29 April 2011

Konser Paskah SSO 2011



Surabaya Symphony Orhestra (SSO) kembali memuaskan sekitar 800 penikmat musik klasik di ballroom Hotel Shangri-La Surabaya, Selasa (26/4/2011) malam. Sesuai dengan temanya, konser Paskah, kali ini SSO lebih banyak menghadirkan oratorio bernuansa Paskah, khususnya karya GF Handel.

Meskipun bukan oratorio utuh, petikan The Messiah itu cukup mampu menjawab kerinduan masyarakat untuk menikmati secara langsung karya legendaris itu. Selama ini masyarakat hanya bisa menikmati oratorio-oratorio lewat rekaman kaset atau CD/VCD.

“Syukurlah, di Surabaya ini ada SSO yang mau memainkan nomor-nomor Handel dan Mozart,” ujar Benny, salah satu penonton setia SSO.

Diawali ‘konser pemanasan’ dari para siswa Sekolah Musik SSO, Solomon Tong kemudian mengambil alih tongkat dirigen. Dua solis, Pauline Poegoeh (soprano) dan Robert Soewanto (tenor), bersama Surabaya Oratorio Society membawakan All We Sheep, petikan The Messiah. Karya-karya Handel memang selalu terasa melodius, didominasi orkes gesek yang khas, dengan kor yang kuat.

Keindahan serupa juga dirasakan ketika Dewi Endrawati (mesosoprano) membawakan He Shall Fedd His Flocks. Sayang, puncak oratorio The Messiah, yakni Hallelujah, malam itu tidak ditampilkan SSO. Sebab, orkes simfoni satu-satunya di Surabaya ini juga harus membawakan petikan oratorio dari WA Mozart dan Joseph Haydn.

Solomon Tong terlihat sangat bersemangat ketika mendirigen komposisi karya Haydn bertajuk So Lohnet Die Natur Den Fleiss. Kor bersama solis Pauline Poegoeh, Tertiusanto, dan Samuel Tong pun tampil dengan power vokal yang optimal. Petikan oratorio Die Jahreszeiten ini memang salah satu favorit Solomon Tong.

Duet kakak-beradik Grace Rozella Soetedja (violin) dan Sibyl Rozella Soetedja (piano) juga mengundang aplaus meriah hadirin, termasuk perwakilan asing di Surabaya. Pilihan kedua gadis ini memainkan komposisi karya Buzzini memang pas. Bertajuk La Ronde Des Lutins Opus 25 (Scherzo Fantastique), komposisi ini dimainkan dengan tempo cepat dan rancak.

Permainan violin Grace, salah satu pemegang Museum Rekor Indonesia, bisa diimbangi Sibyl dengan lincah. Keduanya pun bisa saling mengisi sejak awal hingga akhir komposisi. Karya Buzzini yang dipilih untuk Grace dan Sibyl itu memang sangat menantang. Syukurlah, keduanya tampil dengan sangat kompak.

Sayang sekali, Mathias Boegner (violin) asal Jerman yang dijadwalkan sebagai bintang tamu malam itu urung tampil. Karena itu, pianis Teguh Sukarya tampil sendirian dalam piano solo.

“Mathias tiba-tiba mengalami kecelakaan ringan di tangan yang membuat dia tidak bisa tampil. Ini benar-benar di luar harapan kita semua,” kata Solomon Tong.




COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

Reuni PSM Unair



Anggota paduan suara mahasiswa, khususnya di kampus-kampus yang punya komunitas paduan suara bagus dan berprestasi, biasanya punya hubungan emosional yang sangat mendalam. Mereka tetap berusaha menjalin hubungan meskipun sudah terpisah dan sibuk kerja selama puluhan tahun.

Ini pulalah yang terlihat ketika alumni paduan suara Universitas Airlangga Surabaya mengadakan temu kangen di Surabaya, Sabtu (2/4/2011). Sebelumnya, para alumni angkatan 1973-1986 ini berlatih di Graha Family, perumahan elite di kawasan Surabaya barat.

Dokter ABRAHAM ARI MUKO menuturkan, temu kangen PSM Unair ini sekaligus untuk menghormati Dr. SUPARDI KARTOHARDJO, pelatih paduan suara kawakan Unair. Aktivis PSM yang lama biasanya tak asing lagi dengan sosok Supardi ini. Berkat tangan dinginnya, PSM Unair sukses sebagai paduan suara berprestasi di Jawa Timur, bahkan Indonesia.

Tradisi paduan suara mahasiswa itu kemudian ditularkan kepada kampus-kampus lain di Jawa Timur. Mahasiswa-mahasiswa Unair saat ini pun berusaha melanjutkan tradisi paduan suara berkualitas yang dirintis Pak Pardi.

Seperti PSM-PSM di kampus lain, PSM Unair menghimpun semua mahasiswa dari berbagai fakultas: Kedokteran, Hukum, Ekonomi, FISIP, Psikologi, dan sebagainya. Saking dalamnya kecintaan pada paduan suara, ada alumni yang khusus datang dari Berlin, Jerman, namanya Taufan, datang bergabung dengan teman-temannya. Mereka berlatih mendadak sambil bernostalgia.

Tampil di ballroom Hotel Mercure Surabaya, 2 April 2011, para pemuda-pemudi Unair tempo doeloe itu membawakan lagu-lagu tradisional serta lagu-lagu nasional. Tak ketinggalan, lagu anak-anak NAIK DELMAN yang diaransemen khusus untuk paduan suara campuran (sopran, alto, tenor, bas).

Kini, setelah konser nostalgia berlalu, para alumni kor Unair ini tetap menjalin komunikasi lewat jejaring sosial seperti Facebook dan Blackberry Messengger. Mengenang masa lalu yang indah ketika aktif di grup paduan suara terkemuka di tanah air.



COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

Iva Gunawan Bos Dapur Desa



Di usia yang masih relatif muda, 24 tahun, Iva Gunawan sudah mampu mengelola empat rumah makan Dapur Desa sekaligus. Restoran yang berpusat di Jalan Basuki Rahmat 72 Surabaya ini menyajikan menu masakan Sunda dan Jawa Timur. Meski tergolong baru, restoran ini sudah menjadi jujugan masyarakat, pejabat, turis, hingga artis sinetron papan atas ibukota.

Dapur Desa berdiri pada 9 September 2006. Iva Gunawan mengaku mendapat inspirasi membuat restoran masakan Sunda setelah jalan-jalan bersama keluarganya ke Bandung. Ketika memburu kuliner di sana, Iva mengaku langsung cocok dengan masakan Sunda, khususnya aneka ikan bakar. Pulang ke Surabaya, Iva bertekad mendirikan Dapur Desa.

Mengapa disebut Dapur Desa?

Menurut Iva, orang kota umumnya rindu akan suasana tradisional desa yang tenang, natural, dan diselingi hiburan musik gamelan. Orang kota yang hidup dengan kebisingan dan keglamoran kota besar seperti Surabaya tentu ingin merasakan ketenangan sejenak di hati. Nuansa pedesaan itulah yang kami tawarkan di Dapur Desa,” katanya.

Tak mengherankan bila desain restoran dibuat dengan suasana khas pedesaan, lengkap dengan lampu remang-remang. Semua pramusaji baik laki-laki maupun perempuan memakai busana khas petani di desa. Lengkap dengan capil, sejenis topi dari anyaman bambu. Bahkan, begitu setiap tamu datang, gong di depan pintu akan ditabuh, dan semua pramusaji serempak mengucapkan Sugeng Rawuh, yang artinya selamat datang.

“Konsep pedesaan itu tidak muluk-muluk. Dan sajian masakan Sunda pasti mengena di lidah pengunjung,” ujar Iva sambil menunjukkan aneka hidangan di atas meja panjang agar pengunjung langsung memilih.

Masakan yang sebagian telah matang dan disajikan dengan konsep display. Sebab, Iva mengadopsi suasana warung kecil yang menyajikan masakan di dalam lemari kaca. Dengan begitu, pembeli dengan mudah melihat dan memilih makanan yang hendak dipesan.

Beberapa menu andalan seperti mi kluntung, ayam goreng kremes, ikan bakar bumbu kecap kakap, gurami, patin, bawal tumis-tumisan, lalapan, sambal dimasak Kosim Supriyana, koki asal Sunda. “Saya memang harus menjaga cita rasa masakan Sunda dengan mendatangkan pemasaknya langsung dari Jawa Barat,” terang Iva.

Hampir setiap pagi, sebelum restoran dibuka, Iva mencicipi semua masakan yang siap dijual. Aneka sambal pedas pun dia cicipi. Setelah itu, dia melakukan kontrol lokasi pada pukul 10.00. Semua karyawan diperiksa kerapian bajunya dan diberi kebebasan untuk memberi masukan dan pendapat. Setelah itu, mereka pun berdoa.

“Doa pagi sengaja kami lakukan agar semua yang bekerja selamat dan kami diberikan banyak kemurahan rezeki oleh Tuhan,” terangnya.

Iva mengaku lebih memilih manajemen kekeluargaan agar semua karyawan merasa betah, layaknya keluarga sendiri. Menurut dia, manajemen macam begini lebih mengena dan manusiawi. Semua uneg-uneg karyawan dia pertimbangkan. Maka, dia membuka kotak suara bagi karyawan untuk menjalin komunikasi dengan manajemen.

Setelah sukses di Basuki Rahmat, kini Dapur Desa memiliki tiga anak cabang di Tunjungan Plaza, Surabaya Plaza, dan Samarinda (Kalimantan Timur). Di Basuki Rahmat, ada fasilitas VIP room untuk 30 orang dan hall room untuk 180 orang.

Hampir setiap jam makan siang, Dapur Desa di Basuki Rahmat ramai dikunjungi orang karena letaknya memang bersebelahan dengan pusat perbelanjaan dan perkantoran. Selain itu, harga makanan di Dapur Desa relatif terjangkau, antara Rp 4.000 hingga Rp 90.000. “Jadi, pelajar atau mahasiswa pun bisa makan siang di DD,” katanya.

Kini, Dapur Desa tak hanya menyediakan masakan Sunda, tapi diperluas dengan menu Nusantara. Hampir setiap bulan, menu baru ditambahkan. Seperti menu kakap rendang bumbu rujak, kakap asam manis pedas, sate kakap. “Kami membuat menu yang tidak dimasak di restoran lain,” terang gadis manis ini.

Iva mengaku memperlakukan konsumen alias customer layaknya saudara. “Ketika bertemu dengan pelanggan di mana saja, mereka selalu menyapa dan kami pun akrab. Kayak keluarga sendiri,” terang Iva. (*)

Nama : Iva Gunawan
Lahir : Surabaya, 26 Juli 1986
Jabatan : GM Dapur Desa
Hobi : Traveling

Pendidikan :
SD Kristen Petra 7
SMP Kristen Petra 2
SMA Kristen Petra 3
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

23 April 2011

Indonesia Pusaka - SATB




Cukup lama saya tak mendengar lagu INDONESIA PUSAKA dibawakan oleh paduan suara yang bagus. Syukurlah, tadi malam, TVRI stasiun nasional, Jakarta, mau menayangkan rekaman konser Hari Kartini. Nomor-nomor klasik, termasuk lagu-lagu seriosa khas Indonesia, ditampilkan.

Ada Aning Katamsi, soprano ternama, hingga Catherina W. Leimena, penyanyi paling senior, yang juga pencetak begitu banyak vokalis hebat di Indonesia. Luar biasa! Di usianya yang sudah senja, Catherine masih bisa menyanyi dengan power yang dahysat. Tanpa mikrofon pun sebetulnya dia sanggup menaklukkan auditorium RRI di Jakarta.

