12 January 2012

Bupati Tionghoa di Lembata


Bupati Yance bersama istri (dr Margie Kandou) dan putrinya.

Ada yang unik dan menarik di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, kampung halaman saya. Kabupaten hasil pemekaran Flores Timur ini sekarang dipimpin Bupati Yance Sunur yang etnis Tionghoa. Wakil bupatinya Viktor Mado Watun etnis Lamaholot alias pribumi.

Yance-Viktor baru dilantik pada 25 Agustus 2011 setelah memenangi pemilukada putaran kedua. Baik Yance maupun Viktor sama-sama kader PDI Perjuangan.

Yang menarik lagi, ketua DPRD Lembata pun orang Tionghoa. Ada pula Tarsisia Hany Candra, anggota DPRD Lembata, yang juga Tionghoa. Hany dikenal sebagai perempuan cerdas dan tak banyak bicara.

Bagaimana mungkin Lembata bisa diperintah politisi Tionghoa, padahal etnis jawara dagang ini kurang dari 2 persen? Ini membanggakan saya sebagai putra asli Lembata. Bahwa masalah rasial atau etnisitas atau SARA tidak ada lagi di Lembata. Asas kompetensi dan meritokrasi sudah diterapkan di pulau terpencil itu.

Orang Lembata di sembilan kecamatan itu sudah sangat dewasa. Tidak termakan hasutan atau isu rasial yang sempat dicuatkan sejumlah politisi (lawan Yance-Viktor) saat kampanye. Rakyat sudah memilih secara langsung dan Yance Sunur adalah pemenangnya.

Kalau ditelusuri, Yance sebetulnya bukan Tionghoa totok yang baru datang dari Tiongkok. Leluhurnya sudah bercampur dengan DNA Lamaholot. Saya bahkan kaget ketika diberi tahu kalau ada leluhur Yance yang bermarga Paokuma, suku di Ileape.

Yance besar di Kedang meski berkarir di Bogor, Jawa Barat. Karena itu, dia fasih bahasa Kedang. Saat kampanye di kampung-kampung Yance menyampaikan pesannya dalam bahasa daerah. Calon-calon yang mengaku pribumi justru berbahasa Indonesia. Hehehe...

Didukung istrinya yang dokter, Margie Kandou, Yance menarik hati rakyat dengan bakti sosial pengobatan gratis. Juga ada dukungan logistik yang cukup. Ditambah citranya sebagai politisi bersih karena selama ini berkiprah di luar Lembata.

Sekarang tinggal Bupati Yance membuktikan janjinya untuk membangun lewotanah. Memajukan Lembata, salah satu kabupaten pemekaran yang dinilai tidak sukses.

Secara tidak langsung kepemimpinan Yance juga sebuah taruhan bagi warga Tionghoa untuk membuktikan diri. Bahwa memerintah di Lembata itu mengabdi demi kemajuan rakyat Lembata. Selamat bekerja Bung Yance!







4 comments:

  1. sangat menarik tulisan singkat ini. kita jadi tahu tentang masyarakat Flores yg toleran dan terbuka terhadap warga Tionghoa.

    ReplyDelete
  2. Abdulrahman Husain3:37 AM, October 22, 2012

    Luar biasa tulisan anda tentang lembata dan sohibku yen sang bupati lembata.saya dari balauring binongko, teman sepermainan setempat tidur ketika anak-anak,remaja bahkan ketika saya kuliah dimalang si yen ini tinggal di kost, demi sang pacar anak baba tenti yang ternyata tidak menjadi istrinya.

    saya dapat mengenal kembali sohib saya tersebut lewat tulisan anda,terima kasih.

    ReplyDelete
  3. YANG PALING PENTING ADALAH APAKAH BUPATI SUNUR BISA MEMBUAT LEMBATA LEBIH MAJU SEHINGGA RAKYAT BISA BEKERJA DI KAMPUNG, TIDAK PERLU MERANTAU KE MALAYSIA? INI MERUPAKAN TARUHAN BAGI BUNG SUNUR UNTUK MEMBUKTIKAN BAHWA ORANG TIONGHOA LEBIH PANDAI MENGELOLA KABUPATEN LEMBATA.

    ReplyDelete