30 November 2011

Wisata Lokal yang Sepi



Pantai wisata Parangtritis, Jogjakarta.



Sejak bulan lalu, hampir setiap hari, banyak iklan di surat kabar yang mempromosikan wisata akhir tahun. Setelah saya cek, hampir 100% iklan itu mengajak orang Indonesui untuk melancong ke luar negeri.

Eropa, Amerika, dan negara-negara Asia, khususnya Tiongkok, Taiwan, Hongkong, atau Makau, masih jadi favorit. Timur Tengah laris dengan wisata rohani, khususnya tempat-tempat ziarah yang dianggap penting untuk umat kristiani. Misalnya, Yerusalem, Bethlehem, Mesir, dan sebagainya.

Lantas, adakah iklan-iklan yang mempromosikan tempat-tempat wisata dalam negeri? Tidak ada. Biro-biro perjalanan wisata sejak dulu memang sangat jarang mempromosikan destinasi lokal atau nasional. Orang Indonesia selalu dikondisikan untuk jalan-jalan ke luar negeri, kemudian membagikan pengalaman lewat tulisan atau foto-foto di media massa.

Seakan-akan destinasi asing itu begitu hebatnya. Tulisan-tulisan tentang perjalanan pun ibarat iklan pariwisata yang lebih hebat ketimbang iklan asli yang dibuat negara tersebut. Karena itu, saya tidak pernah membaca tulisan-tulisan macam itu. Saya lebih suka membaca tulisan-tulisan Agustinus Wibowo, yang juga doyan jalan-jalan ke negara yang 'tidak lazim' macam Afghanistan, Pakistan, Tajikistan, Turkmenistan, dan negara-negara lain yang 'sangat menantang'.

Taman Nasional Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, NTT, sempat mencuat gara-gara polemik seputar New7Wonder yang kontroversial itu. Tiba-tiba saja orang rajin bicara binatang purba yang memang sangat langka itu. Sayang, seperti biasa, semuanya 'omdo': omong doang. Tak ada usaha yang sistematis dan serius untuk menggairahkan pariwisata di dalam negeri. Padahal, kata orang-orang Barat, Indonesia ini punya kekayaan alam, kekayaan budaya... yang bisa menghidupkan bisnis pariwisata.

"Sulit Bung, fasilitas pendukung wisata di dalam negeri belum memadai," kata Bung Eddy, pelaku bisnis pariwisata. Fasilitas itu macam-macam: penerbangan reguler, kemudahan transportasi, akomodasi, dan sebagainya.

Bukankah semua provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia sudah punya Dinas Pariwisata?

"Hehehe... Dinas Pariwisata di mana-mana cuma sekadar pajangan. Bahkan, jadi semacam dinas untuk menampung pejabat-pejabat di daerah yang sengaja 'dibuang'. Dinas Pariwisata tidak pernah dikelola secara profesional. Anda ini kayak nggak tahu aja," tukas Bung Eddy.

Komentar Bung Eddy tidak memang tidak mengada-ada. Saya melihat sendiri suasana kerja di dinas-dinas pariwisata di Jawa Timur. Benar-benar jauh dari profesional. Kantornya tidak menarik, pegawai-pegawai dan pejabat-pejabatnya kurang kompeten di bidang pariwisata. Belum bicara alokasi anggaran.

"Anggaran untuk pariwisata itu di mana-mana paling rendah di semua kabupaten," kata seorang mantan pejabat di Surabaya. "Bagaimana kita mau mengangkat pariwisata di dalam neger?"

Kementerian Pariwisata, ketika menterinya masih Jero Wacik, memperkenalkan jargon KENALI NEGERIMU, CINTAIMU NEGERIMU. Tapi, seperti biasa, jargon pejabat tetap saja jargon. Tanpa ada perbaikan infrastuktur dan fasilitas-fasilitas pendukung, kita akan sulit menandingi arus kunjungan wisatawan ke Singapura, misalnya. Negara tetangga superkecil yang sebenarnya tidak punya kekayaan alam sehebat Indonesia.

26 November 2011

Cak Ugeng Pelukis Sembur




Pelukis yang satu ini, Sugeng Prajitno (50 tahun)--- yang lebih suka disapa Cak Ugeng --- memang nyeleneh. Kalau biasanya pelukis-pelukis lain menorehkan cat minyak ke atas kanvas dengan kuas, Cak Ugeng justru pakai mulut. Cat minyak itu dimasukkan ke dalam mulut, dikumur sebentar, kemudian disemburkan ke atas kanvas atau papan yang sudah disediakan.


Sekitar 30 menit kemudian jadilah lukisan-lukisan abstrak dengan tema tertentu. Aksi teatrikal Cak Ugeng kian 'menyeramkan' karena pria kelahiran Perak Timur, Surabaya, ini biasanya bermain-main api di kedua belah tangannya, menempel-nempelkan api di tubuhnya, menyemburkan bensin ke arah api, sehingga terlihat membesar di udara.

