25 February 2011

Rahasia Sehat Orang Hokkian



GERAK-GERIKNYA masih lincah. pendengarannya tajam. Memorinya pun sangat bagus. Hampir setiap hari Minggu siang, Bagio Gani (91 tahun) mengisi waktu luang dengan menikmati musik tradisional Tionghoa di kawasan Bunguran Surabaya. Kebetulan ada beberapa pemusik senior yang berlatih musik dan lagu-lagu klasik.

“Lagu-lagu dan musik di sini sudah sangat tua usianya. Jadi, sudah benar-benar klasik karena awet sepanjang zaman,” ujar Bagio Gani kepada saya, Minggu (20/2/2011). Bagio Gani seorang penikmat musik yang baik.

Meski kurang terampil memainkan musik tradisional asal negeri leluhurnya, Bagio dengan mudah merasakan kejanggalan manakala si pemain kurang pas memainkan nada-nada tertentu. Rajin mendengarkan musik berkualitas merupakan salah satu rahasia Bagio Gani yang tetap bugar di usia 91 tahun.

“Jangan sampai stres. Kamu orang boleh cari uang, sibuk kerja ke sana ke mari, tapi engkau jangan lupa menjaga engkau punya kesehatan. Kalian yang masih muda-muda mulai sekarang harus rajin olahraga,” begitu wejangan Yen Tjie Yao, nama Tionghoa ayah enam anak ini.

Kepada saya, Bagio Gani sempat menceritakan pengalaman merantau ke Surabaya pada 1938. Waktu itu penjajah Belanda masih bercokol di tanah air. Tiongkok sedang dilanda perang saudara antara kubu Guomindang dan Gongchandang. Kelaparan hebat, wabah penyakit, muncul di mana-mana.

Tjie Yao yang masih berusia 18 tahun nekat melarikan diri dari Fujian di Tiongkok Selatan dengan naik sebuah kapal. Sebagai orang yang kurang mampu, Tjie Yao tak membawa bekal yang cukup.

“Saya ini bondho nekat, bonek, karena ingin menghindar dari Guomindang (baca: Kuomintang). Guomindang sedang mencari pemuda-pemuda untuk dijadikan tentara di medan perang. Teman-teman di Tiongkok waktu itu takut setengah mati sama Guomindang,” kenangnya.

Menurut Tjie Yao, orang-orang muda yang ‘dibawa’ Guomindang biasanya tak akan pernah kembali ke rumahnya. Hilang tanpa bekas. Di mana makamnya, kapan meninggal, tak jelas. Karena itu, Tjie Yao lebih memilih nekat merantau ke Surabaya ketimbang dipaksa menjadi prajurit Guomindang. Pilihan merantau ke Indonesia, yang belum merdeka dan masih dalam suasana revolusi menjelang kemerdekaan, pun sebetulnya berisiko tinggi.

“Tapi saya memang sudah bulat tekad untuk mencari kehidupan di Hindia-Belanda. Lha, kalau saya ikut Guomindang, umur saya pasti tidak akan sampai 91 tahun seperti sekarang,” tukas pria yang murah senyum ini. (bersambung)




TIDUR DI ATAS GEROBAK

Tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Bagio Gani yang baru datang dari Hokkian (Fujian), Tiongkok, tak tahu harus tinggal dan bekerja di mana. Dia mengaku tak punya kenalan atau kerabat yang lebih dulu merantau ke Surabaya.


“Tapi saya senang karena sudah terbebas dari Guomindang (baca: Kuomintang). Kalau saya sampai ikut Guomindang, ya, habis riwayat saya,” kenang Bagio Gani seraya tersenyum.

Karena itu, dia bertekad bekerja di bidang apa saja, termasuk jadi kuli kasar, untuk bisa menyambung hidup. Surabaya pada 1938, ketika Yen Tjie Yao (nama asli Bagio Gani) berusia 18 tahun, sudah dikenal sebagai kota yang cukup maju di Hindia Belanda bersama dengan Batavia (Jakarta) dan Semarang. Aktivitas perdagangan juga ada meskipun tidak sehebat sekarang.

Setelah mencari informasi ke mana-mana, Bagio Gani akhirnya diterima bekerja sebagai buruh kasar. Tukang pikul dan angkut barang-barang. Bagio mengaku senang meskipun harus bekerja mengandalkan otot-ototnya yang masih muda itu.

Dia berpikir, seandainya tidak nekat merantau ke Surabaya pun kehidupannya di Fujian, Tiongkok Selatan, tidak lebih baik. Bahkan, mungkin hanya tinggal nama setelah dipaksa ikut pasukan Guomindang yang sedang terlibat konflik hebat dengan Gongchandang (baca: Kungchantang) alias Partai Komunis Tiongkok.

“Saya syukuri saja nasib ini,” tutur pria berusia 91 tahun ini. Malam hari, Bagio bersama beberapa temannya tidur di dalam gerobak yang biasa dipakai untuk mengangkut barang-barang di siang hari. Dari hari ke hari, dia menjalani hidup yang sangat berat seperti ini.

Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, suasana perekonomian di Hindia Belanda pun berubah. Sebagaimana para perantau Hokkian lainnya, Bagio mulai merintis usaha pracangan kecil-kecilan. Jaringan pertemanan dan relasinya yang kian luas, khususnya di antara para huaqiao alias perantau Tiongkok, membuat usahanya berkembang.

“Saya tidak sampai jadi kaya, tapi cukuplah untuk hidup bersama istri dan anak-anak,” kata ayah enam anak ini seraya tersenyum.

Menurut dia, perjalanan hidup para huaqiao yang merintis usaha di Indonesia memang sangat berat dan pahit. Jarang ada perantau Tionghoa yang kaya. Semua benar-benar memulai usaha dari bawah. “Kalau diingat kembali cerita masa lalu, wah, kayaknya generasi muda sekarang sangat sulit membayangkannya,” tandas Bagio.



NASI MERAH DAN JAGUNG

Pekerjaan yang fisik ketika masih muda ternyata ibarat olahraga bagi Bagio Gani. Ini membuatnya tetap segar-bugar di usianya yang kini mencapai 91 tahun.


Di Kota Surabaya tempo doeloe, khususnya pada tahun 1950-an hingga 1960-an, banyak terdapat perkumpulan-perkumpulan olahraga dan gimnastik baik milik Tionghoa maupun peninggalan kolonial Belanda. Meski peralatannya tidak secanggih sekarang, pemuda-pemuda Tionghoa biasanya rajin berlatih di tempat-tempat kebugaran seperti itu.

Selain untuk olahraga, menurut Bagio Gani, perkumpulan-perkumpulan itu menjadi ajang sosialisasi. Menjalin hubungan di antara para perantau asal Tiongkok alias huaqiao. Apalagi, waktu itu orang-orang Totok seperti Bagio ini tidak bisa berbahasa Jawa atau Indonesia.

“Kami hanya bicara bahasa Tionghoa dialek Hokkian. Saya susah sekali bicara dalam bahasa Melayu,” cerita Bagio Gani.

Nah, di pusat kebugaran, semacam fitness center, itulah Bagio mengaku rajin berlatih angkat besi, angkat berat, dan membentuk otot-otot tubuhnya. Latihan dilakukan secara teratur meski tak ada target untuk ikut sebuah kejuaran resmi.

Bagio juga punya kebiasaan berolahraga lari dan jalan sehat selepas bangun pagi. Kebiasaan yang masih dirawatnya sampai sekarang.

“Pokoknya, tiap jam empat pagi saya mesti jalan kaki di dekat rumah saya. Jalan pagi-pagi itu bagus karena oksigennya masih bersih,” papar Bagio tentang resep umur panjang dan fisiknya yang bugar di usia kepala sembilan.

Bagi juga selalu menganjurkan anak-anak muda untuk memperhatikan asupan makanan. Usahakan mengonsumsi NASI MERAH dan JAGUNG. Jangan makan nasi putih melulu.

