15 January 2012

Pauline Poegoeh Soprano Surabaya



Oleh Lambertus Hurek

Tidak banyak anak muda di tanah air yang menekuni seni vokal klasik atau yang lebih dikenal dengan seriosa. Maka, PAULINE POEGOEH (27 tahun) boleh dibilang 'manusia langka'. Dia konsisten menggeluti seriosa sejak 2001.

Selama 10 tahun Pauline Poegoeh memukau pencinta musik klasik di Kota Surabaya dengan suara soprannya yang powerful. Soprano kelahiran Surabaya ini selalu menjadi bintang dalam konser-konser rutin yang digelar Surabaya Symphony Orchestra (SSO).

Maklum, gadis 27 tahun ini merupakan vokalis andalan Solomon Tong, dirigen sekaligus pendiri SSO. Tong bahkan menyebut Pauline sebagai salah satu soprano terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini.

"Pauline sudah pernah membawakan berbagai aria operasi karya komponis-komponis ternama seperti Mozart, Beethoven, Verdi, Puccini, Catalani dengan sangat meyakinkan. Termasuk yang tingkat kesulitannya tinggi," puji Solomon Tong.

Pujian Tong rasanya tak berlebihan. Dalam setiap pergelaran SSO, rata-rata 3-4 kali setahun, penonton senantiasa dibuat terpukau dengan suara sopran Pauline yang lantang dan bertenaga. Dengan teknik vokal prima, dia bisa dengan enteng menaklukkan nada-nada tinggi. Tak ayal, aplaus panjang pun terdengar setiap kali Pauline menyelesaikan lagu.

Selepas konser, sebagian penonton pun tak langsung pulang, tapi lebih dulu menyalami Fu Huaxiu, nama lain Pauline Poegoeh. Itu pula yang terlihat ketika Pauline menggelar resital yang diiringi SSO belum lama ini di Hotel Shangri-La Surabaya. Penonton berjubel meski lagu-lagu yang dibawakan Pauline bukanlah lagu-lagu jenis hiburan yang mudah dicerna penonton awam.

SUDAH BERAPA KALI ANDA MENGGELAR RESITAL?

Tiga kali. Resital pertama Juni 2004, kedua September 2005, dan ketiga November 2011. Puji Tuhan, resital-resital saya selalu dipenuhi penonton. Ini membuat saya bangga dan semakin termotivasi untuk menekuni musik klasik, khususnya seni vokal.

BERAPA LAMA ANDA MEMPERSIAPKAN RESITAL ITU?

Tidak begitu lama sebetulnya. Hanya sekitar dua atau tiga bulan saja. Itu pun tidak terlalu intensif karena saya kan harus mengajar, juga ada kesibukan-kesibukan lain.

YANG MENENTUKAN REPERTOAR DI RESITAL ITU ANDA SENDIRI ATAU SOLOMON TONG?

Saya dan Pak Tong. Beliau kan guru dan pelatih saya. Hehehe… Pak Tong juga yang membuat orkestrasi untuk delapan dari 13 komposisi yang saya bawakan. Jadi, peranan Pak Tong memang sangat menentukan. Saya bisa bikin resital juga berkat dukungan beliau dan SSO.

DALAM RESITAL KEMARIN ANDA MEMBAWAKAN 13 LAGU DALAM LIMA BAHASA TANPA TEKS. BAGAIMANA ANDA BISA MENGUASAI BAHASA-BAHASA ASING ITU?

Ya, berlatih dan berlatih. Saya belajar dari internet, Pak Tong, tanya ke orang-orang yang tahu, dan sebagainya. Saya harus hafal lirik-lirik lagunya agar bisa tampil optimal di atas panggung. Menyanyi sambil membaca teks itu sebetulnya kurang bagus.

SELAMA 10 TAHUN MENJADI PENYANYI SERIOSA, BAGAIMANA ANDA MENILAI APRESIASI MASYARAKAT SURABAYA TERHADAP SENI VOKAL KLASIK DAN MUSIK KLASIK UMUMNYA?

Sudah makin bagus meskipun masih kalah jauh dengan di luar negeri. Konser-konser klasik di Surabaya, termasuk resital saya, selalu penuh. Ini menunjukkan bahwa apresiasi musik masyarakat kita sudah meningkat. Cuma masih banyak hal yang perlu kita benahi agar bisa bersaing dengan luar negeri.

TIDAK SULIT MENCARI CD/VCD KLASIK DI INDONESIA?

Sulit. Kalaupun ada, koleksinya sangat terbatas. Saya biasanya pesan dari luar negeri, khususnya Singapura. Syukurlah, sekarang ini sudah ada internet sehingga kita bisa memperkaya referensi musik.

ANDA SENDIRI SUDAH MERILIS BERAPA ALBUM?

Empat. Semuanya berisi konser-konser saya di Surabaya.

ALBUM-ALBUM ITU BISA DIJUAL DI PASARAN?

Distribusinya tentu berbeda dengan album-album pop atau dangdut. Album-album saya ini dikoleksi oleh komunitas yang sangat khusus. Biasanya cukup ramai ketika dijual di acara konser-konser SSO.

KABARNYA, ANDA JUGA AKTIF MENJADI GURU VOKAL. ENAK MANA JADI GURU ATAU VOKALIS?

