17 January 2012

Buat api pakai bambu


Sekarang sudah zaman internet. Koneksi internet di pelosok Lembata, khususnya Bungamuda dan Napaulun alias kampung lama sudah bisa meskipun lambat. Tapi tradisi zaman baheula masih juga dilakukan.

Akhir Desember 2011 saya bersama empat orang lain mengunjungi rumah adat alias lango beruin di Napaulun. Rumah adat suku Hurek Making subsuku (rie) Langotukan itu mangkrak. Terlalu lama tidak dikunjungi orang.

Maka, sebagai orang Lamaholot, langkah pertama adalah PARIK APE atau menyalakan api di tungku. Tungku yang mengepul, ada bara api, sebagai pertanda kehidupan.

Sayang, waktu itu kami lupa membawa korek api karena memang tidak ada yang merokok. Lalu, bagaimana tradisi parik ape? Ehm... pikir punya pikir, cara kuno ala nenek moyang pun terpaksa dipraktikkan lagi.

Sederhana saja. Bikin api pakai bambu. Dua belahan bambu digosok-gosok dengan keras agar menghasilkan panas. Di bagian bawah lubang kita tempel sabut kelapa kering untuk menangkap panas itu.

Jika bambu itu digesek terus-menerus, dengan kuat, maka lama-kelamaan akan keluar asap dari sabut itu. Kita tinggal meniup saja.. dan api pun menyala.

Cara lama ini masih dipraktikkan hingga tahun 1980-an, khususnya mereka yang tinggal di oring alias pondok yang jauh dari permukiman penduduk. Saat ini sudah tak ada lagi yang melakukan, kecuali dalam kondisi darurat.

Orang Lembata yang pulang kampung sering kali menemui rumahnya kosong atau mangkrak. Maka, langkah pertama untuk mengusir kemangkrakan, sekaligus isyarat ada orang di rumah, adalah parik ape. Bikin tungku di dapur menyala karena orang Lamaholot punya tradisi paki tungku, bukan kompor minyak tanah atau kompor gas atau kompor listrik.

Pelajaran moral: Kalau jalan-jalan di pelosok Lembata, jangan lupa bawa korek api!

No comments:

Post a Comment