20 January 2012

Masjid Babul Jannah di Lewotolok



Mudik ke kampung halaman, saya selalu berusaha mampir ke rumah tokoh Islam. Salah satunya Haji Anwar Tadong. Selain punya hubungan keluarga (mamanya suku Hurek), saya ikut jemput beliau di Surabaya ketika pulang naik haji dari Tanah Suci beberapa tahun lalu.

Haji Anwar tinggal samping masjid. Ya, dialah takmir masjid sekaligus ulama terkemuka asli Lamaholot di Lembata. Maklum, di Kabupaten Lembata orang Islam yang haji sangat-sangat langka.

Saya disambut hangat Ama Haji Anwar Tadong di rumahnya. Ngopi bareng di bawah pohon asam di pinggir pantai. Kayu-kayu menumpuk karena beliau memang pengusaha bangunan.

Pak Haji banyak cerita tentang operasi kataraknya yang sukses. Sekarang dia bisa melihat dengan jelas. Alhamdulillah, dia dapat kesempatan operasi gratis di Lewoleba.

"Tapi mata sempat buta, gelap total, karena saya sempat sentuh sehabis operasi itu," kenangnya.

Syukurlah, dokter cepat-cepat menangani sehingga bisa pulih kembali. Hanya, mata Pak Haji masih tak boleh kena air. "Jadi, saya ini wudu pakai tembok," katanya.

Masjid Babul Jannah di Desa Lewotolok, Kecamatan Ileape, Lembata, ini tak kalah dengan masjid-masjid di kota. Dibandingkan masjid di desa-desa tetangga macam Waowala, Mawa, atau Lemau, jelas jauh lebih kinclong.

Salat rutin, bahasa daerahnya SEMBEANG, lancar-lancar saja. Sering juga dikunjungi tokoh2 Islam dari kabupaten atau daerah2 yang jauh. Ini membesarkan hati umat Islam di kampung halaman saya.

Menjelang magrib, obrolan saya dengan Pak Haji makin menarik. Tapi harus diakhiri karena beliau harus salat magrib berjemaah.

Saya pun disangoni ikan segar yang baru di tangkap di perairan Lewotolok.

 "Kali ini kamu datang pada saat yang tepat. Bisa bawa ijan segar," kata Pak Haji yang selalu bicara dengan penuh semangat ini.

Terima kasih banyak Bapa Haji!

Selamat bertugas mengurusi umat dan masyarakat di lewotanah!








3 comments:

  1. Di Suatu hari pada 2008 yang lalu saya kedatangan dua orang tamu perempuan yaitu sales dan bicara panjang lebar, mengaku yang berasal dari daerah flores. Mereka menceritakan bahwa daerah sana tentang toleransi agama disana berbeda sekali dengan di Jawa. bahkan dalam acara gereja sebagai pengisi acara paduan suara adalah dari kelompok muslim. dan jika ada pembangunan Masjidpun yang bergotong royong adalah tidak hanya orang muslim, tetapi juga non muslim yakni umat kristiani. Dan kristiani adalah sebagai pemeluk mayoritas. walau saya jekek wong muslim Jowo, mendengar cerita itu tidaklah memandang sebagai kesalahan. justru saya sangat salut itu .
    mari jaga toleransi umat beragama !.
    wis cuma itu, thok matur nuwun

    ReplyDelete
  2. begitulah mas. kami di flores, khususnya etnis lamaholot di flores timur, lembata dan alor punya ikatan kekerabatan yg sangat kuat. KAME MEI TOU: kami satu darah! perbedaan agama tak pernah jadi masalah. tak ada debat teologis. tak ada curiga islamisasi atau kristenisasi. biasa2 aja, sederhana, polos, lugu... khas orang kampung.

    di bumi lamaholot hanya ada 2 agama: KIWANEN (kiwan: gunung, katolik) dan WATANEN (watan: pantai, islam). KIWAN dan WATAN tak bisa dipisahkan, saling butuh, saling melengkapi. Yg WATANEN tidak mungkin tiap hari makan ikan saja tapi perlu jagung, padi, ubi2an dari KIWANEN. sebaliknya KIWANEN juga butuh garam, ikan, dan hasil2 laut dari WATANEN.

    filsafat atau pandangan etnis lamaholot ini yang membuat LEWOTANAH (kampung halaman) selalu rukun. Orang2 kampung tak peduli KIWANEN atau WATANEN sama2 bikin masjid atau gereja. Termasuk masjid di Lewotolok ini juga hasil gotong royong seluruh masyarakat.

    terima kasih atas perhatian anda.

    ReplyDelete
  3. begitulah seharusnya sikap sesama manusia,tanpa harus dibedakan oleh apapun,baik itu agama,budaya,tradisi,warna kulit dan,status sosial...sebagai upaya membangun kehidupan dalam kebersamaam di dunia ini...agar tercipta keselarasan dan,keharmonisan bagi sesama mahluk-Nya...

    ReplyDelete