Sama-sama enak dan punya tantangan sendiri-sendiri. Sebagai guru, saya harus mengajar siswa mulai anak-anak taman kanak-kanak sampai lansia. Ini merupakan tantangan yang harus saya hadapi. Saya senang karena sudah ada beberapa murid saya yang sudah berhasil sebagai penyanyi. (rek)





BERLATIH KERAS SEJAK ANAK-ANAK

SEJAK kecil Pauline Poegoeh memang sudah suka musik, khususnya seni suara. Talenta musiknya ini kemudian disalurkan dengan menjadi anggota paduan suara anak-anak Gereja Elyon Surabaya. Gereja yang hampir semua jemaatnya keturunan Tionghoa ini kebetulan punya banyak guru musik dan vokal yang hebat seperti Solomon Tong dan istrinya, Ester Karlina Magawe.

Nah, di usia sangat belia itu, Pauline belajar piano pada Ester Karlina. Bocah ini cepat sekali mengalami kemajuan dibandingkan teman-teman sebayanya. Bukan itu saja. Sejak kecil gadis berbadan subur ini punya kemampuan menyanyi di atas rata-rata.

Latihan vokal yang diperoleh di kor anak-anak membuatnya bisa membawakan lagu-lagu klasik dengan tingkat kesulitan tinggi. Potensi dan bakat besar ini tentu saja lekas terpantau Ester yang juga pianis Surabaya Symphony Orchestra (SSO) itu. Maka, pada usia 14 tahun Pauline langsung digembleng oleh Solomon Tong. Guru vokal senior dan tokoh musik klasik Surabaya ini kebetulan baru mendirikan SSO pada akhir 1996.

"Pauline ini memang sangat hebat. Bakat menyanyi luar biasa sehingga dia bisa menguasai teknik vokal klasik dengan sangat cepat," kenang Solomon Tong.

Keberadaan Pauline tentu saja menjadi berkah bagi SSO yang saat itu memang belum punya soprano tetap. Sebagai orkes simfoni, SSO dituntut memiliki home singer untuk mengisi konser-konser rutin sepanjang tahun.

Dan itu tidak gampang. Sebab, Tong mendambakan vokalis serbabisa yang mampu membawakan aneka jenis lagu, mulai seriosa Indonesia, nyanyian Tionghoa, hingga petikan opera yang sangat rumit dan panjang. Tong pun dengan telaten membagikan ilmu vokalnya kepada gadis yang juga dipanggil Fu Huaxiu ini.

"Puji Tuhan, Pauline ternyata bisa menjawab tantangan saya," kata pria yang sudah 54 tahun membaktikan hidupnya untuk musik klasik itu.

Merasa anak asuhnya sudah siap tampil di depan publik, Pauline mulai diperkenalkan Tong dalam konser ke-15 SSO pada 2001. Saat itu dia menjadi penyanyi utama alias leading voice singer. Belum bisa tampil bersama full orchestra.

Menurut Tong, seorang vokalis klasik harus dipersiapkan sungguh-sungguh sebelum bisa tampil bersama orkes simfoni. Tidak bisa instan. Maka, Pauline masih terus menjalani latihan intensif bersama Solomon Tong.

"Dia juga berlatih membawakan lagu-lagu yang akan ditampilkan oleh penyanyi tamu baik dari dalam maupun luar negeri," tutur Tong.

Gemblengan yang tergolong sangat keras ini, menurut Tong, merupakan bekal berharga untuk karir musiknya di masa depan. Dan itu sangat langka di Kota Surabaya, bahkan Indonesia.

Setelah melalui proses pelatihan yang panjang, barulah Pauline dipercaya tampil bersama SSO, full orchestra, pada konser ke-25. Sambutan penonton, termasuk kalangan ekspatriat, sangat meriah. Telah lahir seorang penyanyi opera dengan karakter suara coloratura soprano yang dahsyat.

Sejak itulah Pauline hampir tak pernah absen dalam konser-konser SSO di Surabaya. Porsi dan tingkat kesulitan lagu yang disodorkan Tong pun makin lama makin berat. Toh, Pauline mampu membawakannya dengan enjoy. "Sangat jarang mendapat penyanyi yang punya kualitas seperti Pauline," kata Tong.

Tak hanya digembleng Tong, Pauline juga kerap mengikuti master class yang diberikan para guest singer. Pada Juni 2004, Pauline mendapat kesempatan mendalami ilmu vokal di University of Taichong, Taiwan. Di sana dia dibina secara khusus oleh Dr Yi Lin-Hsu dan Prof Dr Judy. Di negeri Formosa itu Pauline juga memperdalam bahasa Mandarin.

Tak heran, bahasa Mandarin cewek murah senyum ini kian fasih saja. Ketika membawakan lagu-lagu Tiongkok, lafalnya fasih seperti Zhongguo ren saja. Ini terasa ketika Pauline membawakan lagu Chun Thian Lai Le dan Na Ciu Se Wo di Hotel Shangri-La belum lama ini. (HUREK)


Dimuat Radar Surabaya edisi Minggu 15 Januari 2012.

2 comments:

  1. Mengapa tiada ulasan mengenai penampilan Surabaya Symphony Orchestra, di Shangrila Hotel Surabaya, 1 Mei 2012? Apa yang sedang terjadi ?

    ReplyDelete
  2. Iya Pak Efendi, saya tidak nonton karena beberapa teman tugas di luar negeri, ada yang umrah, sehingga saya tidak bisa ambil libur sehari pun. Terpaksa kali ini gak nonton SSO. Ulasannya pun tidak bisa buat.

    Terima kasih atas perhatian sampean.

    rek

    ReplyDelete