Diiringi permainan musik dari beberapa rekannya, Cak Ugeng kemudian mengadakan demo melukis abstrak dengan menyemburkan cat dari mulutnya. Berikut petikan percakapan santai Radar Surabaya dengan Cak Ugeng di studionya, Kampung Seni Pondok Mutiara Sidoarjo, kemarin.

Sejak kapan Anda mulai bikin 'ulah' dengan metode melukis yang tidak umum itu?


Saya mulai sejak 2003. Awalnya sih coba-coba saja, sekadar mencari perhatian. Sebab, saya kan tergolong pelukis pemula yang belum punya nama di Jawa Timur. Saya harus melakukan sesuatu yang tidak umum agar orang mengenal saya.

Saya ini kan seniman yang otodidak. Saya nggak punya background pendidikan seni rupa, ikut sanggar lukis, kursus, dan sebagainya. Sementara pelukis-pelukis lain kan sudah eksis dan punya nama. Maka, saya perlu melakukan sesuatu yang berbeda agar bisa dikenal banyak orang. Eh, ternyata lama-kelamaan kok asyik, dan keterusan sampai sekarang.

Bisa dikatakan Anda mau mencari sensasi?


Pada awalnya sih ada unsur sensasi. Sebab, bagaimanapun juga setahu saya di Indonesia (mungkin juga di negara-negara lain) belum ada seniman yang melukis dengan menyemburkan cat dari mulutnya. Kemudian aksi ini saya perkaya dengan performance art sehingga bisa menjadi sebuah tontonan yang bisa dinikmati banyak orang. Tapi, setelah berjalan selama beberapa tahun, tidak ada lagi unsur cari sensasi. Sekarang sudah sampai ke taraf spiritual karena apa yang saya lakukan ini seperti sebuah laku spiritual bagi saya. Makanya, saya selalu menyembut pertunjukan saya sebagai spiritual painting.

Barangkali Anda menggunakan unsur magic atau ilmu-ilmu tertentu mengingat Anda berkumur cat dan bermain-main api segala?


Oh, tidak ada sama sekali. Ini murni kesenian. Siapa pun bisa melakukannya kalau mau belajar dan mencoba. Saya sendiri pun awalnya hanya coba-coba saja, tapi ternyata bisa dilakukan dengan mudah.

Tapi penampilan Anda yang gondrong, bertelanjang dada, dan sangar saat performance terkesan seperti dukun?


Hehehe.... Itu kan cuma penampilan luar saja. Namanya juga atraksi teratrikal, ya, harus dikemas sedemikian rupa sebagai sebuah tontonan. Tidak ada magic, tidak ada perdukunan. Makanya, saya sudah lama berjuang agar apa yang saya lakukan ini bisa diakui masyarakat, kritisi, dan sesama seniman sebagai bagian dari kesenian.

Artinya, lukisan sembur Anda belum diakui sebagai karya seni?


Masih butuh proses karena apa yang saya lakoni ini memang hal baru. Jangankan masyarakat biasa, seniman-seniman pun banyak yang menganggap lukisan-lukisan hasil semburan itu sebagai karya main-main. Nggak gampang memang meyakinkan orang yang sudah punya ideologi atau paham tertentu tentang kesenian. Tapi saya percaya, suatu ketika masyarakat bisa menerima karya-karya saya.

Biasanya, kapan Anda membuat lukisan dengan teknik semburan ini? Apakah setiap saat atau hanya pada momen-momen tertentu di depan publik saja?


Kalau sehari-hari sih saya bikin lukisan seperti biasa. Memahat, bikin patung, kelola taman, menulis puisi, teater, dan berkomunitas. Sebab, kesenian yang saya tekuni ini memang bermacam-macam. Tapi khusus untuk semburan, biasanya saya lakukan kalau ada even-even khusus seperti Hari Bumi, Hari Lingkungan Hidup, atau East Java Shopping and Culture Carnival seperti di Royal Plaza kemarin.

Berbeda dengan membuat lukisan biasa yang dilakukan di studio atau tempat-tempat yang membutuhkan ketenangan, melukis sembur ini saya kemas sebagai sebuah pertunjukan. Karena itu, saya lakukan di depan banyak orang agar bisa diapresiasi sekaligus jadi alternatif hiburan untuk masyarakat.

Gambar yang muncul di kanvas itu sudah dibayangkan sejak awal?


Tidak. Biasanya, saya hanya punya tema tertentu, misalnya lingkungan hidup. Saya main sembur saja, dan hasilnya baru akan kelihatan setelah lukisannya jadi.

Berapa banyak lukisan sembur yang sudah Anda buat?


Wah, sudah banyak sekali. Sejak muncul ke publik tahun 2003 itu, saya selalu diajak untuk mengisi berbagai acara baik di Surabaya, Sidoarjo, dan beberapa kota lain.

