan sudi melawat ke lama ini. Salam.

      Delete
  29. mau nanya kalo sepupu saya (anak empek saya) saya panggil koh yg perempuan cik, nah anak saya panggil mereka apa ya utk engkoh dan encik saya?

    nah kalo anak entjek saya, anak saya mpanggil mereka apa juga?

    apa anak saya panggil AU utk sepupu sepupu saya kan sodara laki dari mama utk anak saya.. bener tak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak sampeyan ya panggil spt anda bersodara, panggil a-kiu atau a-yi. Kalau anda orang keturunan Hinghwa benar a'u itu sama dengan akiu. Anak encek anda, anak anda boleh panggil sama, tergantung lebih tua atau lebih muda.

      Delete
  30. wah makasih infonya... saya ga tau keturunan Hingwa atau apa... taunya papa saya itu Yap... hehe keturunan apa dong kalo bermarga YAP??

    Kalo sodara dari Papa yg laki dipanggiil EMPEK/ ENTJEK/ KHO utk yg perempuan.. bener yaa?

    Kalo sodara dari Mama yg laki di panggil AU/ AIK utk yg perempuan.. bener ya?

    Terimakasih penjelasanya.. maklum papa uda meninggal jadi kalo mau tanya ga ada lagi.. hanya utk melestarikan aja supaya gak ilang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Marga Yap itu dalam bahasa Mandarin "Ye", Yap itu Bahasa Hokkian, krn jaman Belanda dulu nenek moyang orang Tionghoa datang ke Nusantara dari provinsi Hokkian. Saudara papa yang laki dipanggil Pek atau Tjek sudah betul. Ko untuk yang perempuan juga betul. Tapi itu menurut bahasa Hokkian. Kalau bahasa Henghwa ya entah. Kalau papa ga ada ya tanya temannya papa dong, atau cari di Google. Masak menyerah begitu gampang.

      Delete
    2. Dulu laoshi pengasuh Mandarin Corner di tempat saya bapak Jap Tjiong Njap. Saya lupa tanya Jap itu cungwennya apa. Sekarang baru tau Jap atau Yap adalah Ye.

      Kamsia sudah kasih tau kita orang.

      Delete
  31. Tanya donk!

    Saya punya kolega orang Shanghai. Perempuan. Ga tau single atau sudah berkeluarga.

    Bagaimana saya memanggil dia dlm bahasa China agar dia merasa dihormati?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa dengan "jie" atau kakak. Kalau namanya Lin, jadi Lin-jie.

      Delete
  32. Saya punya marga dr kakek Tjoa, cuman saya panggil tante dr papa incim, dan ponakan papa cewe cece.
    Papa saya anak paling muda alias bungsu. Dari kakek saya sudah jarang komunikasi sama keluarga nya yg cina totok,krn berpindah keyakinan.
    Drsana keluarga kami hnya bbrp yg mnggunakan panggilan kekerabata cina, kami sekeluarga di padang,

    Oiya, saudara laki2 (abang) dari ibu biasa nya d sebut apa? Krn dr keluarga juga tdk ada ada yg mngajarkan lagi, cuma bbrp sebutan smnjak saya kecil saja.
    Sudah sangat padang sekli,mulai dr kakek saya soal nya. Trimkasih

    ReplyDelete
  33. mau tanya. kalo saya anak perempuan panggil kakak paling tua dari ayah saya itu apa? apakah apek bener? terus saya disuruh panggil istrinya dengan sebutan enso atau soso ya lupa hehe soalnya ayah saya justru juga gabegitu paham tapi seluruh kakak adiknya masih kentel panggilan Cina begitu. saya kemarin disuruh panggil kakak wanita tertua dari ayah saya dengan sebutan akoh nah kalo suaminya dipanggil apa ya? hehe makasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kakak lelaki dipanggil Apak atau Apek, bener.

      Enso atau Soso artinya kakak ipar perempuan, jd ayahmu memanggilnya begitu. Kalau km memanggil yg benar A-em. Bhs mandarin Bo-mu (bo, dibaca "puo" = pek, mu = perempuan / tante = em. Mudahnya km bisa panggil A-mu.

      Kakak perempuan ayah km panggil a-koh sudah benar. Suaminya km panggil Bhs Mandarin gu-zhang (bacanya: ku-tjang, tjang dari tjangfu artinya suami). Bhs Hokkien ko-tio. Artinya sama.

      Selamat menemukan akarmu.

