03 January 2012

DI ATAS MAKAM MAMA TERCINTA




Saya duduk di atas makam mama tercinta, Maria Yuliana, di Bungamuda, Pulau Lembata, 1 Januari 2012. Makam yang berjejer dengan Nenek Ebong dan Kakek Samun.

Mama Yuli meninggal dunia di Ohe, Ile Ape, 15 Februari 1998. Itulah kali pertama saya melihat tahapan-tahapan seorang manusia yang akan pergi untuk selamanya. Mama sempat dirawat di Kupang, tap rupanya dokter angkat tangan. Lalu saya bersama ayah dan tiga adik membawa ibunda ke kampung halaman dengan feri. Turun di Larantuka, selanjutnya ke Ohe untuk dirawat mama bidan Bernadette, istri Bapak Thomas Hurek (sekarang almarhum).

Tapi rupanya Tuhan berkehendak lain. Mama akhirnya pergi untuk selamanya. Meninggalkan saya, Yus, Ernie, Is dan bapak. Mama pergi begitu cepat ketika saya belum bisa membalas jasa-jasanya.

Makam mama ini ibarat magnet tersendiri bagi saya. Setiap pulang kampung, saya selalu mampir. Bakar lilin, berdoa... atau hanya sekadar duduk-duduk melamun membayangkan masa kecil bersama mama.

Termasuk menulis catatan ini dengan ponsel. Maklum, sinyal di sini sangat lemah sehingga fungsi utama HP untuk menelepon atau sms tidak jalan sama sekali.

Begitu banyak sisa lilin di makam mama pertanda ada banyak doa untuk beliau di alam sana. Saya juga pamit kembali ke Surabaya karena jatah cuti sudah habis. Harus masuk kerja lagi tanggal 2 Januari 2012.

Tapi makam mama akan selalu jadi magnit untuk membawa saya kembali ke kampung halaman, lewotanah.





1 comments:

  1. kenangan masa kecil bersama orang tua memang manis, jadi ingat pada ibu nih...

    ReplyDelete

Silakan menulis komentar Anda di dalam kotak.Terima kasih banyak.