Apa ada kolektor yang membeli lukisan-lukisan sembur itu?


Nah, ini yang belum ada. Karena orang masih banyak orang beranggapan bahwa lukisan yang saya buat dengan semburan itu bukan karya seni. Ini menjadi tantangan bagi saya agar karya-karya spiritual painting ini pun bisa diterima masyarakat. Makanya, untuk kehidupan sehari-hari, saya membuat lukisan yang konvensional. (Lambertus Hurek)

Sumber: Radar Surabaya edisi Minggu, 20 November 2011

25 November 2011

Swandayani sang Penata Tari




Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Pepatah lama ini rupanya berlaku untuk dua putri Tedja Suminar, pelukis senior asal Surabaya. Natalini menekuni seni rupa, sedangkan Swandayani dikenal sebagai penari sekaligus koreografer tari.

SEJAK dua pekan lalu, Swandayani banyak menghabiskan waktunya di Sanggar Merah Merdeka di Bendul Merisi Permai B-23 Surabaya. Di rumah singgah sekaligus sanggar seni anak jalanan yang didirikan romo-romo Kongregasi Misi itu putri kedua Tedja Suminar ini aktif berdiskusi, bergaul, serta mendengarkan isi hati anak-anak jalanan.

Namanya juga anak-anak yang terbiasa dengan kerasnya kehidupan di jalanan untuk sekadar mencari sesuap nasi, karakter mereka pun macam-macam. Namun, Swandayani mengaku terkesan dengan mereka. Anak-anak dari berbagai daerah, dengan berbagai latar belakang keluarga itu, sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga besarnya.

"Jujur, saya justru mendapat banyak inspirasi dari mereka. Apa yang mereka ceritakan, pengalaman-pengalaman mereka, makin memacu saya untuk membuat karya seni," tuturnya seraya tersenyum lebar.

Nah, dalam rangka merayakan ulang tahun ke-12 Sanggar Merah Merdeka, Swandayani bersama beberapa pengurus mempersiapkan sebuah pertunjukan tari dan operet di halaman sanggar, Minggu (27/11/2011). Lagi-lagi, operet yang dibuat secara spontan ini pun terinspirasi dari pengalaman anak-anak penghuni rumah singgah.

Awalnya, Swandayani mengaku menyiapkan tarian khusus yang akan dibawakan anak-anak usia sekolah itu. Tapi, setelah berdiskusi dengan beberapa pengurus, dia mengembangkannya menjadi sebuah operet sederhana. Dengan begitu, keseharian sekitar 80 anak Merah Merdeka bisa lebih dieksplorasi.

"Syukurlah, anak-anak ini bisa menangkap arahan kami dengan sangat cepat. Sebab, ceritanya memang tidak jauh-jauh dengan dunia mereka sehari-hari."

Keterlibatan Swandayani di sanggar yang dipimpin Romo Rudy Hermawan CM ini mulai terlihat sejak persiapan Hari Anak Nasional lalu. Begitu melihat potensi anak-anak, Swandayani mulai mencoba mengajak mereka berlatih tari bersama. Dari sekadar coba-coba, hasil olah gerak anak-anak ini kemudian dipentaskan di panggung gembira.

"Saya puas melihat anak-anak itu bisa menari dengan bagus di atas panggung," katanya. (*)

23 November 2011

Pauline Poegoeh Resital Vokal Ke-3



Sekitar 300 penggemar musik klasik, Rabu (16/11/2011) malam, menikmati suara emas Fu Huaxia alias Pauline Poegoeh di ballroom Hotel Shangri-La Surabaya. Tampil selama hampir dua jam, stamina dan kualitas vokal Fu tetap terjaga.

Tepat pukul 19.00 resital vokal bertajuk Amazing Songs ini dumulai. Meski kursi penonton belum terisi semua, Solomon Tong, dirigen Surabaya Symphony Orchestra (SSO), bersama Fu Huaxia naik ke atas panggung. Mengenakan busana atasa berwarna pink dan rok hitam, Fu Huaxia terlihat anggun.

"Saya ingin resital malam ini kita mulai tepat waktu. Sekaligus belajar disiplin untuk masyarakat Surabaya, yang biasanya suka molor kalau bikin acara," ujar Solomon Tong dalam kata pengantarnya. Dan, resital vokal yang diiringi SSO ini pun dimulai.

Dibuka dengan I Will Extol Thee O Lord (karya M Costa), Fu Huaxia langsung memperlihatkan kualitas suaranya yang lantang, powerful, dan bisa leluasa membawakan nada-nada tinggi. Lagu dengan aneka macam gaya dan irama dibawakan gadis 27 tahun yang juga dikenal dengan nama Pauline Poegoeh itu. Total, Nona Fu membawakan 15 lagu, termasuk satu encore.

