19 January 2012

Dahlan Iskan tetap menulis


Dahlan Iskan, menteri BUMN, ini memang luar biasa. Setelah jadi dirut PLN, kemudian menteri, beliau tetap produktif menulis. Pak Dahlan selalu saja menemukan ruang dan waktu untuk menulis di sela kesibukannya yang bukan main.

Catatan Dahlan Iskan selalu menarik dan sulit ditandingi wartawan atau penulis mana pun di negeri ini. Bahasanya sederhana, runut, enak, ngangeni. Tak heran begitu banyak orang, termasuk saya, yang ketagihan membaca Catatan Dahlan Iskan.

Ketika diangkat jadi dirut PLN, banyak penggemarnya yang khawatir Pak Dahlan tidak menulis lagi karena sibuk mengurus listri dari Sabang sampai Merauke. Tapi Pak Bos menjawab keraguan tersebut. Catatan-catatan Pak Bos tetap mengalir lancar. Membahas masalah listrik tapi tetap enak dibaca. Apa saja yang ditulis Pak Bos selalu menarik... dan bikin orang ketagihan saking asyiknya.

Maka, tidak salah kalau catatan Pak Dahlan sebagai dirut PLN itu dibukukan. Dan laris manis di pasaran.

Sekarang setelah jadi menteri BUMN, kesibukan Dahlan Iskan tentu berlipat ganda. Kalau sebelumnya hanya mengurus PLN, kini harus mengurus ratusan BUMN. Lalu, bagaimana membagi waktu untuk menulis catatan atau esai atau feature?

Namanya penulis kawakan (bukan sekadar wartawan, karena hanya sedikit wartawan yang benar-benar berbakat penulis), Pak Dahlan masih produktif. Tulisan-tulisannya dengan tema besar MANUFACTURING HOPE tetap mengalir lancar di Jawa Pos setiap Senin. Kualitasnya tetap terjaga.

Tulisan-tulisan Dahlan Iskan setelah jadi pejabat rata-rata di atas 8000 karakter. Ini menunjukkan kelas beliau sebagai maestro jurnalisme tutur yang brilian. Tak banyak orang, termasuk reporter yang kerjanya sehari-hari menulis, mampu melakukannya. Apalagi sebagus Dahlan Iskan.

Saya sering prihatin karena saat ini banyak wartawan yang kesulitan menulis dengan enak, runut, dan cerdas dalam 2000 karakter. Alih-alih 4000 atau 5000 karakter.

Semoga wartawan-wartawan Indonesia bisa belajar banyak dari maestro jurnalis asal Magetan ini. Bisa menulis kapan saja, di mana saja, dalam kondisi apa saja... dengan tetap menjaga kualitas.

NB: Catatan-catatan Dahlan Iskan bisa dibaca di dahlaniskan.wordpress.com

3 comments:

  1. Alangkah baiknya kalau setiap tulisan Dahlan Iskan dimuat dalam Blog Lambertus Hurek.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Catatan2 lengkap Dahlan Iskan bisa dibaca di dahlaniskan.wordpress.com.

      Terima kasih.

      Delete
  2. Saya ucapkan Congratulation kepada bapak Dahlan
    Iskan atas pengangkatannya sebagai Menteri BUMN.
    Semoga infrastruktur Indonesia bisa maju seperti China.
    Seorang teman SMA saya yang menetap di Kanada, dulunya belum pernah pergi ke Tiongkok untuk melihat negeri leluhurnya. Oleh karena itu dia, saya undang untuk jalan2 ke Tiongkok. Dia sempat keliling di Beijing, melihat Tian-an-men,
    Istana Kaisar, dll. Setelah itu dia, saya ajak keliling pulau Hainan. Saya sengaja membawa dia lewat jalan provinsi dan jalan kabupaten, menghindari jalan Tol. Dimobil dia terlena, tenger2, diam membisu. Saya tanya, ada apa Gog ?
    Dia bilang, gua jadi kangen sama mama-gua dan kampung halaman-gua, sebuah desa didekat Blitar.
    Lihatlah pemandangan alamnya seperti, kalau kita naik mobil dari Malang menuju Blitar.
    Lalu saya ajak dia keliling provinsi Yunnan. Dari Kunming ke Dali dan Lijiang, sewa mobil dengan pemandu wisata, amoy2 manis dari suku minoritas Naxi dan Bai. Kalau tidak sedang menggoda amoy, temanku tenger2 lagi. Gua tanya, kenapa lu diam saja. Dia bilang, sejak gua mendarat di Beijing dan sampai detik ini, gua kagum akan kemajuan pembangunan infrastruktur di China. Lu lihat saja, sampai dipuncak gunung dibangun jalan2 yang mulus, lebar, seperti jalan Tol. Jaringan listrik dan telekommunikasi sudah sampai diseluruh pelosok desa terpencil.
    Saya jadi tertegun, kagum, ternyata anak ndeso ini memiliki pandangan, wawasan yang sedemikian dalam. Pasti didalam benaknya ingin supaya Tanah Tumpah Darahnya Indonesia bisa memiliki infrastruktur seperti Tiongkok. Sayang sekali anak2 Hoakiao-Indonesia yang sedemikian cerdas, ahli dalam berbagai bidang, tidak pulang membangun Indonesia. Kita sering diskusi, mengeluh, begitu pesawat mendarat di Cengkareng, hati sudah menjadi gundah gulana. Takut dipersulit, takut dipungli, entahlah sebagai Hoakiao selalu terbayang pengalaman yang tidak mengenakkan semasa kita kanak2 dan remaja. Kalau pesawat mendarat di Beijing, Shanghai, Barcelona, Wien, Frankfurt, New York, London, Amsterdam,....dll. Hati merasa tentram, biasa2 saja. Teman2 saya adalah akademisi yang ahli dalam bidangnya masing2. Kita menusia2 yang tidak pernah melamun ingin menjadi kaya raya. Bekerja jadi pegawai, dapat gaji sepantasnya, sudah puas. Yang penting ayem, aman dan tentrem. Sekarang dapat uang pension, ya di-cukup2-kan.

    ReplyDelete