“Beras putih itu vitaminnya sudah hilang sewaktu diselep. Rasanya memang enak, tapi gak ada vitamin. Jagung bagus, beras merah bagus,” tegasnya.

Konsumsi buah-buahan dan sayur-mayur jangan dilupakan.

Banyak minum air putih.

Istirahat yang cukup. Pola atau irama hidup diusahakan teratur.

“Tidur lebih cepat supaya bangun paginya lebih awal. Setelah itu jalan kaki di sekitar rumah,” kata Bagio.

Suwun, Cak Bagio!
Kamsia!
Xiexie nin!


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

24 February 2011

Leo Suryadinata Peneliti Tionghoa





Tidak banyak intelektual di Indonesia yang fokus meneliti masalah Tionghoa di Indonesia. Apalagi di masa Orde Baru, 1966-1998. Prof Dr Leo Suryadinata merupakan salah satu dari yang sedikit itu. Selain Pak Leo, saya mencatat Dr Onghokham dan Dr Ignatius Wibowo SJ. Baik Pak ong dan Romo Wibowo sudah meninggal dunia.

Pak Leo ini orang Tionghoa yang memilih mendalami berbagai aspek Tionghoa sejak tahun 1960-an. “Sampai sekarang pun saya masih aktif mengkaji masalah-masalah Tionghoa di Indonesia,” ujar Leo Suryadinata di kampus Universitas Kristen Petra Surabaya pekan lalu (18/2/2011).

Leo menjadi pembicara utama dalam seminar peresmian Center for Chinese Indonesia Studies (CCIS), lembaga kajian Tionghoa milik UK Petra. Meski tinggal bertahun-tahun di Singapura, sampai sekarang, logat bicara Pak Leo persis Tionghoa jadul alias lao ren di kawasan pecinan Surabaya atau Jakarta.

Bahasa Indonesianya ‘bersih’ dari intevensi bahasa Inggris. Di depan peserta seminar, Pak Leo bahkan bilang lebih suka kalau nama CCIS diindonesikan saja menjadi Pusat Studi Indonesia-Tionghoa. “Tapi tidak apa-apa. Sekarang memang zaman globalisasi, jadi pakai bahasa Inggris,” katanya lantas tertawa kecil.

Masalah Tionghoa di Indonesia, menurut Pak Leo, sangat menarik untuk dibahas dan diteliti. Begitu banyak aspek yang bisa dikupas. Sumbangan orang Tionghoa hampir meliputi semua bidang kehidupan di tanah air. Mulai dari ekonomi, bahasa, sastra, kuliner, media massa, teknologi, perfileman. Sayang sekali, tidak banyak peneliti di Indonesia yang mau menggalinya.

Yang rajin meneliti justru ahli-ahli dari luar. Di Cornell University, USA, misalnya, ada konferensi internasional selama tiga hari mengenai peranan masyarakat Tionghoa dalam perubahan kehidupan di Indonesia. Tema ini sangat menarik.

“Cuma saya lihat di Indonesia sendiri kurang diperhatikan orang,” kata dosen di beberapa universitas terkemuka di Singapura itu.

Begitu banyak buku, artikel, dan riset tentang Tionghoa dilakukan Pak Leo. Semuanya punya perspektif sejarah yang sangat mendalam. Pak Leo berhasil mendapat banyak dokumen penting yang sebetulnya sulit diakses pada masa Orde Baru.

Ini bisa kita baca dalam buku karangannya berjudul Dilema Minoritas Tionghoa. Kita, bangsa Indonesia, tak hanya orang Tionghoa, layak berterima kasih atas petualangan intelektual seorang Leo Suryadinata sejak 1960-an sampai sekarang.

Saya sendiri sangat gembira bisa pertama kali mendengar uraian Pak Leo tentang Tionghoa dalam seminar di UK Petra itu. Ini pengalaman pertama saya melihat langsung wajah Pak Leo, logat bicara, hingga bahasa tubuhnya.

Seperti juga Bung Karno, Pak Leo menekankan pentingnya masyarakat Tionghoa [juga suku-suku lain] belajar dari perjalanan sejarahnya. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai sejarahnya. Kalau mau menjadi suku yang besar, suku Tionghoa harus mau menghargai sejarahnya pula.

22 February 2011

Melantjong Petjinan ke Markas Marga Liem



Selepas menikmati lontong cap go meh, sekitar 70 peserta Melantjong Petjinan Soerabaia VI menuju ke markas Yayasan Lima Bakti di Jl Bunguran 31-33 Surabaya, Minggu (20/2/2011) siang. Para turis lokal ini menumpang enam bemo.

Rombongan diterima Liem Ouyen, tokoh masyarakat Tionghoa Surabaya, yang juga pengurus Yayasan Lima Bakti. Yayasan ini hanya menampung warga Tionghoa di Jawa Timur yang bermarga Liem alias Lin (dalam bahasa Mandarin).

Liem Ouyen dengan fasih menjelaskan sedikit latar belakang Lima Bakti. Menurut dia, perkumpulan ini didirikan pada tahun 1925 untuk menghimpun keturunan marga (she) Liem di Surabaya dan Jawa Timur umumnya.

“Visi dan misi kami semata-mata untuk kegiatan sosial. Saya tegaskan bahwa di sini semua anggota dilarang melakukan kegiatan politik praktis,” tegas Liem Ouyen.

Selama hampir 90 tahun, menurut Ouyen, Lima Bakti tak henti-hentinya melakukan bakti sosial untuk warga kurang mampu baik untuk masyarakat umum maupun di lingkungan marga Liem sendiri. Sebab, tidak semua warga Tionghoa, termasuk yang bermarga Liem, itu mampu secara ekonomi.

“Kita mendirikan rumah pendidikan, memberikan beasiswa, membantu korban bencana alam, hingga pengembangan seni budaya dan olahraga,” papar pengusaha yang bermarkas di Jl Kembang Jepun ini.

Liem Ouyen juga menceritakan sejarah nenek moyang atau leluhur marga Liem di Tiongkok yang bernama Pi-kan Kung. Keturunan Huangdi ke-46 ini lahir tahun 1160 sebelum Masehi. Karena berani menegur Raja Cou yang lalim dan gemar berfoya-foya, Pi-Kan Kung dibunuh pada 1123 SM. Akhirnya, istri Pi-kan yang hamil tiga bulan melarikan diri dan bersembunyi di hutan. Raja Chou kemudian dikalahkan oleh Kaisar Cou Wu Wang yang kemudian mendirikan Dinasti Chou.

Istri Pi-kan melahirkan seorang putra yang cerdas bernama Chuan. Karena lahir di hutan, Kaisar Cou menamakan anak ini Liem dengan nama kecil Cien. “Nah, Liem Cien inilah yang kemudian menjadi leluhur marga Liem yang tersebar di seluruh dunia,” ujar Ouyen.

Selepas mendengar uraian Liem Ouyen, peserta Melantjong Petjinan VI diajak melihat beberapa kegiatan para lansia di Lima Bakti. Ada kaligrafi Tionghoa alias shufa, musik tradisional Tionghoa, hingga catur gajah. Peserta sangat antusias menyaksikan praktik shufa klasik Tiongkok.

“Shufa ini memerlukan bakat dan keahlian tersendiri. Harus bisa tulisan yang kasar dan halus, paham syair-syair dan pepetah klasik Tiongkok. Saya sendiri pun tidak bisa membuat shufa seperti ini,” kata Liem Ouyen yang menjadi ‘pemandu wisata’ di Yayasan Lima Bakti.

Dari Lima Bakti, rombongan pelancong domestik ini mengakhiri petualangan dengan belajar bermain barongsai di Kelenteng Boen Bio, Jl Kapasan 131 Surabaya. “Rasanya capek juga, tapi kita jadi tahu beberapa tradisi Tionghoa di Surabaya,” kata Suparto Brata, sastrawan senior. (*)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 22 Februari 2011

21 February 2011

Pater Stanislaw Pikor SVD



Di usianya yang sudah terbilang senja, 75 tahun, Pastor Stanislaw Pikor SVD masih terlihat dinamis dan aktif melayani umat. Padahal, pastor asal Polandia ini sudah lama memasuki masa pensiun. Begitu cintanya dia dengan Indonesia, khususnya Surabaya, Pater Pikor -- sapaan akrabnya Stanislaw Pikor -- enggan pulang kampung untuk menikmati masa tuanya di Polandia.