Ada lagu seriosa Indonesia, Cintaku Jauh di Pulau (FX Sutopo), tiga lagu Tiongkok (Ran Hong, Chun Thian Lai Le, Nia Ciu Se Wo), empat petikan opera WA Mozart, hingga petikan opera Giuseppe Verdi. Solomon Tong berkali-kali memuji anak asuhnya ini sebagai seorang soprano yang komplet.

"Fu Huaxia ini sudah 35 kali tampil dalam konser-konser SSO. Jadi, dia memang sudah berpengalaman di dunia seni suara klasik," ujar Tong.

Yang menarik, Fu Huaxia membawakan ke-15 lagu itu tanpa teks atau alat bantu apa pun. Semua dihafal di luar kepala. Padahal, lirik lagu-lagu klasik ini umumnya panjang-panjang. Selain satu lagu berbahasa Indonesia, Cintaku Jauh di Pulau, lagu-lagu lain bersyair bahasa Inggris, Italia, Jerman, dan Mandarin.

Bagaimana cara mempersiapkan konser vokal klasik yang sangat langka di Surabaya ini?

Fu Huaxia mengaku biasa-biasa saja. "Persiapan saya sih sekitar tiga bulan. Saya lakukan di sela-sela kesibukan saya yang lain separti mengajar," kata Fu Huaxia yang juga guru vokal itu. (rek)

Pendidikan Penerbangan Juanda



Selain Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Penerbangan, tak jauh dari kawasan Bandara Juanda terdapat Pendidikan Penerbangan Juanda (PPJ). Lembaga pendidikan ini menyiapkan para mahasiswanya menjadi teknisi pesawat terbang.

Didirikan pada 2007, saat ini PPJ memiliki sekitar 50 mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di tanah air. Kampus PPJ berada satu kompleks dengan SMK Penerbangan di Jalan Abdul Rahman Saleh 49 Sedati, Sidoarjo.

"Perkuliahan di PPJ ini sudah berlangsung sejak 2008, tapi memang belum begitu dikenal luas oleh masyarakat," ujar Maulana Sani, kepala seksi bimbingan taruna PPJ.

Seiring dengan pertumbuhan industri penerbangan yang kian pesat di tanah air, menurut Maulana, Indonesia membutuhkan banyak tenaga profesional untuk menangani mesin pesawat terbang. Kehadiran mereka sangat diperlukan mengingat moda angkutan udara sangat menekankan keselamatan (safety first). Sayang, sampai sekarang kita masih kekurangan teknisi-teknisi pesawat.

"Dari seribu tenaga profesional yang dibutuhkan industri penerbangan, saat ini masih hanya sekitar 400 orang yang tersedia. Jadi, sebenarnya para alumni PPJ punya prospek yang cerah," kata Maulana seraya tersenyum.

Mantan karyawan sebuah maskapai penerbangan ini menjelaskan, masa pendidikan di PPJ hanya berlangsung selama 20 bulan alias kurang dari dua tahun. Para mahasiswa mendapat berbagai teori tentang pesawat terbang, aerodinamika, konstruksi pesawat, listrik pesawat, mesin turbin, hingga manajemen perawatan. Total, seorang mahasiswa harus menyelesaikan 90 satuan kredit semester (SKS).

Selain teori, menurut Maulana, para mahasiswa wajib mengikuti praktik hingga 30 persen. Praktik kerja lapangan ini antara lain dilakukan di sekolah penerbangan terkemuka di Curug, Jawa Barat. Maulana optimistis para lulusan PPJ akan mudah terserap ke industri penerbangan di tanah air.

"Sebab, lembaga pendidikan seperti ini memang masih sangat langka di Indonesia. Keberadaannya masih terkonsentrasi di Pulau Jawa," katanya.

Berbeda dengan mahasiswa di kampus-kampus biasa, penampilan para mahasiswa PPJ tak ubahnya taruna akademi militer. Rambut cepak, bodi atletis, hingga cara berjalan dan berbicara pun sangat khas. Bahkan, para mahasiswa PPJ juga disebut taruna.

"Sistem pendidikan yang semimiliter itu sangat penting untuk melatih kedisiplinan. Sebab, mereka dipersiapkan untuk menangani pesawat terbang yang menempatkan keselamatan di atas segala-galanya. Bisa dibayangkan apa jadinya kalau teknisi-teknisi pesawat terbang tidak disiplin," tegas Maulana. (*)

18 November 2011

Alim Markus Punya Gelar Doktor HC


Sejak awal gelar doktor kehormatan (honoris causa) yang diberikan Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Surabaya untuk pengusaha Alim Markus memang dipersoalkan kalangan internal Untag sendiri. Beberapa alumni menganggap bos Grup Maspion ini tidak pantas dapat gelar doktor HC karena tidak tamat SMP. Padahal, ada syarat pendidikan formal minimal bagi seorang calon penerima doktor HC.

