Anak-anak SD main di namang (halaman desa) di Mawa, Lembata.
Guru tempeleng murid jadi masalah di Surabaya. Rabu (18/1/2012) jadi berita besar di Jawa Pos. Kasus ini selalu berulang dan selalu jadi berita.
Saya sering geli sendiri ketika membandingkan dengan di Lembata atau NTT umumnya. Guru tempeleng murid, khususnya SD, sangat biasa. Bahkan orangtuanya senang karena anaknya dikasih pendidikan. Maklum, banyak orang tua di kampung yang sudah tidak mampu mengatasi anak-anaknya yang nakalnya keterlaluan.
"Pukul saja Pak kalau anak saya nakal," begitu pesan orangtua kepada guru SD di daerah-daerah NTT, di pelosok macam kampung saya.
Maka, tak pernah ada kasus guru pukul murid masuk koran di NTT. Apalagi diproses di kepolisian. Orang tua malah senang kalau anaknya yang nakal dikasih 'pelajaran' (baca: dipukul) oleh bapak-ibu guru.
Tentu saja tempelengan atau pukulan si guru ini bersifat mendidik. Bukan emosional. Tidak mencederai si anak. Murid-murid SD di NTT juga kerap dicubit telinganya kalau tidak bikin pekerjaan rumah.
Waktu sekolah di SDK Mawa di kampung dulu, Lembata, ada pelajaran yang namanya mencongak. Murid-murid harus menjawab pertanyaan matematika alias berhitung mulai perkalian, penjumlahan, pembagian, pengurangan dengan tepat. Murid-murid yang jawabannya salah dipukul jarinya dengan mistar. Tidak terlalu sakit, tapi lumayan menggigit. Hehehe...
Sistem pendidikan ala guru-guru lama memang keras. Guru-guru lawas, yang sudah pensiun semua ini, lulusan Sekolah Guru Atas (SGA), Sekolah Guru Bawah (SGB), Sekolah Pendidikan Guru (SPG), dan Kursus Pendidikan Guru (KPG). KPG ini merupakan kursus atau diklat singkat penyetaraan ijazah bagi guru-guru tamatan SGA dan SGB. Jika sudah lulus KPG, maka ijazahnya dianggap setara dengan SPG.
Cara mendidik mereka cenderung keras. Mencontoh guru-guru Belanda yang juga sangat keras. Pakai hukuman badan, meskipun kesalahan murid-murid sebenarnya sangat sepele.
Apakah sistem lama yang main pukul atau tempeleng ini masih relevan? Saya kira guru-guru di NTT perlu introspeksi. Sebab, zaman sudah jauh berubah. Pendekatan kekerasan makin ditolak di mana-mana.
Masyarakat NTT pun makin berubah dengan makin mudahnya akses informasi. Sistem lama yang keras tak laku lagi. Para orangtua pun tidak bisa lagi main pukul atau menyiksa anak-anaknya yang membuat kesalahan.
Memarahi anak-anak dengan suara tinggi, berteriak, kemudian memukul... adalah masa lalu. Kita hendaknya mulai membangun budaya baru yang lebih canggih dan beradab.

Waktu saya SD dan SMP katolik di Surabaya, guru-guru lulusan SGA, SPG, masih menggunakan hukuman badan (corporal punishment) ala jaman Belanda. Bila salah, murid2 diseblak kakinya dengan rotan, dipukul jarinya dengan penggaris, dijewer godhek(cambang)-nya atau ditempeleng kepalanya dengan telapak tangan. Waktu SD kita jadi takut, tapi begitu SMP dan badan tumbuh besar, kita jadi dendam dan beberapa malah melawan. Di Amerika Serikat, sejak TK sampai SMA kelas satu sekarang anak saya tidak satu kali pun pernah dipukul/dicubit/ditempeleng atau diteriaki oleh guru2nya. Karena memang hukuman badan dan teriakan tidak terbukti sama sekali untuk memperbaiki kelakuan anak. Hendaknya guru2 dan orang2tua di Indonesia menggunakan metode2 modern yang lebih menekankan komunikasi, konsekuensi (nilai, privilese anak dikurangi atau diambil) yang konsisten, dengan berdasarkan kasih sayang.
ReplyDelete