Oleh LAMBERTUS HUREK


Saat saya temui di ruang kerjanya di Biara Soverdi, Jalan Polisi Istimewa Surabaya, pekan lalu, Pater Pikor sedang sibuk bekerja layaknya seorang tukang berpengalaman. Romo senior yang ramah dan murah senyum ini memang senang mencari kesibukan meskipun banyak teman dan relasinya meminta dia agar lebih banyak istirahat. Berikut petikan percakapan saya dengan Pater Pikor SVD:

Sudah berapa lama Pater bertugas di Surabaya?

Yah, sejak tahun 1978 saya diutus ke sini. Saya juga heran kok ternyata sudah 23 tahun lamanya saya tinggal dan bekerja di sini. Rasanya seperti belum lama.

Banyak pastor yang sering dimutasi ke berbagai tempat, sementara Pater bertahun-tahun ditugaskan di Surabaya. Apa tidak bosan atau jenuh?

Bosan? Jenuh? Saya tidak pernah mengalami yang namanya bosan atau jenuh. Sebab, saya hanya melaksanakan tugas perutusan untuk melayani umat dan masyarakat umum. Jadi, saya justru merasa senang dan bahagia berada di Surabaya.

Sudah banyak pastor misionaris yang kembali ke negara asalnya setelah pensiun untuk menjalani hari tua mereka. Mengapa Pater Pikor memilih menjalani masa pensiun di Kota Surabaya?

Hehehe. Saya tahu maksud pertanyaan Anda. Orang bisa meninggal di mana saja. Bisa meninggal di Polandia, di Indonesia, Belanda, Amerika Serikat... Memang ada saja keluarga atau kerabat (di Polandia) yang minta supaya saya pulang kampung. Tapi saya merasa punya jauh lebih banyak kenalan dan sahabat di Indonesia daripada di Polandia.

Jangan-jangan Pater sudah lupa dengan Polandia?

Oh, tidak! Saya ini sekali Polandia tetap Polandia! Tapi saya sudah mencintai Indonesia, sudah tinggal di Indonesia sejak tahun 1965, sehingga saya betah berada di sini. Yang penting, saya berusaha agar tetap menjadi orang yang berguna bagi masyarakat di sini.

Artinya, Pater ingin menyatakan tidak ingin pensiun meskipun sudah memasuki usia pensiun?

Dalam hidup ini, saya tidak kenal kata ‘pensiun’. Di SVD (Societas Verbi Divini, kongregasi atau ordo tempat Pater Pikor bernaung, Red) memang ada masa pensiunnya. Tapi saya sendiri merasa tidak pernah pensiun. Sebab, setiap hari saya masih aktif bekerja di bengkel. Dan itu tidak ada hari liburnya.

Bengkel apa itu?

Bengkel rohani. Hehehe.... Di bengkel rohani ini saya harus melayani orang-orang sakit baik yang membutuhkan perawatan rohani maupun jasmani. Saya juga membantu mengurus obat-obatan, mencarikan dokter, hingga memberikan Sakramen Minyak Suci. (Sakramen atau ritual khusus dari seorang pastor kepada umat Katolik yang sedang menderita penyakit gawat atau menjelang sakratul maut.)

Nah, di Kota Surabaya ini ada begitu banyak orang yang perlu dilayani di bengkel rohani. Ada banyak orang NTT seperti Anda, orang Jawa, Kalimantan, Sumatera... dari mana saja yang membutuhkan pendampingan. Karena itu, saya banyak berada di rumah sakit baik diminta maupun tidak. Pekerjaan seperti ini tidak mengenal kata pensiun.

Soal lain. Bagaimana Pater melihat kasus korupsi yang makin banyak terjadi di Indonesia?

Korupsi dan penyalahgunaan wewenang itu ada di mana-mana. Dan korupsi itu sudah ada sejak dulu. Jangan dikira di Eropa tidak ada korupsi. Tapi cara korupsinya mungkin lebih halus. Di China yang hukumannya sangat berat pun korupsi jalan terus sampai sekarang. Jadi, yang namanya korupsi itu bukan hanya monopoli orang Indonesia.

Lantas, apa usulan Anda untuk mengurangi korupsi?

Tegakkan hukum. Dan itu tugas pemerintah beserta aparat-aparatnya. Sebagai rohaniwan, saya hanya bisa mengimbau agar kita lebih takut akan Tuhan. Moralitas harus diperbaiki. (rek)



BIODATA SINGKAT

Nama : Stanislaw Pikor SVD
Lahir : Lwow, Polandia, 29 September 1935
Pendidikan : Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (Seminari Tinggi) di Polandia
Profesi : Pastor
Spesialisasi : Pastoral Orang Sakit
Tahbisan Imamat : Polandia, 30 Januari 1961
Ke Indonesia : 28 Agustus 1965
Tugas di Surabaya : 1978 di Biara Soverdi
Moto : If you have nothing to do, please don’t do it here.


Tiba Menjelang G30S

Di usia 30 tahun, Romo Stanislaw Pikor SVD harus meninggalkan Polandia, tanah airnya, menuju Indonesia. Peristiwa itu terjadi pada 28 Agustus 1965. Situasi politik di tanah air saat itu tidak menentu.

Sebulan kemudian, terjadi peristiwa berdarah yang dikenal sebagai Gerakan 30 September 1965. Romo Pikor bersama belasan pastor Polandia yang lain, termasuk Romo Josef Glinka SVD, pun harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sama sekali baru.

Romo Pikor langsung ditugaskan di Flores, Nusa Tenggara Timur. “Saya jadi dosen teologi di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Ledalero,” cerita Romo Pikor seraya tersenyum.

Seperti para misionaris asal Polandia umumnya, Romo Pikor punya bakat bahasa yang besar. Dia dengan mudah mempelajari bahasa-bahasa baru. Karena itu, dalam waktu singkat, dia sudah mampu berbahasa Indonesia dengan baik. Dan dia dengan fasih menjelaskan berbagai konsep-konsep filsafat dan teologi di depan para mahasiswa STFT Ledalero yang dipersiapkan menjadi pastor.

Meski tergolong poliglot, menguasai sedikitnya tujuh bahasa di dunia, Romo Pikor selalu merendah. “Ah, saya ini tidak ada apa-apanya. Yang punya kemampuan bahasa hebat itu Pater Josef Pienazek. Umurnya kira-kira 84 tahun.
Dia tidak hanya bisa, tapi benar-benar lancar berbahasa Indonesia, Polandia, Jerman, Inggris, Prancis, Portugal, Swedia, Latin, Yunani, Ibrani, dan beberapa lagi,” tukasnya.

Kemampuan berbahasa para pastor senior ini tidak lepas dari sistem dalam pendidikan seminari tempo dulu. Kuliah filsafat dan teologi ditempuh tiga tahun, sementara bahasa Latin berlangsung selama empat tahun. Para calon pastor ini juga mempelajari bahasa Yunani dan Ibrani.

“Bahasa Latin itu bahasa mati. Artinya sudah tetap, tidak bisa berubah-ubah. Dan bahasa Latin ini menjadi dasar dari bahasa-bahasa modern di Eropa,” tegasnya.

