15 January 2012

Bertemu Perantau Malaysia Timur


Kaget juga saya ketemu Frans Hurek, teman SD, di Mawa pada malam Natal. Saya benar2 pangling. Badannya gemuk, overweight, wajahnya beda dengan 20-an tahun lalu.

Juga kaget karena dia bercelana pendek, baju santai, belum mandi. Padahal, semua orang lagi bersiap ke gereja untuk misa malam Natal. Saya sendiri sudah siap dengan baju batik murah kelas Pasar Turi.

Kami pun minum kopi, ada kue. Kaget juga karena Frans bicara dalam bahasa daerah (Lamaholot) fasih. Beda dengan perantau2 lain yang suka berbahasa Melayu Malaysia, lupa bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerah.

Kawin dengan wanita Malaysia di Sabah, Frans tergolong sukses. Dia bisa mudik ke kampung secara teratur. Kali ini bersama istri dan seorang anaknya.

"Saya ajak anak istri agar mereka tahu kampung halaman saya," katanya. "Kalau anak saya cuti, dan saya ada rezeki, saya usahakan pulang kampung."

Ucapan yang menarik. Mengapa? Orang2 Lembata atau Flores yang merantau di Malaysia biasanya sangat jarang yang pulang kampung secara teratur. Ada yang 10 tahun, 20 tahun, bahkan 30 tahun tak pulang-pulang. Ada yang merantau sejak lulus SD, usia belasan tahun, dan sampai meninggal dunia di usia senja di Malaysia.

Ada lagi cerita Frans yang membuat saya hidung kembang. Katanya, anak-anak perantau asal Lembata atau Flores Timur di Malaysia Timur selalu membaca blog saya. Mereka jadi tahu sedikit suasana dan keadaan di Lembata atau Flores Timur setelah membaca saya punya blog.

"Ketika mereka cari informasi di Google, ketemunya di laman Anda. Anak-anak muda ini terkejut karena ternyata begitu banyak informasi tentang Lewotanah (kampung halaman) di blog Anda," kata Frans yang waktu anak-anak senang jadi kernet mobil ke Lewoleba ini.

Ehmmm... saya merasa tersanjung dengan pengakuan Frans. Yah, paling tidak saya sudah ikut membantu memberikan informasi sekadarnya tentang kampung halaman.




1 comment:

  1. Teruskan karyanya, Ama...aku dukung koq.


    Dari Syed Putra, Semenanjung Malaysia.

    ReplyDelete