08 January 2012

Chandra Wurianto Penggerak Barongsai




Oleh Lambertus Hurek

Menjelang Tahun Baru Imlek ini, berbagai atraksi seni budaya Tionghoa bisa dinikmati di Surabaya. Salah satunya kejuaraan barongsai lantai di atrium ITC Mega Grosir. Kejuaraan tahunan yang sangat meriah ini tak lepas dari peran Chandra Wurianto, ketua Persatuan Seni dan Olahraga Barongsai Indonesia (Persobarin) Jawa Timur.


Chandra jugalah yang menghidupkan kembali barongsai di Surabaya setelah mati suri selama 30 tahun lebih. Berikut petikan percakapan Radar Surabaya dengan Chandra Wurianto di sela kejuaraan barongsai ITC Cup IV, kemarin (7/1/2011).

Bagaimana perkembangan barongsai di Jatim dalam 10 tahun terakhir?

Luar biasa. Peminatnya sangat banyak dan tersebar di berbagai kabupaten/kota. Begitu banyak anak-anak yang ikut berlatih barongsai, padahal sebelumnya mereka tidak kenal olahraga dan kesenian ini. Anda bisa lihat di kejuaraan barongsai lantai ITC Cup ini saja pesertanya ada 74 tim. Saya kira ini merupakan salah satu kejuaraan barongsai terbesar dan paling teratur di Indonesia.

Rupanya pemain-pemain barongsai pascareformasi didominasi anak-anak dan remaja non-Tionghoa?

Nah, ini yang sangat membanggakan kami sebagai pengurus Persobarin. Barongsai dan liang-liong memang kesenian Tionghoa, tapi bisa dimainkan siapa saja dari etnis, ras, agama apa pun. Bahkan, barongsai ini sudah masuk dan dimainkan di beberapa pesantren di tanah air. Pada kejuaraan liang-liong tahun lalu ada sebuah tim yang hampir semua pemainnya pakai jilbab. Dan, supaya diketahui, barongsai ini olahraga yang tidak mengenal perbedaan gender atau usia. Laki-laki perempuan, anak-anak, remaja, dewasa, atau lansia bisa ikut kejuaraan yang sama.

Sudah berapa kali Anda menggelar kejuaraan barongsai seperti ini?

Sangat sering, khususnya setelah almarhum Gus Dur mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 ketika beliau menjabat presiden Republik Indonesia. Jadi, jasa Gus Dur itu sangat besar dalam perkembangan seni budaya Tionghoa di Indonesia. Kami bahkan pernah mengadakan kejuaraan dunia barongsai di Kenjeran.

Selama empat tahun terakhir kami bekerja sama dengan ITC untuk mengadakan kejuaraan barongsai dan liang-liong di Surabaya. Ini sudah jalan empat tahun dan menjadi agenda tetap untuk menyambut tahun baru Imlek. Nanti bulan Mei akan ada kejuaraan barongsai Wali Kota Cup untuk memeriahkan hari jadi Kota Surabaya. Kemudian akan ada kejuaraan liang-liong atau lion dance untuk memeriahkan Hari Pahlawan. Jadi, dalam setahun kami sudah punya tiga agenda kejuaraan rutin di Surabaya.

Bisa dikatakan Surabaya menjadi salah satu barometer barongsai di tanah air?

Persis. Sebab, organisasi barongsai bernama Persobarin ini kan lahir di Surabaya. Sejak awal Persobarin pusat dipimpin oleh Pak Dahlan Iskan sampai sekarang. Selama dipimpin Pak Dahlan barongsai ini berkembang pesat di seluruh penjuru tanah air. Makanya, pada kongres di Jakarta akhir tahun lalu Pak Dahlan dipilih kembali secara aklamasi sebagai ketua umum Persobarin. Nah, kami sebagai pengurus daerah berkewajiban untuk menghidupkan kegiatan barongsai secara teratur di Jawa Timur.

Menggelar kejuaraan tingkat nasional tentu membutuhkan biaya besar dan dukungan sponsor. Selama ini Anda mendapat bantuan dari mana?

Ya, dari teman-teman pengusaha, khususnya Paguyuban Masyarakat Tionghoa dan manajemen ITC Mega Grosir. ITC menyediakan tempat sehingga kami bisa mengadakan kejuaraan secara teratur. Para pengunjung juga senang karena bisa menikmati hiburan gratis. Dukungan juga datang dari Pemkot Surabaya sehingga kami bisa menggelar kejuaraan baongsai tonggak Wali Kota Cup.

Tapi mengapa tim barongsai Jatim sulit bersaing dengan Tarakan dan Jakarta?

Tarakan itu didukung penuh oleh donatur besar dan pemerintah daerah. Mereka sering ikut kejuaraan internasional di Malaysia karena memang secara geografis sangat dekat. Tapi kualitas tim-tim Surabaya dan Jatim pun makin lama makin bagus. Kita makin sadar bahwa sekarang ini sudah waktunya untuk meningkatkan prestasi dan kualitas.

