11 January 2012

Atap Seng di Lembata


Gereja Stasi Tokojaeng, Lembata, yang beratap seng.

Pada 1980-an rumah-rumah di Lembata, khususnya di Kecamatan Ileape, sangat sederhana. Berlantai tanah. Atap daun kelapa atau daun lontar atau alang-alang. Berdinding belahan bambu alias gedhek.

Hanya segelintir rumah yang pakai tembok. Itu pun hanya setengah tembok. Bagian atas tetap bambu dengan atap alang-alang. Kapela alias gereja kecil di Mawa dulu pun beratap alang-alang, berdinding bambu, berlantai pasir. Sangat sederhana.

Tapi berkat jasa para perantau di Malaysia Timur, rumah-rumah di kampung pelan-pelan dirombak. Dibuat lebih bagus. Ditembok utuh baik itu pakai batako atau batubata maupun dicor. Atapnya pakai SENG, bukan genting, apalagi alang-alang.

Seng dianggap jauh lebih tinggi kelasnya ketimbang genting atau alang-alang atau daun kelapa dan daun lontar. Orang yang rumahnya beratap seng dianggap lebih hebat. Maka, seng pun makin populer dan pelan-pelan menggusur alang-alang, daun kelapa atau daun siwalan.

Kearifan lokal khas Lamaholot kian tergusur. Ironis, karena suhu udara di Lembata tergolong panas. Angin pantai pun tak mampu mendinginkan suhu di dalam rumah. Ketika panas terik, seng menyerap panas dengan sempurna. Maka, hawa di dalam ruangan pun jadi panas tak karuan. Sudah pasti mandi keringat.

Jika turun hujan, wah ributnya bukan main. Seng yang logam itu menimbulkan bunyi aneh. Bikin sengsara kalau hujannya lama pada malam hari saat orang enak-enakny tidur. Tentu saja mereka yang rumahnya pakai atap alang-alang bisa tidur dengan nyenyak.

Begitulah. Entah siapa yang memulai, akal sehat di bidang arsitektur sudah lama hilang di Lembata. Orang begitu memuja seng sebagai atap yang tahan lama meski bising dan bikin panas. Maka, ketika bercuti di kampung belum lama ini saya memilih tidur di ORING, pondok sederhana beratap daun kelapa dan daun lontar di luar rumah. Sejuk dan nyaman banget.

Saya sempat mengantar ayah ke RSUD Lembata di Lamahora pada 31 Januari 2011. Wuih, rumah sakit baru ini beratap seng. Termasuk lorong-lorongnya yang rendah. Panas nian siang itu! Puanassss!

1 comment:

  1. Wah ini sih trend se-NTT, di Kupang juga saya lihat kebanyakan memilih atap seng. Apakah karena bahan untuk membuat genteng tidak tersedia ?

    ReplyDelete