Di sisi lain, pihak rektorat Untag menganggap Alim Markus sangat pantas dapat gelar kehormatan itu. Siapa sih yang tidak tahu kehebatan Pak Markus di dunia usaha? Maspion punya sekitar 50 ribu karyawan yang tersebar di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan kota-kota lain. Pengusaha yang bekerja keras dari bawah ini sukses menghidupi begitu banyak orang.

Dan masih banyak pertimbangan lain mengapa manajemen Untag memutuskan untuk memberikan doktor honoris causa untuk Alim Markus. Tampaknya Alim Markus sendiri pun 'senang' dengan gelar itu. Meski dikelilingi banyak lawyer hebat, punya jaringan kuat dengan ahli-ahli hukum di Surabaya, Jakarta, dan kota-kota lain, rupanya Alim Markus tidak berpikir akan digugat justru oleh orang-orang Untag sendiri.

Alim Markus pun rupanya tak tahu bahwa di manajemen Untag Surabaya sejak lama terjadi konflik internal. Manuver-manuver sering dilakukan para elite Untag untuk menggapai kepentingannya. Maka, pemberian gelar untuk Alim Markus menjadi pintu masuk untuk menggoyang manajemen Untag.

Yang digugat memang Rektor Untag Surabaya, tapi yang kena getah adalah Alim Markus. Bos Maspion, yang sering muncul di televisi sebagai bintang iklan produk-produk Maspion itu, pun masuk koran dengan berita yang tidak enak. "Gelar doktor honoris causa Alim Markus dibatalkan oleh PTUN Surabaya," begitu antara lain berita Jawa Pos halaman depan, Jumat (18/11/2011).

Sudah lama saya heran dengan pengusaha-pengusaha besar di Indonesia, tak hanya Alim Markus, yang tertarik dengan gelar-gelar akademik instan. Untuk apa?

Bukankah tanpa gelar pun mereka sudah sangat berprestasi di dunia usaha?

Bukankah mereka jauh lebih makmur, kaya-raya, punya segalanya ketimbang doktor-doktor dan profesor-profesor lulusan luar negeri sekalipun? Baru-baru ini koran terbitan Jakarta membahas kehidupan peneliti Indonesia, yang gelarnya profesor doktor, yang sangat memprihatinkan. Jangankan membeli mobil-mobil atau rumah mewah, sekadar untuk hidup saja sulit mengandalkan gaji peneliti yang tidak seberapa.

Mungkin pengusaha-pengusaha, yang mau-maunya dikasih gelar itu (kemungkinan besar tidak gratis), melihat DOKTOR HONORIS CAUSA sebagai gelar yang sangat penting. Semacam alat untuk aktualisasi diri. Sebaliknya, kampus-kampus macam Untag Surabaya melihat Alim Markus sebagai pengusaha yang bisa dijadikan aset untuk memajukan universitas.

Sebab, setelah diberi gelar doktor HC, Alim Markus menyatakan keinginannya untuk membangun Alim Markus Entrepreneur Center di kampus Untag Surabaya.

Pak Krisnadi Bahas Pulau Buru



Kamis (17/11/2011), saya mampir ke sebuah toko buku bekas di kawasan Baliwerti, Surabaya. Begitu banyak buku-buku bagus yang gak laku, kemudian diobral habis-habisan, di situ. Diskon bisa sampai 60-70 persen.

"Kalau gak obral, gak akan ada yang beli. Kalau dikilokan, kasihan, gak ada harga sama sekali. Maklum, kami kalah saingan sama toko-toko buku baru dan bermodal kuat," kata seorang ibu 50-an tahun, pengurus toko buku.

Toko buku ini terletak di samping konter kaus sepak bola dan alat-alat musik itu. Hanya 200-an meter dari Jalan Tunjungan, pusat bisnis utama di Kota Surabaya. Para pemburu buku-buku bekas ini umumnya mahasiswa dan orang-orang berkantong tipis macam saya.

Saya tertegun menyaksikan sebuah buku bersampul gelap berjudul TAHANAN POLITIK PULAU BURU (1969-1979). Terbitan LP3ES Jakarta, tahun 2000. Buku yang terbilang lama, tapi saya belum pernah baca. Nama pengarangnya: I.G. Krisnadi.

I.G. Krisnadi? Kayaknya saya pernah kenal nama ini di Jember. Saya pun lekas membaca biodata pengarang di sampul belakang. Oh Tuhan, ternyata Pak Krisnadi, dosen Fakultas Sastra Universitas Jember. Di fotonya, Pak Krisnadi berkumis dengan pandangan mata menerawang.

Gak nyangka kalau Pak Krisnadi berhasil menulis buku sejarah tahanan politik di Pulau Buru dengan dukungan literatur yang sangat kaya. Begitu banyak bahan yang membuat pembaca bisa mengetahui pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan rezim Orde Baru dengan membuang begitu banyak intelektual, wartawan, budayawan, sastrawan, komponis macam Subronto Kusumo Atmadjo, pelukis, novelis Pramoedya Ananta Tour... ke Pulau Buru.

Bagaimana para tapol ini dipaksa kerja roda membuka jalan raya, bikin sawah, mencari ikan, hingga pekerjaan-pekerjaan khas petani, nelayan, atau tukang. Kutipan tulisan Pramoedya memperkaya buku karya Pak Krisnadi ini.

Saya mengenal Pak Krisnadi di Jember bukan sebagai seorang penulis buku sejarah atau intelektual di Fakultas Sastra Unej. Saya hanya tahu pria kelahiran Klaten, 28 Februari 1962, ini hanyalah dosen biasa di Unej. Yang saya tahu, Pak Krisnadi bersama istri (Mbak Dwi) dan anak-anaknya rajin ikut doa lingkungan dan pendalaman iman di Wilayah I Paroki Santu Yusuf Jember.

Mahasiswa-mahasiswi dan dosen Unej, yang beragama Katolik, memang sejak dulu aktif dalam kegiatan gerejawi. Latihan kor atau paduan suara sehderhana, bikin acara natalan, pendalaman iman, hingga sembahyang untuk merayakan ulang tahun kelahiran atau pernikahan seseorang. Guyub banget!

Dan Pak Krisnadi, juga Pak Sudjarwadi, yang profesor, kemudian Pak Yoseph Suparjana yang dosen senior, aktif di dalamnya. Hubungan di antara kami, jemaat lingkungan, begitu guyub layaknya sebuah keluarga besar. Saya yang mahasiswa, yang bacaanku masih sangat sedikit, bisa bicara panjang lebar dengan Pak Prof Sudjarwadi atau Pak Krisnadi tentang berbagai isu.

Wah, masa-masa muda yang sulit dilupakan!

Oh, ternyata Pak Krisnadi, yang dulu saya anggap biasa-biasa saja di Wilayah I Paroki Jember itu, ternyata cendekiawan yang luar biasa. Mampu menghasilkan sebuah buku bermutu yang layak dibaca siapa saja yang ingin tahu sejarah tahanan politik di Pulau Buru di masa Orde Baru itu.

Saya sangat yakin Pak Krisnadi akan sukses di dunia akademik yang tengah digelutinya di Fakultas Sastra Universitas Jember. Mudah-mudahan segera jadi doktor dan profesor, Pak!

Saya juga terkesan dengan informasi di buku ini bahwa Pak Krisnadi sedang menekuni studi tentang kebudayaan Jawa. Saya dukung 100 persen. Rahayu! Berkah Dalem!

16 November 2011

Sanggar Clarissa Gedangan



Oleh Lambertus Hurek

Setelah tiga tahun absen, karena harus mengurus anaknya yang masih balita, Afrisia Syarah Devi kembali menghidupkan Sanggar Clarissa. Sanggar yang bermarkas di Gedangan ini tetap fokus di dunia tari dan modeling.

Pendapa Kecamatan Gedangan setiap akhir pekan, Sabtu dan Minggu, kini lebih meriah dari biasanya. Sekitar 20 anak dan remaja terlihat antusias berlatih aneka jenis tarian. Kadang diselingi dengan latihan lenggang-lenggok layaknya model profesional.

"Saya menghidupkan kembali Sanggar Clarissa karena permintaan dari anak-anak dan orangtua mereka. Katanya, sudah kangen berlatih lagi bersama saya," tutur Devi, sapaan akrab Afrisia Syarah Devi, kepada saya di sela latihan, pekan lalu (13/11/2011).

Devi, yang berdarah Aceh ini, sebetulnya tak asing lagi di kalangan pembina seni tari di Kabupaten Sidoarjo. Sempat menjadi anggota Sanggar Delta Tivikrama, Devi kemudian berguru 'ilmu menari' di Padepokan Bagong Kusudiardjo (almarhum) di Jogjakarta.

Setelah merasa cukup mampu, Devi kemudian merintis sanggar tari di kawasan Gedangan. Misinya sederhana saja: ingin memberikan kesibukan yang positif kepada anak-anak dan remaja di kawasan Gedangan dan sekitarnya. Apalagi, di tahu kalau banyak remaja kita yang punya bakat menari.

"Tapi, karena tidak punya modal, ya, saya minta izin menggunakan pendapa kecamatan untuk latihan. Alhamdulillah, ternyata anak-anak antusias mengikuti latihan-latihan yang saya adakan," kenang Devi.

Dimulai dengan beberapa gelintir siswa, Sanggar Clarissa tumbuh dengan cepat. Devi mengaku sempat kewalahan karena siswanya pernah menembus angka 80 orang. Jumlah yang tidak sedikit untuk ukuran sanggar berusia muda.

"Saya memang sengaja membidik anak-anak dari keluarga kelas menengah ke bawah. Makanya, latihan di pendapa sehingga biayanya bisa sangat murah. Beda kalau saya buka sanggar di ruko atau perumahan," kata ibu lima anak ini seraya tersenyum.

Sayang, perjalanan Sanggar Clarissa sempat terhenti gara-gara Devi harus mengurus anaknya yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Awalnya, dia ingin sanggar tetap jalan meski dibimbing oleh instruktur-instruktur lain.

"Tapi rupanya anak-anak itu maunya saya yang terjun langsung. Tentu saja sangat sulit karena anak saya kan masih kecil banget," kata wanita yang pernah terpilih menjadi Pemuda Pelopor tingkat Jawa Timur ini.

Sebagai orang yang bertahun-tahun bergelut dengan dunia tari, Devi sendiri pun mengaku kangen dengan dunia yang asyik ini. Maka, ketika sang buah hati sudah mulai agak besar, dia kembali menghidupkan sanggarnya. Mantan anak-anak asuhnya di Clarissa, yang sempat vakum latihan, pun berdatangan.

"Sekarang kami lagi persiapan untuk mengisi sebuah acara di luar kota," katanya. Meski siswa-siswanya tak sebanyak tiga tahun silam, Devi optimistis sanggarnya akan kembali dijubeli anak-anak dan remaja di Gedangan dan sekitarnya.

Saat ini dia tengah mengembangkan aneka jenis tarian yang dipetik langsung dari kampung halamannya di Aceh. Tarian dari provinsi paling timur ini sangat rancak, dinamis, dan sedang diminati berbagai kalangan. Devi bahkan ingin agar Sidoarjo, khususnya Gedangan, menjadi pusat pembinaan tarian Aceh di Jawa Timur. (*)

13 November 2011

Peter Rohi Bikin Ulah Lagi



Siapa orang NTT yang paling terkenal di Surabaya? Sudah pasti Peter A. Rohi. Aktivis, wartawan, pencinta sejarah, dan pengagum Bung Karno itu selalu bikin 'heboh' pada peringatan Hari Pahlawan, Hari Pancasila, dan momentum-momentum sejarah lainnya.

Menjelang Hari Pahlawan ini, Peter Rohi bersama beberapa temannya di Sukarno Institute mengajak Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk memasang prasasti di kantor pos besar Kebonrojo. Prasasti yang ditandatangani Bu Wali Kota itu bertuliskan:

"Di Sini Tempat Bersekolah Dr Ir Soekarno, Penggali Pancasila, Proklamator, Presiden Pertama RI."

Tak ada yang baru dengan informasi itu. Bung Karno memang dulu bersekolah di HBS (Hogere Burger School) Surabaya. Gedung HBS itu sekarang jadi kantor pos besar. Namun, yang jadi menarik, kemudian diliput puluhan wartawan koran dan televisi adalah gerakan Peter Rohi dan kawan-kawan yang berinisiatif membuat prasasti, kemudian minta tanda tangan wali kota, kemudian dipasang menjelang Hari Pahlawan.

Surabaya itu kota pahlawan. Karena itu, menurut Peter Rohi, tempat-tempat yang ada kaitan erat dengan para pahlawan atau pelaku sejarah harus dikenal warga. Jangan sampai generasi mendatang kehilangan jejak-jejak sejarah.

Semangat itu pula yang dilakukan Peter Rohi dkk saat 'menemukan' rumah masa kecil Bung Karno di kawasan Pandean. Ini untuk membuktikan bahwa Bung Karno itu memang lahir di Kota Surabaya, bukan Blitar seperti yang ditulis sejumlah buku. Gebrakan kecil Peter Rohi akhirnya sukses menarik perhatian masyarakat Surabaya, dan Jawa Timur umumnya.

"Syukurlah, apa yang kami lakukan ini sudah mulai diakui oleh negara. Bu Risma, wali kota Surabaya, sangat antusias mendukung setiap langkah kami," kata Peter Rohi yang berasal dari Pulau Sabu di selatan Kupang, NTT, itu.

Lantas, mengapa hanya aktif mengangkat situs-situs yang ada kaitan dengan Bung Karno?

"Karena saya kan direktur Sukarno Institute. Hehehe. Tentu saja, kami fokus bergerak untuk mengangkat tempat-tempat yang ada kaitannya dengan Bung Karno," ujar Peter Rohi.

Saya pun mengirim SMS kepada Pak Peter Rohi: "Wah, hebat sekali Angalai ini. Orang Sabu, tapi bisa bikin geger Surabaya. Sukarno Institute makin ngetop saja!"

"Itu karena orang Sabu suka minum tuak... berpikir dan bertindak lebih cepat. Soekarno Institute ini sudah diundang dalam konferensi-konferensi dunia," jawab Peter Rohi.

Saya kirim SMS lagi: "Tuak Lembata bikin mabuk, tuak Sabu bikin pintar. Hehehe."

Peter Rohi: "Soalnya orang Lembata kalau minum tuak overdosis na."

Hehehe.....

Peter Rohi sejak dulu memang sangat bangga dengan kampung halamannya di Pulau Sabu. Pulau di bagian selatan yang masyarakatnya mengandalkan hidup dari tanaman lontar alias siwalan. Nira tanaman ini dijadikan gula, tuak, dikonsumsi sehari-hari.

"Orang Sabu itu tidak perlu makan nasi. Cukup dikasih minum tuak (manis) saja sudah kenyang," kata Pak Peter.

Laptop dan Produktivitas Wartawan



Di zaman laptop ini seharusnya orang lebih produktif menulis. Menulis apa saja entah itu di media massa, blog, atau media apa saja. Dengan komputer jinjing nan mungil itu, orang bisa menulis di mana saja.

Tapi, anehnya, teman-teman penyunting belakangan ini sering mengeluh kekurangan tulisan. Setoran naskah seret. "Sudah punya laptop kok gak menulis? Laptopmu diapakan saja?" ujar seorang teman penyunting kepada anak buahnya.

Keluhan macam ini, saya kira, makin biasa akhir-akhir ini. Laptop makin massal, murah, jadi 'mainan' orang ramai, tapi produktivitas menulis menurun. Blog-blog yang pada tahun 2004, 2005, 2006... sangat ramai, selalu diisi dengan tulisan-tulisan baru dan segar kini makin sepi.

Saya tengok blog seorang wartawan senior, yang dulu aktif mendorong wartawan-wartawan muda, agar punya blog. Ah, isinya tidak ada yang baru. Belum karuan ada satu dua tulisan per bulan. Padahal, ketika abang ini belum punya laptop, masih mengetik di warnet atau kantor, produktivitasnya luar biasa.

Lalu, ke mana saja si abang? "Saya lagi sibuk," kata blogger senior.

Sibuk? Bisa saja. Tapi silakan tengok akun Facebook atau Twitter-nya. Ramainya bukan main. Ada masalah sedikit dikomentari dan dikomentari terus sampai bosan.

Yah, laptop memang tetap dipakai, cuma bukan untuk menulis artikel, berita, fiksi, dan sebagainya, tapi buat kepentingan pergaulan di jejaring sosial. Syukurlah, masih ada orang yang bisa memanfaatkan laptop sebagai alat bantu untuk menulis di mana saja dan kapan saja.

Contoh paling bagus Dahlan Iskan. Mantan wartawan yang sekarang menjadi menteri BUMN ini semakin produktif menulis justru setelah ganti hati dan sibuk mengurus PLN dari Sabang sampai Merauke. Selain produktif, kualitas tulisan-tulisan Dahlan Iskan tetap stabil dan enak dinikmati. Pak Dahlan memanfaatkan laptop untuk menulis di ruang tunggu bandara, di lobi hotel, kafe, dan sebagainya.

Saya kira kita perlu belajar banyak dari Pak Dahlan Iskan mengenai pentingnya menjaga produktivitas dan kualitas menulis.

10 November 2011

Hujan Langsung Banjir



Akhirnya, hujan turun juga di Surabaya dan sekitarnya. Setelah tiga bulan terakhir panas ektrem, kita dibakar panas 37-40 derajat Celcius, dalam beberapa hari terakhir kita bisa menikmati air dari langit.

Tadinya saya pikir hujan baru datang akhir Desember atau Januari. Eh, ternyata muncul lebih cepat. Sudah selayaknya kita berterima kasih kepada Tuhan. Surabaya masih dianugerahi hujan, sehingga panas ekstrem perlahan-lahan hilang.

Saya perhatikan saat ini suhu di Surabaya siang berkisar 33-35 Celcius, sementara malam hari 30-an celcius. Ini suhu yang 'normal' untuk Surabaya. Maka, keluhan-keluhan warga tentang panas yang terlalu ekstrem, ditambah kelembaban yang parah, sudah tidak terdengar.

Repornya, hujan yang tak seberapa deras itu ternyata sudah menimbulkan genangan air di beberapa titik. Orang Surabaya bilang 'banjir'. waktu melintas di depan RSI Wonokromo, Selasa (8/11/2011) malam, genangan air kira-kira 30 sentimeter. Arus lalu lintas pun macet.

Kawasan Ngagel yang biasanya tidak ada genangan air, malam itu banjir juga. Tapi saya tetap senang melintas di jalan dalam suasana hujan ketimbang panas terik 41 Celcius. Ibarat anak-anak, kita bisa 'main-main' hujan di sepanjang jalan di Kota Surabaya.

Mudah-mudahan Pemerintah Kota Surabaya, yang dipimpin Bu Risma, bisa mengatasi masalah banjir tahunan ini.