Apa program konkret Anda di tahun 2012 ini?

Saya ingin menjadikan tahun 2012 ini sebagai tahun prestasi. Makanya, mulai tahun ini kita akan sering ke luar negeri untuk ikut kejuaraan internasional. Kita sudah siapkan pemain-pemain untuk berlaga di Malaysia, Hongkong, Tiongkok, Makau. Kalau hanya bermain di dalam negeri, nanti dibilang cuma jago kandang.

Apakah pemain-pemain kita sudah siap?

Ya, harus siap. Mereka kan sudah sering mengikuti kejuaraan-kejuaraan di tanah air dengan aturan internasional. Jadi, saya rasa pemain-pemain kita bisa mengharumkan nama Indonesia lewat barongsai di luar negeri. (*)


Main Barongsai Sembunyi-Sembunyi

KECINTAAN Chandra Wurianto pada barongsai tidak datang tiba-tiba. Sejak masih anak-anak di tanah kelahirannya, Samarinda, Kalimantan Timur, Chandra mengaku sudah menggeluti seni dan olahraga asal Tiongkok itu.

"Saya ini dulu memang pemain barongsai. Saya ikut latihan barongsai hampir setiap hari," kata Chandra Wurianto kepada saya.

Menurut dia, pada era 1960-an kehidupan barongsai di berbagai daerah di tanah air sangat semarak. Selain mengisi acara-acara yang berhubungan dengan hari-hari besar Tionghoa, kejuaraan barongsai dan liang-liong pun sering diadakan.

Dan tim barongsai dari Kalimantan Timur cukup sering memenangi kejuaraan baik di tingkat regional maupun nasional. Sampai sekarang pun tim barongsai Kaltim, khususnya dari Tarakan, masih merajai kejuaraan nasional barongsai. Ini tak lepas dari banyaknya bibit pemain dan proses regenerasi yang teratur di Kaltim.

Nah, ketika berusia 17 tahun, Chandra memilih merantau ke Surabaya. Pilihan yang terbilang 'nekat' ini dia lakukan untuk memperbaiki kehidupan ekonominya. Sejak itulah dia mulai menjauh dari dunia barongsai dan tenggelam dalam urusan pekerjaan. "Saya ini shio macan. Orang yang berjuang keras untuk tetap eksis dalam hidup," kata pria yang murah senyum ini.

Namanya juga pemain barongsai, Chandra kemudian merintis sasana barongsai di Surabaya. Mengumpulkan anak-anak muda untuk berlatih dan sekali-sekali pentas. Hanya saja, di era Orde Baru itu atraksi barongsai dan berbagai seni budaya Tionghoa tidak bisa dimainkan secara bebas di tempat terbuka.

"Kita hanya main sembunyi-sembunyi di lingkungan terbatas. Situasi saat itu memang tidak memungkinkan," kenangnya.

Syukurlah, reformasi politik kemudian membawa angin segar bagi seni budaya Tionghoa. Khususnya ketika Presiden Abdurrahman Wahid (almarhum) mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 yang selama tiga dasawarsa mengekang ekspresi budaya Tionghoa. Chandra bersama Yayasan Senopati pun mengisi momentum bersejarah ini dengan menghidupkan kembali barongsai yang mati suri sekian lama.

"Jadi, kita yang pertama kali mempopulerkan kembali barongsai di Surabaya," katanya.

Bukan itu saja. Bersama sejumlah tokoh masyarakat Tionghoa dan Dahlan Iskan, yang waktu itu chairman Jawa Pos Group, Chandra ikut mendirikan Persatuan Seni dan Olahraga Barongsai Indonesia (Persobarin). Maka, sejak itulah barongsai makin menggeliat di berbagai kota di tanah air. Chandra pun bangga karena olahraga kegemarannya semasa kecil kini dipentaskan di mana-mana. (rek)


CV SINGKAT CHANDRA WURIANTO

Nama : Chandra Wurianto
Lahir : Samarinda, 27 Agustus 1950
Shio : Macan
Anak : 2 orang
Pekerjaan : Pengusaha perkapalan dan ekspedisi
Jabatan : Ketua Persatuan Seni dan Olahraga Barongsai Indonesia (Persobarin) Jawa Timur

Organisasi
Persobarin
Yayasan Senopati
Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya
Perhimpunan Pengusaha Indonesia Tionghoa (Perpit) Jatim
Yayasan HM Cheng Hoo Indonesia


DIMUAT RADAR SURABAYA, Minggu 8 Januari 2011

1 comment:

  1. Dari 1-8 Januari 2012, telah ditulis 16 artikel yang menarik, sunguh produktif!


    Efendi

    ReplyDelete