Di ujung konser, Aning Katamsi dan kawan-kawan menyanyikan INDONESIA PUSAKA diiringi orkes gesek dan instrumen tradisional. Bukan paduan suara beneran memang, tapi pembawaan Aning dan kawan-kawan tak mengecewakan. Para penyanyi seriosa ini bisa menahan diri, tak saling menonjolkan suara. Maka, INDONESIA PUSAKA pun terdengar syahdu.

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja-puja bangsa


Wow! Melodi dan harmoni komposisi karya Ismail Marzuki ini memang indah. Pantas jika Jaya Suprana bikin konser khusus bertajuk INDONESIA PUSAKA di beberapa kota. Pantas juga bila almarhum Bung Hatta setiap pagi selalu bersenandung INDONESIA PUSAKA. Pantas bila INDONESIA PUSAKA menjadi lagu abadi.

Saya hanya bisa bertanya dalam hati. Apakah para TKI di Malaysia atau Timur Tengah, yang tak bisa hidup dari Indonesia yang alamnya kaya dan subur, masih mau menyanyi INDONESIA PUSAKA? Apakah para koruptor, anggota parlemen yang hobi melancong, foya-foya, habiskan uang rakyat... juga masih suka INDONESIA PUSAKA?


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

20 April 2011

Tionghoa di Film Tanda Tanya



Film Tanda Tanya (?) karya sutradara Hanung Bramantyo mendapat sambutan luas di Surabaya Raya. Berbagai kalangan setiap hari menikmati, sekaligus mengkritisi, film yang mengangkat realitas keberagaman dalam masyarakat Indonesia itu. Saya bersama beberapa mahasiswa dan aktivis secara khusus nonton bareng di Cito Surabaya, Selasa siang, 19 April 2011.

Selain mengundang kontroversi teologis, film Tanda tanya juga menggambarkan keberadaan masyarakat Tionghoa peranakan di Pulau Jawa. Ini terlihat dari sosok Tan Kat Sun, pemilik restoran Kanton. Tan Kat Sun bersama istri Lim Giok Lie dan anaknya sehari-hari bicara dalam bahasa gado-gado Jawa ngaka (bukan krama, meski tinggal di Jawa Tengah), bahasa Indonesia [lebih tepat: Melayu Tionghoa], serta beberapa ungkapan khas Tionghoa peranakan seperti kamsia (terima kasih).

Tan Kat Sun sekeluarga tak pernah berbicara dalam bahasa Tionghoa dialek Kanton, apalagi Putonghua alias bahasa Mandarin.

Jelas sekali kalau Tan Kat Sun itu peranakan Tionghoa yang banyak terdapat di Jawa. Dia bisa bergaul luwes dengan berbagai kalangan, karyawannya pun macam-macam. Restoran Kat Sun ini memang jualan babi, tapi dia berusaha agar tidak tercampur dengan makanan halal.

Hanung Bramantyo menampilkan Tan Kat Sun sebagai pengusaha restoran yang toleran. Dia selalu mengingatkan karyawan muslim untuk salat. Panci dan wajan yang dipakai memasak babi berbeda dengan yang bukan babi. Pengusaha tua keturunan Provinsi Guangdong, Tiongkok, ini juga membedakan sodet bertanda merah buat babi, dan yang tanpa tanda merah untuk bukan babi.

Bukan itu saja. Selama bulan Ramadan, Tan Kat Sun tidak menyediakan babi di restoran. Meski tetap buka, dipasang tirai putih untuk menghormati umat Islam yang sedang berpuasa. Bahkan, ketika Idul Fitri, restoran diliburkan selama lima hari agar pekerja-pekerja muslim bisa berhari raya dengan keluarga mereka.

Sikap Tan Kat Sun yang demikian memang menggambarkan fleksibilitas dan toleransi masyarakat keturunan Tionghoa yang mampu menyesuaikan diri dengan agama dan tradisi masyarakat setempat. Sayang sekali, Tan Ping Hen, putra Tan Kat Sun, yang hanya semata-mata berorientasi pada keuntungan merusak citra positif yang telah dijaga selama bertahun-tahun oleh ayahnya.

Libur Lebaran oleh Ping Hen alias Hendra dipotong tinggal satu hari. Juga muncul kebijakan-kebijakan lain yang memicu kemarahan Soleh dan preman pasar. Maka, restoran Kanton itu pun dirusak, Tan Kat Sun diserang oleh massa yang digerakkan oleh oknum yang tak bertanggung jawab. Kat Sun pun meninggal dunia.

Film tanda tanya itu dengan jelas menunjukkan bahwa kehidupan warga Tionghoa memang sangat rentan. Bolak-balik jadi sasaran amuk massa. Hanya karena persoalan sepele, salah paham, bahkan cemburu buta, restoran atau tempat usahanya dirusak. Mudah-mudahan saja ke depan tak ada lagi tindakan anarkistis semacam itu di Indonesia.

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

19 April 2011

Parlemen Tahi Kucing




Rakyat Indonesia mulai jenuh, lelah, dengan tingkah polah pejabat dan politisi negara ini. Reformasi dan demokratisasi yang berlangsung mulai 1998 naga-naganya mulai mencapai titik balik. Reformasi memang membuat orang bebas bicara, kritik siapa saja, unjuk rasa kapan saja, teriak-teriak di mana saja... tapi rakyat Indonesia [mayoritas] tinggal miskin.

Yang makmur hanya pejabat-pejabat, anggota parlemen, anggota partai... dan koruptor. Rakyat kebanyakan sih tetap saja miskin. Bagaimana buruh bisa hidup dengan upah yang rata-rata hanya Rp 1 juta sebulan [setara USD 100]? Ribuan manusia Indonesia, apa boleh buat, terpaksa berangkat ke Malaysia, jadi pekerja kasar. Legal maupun tak legal.

Meskipun setiap saat terancam dikejar-kejar polisi Melayu, jutaan orang Indonesia merasa bisa makan, minum, dan bisa membeli sejumlah barang untuk dikirim ke kampung halaman. Pejabat-pejabat di Jakarta, anggota parlemen di Senayan, sejak dulu tak punya exit strategy. Jalan keluar untuk membuat jutaan TKI, yang hampir semuanya pekerja-pekerja kasar ini, tak perlu lagi merantau di Malaysia, Timur Tengah, Taiwan, Hongkong, dan sebagainya.

Ketika awak kapal Indonesia, MV Sinar Kudus, disandera di Somalia pun anggota parlemen kita hanya tertawa-tawa. Makan enak di restoran, tinggal di hotel berbintang, petentang-petenteng dengan laptop atau smartphone mutakhir. Politisi Indonesia mandi uang, rakyat Indonesia mandi air mata!

Selama tiga bulan media massa ramai-ramai mengkritik rencana pembangunan gedung baru parlemen di Jakarta. Tiap hari ada saja elemen masyarakat yang berteriak-teriak, demonstrasi, menolak rencana itu. Toh, gedung sekarang masih bisa dipakai, termasuk untuk menonton video porno, berselancar di internet, menyaksikan gambar-gambar bugil. Hehehe... Tapi, apa boleh buat, biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu!

Parlemen tetap bikin gedung baru. Kritikan masyarakat dianggap angin lalu. Sia-sia! Setelah meloloskan gedung baru, anggota parlemen Indonesia berpesta ria dengan melancong ke luar negeri. “Studi banding,” katanya.

Silakan saja tuan-tuan parlemen jalan-jalan! Kita, rakyat biasa, sebaiknya tak perlu lagi mengecam anggota parlemen. Mereka bebas melakukan apa saja, kapan saja, di mana saja.... Up to you lah!

Mau studi banding? Silakan. Mau pelesir? Silakan. Mau belanja barang-barang mewah, pakai uang rakyat, silakan? Mau borong VCD/DVD porno? Suka-sukalah. Bahkan, sebaiknya anggaran untuk melancong, studi banding, foya-foya dinaikkan 10 kali lipat agar tuan-tuan parlemen bisa memenuhi semua nafsu syahwat kebinatangannya.

Sia-sialah kita bicara dengan petinggi-petinggi parlemen macam Marzuki Alie, Pius Lustrilanang, Nudirman Munir, Ruhut Sitompul....

Mereka memang berhak menikmati semua kemewahan itu, senyampang berkuasa. Mereka bebas, sebebas-bebasnya, menentukan gaji sendiri, uang melancong sendiri, ruang hiburan sendiri....

Jangankan bikin gedung baru Rp 1,2 triliun, parlemen RI sebaiknya kita bebaskan membuat gedung baru Rp 5 triliun, Rp 8 triliun, Rp 10 triliun.... Suka-sukalah! “Kami ini, anggota parlemen, orang-orang pintar. Rakyat itu tidak mengerti soal-soal seperti ini,” kata Marzuki Alie, ketua parlemen dari Partai Demokrat.

“Masa, anggota parlemen disuruh tinggal di gubuk rakyat yang reyot,” kata Nudirman Munir, anggota parlemen dari Golkar.

Marzuki Alie dan Nudirman Munir [dan anggota-anggota parlemen] lain memang benar. Mereka memang manusia-manusia PINTAR, bahkan SANGAT PINTAR, sehingga bebas melakukan apa saja. Bebas membuat kebijakan apa saja tanpa perlu mendengar kritik masyarakat dan media massa. Politisi Indonesia memang tidak perlu memperhatikan kehidupan ekonomi masyarakat, tapi kemakmuran perutnya sendiri.

Saya sepakat dengan editorial MEDIA INDONESIA yang dibahas di METRO TV oleh Elman Saragih dan Aviani Malik pagi tadi, 19 April 2011. Sudah saatnya kita, rakyat Indonesia, berhenti mengkritik atau mengecamMarzuki Alie cs.

Biarkan saja mereka bancakan uang rakyat. Biarkan parlemen bikin tiga empat lagi gedung baru yang mewah karena nafsu kemaruk manusia, khususnya politisi, tak punya batas. Biarkan saja mereka foya-foya, korupsi, studi banding ke ujung dunia sampai mabuk kepayang.


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

Bagus, Pianis Jazz yang Buta




CACAT MATA TERNYATA BUKAN HALANGAN BAGI BAGUS ADIMAS PRASETYO UNTUK MENEKUNI PROFESI SEBAGAI PIANIS JAZZ. MAHASISWA JURUSAN SENI DRAMA TARI DAN MUSIK, FAKULTAS BAHASA DAN SENI, UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA INI JUGA SELALU OPTIMISTIS DALAM MENJALANI HIDUP INI.

Oleh LAMBERTUS LUSI HUREK

Kepiawaian Bagus Adimas Prasetyo, 23 tahun, memainkan piano membuatnya harus pandai-pandai mengatur jadwal show dan kuliah. The invisible finger, begitu julukan Bagus, beberapa waktu lalu menerima penghargaan dari Jaya Suprana, direktur Museum Rekor Indonesia (Muri), sebagai pianis tunanetra termuda di Indonesia.

“Saya tahu mana pianis bagus dan mana pianis yang tidak bagus. Tapi, menurut saya, Bagus ini pianis yang benar-benar bagus. Saya harap dia akan jadi pianis tunanetra yang hebat, bukan hanya Indonesia, tapi di dunia,” puji Jaya Suprana.

Pekan lalu, didampingi Musafir Isfanhari, dosen musik Unesa, Bagus Adimas menghadiri acara Pertemuan Musik Surabaya (PMS) di kawasan Ngagel, Surabaya. Pemuda kelahiran 30 Desember 1987 itu pun disambut hangat peserta PMS yang sebagian besar juga pianis dan guru piano. Slamet Abdul Sjukur, pianis senior dan pendiri PMS, merangkul Bagus dengan erat.

“Mas Bagus ini membuktikan kepada kita bahwa siapa saja bisa main musik dengan baik. Kekurangan fisik pada setiap orang bukan hambatan untuk bermain musik,” kata Slamet.

