06 January 2012

Orang Lembata Makan Raskin


Saat mudik di Pulau Lembata, NTT, pekan lalu saya ingin sekali makan jagung. bukan nasi dari beras putih. Saya juga ingin ubi-ubian. Nostalgia ala masa kecil di kampung dulu.

Sayang, keinginan sederhana itu tak bisa terpenuhi. saat ini tak ada hidangan jagung di meja makan. Jagung titi pun harus cari di tetangga sebelah. Bahkan, saya lihat pasien diabetes pun makan beras putih, padahal dianjurkan makan jagung yang kuning.

Rupanya kultur konsumsi di Lembata, juga Flores umumnya, sudah berubah. Politik beras perlahan-lahan mengubah selera masyarakat.Ironis, karena tanah dan air di Lembata tak memungkinkan budidaya padi sawah, kecuali di kawasan Waikomo atau Wairiang dan beberapa daerah lain.

Konsumsi beras makin masif gara-gara pemerintah menggelontor raskin: beras untuk rakyat miskin. Ketika Lembata dan beberapa daerah di NTT kelaparan, raskin dikirim ke kampung-kampung. Nyaris gratis.

Cukup dengan 1000 atau 2000 orang sudah dapat raskin. Jauh lebih mahal ketimbang jagung yang 5000 per kg. Sampai sekarang pun raskin jadi favorit orang Lembata.

"Makan jagung itu zaman dulu. Kita sekarang kan sudah maju," kata seorang anak muda 20-an tahun.

Ketergantungan rakyat Lembata pada beras, meski kualitas terjelek, jelas sangat berbahaya. Produksi jagung akan mandek. Dan orang akan terus membeli, membeli, dan membeli karena lembata tak akan mungkin berswasembada beras.

Bagaimana Pak Frans Lebu Raya, gubernur NTT? Cita-cita menjadikan ntt provinsi jagung bakal meleset jika rakyat makin kecanduan raskin.

Saya pun kembali ke surabaya karena jatah cuti sudah habis. Tanpa pernah menikmati sepiring jagung.

1 comment:

  1. Buntut dari fenomena globalisasi ternyata sudah menjalar sampai ke Lembata. Tak lama lagi rakyat Lembata dan Bajawa akan lebih senang mengkonsumsi Big Mac, Pizza, Kebab, Cheasburger,
    chickenwings dan coca-cola. Hampir semua sosial-budaya asing sudah kita serap dan resap. Hanya sayang kita masih tetap kebal terhadap budaya berdialog dan berdiskusi, menghargai pendapat dan argumentasi orang lain. Terlebih disayangkan kita sudah melupakan budaya gotong-royong dan caritas, yaitu budaya welas-asih, saling tolong menolong tanpa pamrih. Yang paling cilakak, adalah punahnya budaya malu dari hampir semua pejabat- dan para anggota DPR-RI.

    ReplyDelete