03 January 2012

Iklan Babi di Media Massa


Bolehkah iklan babi di media massa seperti koran, majalah, televisi, atau radio? Ini tentu topik sensitif di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Urusannya bisa panjaaaang sekali karena menyentuh soal SARA.

Sebagai bangsa muslim, masalah halal-haram memang jadi isu sangat-sangat peka. Maka, babi yang diharamkan umat Islam tentu tak patut disajikan di ruang publik. Silakan buka restoran yang ada menu babinya, tapi jangan diiklankan di media massa umum.

Saat membaca beberapa koran terbitan Kupang, NTT, yang penduduknya mayoritas kristiani, saya senyam-senyum sendiri. Kenapa? Iklan menu babi begitu banyak. Sei babi memang makanan paling top di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur itu.

Restoran-restoran bersaing beriklan menu sei babi alias daging babi asap ini. Media-media pun senang dapat income cukup banyak.

Sekali lagi masalah iklan babi akan menjadi peka di daerah-daerah mayoritas Islam. Pengusaha restoran Tionghoa di Jawa sekalipun pasti tak akan nekat pasang iklan menu babi. Lebih baik diam-diam, toh tetap laku keras.

Bagaimana dengan iklan bir atau minuman keras? Dulu, bisa dipasang di media, khususnya sebelum 1990. Tapi makin lama bir dkk tak muncul lagi seiring meningkatnya sensitivitas agama di Indonesia.

Bagaimana dengan iklan bernuansa prostitusi seperti pijat plus dan sejenis? Silakan Anda cek sendiri di media-media di kota Anda.

Begitu pula iklan rokok, produk yang dianggap membahayakan kesehatan, bahkan haram, makin lama makin dibatasi. Rupanya, keharaman babi, miras, atau rokok memang berbeda. Maka, sensitivitasnya pun berbeda.

2 comments:

  1. gan...makasih byk atas informasinya

    ReplyDelete
  2. setuju pak, kalau dipikir-pikir memang agak aneh, ijin pendirian tempat ibadah jauh lebih susah dari pada ijin pijat plusx2

    padahal secara umum pengaruh kepada masyarakat lebih besar yang plusx2... =D

    ReplyDelete