Nah, selepas konser piano empat tangan untuk memperingati 54 tahun PMS, saya sempat berbincang dengan Bagus Adimas Prasetyo. Berikut petikannya:

APA SAJA KEGIATAN ANDA SAAT INI?

Masih tetap kayak dulu. Kuliah, main musik, menikmati konser seperti tadi. Yang jelas, masih tetap ada kaitannya dengan musik, baik itu musik jazz atau musik yang lain.

JADWAL MANGGUNGNYA MASIH PADAT?

Belakangan ini sudah berkurang. Atmosfer musik jazz di Kota Surabaya ini sudah tidak seperti beberapa tahun lalu setelah kafe-kafe yang menyediakan panggung untuk musik jazz tidak ada lagi. Dulu, ada Vista Sidewalk Cafe di Garden Palace yang tiap malam ada jazz. Sekarang nggak ada lagi. Yah, mau tidak mau, kesempatan manggung untuk saya dan teman-teman yang aktif di jazz makin terbatas.

KAN ADA KAFE PENGGANTI DI DEKAT PARKIRAN?

Konsepnya sudah berbeda dengan Vista. Musiknya lebih ke Top 40, bukan lagi jazz. Yah, kita sih berharap Surabaya ini selalu ada ruang untuk pergelaran musik jazz meskipun tidak banyak. Jangan sampai Surabaya yang dulu dikenal sebagai barometer musik jazz malah tenggelam. Ingat, kita di sini punya Om Bubi Chen yang merupakan legenda hidup jazz di Indonesia. Perjuangan dan konsistensi beliau untuk mengembangkan jazz harus kita lanjutkan.

LANTAS, GRUP ANDA (NADIRAT BAND) SEKARANG MAIN DI MANA?

Ya, tinggal tunggu panggilan. Begitu ada job, ya, kami bisa langsung main dan jadi. Main musik itu kan soal feeling dan kerja sama saja. Musik itu persoalan ekspresi atau pengungkapan perasaan kita. Jadi, tidak perlu banyak latihan pun, musiknya sudah jadi. Apalagi, jazz ini kan penuh dengan improvisasi dari masing-masing pemain.

ADA HAMBATAN UNTUK ORANG SEPERTI ANDA DALAM BERMAIN MUSIK?

Kalau hambatan sih pasti ada. Orang normal saja ada, apalagi aku. Kendala-kendala itu jangan membuat kita susah, tapi jalani saja. Kalau aku sih gitu.

BAGAIMANA ANDA MENGIKUTI KULIAH DI UNESA?

Saya belajar bersama dengan teman-teman mahasiswa yang normal. Syukurlah, saya mendapatkan bantuan ketika menerima materi mata kuliah. Begitu juga untuk tanda tangan absensi, ya, perlu bantuan orang lain. Terkadang ya, titip tanda tangan aja. Hehehe....

Saya itu pada dasarnya bisa mengikuti pelajaran atau kuliah seperti ilmu musik. Tapi, saya harus diajari dulu not-notnya, bunyinya seperti apa. Nah, dari situ akhirnya saya bisa menirukan. Alhamdulillah, ada asisten dosen yang peduli dan mau membantu saya belajar. Mudah-mudahan saya bisa menyelesaikan kuliah di Unesa.

APA OBSESI ANDA SAAT INI?

Saya ingin menjadi pianis yang diperhitungkan di dalam maupun luar negeri. Dan untuk itu saya perlu ikut ujian Royal Jazz di Singapura. Kalau sudah lulus dari situ, saya bisa main di negara mana saja. Tetapi ini memang tidak mudah dan butuh biaya besar. (*)


BIODATA SINGKAT

Nama : Bagus Adimas Prasetyo
Lahir : Surabaya, 30 Desember 1987
Profesi : Pianis, mahasiswa

Pendidikan :
SDLB Yayasan Pendidikan Anak Buta Tegalsari, Surabaya.
SMA GIKI 1 Dukuh Kupang
Universitas Negeri Surabaya, Jurusan Seni Drama Tari dan Musik
Orangtua : Bambang Hariyanto dan Sri Rejeki
Idola : Buby Chen (pianis), Syaharani (vokalis)

Penghargaan
Bubi Chen Award 2006
Museum Rekor Indonesia 2010



DIPUJI HABIS JAYA SUPRANA

KECINTAAN BAGUS BAGUS ADIMAS PRASETYO TERHADAP DUNIA MUSIK MULAI TERLIHAT SAAT MASIH DUDUK DI BANGKU KELAS EMPAT SEKOLAH DASAR LUAR BIASA (SDLB) YAYASAN PENDIDIKAN ANAK BUTA DI TEGALSARI, SURABAYA. BAKAT MUSIK BAGUS TERLIHAT JAUH LEBIH MENONJOL KETIMBANGAN TEMAN-TEMAN SEKELASNYA.

Karena itu, orangtuanya, Bambang Hariyanto dan Sri Rejeki, berusaha memberikan dukungan penuh agar Bagus bisa mendalami seni musik. Saat duduk enam SDLB, sang ayah membelikannya piano. “Saat berlatih piano itulah, ternyata saya makin suka. Dan, lambat laun, akhirnya saya makin suka musik yang ngejes," kata Bagus.

Melihat perkembangan minat dan bakat anaknya, Bambang Hariyanto makin bersemangat untuk meningkatkan skill musik si Bagus. Di bangku SMP, Bagus dipertemukan dengan Bubi Chen, pianis jazz legendaris asal Surabaya. Selama enam tahun Bagus berguru piano pada Bubi.

Sekitar tahun 2004, Bagus mulai terlibat di C-Two Six, komunitas jazz yang bermarkas di kawasan Medokan Ayu, Surabaya. Bagus pun merasa cocok. Akhirnya, Bagus bersama teman-temannya yang seide membentuk grup bernama Nadirat Band. Bagus menempati posisi favoritnya, piano, ditemani Agus Pranajaya (vokalis), M Himawan (drum, keyboard), dan Kiki Wendra (bas).

Sejak itulah dia mendapat tawaran bermain piano di sejumlah restoran dan hotel. Awalnya, dia diminta untuk menggantikan temannya yang berhalangan bermain musik di sebuah hotel. “Dari situ, eh, saya malah sering kali mendapatkan tawaran main di beberapa tempat," kata putra kedua dari dua bersaudara ini.

Pernah dalam satu minggu, dia harus manggung secara reguler selama empat hari seminggu. Bagaimana dengan jadwal kuliahnya?

“Ya, saya usahakan agar kuliah dan main musik bisa berjalan beriringan. Dari segi kemampuan bermusik, saya malah makin terasah,” terang Bagus yang berat badannya lebih dari 100 kilogram ini.

Kualitas permainan piano Bagus kontan mendapat pujian Jaya Suprana, pendiri dan direktur Musium Rekor Indonesia (Muri). Sebelum menerima sertifikat Muri, Jaya Suprana menyodorkan beberapa repertoar untuk dimainkan Bagus. Di antaranya, Bungong Jeumpa, Ayam Den Lapeh, Alusia, Ayo Mama, Bengawan Solo, Karangan Bunga dari Selatan, dan Fragmen (ciptaan Jaya Suprana). Bagus pun dinyatakan lulus.

"Bagus ini membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia punya musisi tunanetra yang berkualitas," tegas Jaya. (*)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 17 April 2011

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

17 April 2011

Stop Kirim PRT ke Malaysia



Sebagai negara tetangga, Indonesia terlalu sering bermasalah dengan Malaysia. Sangat jarang, bahkan hampir tak pernah, kita terlibat konflik perbatasan dengan Papua Nugini, Filipina, Australia, Singapura, atau Timor Leste. Masalah di Atambua, perbatasan Indonesia-Timor Leste, biasanya muncul karena ribuan pengungsi eks Timor Timur tidak mau pulang ke negara yang baru merdeka pada 20 Mei 2002 itu.

Sejak pekan lalu, televisi-televisi kita banyak mengangkat isu kasus pencurian ikan oleh nelayan Malaysia. Orang Malaysia disangka melanggar batas negara. Isu ini memang harus segera diselesaikan karena akan terus menjadi ganjalan dalam hubungan Indonesia-Malaysia ke depan. Tapi, bagi saya, persoalan paling urgen diatasi pemerintah kita adalah ini: tenaga kerja Indonesia (TKI).

Terlalu banyak orang Indonesia yang bekerja sebagai pekerja-pekerja kasar di Malaysia. Kalau tak salah, jumlahnya lima juta, bahkan lebih, mengingat terlampau banyak TKI ilegal. Tauke-tauke Malaysia umumnya suka pekerja ilegal alias pendatang asing tanpa izin karena bisa diperas seenaknya. TKI ilegal gampang disetir. Mereka tak punya bargaining position.

Populasi TKI di Malaysia bahkan sudah melampau jumlah penduduk sebuah negara macam Singapura, Brunei Darussalam, Timor Leste, atau Papua Nugini. Andai saja ‘ekspor’ TKI diteruskan, termasuk yang ilegal, ini dibiarkan, bukan tak mungkin suatu saat TKI-TKI ini bisa membentuk sebuah provinsi atau negara bagian di Malaysia.

Yang jadi masalah kronis adalah mayoritas orang Indonesia di Malaysia merupakan pekerja-pekerja kasar. Unskilled labour. Pekerja-pekerja otot, bukan pekerja-pekerja otak. Lebih celaka lagi, banyak TKI yang kerja sebagai pembantu rumah tangga alias babu. Begitu banyak pembantu asal Indonesia di Malaysia, imej Indonesia di mata bangsa Malaysia sejak dulu kurang elok. Indonesia sering dianggap sebagai BANGSA BABU, atau KAMPUNG PEMBANTU.

Imej yang sangat buruk, tapi mau bagaimana lagi? Ini memang kenyataan yang dilihat oleh warga Malaysia yang lahir setelah tahun 1980. “Saya suka dengan pembantu saya yang asal Jawa Barat. Dia pandai memasak, rajin, masakannya enak,” kata Norhayati Ahmad, marketing officer sebuah hospital alias rumah sakit terkenal di Melaka, Malaysia, ketika berkunjung ke Surabaya bulan lalu.

Tahun lalu, saya pun berbincang dengan seorang warga Malaysia, keturunan India, di Surabaya. Dia pun senang punya pembantu orang Indonesia. Saya hanya tersenyum, menikmati pujian kenalan asal Malaysia ini tentang ‘kebaikan’ pembantunya yang asal Indonesia. Tapi, dalam hati, saya sebenarnya malu karena citra Indonesia sebagai negara pengekspor pembantu ke Malaysia makin beroleh pembenaran.

Maka, saya antusias membaca pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di surat kabar. Berita itu kecil saja, hanya satu paragraf di surat kabar KOMPAS, Kamis 13 April 2011. SBY mengatakan, DALAM BEBERAPA TAHUN MENDATANG TAK AKAN ADA LAGI ORANG INDONESIA YANG BEKERJA SEBAGAI PEMBANTU DI LUAR NEGERI. “Caranya, kita sediakan lapangan kerja yang lebih banyak di negara kita,” tegas SBY.

Sebagai bangsa yang terbuka, bebas, dan demokratis, orang Indonesia boleh bekerja di mana saja. Tapi harus di sektor-sektor profesional, skilled workers. Bukan unskilled workes seperti yang berlangsung selama bertahun-tahun, khususnya di Malaysia dan Arab Saudi.

Buat apa jauh-jauh pergi ke Malaysia, dikejar-kejar polisi, dikejar-kejar petugas imigrasi, diburu polisi syariah... hanya untuk jadi pembantu? Tukang sapu, cuci piring, penjaga peternakan babi [pekerjaan yang banyak dilakukan TKI asal Flores], kuli bangunan, dan sejenisnya.

