30 January 2012

Dokter Edhy Listiyo CEO RS Adi Husada Surabaya



Oleh LAMBERTUS LUSI HUREK

Sudah setahun lebih dr Edhy Listiyo MARS ditinggal selamanya oleh sang istri tercinta, Aily Laksmi. Namun, kecintaan CEO Rumah Sakit Adi Husada Surabaya ini terhadap mendiang Aily tak juga hilang. Sang dokter senior ini merasa seakan-akan Aily masih berada di sampingnya.


NAH, menjelang tahun baru Imlek 2563 ini, dr Edhi Listiyo meluncurkan memoar dalam bahasa Mandarin. Dicetak di atas art paper, edisi lux, buku ini merupakan kado terindah dr Edhy kepada sang istri, Aily Laksmi, yang meninggal pada 22 Oktober 2010.

Pria kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, 66 tahun silam ini memang begitu terpukul dengan kematian sang istri yang begitu mendadak. Saat itu Edhy sedang berada di Tiongkok untuk mengikuti sebuah kongres internasional.

Tiba-tiba Edhy menerima telepon dari Surabaya bahwa sang istri tercinta, Aily Laksmi, kolaps dan terjadi pendarahan otak. Meski sudah ditangani tim dokter, Tuhan berkehendak lain. Tiga hari kemudian Aily, wanita kelahiran Batu, 28 September 1945, ini berpulang untuk selamanya.

Sampai sekarang dr Edhy mengaku masih belum bisa melupakan kenangan manis dan bahagia bersama sang istri yang telah memberinya dua anak itu. Kepada Radar Surabaya, Kamis (19/1/2012), dr Edhy menunjuk foto-foto di dalam buku beraksara Tionghoa itu. Pose keduanya yang selalu tampak mesra dalam kondisi apa pun.

Berikut petikan wawancara khusus dengan dr Edhy Listiyo di ruang kerjanya.


Mengapa Anda membuat buku khusus tentang perjalanan hidup Anda bersama istri tercinta?

Begini. Dia itu pacar saya yang pertama dan terakhir. Sebaliknya, saya ini juga pacar dia yang pertama dan terakhir. Cinta kasih antara saya dan dia begitu mendalam. Kami sangat sulit dipisahkan. Hanya maut yang akhirnya memisahkan kami.

Apa lagi yang berkesan dari mendiang istri Anda?


Dia itu sosok yang sangat low profile. Kalau saya bicara di depan, dia duduk di belakang. Dia bilang, yang jadi direktur rumah sakit itu suami saya, bukan saya. Kalau belanja suka nawar. Tidak pernah beli barang yang mahal-mahal. Benar-benar low profile.

Kenalannya dulu di mana?


Kami satu sekolah di SMA Chung Chung Surabaya. Kemudian saya kuliah kedokteran, dia ambil Sastra Tionghoa. Makanya, dia menguasai tulisan resmi Mandarin. Beda dengan saya yang hanya bisa berbahasa Mandarin sehari-hari. Kalau perlu surat-surat atau dokumen resmi ke Tiongkok, saya minta bantuan dia. Jadi, terus terang, saya sangat-sangat kehilangan. Buku ini saya buat sebagai oleh-oleh untuk istri yang meninggal setahun lalu.

Ada misi khusus di balik penulisan buku ini?


Ada empat tujuan yang ingin saya sampaikan. Pertama, bagaimana menjadi istri teladan, istri yang sangat mendukung penuh karier dan pengabdian saya selama bertahun-tahun. Kedua, kasih sayang antara kami berdua sangat-sangat mendalam. Cinta kasih itulah yang menjadi landasan kami dalam membentuk sebuah rumah tangga yang harmonis. Saya dan istri itu tidak bisa dipisahkan, dua orang tapi satu. Satu dalam banyak hal meskipun dua pribadi yang berbeda.

Ke mana-mana kami selalu berdua. Kalau lagi ke Tiongkok untuk konferensi atau acara lain pun kami selalu berdua. Ini yang membuat saya sedih karena terakhir ketika saya ke Tiongkok sendiri, istri saya nggak ada.

Ketiga, bagaimana saya memimpin Rumah Sakit Adi Husada. Keempat, bagaimana kita melayani Tuhan dengan sepenuh hati dan jiwa dalam tugas dan profesi kita. Saya ingin ide-ide dan cita-cit saya dan istri ini diteruskan oleh anak cucu di kemudian hari.

