10 January 2012

Jagung Titi Bikin Kangen Kampung


Jagung titi atau emping jagung. Camilan sederhana ini punya makna khusus bagi orang Lamaholot (Lembata, Adonara, Solor, Flores Timur daratan dan Alor). Lebih-lebih bagi para perantau di Jawa.

Karena itu, ketika kembali cuti di kampung, jagung titi menjadi oleh-oleh pertama dan utama. Beli sana-sini, minta sana-sini... sudah cukup untuk satu tas besar. Maka bagasi saya pun lebih banyak dimuati jagung titi.

Tahu kalau saya baru kembali dari Lembata, beberapa teman Lamaholot pun langsung pesan wata kenanen alias jagung titi. Tak perlu oleh-oleh lain yang mahal dan berat. Cukup jagung titi beberapa genggam.

Saya pun keliling Surabaya, Sidoarjo, Malang hanya untuk mengantar jagung titi. Capek sudah pasti. Tapi mereka antusias dan sangat berterima kasih begitu menerima jagung titi yang tidak banyak itu.

Saya sendiri pun meski sudah terlalu lama di Jawa Timur, selalu rindu jagung titi. Mencicipi jagung lempeng yang dititi dengan batu ini, saya pun teringat kampung halaman. Ingat mama-mama, kaka ari di Lewotanah yang bekerja keras di ladang jagung. Ingat bagaimana mama-mama begitu cekatan memungut butir-butir jagung panas untuk dilempengkan hingga pipih.

Karena itu, bagi orang Lamaholot di perantauan, jagung titi bukan makanan atau camilan biasa. Ia punya makna kultural, nostalgia, membawa simbol budaya Lamaholot yang khas.

Dengan makan jagung titi, orang Lamaholot seakan-akan diingatkan untuk tidak lupa kampung halaman. Lebih baik hujan batu di Lewotanah daripada hujan emas di negeri orang. Maka, jika ada orang Lamaholot yang merantau di Jawa atau Malaysia tak pulang-pulang bisa jadi karena dia sudah tidak pernah makan jagung titi.

No comments:

Post a Comment