30 January 2012

Mengapa rindu hatiku tiada tertahan?



Rindu...
Mengapa rindu hatiku tiada tertahan?
Kau tinggalkan aku seorang...

Orang Sidoarjo itu gila dangdut. Di semua desa di 18 kecamatan pasti ada orkes melayu alias dangdut. Maka, tak heran Bupati Sidoarjo Saiful Ilah pun suka dangdut. Juga suka naik panggung untuk menyanyikan lagu dangdut.

Saya perhatikan, sejak dulu Pak Saiful selalu membawakan lagu RINDU. Dangdut lawas ciptaan Ali Alatas, kalau tidak salah, yang juga tinggal di Sidoarjo.

Pak Bupati ini orang kaya, raja tambak, jauh sebelum menjadi wakil bupati pada 2000. Sepuluh tahun jadi wabup, Pak Saiful kemudian menang mutlak dalam pemilihan bupati pada 2010.

Mengapa selalu nyanyi Rindu? Kok tidak pernah lagu lain? Mungkin karena hanya hit 1970-an itulah yang dihafal. Lumayan, buat menghibur rakyat di Sidoarjo yang terkena lumpur panas Lapindo sejak 2006.

Yang menarik, Pak Saiful kalau diminta nyanyi selalu mengajak pasukan. Mulai wakil bupati, kepala2 dinas, sekwilkab, hingga camat2. Panggung pun penuh.

Minggu 29 Januari 2012 Pak Saiful kembali menyanyikan Rindu di alun-alun. Acara hari jadi ke-153 Kabupaten Sidoarjo. Abah ditemani wabup, sekwilkab, dan pejabat lain.

"Saya minta semua penyanyi untuk menemani saya," pinta bupati. Lima pedangdut cewek OM Rollista pun ramai2 menemani Pak Saiful menyanyi.

Suara sang bupati pun tenggelam. Yang penting, semua gembira.

"... akan kucari walau ke mana, kini aku berkelana..
ke ujung dunia akan kucari.
Engkau pergi tiada pesan, kabar darimu kunantikan..."

Mudah-mudahan acara goyang dangdut di alun-alun ini tidak membuat kita lupa nasib ribuan warga korban lumpur Lapindo!

Evi penyanyi dangdut Rollista


Namanya Evi, asal Mojosari, Mojokerto. Karena ikut OM Rollista, Evi lebih dikenal di panggung sebagai Evi Rollista.

Suaranya oke, goyangannya boleh juga. Cuma kurang tinggi untuk ukuran artis dangdut yang perlu postur dan penampilan di atas rata2. Seksinya juga... lumayanlah.

Saya kenal Evi dan suaminya, pemain keyboard OM Rollista, yang sering ditanggap bersama sang istri. Seperti penyanyi2 dangdut di Jatim umumnya, Evi ngamen ke mana2. Mulai dari kampung tambak, kawasan pabrik gula, alun2, hingga pub dan kafe di Surabaya.

"Namanya rezeki ya jangan ditolak. Kita harus bisa menghibur siapa saja," kata Evi yang enggan mengungkap honornya.

Dunia artis, apalagi dangdut, memang gemerlap, tapi juga nelangsa dan penuh godaan. Melihat penampilan seksi, genit, lirik2 lagu yang nakal, pengunjung kafe sering bikin ulah. Apalagi kalau sudah mabuk berat. Maklum, pub dan kafe di kota memang tempatnya orang mabuk.

Bagaimana cara menghadapi pengunjung yang macam2 atau minta lebih? Evi mengaku punya jurus ampuh untuk menepis rayuan mabuk om2 pemabuk itu. Ada teknik khusus yang sifatnya win-win solution. Jangan sampai kehilangan penggemar, tapi juga jangan sampai dianggap wanita nakal atau pekerja seks.

Eva bersyukur karena selalu didampingi suami saat bernyanyi. Suami main keyboard, dia nyanyi dan bergoyang ria. Sang suami ibarat body guard paling setia. Tapi ini, di sisi lain, kurang menguntungkan karena laki2 iseng tak akan berani terlalu geer dan mengobral uang kepada Evi.

Tidak ingin jadi artis terkenal macam Ayu Ting Ting? "Siapa sih gak ingin terkenal di seluruh Indonesia?" sergahnya.

Vokalnya tidak kalah dengan si Alamat Palsu itu. Tapi nasib dan jalan hidup orang memang lain2. Ayu Ting Ting pun tidak menyangka bisa terkenal dan bikin heboh seperti sekarang.

"Doain aja ya," kata Evi yang begitu sopan di luar panggung. Di atas panggung, wuih, gayanya terkesan liar dan nakal.

Untung saya tidak bisa joget dan malu naik panggung. Kalau tidak saya jadi bulan2an si artis dangdut ini. Rollista!!!

Dokter Edhy Listiyo CEO RS Adi Husada Surabaya



Oleh LAMBERTUS LUSI HUREK

Sudah setahun lebih dr Edhy Listiyo MARS ditinggal selamanya oleh sang istri tercinta, Aily Laksmi. Namun, kecintaan CEO Rumah Sakit Adi Husada Surabaya ini terhadap mendiang Aily tak juga hilang. Sang dokter senior ini merasa seakan-akan Aily masih berada di sampingnya.


NAH, menjelang tahun baru Imlek 2563 ini, dr Edhi Listiyo meluncurkan memoar dalam bahasa Mandarin. Dicetak di atas art paper, edisi lux, buku ini merupakan kado terindah dr Edhy kepada sang istri, Aily Laksmi, yang meninggal pada 22 Oktober 2010.

Pria kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, 66 tahun silam ini memang begitu terpukul dengan kematian sang istri yang begitu mendadak. Saat itu Edhy sedang berada di Tiongkok untuk mengikuti sebuah kongres internasional.

Tiba-tiba Edhy menerima telepon dari Surabaya bahwa sang istri tercinta, Aily Laksmi, kolaps dan terjadi pendarahan otak. Meski sudah ditangani tim dokter, Tuhan berkehendak lain. Tiga hari kemudian Aily, wanita kelahiran Batu, 28 September 1945, ini berpulang untuk selamanya.

Sampai sekarang dr Edhy mengaku masih belum bisa melupakan kenangan manis dan bahagia bersama sang istri yang telah memberinya dua anak itu. Kepada Radar Surabaya, Kamis (19/1/2012), dr Edhy menunjuk foto-foto di dalam buku beraksara Tionghoa itu. Pose keduanya yang selalu tampak mesra dalam kondisi apa pun.

Berikut petikan wawancara khusus dengan dr Edhy Listiyo di ruang kerjanya.


Mengapa Anda membuat buku khusus tentang perjalanan hidup Anda bersama istri tercinta?

Begini. Dia itu pacar saya yang pertama dan terakhir. Sebaliknya, saya ini juga pacar dia yang pertama dan terakhir. Cinta kasih antara saya dan dia begitu mendalam. Kami sangat sulit dipisahkan. Hanya maut yang akhirnya memisahkan kami.

Apa lagi yang berkesan dari mendiang istri Anda?


Dia itu sosok yang sangat low profile. Kalau saya bicara di depan, dia duduk di belakang. Dia bilang, yang jadi direktur rumah sakit itu suami saya, bukan saya. Kalau belanja suka nawar. Tidak pernah beli barang yang mahal-mahal. Benar-benar low profile.

Kenalannya dulu di mana?


Kami satu sekolah di SMA Chung Chung Surabaya. Kemudian saya kuliah kedokteran, dia ambil Sastra Tionghoa. Makanya, dia menguasai tulisan resmi Mandarin. Beda dengan saya yang hanya bisa berbahasa Mandarin sehari-hari. Kalau perlu surat-surat atau dokumen resmi ke Tiongkok, saya minta bantuan dia. Jadi, terus terang, saya sangat-sangat kehilangan. Buku ini saya buat sebagai oleh-oleh untuk istri yang meninggal setahun lalu.

Ada misi khusus di balik penulisan buku ini?


Ada empat tujuan yang ingin saya sampaikan. Pertama, bagaimana menjadi istri teladan, istri yang sangat mendukung penuh karier dan pengabdian saya selama bertahun-tahun. Kedua, kasih sayang antara kami berdua sangat-sangat mendalam. Cinta kasih itulah yang menjadi landasan kami dalam membentuk sebuah rumah tangga yang harmonis. Saya dan istri itu tidak bisa dipisahkan, dua orang tapi satu. Satu dalam banyak hal meskipun dua pribadi yang berbeda.

Ke mana-mana kami selalu berdua. Kalau lagi ke Tiongkok untuk konferensi atau acara lain pun kami selalu berdua. Ini yang membuat saya sedih karena terakhir ketika saya ke Tiongkok sendiri, istri saya nggak ada.

Ketiga, bagaimana saya memimpin Rumah Sakit Adi Husada. Keempat, bagaimana kita melayani Tuhan dengan sepenuh hati dan jiwa dalam tugas dan profesi kita. Saya ingin ide-ide dan cita-cit saya dan istri ini diteruskan oleh anak cucu di kemudian hari.

Berapa lama Anda menyiapkan buku ini?


Sekitar enam bulan. Saya menulis garis besarnya, kejadian-kejadiannya. Setiap saya baca ulang saya selalu menangis karena sangat menyentuh perasaan saya. Lalu, saya ke Beijing bertemu penerbit khusus buku-buku biografi. Ternyata setelah membaca, dia menangis juga. Berarti dia benar-benar bisa nyambung dengan perasaan saya. Nah, penerbit itulah yang menerbitkan buku saya dalam bahasa Mandarin.

Dicetak berapa? Dan kapan dibuat edisi Indonesia?


Dicetak terbatas, hanya 200 eksemplar. Tapi banyak yang ingin membaca, maka sekarang sedang dibuat edisi Indonesia. Yang menerjemahkannya staf Pendeta Stephen Tong. Untuk edisi Indonesia ini kemungkinan dicetak seribu eksemplar.

Terakhir, bagaimana saran Anda kepada generasi muda untuk mewujudkan keluarga bahagia dan harmonis?


Sederhana saja. Saya dan istri punya ikatan batin yang sangat dalam. Kami selalu bergandengan tangan kalau bepergian ke mana saja. Selalu ada kedekatan hati. Yang juga sangat penting, saya selalu pulang ke rumah.

Rumah itu sarangnya bahagia. Sesibuk apa pun bekerjan saya selalu usahakan untuk pulang. Dan kalau ada tugas di luar kota atau luar negeri, saya selalu mengajak istri saya. Komunikasi. Sama-sama rendah hati. Ini semua saya share di buku saya. (*)




Jualan Baju Keliling Pasar

BEGITU banyak pengalaman mengharukan yang dirasakan dr Edhy Listiyo dari sang mendiang istri, Aily Laksmi. Salah satunya adalah ketika sang istri hamil tua. Edhy masih harus kuliah dan ekonomi rumah tangga belum mapan.


“Sangat mengharukan karena istri saya tetap menjahit baju anak-anak untuk dijual keliling pasar demi menambah uang rumah tangga dan biaya kuliah saya,” kenang dokter yang menerima berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri itu.

Karena itu, dr Edhi menilai peranan sang istri, Aily, sangat besar dalam keberhasilan kariernya sebagai dokter. “Saya bisa jadi begini berkat keringat dari istri saya,” katanya.

Tak heran, pasangan suami-istri Edhy-Aily ini begitu lengketnya bagaikan prangko. Ke mana-mana selalu berdua, bergandengan tangan, ala orang sedang pacaran. “Saya dan istri selalu berkomunikasi melalui SMS baik pagi, siang, maupun malam hari,” katanya.

Ada lagi ritual rutin yang dilakukan Edhy-Aily untuk mempererat ikatan batin di antara mereka. Yakni, sama-sama merendam kaki di dalam air yang sudah diberi ramuan tradisional Tionghoa. Ritual rendam kaki ini dilakukan pada malam hari sepulangnya dr Adhy dari tempat kerja.

“Karena paginya kerja sampai malam, jadinya rendam kaki hanya dilakukan malam,” kenangnya. (rek)


29 January 2012

Blog di era BBM dan media sosial



Blogging atau ngeblog tidak seheboh tahun 2007-2008. Beberapa komunitas blogger di Surabaya saya lihat vakum. Acara ngeblog bareng di taman sudah lama tak terdengar.

Ya, segala sesuatu itu ada masanya. Masa booming blog sudah berlalu diganti media sosial macam facebook, twitter, dan sekarang BBM. Teman2 lama yang dulu doyan ngeblog sekarang selalu bicara isu2 aktual di BBM.

"Anda ketinggalan zaman Bung. Aneh, anda gak punya BB, fb-mu gak aktif," kata teman lama mantan blogger asal Jatim.