Wow, terus terang saja, baru kali ini saya mendengar pernyataan seorang presiden Republik Indonesia tentang perbaikan kualitas TKI. Sayang, seperti biasa, pemerintah tidak punya tenggat waktu (deadline) kapan menghentikan pengiriman pembantu ke luar negeri, khususnya Malaysia. Ngambang!

SBY yang lengser tahun 2014 harus bisa membuat action plan yang jelas! Tak cukup berpidato atau sekadar bikin pernyataan politik di media massa. Kita membutuhkan pemimpin-pemimpin yang berani dan punya visi jauh ke depan. Bukan pemimpin-pemimpin macam anggota parlemen di Jakarta yang hanya sibuk bikin gedung mewah, tinggal di apartemen dan hotel berbintang, menghabiskan uang negara untuk melancong ke Eropa, Tiongkok, Amerika, tapi tak punya komitmen untuk memakmurkan rakyat Indonesia.

Malaysia boleh beruntung karena punya pemimpin yang visioner. Pemimpin-pemimpin Malaysia, terlepas dari sejumlah kekurangannya, sejak dulu tidak main-main dengan visi yang sudah dibuat. Tanpa visi dan komitmen yang kuat dari pemimpin-pemimpin Indonesia, jangan harap kita mampu menghentikan pengiriman unskilled worker ke luar negeri, khususnya Malaysia.

Dan itu berarti kita masih akan terus mendengar cerita dari pelancong Malaysia tentang ‘kehebatan’ pembantu Indonesia-nya yang pandai memasak nasi goreng, nasi lodeh, semur, pecel, rawon, pecel lele, pecel bandeng, oseng-oseng, rengginang, dan seterusnya.

Saya kira, bangsa Indonesia lebih bahagia jika tukang-tukang masak Indonesia, yang hebat-hebat itu, bekerja di hotel-hotel berbintang di Kuala Lumpur, Melaka, Langkawi, Penang, Johor, Selangor, atau Kuching. Masih lebih elok jika ada wanita Indonesia yang dinikahi pangeran Malaysia macam si Manohara. Sayang, usia pernikahan mereka sangat pendek. Hehehe.....


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

16 April 2011

Wanita Karier Terlambat Nikah




Setiap bulan April, isu yang satu ini selalu diangkat sebagai bahan diskusi: wanita karier. Begitulah, Kaisar Victorio [Achmad Afandi], kemarin, mengangkat topik 'mengapa wanita karier umumnya terlambat menikah' untuk diskusi di Radio Suzana Surabaya.

Kaisar, yang ditemani Perdana Menteri Insyaf [Mustaqim], menggunakan waktu sekitar 15 menit untuk memberikan semacam kata pengantar. Dari sini saja, para pendengar sudah bisa menangkap posisi sang moderator. Meskipun moderat, sikap Kaisar sudah sangat jelas.

Lantas, bagaimana tanggapan peserta diskusi?

Apa boleh buat, hampir semuanya bersikap sangat kritis terhadap para wanita karier. Waktunya dipakai untuk karier, pekerjaan, sehingga cenderung mengabaikan kodratnya sebagai seorang wanita. Kodrat yang bagaimana?

Para pendengar, baik laki-laki maupun perempuan, bilang kodrat wanita itu, ya, menikah kalau memang sudah dapat jodoh, melahirkan, membesarkan anak, mendampingi suami, menunjang karier suami. "Buat apa gaji berlimpah, karier gemilang, uang banyak, kalau tidak punya suami dan keturunan? Kalau tua nanti, siapa yang memperhatikan?" kata seorang penanggap.

Ada juga seorang mama, 70-an tahun, yang pro wanita karier. Tapi dia kurang setuju si wanita karier itu tidak mau menikah, hanya karena tak ingin kariernya diganggu anak atau suami. Menurut mama ini, istri di kota besar macam Surabaya sebaiknya bekerja.

Mana mungkin bisa hidup dengan hanya mengandalkan gaji suami yang tak seberapa besar. Istri di rumah saja, tak perlu bekerja, kalau suaminya kaya-raya seperti Gayus Tambunan yang uangnya berlimpah ruah.

"Kalau cuma mengandalkan penghasilan suami, bagaimana mau bayar cicilan rumah? Bayar air, listrik, macam-macam? Memangnya suami bisa menyelesaikan semua?" tanya mama keturunan Tionghoa itu.

Ada seorang laki-laki 50-an tahun mengaku beristri wanita karier yang sukses. Gaji istri jauh lebih tinggi ketimbang si Bambang, sebut saja begitu. Apa yang terjadi?

"Saya ini kan suami, kepala keluarga, tapi sudah tidak dihormati sama istri. Sakit hati deh," katanya. Bagi laki-laki bujang, dia meminta agar selalu pikir-pikir panjang sebelum mengambil keputusan menikah dengan wanita karier. "Pokoke, gawe loro ati ae!" Pokoknya, hanya bikin sakit hati saja!

Kembali ke poin utama: mengapa wanita karier itu cenderung terlambat menikah, bahkan tidak mau menikah? Peserta diskusi pun memberikan sejumlah jawaban. Jawaban-jawaban yang sebenarnya sudah jamak.

Khawatir karier terganggu. Sulit menemukan laki-laki yang sepadan. Banyak laki-laki takut mendekati wanita karier. Laki-laki takut 'kekuasaannya' sebagai kepala rumah tangga digerogoti. Dan sebagainya.

Diskusi selama sekitar 60 menit ini pun berakhir tanpa kesimpulan. Dan memang selalu begitu. Saya pun teringat sahabat lama yang punya istri wanita karier. Dia bilang begini:

"Bung, seandainya penghasilan saya cukup, uang saya banyak, punya harta berlimpah... saya akan minta istri saya berhenti bekerja. Tinggal di rumah saja, merawat anak-anak, memasak, atau bersantai. Sayang, penghasilan saya belum memungkinkan istri saya berhenti bekerja."


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

15 April 2011

Eliata Choir di Katedral Surabaya




Misa di gereja kurang afdal kalau tak didukung paduan suara atawa kor yang baik. Kor yang mau mempersiapkan diri, berlatih teratur. Bukan kor yang tidak pernah latihan, kemudian tahu-tahu jadi petugas liturgi.

Nah, susahnya di kota-kota besar, umat terlalu sibuk kerja dari pagi, pulang petang, bahkan baru tiba di rumah malam hari. Bagaimana bisa punya waktu satu dua jam untuk berlatih?

Karena tahu betul peliknya kehidupan di kota, saya sudah lama tidak mengkritik kualitas kor-kor gereja, khususnya Gereja Katolik.

Malu deh! Toh, saya sendiri tak punya waktu untuk ikut memperkuat paduan suara. Entah kor itu berkualitas istimewa, baik, sedang, buruk, bahkan sangat buruk... harus bisa dipahami. Masih syukur banyak umat yang mau berpaduan suara, meski alakadarnya, ketimbang tak ada kor sama sekali.

Di banyak gereja, karena tidak ada kor, satu umat berdiri di depan untuk memimpin nyanyian jemaat.

Karena itu, saya begitu senang ketika ikut misa di Gereja Katedral Surabaya dua pekan lalu. Kor yang bertugas Eliata Choir pimpinan Maya. Nama penuhnya Maria Widyaningrum. Maya ini dulu salah satu penggerak paduan suara mahasiswa ITS Surabaya.

Setelah lulus, kemudian bekerja, passion Maya terhadap paduan suara tak hilang begitu saja. Maya malah bikin kor yang ciamik soro: Eliata. Eliata ini sudah beberapa kali bikin konser di tempat bergengsi di Surabaya.

Misa yang diiringi paduan suara sekaliber Eliata memang rasanya lain. Cara menyanyi, produksi suara, dinamika, ekspresi... bisa kita temukan di sini. Lagu-lagu liturgi yang biasanya sederhana menjadi nikmati ketika dibawakan oleh kor sekelas Eliata. Meski bukan paduan suara profesional, karena anggotanya bekerja di mana-mana, kualitas Eliata memang sudah layak konser tingkat nasional.

Saya betul-betul menikmati alunan beberapa komposisi klasik dari Eliata Choir. Komposisi sulit yang hanya bisa dibawakan kor-kor yang punya latihan rutin, konsisten, serta didukung dirigen (pelatih) berkualitas. Ingat: “Tidak ada kor yang buruk. Yang ada hanyalah pemimpin kor yang buruk!”

Salut salut sama teman-teman eks paduan suara mahasiswa yang tetap eksis di paduan suara macam Maya di Eliata Choir. Mereka-mereka ini ibarat oase segar yang mengantar kita semua, umat atau audiens, untuk merasakan keagungan Tuhan.


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

10 April 2011

Lukito Kartono dan Arsitektur Tionghoa




Selain sibuk mengajar di Universitas Kristen Petra, Ir Lukito Kartono MA (59) sering menjadi pemandu wisata SOERABAIA TEMPO DOELOE. Dia sangat fasih menjelaskan detail bangunan, perkembangan arsitektur di Surabaya, hingga masalah cagar budaya.

Oleh LAMBERTUS HUREK

Lukito tak segan-segan mengajak mahasiswa dan komunitas penggemar sejarah untuk berwisata ke permukiman warga Tionghoa (pecinan) di beberapa kota besar. Maka, Lukito pun bisa dengan fasih menjelaskan filosofi dan perkembangan bangunan-bangunan Tionghoa di tanah air.

Saat ditemui di ruang kerjanya, pekan lalu, Lukito sedang asyik membaca buku tebal tentang sejarah kedatangan orang Tionghoa di Asia Tenggara. Berikut petikan percakapan Radar Surabaya dengan Lukito Kartono:

ANDA SERING MENJADI PEMANDU WISATA KE KAWASAN PECINAN. BAGAIMANA KONDISI BANGUNAN-BANGUNAN TIONGHOA DI KOTA SURABAYA?

Di Surabaya, bangunan beraksen Tionghoa hanya tersisa 10 persen saja. Saya tidak tahu pasti berapa jumlah keseluruhan, tapi hanya sedikit yang tersisa. Saat ini, rumah dengan arsitektur Tionghoa yang masih utuh terdapat daerah Kapasan Dalam. Bahkan, rumah-rumah panjang itu dibuat secara terencana untuk warga peranakan Tionghoa. Mereka turun-temurun menjadi penghuni sejumlah bangunan tersebut.

APAKAH KONSEP RUMAH TIONGHOA DI INDONESIA SAMA DENGAN DI TIONGKOK?

Sangat berbeda, bahkan bertolak belakang. Rumah-rumah di Tiongkok biasa menempatkan altar leluhur di bagian belakang. Sementara di Indonesia, altar leluhur justru diletakkan di bagian depan. Nah, penataan altar leluhur ini merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam arsitektur rumah khas orang Tionghoa. Ini untuk mewujudkan hirarki ruang.

Maka, atmosfer kesakralan itu bisa dirasakan ketika kita memasuki semakin ke belakang rumah Tionghoa. Di sini, masyarakat Tionghoa memodifikasi konsep sakral itu, sehingga banyak dijumpai altar leluhur berada di bagian depan rumah. Akibatnya, hirarki ruang berubah dan orang tertua di keluarga justru menempati kamar terdepan.

DI TIONGKOK TIDAK DEMIKIAN?

Ya. Di negeri Tiongkok sana, mereka-mereka yang dituakan menempati kamar di bagian belakang rumah. Jadi, berdekatan dengan altar leluhur. Tata letak seperti ini sangat menarik karena menunjukkan adaptasi orang Tionghoa Indonesia dengan budaya setempat, khususnya di Jawa.
Masyarakat kita memang lebih beranggapan bahwa bagian belakang rumah tidak berfungsi sebagai ruang utama. Bagian belakang biasanya dipakai untuk kamar pembantu, gudang, atau kamar mandi.

