11 January 2012

Masalah Paduan Suara di Lembata


Paduan suara malam Natal, 24 Desember 2011, di Gereja Stasi Mawa, Lembata. Terlalu fokus ke teks, kurang perhatikan dirigen.

Sebagai mantan aktivis paduan suara mahasiswa dan paduan suara gereja di Jawa Timur, saya selalu menyimak dengan saksama penampilan dan cara bernyanyi paduan suara. Di mana pun. Itu pula yang saya lakukan saat ikut misa malam Natal 2011 di Gereja Mawa, misa Natal kedua di Gereja Waowala, dan misa tahun baru 2012 di Gereja Lewotolok.

Mawa, Waowala, dan Lewotolok adalah tiga desa di Kecamatan Ileape, Kabupaten Lembata, NTT. Kampung halaman saya. Jujur, saya terharu dengan semangat anggota kor di Mawa. Mereka sudah menyisihkan waktu untuk berlatih untuk ekaristi malam Natal. Begitu pula kor di Lewotolok yang merupakan gabungan Desa Bungamuda, Lamawara, dan Amakaka.

Sayang, masalah klasik sejak saya SD di kampung belum juga teratasi. Yakni teknik vokal atau cara produksi suara yang keliru. Orang-orang kampung masih saja menyanyi dengan suara leher. Cara ini membuat vokal yang keluar tidak bagus. Dan akan sangat sulit ketika membawakan nada tinggi.

Tiga paduan suara ini merupakan gambaran kor-kor di Pulau Lembata. Masalah teknis dasar ini terus berulang karena dirigen atau pelatih mengabaikan latihan vokal. Teknik pernapasan, diafragma, suara dada, suara kepala atau falsetto, frasering kurang digarap. Orang-orang kampung biasanya langsung solmisasi dan berlatih lagu baru.

Masalah serius di Gereja Lewotolok adalah insetting atau memulai lagu. Kor acapella alias tanpa iringan musik memang tidak gampang. Sang dirigen harus bisa membuat aba-aba yang pas agar semua penyanyi tidak ragu untuk memulai. Insetting memang masalah sangat prinsip dalam paduan suara acapella.

Di Lewotolok ini sopran, alto, tenor, bas terasa kurang harmonis. Padahal, saya lihat si dirigen sudah kerja keras. Mungkin kurang latihan!

Masalah lain yang cukup mengganggu adalah iringan musik. Kelihatan sekali kalau pemusik di kampung kurang paham musik liturgi. Ritme atau irama mekanis yang disetel di keyboard sangat tidak cocok untuk paduan suara. Belum lagi volume musik yang terlalu keras sehingga menenggelamkan paduan suara. Ini terlihat saat misa Natal kedua di Gereja Lewotolok.

Mudah-mudahan Romo Paskalis Hurek, pengurus Seksi Liturgi Keuskupan Larantuka, yang kebetulan orang Mawa, Ileape, mau pulang kampung untuk membenahi kor-kor di kampung. Potensi dan materi vokal sudah bagus, tinggal dipoles sedikit sajalah.

5 comments:

  1. hehe... org lembata ini banyak yang jadi pelatih paduan suara di jakarta, surabaya, makassar n kota2 lain. tapi memang kor di kampungnya sendiri memang kurang bagus. ini jadi bahan introspeksi ..

    ReplyDelete
  2. Jika ada Buku Panduan untuk Paduan Suara yang menurut Bung Lambertus Hurek bagus. Bagaimana kalau beli beberapa buku untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkannya?

    ReplyDelete
  3. Buku pedoman paduan suara terlengkap adalah MENJADI DIRIGEN karya Romo Karl Edmund Prier SJ terbitan Pusat Musik Liturgi Johgjakarta. Ada tiga jilid. Jilid I teknik aba-aba, jild II teknik olah vokal atau produksi suara, jilid III membina dan mengembangkan paduan suara. Buku ini juga menjadi rujukan utama kor-kor Katolik di Pulau Jawa.

    Saya kira Seksi Liturgi Keuskupan Larantuka sudah tahu, bahkan sudah melakukan sesuatu, tapi belum optimal. Seharusnya ada pembinaan pelatih/dirigen secara rutin dan workshop seperti yang dilakukan di Keuskupan Surabaya dan Keuskupan Malang.

    Terima kasih atas perhatian anda.

    ReplyDelete
  4. yah... masalah umum choir di daerah2 memang kurang pelatih atau instruktur yg mumpuni.. tinggal pembenahan aja ...

    salam kenal
    frans, malang

    ReplyDelete
  5. iyap. bnr skli.... slm kenal. sbnrnya org2 kita bs menjadikan paduan suara menjadi paduan swra yang baik dan mampu bersaing dengan paduan swra di kota2 besar seperti malang contohnya... hanya saja org2 kita dsni kemauannya sangat kurang utk itu. asal nyanyi dan kadang juga asbun alias asal bunyi.. saya juga setuju skli klo ada kegiatan workshop seperti yang tlh dilakukan di sby n malang... biar ada pembenahan sdkt dalam paduan suara....smangat dan sukses.. salam hangat dari LArantuka..^^

    ReplyDelete