Saya cek di internet, blognya sudah mangkrak begitu lama. Postingan terakhirnya sekitar dua tahun lalu. Dia memang aktif mengikuti perkembangan IT dan media sosial. Dan blog dirasa tidak cocok lagi dengan dunianya.

Hobi orang memang beda2, kita tak bisa memaksa. Termasuk memaksa orang aktif blogging, sementara media sosial berkembang sangat pesat. Dan jauh lebih menarik.

Tapi bagi orang2 luar Jawa, khususnya NTT macam saya, blogging saya rasa masih mutlak perlu untuk berbagi informasi di era internet. Sebab, informasi tentang NTT di media nasional seperti surat kabar sangat minim.

Saya perhatikan dalam dua tahun terakhir tidak ada satu pun berita tentang kabupaten saya di pelosok NTT yang dimuat di koran2 nasional. Karena dianggap tidak menarik pembaca. Padahal, pemimpin redaksi surat kabar Kompas itu orang NTT bernama Rikard Bagun.

Satu2nya berita dari Flores Timur yang dimuat Kompas adalah prosesi Jumat Agung di Larantuka, tradisi yang sudah berusia 500 tahun.

Maka, blog menjadi platform satu-satunya bagi orang2 kampung NTT ini untuk sedikit berbagi informasi. Paling tidak menyumbang Mr Google ketika misalnya ada orang yang cari informasi tentang Gunung Lewotolok di NTT yang akan meletus. Lewotolok itu di mana. Hampir pasti Mr Google akan menggiring orang itu ke blog ini. Hehehe...

Saya juga senang karena ternyata anak2 TKI asal NTT yang lahir di Malaysia, dan tak pernah pulang kampung, banyak menjadikan blog ini sebagai referensi. Paling tidak mereka tahu sedikit kampung halaman orangtua atau leluhur di NTT.

Saya juga kaget ketika ada orang Barcelona, Spanyol, yang banyak bertanya tentang Lembata setelah membaca blog ini. Kemudian dia dan istrinya memutuskan berlibur ke Lembata, NTT.

Contoh2 kecil ini menunjukkan bahwa blog masih ada gunanya di era BBM dan media sosial ini. Meski blogging dianggap old school dan ketinggalan zaman.

26 January 2012

Song leader kurang enak


Mengapa harus ibu itu?
Mengapa bukan orang lain yang suaranya lebih bagus?
Bukankah gereja itu punya ribuan jemaat?
Apakah terlalu sulit menemukan orang yang benar2 vokalis?

Pertanyaan2 ini muncul ketika saya secara tak sengaja menyaksikan program rohani Kristen di TVRI Surabaya dengan judul MUJIZAT (yang benar MUKJIZAT, pakai K). Acara Gereja Tiberias kalau tidak salah.

Sesua namanya, program ini menekankan kuasa penyembuhan Tuhan alias mukjizat. Orang sakit berat sembuh secara ajaib tanpa bantuan dokter. Ada mayat yang utuh selama bertahun-tahun.

Mimbar kristiani tentu selalu ada puji2an atau worship/gospel song. Di sinilah yang bikin telinga saya gak enak mengingat reputasi Tiberias yang hebat. Bandnya oke, pemusik2 bolehlah, tapi vokalisnya seorang ibu yang bukan vokalis.

Maka, ketika muncul di televisi, rasanya seperti suara ibu-ibu di kampung. Bukan suara yang layak dipakai untuk siaran televisi tingkat nasional.

Memang tidak mudah menemukan orang yang serbabisa: Punya kualitas evangelis atau pendeta, suara bagus, hebat di public speaking. Karena itu, biasanya acara2 sejenis di televisi memanfaatkan song leader yang profesional. Tapi Gereja Tiberias ini rupanya kurang mempertimbangkan hal itu.

Beberapa tahun lalu ada pendeta gereja lain, laki2, yang juga maksa bikin album. Padahal suaranya sangat jelek. Kok maksa gitu? Apa tidak ada vokalis lain yang lebih pantas membawakan lagu2 ciptaan beliau?

Usut punya usut, pendeta bersuara fals ini ternyata masih kerabat dekat bos besar atau owner gereja itu. Maka, jemaat hanya bisa pasrah.

Hentikan ekspor pembantu ke Malaysia


Koran terbitan Jakarta edisi hari ini, 26 Januari 2012, kembali membahas tenaga kerja Indonesia atau TKI. Khususnya TKI ke Malaysia. Kerajaan Melayu itu memang banyak menampung TKI di sektor informal.

Begitu banyak pekerja2 kasar, kuli, tukang kebun, dan pembantu asal Indonesia di Malaysia. Jumlahnya lebih banyak daripada total penduduk Singapura dan Brunei. Karena itu, Indonesia sering dihina sebagai bangsa kuli, bangsa budak, bangsa babu (pembantu).

Menteri Muhaimin Iskadar seperti dikutip Kompas mengatakan akan membatasi pengiriman pembantu ke Malaysia. Mutu calon TKI akan ditingkatkan. Statemen macam ini sudah lama diucapkan menteri2, bahkan sejak zaman Suharto.

Faktanya? Lain di bibir lain di lapangan. Ekspor TKI tetap saja tinggi baik ke Malaysia maupun Saudi. Dua negara yang paling rawan bagi TKI, khususnya pembantu.

Pemerintah kita rupanya belum ada usaha serius untuk menyediakan pekerjaan di Indonesia. Mengapa harus jauh2 ke Malaysia atau Saudi kalau hanya jadi pembantu, tukang kebun, atau pemetik sawit?

Indonesia adalah negara yang penduduknya sangat banyak, 230 juta. Wilayahnya luas. Tapi penduduk yang banyak justru jadi beban karena kita tak mampu menciptakan pekerjaan. Pengangguran terlalu banyak.

Presiden SBY pernah berjanji membuat policy2 yang pro job, pro poor, pro growth. Misi ini bagus dan seharusnya diikuti tindakan nyata oleh menteri2. Bukan malah menjadikan TKI sebagai alat bargaining dengan Kerajaan Malaysia.

Salah satu ukuran keberhasilan presiden adalah mengurangi sebesar mungkin ekspor TKI ke Malaysia dan Saudi. Kita harus punya mimpi bersama: suatu ketika, one day, tidak ada lagi orang Indonesia yang menjadi pembantu atau kuli di Malaysia!

25 January 2012

Sincia di rumah abu keluarga Han

Robert bersama dua anaknya (Hubert dan Richard) serta David Reeve PhD.


Sehari sebelum Sincia atau tahun baru Imlek, warga Tionghoa mengadakan sembahyang leluhur. Semua keluarga baik dekat maupun jauh berkumpul untuk memberikan penghormatan kepada para leluhur yang sudah tiada.

Itu pula yang dilakukan keluarga Han di Surabaya, Minggu (22/1/2012). Mereka berkumpul di rumah abu keluarga Han, Jalan Karet. Sejak pagi tampak hadir Robert Rosihan bersama bersama istri Tan Ling Mei dan anak-anaknya. Ada juga Shirley, kakak Robert.

Menjelang siang datang Johanes Rosihan, putra sulung mendiang Han Kian Kwat. "Setiap tahun kami selalu berkumpul di sini. Selain Sincia, juga saat sembahyang rebutan dan Ceng Bing," kata Robert.

Dia didampingi Hubert, anaknya yang sekolah di SMAK Santa Maria. Anak kedua, Indriani, tak hadir dalam sembahyang leluhur karena tinggal di Jerman.

Meski namanya rumah abu, menurut Robert, tak ada abu jenazah leluhur yang disimpan di sini. Yang ada hanya sinci-sinci atau papan bertuliskan nama-nama leluhur marga Han dalam bahasa Tionghoa. Sinci-sinci itu terletak di atas meja altar.

Shirley, anak ketiga dari empat bersaudara, menyiapkan berbagai perlengkapan sembahyang. Mulai buah-buahan seperti pisang, apel, jeruk, rambutan. Kemudian makanan basah seperti ayam, kepiting, ikan, babi, bebek. Tak lupa kue-kue basah seperti wajik, roti mangkok, nian gao, dan kue thok. Juga minuman putao chee chiew, sejenis anggur rendah alkohol.

"Yang wajib ada tebu sebagai simbol manis-manis. Supaya di tahun yang baru ini semua keluarga diberikan rezeki dan kehidupan yang manis," kata Shirley.

Putra-putri mendiang Han Kian Kwat mengawali sembahyang leluhur dengan penuh hormat. Tak lama kemudian kerabat-kerabat lain datang dan melakukan ritual yang sama. Han Tjoan San khusus datang dari Lawang untuk mengikuti acara menjelang pergantian tahun Imlek itu.

Yang menarik, ritual keluarga Han ini dihadiri juga oleh David Reeve, profesor dan peneliti dari University of New South Wales, Sydney, Australia. Dia khusus datang ke Surabaya untuk meneliti keluarga Han di Jawa Timur.

"Keturunan Han banyak yang jadi opsir Tionghoa. Mereka merupakan keluarga Tionghoa terpandang di Jawa Timur," kata David.

Pelacuran merusak Lembata



Lembata mulai memisahkan diri dari Kabupaten Flores Timur pada tahun 2000. Tak banyak kemajuan di pulau yang dulu disebut Lomblen itu. Jalan raya dibiarkan rusak. Infrastruktur lain pun begitu2 saja.

Yang maju justru ini: Pelacuran!

Dulu orang Lembata tak pernah membayangkan ada nona-nona yang cari nafkah dengan menjual diri. Sebab, di NTT hanya ada satu lokalisasi prostitusi setengah resmi di Kupang. Yakni di dekat Pelabuhan Tenau.

Tapi laporan wartawan Kompas Kornelis Kewa Ama bikin kita geleng2 kepala. Prostitusi justru terjadi terang2an di Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata. Ironisnya, menurut tulisan Kornelis, konsumennya juga kalangan politisi, pejabat, dan pengusaha.

Bisnis kafe, karaoke, panti pijat marak di kabupaten baru ini. Tak hanya jualan minuman keras, juga memajang nona-nona dari Surabaya dan Makassar. Usia wanita penghibur ini 15-45 tahun. Yang muda mejeng di karaoke atau kafe, yang tua2 melayani tamu di gubuk2 sederhana.

Memprihatinkan! Masyarakat Pada tak bisa berbuat banyak karena bisnis kotor itu diduga kuat melibatkan orang2 kuat. Ada beking di belakangnya. Apalagi omzet esek2 itu memang menggiurkan.

Menurut Kompas, konsumen para PSK liar itu kebanyakan anak2 muda di Lewoleba, juga dari 9 kecamatan. Mereka sudah tahu kompleks tak resmi yang sudah terkenal itu. Bahkan, ada orang Adonara dan Solor pun memaksa diri ke Lewoleba untuk mencicipi surga dunia itu.

Sudah sering tokoh masyarakat protes. Pastor2 marah. Ulama meradang. Tokoh2 Lembata di Kupang pun sudah beberapa kali mendesak pemkab untuk membersihkan pulau miskin itu dari prostitusi. Tapi hasilnya nol besar. Setiap hari bisnis esek2 it jalan terus.

Sebetulnya pemkab punya momentum bagus untuk bertindak. Mumpung bupati dan wakil bupati masih baru menjabat. Senyampang bisnis seks ini masih berskala kecil.

Kalau dibiarkan terus-menerus justru akan menjadi bom waktu di masa mendatang. Bupati Sunur sebagai orang nomor satu di Lembata dituntut lebih tegas! Begitu juga Wabup Watun. Jangan terlalu sering ke Kupang, Bung!

Pao wawe utan



Tite rae lewotana biasa pao witi, wawe, manuk. Sapi take. Witi nong wawe paling aya, ewang nawun tang buley dagel.

Wawe utan? Wawe nepi ata pao hala. Tapi rae Lamahora ata kiwan alawen, dahe Hadakewa, ra pao wawe utan. Hehehe...

Wawe utan nepe ra royaro. Pasang jerat, rewang moring. Kalo tite langsung gerian, tekan rame2... Ata Hadakewa pao wawe utan sampe tun tou rua.

Beleka kae ra gerian, tekan hama2 rae watan, tempat wisata, piknik. Waktu go balik lewo, kami mekan wawe utan tou. Hmm.. mela2, woraken kurang. Wawe biasa woraken aya-ayaka. Go suka hala!

Tekan wawe utan nepe oneke senang2. Behing tuak neak tou rua telo... ehm bisa melayang. "Pao wawe utan hama nong wawe biasa. Na gan uwe, wata muringen, heloka makanan naen te utan onen. Repot hala," Ama Lewa maring nepa.

Jawa alawen maring wawe utan meri celeng. Watanen rekan hala heloka wawe biasa. Coba wawe utan nepi ra tula sei heloka rae Kupang? Hmm... iluka gerota.