BAGAIMANA KONSEP IDEAL ARSITEKTUR RUMAH TIONGHOA?

Ada sumur udara di bagian tengah rumah untuk sirkulasi udara. Ada sumbu keseimbangan di sisi kanan dan kiri rumah. Kemudian gerbang sebagai pintu masuk tamu. Maka, ketika si tamu memasuki gerbang itu, berarti dia telah datang di daerah teritorial yang berbeda.
Masyarakat Tionghoa zaman dulu juga biasa mensyaratkan penataan kamar didesain berderet baik sisi kanan maupun kiri. Tapi tidak mensyaratkan jumlah kamar dan tidak ada syarat berapa besar gerbang, kamar, atau ruangan lain. Yang penting, lima lima konsep tata ruang, yaitu sumur udara, sumbu keseimbangan, gerbang, hirarki ruang, tatanan kamar berderet wajib ada.

LANTAS, APAKAH ORANG TIONGHOA DI SURABAYA SAAT INI MASIH MELESTARIKAN KONSEP-KONSEP LELUHUR UNTUK RUMAHNYA?

Sayang sekali, sekarang ini masyarakat umumnya mengalami degradasi budaya karena semakin modern. Termasuk di kalangan masyarakat Tionghoa. Meskipun jumlah masyarakat keturunan Tionghoa di Surabaya sebetulnya cukup banyak, ternyata hanya sedikit yang membangun rumahnya sesuai konsep leluhur mereka di Tiongkok.

CONTOHNYA?

Anda bisa lihat di perumahan-perumahan kelas menengah-atas di Surabaya, yang banyak orang Tionghoanya. Rumah-rumah mereka justru lebih terinspirasi arsitektur modern. Sama sekali tidak ada pertimbangan tradisi Tionghoa. Dan perubahan itu semakin terlihat menjelang tahun 2000-an. Ini juga masyarakat Tionghoa di Indonesia, khususnya Surabaya, makin kehilangan identitas kulturalnya.

BAGAIMANA DENGAN KONSEP KEKERABATAN YANG SANGAT KENTAL DI KALANGAN TIONGHOA?

Itu juga sudah terkikis. Konsep-konsep leluhur, bahasa, dan kebiasaan masyarakat Tionghoa mulai ditinggalkan oleh generasi yang lebih muda. Contohnya, pada tahun baru Imlek, misalnya, budaya silaturahmi tidak terasa lagi. Padahal, ketika saya masih remaja dulu tradisi silaturahmi, saling mengunjungi, sangat terasa. Kalangan muda Tionghoa saat ini lebih suka menikmati Imlek di pusat perbelanjaan ketimbang berkunjung ke rumah saudara yang dituakan. (*)

BIODATA SINGKAT LUKITO

Nama : Johanes Lukito Suwito Kartono
Lahir : Surabaya, 13 Februari 1952
Istri : Caecilia Mega Dewi
Anak : 3 orang
Hobi : Membaca, berkelana.
Pekerjaan : Dosen Teknik Arsitektur UK Petra
Alamat : Jl Siwalankerto 121-131 Surabaya
Email : lkartono@peter.petra.ac.id

Minat : Sejarah dan teori arsitektur
Spesialisasi : Arsitektur tradisional Indonesia
Filosofi: Di dunia ini tidak ada anak yang bodoh. Yang terjadi adalah anak yang belum mempunyai kesempatan diajar oleh guru yang baik.

Pendidikan
UK Petra, S-1 Arsitektur
Universitas Indonesia, Magister Antropologi




Ziarah Arsitektur di Lasem

SALAH satu kota favorit bagi Lukito Kartono untuk melakukan ziarah arsitektur pecinan adalah Lasem. Belum lama ini, Lukito mengajak 25 mahasiswa Arsitektur Universitas Kristen Petra berkunjung ke kota kecil di pantai utara Jawa Tengah itu.

Selama tiga hari Lukito membimbing para mahasiswa untuk mendalami arsitek pecinan. “Ziarah ini memang agenda rutin kami di UK Petra. Ini penting agar mahasiswa mengetahui kondisi bangunan secara nyata. Tidak melalui textbook saja. Mereka juga bisa mencocokkan konsep arsitektur Tionghoa yang selama ini mereka pelajari,” ujar Lukito.

Di Lasem, rombongan mengunjungi beberapa tempat, di antaranya Kelenteng Cu An Kiong dan rumah penduduk yang masih memakai aturan arsitektur klasik Tionghoa. Mengapa Lasem yang dipilih?

Menurut Lukito, Lasem merupakan tempat para perantau asal Tiongkok mendarat, selain di Batavia (Jakarta). Tak heran, kota ini menyimpan sejarah panjang perjalanan orang Tionghoa di Indonesia.

Kelenteng Cu An Kiong di Jalan Soditan, Lasem, juga merupakan kelenteng Makco Thian Siang Seng Boo (Dewi Laut) paling tua di Pulau Jawa. Dibangun tahun 1335, kelenteng ini sudah pernah direhabilitasi oleh Tee Ling Sing dan Tiang Sun Khing, tukang kayu asal Provinsi Guangdong, Tiongkok.

Setelah itu, rombongan UK Petra mampir ke rumah tinggal di sebelah kelenteng dan daerah Babagan. Kedua rumah khas Tionghoa ini masih terawat dengan baik. "Jadi, kita bisa belajar banyak dari Lasem," katanya. (*)



Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 10 April 2011

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

08 April 2011

54 Tahun PMS - Piano 4 Tangan




Tak terasa, Pertemuan Musik Surabaya (PMS) telah berusia 54 tahun. Cukup sepuh. Sempat mati suri selama 24 tahun, komunitas ini dihidupkan kembali pada 2006. Rupanya, Slamet Abdul Sjukur, salah satu pendiri PMS, kembali bergairah setelah bertemu Krisna Setiawan.

Krisna ini pianis jazz, akuntan, sarjana elektronika, dan direktur pabrik arang di Surabaya. “Tipe orang serabutan dan kurang kerjaan kayak saya,” kata Slamet Abdul Sjukur, komponis, pianis, dan guru musik yang masih greng di usia 86 tahun itu.

Menurut Slamet, PMS dibentuk tahun 1957 oleh tiga orang ‘serabutan dan kurang kerjaan’ saat itu. Rubai Katjasungkana (almarhum), redaktur Surabaya Post, The Lan Ing yang baru pulang dari studi musik di Belanda, kemudian Slamet Abdul Sjukur. Selama 25 tahun, hingga 1982, PMS menghidupkan Surabaya dengan acara-acara musik, yang menurut Slamet, tinggi kecerdasannya.

Anggotanya 1.300 orang. Mereka membayar iuran tiap bulan. Dari rumah ke rumah, PMS kemudian menggantikan Kuntskring Belanda di Balai Pemuda. Sempat jadi kebanggaan seniman di Surabaya, dan Jawa Timur umumnya, PMS mati tahun 1982.

“Gak ada angin, gak ada hujan... mati sendiri. Gak nyangka mati suri selama 24 tahun,” cerita Slamet Abdul Sjukur dengan gaya khasnya yang ‘nyelekit tapi enak’ kepada saya.

Sekarang PMS digelar setiap bulan di Wisma Musik Melodia Jalan Ngagel Jaya 12 Surabaya. Mengapa di Melodia? Ini pun tak lepas dari sejarah PMS sendiri. Setiawati Winarto, bos Melodia, ternyata putri mendiang Sorento, aktivis PMS tempo doeloe. Karena itu, PMS bersama Slamet Abdul Sjukur difasilitasi di situ.

Kini, setelah para pentolan PMS beranjak sepuh, sibuk ngemong cucu, atau meninggal dunia, tinggallah Slamet Abdul Sjukur yang masih trengginas. Cak Slamet inilah yang menjadi motor sekaligus daya tarik PMS. Murid-murid Slamet dari berbagai kota ingin datang menikmati wejangan-wejangan musik dan budaya khas Slamet.

Salah satunya Vita, pianis asal Malang. Celetukan-celetukan Slamet memang nyentrik, tapi cerdas. Begitu juga pilihan musik yang dimainkan atau ditayangkan di depan peserta PMS. Memang musik klasik, tapi bukan yang top hits di masyarakat. Secara halus, Slamet menyuntikkan ilmu-ilmu musik, kegandrungan akan musik, kepada hadirin yang kebanyakan guru-guru piano.

Malam itu, Senin 4 April 2011, hajatan 54 tahun PMS dirayakan di Wisma Musik Melodia Surabaya. Pesta musik ini menampilkan dua pianis, yaitu Glenn Bagus dan Iswargia R. Sudarno. Mengenakan baju batik, kedua pianis ini bermain sekitar 90 menit.

Dua orang main satu grandpiano. Piano empat tangan. Sungguh sebuah pertunjukan musik yang langka di Surabaya. Ada karya Mozart, Rachmaninoff, Ravel, kemudian Stravinsky. Yang menarik, undangan malam itu didominasi anak-anak muda, kemungkinan besar peserta kursus piano. Guru-guru piano ada juga, tapi tak banyak.

Selama 90 menit kedua pianis, Glenn dan Iswargia, berhasil menghadirkan musik yang merangsang daya imajinasi penonton. Suasananya terasa meriah, agung, kaya bebunyian. Maklum, komposisi piano empat tangan ini dirancang untuk orkes. Komposisi orkes simfoni, tapi dirangkum dalam sebuah instrumen bernama piano.

Glenn lebih banyak duduk di sebelah kiri, Iswargia di kanan. Meskipun kesempatan latihan tak banyak, keduanya tampil kompak, sangat terkoordinasi. Juga sangat rapi. Karya Rachmaninoff Opus 11 berisi enam tema yang berbeda, kaya variasi. Hadirin bertepuk tangan panjang di akhir permainan.

Pada karya Stravinsky, yang tiga bagian, gantian Glenn memainkan tuts piano di bagian kanan. Iswargia di kiri. Komposisi ini menggambarkan pesta di rumah Petrouchka. Diawali tarian Rusia, kemudian suasana di rumah Petrouchka, diakhir pekan sukaria. Sajian yang pas, mengajak hadirin bersukarian di hari jadi PMS ke-54.

“Komposisi tadi memang gendheng-gendhengan,” kata Slamet Abdul Sjukur disambut tawa hadirin. Duo pianis pun tersenyum lebar. Plong setelah ‘dipaksa’ untuk konsentrasi total selama hampir dua jam.

Sebagai pianis, menurut Iswargia Sudarno, menu yang disiapkan untuk HUT ke-54 PMS ini sangat menantang. Pianis harus memainkan komposisi untuk orkes dengan tangan yang tumpang tindih. Berbagai macam bunyi harus bisa dikeluarkan untuk dinikmati audiens.

Glenn Bagus juga mengakui permainan piano empat tangan bukan perkara gampang. Beda dengan duet piano, di mana dua pianis main piano sendiri-sendiri. Jadi, tumpang tindih tangan tidak akan ada.

“Tapi piano empat tangan ini memang asyik untuk dicoba,” kata Glenn yang mulai belajar piano pada usia 11 tahun.

Meski namanya pesta ulang tahun, malam itu tidak ada sajian makanan dan minuman. Slamet Abdul Sjukur, peserta PMS, dan undangan rupanya sudah kenyang dengan sajian musik piano empat tangan itu.