Karena itulah, orang yang sudah menguasai bahasa Latin, dia akan lebih mudah mempelajari bahasa-bahasa Eropa yang lain. (rek)



Dimuat di RADAR SURABAYA edisi 20 Februari 2011.
COPYRIGHT © 2011 CATATAN HUREK

18 February 2011

Alex Beding Pelopor Pers di NTT




Oleh LAMBERTUS LUSI HUREK


Akhirnya, saya bisa bertemu dan berdiskusi panjang lebar dengan Pater Alex Beding SVD di Biara Soverdi Surabaya, Kamis (17/2/2011) siang. Pater berusia 87 tahun ini sangat terkenal bukan saja di Lembata atau Flores Timur, tapi juga di seluruh Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pater Alex Beding SVD adalah pelopor penerbitan pers di bumi NTT dengan surat kabar DIAN yang sekarang sudah padam alias tidak terbit itu. Pekan lalu (9/2/2011), pada peringatan Hari Pers Nasional di Kupang, NTT, yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Pater Alex Beding menerima salah satu penghargaan bergengsi di bidang pers.

Award atas jasanya mendirikan surat kabar dua minggu DIAN, yang kemudian berubah menjadi mingguan, di Kota Ende, Pulau Flores. “Tapi saya tidak ikut ke Kupang karena ada urusan di Jakarta. Saya cukup diwakili oleh Charles,” kata pastor kelahiran Lamalera, Pulau Lembata, 13 Januari 1924, ini kepada saya.

Pater Alex Beding SVD bangga sekaligus sedih atas penghargaan itu. Bangga karena jasanya sebagai pendiri, pemimpin umum, dan pemimpin redaksi DIAN diingat pemerintah. Bangga karena pada awal 1970-an, ketika masyarakat NTT masih banyak yang buta huruf, dia bersama misionaris Societas Verbi Divini (SVD) mampu menerbitkan koran yang sukses di NTT.

Tapi, di pihak lain, Pater Alex Beding sangat sedih karena DIAN hanya tinggal nama. Jadi catatan sejarah karena sengaja “dimatikan” oleh pater-pater yang lebih muda. Pater Alex sendiri mengaku tidak diajak bicara dengan keputusan penting mematikan koran mingguan DIAN.

“Tahu-tahu saja DIAN sudah tidak terbit,” katanya memelas. “Ada kebijakan yang sangat berbeda. Saya juga sampai sekarang tidak paham apa pertimbangan mereka-mereka di Ende.”

Koran DIAN memang sangat terkenal di NTT, khususnya Flores dan sekitarnya. Selama bertahun-tahun DIAN menjadi bacaan keluarga kami di kampung, Lewotanah, tercinta. DIAN yang biasanya hanya dilanggan guru-guru SD di kampung biasanya dibaca ramai-ramai para murid SD, kemudian beredar ke mana-mana. DIAN menjadi sumber informasi terpenting di Flores hingga akhir 1990-an.

Menurut Pater Alex Beding, penerbitan pers di Flores sebenarnya sudah dimulai pada 1926 dengan BINTANG TIMUR. Majalah bulanan ini diterbitkan para pastor SVD yang berbasis di Ende. Sebuah keberanian yang luar biasa, boleh dibilang nekat, mengingat pada saat itu hanya segelintir orang NTT yang bisa baca-tulis.

Hanya guru-guru sekolah rakyat (SR) dan murid-murid SR yang bisa membaca. Plus pegawai-pegawai pemerintah Hindia Belanda. Majalah BINTANG TIMUR ini menggunakan bahasa Melayu, karena bahasa Indonesia memang belum ada. Hebatnya, menurut Alex Beding, majalah ini dicetak di Jogjakarta dan distribusinya di NTT, khususnya Flores. Bisa dibayangkan biaya distribusi dan lamanya perjalanan dengan kapal laut dari Jawa ke Flores.

Usia BINTANG TIMUR tak sampai 20 tahun. Ketika Indonesia merdeka, 17 Agustus 1945, dan sesudahnya, NTT yang waktu itu ikut Provinsi Sunda Kecil sama sekali tak punya pers. Tak ada majalah bulanan atau dua bulanan, tabloid, surat kabar. Orang NTT hanya bisa mengikuti informasi melalui radio. Dan, ingat, pada tahun 1950-an radio masih merupakan barang mewah. Dus, boleh dikata, masyarakat NTT benar-benar tak punya akses pada informasi di luar kampung halamannya.

“Sekitar 15 tahun kita di Flores, NTT, vakum dengan media. Orang tidak punya bahan bacaan. Kita mau baca apa?” ujar Pater Alex Beding SVD.



Frater Alex Beding, yang kala itu berusia 27 tahun, ditahbiskan sebagai pastor di Nita, Kabupaten Sika, pada 24 oktober 1951. Alex Beding tercatat dalam sejarah sebagai putra Lembata pertama yang berhasil ditahbiskan sebagai pastor.

Bakat menulis Alex Beding sudah lama diasah seperti juga pemuda-pemuda Lamalera, kampung pemburu ikan paus di Pulau Lembata, yang akhirnya bersekolah dan terlibat aktivitas intelektual. Pater Alex Beding yang masih muda dan energetik cukup lama menjadi pengajar Seminari Menengah Mataloko.

Sebagai pastor intelektual, Alex Beding risau dengan kegelapan yang sedang melanda NTT, khususnya Flores, termasuk Pulau Lembata, kampung halamannya. Sekolah-sekolah rakyat sudah dibuka, tapi masih sedikit. Ada lulusan SR yang disekolahkan di SGB dan SGA sebagai guru-guru desa. Mulai banyak orang NTT yang bisa membaca. Tapi, jika tidak ada bahan bacaan, maka kemampuan baca-tulis ini perlahan-lahan akan hilang. Orang akan menjadi lupa huruf.

Misi SVD di Ende punya Percetakan Arnoldus yang banyak menerbitkan buku-buku katekese untuk pembinaan jemaat Katolik. Tapi, bagi Pater Alex Beding, buku-buku ini terlalu mahal. Siapa yang bisa beli? Sementara rakyat Flores tidak punya uang, masih bergelut dengan kemiskinannya. Alih-alih membeli buku, untuk makan sehari-hari saja masih kurang.

“Saya pikir, satu-satunya jalan adalah membuat surat kabar. Media yang terbit secara rutin, isinya tidak terlalu berat, juga tidak terlalu ringan, tapi tetap sejalan dengan pengembangan Gereja Katolik. Bagaimanapun juga sebagian besar orang NTT itu Katolik dan Kristen Protestan,” kenang Pater Alex Beding.

Pater Alex Beding kemudian mendiskusikan gagasan ini bersama Marcel Beding (sekarang almarhum), yang juga kerabatnya. Marcel ini wartawan kawakan yang bekerja di harian KOMPAS, Jakarta. Gayung bersambut. Mereka sepakat menciptakan sebuah dian, lampu kecil, yang akan menerangi masyarakat NTT.

Melalui serangkaian diskusi, negosiasi, perhitungan untung-rugi, analisis segmen pembaca, sistem distribusi, konten, sumber daya manusia, staf redaksi... akhirnya para pembesar SVD di Ende setuju menerbitkan sebuah surat kabar. Persiapan, uji coba, dilakukan tahun 1973.

Termasuk mengurus Surat Izin Terbit (SIT) kepada Kementerian Penerangan di Jakarta. Di masa Orde Baru, 1966-1998, semua penerbitan pers harus punya SIT, yang kemudian diubah menjadi SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers). Bupati Ende Herman Joseph Gadi Djou juga merestui dan mendukung penuh penerbitan surat kabar ini.

Dan pada 24 Oktober 1974 edisi pertama DIAN mulai beredar di bumi NTT. DIAN akhirnya mengisi kekosongan yang ditinggalkan majalah BENTARA pimpinan Pater Adrianus Conterius SVD. BENTARA ini pun media yang usianya tak sampai 15 tahun.

“Kok tanggal pendirian sama dengan tanggal tahbisan Pater Alex Beding di Nita?” pancing saya.

Sang pastor senior ini tersenyum lebar. “Sengaja dibuat sama agar gampang diingat. Hehehe...,” katanya.

Saat itu DIAN terbit dua mingguan dalam format majalah. Isinya hampir 100 persen tentang berbagai informasi yang terjadi NTT. Pater Alex Beding langsung berperan sebagai pemimpin umum, penanggung jawab, sekaligus menyeleksi dan mengedit naskah-naskah yang masuk. Alex juga akhirnya berhasil meyakinkan Ben Oleona, juga orang Lamalera, Lembata, keponakan Pater Alex Beding, untuk memperkuat redaksi DIAN di Jalan Katedral 5 Ende.

