26 January 2012

Hentikan ekspor pembantu ke Malaysia


Koran terbitan Jakarta edisi hari ini, 26 Januari 2012, kembali membahas tenaga kerja Indonesia atau TKI. Khususnya TKI ke Malaysia. Kerajaan Melayu itu memang banyak menampung TKI di sektor informal.

Begitu banyak pekerja2 kasar, kuli, tukang kebun, dan pembantu asal Indonesia di Malaysia. Jumlahnya lebih banyak daripada total penduduk Singapura dan Brunei. Karena itu, Indonesia sering dihina sebagai bangsa kuli, bangsa budak, bangsa babu (pembantu).

Menteri Muhaimin Iskadar seperti dikutip Kompas mengatakan akan membatasi pengiriman pembantu ke Malaysia. Mutu calon TKI akan ditingkatkan. Statemen macam ini sudah lama diucapkan menteri2, bahkan sejak zaman Suharto.

Faktanya? Lain di bibir lain di lapangan. Ekspor TKI tetap saja tinggi baik ke Malaysia maupun Saudi. Dua negara yang paling rawan bagi TKI, khususnya pembantu.

Pemerintah kita rupanya belum ada usaha serius untuk menyediakan pekerjaan di Indonesia. Mengapa harus jauh2 ke Malaysia atau Saudi kalau hanya jadi pembantu, tukang kebun, atau pemetik sawit?

Indonesia adalah negara yang penduduknya sangat banyak, 230 juta. Wilayahnya luas. Tapi penduduk yang banyak justru jadi beban karena kita tak mampu menciptakan pekerjaan. Pengangguran terlalu banyak.

Presiden SBY pernah berjanji membuat policy2 yang pro job, pro poor, pro growth. Misi ini bagus dan seharusnya diikuti tindakan nyata oleh menteri2. Bukan malah menjadikan TKI sebagai alat bargaining dengan Kerajaan Malaysia.

Salah satu ukuran keberhasilan presiden adalah mengurangi sebesar mungkin ekspor TKI ke Malaysia dan Saudi. Kita harus punya mimpi bersama: suatu ketika, one day, tidak ada lagi orang Indonesia yang menjadi pembantu atau kuli di Malaysia!

2 comments:

  1. Setujuuu !! Tetapi ya kembali lagi, di Indonesia harus diperbaiki iklim kepegawaiannya . Blog anda informatif sekali, banyak foto hasil jalan-jalan :D Salam ...

    ReplyDelete
  2. Saya punya saudara ipar orang Taiwan, yang ibunya sudah lansia dan punya pembantu orang Jawa Timur. Ia diperlakukan baik, dan bisa menyokong keluarganya di rumah. Malah sekarang sudah lancar berbahasa Mandarin dibandingkan orang Tionghoa Indonesia sekalipun. Jika tabungannya sudah cukup, ia mau pulang kampung dan menggunakan modal dan kemampuan bahasanya untuk bekerja yang lebih layak di tanah air.

    Mengapa harus kita malu orang Indonesia bekerja di luar negeri sebagai pekerja kasar? Bukankah segala pekerjaan itu bermartabat, asal kita melakukannya dengan jujur, ikhlas, dan dengan kemauan baik.

    Pengiriman tidak perlu dibatasi. Jadi babu, tukang kebun, pemetik buah kelapa, apa salahnya? Bung betul, bahwa pemerintah Indonesia harus meluncurkan program2 yang meningkatkan jumlah pekerjaan di tanah air. Itu harus berjalan terus, tapi sementara itu orang harus makan, anak harus bersekolah, orang2 tua harus dirawat bila sakit. Bung mau menadahi mereka?

    Yang parah ialah budaya korupsi dan tidak adanya kepemimpinan di antara pejabat Indonesia. Ket biyen pancet ae. Jancukan kabeh.

    ReplyDelete