PROGRAM HUT KE-54 PMS
Senin 4 April 2011, Pukul 19.00

PIANO EMPAT TANGAN
Glenn Bagus dan Iswargia R. Sudarno

1. Mozart: SONATA C-mayor KV 521
Allegro, Andante, Allegretto

2. Rachmaninoff: 6 KARYA op. 11
Barcarolle, Scherzo, Tema Rusia, Walsa, Romansa, Slava

3. Ravel: RAPSODI SPANYOL
Prelude di malam hari (sangat tenang), MalagueƱa (bernafsu),
Habanera (lamban tanpa gairah), Feria (ramai)

4. Stravinsky: 3 Bagian dari PETROUCHKA
Tarian Rusia, Di rumah Petrouchka, Pekan Sukaria

SAMBUTAN SINGKAT SLAMET ABDUL SJUKUR
KESAN ISWARGIA R. SUDARNO
KESAN GLENN BAGUS
SELESAI



COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

Reuni Tulang Rusuk Surabaya



Sutoto Yakobus, bos Citraland, bersama istri, Lusiana. Pak Sutoto saat ini jadi ketua Paguyuban Tulang Rusuk Surabaya.


Paguyuban Tulang Rusuk Surabaya, Rabu malam (5/4/2011) menggelar reuni akbar di Golden City Mall Surabaya. Sekitar 1.500 pasangan suami-istri dari 41 angkatan menghadiri hajatan paguyuban pasutri yang dibina Romo Jusuf Halim SVD.

Pastor kongregasi Societas Verbi Divini itu juga menyampaikan siraman rohani kepada para pasutri. Juga ada puji-pujian rohani dari Grup Vokal Naviri serta Paduan Suara PTRS. Reuni diakhiri dengan santap malam bersama.

Romo Halim mengingatkan para pasutri anggota paguyuban untuk saling menghormati, berbagi kasih, dan saling mendahului untuk membahagian pasangan. “Segala sesuatu yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia,” tegasnya.

Menurut Sutoto Yakobus, ketua PTRS, paguyuban ini merupakan wadah bagi para pasutri setelah mengikuti retret rohani yang dipimpin langsung oleh Romo Jusuf Halim. Begitu terkesannya retret ini dalam membina hubungan suami-istri, para peserta retret selalu ingin bertemu kembali untuk melakukan reuni.

“Tidak terasa retret tulang rusuk ini sudah sampai angkatan ke-41. Peserta retret setiap angkatan rata-rata 80 sampai 100 orang. Dan, yang menarik, pesertanya tidak hanya pasutri beragama Katolik, tapi juga dari berbagai agama,” jelas Sutoto Yakobus, yang juga bos Citraland Surabaya.

Selain lintas agama, papar Sutoto, paguyuban ini juga diikuti para pasutri dari luar Jawa Timur, bahkan luar Jawa. Ini karena retret yang mulai dibina Romo Halim sejak pertengahan 1990-an ini punya dampak besar dalam kehidupan rumah tangga peserta.

Menurut Sutoto, hubungan antara suami-istri dan anak yang tadinya berlangsung kurang mulus ternyata bisa dipulihkan setelah mengikuti retret tulang rusuk.
Romo Halim selalu mengajak pasutri untuk bernostalgia. Melihat ke belakang saat mengucapkan ikrar perkawinan di hadapan Tuhan, saksi, dan sesama.

Ikrar untuk senantiasa setia baik dalam untung dan malang, sakit dan sehat, bersedia saling mencintai sampai akhir hayat. “Kenangan akan janji suci inilah yang diangkat dalam retret tulang rusuk,” tegas Sutoto.

Ketua Panitia Reuni Grace Evi Ekawati menjelaskan, saat ini paguyuban tulang rusuk beranggotakan lebih dari 3.000 pasutri yang tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah peserta dipastikan akan terus bertambah mengingat Romo Jusuf Halim masih terus mengadakan retret tulang rusuk.

Pada 1-3 April 2011, Romo Halim menggelar retret di Graha Wacana, sebuah rumah pembinaan keluarga milik kongregasi SVD di Ledug, Mojokerto. Selepas retret, peserta otomatis tercatat sebagai anggota paguyuban.

“Harus diakui bahwa Tuhan memakai Romo Halim untuk menciptakan keharmonisan rumah tangga kepada begitu banyak pasutri,” ujar Grace yang mengikuti retret empat tahun silam. (*)


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

06 April 2011

Hotel Paviljoen Surabaya untuk Nostalgia




Salah satu hotel favorit para backpacker di Surabaya adalah HOTEL PAVILJOEN. Lokasinya di Jalan Genteng Besar 94, persis di belokan Jalan Tunjungan yang terkenal itu.

Kalau sampean seneng mlaku-mlaku nang Tunjungan, silakan bertanya kepada tukang becak atau tukang warung. Kemungkinan besar mereka tahu persis alamat HOTEL PAVILJOEN. Tapi, bagi warga Surabaya yang jarang jalan-jalan, mobilitasnya rendah, biasanya nama hotel-hotel kecil macam begini nyaris tak diketahui.

Saya tertarik dengan HOTEL PAVILJOEN setelah membaca beberapa tulisan di internet. Kasidi, pegawai hotel, mengatakan awalnya hotel ini milik orang Jerman dan Denmark. Beberapa kali berganti kepemilikan, saat ini mendiang Harsono Purworaharjo mewariskan kepada anak-anaknya untuk dikelola.

"Dari tahun 1917 sampai sekarang ya untuk hotel, tapi kelasnya melati,” kata Kasidi.

HOTEL PAVILJOEN tidak pernah bikin promosi di media atau bekerja sama dengan biro perjalanan wisata tertentu. Toh, namanya sudah masuk radar pariwisata internasional. “Tamu-tamu kami yang mempromosikan hotel ini,” ujarnya.

Aha, pantas saja banyak turis asal Belanda, Jerman, Italia, Prancis... yang low cost, yang backpacer, senang sekali menginap di sini. Kalau yang duitnya banyak sih bisa ke Hotel Majapahit yang jaraknya tak sampai 200 meter dari Hotel Paviljoen.

Tak hanya harganya yang murah, HOTEL PAVILJOEN punya nuansa Oud Soerabaia alias Surabaya tempo dulu yang kental. Bangunannya tipe arsitekur lama dengan langit-langit tinggi. Perabotan meja-kursi sangat khas. Tidak sumpek kalau berada di sana. Ia ibarat vila atau rumah istirahat yang berlokasi tepat di jantung Kota Surabaya.

Total ada 21 kamar. Yang paling khas dari hotel di atas lahan seluas 4.000 meter persegi ini adalah taman di tengah bangunan. Asri dan hijau. Kamar-kamar mengelilingi taman. Dus, hampir semua kamar menghadap ke taman. Pintu dan jendelanya juga tinggi. Dan ini membuat sirkulasi udara sangat bagus.

Tidak heran, para turis rata-rata kerasan di sini. Ada turis Belanda yang menginap selama dua bulan atau tiga bulan. Pokoknya, dalam jangka waktu yang lama. Long stay. Maklum, untuk ukuran kantong orang Barat, tarif HOTEL PAVILJOEN memang sangat murah.

Berapa tarif HOTEL PAVILJOEN?
Berikut daftar harga versi tanggal 6 April 2011.

Ada delapan kategori tarif yang beda-beda tipis. Paling murah Rp 104.500, sedangkan paling mahal Rp 196.000. Kalau ada fasilitas AC dan televisi, maka tarif kamar mulai Rp 165.000. Sebaliknya, kamar yang zonder televisi dan AC [pakai kipas angin saja], paling mahal cuma Rp 137.000.

Katakanlah kurs dolar Amerika (USD) sekarang Rp 10.000, maka tarif kamar Hotel Paviljoen yang termahal tak sampai USD 20. Sekali lagi: TAK SAMPAI 10 DOLAR. Bagi warga negara maju di Eropa atau Amerika, duit segitu benar-benar keciiiiil....

Pantas beberapa turis Belanda seolah menjadikan HOTEL PAVILJOEN ibarat kos-kosan saja! Atau, mungkin rumah kedua di luar negaranya!

Posisi HOTEL PAVILJOEN yang hanya terpaut 10 meter dari Jalan Tunjungan jelas sangat-sangat strategis. Dari situ, Anda bisa jalan-jalan ke Tunjungan Plaza, Surabaya Plaza, konter-konter HP di WTC, lihat Kalimas, Monumen Kapal Selam (Monkasel), BG Junction, Balai Pemuda, THR, Taman Budaya Jatim, Gedung Cak Durasim, Gedung Grahadi, Taman Surya, kantor Wali Kota Surabaya.... dan masih banyak lagi.

Para penggemar hiburan malam juga tak perlu jauh-jauh mencari tempat dugem. Ada De Luxe, Kowloon, Studio East, hingga musik dangdut di THR. Kadang-kadang ada pertunjukan ludruk atau kesenian tradisional di Taman Budaya Jatim atau Gedung Cak Durasim.

HOTEL PAVILJOEN
JALAN GENTENG BESAR 94-98 SURABAYA
TELEPON (031) 534 3449



Hotel Asia Surabaya Disukai Backpacker




Kita yang tinggal di Surabaya dan sekitarnya biasanya kurang peduli dengan hotel-hotel murah. Kita yang di dalam kota tidak begitu membutuhkan fasilitas akomodasi, bukan?

Kita lebih hafal hotel-hotel berbintang, yang memang sangat terkenal, macam Hotel MAJAPAHIT, SHERATON, JW MARRIOTT, SHANGRI-LA, HYATT, MERCURE, SOMMERSET, NOVOTEL, SINGGASANA, GARDEN PALACE, SAHID.

Kalau hotel yang kelasnya di bawah itu, ya, sebut saja BIBIS, SANTIKA, CENDANA, TUNJUNGAN, ELMI, INNA. Maka, ketika dinyata teman saya yang minta informasi tentang HOTEL ASIA di Surabaya yang murah dan strategis, saya pun gelagapan. Teman itu mendengar nama Hotel Asia dari kenalannya yang sering berlibur ke Surabaya.

“Saya belum pernah dengar nama Hotel Asia,” kata Hadi, yang asli Surabaya, kepada saya. Beberapa orang lagi, yang juga sejak kecil, bahkan turun-temurun tinggal di Surabaya, pun tidak tahu. Maka, saya pun harus survei sendiri ke lapangan.

Wow, HOTEL ASIA itu ternyata terletak di JALAN TEMBAAN 55 SURABAYA. Lokasinya memang benar-benar strategis. Sangat dekat dengan Pasar Turi, Pusat Grosir Surabaya (PGS), Tugu Pahlawan, Kantor Gubernur Jawa Timur, Gedung DPRD Jawa Timur, Jembatan Merah, ITC Mega Grosir, BG Junction, kemudian Pelabuhan Tanjung Perak.

Tarif kamarnya? Ada empat kategori:

1. Rp 65.000 : fan
2. Rp 145.000 : AC, TV, telepon, voucher makan 1 orang
3. Rp 180.000 : AC, TV, telepon, air panas, voucher makan 2 orang
4. Rp 190.000 : AC, TV, telepon, kulkas, voucher makan 2 orang


Ada iming-iming begini:

10 kali bermalam, gratis 1 hari!

Hehehe....

Pantas saja kalau HOTEL ASIA ini sangat dikenal orang-orang Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kebetulan punya acara di Kota Surabaya. Mereka menginap di sini karena bisa belanja ke Pasar Turi, jalan-jalan di Tugu Pahlawan, ke Jembatan Merah Plaza, atau ke kawasan Kembang Jepun. Kalau mau pulang kampung, bawa barang banyak, ya, tidak jauh dari Pelabuhan Tanjung Perak.