Prinsip kehati-hatian ala pastor-pastor SVD benar-benar diterapkan Pater Alex Beding dalam mengelola DIAN. Karena itu, dalam usianya yang hampir mencapai 30 tahun, DIAN tak pernah menghadapi masalah dengan pemerintah. Pun tidak ada gugatan ke pengadilan atau gangguan terhadap wartawan dan korespondennya.

“Saya bahagia karena sempat merayakan pesta perak, 25 tahun, DIAN. Saya juga bahagia karena penerbitan DIAN ini berlangsung lancar, mulus, hampir tidak ada masalah yang berarti. Semuanya bisa kami selesaikan dengan baik,” katanya.

Keberhasilan DIAN sebagai pers berpengaruh di NTT selama tiga dekade tentu tak hanya berkat kehebatan Pater Alex Beding dan teman-teman Lamaleranya. Pastor-pastor SVD yang berkarya di NTT mendukung penuh. Para pastor ini berperan di lapangan sebagai agen dan distributor. Gereja-gereja baik di paroki maupun stasi menjadi oulet DIAN.

Guru-guru SD di kampung-kampung, yang dulu juga merangkap sebagai katekis-katekis ulung, ikut menjadi pelanggan dan penyalur. Sebuah kerja sama lintas sektoral ala total football yang membuat DIAN mampu berjaya ketika begitu banyak media di luar NTT yang senen-kemis, kemudian gulung tikar, karena kekurangan pembaca dan modal.

Namun, sejarah terus berulang! Nasib DIAN pun pada akhirnya mengikuti jejak BINTANG TIMUR dan BENTARA. Sama-sama meredup, kemudian padam, ketika sang pendirinya kian rapuh dimakan usia.

17 February 2011

Batavia Madrigal Singers di Surabaya



Sebagai ensembel vokal terkemuka, Batavia Madrigal Singers (BMS) sering berkeliling dunia dalam 10 tahun terakhir. Paduan suara pimpinan Avip Priatna ini pun bolak-balik menggondol penghargaan bergengsi tingkat internasional.

Sebut saja penghargaan bergengsi di Prancis (2001), Taiwan (2004), Jepang (2006), Spanyol (2006), Jepang (2007), Slovenia (2007), Austria dan hungaria (2009). Tahun lalu, 2010, BMS beroleh penghargaan bergengsi di Arezzo, Italia. BMS dan Avip Priatna pun kemudian dikenal sebagai ‘macan paduan suara’ Indonesia.

Anehnya, kor yang bermarkas di Jakarta ini hampir tak pernah melakukan tur di kota-kota besar di tanah air. Karena itu, jangan heran, BMS jauh lebih terkenal di negara lain ketimbang di negara sendiri. Syukurlah, Ahad (13/2/2011) petang, BMS bersama Avip Priatna ‘berkenan’ menemui para penggemar musik klasik, khususnya paduan suara, di Kota Surabaya.

Meski tak sampai penuh sesak, layaknya konser musik pop, para penikmat paduan suara tak beranjak dari Auditorium Universitas Kristen Petra di Jalan Siwalankerto Surabaya. Aplaus berkepanjangan terdengar bahkan hingga konser bertajuk All Things & Beautiful ini kelar.

“BMS ini ciamik soro (sangat bagus). Kita beruntung bisa melihat langsung konser BMS yang memang sudah berstandar internasional,” ujar seorang mahasiswi UK Petra, yang juga aktivis paduan suara di kampusnya.

Diiringi Chorda Sonum, string ensemble asal Surabaya, konser BMS dibagi dalam dua sesi. Bagian pertama menampilkan komposisi rohani karya empat komposer terkemuka, yakni Komm Suesser Tod (Knut Nystedt), Alleluia (Ralph Manuel), Mass for Mixed Choir, Piano, and String Orchestra (Steve Dobrogosz).

Bagian kedua menghadirkan komposisi karya John Rutter, salah satu legenda paduan suara, antara lain bertajuk Wings of The Morning, I Will Sing with The Spirit, dan Look at The World.

BMS tak lupa menghadirkan tiga solis andalannya, yakni Fitri Muliati, Indah Pristanti, dan Rainier Revireino. Nomor penutup yang sangat familier, When The Saints Go Marching In, menutup pergelaran di saat gerimis menimpa Kota Surabaya itu. Aplaus panjang bergema. Penonton puas, begitu pula Avip bersama anak buahnya.

Berbeda dengan konser-konser biasa, Avip Priatna, sang pendiri sekaligus dirigen BMS, menyediakan waktu khusus untuk dialog interaktif. Semua penonton bebas bertanya apa saja seputar musik, khususnya paduan suara. Insinyur lulusan Universitas Parahyangan Bandung, yang ‘nyempal’ mendalami musik klasik ke Wina, Austria, ini memberi motivasi kepada para mahasiswa UK Petra agar tidak setengah-setengah mendalami paduan suara.

Avip Priatna juga menceritakan sistem rekrutmen anggota BMS. Begitu banyak anak muda di Jakarta dan sekitarnya yang tertarik ikut BMS. Namun, Avip memberlakukan sistem seleksi yang sangat ketat dan berlapis. Mereka juga harus berlatih dengan disiplin yang tinggi. Itulah yang antara lain membuat BMS sebagai salah satu paduan suara Indonesia yang layak dibanggakan.

“Saya senang bisa menghadirkan BMS di Surabaya. Bagus banget penampilan mereka. Muda-mudahan ke depan kita bisa menampilkan paduan suara lain yang tak kalah bobotnya,” kata Patrisna Widuri, pianis sekaligus pimpinan Amadeus Enterprise Surabaya.

16 February 2011

Sioe Ming Guru Mandarin di Sidoarjo



Oleh Lambertus Hurek

Selama tiga dekade Chen Sioe Ming harus bergerilya untuk mengajar bahasa Mandarin dari rumah ke rumah di Surabaya dan Sidoarjo. Kini, guru senior ini gembira melihat bahasa Mandarin kembali dipelajari di sekolah-sekolah.

Begitu lulus dari sebuah Sekolah Guru Atas (SGA) Tionghoa di Surabaya, Chen Sioe Ming langsung diberi kesempatan untuk mengajar di sekolah dasar Tionghoa di kawasan Kranggan, Surabaya. Berbeda dengan kebanyakan warga Tionghoa yang membuka usaha dagang, Sioe Ming memanfaatkan ijazah SGA-nya untuk mengajar, mengajar, dan mengajar.

“Pokoknya, saya mulai mengajar di sekolah mulai tahun 1960. Dunia saya memang tidak bisa lepas dari sekolah,” cerita Chen Sioe Ming kepada saya di kediamannya, Jalan Raden Fatah Sidoarjo, Jawa Timur.

Seperti juga guru-guru lama yang digembleng di SGA atau SGB, Sioe Ming punya semacam panggilan jiwa sebagai pendidik. Menjadi guru adalah sebuah dedikasi, berbakti untuk mengajar dan mendidik anak-anak bangsa sebagai generasi yang berhasil dan maju di masa depan.

Sayang, kebahagiaan Sioe Ming sebagai guru (laoshi) bahasa Mandarin tidak bisa bertahan lama. Suasana politik di tanah air saat itu memang kurang kondusif, sarat konflik antara berbagai elemen bangsa. Dan meletuslah peristiwa Gerakan 30 September 1965. Buntut peristiwa yang kemudian dikenal sebagai G30S itu, kehidupan warga Tionghoa di tanah air pun menjadi berubah drastis.

Sekolah-sekolah Tionghoa ditutup. Bahasa Tionghoa dilarang. Aksara Tionghoa pun tak boleh diperlihatkan di muka umum. Budaya dan tradisi Tionghoa diberangus secara sistematis. Sioe Ming sendiri, yang tidak paham seluk-beluk politik, terpaksa menerima kenyataan bahwa sekolah tempatnya mengajar pun dibredel oleh pengusaha.