Wata take uran kurang



Tun nepi uran rae lewo kurang2. Uran lodo moan tou rua hena. Ina ama kaka ari mula wata, ro go niku mela hala.

Wata teti Ileape mataya moan rua kae. Waktu go balik lewo wulan waiken ia uran di take. Ekan teti mawa di sare hala, wata tawa nepa kahen.

Tun waiken Desember 2010 pas go saing wata belolo2. Tite pana teti Bungamuda, tobi puken, toi wekike hala.

"Mungkin uran beto wati. Moga-moga lera wulan tana ekan peten tite," amak tou maring go.

Kalo uran tun, ina ama rae lewo mula aku muri? Nean, bibit, gohuka kae. Hope nean welin2, ra doita take. Beng tabe aku?

Go basa surat kabar pi leron, NTT warata kae. Kapal2 feri pana bisa hala karena oyok belek2. Tanah Lembata urana le take?

Pemerintah kabupaten, bapa bupati, wakil bupati, camat... mio musti jaga2. Antisipasi! Ekan malu mara, wata take wai kurang!

24 January 2012

Gus Dur dan Tionghoa


Gus Dur memang hanya dua tahun menjabat presiden RI, 1999-2001. Namun kiai bernama lengkah KH Abdurrahman Wahid ini punya tempat khusus di hati warga Tionghoa. Nama Gus Dur selalu disebut-sebut dalam suasana tahun baru Imlek seperti sekarang.

"Kalau tidak ada Gus Dur, kita tidak bisa main barongsai atau liang-liong ke mana-mana," kata Chandra Wurianto, dedengkot barongsai sekaligus ketua Persobarin Jatim.

Tak hanya atraksi barongsai, perayaan Imlek pun tak akan semeriah sekarang. Ini berkat komitmen Gus Dur pada hak-hak asasi manusia dan pembelaannya kepada kelompok minoritas. Gus Dur jauh sebelum jadi presiden ikut berjuang agar Khonghucu kembali diakui sebagai agama resmi di Indonesia.

Dan perjuangan panjang itu akhirnya berhasil. Belenggu terhadap ekspresi budaya dan tradisi Tionghoa akhirnya dicabut. Konfusius jadi agama keenam. Presiden Wahid mencabut Inpres 14/1967 yang menjadi senjata rezim Orde Baru dalam membredel hak-hak sipil warga Tionghoa.

Umat Boen Bio, kelenteng khusus Khonghucu di Kapasan, punya cara khusus mengenang jasa almarhum Gus Dur. Foto besar kiai humanis ini dipasang di depan altar sejak Gus Dur meninggal dunia. Dan umat secara rutin memanjatkan doa untuk Gus Dur di alam sana.

"Gus Dur itu pahlawan kami umat Khonghucu dan seluruh masyarakat Tionghoa di Indonesia. Bahkan pahlawan untuk kita semua tentang bagaimana menghormati human rights," kata Bingky Irawan, tokoh Khonghucu dan mantan pengurus Boen Bio Kapasan.

Karena itu, sudah lama meninggal dunia, foto Gus Dur tetap akan dipasang di lithang atau aula peribadatan Boen Bio. Ini akan menjadi inspirasi bagi umat Khonghucu untuk meneruskan perjuangan Gus Dur yang pluralis dan humanis. Bahwa semua makhluk yang ada di kolong langit itu ciptaan Tuhan dan sudah seharusnya saling menghormati.

Setelah hak-hak sipil orang Tionghoa dipulihkan, sincia jadi libur nasional, atraksi seni budaya Tionghoa marak di mana-mana, menurut Bingky, sudah saatnya orang Tionghoa semakin peduli pada Indonesia. Bekerja keras, memberikan yang terbaik untuk Yin du ni xia.

Women dou shi Yinni ren!

Gong xi fa cai!

23 January 2012

Sincia di Kelenteng Cokro


Hujan rintik-rintik mewarnai malam tahun baru Imlek di Kelenteng Hong San Ko Tee Surabaya. Selepas magrib, jemaat mulai berdatangan ke kelenteng di Cokroaminoto 12 itu.

Ada yang sembahyang kemudian pulang karena ingin melewatkan malam sincia di rumah atau restoran. Ada pula yang sibuk mengurus persiapan ramah-tamah selepas sembahyang bersama.

Sesuai tradisi, kelenteng in menggelar doa bersama melepas tahun lama dan menyambut tahun baru pada pukul 00:00. Karena itu, kelenteng baru ramai setelah pukul 22:00.

Tak hanya jemaat atau orang Tionghoa, warga sekitar pun datang karena akan ada atraksi barongsai. Maklum, dragon dance TITD Hong San Ko Tee diperkuat oleh anak-anak muda di kawasan Cokroaminoto dan pandegiling.

Pukul 23:00 kelenteng mulai penuh. Asap hio pun menyebar ke mana-mana. Aroma wewangian khas Tionghoa itu pun tercium ke jalan raya. Juliani Pudjiastuti, pimpinan kelenteng, meminta para petugas upacara untuk bersiap.

Mendekati pergantian tahun, jemaat rame-rame mengambil posisi berdiri di depan atar utama. Memegang hio di tangan. Lalu lonceng dan tambur tanda doa bersama ditabuh. Sang rohaniwan membacakan doa dalam bahasa campuran Indonesia dan Hokkian. Intinya meminta berkat, rezeki dan perlindungan di tahun baru yang tinggal beberapa menit lagi.

Doa bersama pun usai. Jemaat saling bersalaman dan mengucapkan gong xi, selamat. Acara dilanjutkan dengan ramah-tamah dan melekan bersama. Baku cerita ngalor ngidul.

"Malam ini malamnya rezeki makanya jangan tidur. Kalau ada kotoran di lantai jangan disapu dulu karena sama saja dengan buang-buang rezeki," kata Budi, jemaat yang juga aktivis kelenteng.

Sementara itu, pasukan barongsai mulai beraksi menghibur umat serta warga sekitar. Kesempatan untuk panen angpao karena di malam sincia biasanya orang-orang lebih murah hati.

GONGXI FACAI!

22 January 2012

Gongxi facai! Xinnian hao!


Beberapa hari terakhir ini saya menemui sejumlah tokoh Tionghoa di Surabaya dan Sidoarjo. Biasa, mempersiapkan edisi khusus tahun baru Imlek.

Syukurlah, semuanya antusias. Mulus-mulus saja. Banyak perspektif lama maupun baru yang saya dapat. Dan ini memperkaya wawasan saya tentang Tionghoa.

Pak Liem Ouyen bahas tradisi sincia generasi lama yang hemat dan sederhana. Pak Njoo yang rohaniwan Buddhis tentang beberapa ritual menyambut dan sesudah sincia.

Pak Soetiadji tentang ritual di Sanggar Agung berikut acara makan bersama untuk 5000 orang. Acara tahunan di Kenjeran Park Surabaya.

Mbak Ervinna, penyanyi pop Mandarin legendaris, bakal mengisi perayaan malam tahun baru Imlek dengan 3-6 lagu Mandarin. Mbak Ervin tampil bersama penyanyi-penyanyi asal Tiongkok. Ciamik.

Pak Chandra, ketua Persobarin, bahas barongsai dan Cap Go Meh. Persobarin memang bikin acara imlekan cukup besar di ITC. Juga Pak Gunawan dari Boen Bio menjelaska agenda sincia litang konfusius itu.

Last but not least, Tante Tok ahli bikin kue keranjang yang luar biasa. Saya diajari cara membuat nian gao mulai masih tepung, bikin adonan, didandang 4 jam, hingga jadi kue keranjang. Wuenak tenan kue bikinan tante di pecinan Sidoarjo itu.

Kamsia yang banyak. Xiexie nin!

Tentu saja saya tidak lupa mengucapkan selamat tahun baru Imlek kepada bapak ibu, saudara-saudari, teman-teman Tionghoa, yinnihua ren, di mana pun berada.

Termasuk Mr Wang Huagen bersama nyonya, Miss Wang Dandan, semua staf Konjen Tiongkok, dan rekan-rekan Zhongguo ren di Surabaya, khususnya Yen xiaojie dari Shanghai.

XINNIAN HAO!
GONGXI FACAI!

20 January 2012

Telepon seluler di Lembata


Idealnya orang mengkonsumsi teknologi secara bertahap. Step by step. Termasuk teknologi komunikasi.

Tapi ini yang tidak terjadi di NTT, khususnya pelosok Lembata. Orang2 di sana tidak kenal telepon rumah. Tak pernah lihat tiang atau kabel telepon. Bahkan, mungkin tidak pernah menggunakan fixed telephone jika tidak keluar daerahnya.

Syukurlah, revolusi seluler membuat masalah komunikasi jarak jauh di Lembata teratasi. Sejak 10 tahun terakhir orang2 kampung sudah menggunakan ponsel alias HP.

Dan satu2nya sinyal yang nyambung di NTT, khususnya Lembata, adalah TELKOMSEL. Saya sempat bawa 6 nomor dari Surabaya saat mudik akhir 2011 lalu. Ternyata hanya Telkomsel yang nyambung. Itu pun sebenarnya belum merata di kampung2.

Jangan heran hampir semua orang Lembata pakai kartu AS. Mereka tidak kenal operator2 lain yang sering ngecap di televisi itu.

Adanya seluler sekaligus menghapus budaya surat-menyurat. Sudah bertahun2 saya tidak pernah menulis surat ke kampung. Kirim kartu natal atau kartu lebaran tak pernah lagi. Cukup SMS atau menelepon langsung.

Loncatan teknologi seluler, di sisi lain, membuat etiket atau sopan santun bertelepon kurang dihayati sejumlah orang kampung. Cara bicara di telepon, volume suara, durasi.. kurang dihayati sejumlah orang kampung.

Maka, pulsa pun cepat habis. Lalu kirim SMS minta dikirimi pulsa dari Kupang atau Surabaya. Wah, memangnya kita ini pabrik pulsa?

Juga banyak nomor HP yang hangus karena pulsa tidak segera diisi melewati masa tenggang. Lalu ganti nomor. Ketika kita kontak nomor lama, jelas tidak bisa. Repot juga.

Bagaimanapun juga revolusi telepon nirkabel alias seluler ini patut disyukuri. Akses informasi menjadi lancar. Orang2 kampung tidak perlu lagi ketinggalan informasi apa pun.

Saat berada di Desa Lamawara, Kecamatan Ileape, Lembata, saya tiap pagi duduk di tepi pantai. Kawasan yang sinyal Telkomselnya paling kuat. Di situlah saya mengakses situs2 berita dan membuka e-mail.

Terima kasih untuk Telkomsel!

Sanggar Agung jelang Imlek


Para dewa sudah pergi ke kahyangan. Kelenteng dianggap kosong. Yang ada cuma rupang-rupang biasa tanpa sukma.

Maka, inilah kesempatan terbaik untuk membersihkan seluruh areal kelenteng. Patung dewa-dewi dicuci bersih, aksesoris, tempat hio, hingga aksesoris di halaman.

Itulah yang terlihat di Sanggar Agung, kelenteng terkenal di Kenjeran Park Surabaya. Acara bersih-bersih ini dilakukan sejak 17 Januari 2012. Tepatnya setelah sembahyang bersama melepas kepergian para dewa ke kahyangan.

"Setelah itu umat dan pekerja melakukan kerja bakti bersih-bersih kelenteng," kata Yuni, bio kong alias pengurus harian Sanggar Agung.

Sebagai kelenteng besar, acara tahunan ini tak hanya dilakukan umat. Sekitar 20 orang, sebagian besar wanita, dikerahkan untuk membersihkan seluruh bagian kelenteng. Altar-altar mulai di bagian depan, samping, belakang dibersihkan.

Lotus raksasa dibagian depan juga dikeroyok ramai-ramai. Kelihatan sederhana, tapi cukup rumit mengingat banyaknya rupang berukuran kecil.

Pembersihan ini penting agar umat Tridharma bisa mengikuti ritual Sincia alias tahun baru dalam suasana yang serbabaru dan bersih.

Sanggar Agung memang selalu menjadi jujukan utama warga Tionghoa untuk sembahyangan. Lokasinya strategis di pantai wisata dengan patung Dewi Kwan Im ukuran raksasa. Kemudian patung Buddha Empat Muka simbol sang Brahmana.

Yang tak kalah penting, areal parkirnya sangat luas. Bisa menampung berapa pun mobil yang datang. Beda dengan kelenteng-kelenteng lain yang tak punya areal parkir.

"Persiapan kami di sini, ya, tidak banyak karena Sincia itu kan sudah rutin. Biasa-biasa sajalah," kata Yuni yang asli Jawa ini.

Masjid Babul Jannah di Lewotolok



Mudik ke kampung halaman, saya selalu berusaha mampir ke rumah tokoh Islam. Salah satunya Haji Anwar Tadong. Selain punya hubungan keluarga (mamanya suku Hurek), saya ikut jemput beliau di Surabaya ketika pulang naik haji dari Tanah Suci beberapa tahun lalu.

Haji Anwar tinggal samping masjid. Ya, dialah takmir masjid sekaligus ulama terkemuka asli Lamaholot di Lembata. Maklum, di Kabupaten Lembata orang Islam yang haji sangat-sangat langka.

Saya disambut hangat Ama Haji Anwar Tadong di rumahnya. Ngopi bareng di bawah pohon asam di pinggir pantai. Kayu-kayu menumpuk karena beliau memang pengusaha bangunan.

Pak Haji banyak cerita tentang operasi kataraknya yang sukses. Sekarang dia bisa melihat dengan jelas. Alhamdulillah, dia dapat kesempatan operasi gratis di Lewoleba.

"Tapi mata sempat buta, gelap total, karena saya sempat sentuh sehabis operasi itu," kenangnya.

Syukurlah, dokter cepat-cepat menangani sehingga bisa pulih kembali. Hanya, mata Pak Haji masih tak boleh kena air. "Jadi, saya ini wudu pakai tembok," katanya.

Masjid Babul Jannah di Desa Lewotolok, Kecamatan Ileape, Lembata, ini tak kalah dengan masjid-masjid di kota. Dibandingkan masjid di desa-desa tetangga macam Waowala, Mawa, atau Lemau, jelas jauh lebih kinclong.

Salat rutin, bahasa daerahnya SEMBEANG, lancar-lancar saja. Sering juga dikunjungi tokoh2 Islam dari kabupaten atau daerah2 yang jauh. Ini membesarkan hati umat Islam di kampung halaman saya.

Menjelang magrib, obrolan saya dengan Pak Haji makin menarik. Tapi harus diakhiri karena beliau harus salat magrib berjemaah.

Saya pun disangoni ikan segar yang baru di tangkap di perairan Lewotolok.

 "Kali ini kamu datang pada saat yang tepat. Bisa bawa ijan segar," kata Pak Haji yang selalu bicara dengan penuh semangat ini.

Terima kasih banyak Bapa Haji!

Selamat bertugas mengurusi umat dan masyarakat di lewotanah!








19 January 2012

Real Madrid keok lagi


Apa saya bilang? Real Madrid terlalu sulit mengalahkan Barcelona. Sebaliknya Barca terlalu mudah mengalahkan Madrid.

Tadi Real kembali keok 1-2. Dipermalukan di depan ribuan suporter. Lagi-lagi Madrid diajari cara main bola oleh Xavi dkk dengan penguasaan bola 70%. Umpan-umpan Barca hampir selalu akurat, sementara Real tanpa pola.

Fakta ini makin membuktikan Real bukan hanya kalah gol, tapi kalah kelas. Istilah el clasico sudah tidak pas karena Real sebetulnya sudah out of class.

Jose Mourinho yang pernah dipuji selangit terlihat pandir ketika melawan Barca. Tapi kita tak bisa menyalahkan Mou karena klub-klub besar lain pun tak berdaya ketika menghadapi Barca yang tika-taka.

Leg kedua Piala Raja akan digelar di kandang Barca. Kita akan melihat lagi master class yang dimainkan Messi, Xavi, Iniesta untuk kembali mempermalukan Real Madrid.

Bagaimana pendapat Anda?

Dahlan Iskan tetap menulis


Dahlan Iskan, menteri BUMN, ini memang luar biasa. Setelah jadi dirut PLN, kemudian menteri, beliau tetap produktif menulis. Pak Dahlan selalu saja menemukan ruang dan waktu untuk menulis di sela kesibukannya yang bukan main.

Catatan Dahlan Iskan selalu menarik dan sulit ditandingi wartawan atau penulis mana pun di negeri ini. Bahasanya sederhana, runut, enak, ngangeni. Tak heran begitu banyak orang, termasuk saya, yang ketagihan membaca Catatan Dahlan Iskan.

Ketika diangkat jadi dirut PLN, banyak penggemarnya yang khawatir Pak Dahlan tidak menulis lagi karena sibuk mengurus listri dari Sabang sampai Merauke. Tapi Pak Bos menjawab keraguan tersebut. Catatan-catatan Pak Bos tetap mengalir lancar. Membahas masalah listrik tapi tetap enak dibaca. Apa saja yang ditulis Pak Bos selalu menarik... dan bikin orang ketagihan saking asyiknya.

Maka, tidak salah kalau catatan Pak Dahlan sebagai dirut PLN itu dibukukan. Dan laris manis di pasaran.

Sekarang setelah jadi menteri BUMN, kesibukan Dahlan Iskan tentu berlipat ganda. Kalau sebelumnya hanya mengurus PLN, kini harus mengurus ratusan BUMN. Lalu, bagaimana membagi waktu untuk menulis catatan atau esai atau feature?

Namanya penulis kawakan (bukan sekadar wartawan, karena hanya sedikit wartawan yang benar-benar berbakat penulis), Pak Dahlan masih produktif. Tulisan-tulisannya dengan tema besar MANUFACTURING HOPE tetap mengalir lancar di Jawa Pos setiap Senin. Kualitasnya tetap terjaga.

Tulisan-tulisan Dahlan Iskan setelah jadi pejabat rata-rata di atas 8000 karakter. Ini menunjukkan kelas beliau sebagai maestro jurnalisme tutur yang brilian. Tak banyak orang, termasuk reporter yang kerjanya sehari-hari menulis, mampu melakukannya. Apalagi sebagus Dahlan Iskan.

Saya sering prihatin karena saat ini banyak wartawan yang kesulitan menulis dengan enak, runut, dan cerdas dalam 2000 karakter. Alih-alih 4000 atau 5000 karakter.

Semoga wartawan-wartawan Indonesia bisa belajar banyak dari maestro jurnalis asal Magetan ini. Bisa menulis kapan saja, di mana saja, dalam kondisi apa saja... dengan tetap menjaga kualitas.

NB: Catatan-catatan Dahlan Iskan bisa dibaca di dahlaniskan.wordpress.com

Ian Antono dan istri


Tiap kali mendengar lagu-lagu lama dari Nicky Astria atau God Bless, saya selalu ingat Ian Antono. Arek Malang ini pernah menjadi gitaris paling top di Indonesia beberapa tahun lalu.

Petikan gitarnya khas dan enak. Main akustik atau elektrik sama-sama enak. Rock tapi manis. Ian juga piawai sebagai komposer dan arranger.

Sudah lama Ian, Albar, Fariz, Dian PP... tersingkir dari industri musik pop. Sebab, pemain2 industri kita harus muda, single, di bawah 30. Lewat usia itu habislah sang musisi. Paling hanya dapat tempat di Zona Memori atau Tembang Kenangan saja. Beda banget dengan industri di Barat yang tetap memberi tempat untuk Deep Purple atau Stones.

Saya beberapa kali bertemu Ian Antono di Surabaya dan Malang. Bicaranya santun, halus, irit. Rokok tetap ngepul. Badannya tetap sehat, stamina di panggung oke.

Ian selalu ditemani sang istri Titi Saelan. Ke mana2 berdua di atas maupun di bawah panggung. Kekompakan Ian-Titi ini jarang diperlihatkan pasangan musisi lain. Tak ada gosip atau berita miring tentang rumah tangga mereka.

Apa kegiatan Mas Ian sekarang? pancing saya.

Tetap main musik, katanya. Musik sudah menjadi bagian dari hidup Ian. Setiap saat dia main gitar. Ada atau tidak ada jadwal manggung.

Seorang musisi, katanya, harus berlatih dan terus berlatih sampai ajal menjemput. Tak ada kata berhenti berlatih meski Ian Antono ini sejatinya sudah kelas maestro atau guitar hero.

Meski Tionghoa, Ian bukanlah pedagang atau pengusaha. Dagangannya ya musik. Dia mengaku tetap bisa bekerja meski sudah sangat lama tidak muncul di televisi.

God Bless pernah bikin album bagus beberapa tahun lalu. Album bagus dengan aransemen yang kaya dan manis khas Ian. Tapi album ini tidak sempat promosi di televisi. Maka, publik pun hanya mengenal Ian dan God Bless lewat lagu2 lama macam Semut Hitam, Musisi, Rumah Kita, Kehidupan, Raksasa.

Saya paling suka menikmati Ian main gitar solo mengiringi Achmad Albar menyanyikan Syair Kehidupan atau Panggung Sandiwara. Ciamik soro!

18 January 2012

Guru tempeleng murid di Lembata


Anak-anak SD main di namang (halaman desa) di Mawa, Lembata.


Guru tempeleng murid jadi masalah di Surabaya. Rabu (18/1/2012) jadi berita besar di Jawa Pos. Kasus ini selalu berulang dan selalu jadi berita.

Saya sering geli sendiri ketika membandingkan dengan di Lembata atau NTT umumnya. Guru tempeleng murid, khususnya SD, sangat biasa. Bahkan orangtuanya senang karena anaknya dikasih pendidikan. Maklum, banyak orang tua di kampung yang sudah tidak mampu mengatasi anak-anaknya yang nakalnya keterlaluan.

"Pukul saja Pak kalau anak saya nakal," begitu pesan orangtua kepada guru SD di daerah-daerah NTT, di pelosok macam kampung saya.

Maka, tak pernah ada kasus guru pukul murid masuk koran di NTT. Apalagi diproses di kepolisian. Orang tua malah senang kalau anaknya yang nakal dikasih 'pelajaran' (baca: dipukul) oleh bapak-ibu guru.

Tentu saja tempelengan atau pukulan si guru ini bersifat mendidik. Bukan emosional. Tidak mencederai si anak. Murid-murid SD di NTT juga kerap dicubit telinganya kalau tidak bikin pekerjaan rumah.


Waktu sekolah di SDK Mawa di kampung dulu, Lembata, ada pelajaran yang namanya mencongak. Murid-murid harus menjawab pertanyaan matematika alias berhitung mulai perkalian, penjumlahan, pembagian, pengurangan dengan tepat. Murid-murid yang jawabannya salah dipukul jarinya dengan mistar. Tidak terlalu sakit, tapi lumayan menggigit. Hehehe...

Sistem pendidikan ala guru-guru lama memang keras. Guru-guru lawas, yang sudah pensiun semua ini, lulusan Sekolah Guru Atas (SGA), Sekolah Guru Bawah (SGB), Sekolah Pendidikan Guru (SPG), dan Kursus Pendidikan Guru (KPG). KPG ini merupakan kursus atau diklat singkat penyetaraan ijazah bagi guru-guru tamatan SGA dan SGB. Jika sudah lulus KPG, maka ijazahnya dianggap setara dengan SPG.

Cara mendidik mereka cenderung keras. Mencontoh guru-guru Belanda yang juga sangat keras. Pakai hukuman badan, meskipun kesalahan murid-murid sebenarnya sangat sepele.

Apakah sistem lama yang main pukul atau tempeleng ini masih relevan? Saya kira guru-guru di NTT perlu introspeksi. Sebab, zaman sudah jauh berubah. Pendekatan kekerasan makin ditolak di mana-mana.

Masyarakat NTT pun makin berubah dengan makin mudahnya akses informasi. Sistem lama yang keras tak laku lagi. Para orangtua pun tidak bisa lagi main pukul atau menyiksa anak-anaknya yang membuat kesalahan.

Memarahi anak-anak dengan suara tinggi, berteriak, kemudian memukul... adalah masa lalu. Kita hendaknya mulai membangun budaya baru yang lebih canggih dan beradab.

Jalan di Flores dulu dan sekarang


Kondisi jalan di daerah Ileape, Lembata, NTT, yang dibiarkan saja oleh pemerintah daerah.

Meski tak semulus di Jawa, jalan raya di Pulau Flores dari barat ke timur sudah lumayan bagus. Berkelok-kelok. Banyak tikungan. Awas jurang!

Karena itu, orang Flores Timur tidak pernah menggunakan jalan darat dari Jawa atau Bali. Lebih aman lewat laut. Jalan yang buruk itu juga membuat orang Flores kurang mengenal kabupaten tetangganya.

Sejak kapan jalan trans Flores ini dibangun? Menurut catatan sejarah, sejak zaman Hindia Belanda ketika berlaku politik etis. Pemerintah kolonial pada 1920an mulai membangun infrastruktur jalan. Tentu dengan kerja paksa alias rodi.

Jalan utama di Flores panjangnya 607 km. Lebih panjang dari pulaunya karena berlekak-lekuk itu tadi. Batu-batu diledakkan. Bukit-bukit ditembusi, dipotong... agar bisa jadi jalan.

Tahun 1926 jalan lintas Flores selesai. Tentu tidak mulus, hanya sekadar membuka isolasi.

Selanjutnya Belanda juga bikin jalan di Pulau Adonara dan Lembata alias Lomblen. Di Adonara dari Wailebe melalui Waiwerang ke Sagu. Kemudian memutar dari Hinga melalui Boleng ke Waiwerang lagi.

Di Lembata jalan dibuat dari Lewoleba ke Kedang sejauh 60 km. Namun, karena pemerintah Belanda tak punya cukup uang pembangunan jalan-jalan di Lembata sangat terbatas.

Karena itu, sampai tahun 2000an masih banyak daerah di Lembata yang terisolasi. Mobil masih sulit menembus kawasan tertentu, khususnya di bagian tengah.

Kesimpulannya: sejak dirintis kolonial Belanda, masalah jalan raya di Flores dan Lembata hanya mengalami sedikit kemajuan. Kita masih berkutat dengan masalah yang sama dari tahun ke tahun meski sudah merdeka 66 tahun.

Mengapa Flores, Lembata, Adonara, Solor, Alor, Pantar... selalu disebut daerah tertinggal dan terpencil? Antara lain karena infrastruktur jalan yang belum beres.

17 January 2012

Anak SMK bisa bikin mobil


Orang Indonesia ternyata cukup kreatif. Anak-anak SMK (dulu namanya STM), yang usianya masih belasan tahun, ternyata bisa bikin mobil. Katanya sih tidak kalah dengan mobil-mobil Jepang yang sekarang bikin macet lalu lintas.

Anak SMK! Bukan profesor botak atau pakar-pakar lulusan Jerman atau Amerika. Kita baru tahu kalau bikin mobil itu gampang. Kalau mobil saja bisa tentu anak-anak SMK itu bisa bikin sepeda motor, sepeda pancal, televisi, HP, komputer, laptop dan seterusnya.

Dulu BJ Habibie sangat ngotot bikin kapal terbang. Dia kumpulkan insinyur-insinyur hebat untuk memproduksi pesawat. Dan memang berhasil. Habibie begitu bangga.

Tapi Habibie dan Orde Baru lupa memproduksi dan mengembangkan mobil, motor, ponsel, komputer, dsb. Padahal rakyat lebih butuh mobil atau motor ketimbang pesawat. Rezim Orba terlena dengan mobil-motor made in Japan.

Kita didikte Japan, bekas penjajah. Dijadikan pasar utama Jepang. Bahkan pemerintah sejak awal 1970-an sama sekali tidak berpikir untuk mobil nasional atau motor nasional. Yang dipikir hanya TETUKO: sing tuku ora teko, sing teko ora tuku!

Orde Baru dan Habibie tamat. IPTN tak jelas nasibnya. Sejak merdeka Indonesia tak memproduksi apa-apa, selain TKI spesialias pembantu dan kuli kasar. Tapi pemerintah bangga karena produksi dan konsumsi mobil dan motor Jepang terus meningkat. Jakarta macet. Surabaya menyusul.

Terus terang, saya bangga dengan anak-anak SMK sekarang. Kalau kakak-kakaknya di STM tempo dulu suka berkelahi, mereka diam-diam bikin mobil Kiat Esemka. Bikin kita semua terbelalak.

Saya lebih bangga dengan anak-anak SMK yang bikin mobil ketimbang insinyur-insinyur lawas yang bikin Tetuko. Maju terus!

Buat api pakai bambu


Sekarang sudah zaman internet. Koneksi internet di pelosok Lembata, khususnya Bungamuda dan Napaulun alias kampung lama sudah bisa meskipun lambat. Tapi tradisi zaman baheula masih juga dilakukan.

Akhir Desember 2011 saya bersama empat orang lain mengunjungi rumah adat alias lango beruin di Napaulun. Rumah adat suku Hurek Making subsuku (rie) Langotukan itu mangkrak. Terlalu lama tidak dikunjungi orang.

Maka, sebagai orang Lamaholot, langkah pertama adalah PARIK APE atau menyalakan api di tungku. Tungku yang mengepul, ada bara api, sebagai pertanda kehidupan.

Sayang, waktu itu kami lupa membawa korek api karena memang tidak ada yang merokok. Lalu, bagaimana tradisi parik ape? Ehm... pikir punya pikir, cara kuno ala nenek moyang pun terpaksa dipraktikkan lagi.

Sederhana saja. Bikin api pakai bambu. Dua belahan bambu digosok-gosok dengan keras agar menghasilkan panas. Di bagian bawah lubang kita tempel sabut kelapa kering untuk menangkap panas itu.

Jika bambu itu digesek terus-menerus, dengan kuat, maka lama-kelamaan akan keluar asap dari sabut itu. Kita tinggal meniup saja.. dan api pun menyala.

Cara lama ini masih dipraktikkan hingga tahun 1980-an, khususnya mereka yang tinggal di oring alias pondok yang jauh dari permukiman penduduk. Saat ini sudah tak ada lagi yang melakukan, kecuali dalam kondisi darurat.

Orang Lembata yang pulang kampung sering kali menemui rumahnya kosong atau mangkrak. Maka, langkah pertama untuk mengusir kemangkrakan, sekaligus isyarat ada orang di rumah, adalah parik ape. Bikin tungku di dapur menyala karena orang Lamaholot punya tradisi paki tungku, bukan kompor minyak tanah atau kompor gas atau kompor listrik.

Pelajaran moral: Kalau jalan-jalan di pelosok Lembata, jangan lupa bawa korek api!

Penyulingan mangkrak di Bungamuda


Proyek instalasi penyulingan air laut di Bungamuda, Ileape, Lembata, NTT, ini maksudnya baik. Menyediakan air tawar untuk konsumsi masyarakat. Maklum, desa di bukit itu tidak punya satu pun sumur.

Warga terpaksa jalan cukup jauh, 1-2 km, untuk menimba sumur di Lamawara. Setiap hari, turun-temurun. Maka, Bupati Andreas Manuk yang juga orang Bungamuda membuat proyek desalinasi alias penyulingan itu.

Sayang, rupanya proyek bernilai 10 miliar ini tidak didukung studi kelayakan yang memadai. Juga tidak mempertimbangkan kesinambungannya. Juga tidak memperhitungka reaksi masyarakat alias konsumen air suling itu.

Maka, instalasi di dekat laut itu pun mangkrak. Saat Pak Ande Manuk masih menjabat bupati pun proyek itu tidak jalan. Airnya tidak dikonsumsi warga. Apalagi kini setelah Pak Ande lengser pada Agustus 2011.

Saat berlibur di kampung pada akhir Desember 2011, saya lihat instalasi itu mangkrak. Tak ada aktivitas. Saya juga perhatikan bak penampungan di Ebaken. Tidak berfungsi.

Mau diapakan proyek Pemkab Lembata itu? Tidak jelas. Warga Kecamatan Ileape biasanya ketawa-ketawa kalau ditanya proyek itu. Sebab, sejak awal merek memang tidak menghendakinya.

Yang diinginkan rakyat sederhana saja: Air leding yang ditarik dari sumber air di Kalikasa, Lewoleba, atau kawasan Lembata tengah yang memang berlimpah air. Pipa-pipa bahkan sudah dipasang di desa-desa.

Tapi, karena tak ada air mengalir, pipa-pipa itu banyak yang rusak... dan hilang. Sejak Lembata masih gabung dengan Flores Timur, sudah ada ide dan janji mengalirkan air leding ke Ileape. Tapi kenyataannya?

Saat ini masyarakat Bungamuda, dan Ileape dan Ileape Timur umumnya, kembali berharap pada bupati baru: Yance Sunur. Mungkinkah dalam lima tahun ini air leding bisa masuk Ileape?

Biarkan saja proyek penyulingan di Bungamuda itu mangkrak. Toh, selama ini air sulingnya tidak pernah dipakai.

15 January 2012

GKI YASMIN, WARGA, WALI KOTA


Kasus Gereja Kristen Indonesia (GKI) Taman Yasmin di Bogor sudah terlalu berlarut-larut. Tadi saya lihat di televisi warga dan ormas Islam kembali membubarkan kebaktian. Tiap minggu selalu begitu.

Harus ada solusi segera! Memang ada putusan kasasi yang memenangkan GKI. Tapi faktanya wali kota Bogor dan massa menolak. Dus, kemenangan yuridis tidak disertai kemenangan sosiologis dan birokratis.

Masalah pembangunan atau izin rumah ibadah, khususnya minoritas, di Indonesia memang dimensinya banyak. Ruwet. Aturan formal, yuridis, tidak selalu jalan di lapangan.

Sebab, rumah ibadah ini sangat sensitif. Ada ketakutan akan apostasi, ancaman the others dan sebagainya. GKI sebagai liyan dianggap mengganggu kemapanan sosiologis masyarakat tempatan.

Maka, pihak GKI yang berkepentingan dengan gereja baru perlu menempuh adat ketimuran. Cobalah berkomunikasi, minum kopi bareng, omong2 dengan pihak yang menentang GKI Yasmin. Juga wali kota Bogor dan tokoh masyarakat.

Carilah solusi yang win-win. Jangan terlalu ngoyo, ngotot, sehingga memaksa warga tempatan melakukan aksi yang lebih keras. Harus luwes! Jangan bikin gerakan2 yang membuat wali kota atau warga terpojok. Anda akan dimusuhi... dan itu bisa berimbas pada gereja2 lain di Bogor dan sekitarnya.

Diplomasi diam perlu dilakukan terus-menerus petinggi GKI. Tak ada salahnya, pinjam filosofi Jawa, mengalah, mundur.. demi kebajikan bersama di masa depan. Pasti akan ketemu jalan keluar kalau kedua belah pihak sama2 legawa dan berjiwa besar.

Kisruh GKI Yasmin ini mengingatkan saya pada kebijakan seorang almarhum uskup Katolik di Jawa Timur. Dalam hal pembangunan gereja baru beliau sangat sensitif dengan faktor sosiologis. Sebab, gereja itu harus berdiri kokoh di situ dalam waktu lama. Harus menjadi bagian dari masyarakat tempatan.

Okelah, kita sudah punya surat-surat izin yang lengkap setumpuk. Tapi ketika gereja yang sedang dibangun itu digugat atau didemo warga, tentu dengan macam2 alasan, sang uskup memilih untuk menghentikannya. Sebab, gereja itu tidak didukung masyarakat. Biasanya, setelah pending cukup lama ditambah berbagai upaya pendekatan dan diplomasi, akan ditemukan solusi yang tuntas. Panitia akhirnya menemukan lahan baru, yang lebih luas dan bagus, dengan dukungan masyarakat sekitar.

ORANG SUNDA DI LEMBATA


Acara piknik di Pantai Pedan, Lembata.


Tak jauh dari rumah saya di Lamawara, Ileape, Lembata, NTT, tinggal Agnes Acha. Mama Acha sapaan sehari-harinya. Dari logatnya saya bisa memastikan mama kurus dan energik ini berasal dari Jawa Barat.

"Saya asal Subang tapi sudah lama merantau," kata Mama Acha saat kami duduk santai di dekat sumur pinggir laut. Acara BAUNG atau di Jawa dikenal dengan cangkrukan.

Saat merantau di Batam, dia kenalan dengan Ama Ola. Kemudian menikah. Kemudian lancar bahasa Lamaholot, bahasa daerah kami. Kemudian diajak pulang ke Lembata dan ternyata betah.

Setelah Ama Ola meninggal, Mama Acha tetap tinggal di kampung. Sesekali mudik ke Subang tapi kembali lagi. Lembata yang jauh tertinggal dibandingkan Sunda sudah dianggap kampung halamannya.

Sungguh saya terharu dengan Mama Acha. Orang luar yang gelekat lewotanah peheng suku lango. Sementara begitu banyak orang Lembata yang tak mau lagi kembali ke kampung.

Sebagai perantau ulung, sejak 1970-an orang2 Lembata sering membawa istri dari luar. Orang Malaysia, Jawa, Sulawesi, Jakarta, bahkan Tionghoa. Tapi jarang ada yang kerasan. Paling lama tahan satu bulan, kemudian menangis minta kembali ke Jawa atau Malaysia. Kalaupun ada yang bertahan, biasanya orang2 Jawa yang berlatar petani di desa-desa pelosok. Bukan warga kota besar.

Jangankan orang Jawa atau Malaysia, anak-anak orang Lembata yang lahir dan tinggal di kota besar pun tak betah. Sekali diajak bapaknya ke kampung, setelah itu no way! Kemudian menikah di Jawa dengan orang Jawa.. dan kemudian hilang kelembataannya.

Maka, buat saya, Mama Acha ini sebuah pengecualian. Mama paling rajin dalam berbagai kegiatan di kampung. Motivator ulung. Tukang kasih semangat. Dialah yang mengajak saya ke kampung di bukit malam hari untuk sembahyang tikar Memeng Perada. Semacam tahlilan di Jawa.

"Tapi saya dari dulu nggak bisa makan di acara kematian," kata Mama Acha saat acara makan bersama di rumah duka. Padahal, hidangan malam itu sangat istimewa.

Mama Acha, terima kasih, anda layak jadi cermin buat orang Lembata.

Pauline Poegoeh Soprano Surabaya



Oleh Lambertus Hurek

Tidak banyak anak muda di tanah air yang menekuni seni vokal klasik atau yang lebih dikenal dengan seriosa. Maka, PAULINE POEGOEH (27 tahun) boleh dibilang 'manusia langka'. Dia konsisten menggeluti seriosa sejak 2001.

Selama 10 tahun Pauline Poegoeh memukau pencinta musik klasik di Kota Surabaya dengan suara soprannya yang powerful. Soprano kelahiran Surabaya ini selalu menjadi bintang dalam konser-konser rutin yang digelar Surabaya Symphony Orchestra (SSO).

Maklum, gadis 27 tahun ini merupakan vokalis andalan Solomon Tong, dirigen sekaligus pendiri SSO. Tong bahkan menyebut Pauline sebagai salah satu soprano terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini.

"Pauline sudah pernah membawakan berbagai aria operasi karya komponis-komponis ternama seperti Mozart, Beethoven, Verdi, Puccini, Catalani dengan sangat meyakinkan. Termasuk yang tingkat kesulitannya tinggi," puji Solomon Tong.

Pujian Tong rasanya tak berlebihan. Dalam setiap pergelaran SSO, rata-rata 3-4 kali setahun, penonton senantiasa dibuat terpukau dengan suara sopran Pauline yang lantang dan bertenaga. Dengan teknik vokal prima, dia bisa dengan enteng menaklukkan nada-nada tinggi. Tak ayal, aplaus panjang pun terdengar setiap kali Pauline menyelesaikan lagu.

Selepas konser, sebagian penonton pun tak langsung pulang, tapi lebih dulu menyalami Fu Huaxiu, nama lain Pauline Poegoeh. Itu pula yang terlihat ketika Pauline menggelar resital yang diiringi SSO belum lama ini di Hotel Shangri-La Surabaya. Penonton berjubel meski lagu-lagu yang dibawakan Pauline bukanlah lagu-lagu jenis hiburan yang mudah dicerna penonton awam.

SUDAH BERAPA KALI ANDA MENGGELAR RESITAL?

Tiga kali. Resital pertama Juni 2004, kedua September 2005, dan ketiga November 2011. Puji Tuhan, resital-resital saya selalu dipenuhi penonton. Ini membuat saya bangga dan semakin termotivasi untuk menekuni musik klasik, khususnya seni vokal.

BERAPA LAMA ANDA MEMPERSIAPKAN RESITAL ITU?

Tidak begitu lama sebetulnya. Hanya sekitar dua atau tiga bulan saja. Itu pun tidak terlalu intensif karena saya kan harus mengajar, juga ada kesibukan-kesibukan lain.

YANG MENENTUKAN REPERTOAR DI RESITAL ITU ANDA SENDIRI ATAU SOLOMON TONG?

Saya dan Pak Tong. Beliau kan guru dan pelatih saya. Hehehe… Pak Tong juga yang membuat orkestrasi untuk delapan dari 13 komposisi yang saya bawakan. Jadi, peranan Pak Tong memang sangat menentukan. Saya bisa bikin resital juga berkat dukungan beliau dan SSO.

DALAM RESITAL KEMARIN ANDA MEMBAWAKAN 13 LAGU DALAM LIMA BAHASA TANPA TEKS. BAGAIMANA ANDA BISA MENGUASAI BAHASA-BAHASA ASING ITU?

Ya, berlatih dan berlatih. Saya belajar dari internet, Pak Tong, tanya ke orang-orang yang tahu, dan sebagainya. Saya harus hafal lirik-lirik lagunya agar bisa tampil optimal di atas panggung. Menyanyi sambil membaca teks itu sebetulnya kurang bagus.

SELAMA 10 TAHUN MENJADI PENYANYI SERIOSA, BAGAIMANA ANDA MENILAI APRESIASI MASYARAKAT SURABAYA TERHADAP SENI VOKAL KLASIK DAN MUSIK KLASIK UMUMNYA?

Sudah makin bagus meskipun masih kalah jauh dengan di luar negeri. Konser-konser klasik di Surabaya, termasuk resital saya, selalu penuh. Ini menunjukkan bahwa apresiasi musik masyarakat kita sudah meningkat. Cuma masih banyak hal yang perlu kita benahi agar bisa bersaing dengan luar negeri.

TIDAK SULIT MENCARI CD/VCD KLASIK DI INDONESIA?

Sulit. Kalaupun ada, koleksinya sangat terbatas. Saya biasanya pesan dari luar negeri, khususnya Singapura. Syukurlah, sekarang ini sudah ada internet sehingga kita bisa memperkaya referensi musik.

ANDA SENDIRI SUDAH MERILIS BERAPA ALBUM?

Empat. Semuanya berisi konser-konser saya di Surabaya.

ALBUM-ALBUM ITU BISA DIJUAL DI PASARAN?

Distribusinya tentu berbeda dengan album-album pop atau dangdut. Album-album saya ini dikoleksi oleh komunitas yang sangat khusus. Biasanya cukup ramai ketika dijual di acara konser-konser SSO.

KABARNYA, ANDA JUGA AKTIF MENJADI GURU VOKAL. ENAK MANA JADI GURU ATAU VOKALIS?

Sama-sama enak dan punya tantangan sendiri-sendiri. Sebagai guru, saya harus mengajar siswa mulai anak-anak taman kanak-kanak sampai lansia. Ini merupakan tantangan yang harus saya hadapi. Saya senang karena sudah ada beberapa murid saya yang sudah berhasil sebagai penyanyi. (rek)





BERLATIH KERAS SEJAK ANAK-ANAK

SEJAK kecil Pauline Poegoeh memang sudah suka musik, khususnya seni suara. Talenta musiknya ini kemudian disalurkan dengan menjadi anggota paduan suara anak-anak Gereja Elyon Surabaya. Gereja yang hampir semua jemaatnya keturunan Tionghoa ini kebetulan punya banyak guru musik dan vokal yang hebat seperti Solomon Tong dan istrinya, Ester Karlina Magawe.

Nah, di usia sangat belia itu, Pauline belajar piano pada Ester Karlina. Bocah ini cepat sekali mengalami kemajuan dibandingkan teman-teman sebayanya. Bukan itu saja. Sejak kecil gadis berbadan subur ini punya kemampuan menyanyi di atas rata-rata.

Latihan vokal yang diperoleh di kor anak-anak membuatnya bisa membawakan lagu-lagu klasik dengan tingkat kesulitan tinggi. Potensi dan bakat besar ini tentu saja lekas terpantau Ester yang juga pianis Surabaya Symphony Orchestra (SSO) itu. Maka, pada usia 14 tahun Pauline langsung digembleng oleh Solomon Tong. Guru vokal senior dan tokoh musik klasik Surabaya ini kebetulan baru mendirikan SSO pada akhir 1996.

"Pauline ini memang sangat hebat. Bakat menyanyi luar biasa sehingga dia bisa menguasai teknik vokal klasik dengan sangat cepat," kenang Solomon Tong.

Keberadaan Pauline tentu saja menjadi berkah bagi SSO yang saat itu memang belum punya soprano tetap. Sebagai orkes simfoni, SSO dituntut memiliki home singer untuk mengisi konser-konser rutin sepanjang tahun.

Dan itu tidak gampang. Sebab, Tong mendambakan vokalis serbabisa yang mampu membawakan aneka jenis lagu, mulai seriosa Indonesia, nyanyian Tionghoa, hingga petikan opera yang sangat rumit dan panjang. Tong pun dengan telaten membagikan ilmu vokalnya kepada gadis yang juga dipanggil Fu Huaxiu ini.

"Puji Tuhan, Pauline ternyata bisa menjawab tantangan saya," kata pria yang sudah 54 tahun membaktikan hidupnya untuk musik klasik itu.

Merasa anak asuhnya sudah siap tampil di depan publik, Pauline mulai diperkenalkan Tong dalam konser ke-15 SSO pada 2001. Saat itu dia menjadi penyanyi utama alias leading voice singer. Belum bisa tampil bersama full orchestra.

Menurut Tong, seorang vokalis klasik harus dipersiapkan sungguh-sungguh sebelum bisa tampil bersama orkes simfoni. Tidak bisa instan. Maka, Pauline masih terus menjalani latihan intensif bersama Solomon Tong.

"Dia juga berlatih membawakan lagu-lagu yang akan ditampilkan oleh penyanyi tamu baik dari dalam maupun luar negeri," tutur Tong.

Gemblengan yang tergolong sangat keras ini, menurut Tong, merupakan bekal berharga untuk karir musiknya di masa depan. Dan itu sangat langka di Kota Surabaya, bahkan Indonesia.

Setelah melalui proses pelatihan yang panjang, barulah Pauline dipercaya tampil bersama SSO, full orchestra, pada konser ke-25. Sambutan penonton, termasuk kalangan ekspatriat, sangat meriah. Telah lahir seorang penyanyi opera dengan karakter suara coloratura soprano yang dahsyat.

Sejak itulah Pauline hampir tak pernah absen dalam konser-konser SSO di Surabaya. Porsi dan tingkat kesulitan lagu yang disodorkan Tong pun makin lama makin berat. Toh, Pauline mampu membawakannya dengan enjoy. "Sangat jarang mendapat penyanyi yang punya kualitas seperti Pauline," kata Tong.

Tak hanya digembleng Tong, Pauline juga kerap mengikuti master class yang diberikan para guest singer. Pada Juni 2004, Pauline mendapat kesempatan mendalami ilmu vokal di University of Taichong, Taiwan. Di sana dia dibina secara khusus oleh Dr Yi Lin-Hsu dan Prof Dr Judy. Di negeri Formosa itu Pauline juga memperdalam bahasa Mandarin.

Tak heran, bahasa Mandarin cewek murah senyum ini kian fasih saja. Ketika membawakan lagu-lagu Tiongkok, lafalnya fasih seperti Zhongguo ren saja. Ini terasa ketika Pauline membawakan lagu Chun Thian Lai Le dan Na Ciu Se Wo di Hotel Shangri-La belum lama ini. (HUREK)


Dimuat Radar Surabaya edisi Minggu 15 Januari 2012.

Bertemu Perantau Malaysia Timur


Kaget juga saya ketemu Frans Hurek, teman SD, di Mawa pada malam Natal. Saya benar2 pangling. Badannya gemuk, overweight, wajahnya beda dengan 20-an tahun lalu.

Juga kaget karena dia bercelana pendek, baju santai, belum mandi. Padahal, semua orang lagi bersiap ke gereja untuk misa malam Natal. Saya sendiri sudah siap dengan baju batik murah kelas Pasar Turi.

Kami pun minum kopi, ada kue. Kaget juga karena Frans bicara dalam bahasa daerah (Lamaholot) fasih. Beda dengan perantau2 lain yang suka berbahasa Melayu Malaysia, lupa bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerah.

Kawin dengan wanita Malaysia di Sabah, Frans tergolong sukses. Dia bisa mudik ke kampung secara teratur. Kali ini bersama istri dan seorang anaknya.

"Saya ajak anak istri agar mereka tahu kampung halaman saya," katanya. "Kalau anak saya cuti, dan saya ada rezeki, saya usahakan pulang kampung."

Ucapan yang menarik. Mengapa? Orang2 Lembata atau Flores yang merantau di Malaysia biasanya sangat jarang yang pulang kampung secara teratur. Ada yang 10 tahun, 20 tahun, bahkan 30 tahun tak pulang-pulang. Ada yang merantau sejak lulus SD, usia belasan tahun, dan sampai meninggal dunia di usia senja di Malaysia.

Ada lagi cerita Frans yang membuat saya hidung kembang. Katanya, anak-anak perantau asal Lembata atau Flores Timur di Malaysia Timur selalu membaca blog saya. Mereka jadi tahu sedikit suasana dan keadaan di Lembata atau Flores Timur setelah membaca saya punya blog.

"Ketika mereka cari informasi di Google, ketemunya di laman Anda. Anak-anak muda ini terkejut karena ternyata begitu banyak informasi tentang Lewotanah (kampung halaman) di blog Anda," kata Frans yang waktu anak-anak senang jadi kernet mobil ke Lewoleba ini.

Ehmmm... saya merasa tersanjung dengan pengakuan Frans. Yah, paling tidak saya sudah ikut membantu memberikan informasi sekadarnya tentang kampung halaman.




14 January 2012

Arie Koesmiran di Metro TV


Melihat Arie Koesmiran di Metro TV, saya ingat lelang bandeng di alun-alun Sidoarjo. Ya, Arie memang asli Sidoarjo. Tahu tradisi lelang bandeng kawak setiap bulan Maulud. Dia pernah diundang mengisi acara lelang bandeng.

Saya sempat bersalaman, bincang sejenak, melihat dari dekat sosok Arie Koesmiran. Orangnya ramah, tenang, berwibawa, murah senyum. Baik sekali memang.

Di atas panggung, wah, gayanya bukan main hebatnya. Karakter suara, teknik vokal, penguasaan panggung.. di atas rata-rata. Juga komunikatif.

Tentu saja Arie Koesmiran waktu lelang bandeng itu menyanyikan hitnya Setulus Hatiku Semurni Cintaku. Lagu ciptaan Is Haryanto yang melambungkan namanya. Lagu yang masih enak sampai hari ini.

Cukup lama saya tidak melihat Arie Koesmiran di televisi. Syukurlah, Zona Memori menghadirkan Arie kembali pada 18 Desember 2011. Gaya dan pesonanya masih sama. Yang berubah tentu saja umur.

Penyanyi lawas umumnya punya karir panjang. Tidak muncul sekejap lalu hilang kayak penyanyi zaman sekarang. Begitu pula Arie Koesmiran yang sudah menang festival sejak SD itu. "Sampai sekarang saya sudah merilis sekitar 450 lagu," katanya di televisi.

Andaikan satu album berisi 10 lagu, berarti sudah bikin 45 album. Banyak banget.

Tapi, yang paling menarik dari Arie Koesmiran adalah konsistensinya. Musik atau menyanyi telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil hingga usia yang makin senja. Dan itu pula yang membuat dia kelihatan awet muda dan bahagia.

13 January 2012

Banyak Cerita tentang Lembata


Saya baru saja pulang dari kampung halaman di Lembata, NTT. Banyak hal sederhana, tapi menarik bagi saya yang sudah terlalu lama di Jawa. Lembata sudah banyak berubah.

Dulu, ketika saya masih di kampung, Lembata ikut Kabupaten Flores Timur. Sekarang jadi kabupaten sendiri. Dulu tak ada listrik, sekarang PLN masuk ke desa-desa. Televisi ada di rumah-rumah.

Saya, meski lahir di Lembata, ibarat orang asing di tanah sendiri. Heran, kagum, pangling... melihat perubahan yang begitu pesat. Termasuk heran melihat banyak anak muda yang tidak ke gereja pada hari Minggu.

Maka, hal-hal sederhana di kampung itu saya catat di blog ini. Sekalian membiasakan diri dengan mobile blogging, ngeblog pakai ponsel. Cara blogging paling praktis meski kurang optimal karena dibatasi 2000 karakter.

Tulisan atau artikel yang utuh biasanya minimal 5000 karakter. Lebih banyak lebih tuntas tentu saja. Tapi mobile blogging tetap berguna untuk menulis apa saja secara singkat dan padat. Kapan saja, di mana saja.

Tokojaeng, Kampung Bakau di Lembata


TOKOJAENG. Desa yang nama resminya Lamatokan di Ileape Timur, Pulau Lembata, NTT, ini sudah lama sekali tak saya kunjungi. Terakhir saat saya masih SD di kampung. Maka, bermodal motor pinjaman saya memaksakan diri mampir sejenak di sana akhir Desember 2011.

Suasana sudah banyak berubah. Jalan aspal mulus hotmix, lebih bagus ketimbang di Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata. Kampung yang dulu dianggap terpencil itu kini jauh lebih bersih.

Gereja di pinggir jalan masih sama dengan ketika saya kecil. Baru saja Tokojaeng jadi tuan rumah perayaan Natal karena gerejanya tergolong besar. Hiasan di gereja belum dicopot.

Kelebihan Tokojaeng adalah pantainya yang indah dengan hutan bakau yang lebat. Laut sangat tenang karena terletak di teluk. Sore itu anak-anak mandi di laut dengan gembira.

Meski didukung pantai yang indah alami, sejak dulu Tokojaeng belum bisa menjadi objek wisata. Ini karena akses jalan yang buruk dan terjal di desa-desa tetangga.

Jalan dari Mawa, Atawatung, Ebak, Lemau.. masih sangat buruk. Sama dengan zaman dulu meski ada pengaspalan di beberapa ruas jalan. Jalan dari jalur Baopukang pun kurang bagus.

Tokojaeng sangat dekat dengan Gunung Lewotolok alias Ileape yang saat ini sedang erupsi. Karena itu, warga harus siaga penuh. Harus siap mengungsi kalau gunung setinggi 1.400 meter itu meletus.

Tapi justru itu pula kelebihan Tokojaeng. Kita bisa menikmati keindahan gunung yang aktif mengeluarkan belerang dan asap tebal itu. Mungkin suatu ketika energi gunung itu bisa dimanfaatkan untuk listrik dan sebagainya.

Karena sangat dekat gunung, air sumur di Tokojaeng berasa pahit. Tak layak minum. Syukurlah, sekarang ada bantuan tandon atau bak di rumah-rumah penduduk untuk menampung air hujan. Air hujan inilah yang menggantikan air pahit itu untuk konsumsi sehari-hari.

Mudah-mudah setelah Lembata jadi kabupaten sendiri, kemudian Kecamatan Ileape dimekarkan menjadi Ileape Timur, Tokojaeng dan kampung-kampung sekitar macam Lamawolo, Lemau, Ebak, Baopukang, Kimakamak, Waiwaru... makin maju. Tidak lagi masuk daftar desa tertinggal di NTT.

12 January 2012

Tidur Awal Bangun Cepat


Saat ini desa-desa di pelosok Lembata sudah dialiri listrik PLN. Beda banget dengan kita saya SD. Waktu itu listrik sama sekali tidak dikenal. Karena listrik lancar, televisi ada di banyak rumah dengan kualitas gambar sangat bagus.

Tapi gaya hidup agraris belum berubah. Orang-orang desa tetap membiasakan diri tidur awal. Tak ada hiburan, apalagi night life. Pukul 18.00 pintu-pintu rumah sudah ditutup.

Jangan harap melihat warung -warung di pinggir jalan. Lengang. Saat saya melintas dari Tokojaeng, Lemau, Ebak, Atawatung, Mawa, Bungamuda, Lamawara belum lama ini hari beranjak senja. Suasana sepi. Hampir tak ada orang yang melintas di jalan raya.

Sebagai orang yang biasa tidur di atas jam 00.00, saya memang pangling dengan situasi ini. Apakah harus cepat-cepat tidur? Nonton tv juga susah karena hampir semua orang tidak biasa melihat acara tv malam-malam.

Karena tidur awal, pagi-pagi sekali orang Lembata sudah bangun. Lalu ke kebun, memasak, ambil air di sumur, memberi makan babi dan kambing, cari ikan, atau mendaras tuak. Kesibukan khas orang desa.

Mungkin pola tidur yang sangat baik ini membuat orang-orang desa lebih sehat. Jarang yang berurusan dengan sakit. Kalaupun sakit, penyakit-penyakit khas orang desa kebanyakan tergolong kelas ringan.

Bupati Tionghoa di Lembata


Bupati Yance bersama istri (dr Margie Kandou) dan putrinya.

Ada yang unik dan menarik di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, kampung halaman saya. Kabupaten hasil pemekaran Flores Timur ini sekarang dipimpin Bupati Yance Sunur yang etnis Tionghoa. Wakil bupatinya Viktor Mado Watun etnis Lamaholot alias pribumi.

Yance-Viktor baru dilantik pada 25 Agustus 2011 setelah memenangi pemilukada putaran kedua. Baik Yance maupun Viktor sama-sama kader PDI Perjuangan.

Yang menarik lagi, ketua DPRD Lembata pun orang Tionghoa. Ada pula Tarsisia Hany Candra, anggota DPRD Lembata, yang juga Tionghoa. Hany dikenal sebagai perempuan cerdas dan tak banyak bicara.

Bagaimana mungkin Lembata bisa diperintah politisi Tionghoa, padahal etnis jawara dagang ini kurang dari 2 persen? Ini membanggakan saya sebagai putra asli Lembata. Bahwa masalah rasial atau etnisitas atau SARA tidak ada lagi di Lembata. Asas kompetensi dan meritokrasi sudah diterapkan di pulau terpencil itu.

Orang Lembata di sembilan kecamatan itu sudah sangat dewasa. Tidak termakan hasutan atau isu rasial yang sempat dicuatkan sejumlah politisi (lawan Yance-Viktor) saat kampanye. Rakyat sudah memilih secara langsung dan Yance Sunur adalah pemenangnya.

Kalau ditelusuri, Yance sebetulnya bukan Tionghoa totok yang baru datang dari Tiongkok. Leluhurnya sudah bercampur dengan DNA Lamaholot. Saya bahkan kaget ketika diberi tahu kalau ada leluhur Yance yang bermarga Paokuma, suku di Ileape.

Yance besar di Kedang meski berkarir di Bogor, Jawa Barat. Karena itu, dia fasih bahasa Kedang. Saat kampanye di kampung-kampung Yance menyampaikan pesannya dalam bahasa daerah. Calon-calon yang mengaku pribumi justru berbahasa Indonesia. Hehehe...

Didukung istrinya yang dokter, Margie Kandou, Yance menarik hati rakyat dengan bakti sosial pengobatan gratis. Juga ada dukungan logistik yang cukup. Ditambah citranya sebagai politisi bersih karena selama ini berkiprah di luar Lembata.

Sekarang tinggal Bupati Yance membuktikan janjinya untuk membangun lewotanah. Memajukan Lembata, salah satu kabupaten pemekaran yang dinilai tidak sukses.

Secara tidak langsung kepemimpinan Yance juga sebuah taruhan bagi warga Tionghoa untuk membuktikan diri. Bahwa memerintah di Lembata itu mengabdi demi kemajuan rakyat Lembata. Selamat bekerja Bung Yance!







Real Madrid Sulit Menang


Jose Mourinho selalu panas karena kewalahan menghadapi Barca.


Real Madrid hampir pasti bakal bentrok lagi dengan Barcelona di Piala Raja. Siapa yang menang? Jelas Barca.

Sejak dilatih Jose Mourinho, Madrid sering menang, bahkan menang besar, tapi cara mainnya kurang indah. Pola atau skema main dan kerja tim sangat buruk. Itu jika kita bandingkan dengan Barca.

Saya tidak pernah absen melihat duel klasik ini di tv. Saya selalu geleng-geleng kepala karena Madrid selalu keteteran. Kalah cepat, kalah akurat, kalah cerdas dari Barca. Maka, Real Madrid pun kalah banyak. Di kandang sendiri pula. Memalukan!!!

Barca terlalu bagus, terlalu dominan. Kita sulit mencari kelemahan Barca kecuali satu dua blunder yang membuatnya kebobolan pada menit 1 tempo hari.

Bentrok Madrid-Barca nanti akan membuat Mou dan pemain-pemainnya makin frustrasi. Makin inferior. Selama masih dilatih Mou dengan space yang lebar, akurasi passing yang buruk, emosi tinggi... Barca akan makin berkibar.

Saya sedih melihat pemain-pemain terkenal, dan mahal, macam Ronaldo, Kaka, Higuain, Benzema, di Maria, Pepe... terus dibuat mainan oleh Barca. Diajari cara main bola oleh Barca.

11 January 2012

Kampung Islam di Lembata


Belum lama ini (30/12/2011), saya mengunjungi Desa Palilolon, Kecamatan Ileape, Kabupaten Lembata, NTT. Saya ditemani Mama Siti Manuk, adik kandung mendiang mama saya. Palilolon merupakan salah satu dari dua desa muslim di Kecamatan Ileape.

Boleh dikata 100% penduduk Palilolon dan Kolipadan, kampung tetangga, beragama Islam. Ini menarik karena warga desa-desa lain di Lembata hampir semuanya Katolik. Di kampung halaman kami memang hanya ada dua agama: Katolik dan Islam. Agama Kristen Protestan atau Pentakosta atau Adven dan sejenisnya tidak ada.

Meski berbeda agama, orang Lembata sangat rukun. Ada ikatan kekerabatan yang sangat erat sebagai sesama orang Lamaholot. Bahasa, adat, gaya hidup, pola pikir... tak ada beda.

Terletak di antara hutan bakau dengan pasir yang halus, kampung Palilolon ini sebenarnya sangat indah. Orang-orangnya pun sangat ramah.

Semua kampung Islam di Lembata dan Flores Timur memang berada di pesisir pantai. Karena itu, orang Islam biasa disebut WATANEN dalam bahasa Lamaholot. WATAN berarti pantai. Sebaliknya, orang Katolik disebut KIWANEN yang artinya orang gunung. Orang WATANEN alias Islam di bumi Lamaholot ini sejak dulu dikenal sebagai pelaut yang ulung. Mereka piawai menyelam di laut yang cukup dalam meski tanpa bantuan peralatan memadai.

Mama Siti Lebaur kaget bukan main ketika saya nongol di rumahnya. Saat itu tante saya ini sedang membuat jagung titi di dapur. Seakan tak percaya ada 'orang Jawa' mampir ke rumahnya.

Meski banyak menghasilkan ikan dan rumput laut, dua kampung Islam ini punya masalah air minum. Air tawar tak ada. Air sumurnya malah lebih asin dari air laut di Jawa, begitu guyonan saya. Karena itu, sejak dulu warga harus jalan kaki jauh untuk menimba air sumur.

Kalau punya uang bisa beli air tangki yang dijual beberapa pedagang dari Lewoleba. Tapi orang Palilolon enjoy aja dengan krisis air bersih ini.

Syukurlah, beberapa tahun lalu ada bantuan bak atau tandon air dari pemerintah. Tandon dipasang di bawah cucuran atap untuk menampung air hujan. Warga pun kini terbiasa minum air hujan dan tak lagi kehausan. Tandon 3000 liter di setiap rumah itu jadi solusi yang mujarab.

Sekitar tahun 2000 warga kampung Islam ini sempat kipas-kipas uang. Panen raya rumput laut yang membuat penghasilan mereka jauh lebih banyak ketimbang jadi nelayan atau petani biasa. Anak-anak muda beli motor baru, bisa bangun rumah, beli tv plus parabola.

Sayang, sejak 3 tahun terakhir rumput laut ini rusak. Panenan pun sepi. Maka, sebagian warga kembali lagi menggarap ladang jagung yang sempat ditelantarkan selama beberapa tahun.

"Langgara kamen data laga gohuk. Heloka nolo hala," kata Mama Siti Lebaur dalam bahasa daerah. Artinya, saat ini budi daya rumput laut sudah rusak. Tidak seperti dulu.

Azan magrib pun terdengar. Warga Pailolon, yang baru saja menyaksikan pertandingan bola di kampung tetangga, kalah 1-4, bersiap menunaikan salat. Mesin genset pun dihidupkan untuk menerangi kampung bakau yang sudah mulai gelap. Saya minta diri pulang bersama Mama Siti Kasa sambil membawa oleh-oleh segepok ikan kering dan gurita.


Masalah Paduan Suara di Lembata


Paduan suara malam Natal, 24 Desember 2011, di Gereja Stasi Mawa, Lembata. Terlalu fokus ke teks, kurang perhatikan dirigen.

Sebagai mantan aktivis paduan suara mahasiswa dan paduan suara gereja di Jawa Timur, saya selalu menyimak dengan saksama penampilan dan cara bernyanyi paduan suara. Di mana pun. Itu pula yang saya lakukan saat ikut misa malam Natal 2011 di Gereja Mawa, misa Natal kedua di Gereja Waowala, dan misa tahun baru 2012 di Gereja Lewotolok.

Mawa, Waowala, dan Lewotolok adalah tiga desa di Kecamatan Ileape, Kabupaten Lembata, NTT. Kampung halaman saya. Jujur, saya terharu dengan semangat anggota kor di Mawa. Mereka sudah menyisihkan waktu untuk berlatih untuk ekaristi malam Natal. Begitu pula kor di Lewotolok yang merupakan gabungan Desa Bungamuda, Lamawara, dan Amakaka.

Sayang, masalah klasik sejak saya SD di kampung belum juga teratasi. Yakni teknik vokal atau cara produksi suara yang keliru. Orang-orang kampung masih saja menyanyi dengan suara leher. Cara ini membuat vokal yang keluar tidak bagus. Dan akan sangat sulit ketika membawakan nada tinggi.

Tiga paduan suara ini merupakan gambaran kor-kor di Pulau Lembata. Masalah teknis dasar ini terus berulang karena dirigen atau pelatih mengabaikan latihan vokal. Teknik pernapasan, diafragma, suara dada, suara kepala atau falsetto, frasering kurang digarap. Orang-orang kampung biasanya langsung solmisasi dan berlatih lagu baru.

Masalah serius di Gereja Lewotolok adalah insetting atau memulai lagu. Kor acapella alias tanpa iringan musik memang tidak gampang. Sang dirigen harus bisa membuat aba-aba yang pas agar semua penyanyi tidak ragu untuk memulai. Insetting memang masalah sangat prinsip dalam paduan suara acapella.

Di Lewotolok ini sopran, alto, tenor, bas terasa kurang harmonis. Padahal, saya lihat si dirigen sudah kerja keras. Mungkin kurang latihan!

Masalah lain yang cukup mengganggu adalah iringan musik. Kelihatan sekali kalau pemusik di kampung kurang paham musik liturgi. Ritme atau irama mekanis yang disetel di keyboard sangat tidak cocok untuk paduan suara. Belum lagi volume musik yang terlalu keras sehingga menenggelamkan paduan suara. Ini terlihat saat misa Natal kedua di Gereja Lewotolok.

Mudah-mudahan Romo Paskalis Hurek, pengurus Seksi Liturgi Keuskupan Larantuka, yang kebetulan orang Mawa, Ileape, mau pulang kampung untuk membenahi kor-kor di kampung. Potensi dan materi vokal sudah bagus, tinggal dipoles sedikit sajalah.

Atap Seng di Lembata


Gereja Stasi Tokojaeng, Lembata, yang beratap seng.

Pada 1980-an rumah-rumah di Lembata, khususnya di Kecamatan Ileape, sangat sederhana. Berlantai tanah. Atap daun kelapa atau daun lontar atau alang-alang. Berdinding belahan bambu alias gedhek.

Hanya segelintir rumah yang pakai tembok. Itu pun hanya setengah tembok. Bagian atas tetap bambu dengan atap alang-alang. Kapela alias gereja kecil di Mawa dulu pun beratap alang-alang, berdinding bambu, berlantai pasir. Sangat sederhana.

Tapi berkat jasa para perantau di Malaysia Timur, rumah-rumah di kampung pelan-pelan dirombak. Dibuat lebih bagus. Ditembok utuh baik itu pakai batako atau batubata maupun dicor. Atapnya pakai SENG, bukan genting, apalagi alang-alang.

Seng dianggap jauh lebih tinggi kelasnya ketimbang genting atau alang-alang atau daun kelapa dan daun lontar. Orang yang rumahnya beratap seng dianggap lebih hebat. Maka, seng pun makin populer dan pelan-pelan menggusur alang-alang, daun kelapa atau daun siwalan.

Kearifan lokal khas Lamaholot kian tergusur. Ironis, karena suhu udara di Lembata tergolong panas. Angin pantai pun tak mampu mendinginkan suhu di dalam rumah. Ketika panas terik, seng menyerap panas dengan sempurna. Maka, hawa di dalam ruangan pun jadi panas tak karuan. Sudah pasti mandi keringat.

Jika turun hujan, wah ributnya bukan main. Seng yang logam itu menimbulkan bunyi aneh. Bikin sengsara kalau hujannya lama pada malam hari saat orang enak-enakny tidur. Tentu saja mereka yang rumahnya pakai atap alang-alang bisa tidur dengan nyenyak.

Begitulah. Entah siapa yang memulai, akal sehat di bidang arsitektur sudah lama hilang di Lembata. Orang begitu memuja seng sebagai atap yang tahan lama meski bising dan bikin panas. Maka, ketika bercuti di kampung belum lama ini saya memilih tidur di ORING, pondok sederhana beratap daun kelapa dan daun lontar di luar rumah. Sejuk dan nyaman banget.

Saya sempat mengantar ayah ke RSUD Lembata di Lamahora pada 31 Januari 2011. Wuih, rumah sakit baru ini beratap seng. Termasuk lorong-lorongnya yang rendah. Panas nian siang itu! Puanassss!

10 January 2012

Lango Beruin yang Merana


Sejak acara pesta kacang pada 2008 tak ada lagi aktivitas di Napaulun atau kampung lama kami di Ileape, Pulau Lembata, NTT. Tidak heran rumah-rumah adat atau lango beruin yang terkenal itu sangat merana.

Saya sempat mampir ke beberapa rumah adat akhir Desember 2011. Bahkan sempat tidur di salah satu rumah adat saat hujan. Kondisinya sangat memprihatinkan.

Atap dari daun kelapa dan daun lontar (siwalan) sudah bolong-bolong. Balai-balai bambu rusak. Rumput dan tetanaman liar tumbuh tak karuan. Pertanda orang-orang di kampung pun tak pernah sekadar mampir berteduh. Selama hampir tiga tahun.

Namang atau halaman utama tempat atraksi dolo-dolo, oha, seni tradisional Lamaholot pun dipenuhi daun-daun kering. Tapi prasasti yang ditandatangani Bupati Lembata Andreas Duli Manuk masih bagus. Begitu pula beberapa rumah adat yang dibuat lebih modern di samping namang.

Mengapa rumah adat di Lembata sangat parah kondisinya? Padahal biaya perawatan tergolong sangat murah? Ini pertanyaan yang sulit dijawab. Ini masalah kita bersama sebagai orang Lamaholot yang makin modern dan makin jauh dari lango beruin, asal muasal kita.

Yang jelas, rumah-rumah itu tak berpenghuni. Jauh dari kampung atau permukiman warga. Hanya satu dua orang yang sempat melintas, itu tak sempat mampir, apalagi mau sedikit capek untuk mencabut rumput-rumput liar.

Andai saja setiap suku seperti Hurek, Manuk, Wahon, Nimanuho... punya petugas khusus yang memelihara rumah adat, alangkah bagusnya. Tentu saja harus disiapka uang lelah atau semacam honor bulanan.

Kurang elok rasanya kalau rumah adat itu baru diperhatikan kalau ada pesta kacang yang jadwalnya tidak menentu. Tanpa perawatan rutin, maka infrastruktur jalan tembus ke Napaulun yang dibuat pada era Bupati Ande Manuk menjadi sia-sia. Padahal, pemkab ingin menjadikan rumah-rumah adat dan kampung lama itu sebagai objek wisata budaya di Lembata.

Bagaimana mau menarik wisatawan kalau kita sendiri sebagai pemilik lango beruin alias rumah adat menelantarkan warisan budaya kita sendiri?



Jagung Titi Bikin Kangen Kampung


Jagung titi atau emping jagung. Camilan sederhana ini punya makna khusus bagi orang Lamaholot (Lembata, Adonara, Solor, Flores Timur daratan dan Alor). Lebih-lebih bagi para perantau di Jawa.

Karena itu, ketika kembali cuti di kampung, jagung titi menjadi oleh-oleh pertama dan utama. Beli sana-sini, minta sana-sini... sudah cukup untuk satu tas besar. Maka bagasi saya pun lebih banyak dimuati jagung titi.

Tahu kalau saya baru kembali dari Lembata, beberapa teman Lamaholot pun langsung pesan wata kenanen alias jagung titi. Tak perlu oleh-oleh lain yang mahal dan berat. Cukup jagung titi beberapa genggam.

Saya pun keliling Surabaya, Sidoarjo, Malang hanya untuk mengantar jagung titi. Capek sudah pasti. Tapi mereka antusias dan sangat berterima kasih begitu menerima jagung titi yang tidak banyak itu.

Saya sendiri pun meski sudah terlalu lama di Jawa Timur, selalu rindu jagung titi. Mencicipi jagung lempeng yang dititi dengan batu ini, saya pun teringat kampung halaman. Ingat mama-mama, kaka ari di Lewotanah yang bekerja keras di ladang jagung. Ingat bagaimana mama-mama begitu cekatan memungut butir-butir jagung panas untuk dilempengkan hingga pipih.

Karena itu, bagi orang Lamaholot di perantauan, jagung titi bukan makanan atau camilan biasa. Ia punya makna kultural, nostalgia, membawa simbol budaya Lamaholot yang khas.

Dengan makan jagung titi, orang Lamaholot seakan-akan diingatkan untuk tidak lupa kampung halaman. Lebih baik hujan batu di Lewotanah daripada hujan emas di negeri orang. Maka, jika ada orang Lamaholot yang merantau di Jawa atau Malaysia tak pulang-pulang bisa jadi karena dia sudah tidak pernah makan jagung titi.