Berapa lama Anda menyiapkan buku ini?


Sekitar enam bulan. Saya menulis garis besarnya, kejadian-kejadiannya. Setiap saya baca ulang saya selalu menangis karena sangat menyentuh perasaan saya. Lalu, saya ke Beijing bertemu penerbit khusus buku-buku biografi. Ternyata setelah membaca, dia menangis juga. Berarti dia benar-benar bisa nyambung dengan perasaan saya. Nah, penerbit itulah yang menerbitkan buku saya dalam bahasa Mandarin.

Dicetak berapa? Dan kapan dibuat edisi Indonesia?


Dicetak terbatas, hanya 200 eksemplar. Tapi banyak yang ingin membaca, maka sekarang sedang dibuat edisi Indonesia. Yang menerjemahkannya staf Pendeta Stephen Tong. Untuk edisi Indonesia ini kemungkinan dicetak seribu eksemplar.

Terakhir, bagaimana saran Anda kepada generasi muda untuk mewujudkan keluarga bahagia dan harmonis?


Sederhana saja. Saya dan istri punya ikatan batin yang sangat dalam. Kami selalu bergandengan tangan kalau bepergian ke mana saja. Selalu ada kedekatan hati. Yang juga sangat penting, saya selalu pulang ke rumah.

Rumah itu sarangnya bahagia. Sesibuk apa pun bekerjan saya selalu usahakan untuk pulang. Dan kalau ada tugas di luar kota atau luar negeri, saya selalu mengajak istri saya. Komunikasi. Sama-sama rendah hati. Ini semua saya share di buku saya. (*)




Jualan Baju Keliling Pasar

BEGITU banyak pengalaman mengharukan yang dirasakan dr Edhy Listiyo dari sang mendiang istri, Aily Laksmi. Salah satunya adalah ketika sang istri hamil tua. Edhy masih harus kuliah dan ekonomi rumah tangga belum mapan.


“Sangat mengharukan karena istri saya tetap menjahit baju anak-anak untuk dijual keliling pasar demi menambah uang rumah tangga dan biaya kuliah saya,” kenang dokter yang menerima berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri itu.

Karena itu, dr Edhi menilai peranan sang istri, Aily, sangat besar dalam keberhasilan kariernya sebagai dokter. “Saya bisa jadi begini berkat keringat dari istri saya,” katanya.

Tak heran, pasangan suami-istri Edhy-Aily ini begitu lengketnya bagaikan prangko. Ke mana-mana selalu berdua, bergandengan tangan, ala orang sedang pacaran. “Saya dan istri selalu berkomunikasi melalui SMS baik pagi, siang, maupun malam hari,” katanya.

Ada lagi ritual rutin yang dilakukan Edhy-Aily untuk mempererat ikatan batin di antara mereka. Yakni, sama-sama merendam kaki di dalam air yang sudah diberi ramuan tradisional Tionghoa. Ritual rendam kaki ini dilakukan pada malam hari sepulangnya dr Adhy dari tempat kerja.

“Karena paginya kerja sampai malam, jadinya rendam kaki hanya dilakukan malam,” kenangnya. (rek)


5 comments:

  1. Kisah kasih yang sedalam lautan sampai maut memisahkannya. dr Edhy Listiyo dan almarhum isterinya, Aily Laksmi, telah memberi teladan bagi kaum muda untuk membina keluarga harmonis dan berbahagia pada saat kita prihatin banyak pasangan muda yang menikah di gereja namun kehidupan perkawinannya hanya bertahan 2 - 3 tahun.

    ReplyDelete
  2. luar biasa cinta kasih pak dr edhy dan almarhum istrinya. cerita yg sangat inspiratif untuk kita semua.

    ReplyDelete
  3. sisi lain dr edhy yg belum banyak diketahui orang. semoga pak dr edhy tetap semangat dan diberkati tuhan.

    ReplyDelete
  4. pak edhy juga pakar di bidang TCM. komitmen beliau pada pengobatan tradisional (timur) sangat besar. semoga sukses selalu.

    ReplyDelete
  5. Mudah-mudahan saya dan istri bisa seperti dr Edhy.

    ReplyDelete