“Sejak Gestapu itulah saya tidak bisa mengajar di sekolah lagi. Padahal, saya ini sudah kadung senang mendidik anak-anak di sekolah,” kata perempuan berusia 72 tahun ini.

Setelah turun Surat Perintah 11 Maret 1966, yang kemudian dikenal dengan Supersemar, dimulailah rezim Orde Baru yang dipimpin (pejabat) Presiden Soeharto. Alih-alih menghidupkan sekolah-sekolah Tionghoa, Presiden Soeharto justru mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang intinya melarang segala tradisi, budaya, dan bahasa Tionghoa di Indonesia.

Bahasa Tionghoa baik bahasa nasional Mandarin alias Putonghua maupun bahasa-bahasa dialek lokal, seperti Fujian atau Guangdong, diharamkan pemerintah. Chen Sioe Ming pun mengaku kelimpungan mengingat dia hanya punya kemampuan sebagai laoshi alias guru.

Merintis usaha dagang, bagi orang Tionghoa yang sejak awal memilih profesi sebagai pendidik, jelas bukan perkara mudah. “Wah, waktu itu saya khawatir sekali mengingat saya ini guru bahasa Tionghoa,” kenangnya.

Aborsi versus Pro-Life



JAWARA ABORSI: Dokter Edward Armando ditangkap lagi pada 2 Februari 2010 karena mengaborsi 1.500 janin. Aparat Polres Sidoarjo menyita berbagai peralatan untuk mengugurkan kandungan pasien-pasiennya.

Kasus aborsi untuk kesekian kalinya terungkap di Surabaya dan Sidoarjo. Setiap hari puluhan janin yang dibunuh. Ada-ada saja alasan pembenarannya. Lagu lawas justifikasi ala para pelaku aborsi macam Dokter Edward Armando di Surabaya.

Dokter senior ini mengaku justru membantu 'pasien-pasien' yang minta jabang bayinya digugurkan. "Kok saya malah ditangkap? Diadili segala?" protes Edward, dokter paling top di Jawa Timur untuk urusan aborsi.

Kalangan aktivis Pro-Life, yang berbeda filsafat dan ideologi dengan Edward, tentu saja meradang. Posisi Pro-Life tetap keukeh: Aborsi merupakan tindakan yang sangat tidak menghargai kehidupan. Bagi Pro-Life, aborsi itu sama saja dengan pembunuhan janin alias jabang bayi. Dus, harus ditolak mati-matian.

“Kita sedih karena kasus aborsi ini muncul terus-menerus di Surabaya. Apalagi, pelakunya dokter yang sama, yang seharusnya berperan melindungi jabang bayi yang tidak berdosa itu,” kata Joice D. Indarto, aktivis Pro-Life, dalam sebuah diskusi dengan saya di Wisma Keuskupan Surabaya, pekan lalu.

Bagi Joice, apa pun alasan dan dalilnya, aborsi dalam bentuk apa pun tidak bisa dibenarkan. Hampir semua tokoh berbagai agama di Indonesia, kata dia, sejak dulu melarang keras tindakan aborsi. Penggugura kandungan hanya boleh dilakukan dokter dengan pertimbangan medis. Misalnya, karena jiwa si ibu terancam.

Bagaimana dengan dalih dr Edward Armando bahwa dia hanya mengaborsi janin berusia di bawah tiga bulan?

Joice Indarto geleng-geleng kepala. “Mau tiga bulan, dua bulan, atau satu bulan... tetap tidak bisa. Janin itu punya hak hidup yang harus dihormati,” tegasnya.

Joice yang juga staf Komisi Keluarga Keuskupan Surabaya ini bisa ‘memahami’ kesulitan para wanita yang hamil di luar nikah. Juga ibu-ibu yang kehamilannya memang tidak dikehendaki. Tapi masih banyak jalan untuk menyelamatkan janin di dalam kandungan itu.

“Tidak bisa dengan jalan pintas seperti aborsi,” tegasnya.

Ketika menghadapi kehamilan yang tidak dikehendaki, ‘kecelakaan’, menurut Joice, si ibu hamil atau orangtuanya bisa berkonsultasi dengan rohaniwan, komisi keluarga, atau pihak-pihak lain yang terkait dengan Pro-Life. Cukup banyak lembaga di Surabaya yang bersedia menampung si ibu hamil hingga melahirkan. Setelah melahirkan, sang bayi bisa dititipkan dan diasuh di lembaga tersebut.

“Saya sendiri sudah sangat sering melayani kasus-kasus seperti ini. Intinya, jangan sampai nyawa si calon bayi di dalam rahim itu dikorbankan dengan cara aborsi,” tukas Joice.

Kasus kehamilan yang tak dikehendaki cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Karena itu, Joice mengimbau para orangtua untuk selalu mendampingi anaknya dan mencarikan jalan keluar yang positif. Bukan dengan memberi rujukan ke dukun aborsi atau dokter-dokter ‘spesialis’ aborsi.

“Banyak lho pasutri yang ingin mengadopsi anak di Surabaya. Kan lebih bagus bayi itu diserahkan kepada mereka untuk diasuh dan dibesarkan,” kata Joice. (*)

Cap Go Meh Pesta Lampion



Perayaan tahun baru Tionghoa (Sincia) berlangsung selama dua pekan. Pesta tahunan ini ditutup dengan upacara Cap Go Meh pada tanggal 15 bulan 1 Imlek.

Oleh Lambertus Hurek
Wartawan Radar Surabaya


SEBELUM Orde Baru berkuasa pada 1966, Cap Go Meh selalu dirayakan secara besar-besaran. Di berbagai kota yang punya komunitas Tionghoa diadakan pawai lampion dan pawai budaya Tionghoa. Masyarakat luas ikut bergembira menyaksikan pasar malam yang meriah itu.

“Orang-orang Tionghoa yang kaya biasanya nanggap wayang potehi, wayang kulit, hingga sandiwara keliling. Suasana hiburan benar-benar terasa pada saat Cap Go Meh,” ujar Markus AS, penulis buku Hari-Hari Raya Tionghoa.

Tempo doeloe, pergaulan di antara muda-mudi tak sebebas sekarang. Belum ada yang namanya pacaran atau jalan bersama di antara muda-mudi. Karena itu, Cap Go Meh juga dianggap sebagai momentum bagi muda-mudi untuk saling berkenalan satu sama lain.

Mereka ramai-ramai pergi ke kelenteng atau menyaksikan pasar malam Cap Go Meh sambil menjalin hubungan asmara. “Orang Tionghoa tempo dulu juga biasanya melakukan ciamsi, menanyakan peruntungannya selama 12 bulan di tahun yang baru,” tutur Markus.

Versi lain menyebutkan, Cap Go Meh sebagai pesta musim bunga untuk menghormati matahari yang muncul di musim dingin berkabut. Hari ke-15 di awal tahun itu biasa digelar atraksi hiburan seperti barongsai dan liang-liong secara meriah.

Biasanya, ada warga yang mengklaim melihat binatang pembawa rezeki yang disebut kilin. Kilin sendiri, menurut Tong Tjung An, pemerhati budaya Tionghoa, hanyalah binatang fiktif dalam kebudayaan Tionghoa seperti naga atau liong. Kehadiran si kilin ini pertanda ada rezeki dan hari-hari yang bagus.

“Sulit dibuktikan, tapi ada saja orang yang mengaku sudah melihat sosok kilin ini,” tukas Tjung An.

Menurut Tjung An, perayaan Sincia, Cap Go Meh, dan hari-hari raya Tionghoa yang lain tak bisa dipisahkan dari latar belakang Tiongkok kuno sebagai negara yang hidup dari pertanian. Karena itu, semua hari besar Tionghoa memang punya hubungan erat dengan tradisi para petani Tiongkok zaman dulu.

Setiap tahun, selama 14 hari, para petani Tiongkok ini punya tradisi untuk ‘cuti bersama’ sambil merayakan Sincia alias Xinnian. Hari pertama, hari kedua, hingga hari ke-14 selalu ada jadwal tetap bagi mereka untuk mengisi dua pekan pertama di tahun yang baru.




Di Tiongkok, Cap Go Meh lebih dikenal sebagai Hari Raya Lampion. Kalau di Indonesia, warga peranakan Tionghoa biasa menikmati lontong Cap Go Meh, masyarakat Zhongguo lebih suka menyantap onde-onde.


SYAHDAN, pada tahun 180 SM, masa Dinasti Han Barat, Kaisar Han Wendi naik takhta pada tanggal 15 bulan pertama Imlek. Untuk merayakan penobatannya, Kaisar Han Wendi memutuskan menjadikan tanggal 15 bulan pertama sebagai Hari Raya Lampion.

Kaisar Han Wendi mempunyai kebiasaan keluar istana untuk berjalan-jalan sambil merayakan festival itu bersama rakyat. Pada 104 SM, Festival Cap Go Meh secara resmi dicantumkan sebagai hari raya nasional. Keputusan itu membuat Hari Cap Go Meh menjadi benar-benar meriah. Setiap tempat umum dan setiap keluarga wajib memasang lampion berwarna-warni.

Dan di jalan-jalan utama dan pusat kebudayaan juga digelar pameran lampion besar-besaran secara meriah. Seluruh rakyat, baik tua maupun muda, pria maupun wanita semuanya mendatangi pameran lampion untuk menyaksikan lampion dan tarian lampion naga. Mereka juga bisa ikut permainan menebak teka-teki.

Menurut catatan sejarah, lampion paling spektakuler adalah Lampion Aoshandeng yang dibuat pada masa Dinasti Song abad ke-10. Aoshan adalah gunung tinggi di lautan yang dalam dongeng kuno diceritakan bahwa Gunung Aoshan terapung-apung mengikuti gelombang laut. Untuk membuat Gunung Aoshan dapat berdiri stabil, Kaisar Khayangan memerintahkan 15 ekor kura-kura untuk menyokongnya.

Dongeng itu menceritakan bahwa saat itu rakyat merancang lampion Aoshan secara besar-besaran dengan beberapa kura-kura berukuran besar menggendongnya. Di atas gunung itu dinyalakan ribuan lampion, dan di atas permukaan lampion-lampion itu dihiasi batu, pohon, patung, dan lukisan. Di atas gunung lampion itu, para pemusik memainkan musik, dan di depan gunung itu juga dibangun sebuah panggung untuk menggelar pertunjukan tari.

Lampion warna-warni yang dipasang pada Cap Go Meh kebanyakan dibuat dari kertas berwarna terang. Lampion bernama zoumadeng atau lampion kuda berlari adalah salah satu jenis lampion yang paling menarik. Konon lampion itu sudah bersejarah seribu tahun lamanya.

Makan onde-onde pada Hari Cap Go Meh juga merupakan salah satu kebiasaan lama. Kebiasaan makan onde-onde dimulai dari masa Dinasti Song (960-1279 Masehi). Onde-onde dibuat dengan tepung beras ketan dan selai buah. Warga Zhongguo di bagian utara menyebut onde-onde sebagai yuanxiao, sedangkan rakyat di bagian selatan menyebutnya tangyuan. Cara pembuatan onde-onde di utara juga lain dengan di selatan. (*)

14 February 2011

Christine GM ITC Surabaya



Latar belakang pendidikannya di bidang teknik. Namun, Christine Natasha Tanjungan meraih sukses ketika dipercaya menjadi general manager ITC Mega Grosir Surabaya. Berikut petikan wawancara Radar Surabaya dengan Christine ketika meninjau Festival Imlek 2010 di ITC Surabaya.

Apa latar belakang ITC Surabaya mengadakan Festival Imlek selama sebulan penuh setiap tahun?

Begini. ITC Mega Grosir ini kan kebetulan berlokasi di kawasan pecinan, Surabaya Utara. Tidak jauh dari sini ada Kembang Jepun, Kapasan, Bibis, Karet, Cokelat, dan kampung-kampung Tionghoa. Tentu saja, banyak warga keturunan Tionghoa Surabaya yang tinggal di sekitar ITC Mega Grosir.

Maka, sejak tahun 2008, kami memutuskan untuk menggelar Festival Imlek setiap tahun selama sebulan penuh untuk menyambut tahun baru Imlek. Festival ini juga sebagai ajang untuk memperkenalkan budaya Tionghoa kepada masyarakat luas.

Kita juga punya pertimbangan bahwa masyarakat tentu membutuhkan berbagai kebutuhan untuk tahun baru Imlek. Mulai dari penganan atau kue-kue khas Imlek, tekstil dan produk tekstil, dekorasi. Semuanya kita sediakan di ITC. Dan sekarang ini mereka yang belanja barang-barang kebutuhan Imlek itu tidak hanya orang Tionghoa. Yang bukan Tionghoa pun membeli baju-baju untuk anaknya atau busana untuk dipakai mengikuti acara-acara yang terkait dengan tahun baru Tionghoa.

Anda ingin menjadikan ITC sebagai ikon budaya Tionghoa di Surabaya?

Bisa jadi begitu. Sebab, tahun 2011 ini Festival Imlek sudah digelar selama empat kali berturut-turut. Dan, syukurlah, masyarakat sangat antusias menyaksikan dan datang berbelanja berbagai kebutuhan Imlek maupun barang-barang lain yang tidak ada kaitan dengan Imlek. Ini juga sebuah hiburan gratis kepada masyarakat. Mereka bisa menikmati berbagai aksesoris Imlek, busana Tionghoa, hingga atraksi barongsai dan liang-liong secara cuma-cuma.

Salah satu acara yang paling banyak menyedot penonton adalah kejuaraan barongsai. Bagaimana ceritanya Anda menggelar even yang melibatkan puluhan grup barongsai di Jawa Timur ini?

Kita bekerja sama Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya (PMTS) dan Perhimpunan Barongsai Indonesia (Persobarin). Kebetulan kedua organisasi itu sangat concern dalam pengembangan barongsai, liang-liong, serta seni budaya Tionghoa umumnya. Nah, dengan Persobarin, kita sepakat menggelar kejuaraan barongsai dan liang-liong setiap tahun.

Kejuaraan ini sudah tentu membuat sasana-sasana di seluruh Jawa Timur berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas penampilannya. Dan ini bagus untuk mencetak pemain-pemain barongsai yang siap diterjunkan di kejuaraan nasonal maupun internasional. Mereka tentunya akan membawa nama Indonesia di kejuaraan internasional. ITC Surabaya menyediakan wadah untuk pengembangan barongsai dan liang-liong itu.

Selain barongsai, apa agenda Festival Imlek yang lain?

Cukup banyak. Ada lomba pidato, bercerita, dan membaca puisi dalam bahasa Mandarin. Lomba line dance bernuansa oriental. Lomba menyanyi lagu-lagu Mandarin dan beberapa lagi. Saya senang karena peserta lomba-lomba ini tak hanya orang Tionghoa, tapi juga melibatkan berbagai kalangan masyarakat. Pemain-pemain barongsai, misalnya, boleh dikatakan sebagian besar justru bukan orang Tionghoa.

Kabarnya, ada pedagang Tiongkok yang sengaja datang ke sini untuk membuka konter di Festival Imlek?

Betul. Rupanya, even kami sudah diketahui secara luas hingga ke Tiongkok. Makanya, setiap menjelang Imlek ada saja pedagang dari Tiongkok yang memesan konter khusus. Mereka menjual aneka kebutuhan Imlek langsung dari negaranya. Sebab, Surabaya dan Jawa Timur umumnya dianggap punya potensi pasar yang baik. Selama dua bulan mereka menginap di Surabaya. Ini juga sebuah kerja sama bisnis yang bisa menguntungkan kedua belah pihak.

Di luar Imlek, apa program lain yang Anda lakukan?

