15 January 2012

ORANG SUNDA DI LEMBATA


Acara piknik di Pantai Pedan, Lembata.


Tak jauh dari rumah saya di Lamawara, Ileape, Lembata, NTT, tinggal Agnes Acha. Mama Acha sapaan sehari-harinya. Dari logatnya saya bisa memastikan mama kurus dan energik ini berasal dari Jawa Barat.

"Saya asal Subang tapi sudah lama merantau," kata Mama Acha saat kami duduk santai di dekat sumur pinggir laut. Acara BAUNG atau di Jawa dikenal dengan cangkrukan.

Saat merantau di Batam, dia kenalan dengan Ama Ola. Kemudian menikah. Kemudian lancar bahasa Lamaholot, bahasa daerah kami. Kemudian diajak pulang ke Lembata dan ternyata betah.

Setelah Ama Ola meninggal, Mama Acha tetap tinggal di kampung. Sesekali mudik ke Subang tapi kembali lagi. Lembata yang jauh tertinggal dibandingkan Sunda sudah dianggap kampung halamannya.

Sungguh saya terharu dengan Mama Acha. Orang luar yang gelekat lewotanah peheng suku lango. Sementara begitu banyak orang Lembata yang tak mau lagi kembali ke kampung.

Sebagai perantau ulung, sejak 1970-an orang2 Lembata sering membawa istri dari luar. Orang Malaysia, Jawa, Sulawesi, Jakarta, bahkan Tionghoa. Tapi jarang ada yang kerasan. Paling lama tahan satu bulan, kemudian menangis minta kembali ke Jawa atau Malaysia. Kalaupun ada yang bertahan, biasanya orang2 Jawa yang berlatar petani di desa-desa pelosok. Bukan warga kota besar.

Jangankan orang Jawa atau Malaysia, anak-anak orang Lembata yang lahir dan tinggal di kota besar pun tak betah. Sekali diajak bapaknya ke kampung, setelah itu no way! Kemudian menikah di Jawa dengan orang Jawa.. dan kemudian hilang kelembataannya.

Maka, buat saya, Mama Acha ini sebuah pengecualian. Mama paling rajin dalam berbagai kegiatan di kampung. Motivator ulung. Tukang kasih semangat. Dialah yang mengajak saya ke kampung di bukit malam hari untuk sembahyang tikar Memeng Perada. Semacam tahlilan di Jawa.

"Tapi saya dari dulu nggak bisa makan di acara kematian," kata Mama Acha saat acara makan bersama di rumah duka. Padahal, hidangan malam itu sangat istimewa.

Mama Acha, terima kasih, anda layak jadi cermin buat orang Lembata.

1 comment:

  1. Sebuah kisah yang menyentuh hati.

    ReplyDelete