Pekan lalu, saya mampir di HOTEL ASIA. Mengunjungi rombongan dosen asal Kupang, NTT, yang mengikuti penataran di Surabaya. Inilah kali pertama saya masuk dan menikmati kamar salah satu hotel murah yang disukai backpacker domestik itu. Ruangannya luas, ada televisi, bersih, pelayanan ramah. Dari luar bangunannya terkesan ‘kurang terawat’, tidak mencolok.

“Tapi saya sudah beberapa kali menginap di sini. Nyaman dan sangat strategis. Kita bisa menikmati Kota Surabaya dengan mudah. Ke mana-mana rasanya dekat,” kata seorang dosen Universitas Widya Mandira Kupang yang rupanya betah menginap di HOTEL ASIA.

Oh ya, di HOTEL ASIA ini ada fasilitas makan pagi, telepon, kulkas, dan air panas. Silakan dicoba bagi teman-teman dari luar Surabaya yang ingin menikmati suasana Kota Pahlawan. Ikon Surabaya dengan Tugu Pahlawan yang khas, plus dioramanya, bisa dinikmati di sini.

Setiap Minggu pagi ribuan orang tumplek-blek di kompleks Tugu Pahlawan karena ada pasar kaget. Bisa belanja apa saja dengan harga kaki lima. Cocok pula untuk mencicipi aneka jajanan khas Surabaya.

HOTEL ASIA SURABAYA
JALAN TEMBAAN 55 SURABAYA
TELEPON (031) 545 1365 - 545 1368
FAKSIMILI (031) 532 6579


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

04 April 2011

Chandra Wurianto Tokoh Tionghoa Surabaya



Tidak ke mana-mana, tapi ada di mana-mana. Ungkapan ini pantas disandang Chandra Wurianto. Pengusaha yang satu ini hampir selalu terlihat di berbagai organisasi, yayasan, ataupun perkumpulan Tionghoa di Surabaya.

PEKAN lalu, ketika Kelenteng Hong San Ko Tee di Jalan Cokroaminoto 12 Surabaya melakukan arak-arakan tiga rupang dewa-dewi keliling beberapa jalan utama, termasuk Raya Darmo, Chandra Wurianto tak ketinggalan. Pengusaha ekspedisi ini bahkan berada di baris depan. Mengatur barisan, memberi arahan kepada jemaat, bahkan ikut mengusung patung Kongco Kong Tik Tjoen Ong dan Makco Kwan Im.

Di tengah jalan, tiba-tiba Chandra bersama para pengusung terhuyung-huyung. Patung berukuran kecil itu terasa berat sekali. Tak ayal, ini menjadi pemandangan menarik bagi masyarakat yang menyaksikan di sepanjang jalan.

“Ada semacam tenaga yang keluar sehingga kita seperti kewalahan. Dan itu memang biasa dalam acara kirab seperti ini,” ujar Chandra Wurianto kepada Radar Surabaya.

Sosok Hu Jiangzhang, nama Tionghoa Chandra Wurianto, memang tak asing lagi di kalangan aktivis perkumpulan Tionghoa di Surabaya, bahkan Jawa Timur dan Indonesia. Begitu banyak organisasi yang dia pimpin. Selama ini Chandra dikenal sebagai ketua Yayasan Senopati, perkumpulan yang mencoba memelihara tradisi budaya Tionghoa. Ada kegiatan barongsai, liang-liong, musik, dan aktivitas budaya Tionghoa yang lain.

Maka, ketika angin keterbukaan dan demokrasi mulai dinikmati bangsa Indonesia selepas reformasi, 1998, Chandra Wurianto praktis berada di baris terdepan. Kesenian barongsai dan liongsai yang sempat mati suri selama 30 tahun lebih pun menggeliat kembali.

Sejak itulah masyarakat umum di Surabaya sering mengidentikkan Chandra Wurianto dengan barongsai. Chandra kemudian mengurus begitu banyak organisasi Tionghoa dan lintas budaya di Surabaya.

Kembali ke kirab Kongco dan Makco di Kelenteng Cokro. Setelah berjalan kaki selama hampir satu jam, Chandra beserta rombongan akhirnya kembali ke TITD Hong San Ko Tee. Pria murah senyum ini pun mandi keringat. Wajahnya terlihat sumringah lantaran acara budaya dan religi khas Tionghoa itu bisa berlangsung dengan aman dan lancar.

Awam yang sempat mendung ternyata tak menimbulkan hujan di Surabaya, Minggu pagi itu. Apakah panitia diam-diam menggunakan jasa pawang hujan? Dipancing pertanyaan menggelitik macam ini, Chandra kontak tertawa kecil.

“Nggak ada itu pawang hujan segala. Pokoknya, kalau kita niat melaksanakan ritual untuk Yang di Atas, percayalah, semua akan berjalan dengan aman dan lancar. Lagi pula, apa yang kita lakukan ini kam semata-mata untuk Sang Pencipta,” tegasnya.


Diakui atau tidak, Chandra Wurianto merupakan tokoh yang paling menonjol dalam kebangkitan barongsai di Surabaya. Tak heran, dia dipercaya membina organisasi barongsai di Jawa Timur sampai sekarang.

Chandra Wurianto, meski terlibat dalam sekian banyak yayasan dan perkumpulan Tionghoa, selama ini lebih dikenal sebagai tokoh barongsai. Posisi resminya saat ini ketua Persatuan Olahraga Barongsai Indonesia (Persobarin) Jawa Timur. Perkembangan pesat barongsai di Jawa Timur saat ini tak lepas dari peran Persobarin yang sejak dulu dikendalikan Chandra.

Bahkan, Chandra Wurianto termasuk salah satu tokoh perintis kelahiran organisasi barongsai di tanah air yang kemudian bernama Persobarin. Mengapa Chandra yang didapuk mengurus barongsai? Ini juga tak lepas dari komitmennya dalam melestarikan tarian dan olahraga khas Tionghoa itu.

Ketika barongsai, liang-liong, wushu, dan berbagai ekspresi budaya Tionghoa dibredel rezim Orde Baru, Chandra tetap berjuang agar olahraga dan kesenian ini tidak musnah.

Bersama Yayasan Senopati yang dipimpinnya, Chandra mengelola sasana untuk pelatihan barongsai, liang-liong, wushu, dan sebagainya. Sebelum terjadi reformasi, yang kemudian melengserkan rezim Orde Baru, bibit-bibit barongsai dan sejenisnya sudah tumbuh di Senopati.

Karena itu, ketika angin keterbukaan itu datang, budaya Tionghoa tak lagi dilarang, Chandra sudah siap menampilkan atraksi-atraksi kesenian Tionghoa yang menarik.

“Waktu itu Persobarin belum ada. Bahkan, banyak orang Indonesia belum pernah melihat tarian yang namanya barongsai atau liang-liong karena memang dilarang selama 30-an tahun,” kenang Chandra Wurianto.

Nah, berkat Yayasan Senopati, atraksi barongsai dan liongsai muncul lagi di hadapan publik. Namanya barang baru, tontonan khas Tionghoa ini sangat cepat populer dan tersebar luas di masyarakat. Sasana-sasana barongsai-liongsai yang selama ini mati suri kemudian tertarik untuk ikut membina barongsai. Sasana-sasana baru juga bermunculan di Surabaya dan berbagai kota di Jawa Timur.

Melihat perkembangan barongsai yang kian pesat, Chandra Wurianto dan kawan-kawan merasa perlu membentuk organisasi payung barongsai bernama Persobarin. Ini penting mengingat Indonesia sudah ketinggalan kereta selama tiga dasawarsa.

Selama 30 tahun itu praktis Indonesia tidak pernah mengikuti informasi seputar tren barongsai di dunia. “Karena memang waktu itu kita tidak punya barongsai,” kenangnya.

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

01 April 2011

Orang Tionghoa NTT di Pulau Hainan



Komunitas warga keturunan Indonesia juga dijumpai di Pulau Hainan, Republik Rakyat Tiongkok. Yang menarik, ada juga yang berasal dari Rote, Kupang, serta sejumlah daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Saya kaget begitu tahu mereka berasal dari Rote, NTT. Bahkan, mereka sudah enam generasi di Hainan,” ujar Supardi, tokoh masyarakat Indonesia di Hongkong, yang juga aktif menulis untuk media berbahasa Tionghoa, Xingzhouribao, pekan lalu.

Warga keturunan Tionghoa asal NTT di Hainan ini, menurut dia, memiliki postur fisik dan wajah yang persis orang NTT di Indonesia. Ada pula yang menikah dengan penduduk lokal. Supardi mengaku sangat kagum karena mereka masih mempertahankan tradisi dan budaya Indonesia di negeri orang.

“Sampai sekarang banyak di antara mereka yang masih tidak bisa berbahasa Mandarin. Mereka pakai baju batik dan kebaya, minum kopi, makan kue dan sayur-sayiuran seperti di Indonesia,” papar Supardi.

Pada hari-hari raya, mereka berkumpul, makan bersama, kemudian menyanyi dan menari ala Indonesia. Anak-anak dan cucu mereka yang lahir di Hainan pun masih bisa berbahasa Indonesia dengan logat Rote atau Kupang yang khas.

Seperti komunitas Indonesia lainnya di Tiongkok, menurut Supardi, warga Tionghoa asal NTT ini juga merupakan korban Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1959 alias PP 10. Mereka ramai-ramai meninggalkan Indonesia bersama ribuan orang lain karena PP 10 itu melarang warga Tionghoa membuka usaha dagang di luar kota kabupaten. Saat itu mereka mereka memang belum berstatus warga negara Indonesia meski sudah hidup beberapa generasi di tanah air.

“Mereka terpaksa tinggal di tempat leluhurnya di Tiongkok yang sangat asing bagi mereka. Tapi mereka tidak pernah benci atau dendam sama Indonesia. Bahkan, sampai sekarang di antara mereka ada yang tidak bisa berbahasa Mandarin,” katanya.

Mengapa mereka sulit berbahasa Mandarin dan mengikuti adat-istiadat di Tiongkok?

Menurut Supardi, ini karena sejak 1960-an orang-orang yang berasal dari Indonesia ini tinggal di permukiman khusus. Jumlah mereka yang berasal dari NTT dan Manado cukup banyak. Sehingga, setiap hari mereka terbiasa berbahasa Indonesia dengan dialek NTT atau Indonesia Timur umumnya.

“Sampai-sampai mantu mereka yang pribumi (orang Tiongkok) juga bisa berbahasa Melayu dan bikin kue bolu untuk hidangan minum kopi,” kata Supardi.

Saat ini, menurut Supardi, generasi muda Tionghoa keturunan NTT ini banyak yang menjadi pemandu wisata lantaran kefasihan berbahasa Mandarin, Inggris, dan Indonesia. Bahkan, ada yang pulang ke Indonesia untuk membantu perusahaan Tioingkok yang melakukan investasi di tanah air. “Mereka berperan sebagai jambatan penghubung antarkedua negara,” tutur pria yang juga disapa Zhouxin ini.

Seperti mayoritas penduduk NTT, banyak warga Tionghoa keturunan NTT di Pulau Hainan memeluk agama Kristen. Mereka punya gereja khusus yang dibangun dengan bantuan pemerintah Hongkong dan donatur asal Indonesia. (*)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 1 April 2011

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

Kwan im Kiong di Pamekasan




DI KALANGAN WARGA TIONGHOA DI JAWA TIMUR, KELENTENG KWAN IM KIONG PAMEKASAN PUNYA KEUNIKAN TERSENDIRI. TEMPAT IBADAH TRIDHARMA DI TEPI PANTAI TALANGSIRING, KECAMATAN GALIS, INI SELALU DIJADIKAN JUJUGAN PADA PERAYAAN DEWI KWAN IM.

Mengapa Kwan Im Kiong, yang juga dikenal sebagai Vihara Avalokitesvara, selalu didatangi warga Tionghoa, khususnya yang beragama Tridharma? Apa kelebihan kelenteng ini?

Sejumlah warga Tionghoa mengaku tertarik karena rumah
ibadah ini punya sejarah yang panjang. Selain itu, ada semacam legenda atau cerita lisan yang telah berlangsung turun-temurun. "Ada sisa-sisa peninggalan budaya sejak era Majapahit," kata Liem, salah satu pengunjung Kwan Im Kiong, beberapa waktu lalu.

Alkisah, pada tahun 1800-an, seorang laki-laki bernama Pak Burung menemukan empat buah patung yang terbuat dari batu hitam yang keras di kampung Candi. Kampung atau Dusun Candi saat ini termasuk Desa Polaga di wilayah Kecamatan Galis, Pamekasan, Pulau Madura.

Candi merupakan perkampungan yang lokasinya di dekat pantai, yakni pantai Selat Madura. Pantai selatan di daerah Kabupaten Pamekasan. Pantai tersebut kemudian dikenal sebagai Pantai Talang. Pantai Talang ini merupakan pantai yang landai dan bagus pemandangannya. Termasuk juga digunakan sebagai pelabuhan.

Karena itu, tidak heran kalau sejak zaman raja-raja dulu, di pantai Talang dibangun sebuah pelabuhan. Berkat keindahan pemandangan alamnya, Pemerintah Kabupaten Pamekasan kemudian membangun tempat wisata bernama Pantai Talangsiring.

Nah, menurut cerita yang kerap dituturkan warga Tionghoa di Pulau Madura, pantai Talang pada zaman raja-raja dahulu selalu dijadikan tempat berlabuh perahu-perahu dari seluruh penjuru Nusantara. Khususnya armada Kerajaan Majapahit yang mensuplai bahan-bahan untuk keperluan keamanan ataupun spiritual di Pamekasan.

Di antaranya, pengiriman patung-patung dan perlengkapan sembahyang. Maklum, sejak ratusan tahun lalu sudah ada perantau asal Tiongkok yang mencari penghidupan di wilayah Nusantara.

Pada masa Majapahit itu berdiri Kerajaan Jamburingin di daerah Proppo, sebelah barat Pamekasan pada awal abad ke-16. Kerajaan kecil ini menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan, Mojokerto.



Para mahasiswa dan masyarakat yang beragama Islam pun sering main-main alias wisata ke sini. Jangan khawatir, ada mushala untuk salat wajib lima waktu plus salat sunnah.

AWALNYA ADA RENCANA MEMBANGUN SEBUAH CANDI DI SUATU TEMPAT YANG AGAK JAUH DARI JAMBURINGIN. NAMUN, CANDI UNTUK PEMUJAAN ALA KAWULA KERAJAAN MAJAPAHIT ITU GAGAL TERWUJUD.

Candi yang tak pernah terwujud itu disebut penduduk setempat dengan Candi Burung. Burung dalam bahasa Madura berarti gagal. Desa Candi Burung merupakan salah satu desa di Kecamatan Poppo, yang lokasinya berdekatan dengan Desa Jamburingin.

Jamburingin, yang dulunya nama sebuah kerajaan kecil di Pamekasan, saat ini menjadi nama salah satu desa di Kecamatan Proppo. Selanjutnya, seperti diceritakan Kosala Mahinda, ketua Yayasan Vihara Avalokitesvara, dalam situs resmi Kelenteng Kwan Im Kiong Pamekasan, raja-raja Jaburingin yang masih keturunan Majapahit, membangun candi di sebelah timur Kraton Jamburingin.

Tepatnya di kampung Gayam, kurang lebih dua kilometer ke arah timur Kraton Jamburingin. "Sampai saat ini masyarakat masih menyebut tempat tersebut Candi Gayam," katanya.

Saat ini tempat tersebut merupakan semak belukar. Namun, kita masih bisa melihat jejak sebuah candi kuno di sana. Apalagi, setelah ditemukan batu bata berukir yang diperkirakan bekas dinding Candi Gayam.

Demikianlah, kiriman patung-patung dari Majapahit ke Kraton Jamburingin sama sekali tidak terangkat setelah tiba di Pelabuhan Talang. Penduduk saat itu hanya bisa mengangkat beberapa ratus meter saja dari pantai. Karena itu, penguasa Kraton Jamburingin memutuskan untuk mebangun candi di tempat tersebut.

Dalam perkembangannya, kejayaan Kerajaan Majapahit mulai surut. Tak berapa lama kemudian agama Islam mulai tersebar di Pulau Madura, termasuk daerah Pamekasan. Agama Islam ini mendapat sambutan yang sangat baik dari penduduk. Maka, rencana membangun candi di Pantai Talang pun tak pernah terlaksana.

Patung-patung kiriman dari Majapahit pun ditinggalkan orang. Lenyap terbenam oleh zaman dan memang benar-benar tertimbun dalam tanah tanah. Barulah sekitar tahun 1800 Pak Burung menemukan patung-patung di ladangnya.

Kabar tersebut sangat menarik perhatian penjajah Belanda. Karena itu, pemerintah Hindia Belanda meminta Bupati Pamekasan Raden Abdul Latif Palgunadi alias Panembahan Mangkuadiningrat I (1804-1842) untuk mengangkat dan memindahkan patung-patung tersebut ke Kadipaten Pamekasan. Tetapi, karena saat itu peralatan sangat terbatas dan patung-patung tersebut sangat berat, pamindahan ke Kadipaten Pamekasan gagal pula. Maka, patung-patung tersebut tetap berada Di tempat ketika ditemukan Pak Burung.




SEKITAR 100 TAHUN KEMUDIAN, SEBUAH KELUARGA TIONGHOA MEMBELI TANAH TEMPAT DITEMUKANNYA PATUNG-PATUNG OLEH PAK BURUNG. LOKASI ITULAH YANG KEMUDIAN DIBANGUN KELENTENG KWAN IM KIONG ALIAS VIHARA AVALOKITESVARA.


Setelah dibersihkan, keluarga Tionghoa di Madura di era penjajahan Belanda itu akhirnya mengetahui bahwa patung-patung tersebut bukan sembarang patung. Ia ada kaitan dengan patung-patung khas Buddha beraliran Mahayana yang punya banyak penganut di daratan Tiongkok.

Salah satu patung penemuan Pak Burung yang berukuran besar ternyata patung Kwan Im Po Sat alias Avalokitesvara. Tingginya 155 sentimeter. Kabar ini pun tersebar luas di kalangan orang Tionghoa di Pamekasan dan Pulau Madura umumnya. Sejak itulah digagas pembangunan kelenteng untuk menampung Kwan Im Po Sat, dewi welas asih yang sangat dihormati di kalangan masyarakat Tionghoa.

"Jadi, kelenteng ini memang punya sejarah yang sangat panjang," ujar Kosala Mahinda, ketua Yayasan Avalokitesvara, pengelola Kwan Im Kiong di Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan.

Faktor sejarah dan kekhasan inilah yang juga membuat Kwan Im Kiong sejak dulu menjadi jujugan warga Tionghoa. Tak hanya di Jawa Timur, bahkan huaren-huaren dari luar Pulau Jawa pun kerap memanfaatkan kesempatan untuk datang bersembahyang di Kwan Im Kiong. Biasanya, para peziarah dari wilayah-wilayah yang jauh datang dalam rombongan besar.

Kini, setelah Pulau Madura dan Jawa dihubungkan dengan Jembatan Suramadu, praktis kunjungan wisatawan, khususnya warga Tionghoa, ke Kwan Im Kiong meningkat pesat. Hampir setiap hari ada saja warga yang mampir ke vihara di kawasan pantai wisata Talangsiring ini.

"Yah, kami penasaran sama Jembatan Suramadu, sekalian jalan-jalan ke Madura. Kwan Im Kiong memang termasuk salah satu kelenteng yang sangat dikenal umat Tridharma," ujar seorang pengunjung yang mengaku datang dari Sumatera.

Sebagai ungkapan syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas penemuan patung-patung Buddhis di Dusun Candi, Pantai Talangsiring, pengelola TITD Kwan Im Kiong sejak dulu menggelar peringatan hari-hari besar yang berkaitan dengan Dewi Kwan Im secara istimewa. Dalam setahun ada tiga kali perayaan Dewi Kwan Im yang diikuti ribuan orang dengan aneka atraksi menarik.

Bukan itu saja. Semua urusan konsumsi dan akomodasi ribuan pengunjung itu pun ditanggung pengelola kelenteng.



Ini satu-satunya pura di Pulau Madura yang dibangun di kompleks Kelenteng Kwan Im Kiong.


DI TANGAN YAYASAN VIHARA AVALOKITESVARA YANG DIPIMPIN KOSALA MAHINDA, KWAN IM KIONG PAMEKASAN MAKIN DIKENAL DI TANAH AIR. KELENTENG DI PANTAI WISATA TALANGSIRING, KECAMATAN GALIS, INI JUGA MASUK MUSEUM REKOR INDONESIA.

Bagi Kosala Mahinda, bhinneka tunggal ika tak sekadar slogan atau basa-basi belaka. Penghormatan terhadap keberagaman, kemajemukan, masyarakat Indonesia tercermin di dalam kompleks Kwan Im Kiong.

Sebagai sebuah kelenteng atau tempat ibadah Tridharma, tentu saja Kwan Im Kiong punya fasilitas peribadatan untuk agama Samkauw: Buddha, Khonghucu, Taoisme. Namun, yang unik di Kwan Im Kiong adalah keberadaan pura dan musala.

Tak heran, tahun lalu Muri memberikan anugerah khusus kepada pengelola Kelenteng Kwan Im Kiong sebagai simbol kerukunan antarumat beragama. Menurut Kosala Mahinda, sejak dulu para pengelola kelenteng ini memang punya wawasan bhinneka tunggal ika yang kental. Semua agama atau aliran diberi tempat yang layak. "Kami hanya ingin perdamaian dan cinta kasih di antara umat manusia," ujarnya.

Karena itu, jangan heran ketika Anda berkunjung ke Kwan Im Kiong, Anda akan melihat kesibukan para peziarah dengan cara beribadahnya yang khas. Umat Khonghucu langsung mengambil posisi di lithang yang luas, dekat pintu masuk. Ada lukisan jumbo menggambarkan Nabi Kongzi bersama pengikut-pengikutnya. Para konfusian pun berdoa dengan khusyuk di lithang itu.

Kesibukan serupa diperlihatkan peziarah yang Buddhis dan Taois. Mereka langsung menuju ke rumah ibadah mereka, lengkap dengan altar dan rupang-rupangnya. Umat Hindu pun punya pura yang cukup asri. Hanya saja, pura ini biasanya lebih sepi ketimbang lithang, kelenteng, vihara, atau musala. "Tapi tetap saja ada orang Hindu yang datang beribadah di pura," kata Kosala.

Maklum, sampai sekarang di seluruh Pulau Madura, yang terdiri dari empat kabupaten (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep) hanya ada satu tempat ibadah untuk umat Hindu. Yakni, pura kecil yang dibangun di dalam kompleks Kwan Im Kiong. Pihak Muri Semarang pun terkagum-kagum melihat kenyataan ini.

Lantas, bagaimana dengan musala? Nah, tempat ibadah untuk umat Islam ini juga sangat penting mengingat tak sedikit pengunjung yang beragama Islam. Selain pelajar, mahasiswa, atau rombongan wisatawan, banyak pula sopir maupun tim pendukung grup seni budaya yang beragama Islam. Mereka tentu membutuhkan musala yang layak untuk menjalankan salat lima waktu.

"Mungkin baru di Pamekasan ini ada sebuah kelenteng yang punya tempat ibadah untuk lima agama sekaligus," ujar Paulus Pangka, staf Muri Semarang. (*)

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK