18 January 2012

Jalan di Flores dulu dan sekarang


Kondisi jalan di daerah Ileape, Lembata, NTT, yang dibiarkan saja oleh pemerintah daerah.

Meski tak semulus di Jawa, jalan raya di Pulau Flores dari barat ke timur sudah lumayan bagus. Berkelok-kelok. Banyak tikungan. Awas jurang!

Karena itu, orang Flores Timur tidak pernah menggunakan jalan darat dari Jawa atau Bali. Lebih aman lewat laut. Jalan yang buruk itu juga membuat orang Flores kurang mengenal kabupaten tetangganya.

Sejak kapan jalan trans Flores ini dibangun? Menurut catatan sejarah, sejak zaman Hindia Belanda ketika berlaku politik etis. Pemerintah kolonial pada 1920an mulai membangun infrastruktur jalan. Tentu dengan kerja paksa alias rodi.

Jalan utama di Flores panjangnya 607 km. Lebih panjang dari pulaunya karena berlekak-lekuk itu tadi. Batu-batu diledakkan. Bukit-bukit ditembusi, dipotong... agar bisa jadi jalan.

Tahun 1926 jalan lintas Flores selesai. Tentu tidak mulus, hanya sekadar membuka isolasi.

Selanjutnya Belanda juga bikin jalan di Pulau Adonara dan Lembata alias Lomblen. Di Adonara dari Wailebe melalui Waiwerang ke Sagu. Kemudian memutar dari Hinga melalui Boleng ke Waiwerang lagi.

Di Lembata jalan dibuat dari Lewoleba ke Kedang sejauh 60 km. Namun, karena pemerintah Belanda tak punya cukup uang pembangunan jalan-jalan di Lembata sangat terbatas.

Karena itu, sampai tahun 2000an masih banyak daerah di Lembata yang terisolasi. Mobil masih sulit menembus kawasan tertentu, khususnya di bagian tengah.

Kesimpulannya: sejak dirintis kolonial Belanda, masalah jalan raya di Flores dan Lembata hanya mengalami sedikit kemajuan. Kita masih berkutat dengan masalah yang sama dari tahun ke tahun meski sudah merdeka 66 tahun.

Mengapa Flores, Lembata, Adonara, Solor, Alor, Pantar... selalu disebut daerah tertinggal dan terpencil? Antara lain karena infrastruktur jalan yang belum beres.

1 comment: