30 December 2012

Renovasi gereja yang tak berujung


 Miris juga melihat kondisi gereja katolik di Stasi Mawa, Kecamatan Ileape, Kabupaten Lembata, NTT. Sudah lima tahun ini umat berencana menyelesaikan bangunan yang tinggal separo tapi belum ada kemajuan.

Kemarin saya kembali memotret gereja kecil di pinggir jalan itu. Kondisinya hampir sama dengan tiga tahun lalu. Mungkin 10 tahun lagi gereja itu belum rampung karena tidak ada dana.

Saya heran mengapa Pemkab Lembata tidak tergerak memberikan bantuan yang sebetulnya tidak besar. Mengapa kementerian agama tidak bantu? Keuskupan Larantuka juga sulit diharapkan.

Gereja Mawa hanyalah satu contoh kecil betapa sulitnya membangun gereja di Lembata. Bukan karena sulit izin seperti di sejumlah kawasan di Jawa, tapi kurang... uang. Begitu banyak gereja sederhana, kelas RSS, di Lembata yang baru selesai setelah 10 tahun. Pernah ada yang sampai 20 tahun.

Bahkan, ketua panitianya ganti beberapa kali karena ada yang meninggal. "Pokoknya, renovasi gereja di sini tidak pakai target. Kalau ada uang baru jalan. Tidak ada uang ya kita tunggu dulu," kata seorang tokoh desa.

Toh, misa atau kebaktian atau kegiatan liturgi yang lain tetap berjalan dengan lancar. Stasi Mawa bahkan dikenal sangat dinamis dan kompak dalam kegiatan gerejawi.

Saya heran, Mawa yang sering dilewati bupati, wakil bupati, sering dibahas di internet oleh turis Eropa ternyata tidak bisa merampungkan gerejanya. Sebagai perbandingan, gereja mungil itu kalau di Surabaya paling banter cuma butuh waktu 10 hari. Hehehe...

Jalan raya di Lembata hancur parah


Kondisi jalan raya di Lembata, kabupaten pemekaran Flores Timur, sudah lama dikeluhkan warga. Tapi selama 10 tahun lebih tidak ada tanda-tanda akan diperbaiki.

Ketika Andreas Manuk terpilih menjadi bupati periode kedua, orang berharap beliau meninggalkan warisan infrastruktur jalan yang baik. Tidak perlu hotmix atau mulus kayak di Jawa tapi lumayanlah. Sayang, Pak Ande lengser dengan kondisi jalan yang buruk.

Orang Lembata rupanya sudah kehilangan suara untuk protes jalan yang hancur. Anggota DPRD turun reses, jaring aspirasi, tapi hasilnya masih nihil. Jalan yang sudah buruk bertambah buruk karena sama sekali tak ada sentuhan perbaikan.

Di Lembata seakan-akan tidak ada pemerintah. PNS makin banyak, bangun kantor pemkab, gedung DPRD dsb, tapi jalan raya yang sangat vital itu justru bukan prioritas. Maka orang lantas menjadi bersahabat dengan jalan rusak. Menganggapnya sebagai hal biasa. Hanya turis asing atau pendatang dari Jawa yang curhat lewat internet. Tapi juga tidak akan dibaca oleh bupati dan anak buahnya.

Setelah Yance Sunur jadi bupati Lembata, orang berharap banyak pada politikus Tionghoa itu. Segera perbaiki jalan yang mangrak bertahun-tahun. Benahi infrastruktur. Kasihan sudah terlalu banyak korban sia-sia di jalan yang brengsek itu.

Sayang, sampai awal 2013 ini belum ada gebrakan untuk memperbaiki jalan raya. Akibatnya, Lewoleba - Bungamuda yang hanya 22 km butuh waktu hampir dua jam dengan sepeda motor atau mobil.

Mudah-mudahan duet Yance-Mado mau memperbaiki jalan raya di seluruh Lembata dalam lima tahun masa bakti. Untuk apa kita punya kabupaten sendiri kalau infrastruktur dasar saja tidak bisa ditangani?

Merantau ke Malaysia, tak pernah pulang


Setiap mudik ke kampung halaman di Lembata, NTT, saya selalu menanyakan dua teman karib semasa SD. IK dan TT sudah pernah pulang? Bagaimana keadaan mereka?

Jawabnya sama saja dari tahun ke tahun: tak ada kabar berita. IK sepertinya tak punya niat sedikit pun untuk pulang. Gayanya macam penduduk tempatan, orang Malaysia. TT punya dua istri. Juga tak jelas kabarnya.

Perantau yang tak pulang-pulang, meski sudah merantau 10, 20, bahkan 30 tahun tak hanya IK dan TT. Begitu banyak orang Flores yang macam begitu. Sudah nikmat dengan ringgit dan tak sudi melihat lagi kampung halamannya yang belum maju.

Mengapa perantau tak mau pulang? Daftar alasan sangat banyak. Biasa sibuk bekerja, dapat uang, beli macam-macam di Malaysia... lalu nganggur di kampung. Mana mau kerja di ladang?

Di pihak lain, orang kampung sering membebani para perantau dengan harapan selangit. Seakan-akan begitu mudahnya mendapat ringgit di Malaysia. Seakan-akan para perantau di Malaysia itu mandi uang.

Karena itu, perantau yang pulang kampung adalah perantau yang pulang membawa banyak uang dan barang. Saya pernah melihat ada perantau Malaysia yang menyewa dua pikap untuk mengangkut barang-barangnya.

"Kalau pulang tidak bawa apa-apa kan malu. Kerja bertahun-tahun di Malaysia kok datang kosong," kata A yang berumur 10 tahun. Ayahnya si A ini sudah 20 tahun lebih tak pulang-pulang.

Filsafat dan budaya Jawa rupanya lebih bersahabat dengan perantau. Orang Jawa bilang makan tidak makan asal kumpul! Orang NTT menuntut pulang plus membawa banyak barang. Percuma bekerja jauh-jauh di Malaysia tapi hasilnya pas-pasan.

MELARAT TUN PULO, BALIK GERENGO?

Maka, saya kira IK, TT, dan puluhan perantau NTT lain sejatinya menjadi korban budaya materialisme yang mulai hinggap di NTT sejak 1950an. Bahwa orang yang bekerja di Malaysia seolah-seolah begitu mudahnya memetik ringgit di kebun atau padang rumput.

Sebagian orang kampung juga cenderung lebih suka uangnya ketimbang orangnya. "Tidak pulang kampung tidak apa-apa. Yang penting kiriman ke kampung lancar," kata si X.

Natal di dusun kecil Lewotolok


Sebelum 2000 Kecamatan Ileape di Lembata, NTT, hanya punya SATU paroki. Seluruh 15 desa, yang belum dimekarkan, selalu kumpul untuk perayaan Natal dan Paskah. Tentu saja suasananya sangat meriah dan semarak.

Kini Ileape punya dua paroki. Setiap paroki dibagi lagi menjadi dua tempat untuk natalan atau paskahan. Maka kemeriahan seperti yang saya alami dulu, ketika masih SD, tak ada lagi. Betapa tidak. Kalau dulu umat Katolik dari 15 desa berkumpul di sebuah gereja (plus lapangan) kini tinggal enam desa saja.

Itu pun sebenarnya hanya tiga desa karena Bungamuda dan Tanjungbatu merupakan desa hasil pemekaran. Yah, suasana yang jauh dari meriah dibandingkan era Pater Geurtz dan Pater van der Leur.

Misa Natal baik malam, pagi, dan Natal kedua dipimpin Romo Blasius Keban. Empat stasi gotong royong menampilkan paduan suara. Ada yang kebagian persembahan, kemuliaan, komuni, atau penutup. Praktik khas Lembata yang tidak pernah dikenal di gereja-gereja di Jawa atau Larantuka atau Kupang. Tapi menyanyi sistem cicilan ini membuat beban stasi lebih ringan. Juga memaksa mereka untuk saling berkompetisi menjadi yang terbaik.

Maka suasana misa sedikit banyak kayak lomba kor antarempat stasi itu: Lewotolok, Waowala, Mawa, Atawatung. "Kor A lebih bagus dari B dan C," kata satu orang. "Tapi solisnya kor A bagus," kata yang lagi.

Saya menyimak khotbah Romo Blas dengan baik. Pastor asal Solor ini bicara datar, ilmiah, dan tak lupa nyental-nyentil beberapa kebiasaan orang kampung, khususnya kaum muda, yang mulai malas ke gereja, suka hura-hura, cuek ekaristi. Rambut dibuat ala punkers mirip punggung kuda. Orang-orang desa kecanduan HP meski sinyalnya tidak stabil.

Selepas misa pagi, umat Stasi Lewotolok yang jadi tuan rumah 'menahan' para umat tamu dari tiga stasi lain untuk TENU WAI alias minum air. Istilah halus untuk ramah-tamah sederhana. Lumayan, umat cukup kenyang menikmati makanan ala kadarnya yang disiapkan stasi tuan rumah.

Salam damai Natal dari pantai utara Lembata, Laut Flores! Tuhan memberkati anda!

Banyak perubahan di Lembata

Gereja Katolik Atawatung, Lembata, NTT, tempat saya dibaptis saat masih bayi.

Terlalu lama tinggal di Jawa, kemudian pulang kampung di NTT, khususnya pelosok Lembata, membuat saya pangling. Serasa asing dengan kampung halaman tempat lahir dan sekolah di SD tempo dulu.

Saya coba jalan kaki dari Lamawara ke Atawatung. Tak sampai lima orang yang saya papas di jalan. Sejak belasan tahun lalu kebiasaan jalan kaki sudah hilang. Anak-anak muda kelahiran 1990an enggan jalan kaki. Mereka naik ojek atau nunut pikap.

Hare gini jalan kaki? Itu mah orang lama! kata seorang pemuda lantas tertawa lebar.

Masih untung saya bertemu seorang ibu yang TUE LELU sambil jalan kaki. Yakni kebiasaan wanita Lamaholot yang memintal kapas jadi benang untk bikin kain. Seni tenun ikat manual yang bernilai tinggi.

Saya dengan Wabub Lembata Ama Mado pernah bilang suatu saat tue lelu tinggal sejarah di Lembata, khususnya Ileape. Tradisi bikin kain, sarung, peninggalan nenek moyang makin ditinggalkan anak muda.

Dari Mawa ke Atawatung saya pun tak berjumpa orang jalan kaki. Jalanan sepi. Cuma satu dua ojek yang lewat. Rupanya tukang ojek tak kenal saya, dan saya pun tak kenal mereka. Tak ada sapaan sekadar basa-basi. Padahal ketika saya kecil semua orang, khususnya yang lebih tua, wajib menyapa orang tua.

23 December 2012

Suster Magdalena Pardosi - Griya Usila Santo Yosef Surabaya



Oleh Lambertus Hurek

Menjelang Natal ini, Griya Usila Santo Yosef, Jl Jelidro II/33, Sambikerep, Surabaya, setiap hari didatangi ratusan tamu dari berbagai komunitas. Mereka ingin berbagi kebahagiaan dengan oma-opa penghuni panti wreda milik Kongregasi Suster Santo Yosef (KSSY) itu.


Dipimpin Suster Magdalena Pardosi KSSY (50), para oma-opa ini menyambut para tamu dari berbagai komunitas dan gereja. Berikut petikan percakapan dengan Suster Magdalena Pardosi di sela kunjungan beberapa komunitas gereja dan masyarakat Tionghoa, pekan lalu.

Mengapa KSSY datang ke Surabaya untuk mendirikan dan mengelola graha lansia?

Kota sebesar Surabaya sangat membutuhkan rumah yang representatif untuk para lansia. Tidak hanya tempat penampungan, tapi juga cinta kasih. Kalau hanya sekadar bikin rumah atau panti jompo mungkin tidak sulit. Tapi bagaimana kita melayani para oma-opa ini dengan hati. Membuat mereka bahagia di akhir hidup mereka. Kita kondisikan agar mereka ini seakan-akan tinggal di lingkungan keluarga sendiri.

Anda rupanya menangkap persoalan lansia di kota-kota besar seperti Surabaya?

Betul. Manusia itu ketika baru lahir disambut dengan bahagia oleh orang tuanya dan keluarga besarnya. Tapi, setelah tidak produktif, usia lanjut, kena stroke dan sebagainya, sering kali kurang mendapat perhatian, bahkan dari keluarganya sendiri. Anak-anaknya mungkin terlalu sibuk, tidak punya waktu untuk mengurusi orang tuanya sendiri. Ada anak yang tinggal di luar negeri, sementara ayah atau ibunya tinggal sendiri di Surabaya. Siapa yang harus mengurus? Siapa yang perhatikan mereka?

Apa yang membuat Anda dan para suster KSSY setia mendampingi para lansia ini?

Dalam berbagai pelayanan atau karya sosial, kami punya moto Imago Dei atau Citra Allah. Bahwa manusia itu diciptakan oleh Tuhan sendiri dengan sempurna. Karena itu, tidak boleh ada manusia yang dikucilkan atau disingkirkan orang lain. Semua manusia berhak mendapat perhatian dan kasih sayang. Nah, di sini kami berusaha memberikan cinta kasih kepada para oma-opa itu.

Berapa penghuni panti lansia ini?

Sekarang ada 98 orang. Jumlah penghuni naik turun, pernah mencapai 150 orang. Ada yang meninggal dunia, ada yang kembali ke keluarganya. Dan, biasanya selalu ada p enghuni baru yang datang.

Oma-opa ini datang dari mana?

Surabaya, Sidoarjo, Jember, Bondowoso, Jakarta, dan berbagai kota di Indonesia. Ada yang datang sendiri, ada yang dititipkan keluarganya. Karena itu, karakter mereka pun macam-macam. Tapi kami berusaha agar mereka betah, at home. Mereka semua kami anggap keluarga sendiri. Itu yang selalu saya tekankan kepada para karyawan di sini.

Apa saja fasilitas untuk para penghuni?

Kami punya 16 kamar, tiap kamarnya untuk enam. Kemudian delapan kamar masing-masing untuk empat) orang. Kami juga punya ruang makan dan kapel. Juga ruang poli kesehatan umum, poli kesehatan gigi. Ada salon untuk perawatan dan potong rambut.

Ada pemeriksaan kesehatan rutin?

Pasti ada. Setiap hari Selasa para oma-opa ini diperiksa atau konsultasi kesehata dengan dokter. Pemeriksaan kesehatan jiwa setiap hari Rabu. Sementara perawatan rambut (cuci, potong, semir) dan perawatan kuku sebulan sekali oleh ibu-ibu Legio Maria.

Apa kesulitan merawat para lansia ini?

Memang tidak mudah merawat mereka karena faktor usia. Mereka bertingkah laku seperti anak-anak, minta diperhatikan secara khusus. Rasa egoisme tinggi. Karena itu, harus ada pendekatan khusus untuk oma-opa ini.

Misalnya?

Di sini semua penghuni wajib makan bersama di ruang makan. Tidak boleh makan sendiri-sendiri di kamar kamar tidurnya. Puji Tuhan, ternyata dampaknya sangat positif. Bukan saja kamar mereka lebih bersih, keegoisan mereka semakin berkurang. Mereka mau memperhatikan dan saling membantu temannya yang mengalami kesulitan saat menyuap makanan. Kami bangga karena saat ini mereka tidak merasa sebagai orang-orang titipan, tetapi mendapat teman dan keluarga-keluarga baru. Suatu ketika ada penghuni yang dijemput anaknya dan diajak tinggal bersama mereka. Dia tidak mau dan menangis agar tetap tinggal di sini.

Kami selalu terus berusaha memberikan kasih dan pelayanan yang terbaik bagi mereka, karena hanya itulah yang kami punya. Dan bagaimana mencari cara agar mereka selalu kerasan dan menjadi bagian dari keluarga besar. (*)




Dimulai dari Rumah Kontrakan

KONGREGASI Suster Santo Yosef (KSSY) mulai merintis pelayanan di Kota Surabaya sejak 1993. Saat itu para suster yang berasal dari Medan, Sumatera Utara, itu memilih kawasan Tandes untuk mengawali karya sosialnya. Saat itu kawasan Surabaya Barat memang masih cenderung tertinggal dibandingkan kawasan lain.

Selama dua tahun para biarawati ini tinggal di rumah kontrakan di Jalan Candi Lontar Kidul, tak jauh dari Pastoran Paroki Santo Stefanus, Manukan. Sesuai dengan visi KSSY, pada 1995 mereka membuka rumah singgah di Jalan Jelidro, Lontar, Sambikerep, Surabaya. Rumah yang sederhana itu juga menjadi biara mereka.

"Kami kemudian membuka tempat penitipan anak (TPA) karena waktu itu TPA belum banyak. Sementara di pihak lain banyak keluarga yang membutuhkannya," jelas Suster Magdalena.

Dalam perkembangan, para suster KSSY melihat ada kebutuhan akan sebuah rumah yang representatif untuk warga lanjut usia (lansia). Panti wreda, panti jompo, griya lansia, atau apa pun namanya, dinilai sangat penting di kota sebesar Surabaya. Semakin sibuk warga kota, perhatian untuk para lansia semakin berkurang. Orang kota makin lama makin tak punya waktu untuk mengurusi orang tua, oma-opa, atau keluarga sendiri.

Maka, dibentuklah sebuah tim kecil pembangunan griya usila (usia lanjut). Upaya penggalangan dana dilakukan di berbagai kota. Baru pada Maret 2008, tepatnya pada Hari Raya Santo Yosef, diadakan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan Griya Usila Santo Yosef. Upacara dipimpin langsung Uskup Surabaya Monsinyur Vincentius Sutikno Wisaksono.

Setahun kemudian, 22 Maret 2009, gedung tahap satu, diresmikan Uskup Sutikno Wisaksono, sekaligus pemberkatan atas dimulainya pembangunan gedung tahap kedua. Menurut rencana, pembangunan akan dilanjutkan agar kapasitas griya lansia ini lebih optimal.

19 December 2012

Real Madrid keok terus, stop nonton La Liga

Musim ini Real Madrid hancur. Umpan tak akurat, organisasi lemah, tak bisa menembus pertahanan lawan. Wajar kalau tim asuhan Jose Mourinho ini kalah terus. Termasuk sama tim-tim lemah.

Sebaliknya, Barcelona terlalu perkasa. Sempurna. Jenius. Dua tingkat di atas Madrid. Tim Real Madrid yang sekarang saya kira sulit mengalahkan Barcelona B.

Maka La Liga pun selesai sebelum separo musim berakhir. Barca juara. Semoga Mourinho dipecat karena gagal meracik pemain-pemain mahal itu. Sudah tidak enak dilihat, kalah terus pula. Kebalikan dengan Barca: main bagus dan menang terus.

Lupakan el clasico. Realmadrid bukan lagi lawan sepadan Barca. Peringkat kedua justru Atletico, bukan Madrid. Benar-benar tragedi bagi klub besar dan kaya seperti Madrid. Kehebatan Barcelona membuat tim Madrid saat ini hanya setara Barcelona C.

Bagi saya pribadi, kehancuran Madrid ini merupakan tonggak awal untuk mengubah kebiasaan buruk yang sudah kronis. Yakni melekan pukul dua atau tiga dini hari untuk menyaksikan siaran langsung pertandingan-pertandingan Real Madrid atau Barcelona. Bad habit yang hanya merusak kesehatan saya. Buat apa memaksa diri melihat La Liga kalau kualitas Barcelona dengan Messi, Iniesta, Xavi jauh di atas 19 klub lain?

La Liga menjadi membosankan karena jomplangnya kualitas tim-tim yang ada. Barcelona seperti terlalu mudah mencetak gol. Dan pemain-pemain lawan tak berdaya menghentikan trio Katalan itu.

18 December 2012

Menghibur oma-opa di Panti Wreda Santo Yosef Surabaya



"Bayi yang baru lahir ke dunia disambut sukacita. Gadis remaja manis, cantik, mengundang cinta kasmaran lawan jenis. Tapi manusia yang usia lanjut (manula) sering kali disingkirkan oleh keluarganya sendiri. Di sini kami mencoba memberikan kasih sayang yang tulus kepada para oma-opa."

Begitu antara lain kata-kata Suster Magdalena Pardosi KSSY, pemimpin Panti Jompo (Wreda) Santo Yosef di Jalan Jelidro II/33, Lontar, Sambikerep, Surabaya. Rumah jompo ini dikelola Kongregasi Suster Santo Yosef (KSSY), komunitas biarawati Katolik yang sebagian besar berasal dari Sumatera Utara.

Saya ikut rombongan anggota Spectrum Dian Choir, paduan suara pimpinan Shinta Wibisono, komunitas marga Huang Surabaya, mengadakan bakti sosial di sini. Rombongan diterima Suster Magdalena dengan ramah. Suster-suster lain, dan para pekerja (sebagian asal Manggarai, Flores Barat), sibuk melayani para lansia yang dititipkan keluarganya untuk diasuh komunitas KSSY.

Saat ini panti jompo berusia empat tahun ini dihuni 98 orang. Pernah mencapai 150 orang, tapi ada yang meninggal dunia atau keluar karena diambil kembali keluarganya. Mereka menempati kamar-kamar yang sangat bersih, layaknya hotel. Setiap saat para pekerja membersihkan kamar, pakaian, ganti seprei, sarung batal, dan sebagainya. Makan minum sangat diperhatikan.

Pagi itu para lansia ini duduk manis di atas kursi roda, pakai kaos kuning, menanti kedatangan tamu yang memang sudah janjian. Wajah-wajah mereka terlihat lesu. Kurang gairah hidup. Padahal, Bu Suster asal Batak yang masih muda sudah mengajak mereka bergembira dengan berlatih lagu-lagu Natal.

Pak Tien yang usianya baru 55 tahun tampak jauh lebih tua dari usianya. Bandingkan dengan Paus Benediktus XVI yang masih aktif memimpin Gereja Katolik sedunia meskipun sudah berusia 85 tahun. Atau, eyang-eyang di kawasan Pucangsewu dan Ngagel yang rajin jalan pagi meski usia mereka rata-rata di atas 70 tahun.

"Habis bagaimana lagi? Tinggal di panti jompo itu ya bisa dibilang susah, bisa dibilang senang. Sudah ada yang ngurus semuanya, tapi anak cucu nggak ada. Mereka hanya membayar biaya bulanan, tapi hampir tidak pernah ke sini," kata bapak asal Kampung Seng, Surabaya, ini.

Begitulah. Melihat orang-orang tua di panti jompo memang beda dengan kakek-nenek di rumah yang masih bisa dolan sama anak cucu. Tim paduan suara pun mencoba menghibur oma-opa ini dengan nyanyian dan tarian. Tapi saya lihat hanya satu dua orang saja yang nyambung. Lebih banyak yang kehilangan gairah hidup.

"Orang lapar kok disuruh nyanyi," komentar seorang opa yang sebetulnya belum 60 tahun. Saya pun tertawa ngakak mendengar celetukan polos ala arek Surabaya ini.

"Tinggal di sini terlalu banyak berdoa. Hehehe," katanya lantas tertawa kecil.

Maklum, ketika masih muda dan produktif opa ini memang tidak pernah berdoa... dan bukan Katolik. Ketika dijebloskan ke asrama lansia oleh anak-anaknya, mau tidak mau setiap saat ada acara doa bersama, dan didoakan, secara Katolik, tentu saja. Opa ini sebetulnya lebih membutuhkan teman dialog dari keluarga dekat, khususnya anak cucu, bukan doa-doa atau hiburan paduan suara.

Saat paduan suara yang dipimpin Ganda Kharisma membawakan lagu rancan, tiba-tiba seorang opa maju dan menari. Gerakan-gerakannnya lucu. Wajahnya datar saja. Teman-temannya sesama penghuni panti pun ikut tersenyum. Saya pun ikut menemani opa itu menari. Edan-edanan! Lumayan untuk melepas stres.

Tak lama kemudian, acara harus diakhiri. Sebab, di depan sudah menunggu rombongan dari Gereja Redemptor Mundi yang juga datang untuk tujuan yang sama. Menghibur 98 oma-opa di Panti Jompo Santo Yosef.

Ah, seandainya wanita-wanita selalu muda dan cantik seperti Agnes Monica!

17 December 2012

Mabel Garcia soprano Argentina konser di Surabaya



Konser Natal Surabaya Symphony Orchestra (SSO) baru saja digelar di ballroom Hotel Shangri-La Surabaya. Konser ke-76 yang dipimpin Solomon Tong ini kian berkesan dengan tampilnya Mabel Garcia, soprano asal Argentina.

"Ini merupakan penampilan saya yang pertama di Surabaya, juga di Indonesia. Saya senang bisa diberi kesempatan oleh Mr Tong untuk memeriahkan konser Natal di Surabaya," kata Mabel Garcia kepada saya di ruang kerjanya, Sekolah Ciputra Surabaya, pekan lalu.

Saat konser bersama SSO itu Mabel Garcia membawakan dua lagu opera dengan tingkat kesulitan cukup tinggi. Yakni, komposisi bertajuk How Beautiful are The Feet karya GF Haendel dan ciptaan WA Mozart berjudul Una Donna a Quindici Anni. Penonton memberikan aplaus meriah usa Mabel memamerkan suaranya yang tinggi dan indah.

"Saya sudah sering tampil di berbagai negara, selain Argentina, negara asal saya. Di Sydney, Kuwait, Dubai, Istambul, dan beberapa kota lain," tutur wanita yang ramah ini.

Dia juga gembira karena Surabaya punya orkestra simfoni seperti SSO yang rutin menggelar konser selama 16 tahun berturut-turut. Hanya saja, penyanyi yang fasih bahasa Spanyol, Italia, Inggris, dan beberapa bahasa lain ini berharap Surabaya bisa memiliki concert hall yang representatif agar konser-konser musik klasik tidak melulu digelar di ballroom hotel berbintang.

"Sebuah ballroom hotel tidak didesain sebagai tempat konser. Konser itu perlu gedung yang akustiknya bagus," katanya. Mabel justru lebih suka gedung konser milik Sekolah Ciputra di kawasan Citraland, Surabaya Barat.

Berbeda dengan artis-artis asing lain, yang biasanya hanya sekadar mampir atau sedang tur ke berbagai negara, Mabel Garcia ternyata sudah tinggal di Surabaya sejak Juli 2012 lalu. Dia bertugas di Sekolah Ciputra sebagai koordinator performing arts. Dia juga guru musik, paduan suara, orkestra, drama, dan tari kelas dunia.
"Saya dikontrak selama dua tahun (oleh Sekolah Ciputra). Jadi, masih cukup lama saya tinggal di Surabaya," katanya.

Sebelum bertugas di Sekolah Ciputra, Mabel Garcia mengaku tak punya banyak pengetahuan tentang Indonesia, apalagi Surabaya. Dia kemudian memperlihatkan peta dunia di laptopnya. "Ini negara saya, Argentina, yang itu Indonesia. Wow, betapa jauhnya jarak antara Argentina dan Surabaya," paparnya seraya tersenyum lebar.

Ditemani Egenson Raul, anak angkatnya asal Haiti, yang berusia enam tahun, Mabel mengaku sangat menikmati pekerjaannya di Surabaya. Apalagi, para muridnya di Sekolah Ciputra dinilai sangat musikal sehingga bisa dengan cepat menangkap pelajaran performing arts yang dia berikan.
"Beberapa waktu lalu saya memimpin mereka untuk tampil dalam konser di Sekolah Ciputra," katanya bangga.

Sebagai guru plus seniman opera yang sering melanglang buana ke berbagai negara, Mabel Garcia mengaku tidak kesulitan beradaptasi dengan masyarakat dan alam Surabaya. Dia justru bangga menjadi bagian dari warga Kota Surabaya yang kian berkembang menjadi kota internasional.

16 December 2012

Budaya minum tuak di Lembata

Saya baru saja membeli sebotol legen (1.500 ml) di kawasan Ngagel. Harganya Rp 5.000 karena sudah langganan. Yang belum langganan, orang baru, bisa 6.000 bahkan 7.500. Asyik banget minum legen, campur es batu, apalagi saat Surabaya panas terik.
"Legen saya ini asli dari Tuban. Kalau tidak percaya, lihat KTP saya," kata Mas Joko, penjual legen yang asli Tuban. Di mana-mana semua penjual legen mendaku cairan nira lontar ini asli Tuban, tidak dicampur dengan zat-zat lain, yang mengurangi kualitas.
Benarkah legen-legen yang dijual di Surabaya murni dari Tuban? Tak banyak yang percaya, termasuk saya. Sebab, para pedagang kaki lima ini memang sudah lama dicurigai masyarakat karena ulah beberapa oknum PKL yang nakal.
Orang NTT (Nusa Tenggara Timur), entah Timor, Sabu, Rote, Sumba, Flores, Alor, tak bisa dipisahkan dari kultur legen. Orang NTT menyebut legen ini sebagai tuak manis. Tuak yang belum dikasih campuran ragi sehingga alkoholnya belum ada. Kalau sudah jadi tuak (tanpa embel-embel manis), maka si nira ini bisa memabukkan kalau diminum terlalu banyak.
Tuak benar-benar menjadi minuman adat, pusaka warisan nenek moyang, di NTT, khususnya di Flores Timur, khususnya lagi di Lembata. Tak ada pesta adat di kampung tanpa tuak (manis dan tuak tak manis). Orang bisa betah duduk berlama-lama di tempat pesta, bicara panjang lebar, kalau ada doping tuaknya. Makin lama suasana pembicaraan makin tinggi karena tuak yang ditenggak makin banyak.
Sebelum tahun 2000, khususnya 1980-an, tuak bahkan menjadi minuman sehari-hari pengganti air putih di berbagai kampung di Ile Ape, Lembata. Khususnya kampung-kampung lama yang jauh dari pantai. Kalau haus ya minum tuak. Gampang sekali mencari tuak karena sebagian besar laki-laki di Lewotanah sana punya rutinitas 'iris tuak' pagi dan sore. 
Maka, stok tuak selalu berlebih sehingga dibikin cuka. Ada juga yang nekat membuat arak. Caranya sederhana: tuak itu disuling (destilasi) sehingga kadar air berkurang drastis, alkoholnya meningkat tajam. Orang Tionghoa menyebutnya CIU. Arak alias ciu ini sangat berbahaya bagi kesehatan. Beda dengan tuak biasa, khususnya tuak manis, yang jadi makanan sehari-hari orang Sabu, Rote, Sawu, dan pulau-pulau kecil di selatan NTT.
Mengapa orang Lembata di pelosok gunung sangat doyan minum tuak dan legen? Memangnya suka mabuk? Tidak juga. Persoalan utama adalah sulit air. Air minum harus diambil dari sumur yang jaraknya 5-8 kilometer dari kampung lama yang beratap alang-alang, daun kelapa, atau daun siwalan itu. 
Sudah jauh, orang harus mendaki dengan kemiringan yang tajam. Capek luar biasa, sementara air yang bisa dijunjung atau dipikul sangat sedikit. Itu sebabnya warga yang tinggal di lereng gunung atau kampung lama ini mengandalkan tuak sebagai penawar haus (dan lapar). Ingat, tuak manis itu mengandung fruktosa alias gula buah yang bisa bikin kenyang.
Setelah kampung lama ini dipindahkan ke dekat pantai pada akhir 1960-an, orang tetap saja minum tuak tapi tak sebanyak orang-orang di kampung lama. Sumur jadi lebih dekat, tak perlu lagi mengandalkan tuak untuk pengganti air minum. Tapi tuak tetap menjadi bagian inheren dari pesta-pesta adat Lamaholot seperti penikahan, kematian, sambut baru, dan sebagainya.
Namun, seiring kemajuan pendidikan, tak ada lagi orang kampung yang tidak sekolah (meski hanya SD), kultur tuak makin lama makin merosot. Mengapa? Sebagian besar anak muda meninggalkan kampung untuk merantau ke Malaysia Timur atau melanjutkan sekolah ke kota-kota. Akibatnya, makin sedikit orang yang setiap memanjat pohon siwalan (lontar) pagi dan sore untuk menyadap nira siwalan yang manis itu. 
Setelah tahun 2006, begitu hasil pengamatan sepintas saya, jumlah orang di kampung saya yang rutin memanjat lontar tak sampai tujuh orang. Beda dengan tahun 1990-an yang mencapai puluhan, bahkan 100 orang. Maka, tuak atau legen pun kini menjadi komoditas langka yang punya nilai sangat tinggi. Kalau dulu orang bebas minum tuak tanpa bayar, gratis segratis-gratisnya, sekarang harus bayar dulu. 
Kalau punya hajatan pun kita harus membeli tuak dalam jumlah besar. Tak ada lagi sumbangan tuak dari mana-mana seperti dulu. Dan ini membuat oran kampung yang bekerja sebagai pemanjat dan penyadap tuak bisa hidup makmur. Mereka bisa membeli berbagai perabotan kelas atas, bahkan punya mobil. Kehidupannya lebih sejahtera ketimbang pegawai negeri sipil atau karyawan perusahaan. 

15 December 2012

Tionghoa di Jember sebelum 1795

Oleh ELITA SITORINI

Tak dapat dipungkiri, masyarakat Tionghoa menjadi salah satu pendukung unsur keberagaman di tanah air. Keberadaan mereka telah menambah khazanah kebudayaan kita. Tak terkecuali di Jember. Dari masa ke masa, keberadaan masyarakat Tionghoa ikut berpengaruh pada kemajuan kota tembakau di kawasan timur Jawa Timur itu.

Retno Winarni, dosen Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember (Unej), menjelaskan, pada 1795, Tumenggung Suro Adiwikrama, seorang Tionghoa peranakan, sudah menjabat bupati di Kabupaten Puger. Saat itu Jember merupakan salah satu distrik dari Kabupaten Puger.

Keberadaan Tumenggung Suro Adiwikrama sebagai bupati menunjukkan bahwa saat itu sudah banyak warga Tionghoa di Jember dan sekitarnya. "Lalu, beliau digantikan oleh Tumenggung Surio Adiningrat (1802-1813) yang juga Tionghoa peranakan. Yang juga menantunya," terang Retno belum lama ini.

Meski sangat sulit untuk menentukan waktu yang pasti masyarakat Tionghoa datang ke Jember, pemerintahan Tumenggung Suro Adiwikrama bisa menjadi titik tolak kedatangan perantau Tionghoa ke Jember. Tentu saja, jika pada masa itu sudah ada pengaruh Tionghoa peranakan, bisa diperkirakan keberadaan mereka lebih lama dari tahun itu.

"Sekitar akhir abad ke-18 sampai awal abad ke-19 sudah ada," kata Retno Winarni.

Para penguasa Tionghoa ini, lanjut dia, termasuk keluarga Han dari Surabaya. Para pejabat yang diangkat oleh para bupati ini juga orang-orang Tionghoa. Hanya jabatan rendahan yang diberikan kepada pribumi.

Migrasi orang-orang Tionghoa ke Jember dalam jumlah besar diperkirakan pada pertengahan abad ke-19. Terutama pada masa kejayaan perkebunan tembakau. Hal ini disebabkan adanya pembangunan jalur kereta api.

Nah, orang-orang Tionghoa ini kemudian membentuk permukiman tersendiri yang berpusat di daerah pecinan. Daerah tersebut sekarang menjadi Jalan Untung Suropati dan Jalan Samanhudi atau Pasar Tanjung. Mereka pada umumnya pedagang, rentenir, dan bukan sebagai kuli. Yang datang langsung dari daratan Tiongkok pada awal abad ke-20.

Retno menjelaskan, kedatangan masyarakat Tionghoa ke Jember dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi. Apalagi, dan sejak pertengahan abad ke-19 Jember merupakan daerah yang menjanjikan karena bermunculannya perkebunan swasta, terutama tembakau.

Para perantau asal Hokkian ini dikenal sangat ulet, tahan uji, dan rajin. Karena itu, mereka berperan besar dalam bidang perdagangan di Jember. Mereka bergerak di bidang perdagangan hasil bumi, kelontong, tukang kredit, rentenir, maupun pertanian. Bahkan, pada 1906 beberapa orang Tionghoa dipercaya sebagai pengelola pegadaian.

Pemerintah kolonial kemudian mengadopsi sistem pegadaian ini dari orang-orang Tionghoa. "Kalau sekarang, berdasarkan survei saya yang terakhir, orang-orang Tionghoa menguasai hampir semua sektor perdagangan di Jember," katanya.

Teliti sebelum jabat tangan wanita

Jumat sore  (14/12), saya berbincang akrab dengan Mabel Garcia, guru musik, paduan suara, orkestra, sekaligus soprano jempolan asal Argentina, yang mengajar di Sekolah Ciputra Surabaya. Orangnya hangat, cerdas, asyik diajak ngobrol berlama-lama, apalagi untuk urusan musik klasik. Dunia terasa sangat indah ketika kita menikmati suara Bu Mabel yang tinggi melengking.

Dari Sekolah Ciputra, masih di Surabaya Barat yang elite, Citraland, saya tertarik melihat kursus bahasa Mandarin. Asyik juga kalau mampir. Bukankah selama ini saya banyak berkutat dengan liputan tentang Tionghoa? Maka, saya pun mampir ke tempat kursus itu.

Resepsionisnya Jawa, wanita, kira-kira 35 tahun, kelihatan ramah. Saya pun berbasa-basi seperti ketika berkunjung ke komunitas Tionghoa.

"Ni hao?" kata saya seraya menyorongkan tangan kanan, hendak menjabat tangan si resepsionis Zhong Wen itu.

Si wanita diam saja. Feeling saya pun tak enak. Pasti ada yang tidak beres. "Anda kan bukan muhrim saya! Jadi, tidak boleh jabat tangan saya!" kata wanita itu agak ketus.

"Maaf, Mbak, maaf... maaf," balas saya.

Mood saya yang sebelumnya gembira, asyik, setelah dapat energi dari wanita Argentina langsung anjlok seketika. Saya kemudian dikasih ceramah singkat tentang teologi: soal muhrim dan sebagainya. Wow, benar-benar di luar dugaan saya.

Sudah bertahun-tahun saya mengunjungi markas komunitas Tionghoa, sekolah Tionghoa, kursus bahasa Tionghoa, Masjid Cheng Hoo yang punya pengusaha muslim Tionghoa, dan berbagai tempat yang ada kaitannya dengan Tionghoa. Tapi baru kali ini saya mengalami 'kecelakaan' yang sama sekali di luar prediksi saya.

Melihat si wanita itu yang tak pakai jilbab, busana biasa, kerja di kursus Tionghoa, yang pakai guru-guru asal Tiongkok... saya sama sekali tidak mengira kalau bakal keluar kata-kata MUHRIM dan sejenisnya.

Beda kalau kita berada di komunitas PKS atau Hizbut Tahrir atau komunitas muslim tertentu yang memang sangat tegas melarang pria bersalaman dengan wanita yang bukan muhrim. Biasanya, seperti yang biasa saya alami, wanita-wanita itu pakai jilbab yang khas dengan bawahan yang juga bukan celana jins, tertutup hingga kaki. Itu sudah jelas tak boleh berjabat tangan atau bersentuhan badan.

Tapi si resepsionis ini? Hehehe.... Saya geli sendiri, tapi juga salah tingkah. Dan malu sendiri. Maka, mood bicara saya hilang. Saya pun minta pamit cepat-cepat meskipun tadinya ingin bicaranya lebih banyak.

Begitulah. Soal jabat tangan laki-perempuan ini memang kembali ke masing-masing individu dan keyakinan pribadi si wanita. Bisa berjabat tangan... atau ditolak seperti yang dilakukan resepsionis kursus bahasa Tionghoa itu.

Yang pakai jilbab, aktivis organisasi Islam tertentu, kadang-kadang malah jauh lebih moderat ketimbang wanita yang tak pakai jilbab, bahkan bekerja di lembaga yang jelas-jelas punya kultur dan religi khas ala Tiongkok. Meskipun sempat salah tingkah dan malu, saya bersyukur mendapat hikmah dari pengalaman sore itu.

Bahwa saya harus lebih hati-hati, teliti, bijaksana, tidak sok akrab... ketika hendak bersalaman dengan wanita yang belum saya kenal. Bisa dikuliahi dogmatika agama dan sebagainya.

Bahwa jabat tangan yang sering kita anggap sebagai simbol keakraban, kehangatan, bisa saja dipandang negatif oleh lawan jenis.

Bahwa lebih baik tidak menyorongkan tangan lebih dulu pada wanita yang belum saya kenal.

Bahwa saya harus paham dan maklum kalau banyak ulama berpendapat jabatan tangan laki-perempuan yang bukan muhrim itu haram hukumnya.

13 December 2012

LKPBT Jatim - Henry Dermawan

Henry Dermawan bersama guru-guru bahasa Tionghoa asli Tiongkok.

Kebutuhan akan guru-guru bahasa Tionghoa (atau bahasa Mandarin) semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, tidak mudah mencetak pengajar bahasa Tionghoa yang mumpu dalam waktu singkat. Karena itu, Lembaga Koordinasi Pendidikan Bahasa Tionghoa (LKPBT) Jawa Timur terus berusaha mengirim mahasiswa asal Jawa Timur ke Tiongkok untuk dicetak menjadi guru.

"Kebetulan kami sudah punya kerja sama dengan Huaqiao University di Jimei, Fujian, dan Jiangmen Normal School di Guangdong. Kedua lembaga ini siap mencetak guru-guru bahasa Tionghoa untuk dipekerjakan di Jawa Timur," kata Henry Dermawan, ketua LKPBT Jatim, kepada saya pekan lalu.

Akibat kebijakan rezim Orde Baru, yang melarang pengajaran bahasa Tionghoa, menurut Henry, adalah hilangnya guru-guru bahasa Tionghoa di seluruh Indonesia. Regenerasi dan kaderisasi tidak jalan. Yang tersisa hanyalah guru-guru eks Sekolah Tionghoa pada era 1960-an yang sudah lanjut usia. Adapun para lulusan Sekolah Tionghoa sangat jarang yang bekerja sebagai pendidik atau pengajar di sekolah-sekolah.

Karena itu, ketika bahasa Tionghoa diizinkan kembali oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), orang Indonesia tidak siap menghadapi perubahan ini. "Kita semua kaget karena tidak punya guru. Makanya, satu-satunya jalan adalah mengirim sebanyak mungkin anak-anak muda kita yang bersedia menjadi guru bahasa Tionghoa," kata Hendri.

Selama ini LKPBT mengadakan langkah jemput bola dengan mengundang guru-guru dari sejumlah lembaga pendidikan, termasuk pesantren, untuk mengikuti pendidikan lanjutan di Tiongkok. Penerima beasiswa harus berusia di bawah 25 tahun, bersedia mengikuti pelatihan bahasa Tionghoa intensif di LKPBT Jatim, dan wajib kembali ke Indonesia setelah menempuh pendidikan. Masa kuliah di Fujian biasanya empat tahun.

"Nah, setelah kembali ke Indonesia, dia juga harus bersedia menjadi guru bahasa Tionghoa minimal selama tiga tahun. Tidak boleh jadi pengusaha atau bekerja di perusahaan Tiongkok. Sebab, kita memang sangat membutuhkan guru-guru bahasa Tionghoa," tegas Henry.

Tak hanya guru-guru untuk sekolah menengah, menurut pengusaha yang berkantor di Jalan Sumatera, Surabaya, ini, LKPBT juga mengirim calon guru bahasa Tionghoa untuk taman kanak-kanak. Lama pendidikan di Jiangmen Normal School for Childhood Education, Guangdong, ini hanya satu tahun.

Konser 16 tahun Surabaya Symphony Orchestra


Konser Natal Surabaya Symphony Orchestra (SSO) di ballroom Hotel Shangri-La, Surabaya, Selasa (11/12/2012), memiliki makna historis bagi Suwadji Widjaja. Sebagai salah satu pendiri SSO, pengusaha Tionghoa ini mengaku bersyukur SSO bisa bertahan hingga 16 tahun.

Menurut Suwadji, SSO resmi di-launching pada konser pertama di Hotel Westin (sekarang JW Marriot) pada 11 Desember 1996. Saat itu banyak orang skeptis akan masa depan orkestra yang dipimpin Solomon Tong itu.

"Ada yang meramal paling-paling hanya bertahan satu dua tahun saja. Ada yang bilang konser lima kali saja sudah bagus," tutur Suwadji usai menyerahkan karangan bunga kepada sahabatnya, Solomon Tong.

Singkatnya, hampir tidak ada seorang pengusaha pun yang optimistis dengan SSO. Maklum, di Indonesia ini sangat sulit mempertahankan keberadaan sebuah orkestra simfoni yang memang sangat sepi dukungan sponsor. Padahal, biaya produksi dan biaya operasional sangat besar.

Situasi semakin sulit karena pada 1997 terjadi krisis moneter, yang berlanjut ke krisis politik. Nilai mata uang rupiah terjun bebas dari Rp 2.500 ke Rp 15.000 per dolar Amerika. SSO yang baru berusia satu tahun pun harus mengalami pukulan berat. Namun, orkestra klasik ini masih bisa menggelar konser di hotel berbintang lima.

"Semua ini karena pimpinan dan berkat Tuhan semata-mata. Yah, bila kita menoleh ke belakang, jalan yang ditempuh SSO ini tidak rata dan berliku-liku," kenangnya.

Karena itu, Suwadji mengaku seakan tak percaya bisa menyaksikan konser ke-76 SSO di Hotel Shangri-La. Ini berarti dalam setahun SSO rata-rata menggelar lima kali konser setiap tahun. Frekuensi konser yang layak dibanggakan untuk ukuran Indonesia.

"Peristiwa ini patut kita peringati dan rayakan. Mari kita berjuang lebih keras untuk menyukseskan misi agung SSO sebagai satu-satunya symphony orchestra yang permanen dan punya agenda konser tetap," pintanya.

Tak hanya rutin menggelar konser, menurut Suwadji, SSO juga telah membina ratusan, bahkan ribuan murid selama 16 tahun. Sebagian di antaranya diterima di konservatorium dan perguruan tinggi musik di Eropa, Australia, Kanada, hingga Amerika. Ada yang kembali ke tanah air untuk mendedikasikan dirinya pada pengajaran musik.

"Dulu, 16 tahun lalu, pemain biola di Surabaya hanya sekitar 35 orang, termasuk pemain yunior. Sekarang, setelah SSO berdiri, kita punya pemain biola yang sangat banyak. Sekitar seribu anak-anak sedang belajar main biola di berbagai sekolah musik di Surabaya," katanya.

Ke depan, Suwadji Widjaja dan Solomon Tong berencana mendirikan sebuah conservatory kelas dunia di Surabaya. Dengan begitu, anak-anak Surabaya tidak perlu jauh-jauh belajar musik ke luar negeri yang membutuhkan biaya besar. "Cukup belajar di Surabaya saja karena kualitasnya dibuat setara dengan di luar negeri," katanya.

08 December 2012

Musik Tionghoa di Surabaya makin eksis



Upaya Bambang Sujanto mempromosikan musik Tionghoa di Surabaya tidak sia-sia. Setelah bekerja keras selama enam tahun, Bambang mulai memetik hasilnya. Ini terlihat dari banyaknya remaja yang aktif di Orkes Musik Kemuning yang dikelolanya.

“Sekarang ini pemusik-pemusik senior seperti saya cukup memberi support kepada anak-anak muda. Tapi sekali-sekali pemusik senior juga perlu berkolaborasi dengan pemusik-pemusik yunior,” ujar Bambang Sujanto di markas Orkes Musik Kemuning, Jl Kemuning 3, Surabaya, pekan lalu.
Ketika baru dibuka pada awal reformasi, menurut Bambang, pemain-pemain Kemuning didominasi para pemusik senior yang sudah tergolong lansia. Hampir tidak ada pemusik remaja atau anak-anak. 

Sebab, selama tiga dasawarsa musik Tionghoa ini dilarang dimainkan di depan khalayak oleh rezim Orde Baru. Baru setelah KH Abdurrahman Wahid menjabat presiden RI, seni budaya Tionghoa pun perlahan-lahan menggeliat kembali.
“Jadi, jasa almarhum Gus Dur dalam pengembangan seni budaya Tionghoa memang luar biasa. Sekarang kami bisa bermain di mana saja dan kapan saja. Masyarakat pun sudah tidak asing lagi dengan musik Tionghoa,” kata pria yang fasih memainkan berbagai alat musik ini.
Seiring dengan meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap musik Tionghoa, Bambang kemudian mulai melakukan kaderisasi. Caranya dengan mengajak anak-anak muda di Surabaya dan sekitarnya untuk belajar instrumen musik khas Tiongkok.
Dia pun harus mendatangkan alat-alat musik itu dari negeri tirai bambu. Alat-alat musik Tionghoa itu antara lain guzheng, yangqin, erhu, biba, dan dizi (seruling). Bambang juga menyediakan instrumen musik Barat seperti biola, cello, keyboard, gitar, bas. Masyarakat maupun peserta kursus bisa mendapatkan alat-alat musik itu dengan harga terjangkau.
“Grup Kemuning ini memainkan musik Tionghoa dengan sentuhan modern. Kami ingin buktikan bahwa musik Tionghoa pun bisa dikolaborasikan dengan lagu-lagu modern. Bahkan, dengan lagu-lagu Indonesia,” katanya.
Pelan tapi pasti, anak-anak dan remaja terus berdatangan untuk mengikuti latihan bersama setiap Senin malam. Saat latihan kemarin, misalnya, hanya tiga pemusik senior yang sekaligus berperan sebagai instruktur. Sementara belasan pemusik lainnya berusia di bawah 30 tahun.
“Kami juga punya dua pemusik tunanetra yang sangat berbakat. Keduanya sangat tekun berlatih dan cepat menguasai lagu-lagu baru,” ujar Bambang seraya tersenyum.
Yang juga menarik, sebagian remaja ini diantar orang tua ke tempat latihan. Ini membuat Bambang Sujanto terharu dan bangga. Dia juga optimistis musik Tionghoa semakin eksis di Surabaya. “Anak-anak ini merupakan motor penggerak musik Tionghoa di masa depan,” tegasnya.

06 December 2012

Puasa menonton televisi

Semalam saya mengedit tulisan seorang ibu guru, Yudha, yang membahas televisi kita. Dia prihatin karena televisi-televisi di Indonesia tidak ramah anak. Acara-acara yang ada sama sekali tidak sesuai dengan kejiwaan anak-anak.

Saya pun langsung teringat buku diet karangan Fletcher, Pine, dan Penman berjudul NO DIET DIET. Para penulis, juga banyak orang Barat saat ini, menganggap menonton televisi sebagai bad habit. Bukan kebiasaan yang baik. Sebab, tanpa disadari, orang kecanduan televisi.

Kecanduan televisi ini sama bahayanya dengan kecanduan kopi, rokok, atau narkoba. Menonton televisi, kata Prof Fletcher dkk, adalah kegiatan tanpa pikiran yang membuat orang terjebak dalam kecanduan yang luar biasa.

"Menonton televisi dapat menyedot habis hidup Anda tanpa Anda sadari," demikian buku yang diindonesiakan oleh Penerbit Gramedia, Jakarta, itu.

Nah, kebiasaan menonton televisi ini ternyata ada kaitan dengan kegemukan atau penambahan berat badan. Terbenam di depan televisi membuat orang malas gerak badan. Malas menyapu. Enggan cuci piring atau cuci pakaian. Tidak mau ngepel karena keasyikan nonton gosip artis. Absen dari kegiatan senam bersama komunitas di perumahan atau kampung. Dan seterusnya.

Karena itu, tugas pertama yang harus dilakukan praktisi DIET NO DIET adalah TIDAK MENONTON TELEVISI SEPANJANG HARI. Bisa satu hari, dua hari, tiga hari... lebih baik tujuh hari. Setelah stop TV, Fletcher dkk yakin bahwa kita lebih banyak gerak, banyak baca, banyak sosialisasi, banyak senam, sepedaan, jalan kaki.... Begitu banyak aktivitas, yang dulu tak kita lakukan karena tersedot televisi, kini bisa kita jalani.

"Percaya atau tidak, sebagian besar orang merasa lebih puas dan bahagia," tulis Prof Fletcher dan dua rekannya.

Di lingkungan gereja di Surabaya, khususnya Katolik, masalah kecanduan televisi, khususnya infotainmen, juga pernah dibahas. Sang pastor bertanya, berapa banyak orang Katolik yang meluangkan waktu untuk ikut misa harian di gereja? Sangat sedikit. Padahal, setiap pagi, biasanya 05:30, selalu ada perayaan ekaristi di semua Gereja Katolik.

Begitu sibukkah umat di kota besar? (Sebagai perbandingan, misa harian di Flores, NTT, sampai sekarang masih sangat ramai. Tiap pagi gereja-gereja dan kapel penuh umat.)

Ehm... bisa ya bisa tidak. Sebab, pada saat misa harian berlangsung, banyak orang justru betah di depan televisi selama satu jam atau dua jam, bahkan lebih. Padahal, misa harian biasanya hanya sekitar 40 menit saja. Nonton gosip artis di televisi ternyata lebih menarik ketimbang ikut misa harian.

Karena itu, ada pastor yang mengusulkan agar kita mulai belajar puasa televisi. Tidak perlu membuang televisi, tapi tidak menonton televisi selama satu dua hari, kemudian 'buka' (boleh nonton), kemudian puasa lagi. Syukur-syukur puasa terus. Atau, cuma nonton televisi satu jam sehari, hanya acara-acara yang bermanfaat macam warta berita.

"Saya sudah memindahkan televisi saya ke gudang sejak tahun 1990-an. Nggak ada acara yang menarik," kata Slamet Abdul Sjukur, pianis dan komponis terkenal asal Surabaya.

Kita mungkin belum bisa seekstrem Pak Slamet, yang pernah tinggal belasan tahun di Eropa, sering keliling dunia untuk konser, punya murid dan penggemar di banyak negara. Tapi puasa atau diet televisi mau tidak mau harus dilakukan.

Mengharap pengelola televisi membuat program yang cerdas, bermoral, tidak gosip, ramah anak... di zaman seperti ini rasanya sebagai HIL YANG MUSTAHAL Kalau ada acara rutin CAR FREE DAY di Surabaya, mengapa kita lakukan TV FREE DAY?

04 December 2012

Dekat di internet, jauh di darat

Belum lama ini Mr Chu datang ke Surabaya. Dia pengusaha kelahiran Jatim yang sudah lama jadi warga negara Hongkong. Saya sering sekali berkomunikasi dengan beliau via internet, khususnya email.

Banyak hal menarik diceritakan Chu: pengalaman kerja, adaptasi, TKI, perantau Tionghoa, Kanton vs Mandarin dsb. Sebagian besar ceritanya saya jadikan berita. Wow, Mr Chu ke Surabaya?

Saya pun minta waktu bertemu cukup 30 menit saja. Selain memotret, saya mau wawancara tatap muka. Ingat, wawancara terbaik adalah face to face meeting. Bukan via telepon atau internet.

"Maaf, saya sibuk, tidak ada waktu. Kalau mau nanya, silakan email saja. Oke?" begitu jawabnya via SMS.

Juancuk tenan!

Saya tak menyangka kalau teman online saya ini tidak punya waktu 30 menit untuk saya. Bukan ngobrol omong kosong tapi ada kaitan dengan news. Saya hanya bisa ngelus dada. Tak kukira orang yang begitu akrab di internet itu ternyata jauh di darat. Chu hanya teman virtual yang kadang bikin aku geer karena merasa punya kenalan orang penting di Hongkong sana.

Begitulah. Internet memang membuat hubungan antarmanusia menjadi berubah sama sekali. Kita kadang lebih sering bercakap, chatting, dengan orang-orang jauh, merasa dekat, seakan sudah kenalan bertahun-tahun. Sebaliknya, kita sangat jarang, bahkan tak pernah omong-omong dengan tetangga sebelah rumah. Saya belum pernah diskusi dengan Pak RT atau RW yang rumahnya cuma sepelemparan batu. Saya malah lebih intens diskusi dengan Mr Chu di jagat maya.

Kasus Chu HK ini akhirnya membawa hikmah besar buat saya. Silakan berteman sebanyak-banyaknya dengan teman virtual di internet, tapi jangan abaikan orang-orang di sampingmu.

Di ruang tunggu rumah sakit, terminal, bandara... saya perhatikan hampir semua orang sibuk bicara dengan orang-orang jauh via ponsel, BBM, laptop. Tak ada waktu untuk sekadar basa-basi dengan orang di sebelah.

Sapi hilang, mari makan ikan

Indonesia krisis sapi? Masyarakat kesulitan mendapatkan daging sapi? Puji Tuhan, kata teman saya yang vegetarian. Krisis daging sapi, menurut dia, justru disyukuri karena masyarakat bisa beralih ke sumber protein yang lain.

Gak makan sapi gak mati kita, katanya. Setelah terserang komplikasi penyakit, si vegan ini gencar kampanye menghindari konsumsi daging hewan berkaki empat. Efeknya buruk dalam jangka panjang, katanya.

Kalaupun belum bisa stop hewani, dia menganjurkan masyarakat supaya mengonsumsi ikan laut atau ikan tambak. Protein ikan tak kalah dengan sapi atau kambing. Ikan punya omega 3 yang sangat bermanfaat.

Belum lama ini ada pameran makanan vegetarian di ITC Surabaya. Penyelenggaranya Buddha Tzu Chi, organisasi asal Taiwan yang getol kampanye vegetarian. Saya sempat ngobrol dengan beberapa pengurusnya. Wow, ternyata mereka punya filsafat vegetarianisme yang sangat kukuh.

Saya dikasih tabloid Tzu Chi. Isinya pun membahas pentingnya vegetarian, sayangi binatang dan sebagainya. Dengan menjadi vegetarian, kita menjadi lebih sehat sekaligus ikut menyelamatkan bumi.

Berapa sapi yang harus disembelih demi memuaskan selera maknyus manusia? Berapa kambing yang digorok? Berapa babi yang dibantai di Tiongkok, Taiwan, Eropa atau Amerika setiap hari?

Saya belum bisa mengikuti anjuran kaum vegan. Saya lebih pro kampanye makan ikan (laut) dari kementerian perikanan dan kelautan. Lebih murah harga ikan ketimbang daging sapi. Juga lebih sehat karena ikan bukan hewan berkaki empat.

03 December 2012

Masa Advent Masa Bertobat

Advent datang lagi. Masa persiapan selama empat minggu untuk menyambut Natal. Suasana misa di gereja kemarin biasa-biasa saja. Tetap ramai, pastornya dari Flores, yang menyerukan pertobatan. Harus membersihkan diri, bertobat, agar Natal ada manfaatnya.

Untuk apa ada Natal kalau kita tidak bertobat? Menyesali diri? 

Wah, khotbah pastor SVD di Wonokromo ini halus, datar, tidak menggebu-gebu tapi menyentil umat. Petang itu saya coba renungkan khotbah sembari mengetik di ponsel. Umat yang disebelah menyangka saya bermain-main HP selama misa, perbuatan terlarang yang selalu diumumkan di gereja.

Advent, Natal, tahun baru.... 

Sebelumnya, Oktober bulan rosario. 

Tahun liturgi yang selalu berganti dengan cepat. Kita larut dalam rutinitas kerja, santai, pesiar, cari duit... tahu-tahu sudah Desember. Masa Adventus, kata orang gereja. Apa yang kita lakukan?

Di Jawa Timur, yang Katoliknya segelintir, super minoritas, bahkan kayaknya kalah banyak sama Pentakosta, lingkaran tahun liturgi tidak terasa layaknya di NTT, khususnya Flores. Tidak ada orang yang menegur kita kalau tidak ke gereja. Absen misa berminggu-minggu pun tak ada yang tahu. Tak ada yang mengingatkan untuk doa rosario. 

Semua terserah individu. Mau ke gereja, sepadaan, nonton bola, plaza, mal, berenang... terserah padamu! Ini benar-benar tantangan sekaligus peluang untuk merawat kesadaran. Harus mencari ruang waktu yang sempit di hari Minggu agar bisa mengikuti perayaan ekaristi di Surabaya yang rata-rata berlangsung  75 menit alias satu jam lebih 15 menit.

Tapi manusia kota selalu merasa sibuk atau pura-pura sibuk. Sering kita tak punya waktu ke gereja, cuma satu jam lebih, tapi punya waktu berjam-jam duduk di depan televisi untuk menonton siaran langsung sepakbola. Atau, pesiar, wisata, rekreasi, berjam-jam atau beberapa hari... tapi merasa tak punya waktu untuk Tuhan.

Selamat memasuki masa Advent!

Tugas PSSI: Ganyang Malaysia!

Untuk kesekian kalinya, timnas sepakbola kita kalah dari Malaysia. Jadi pecundang dan pecundang lagi. Kapan menangnya? Tanyakan pada rumput yang bergoyang karena PSSI-nya ada dua dan Menteri Mallarangeng tak mampu menertibkan organisasi bal-balan di negara ini.

Melihat cara bermain, kualitas individu, pelatih, persiapan... dan sebagainya, Indonesia memang pantas kalah sama Malaysia. Malaysia lebih cerdas, bisa memanfaatkan keteledoran Indonesia dua kali. Dua kosong! Sebaliknya, Indonesia keteteran, cenderung  kalah kelas.

Saat melawan Malaysia, saya ikut eforia nonton bareng. Orang Indonesia sepertinya punya dendam kesumat sama Malaysia, bangsa Melayu yang mempekerjakan jutaan pekerja asal Indonesia. Kita tak bisa apa-apa kalau bicara ekonomi, lapangan kerja, efisiensi. Kita kalah segalanya karena posisi kita lemah. Kita bangsa yang hanya bisa menjual tenaga kasar, sementara Malaysia jadi majikan yang mempekerjakan buruh-buruh, PRT, dan pekerja-pekerja kasar Indonesia.

Hanya di sepakbolalah kita punya potensi untuk MENGGANYANG MALAYSIA. Kita akan senang, gembira ria, andai saja pada malam Minggu kemarin bisa mengalahkan Malaysia di Piala AFF. Sayang, timnas gagal mengkonversi kesumat lama buruh-Majikan ini menjadi kemenangan. Malaysia menang, dan kita pun terpuruk. 

Amboi nasib bangsa TKI!

"Kalah sama Thailand atau Laos masih bisa diterima. Tapi kalah dari Malaysia? Benar-benar bikin kesal," kata teman saya. Banyak orang juga bilang begitu. 

Nasi sudah jadi bubur. PSSI sudah jadi dua. Kompetisi liga juga dua. Tapi tetap saja timnas tidak bisa mengalahkan Malaysia, negara tetangga yang selalu mengaku BANGSA SERUMPUN tapi kelakuannya sering bikin jengkel orang Indonesia.

Saya sendiri dari dulu tidak menuntut PSSI membentuk timnas yang bisa juara AFF, juara Asia Games, apalagi juara Piala Asia. Tak perlu bermimpi jauh-jauh ikut Piala Dunia karena rasanya mustahil. Keinginan saya sangat sederhana: GANYANG MALAYSIA!

Itu saja!

Lagi, Guru Pukul Murid di NTT



Saya tertawa sendiri, sekaligus sedih, membaca berita di KOMPAS berjudul DI UJUNG ROTAN ADA KESUKSESAN. Berita tentang berbagai peristiwa kekerasan yang dilakukan guru-guru di Nusa Tenggara Timur, khususnya Flores, terhadap anak-anak.

Yah... salah satu metode pendidikan lama yang masih berlaku di NTT adalah guru memukul murid. Murid-murid SD dan SMP, khususnya SD, hampir tiap hari dirotan oleh guru. Biasanya pakai penggaris (mistar kayu), bambu, sapu lidi, atau rotan beneran. Ada juga guru yang kasar yang melempari murid nakal dengan penghapus.

Sebagai orang NTT, yang dididik di kampung, saya tentu pernah dirotan atau dikerasi guru-guru. Tak ada murid yang bebas rotan. Sebab, pasti ada saja kesalahan yang kita buat. Ada juga pelajaran mencongak di SD yang hukumannya dipukul di jari kalau salah berhitung, perkalian, atau pembagian di luar kepala. Karena semua murid mengalami kekerasan ini, ya, asyik-asyik saja.

Beda dengan sistem pendidikan di Jawa yang halus, tanpa rotan. Kalau ada guru yang memukul murid di Surabaya atau Sidoarjo, meskipun si murid itu nakal luar biasa, bandel, pak gurunya akan dilapor ke polisi. Dan dibahas besar-besar di surat kabar. Kemudian dapat sanksi penurunan pangkat atau peringatan keras. Yah... NTT memang beda dengan Jawa.

Seperti dikutip Kompas, guru-guru lama di NTT yang berlatar belakang pendidikan SGA/SGB, kemudian SPG, punya semboyan: Di ujung rotan ada kesuksesan! Murid yang nakal, malas, suka alpa, harus dirotan agar kelak jadi orang yang baik... dan sukses. Membiarkan saja anak-anak larut dalam kenakalannya  sama saja dengan merusak masa depan si anak.

Karena itu, berbeda dengan di Jawa, orang-orang tua di NTT, khususnya Pulau Lembata, sering titip pesan kepada guru-guru yang mengajar anaknya. "Kami minta Bapak Guru pukul saja anak saya kalau nakal. Jangan ragu-ragu!" begitu kira-kira pesannya.

Hehehe... Saya sering dengar pesan begini karena bapak saya memang guru di kampung yang juga menganut filosofi rotan sukses itu tadi.

Tapi apakah metode kekerasan dalam pendidikan di NTT masih layak dipertahankan? Jelas tidak bisa lagi, karena zamannya sudah berubah sama sekali. Kita akan malu sendiri, terkesan primitif, mengingat pola-pola kekerasan itu sudah lama ditinggalkan di Jawa dan daerah-daerah lain. Jangankan merotan murid, kekerasan verbal sekalipun jad masalah besar di Surabaya.

Kopong Udak, aktivis LSM di Kupang, yang rajin memantau perilaku guru-guru di NTT, bilang saat ini tinggal satu sampai tiga guru di sebuah sekolah yang suka memukul muridnya. Artinya, jumlahnya sudah turun karena sebelum tahun 2000 rasanya SEMUA guru di NTT, khususnya tingkat SD dan sedikit di SMP, menggunakan sistem rotan dalam pendidikan. Anggap saja sebuah SD di kampung punya enam guru, berarti tiga guru sudah tak lagi pakai rotan.

Masih 50 persen, Bung Kopong! Dan itu tidak sedikit, Bung!

Apakah benar setelah dirotan di sekolah, anak-anak itu jadi orang sukses di kemudian hari? Rasanya tidak juga.

Yang pasti, sebagian besar anak-anak SD di kampung, setelah selesai SD (entah lulus atau tidak), kemudian sukses menjadi perantau di Malaysia Timur.  Masih banyak anak di NTT yang tidak bisa lanjut ke SMP atau SMA karena budaya merantau sudah merasuk di tubuh orang NTT, khususnya Flores dan Lembata, sejak tahun 1950-an.

Tapi memang ada juga 'korban rotan di SD' yang kemudian sukses jadi bupati, wali kota, gubernur, atau politisi. Yang paling fenomenal anak-anak desa 'korban rotan' di NTT ini kemudian sukses menjadi pastor, khususnya kongregasi Societas Verbi Divina (SVD), yang kini bertugas di seluruh Indonesia dan berbagai negara di dunia.

Supaya lebih fair, guru-guru SD di pelosok Flores sejak dulu tak hanya dituntut bisa mengajar mata pelajaran, tapi juga harus bisa khotbah dan memimpin ibadat sabda (di Gereja Katolik) serta mengajar dan menjadi dirigen koor alias paduan suara gereja stasi atau paroki. Bahkan, guru-guru sederhana ini ternyata mampu menciptakan komposisi lagu-lagu liturgi untuk Gereja Katolik.

Jangan lupa, lagu-lagu gerejawi Katolik yang termuat di buku MADAH BAKTI atau PUJI SYUKUR, yang dipakai di Gereja Katolik di seluruh Indonesia saat ini, yang bergaya Flores, itu justru sebagian besar diciptakan oleh guru-guru kampung di Flores atau Lembata. Orang Katolik mana yang tak kenal lagu ordinarium Misa Dolo-Dolo, Misa Syukur, atau Misa Senja?

Karena itu, tidak heran orang-orang NTT yang merantau ke Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, atau Malaysia selalu menjadi pelatih dan dirigen paduan suara meski hanya tingkat lingkungan, wilayah, mudika, atau paroki. Itu tak lepas dari pelajaran MEMBACA NOTASI BUKU JUBILATE DAN SYUKUR KEPADA BAPA yang diajarkan di sekolah-sekolah dasar di kampung setiap hari Jumat dan Sabtu. Nah, saat itu rotan yang biasa dipakai untuk mendisiplinkan murid-murid berubah menjadi alat untuk membuat ketukan 4/4, 2/4, 3/4, atau 6/8.

30 November 2012

Sandro Tobing - Merah Hitam Cinta Kita

MERAH HITAM CINTA KITA
Ciptaan Donny Hardono

Kusimpan asmara dalam hati
Kala kutahu rindu menanti
Seputih melati bunga kasihku ini
Di dalam diriku engkau tumbuh dan bersemi
Kurasa hasrat diri menyapa
Di sela raga yang tak berdaya
Mungkinkah nurani cinta kita meraja
Asmara tlah tiba dan milik kita berdua
Ada atau juga tiada
Merah hitam cinta milik kita
Senja kini smakin temaram
Di dalam dunia smua pasti ada
Dan merah hitam cinta kita berdua


Acara Zona Memori (sebelumnya Zona 80) sudah tak ada lagi di Metro TV. Tapi biasanya program musik lawas ini diputar ulang pada pukul 02.00 ke atas. Kita yang sulit tidur bisa menikmati lagi artis-artis lama
yang pernah sangat terkenal di masa lalu. Ketika di Indonesia hanya boleh ada satu stasiun televisi, yakni TVRI.

Maka, penyanyi-penyanyi jebolan Aneka Ria Safari, yang dipandu Sri Maryati, atau Selecta Pop, yang dipandu Mariana Ramelan, muncul lagi di depan kita. Mereka kebanyakan sudah mundur rotal dari musik karena industri pop di Indonesia memang hanya untuk orang-orang yang berusia di bawah 30 tahun. Kalau ada artis nyanyi yang bisa bertahan hingga 40 tahun jelas pengecualian.

Gara-gara sulit tidur, dan menunggu siaran langsung bola, saya pun nonton Zona Memori. Habis tak ada lagi acara-acara bagus di jam mati itu. Oh, malam itu muncul SANDRO TOBING. Orangnya sangat gemuk,
tambun, penuh lemak, beda banget dengan saat jaya di TVRI zaman dulu.

Sandro juga ternyata suka bercanda, bahkan candaannya agak overdosis sehingga dia tidak sempat menjawab pertanyaan pembawa acara Ida Arimurti. Ditanya serius sama Ida dan Sys NS, Sandro malah bicara ngelantur ke mana-mana. Sehingga kita tidak bisa mengikuti ceritanya baik tentang masa lalu maupun masa sekarang. Artis-artis kita yang sering nongol di televisi memang sering tidak bisa menjaga ritme humor. Ngocol keterlaluan sehingga lupa bahwa dia dihadirkan di televisi untuk memberikan wawancara. Itu yang saya lihat dari seorang Sandro Tobing di Metro TV.

Nah, terlepas dari sisi kecil itu, kualitas vokal Sandro Tobing yang disiarkan Zona Memori masih sangat prima. Merdu, pakai vibrasi, teknik pernapasan yang sempurna. Dia menyanyi layaknya penyanyi-penyanyi
festival tahun 1980-an dan 1990-an yang sangat menekankan teknik produksi vokal yang prima. Gaya menyanyi yang masih kita lihat jejaknya di sejumlah jebolan Indonesian Idol macam Joy Tobing (ada
hubungan keluarga sama Sandro Tobing???), Delon, Regina, Sean, Helena, dan sebagainya.

Setelah menyaksikan Sandro Tobing, saya pun tertarik menelusuri rekaman beliau di Youtube. Ada beberapa lagu lama yang di-posting seperti Nuansa Kasih dan Merah Hitam Cinta Kita. Beberapa lagu dari
album pertamanya juga ada di Youtube. Sayang, kualitas audionya kurang bagus karena ditransfer dari kaset lama yang memang kurang layak tayang di era digital sekarang. Andai ada orang yang bisa merenovasi
rekaman lama itu, wah, pasti lebih asyik dinikmati.

Lagu Merah Hitam Cinta Kita ini, kalau tak salah rilis 1985, bagi saya, enak sekali. Aransemen orkestra menyayat hati, melodinya manis, dengan syair yang sangat puitis. Ada kesamaan vokal di akhir kalimat
alias rima. Sandro yang terlihat kurus, rupanya masih remaja SMA di Jakarta, bisa menghayati syair lagu karangan Donny Hardono ini dengan apik.

Maklum, lagu ini khusus dbuat untuk lomba cipta lagu tingkat nasional. Ajang bergengsi pada masa lalu ini memang sering melahirkan lagu-lagu bagus, kemudian arranger dan penyanyi jempolan macam Elfa Secioria
(penata musik) atau Harvey Malaiholo atau Emilia Contesa atau Bob Tutupoly.

Lewat internet saya jadi tahu bahwa Sandro Tobing masih punya banyak penggemar. Mereka suka vokal dan lagu-lagu Sandro yang manis tapi berbobot.

25 November 2012

85 Tahun Rumah Sakit Tionghoa Surabaya (Adi Husada)




Jauh sebelum kemerdekaan tokoh-tokoh Tionghoa di Surabaya sangat menyadari pentingnya pelayanan kesehatan untuk masyarakat. Karena itu, pada 25 November 1927 mereka mendirikan Sishui Zhonghua Yiyuan atau Rumah Sakit Tionghoa Surabaya. Pada 16 Juli 1975 ganti nama menjadi Rumah Sakit Adi Husada.

"Bulan November ini, tepatnya 25 November 2012, keluarga besar RS Adi Husada merayakan ulang tahun ke-85. Momentum untuk bersyukur kepada Tuhan karena sampai sekarang RS Adi Husada masih terus melayani masyarakat," kata dr Edhy Listiyo, CEO RS Adi Husada, kepada saya.

Menurut Edhy, RS Adi Husada alias Sishui Zhonghua Yiyuan ini mula-mula dirintis oleh dr Oei Kiauw Pik, dokter yang juga tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya pada era penjajahan Belanda. Dokter Oei prihatin melihat kondisi masyarakat saat itu yang sangat menderita. Warga begitu miskinnya sehingga tak mampu membeli obat atau berobat ke rumah sakit.

Maka, dr Oei bersama sejumlah tokoh Tionghoa, khususnya Jap Tam Boe, mendirikan poliklinik ibu dan anak di Jl Kembang Jepun 21-23 Surabaya. Poliklinik ini sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang tinggal di kawasan Surabaya Utara.

Sepuluh tahun kemudian, 1937, poliklinik ini dikembangkan menjadi Rumah Sakit Sishui Zhonghua Yiyuan yang berlokasi di Jl Kapasari. "Jadi, RS Adi Husada itu dimulai dari Jl Kapasari," kata dokter yang humoris ini.

Di masa perang dunia, ketika balatentara Jepang menduduki Nusantara, RS Sishui Zhonghua Yiyuan praktis tidak mengalami gangguan. Masyarakat yang menggunakan jasa hospital ini untuk berobat terus bertambah. Karena itu, pada 1945 dibuka rumah sakit baru di Jl Undaan Wetan. Rumah sakit kedua ini dalam beberapa tahun kemudian justru lebih pesat perkembangannya ketimbang rumah sakit asalnya.

"Boleh dikata, perjalanan Sishui Zhonghua Yiyuan menjadi Rumah Sakit Adi Husada seperti yang kita lihat sekarang memang sangat panjang. Dan, visi rumah sakit ini tidak pernah berubah sejak didirikan, yakni meningkatkan derajat kesehatan masyarakat," tegas Edhy.  

Tak hanya membangun dan mengembangkan fisik rumah sakit, menurut Edhy, para perintis Perkumpulan Adi Husada juga mempersiapkan sumber daya manusia untuk mengelola rumah sakit ini.

Pada 1964 didirikan Sekolah Pengantur Rawat, yang dikembangkan menjadi Sekolah Penjenang Kesehatan (SPK) pada 1978. Kemudian tahun 1985 RS Adi Husada merintis Akademi Keperawatan Adi Husada.

Menurut Edhy, jejak langkah para pendiri Sishui Zhonghua Yiyuan alias RS Adi Husada Surabaya akan dilanjutkan oleh keluarga besar Adi Husada dari generasi ke generasi. Pengabdian kepada masyarakat tak akan pernah berhenti.

24 November 2012

Sri Mulyani menari keliling Eropa



Sabtu (24/11/2012), Sri Mulyani genap berusia 37 tahun. Di usia yang kian matang ini Sri telah membuktikan diri sebagai salah satu penari Jawa Timur yang punya jam terbang tinggi baik di dalam maupun luar negeri. Mungkin ibu tiga anak ini merupakan satu-satunya penari kita yang pernah mendapat kesempatan 'ngamen' di puluhan kota di Eropa.

Didukung sang suami, Ki Toro, dalang sekaligus pemusik tradisi, Sri Mulyani telah menciptakan ratusan karya tari yang sudah dipentaskan di berbagai festival regional, nasional, bahkan internasional. Meski begitu, tak ada kata puas bagi Sri Mulyani. Dia terus menari, meracik tarian baru, dan mengajar tari... karena seni tari sudah menjadi napas hidupnya.

Berikut petikan percakapan Lambertus Hurek dengan Sri Mulyani:

Sejak kapan Anda mulai belajar menari?

Sejak masih anak-anak saya sudah ikut berlatih menari. Sebab, saya berasal dari keluarga yang memang sangat dekat dengan seni tari. Awalnya hanya sekadar senang-senang saja, tidak terlalu serius ingin menjadi atau koreografer profesional. Tapi rupanya seni tari sudah telanjur menjadi bagian dari kehidupan saya sampai sekarang.

Lantas, kapan mulai serius menekuni seni tari?

Kira-kira sekitar tahun 1982. Waktu itu saya masih sekolah dasar (SD). Tapi mulai berproses dengan guru-guru tari dan penari-penari senior sejak tahun 1996 di Taman Budaya Jawa Timur.

Rupanya Anda belajar di sanggar tari yang profesional?

Benar. Sebab, saya memang tidak mau setengah-setengah dalam menekuni seni tari. Saya juga belajar di Bina Tari Jawa Timur, Tari Kreasi Bagong Kusumadiarjo, dan Pokja Pelatihan Tari Bali. Saya belajar menari kurang lebih 13 tahun. Selain itu, saya pernah berlatih pada Cak Rofik, Agustinus, dan Tri Broto Wibisono. Mereka semua kemudian menjadi mitra kerja saya dalam seni tari.

Barangkali Anda pernah ikut lomba saat remaja dan berhasil jadi pemenang?

Wah, kalau lomba-lomba menari di tingkat SD sampai perguruan tinggi, saya memang sering ikut dan, alhamdulillah, sering menang. Saya pernah jadi juara tari remo tingkat pelajar SMP-SMA, bahkan berlanjut ke jenjang perguruan tinggi. Bukannya sombong, saya selalu terpilih menjadi peserta terbaik. Saya tiga kali berturut-turut menjadi juara tari remo, sehingga piala bergilirnya saya bawa pulang menjadi piala tetap. Itu pengalaman yang tak pernah saya lupakan.

Anda kini lebih dikenal sebagai pentara tari yang sukses. Dari mana Anda mendapat ide untuk menciptakan tari kreasi?

Idenya bisa dari mana saja. Apa pun yang ada di sekitar kita bisa menjadi inspirasi untuk menciptakan karya-karya baru. Saya juga banyak menggali cerita kepahlawanan atau kearifan lokal.

Bisa sebut contohnya?

Tarian Panji Klaras Keboansikep yang terpilih sebagai karya tari terbaik tingkat nasional tahun 2005. Tarian itu saya ambil spirit perjuangan Kiai Hasan Mukmin di daerah Sruni, Gedangan, Sidoarjo, yang pantang menyerah melawan penjajah bersama masyarakat setempat. Mereka bangkit melakukan perlawanan karena mendapat tekanan berat untuk membayar upeti.

Nah, Kiai Hasan Mukmin itu mantan pasukan Pangeran Diponegoro. Meski hanya seorang penjual tikar, namun beliau punya kepedulian sangat tinggi untuk membela rakyat. Saya kemudian menggunakan properti tikar untuk mengekpresikan sarana perang seperti meriam, benteng, bambu runcing, dan sebagainya.

Lantas, bagaimana Anda bisa melakukan pertunjukan keliling di luar negeri?

Nah, kebetulan tahun 1997 saya berkolaborasi dengan Ki Toro (suami Sri, pemusik tradisional dan dalang, Red) berkeliling ke 24 kota di Prancis. Di Prancis saya membawakan karya hasil kolaborasi dengan penata tari Prancis dengan judul L'eppope de Gilgamesh atau Pengembaraan Gilgamesh.

Kemudian tahun 2004 kami berkeliling lagi di 50 kota ke Belanda menampilkan Tari spirit Jaranan. Saya juga pernah pula tampil di Turki tahun 2008.

Bagaimana apresiasi masyararat Eropa terhadap tarian Anda yang berakar pada tradisi Jawa Timur?

Wah, orang Barat itu memang punya apresiasi yang tinggi terhadap semua jenis kesenian. Setiap kali kami pentas selalu ramai. Dan mereka juga suka mendiskusikan kesenian yang sudah ditonton. Juga ada workshop, kolaborasi, dan sebagainya. Yang menarik, pertunjukan tari itu tidak harus dilakukan di dalam gedung kesenian yang bagus. Mereka bisa menyulap tempat apa pun menjadi ajang untuk berkesenian.

Apakah Anda masih diundang pihak luar negeri untuk tampil di festival atau event-event internasional?

Kalau undangan sih selalu ada. Tapi, terus terang saja, sampai sekarang kita selalu kesulitan mendapat sponsor yang mau mendukung kegiatan kesenian, khususnya seni tari. Ini juga yang membuat penari-penari kita kurang mendapat kesempatan untuk menampilkan kebolehannya di luar negeri. Padahal, melalui seni tari, kita bisa mempromosikan seni budaya Indonesia di luar negeri.

CV SINGKAT

Nama : Sri Mulyani
Lahir : Surabaya, 24 November 1975
Suami : Subiyantoro alias Ki Toro
Anak : 3 orang
Pekerjaan : Penari, koreografer
Sanggar : Pusat Olah Seni dan Budaya Sri Production
Alamat : Bluru Permai BH-2 Sidoarjo, Jawa Timur

Pendidikan :

SMP dr Soetomo Surabaya
SMA Dharma Wanita Surabaya
STKW Surabaya

Pengalaman Pentas

Pertunjukan keliling di 25 kota di Prancis selama tiga bulan, 1997
Indonesia Festival di Darling Harbour, Sydney, Australia, 2004
Mundial on Tour selama tiga bulan di Belanda, 2004
Festival Karya Tari Indonesia, 2005
Festival Cak Durasim di Taman Budaya Jawa Timur, 2006
Indonesian Dance Festival VIII di Gedung Kesenian Jakarta, 2006.
Festival Ramayana Internasional di Bali, 2006
Indonesia Performing Arts Mart, Solo, 2007.
Festival Cak Durasim, 2007
Egypt Annual Festival di kota Manisa, Turki, 2007
Indonesia Dance Festival IX, 2008, Taman Ismail Marzuki Jakarta.
Pembukaan IPAM 2009 di Mangkunegaran, Surakarta.
Temu Taman Budaya di Riau, 2010.
Apresiasi Seni bagi Guru dan Siswa di Puspo Agro Jemundo, Sidoarjo.
Pasamuan Kerukunan Antar Umat Beragama Internasional di Gianyar, Bali, 2011

23 November 2012

Tradisi perang tanding dan baku bunuh di Adonara NTT



Perang antardesa di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT, bikin kita mengelus dada. Orang Lewobunga dan Lewonara bukan hanya berkelahi, tawuran, tapi baku bunuh. Gara-gara konflik tanah ulayat, orang Adonara yang masih bersaudara, sesama orang Lamaholot, melakukan perang terbuka pakai parang, kelewang, tombak, dan senjata tajam lain.

Belum ada tanda-tanda kapan konflik tradisional Lamaholot, yang lazim terjadi di era Hindia Belanda, ini akan selesai. Kalaupun berhenti perang, karena capek, siapa yang jamin di masa depan tak berulang? Ingat, dendam itu selalu diwarisi dari generasi ke generasi.

Saya, sebagai putra asli etnis Lamaholot, miris, sekaligus malu, melihat berita perang tanding Lewonara vs Lewobunga di televisi. Kok hari gini, era internet, globalisasi, masih ada baku bunuh antarsaudara di Adonara? Beginikah peradaban orang Lamaholot?

Ingat, Adonara, khususnya Adonara Timur, adalah pusat tradisi dan adat Lamaholot yang meliputi Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Lembata, dan Kabupaten Alor. Apa jadinya kalau tradisi baku parang yang sudah tak relevan ini menular ke Lembata, Flotim daratan, Solor, Alor, Lembata, Pantar?

Saya mencoba mengirim SMS ke Pak Paulus, guru SMA di Surabaya, asal Adonara Barat. Kok bisa perang tanding antarkampung masih ada di Lewotanah? Saya jad miris, kata saya.

Pak Paulus membalas:

"MEMANG SESUAI DENGAN ETIMOLOGI, ADONARA ITU ADOK (ADU) DARA. TITE DOA SEMOGA BERA MELA. PADAHAL CAMAT ADONARA TIMUR NE TEMAN GOE, HAMA-HAMA KULIAH DI JOGJA NOLO, AMA."

Memang begitulah pendapat hampir semua orang Adonara kalau diajak bicara tentang perang tanding alias baku parang. Kata ADONARA dalam bahasa Lamaholot dicarikan etimologi sebagai justifikasi atau pembenaran. Bahwa saling bunuh gara-gara masalah tanah, yang sebetulnya bisa dibawa ke meja hukum atau pengadilan, dibicarakan bersama, menjadi hal yang biasa.

Tahun 1980-an ketika perang antardesa Redontena dan Adobala (kalau tidak salah), banyak tokoh di Flores Timur masih bisa menerima argumentasi tentang kebiasaan perang antarsuku itu. Tapi hari ini, tahun 2012? Ketika makin banyak orang Adonara jadi tokoh di NTT seperti Frans Lebu Raya, gubernur NTT sekarang, dan banyak tokoh lain di luar NTT asal Adonara... apakah baku bunuh itu masih relevan?

Teman-teman kita di Jawa tak habis pikir dengan tradisi yang masih primitif ini. Main gila dengan nyawa manusia jelas tak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun. Apalagi hanya alasan etimologis. Belum kita bicara ajaran Katolik, yang melarang pembunuhan dan menekankan CINTA KASIH sesama manusia, yang terlalu sering disuarakan pastor-pastor di Flores. Pembunuhan dengan alasan apa pun tentu melawan hukum cinta kasih!

Dulu saya pernah diskusi dengan Pastor Lambertus Padji Seran SVD (sekarang almarhum) , pastor asli Adonara Timur, yang pensiun di Biara Soverdi Surabaya. Saya singgung masalah perang tanding ini. Pater Lambert waktu itu tak bisa bicara banyak. Sebab, pastor-pastor senior asli Adonara sekaliber beliau atau Monsinyur Pain Ratu SVD (Uskup Atambua emeritus) pun tak bisa berbuat banyak untuk menghentikannya.

"Sekarang sudah sangat jarang terjadi perang tanding. Mudah-mudahan di masa depan tidak ada lagi," kata Pater Lambert yang sangat dihormati di bumi Lamaholot itu.

Pater Lambert Padji sudah meninggalkan kita semua. Sayang, harapan beliau agar kampung halamannya tak ada lagi pertumpahan darah sia-sia belum menjadi kenyataan. Kasus perang tanding Lewonara vs Lewobunga membelalakkan mata kita semua. Bahwa mengikis tradisi dan adat lama di Lamaholot memang tidak mudah. Sama tak mudahnya dengan menyederhanakan adat belis yang sering mencekik leher keluarga para pemuda Lamaholot yang hendak menikah.

Saya tertegun membaca tulisan Laurensius Molan, orang Adonara, di internet. Dia mengutip buku ATA KIWAN karya Pastor Ernst Vatter SVD, misionaris Belanda, yang terbit tahun 1932 . Misionaris ini melukiskan Adonara sebagai Pulau Pembunuh alias The Killer Island. Sangat menyeramkan.

Pater Vatter menulis:

"Di Hindia Belanda bagian timur tidak ada satu tempat lain di mana terjadi begitu banyak pembunuhan seperti di Adonara. Hampir semua pembunuhan dan kekerasan, penyerangan dan kejahatan-kejahatan kasar lain, yang disampaikan ke Larantuka untuk diadili, dilakukan oleh orang-orang Adonara".

Pater Vatter melihat langsung apa yang terjadi pada tahun 1930-an di Pulau Adonara. Ironisnya, sampai sekarang masih terjadi. Sebuah kisah nyata yang kian melegitimasi Adonara sebagai Pulau Pembunuh.

Pastor Paul Ardnt SVD juga menceriterakan soal keganasan di Pulau Adonara. Sejak era 1900-an, kata misionaris ini, nama Adonara sudah dikenal oleh para misionaris dan bangsa Eropa yang singgah ke Flores.

Pater Ardnt menulis:

"Misionaris dari Eropa mengenal Adonara bukan karena keindahan alam atau kecerdasan masyarakatnya, tetapi karena kekejaman dan berbagai tindak kekerasan yang terjadi di sana."

Syukurlah, Gubernur NTT Frans Lebu Raya, yang asli Adonara, melontarkan pernyataan yang patut disimak. Politikus PDI Perjuangan ini mengatakan:

"Apa yang kita banggakan dengan sebutan Adonara sebagai Pulau Pembunuh? Kita sudah berada pada zaman berbeda. Semua persoalan tidak harus diselesaikan dengan pertumpahan darah. Perang tanding antara suku Lewonara dan Lewobunga harus segera diakhiri!"

Tak hanya Lewonara vs Lewobunga, Pak Gubernur, jangan ada lagi pertumpahan darah di bumi Lamaholot dan NTT!!

Ina ama kaka ari
Ake belo buko wekike
Tite ata koli lolon hena!!!

21 November 2012

An Xiaoshan sekretaris Konjen Tiongkok



Setelah Wang Dandan kembali ke Beijing, kini posisinya digantikan An Xiaoshan. Nona manis ini bertugas sebagai atase sekaligus penerjemah resmi Konsul Jenderal Tiongkok di Surabaya Wang Huagen.

Begitu tiba di Surabaya, An Xiaoshan langsung mendapat tugas berat. Yakni menyiapkan resepsi hari nasional Tiongkok di Hotel Shangri-La akhir September 2012. Maka, dia harus menghubungi sekian banyak relasi Konjen Tiongkok untuk menghadiri peringatan HUT kemerdekaan Tiongkok itu.

"Kami sudah punya daftar nama sehingga saya tinggal menelepon," kata Nona An kepada saya.

An pun lega karena hajatan tahunan ini berlangsung sukses. Resepsi berlangsung meriah, dihadiri ratusan pengusaha dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Tampil dengan gaun biru, An tak canggung ketika bertemu dengan para undangan yang baru pertama kali ditemuinya.

Selain Konjen Wang Huagen, malam itu An Xiaoshan menjadi pusat perhatian hadirin. Maklum, An jadi pembawa acara dwibahasa. Mula-mula An berbicara dalam bahasa nasionalnya, Mandarin, kemudian bahasa Indonesia. Wow, ternyata bahasa Indonesia An Xiaoshan cukup fasih meski logat Tiongkok tak mungkin hilang begitu saja.

"Sebelum bertugas di Surabaya saya mengajar bahasa Indonesia di Tiongkok," kata An seraya tersenyum.

Menurut dia, bahasa Indonesia bagi masyarakat Tiongkok bisa dibilang gampang-gampang susah. Kelihatannya sederhana, tapi tidak mudah ketika diucapkan. Meski begitu, An tertarik belajar bahasa Indonesia karena bertemu dengan Gunawan, warga keturunan Indonesia di Tiongkok.

Gunawan pun jadi guru privatnya selain belajar secara formal di perguruan tinggi. Karena itulah, ucapan An tidak secadel orang Tiongkok yang baru belajar bahasa Indonesia.

Kemampuan berbahasa Indonesia An semakin terasah ketika mendapat tugas belajar ke Jogjakarta. Di kota budaya itu An ditempatkan di Universitas Achmad Dahlan. Selama satu tahun An mempraktikkan kemampuan berbahasa Indonesia yang sudah dipelajarinya di kampus maupun Pak Gunawan. Tak hanya belajar bahasa Indonesia, An juga belajar bahasa Jawa serta tradisi budaya Jawa.

16 November 2012

Hermawan Kartajaya: Bangga jadi orang kampung

Oleh Hermawan Kartajaya

Pada 21 Oktober 2012 saya mendengarkan presentasi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Saya hadir dalam acara penutupan Temu Pusaka Indonesia di FK Unair yang diselenggarakan di Surabaya selama tiga hari.

Yang unik, tahun ini tema besarnya adalah Pusaka Saujana, yang antara lain tentang kampung. Ternyata, kampung-kampung Surabaya begitu hebat sekarang. Karena ada wali kota yang mau turun tangan terus ke mana-mana untuk mengajarkan bagaimana punya kampung yang bersih dan indah.

Saya bangga pernah tinggal di kampung. Kampung saya adalah Kapasari Gang 5, rumahnya nomor 1. Benar-benar kampung. Mobil dan motor tak boleh masuk. Ada saluran got di tengah. Kampung gang 5 itu dibagi menjadi dua bagian, terbelah oleh gang 1 yang bisa dilewati mobil dan motor.

Saya tinggal bersama papa, mama, dan adik perempuan saya di sebuah rumah kecil. Itu pun masih dikavling-kavling lagi dengan delapan orang yang indekos. Jadi, kami benar-benar hidup berdesakan di sebuah petak-petak kecil. Begitu kecilnya sehingga selalu kepanasan di dalam rumah. Jadi, harus belajar di luar rumah.

Papa hanya memerintah saya untuk jadi juara kelas karena kami miskin. Supaya masih ada harga diri dan masa depan. Tetapi, karena tidak pernah masuk kuliah, beliau hanya bisa mempertajam pensil saya. Itu dilakukan tiap malam, lalu ditata dengan rapi bersama karet penghapus di dalam kotak.

Rumah kami yang kecil itu masih harus bisa memuat dua sepeda onthel Gazelle. Satu punya papa, satu untuk saya.

Di sekolah, SMPK St Stanislaus maupun SMAK St Louis, terus terang saya minder waktu itu. Kurang bisa bergaul dan tidak masuk hitungan teman-teman yang punya social class lebih tinggi. Setiap ada pesta yang diadakan di resto dan dansa-dansi, saya pasti tidak diundang. Maklum, orang kampung.

Karena itulah, setiap pulang ke rumah, saya baru merasa somebody. Ketika di sekolah saya seolah nobody. Di kampung kami hidup rukun, aman, damai. Jaga malam bareng-bareng di gardu. Juga sering mengobrol bareng ganti-ganti tempat, termasuk di langgar kampung.

Tiap Hari Raya Imlek, tetangga muslim mengirim makanan kepada yang Tionghoa. Begitu sebaliknya, waktu Lebaran, yang Tionghoa kirim kue-kue kering. Makanan dan kuenya buatan sendiri dengan spirit kekeluargaan. Kampung kami sudah bersih dan aman pada waktu itu karena kami membersihkan dan menjaganya bersama.

Dalam bahasa sekarang disebut komunitas kopi darat yang ikatannya human spirit. Saya rasanya ingin memutar mesin waktu agar bisa hidup di kampung Kapasari, Surabaya, pada era sekarang. Surabaya yang bersih, aman, indah, dan makmur. Dengan penyikapan yang horizontal, inklusif, dan sosial seperti sekarang ini, saya dan siapa pun harus bangga jadi orang kampung. Asal jangan kampungan! (*)

Sumber : Jawa Pos 16 November 2012

12 November 2012

Polisi Malaysia perkosa TKI


Belum lama kita bahas iklan tentang pembantu asal Indonesia yang diobral di Malaysia. Sekarang muncul kasus yang lebih mengerikan dan sangat biadab.

Seorang wanita Indonesia diperkosa ramai-ramai oleh tiga polisi Malaysia di kantor polisi Bukit Mertajam, Penang, Malaysia. Polis diraja perkosa TKI di kantor polisi. Jahanam!

Bisa dikata kasus pemerkosaan ini hanya ulah oknum. Kasuistis. Tapi bahwa rape ini dilakukan polisi di kantor polisi.. bagaimana kita menjelaskannya? Ternyata integritas polisi Malaysia serendah itu. Penegak hukum berperilaku seperti binatang. Dan rasanya bintang sekalipun tak pernah lawan jenisnya karena ada mekanisme musim kawin dan sebagainya.

Saya lihat di televisi reaksi pejabat-pejabat kita seperti menlu, menaker, kedutaan sama seperti dulu. Normatif, datar, dan tenang. Tak ada kegemasan atau kegeraman karena mungkin sudah dianggap biasa saja.

Saya sudah lama mengingatkan bahwa TKI di Malaysia yang jumlahnya 3 juta (bahkan 5 juta ditambah ilegal) menjadi masalah serius di Malaysia. Populasinya terlalu banyak dengan pendidikan dan skill yang rendah.

Martabat TKI sangat rendah. Setiap hari jadi bahan pelecehan orang Malaysia, termasuk polisinya. Dan pemerintah tak bisa berbuat apa-apa karena butuh Malaysia sebagai negara majikan. Indonesia masih sebatas negara budak yang hanya bisa jual tenaga.

Bagaimana kita percaya pada hukum di Malaysia kalau kantor polisi pun jadi tempat memperkosa TKI? Bagaimana kita percaya hukum Malaysia kalau seorang Datok Anwar Ibrahim, politikus dan bekas wakil perdana menteri Malaysia, saja dianiaya dan diperlakukan sewenang-wenang oleh penegak hukum Melayu?

Kita sering terbuai oleh jargon BANGSA SERUMPUN yang sering disampaikan orang Malaysia ketika punya masalah dengan Indonesia. Bangsa serumpun kok diperkosa?

Ah, Malaysia... malingsia!

KHOTBAH PANJANG KHOTBAH PENDEK

Berapa durasi khotbah yang baik di gereja? Panjang, sedang, atau pendek? Atau tidak perlu ada khotbah?

Jawabnnya relatif. Tergantung gerejanya. Ada gereja yang memang kerjanya jualan khotbah. Makin panjang khotbah, makin banyak joke, cerita, umat makin senang. Apalagi banyak tepuk tangan dan teriak jargon-jargon seperti Haleluya dan segala macam.

Minggu 11 November 2011 saya mampir ke sebuah hotel di Surabaya. Ada pameran pendidikan Tiongkok. Kok ada pujian dengan lagu-lagu menghentak, full band, tepuk tangan meriah? Rupanya di ruang sebelah ada IBADAH RAYA, istilah baru untuk kebaktian gereja-gereja haleluya alias krismatik.

Silakan masuk, kata resepsionis. Wah, khotbah si pendeta berbusana pengusaha sukses, bukan jubah ala domine protestan, bicara menggebu-gebu. Kutip ayat-ayat Alkitab dengan lincah sesuai temanya yang penuh motivasi.

Khotbahnya sendiri sekitar satu jam lebih. Rupanya umat yang sebagian besar Tionghoa sangat puas. Jemaat juga dikasih amplop untuk diisi uang persembahan dan perpuluhan. Boleh juga via nomor rekening yang dicetak besar-besar di amplop.

Sorenya saya ke gereja lagi di Gereja Katolik Pagesangan. Guru-guru agama saya mulai SD sampai universitas bilang orang Katolik yang ikut kebaktian minggu di gereja protestan dianggap belum ke gereja. Biarpun ikut kebaktian lima kali, nyanyi jingkrak-jingkrak, haleluya, khotbah panjang. Sebab kebaktian protestan atau pentakosta itu bukan perayaan ekaristi.

Misa sore itu dipimpin pastor muda asal Cepu. Jawa banget! Bacaan kitab suci hari itu tentang persembahan janda miskin yang dianggap lebih bernilai ketimbang persembahan orang kaya. Juga tentang janda di Sarfat yang bertemu Elia.

Saya kaget karena homili romo praja ini sangat cair. Pakai ilustrasi bahasa Jawa sehingga umat tertawa kecil. Meskipun tidak baru, khotbah itu mengusik hati kita untuk bersikap seperti kedua janda miskin itu.

Khotbah romo di Gereja Pagesangan, tetangga Masjid Al Akbar Surabaya, hanya tujuh menit. Dan saya cukup terkesan.

09 November 2012

Paduan suara di Jatim makin hebat


Bukan main paduan suara mahasiswa dan pelajar di Surabaya saat ini. Dalam dua minggu ini tiga kor anak muda Kota Pahlawan unjuk kebolehan di luar negara. PSM Universitas Airlangga baru kembali dari kompetisi choir di Polandia. Dan menang!!!

Kemudian dua hari lalu Paduan Suara SMAN 6 berangkat ke Guangzhou, Tiongkok, ikut festival paduan suara internasional. Semoga menang juga karena tahun lalu sudah dapat medali, kalau tak salah. Tak hanya mahasiswa dan pelajar SMA, anak-anak SD Cita Hati juga berangkat ke Tiongkok untuk lomba paduan suara kelas dunia.

Hebat, hebat, hebat!

Dulu, tahun 1990-an, ketika masih jadi penyanyi dan pengurus paduan suara mahasiswa Universitas Jember dan paduan suara di lingkungan Gereja Katolik di Jember, Malang, Surabaya, saya tak pernah membayangkan paduan suara kita bisa ikut kompetisi di luar negeri... dan (hampir selalu) menang.

Sekadar ikut kompetisi tingkat nasional di Bandung, yang diadakan ITB, kompetisi paling bergengsi di Indonesia saja sudah setengah mati. Cari dana, sponsor, latihan yang lama dan intensif, belum harus kuliah dan praktikum.... Dan keluhan itu sudah biasa dilontarkan teman-teman pengurus PSM di universitas lain. Termasuk kampus negeri yang sangat terkenal.

Tapi, setelah reformasi, semuanya berubah drastis. Ikut lomba ke luar negeri, entah Tiongkok, Polandia, Jerman, Korea, Inggris... bahkan kutub utara begitu mudahnya. Kirim 50 orang ke Eropa kayaknya lebih ringan ketimbang kirim 35 orang penyanyi dan ofisial paduan suara dari Jember ke Bandung. Hehehehe....

Jelas, ini membuktikan bahwa hari ini Indonesia punya banyak uang, mungkin dari sponsor atau pemerintah, untuk membiayai misi kesenian yang nonkomersial ini. Makin banyak pihak yang peduli paduan suara. Pak Harun, kepala dinas pendidikan Jawa Timur, kemarin mengatakan siap membiayai grup paduan suara berkualitas yang sanggup mengharumkan nama Jawa Timur di dunia.

Dulu, zaman saya, tidak ada pejabat tinggi yang bicara kayak Pak Harun. Sekadar keluar uang untuk pengadaan kostum saja, wah, susahnya bukan main. Saya masih ingat betapa susahnya meminta uang dari universitas, yang besarnya tak seberapa, untuk konsumsi anggota paduan suara saat latihan. Sekadar beli roti, camilan, dan minum wedhang jahe. Tak ada dana untuk makan di warung, apalagi restoran.

Maka, bebahagialah anak-anak paduan suara yang hidup di zaman internet ini! Ada youtube, kita bisa lihat penampilan kor di seluruh dunia. Cari partitur gampang! Tidak perlu menulis partitur pakai tangan seperti yang saya lakukan dulu.

Bagaimana dengan kualitas paduan suara sekarang? Sonoritas? Harmonisasi sopran, alto, tenor, bas? Teknik vokal?

Ehm... Kayaknya sama saja. Saya bisa jamin kor zaman dulu tak kalah dengan kor sekarang. Bahkan, bisa jadi lebih bagus. Kor-kor sekarang lebih banyak mengeksploitasi olah gerak, tari-tarian, entertaing! Mereka menyanyi dan menari. Bukan cuma menyanyi doang! Tapi, percayalah, kor-kor lawas yang membawakan Ave Verum Corpus atau Hallelujah Handell masih lebih mantap ketimbang kor-kor masa kini yang sangat menekankan visual.

Bagaimanapun juga selamat untuk semua paduan suara di Jawa Timur yang makin hebat! Lama-lama kor-kor pelajar dan mahasiswa tak mau lagi ikut festival paduan suara di Bandung, Jakarta, atau Jogjakarta karena sudah banyak festival di luar negeri. Toh, banyak sponsor yang mau membiayai.