      Delete
  34. saya mau tanya kalo panggil kaka tertua dari ayah saya apa benar panggilnya apek? kalo istrinya dipanggil apa ya? terus panggil untuk suami dari akoh saya itu apa ya? akoh itu sebutan untuk kakak perempuan tertua dari ayah saya kan? thank u

    ReplyDelete
  35. Ini daftar panggilan untuk kerabat2 dekat dlm bhs Hokkian:

    SAUDARA2 SENDIRI:
    Kakak lelaki: Koh. Mandarin: ge (baca seperti ke dalam kelas, bukan kouw seperti dilafalkan di Jawa; kalau yang itu bisa diartikan "anjng").
    Adik lelaki: Ti, bhs Mandarinnya sama
    Kakak perempuan: Ci, atau Enci kl dijawakan. Mandarin: Jie (baca: tjie) Yg paling besar kadang dipanggil Toaci atau mengindonesia menjadi Tacik
    Adik perempuan: Moi, atau mengindonesia menjadi Me. Mandarin: mei.
    Suami kakak perempuan: Ci-hu, mandarin: jiefu
    Suami adik perempuan: Me-hu, mandarin: meifu
    Istri saudara lelaki: So, dijawakan Enso. Yg tertua: Toa-so, Mandarin: da-sao.

    PAPA / AYAH:
    Kakak lelaki: A-pak atau A-pek (Bhs Mandarin: bo, baca puo). Kadang dijawakan menjadi Empek.
    Adik lelaki: A-cek. Kadang dijawakan menjadi Encek (Bhs Mandarin: shu).
    Istri kakak lelaki: Pak-em, atau cukup A-em. (Bhs Mandarin: mu, lengkapnya bo-mu - baca puomu).
    Istri adik lelaki: A-cim, A-kim, tergantung dialeknya. Kalau dijawakan Encim atau Engkim. Bhs Mandarin menggunakan mu juga, tidak dibedakan, jadinya shu-mu.
    Kakak / adik perempuan: A-koh. (perhatian, ini tidak sama dengan koh yang berarti kakak. Dalam Mandarin: gu, sedangkan koh kakak dalam bhs Mandarin: ge, baca ke seperti kelas). Hanya dibedakan A-koh tertua kadang disebut Toa-koh, lalu sering dijawakan menjadi wak-koh, wkwkwk
    Suami Akoh: Koh-tio (Bhs Mandarin: gu-zhang). Kadang dijawakan menjadi Entio.

    MAMA / IBU
    Kakak dan adik lelaki: A-ku atau A-kiu, tergantung dialeknya. Bhs Mandarin: jiu-jiu (bacanya tjiu)
    Kakak dan adik perempuan: A-yi. Bhs Mandarinnya sama. Kadang dijawakan jadi "ik". Hanya, yang tertua biasanya dipanggil Toayi, lalu menjawa menjadi "wak-i", wkwkwk
    Suami saudara perempuan: i-tio (Bhs Mandarin yi-zhang, bacanya i-tjang).

    KAKEK NENEK dari ayah: A-kong, A-ma atau A-bo / bo-bo tergantung dialeknya. Dijawakan menjadi Engkong, Emak, wkwkwk. Bhs Mandarinnya lain sama sekali: Ye-ye, Nai-nai.
    KAKEK NENEK dari ibu: gwa-kong, gwa-bo. Bhs Mandarin: wai-gong, wai-p'o.

    Semoga bermanfaat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dampak politik orde baru memang luar biasa. anak2 dan cucu orang Tionghoa sampai tidak diajarkan istilah2 kekerabatan sederhana yg biasa dipakai dalam adat istiadatnya.

      bisa juga karena para orangtua sengaja melupakan ketionghoaannya dengan menggunakan istilah2 indonesia atau lokal jawa dsb. termasuk ganti nama, ganti agama, dsb.

      bisa juga karena tionghoa di jawa pun sudah jadi baba semua kayak tionghoa di NTT. gak mau tau adat budaya dan bahasa tionghoa.

      banyak juga orang Tionghoa di surabaya yg marah2 ketika saya tanya tulisan mandarin di produk tertentu. ''aku tidak bisa sama sekali. ngapaian tanya2 mandarin segala?'' begitu ucapan seorang tionghoa yg punya toko di kawasan rungkut.

      Delete
    2. ini bukan dampak politik, bung, tetapi dampak pelunturan budaya antar generasi. terutama di jawa, setelah 3 generasi udah luntur sekali / asimilasi. yang tertinggal hanya sregep golek duwit.

      Delete
    3. Oh iya, ketinggalan

      Istri saudara lelaki mama (Engku): Engkim.

      Delete