Kita juga membuka kursus bahasa Mandarin setiap Sabtu dan Minggu. Kita menggandeng yayasan-yayasan dan sekolah-sekolah yang punya program Mandarin. Ada lagi komunitas Surabaya Singing Club yang biasa tampil di sini membawakan lagu-lagu pop baik Mandarin maupun Barat. Komunitas ini punya penggemar yang cukup banyak dan terus berkembang dari waktu ke waktu.

Terakhir, apa kiat Anda dalam mengelola ITC?

Begini. Dalam mengelola sebuah mal itu, kita harus selalu menampilkan sesuatu yang baru. Harus ada perubahan suasana. Harus ada yang beda. Karena itu, saya selalu mencari informasi dari berbagai sumber, termasuk internet. Juga ada tim khusus yang mencari informasi langsung ke Tiongkok. Masukan dari para tenan pun selalu saya perhatikan. (*)

BIODATA SINGKAT

Nama : Christine Natasha Tanjungan
Lahir : Manado, 14 Desember 1970
Pendidikan : Magister (S-2) Teknik Universitas Kristen Petra
Hobi : Traveling
Pekerjaan: General Manager PT Duta Pertiwi

Riwayat pekerjaan
1995 - 1999 : Chief Engineer PT Hantawi Inti Makmur
1999 - 2004 : Project Manager PT Tata Mulia Nusantara Indah
2004 - sekarang : General Manager PT Duta Pertiwi

11 February 2011

Gua Maria di Bungamuda



Ada yang mengejutkan saya ketika pulang kampung belum lama ini. Di Bungamuda, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, NTT, saat ini punya Gua Maria. Lokasinya di dekat perbatasan dengan Desa Napasabok, tempat ‘angker’ yang dulu disebut Tobi Kemin. Dalam bahasa setempat, Tobi Kemin berarti pohon asam yang manis.

Pohon asam di pinggir jalan raya itu sudah berusia puluhan tahun. Ia selalu menghasilkan buah berasa manis. Jauh lebih manis ketimbang asam-asam jawa baik di Pulau Jawa sendiri maupun di Lembata sendiri. Sayang, tempo doeloe, sebelum tahun 2000-an daerah itu dikenal orang kampung sebagai tempat angker. Tak ada penduduk yang berani tinggal di situ.

Selain itu, jarak Tobi Kemin dengan sumur di Lamawara memang jauh, sekitar 1,5 kilometer. Harus jalan kaki cukup lama agar bisa membawa seember air (setengah) tawar di jalanan yang menanjak. Maka, selama berpuluh tahun muncul mitos-mitos yang bikin bulu kuduk anak kampung di Ile Ape merinding. Belum lagi tak ada listrik sehingga jalanan itu gelap gulita pada malam hari.

Perubahan yang menggembirakan di Bungamuda adalah kehadiran Gua Maria. Tempat orang-orang kampung, yang hampir semuanya Katolik, berdoa rosario, novena, berdevosi pada ibunda Yesus Kristus. Setiap bulan Mei dan Oktober dikenal sebagai bulan Maria. Momentum untuk memperbanyak devosi kepada Ina Maria, Ina Senaren. Bunda Maria Bunda yang Baik.

Tiba di mulut Gua Maria Bungamuda, saya seorang diri. Nuansa seram, cerita-cerita menakutkan di masa kecil... sudah tak ada lagi. Saya justru kagum dengan keindahan gua yang tampak sangat alami. Para tukang tak perlu capek-capek membuat gua artifisial karena tebing yang ada memang sudah pas. Tinggal dikasih tempat untuk meletakkan patung Bunda Maria.

Pohon jambu mente dan tanaman-tanaman hias tumbuh subur di kompleks Gua Maria itu. Lokasi yang bagus untuk meditasi dan berdoa baik secara pribadi maupun berjemaat. Hebat juga ide orang kampung di pelosok Lembata mengubah aroma mistis Tobi Kemin menjadi tempat ziarah Katolik. Sederhana, tapi asri dan nyaman.

Sayang, Gua Maria Bungamuda ini kurang menarik pengunjung. Orang-orang kampung, sesama orang Ile Ape, orang-orang Lewoleba dan kecamatan lain rupanya belum tahu ada Gua Maria di Bungamuda. Kalaupun tahu pun, saya rasa, tak daya tarik khusus bagi mereka untuk ramai-ramai berziarah ke Bungamuda. Mengapa?

Sebagai perbandingan, umat Katolik di Jawa, khususnya di kota-kota besar, sangat antusias mengadakan ziarah ke Gua Maria. Tiap malam Jumat Legi, misalnya, Gua Maria di Puhsarang, Kediri, Jawa Timur, didatangi ribuan umat Katolik dari berbagai kota. Ada misa bersama dalam nuansa Jawa. Tirakatan. Jalan salib. Suasananya memang luar biasa meriah, tapi khidmat.

Ini bisa terjadi karena Puhsarang punya sejarah kuat dalam penyebaran agama Katolik di Jawa Timur. Di sini ada gereja tua model candi ala Majapahit yang sangat indah. Jadi cagar budaya Kediri. Ada komunitas kecil jemaat Katolik yang hidup di antara mayoritas masyarakat beragama Islam. Ditambah bangunan Gua Maria dan kompleks perziarahan, wah, lengkap sudah daya tarik Gua Maria Lourdes di Puhsarang.

Umat Katolik di Jawa Timur juga sangat antusias diajak ziarah ke Gua Maria Lourdes di Sendangsono, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, DI Jogjakarta. Patung Maria dan keindahan gua sih sama saja dengan yang di pelosok Lembata sana. Bahkan, patung Bunda Maria di Puhsarang jauh lebih besar dan bagus.

Tapi mengapa Gua Maria Sendangsono paling ramai di Pulau Jawa?

Jawabnya: Sendangsono punya sejarah penting dalam perjalanan Gereja Katolik di Jawa. Di bawah pohon sono yang ada sendangnya itu [sendang = sumber air], Pastor Van Lith SJ mempermandikan 171 orang Jawa asal Kalibawang sebagai jemaat Katolik pribumi pertama di tanah Jawa. Peristiwa itu berlangsung pada 14 Desember 1904.

Maka, ketika orang Katolik di Jawa mengadakan ziarah ke Sendangsono, mereka ibaratnya melakukan napak tilas perjalanan iman. Menimba sumber air rohani, berdoa, refleksi di depan Gua Maria yang sudah berusia 100 tahun lebih itu. Saya sendiri pun sudah berkali-kali berziarah ke Gua Maria Sendangsono baik bersama rombongan maupun seorang diri.

Gua Maria di luar negeri biasanya dibangun setelah ada peristiwa penampakan Bunda Maria. Ini terjadi di Lourdes (Prancis) atau Fatima (Portugal). Nah, Gua Maria di Bungamuda, Lembata, ini memang tidak punya dimensi sejarah atau kisah penampakan. Ia hanya tempat khusus di pelosok kampung yang sengaja dibuat untuk devosi kepada Bunda Maria.

Dus, grotto itu tidak bisa menjadi aset pariwisata yang luar biasa seperti di Puhsarang atau Sendangsono.

Sumur Atawatung yang Menghidupkan



Cukup lama saya tertegun di samping Sumur Atawatung di Desa Lamagute, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, belum lama ini. Dua puluh tahun lebih saya tak sempat mampir di sumur yang pernah menjadi bagian hidup saya itu. Sumur yang berjasa menyediakan air bagi kami di kampung.

Saya perhatikan bagian dalam sumur. Oh, masa sama seperti masa saya SD di Mawa dulu. Ada tonjolan batu besar, dalamnya sekitar 15-20 meter. Airnya pun selalu berlimpah, apalagi di musim hujan seperti ini. Pelataran sumur diplester dengan bagus. Beda banget dengan pemandangan tempo doeloe.

Perbedaan mencolok justru di suasananya. Kali ini, di awal tahun 2011, hanya ada SATU orang ibu yang terlihat sibuk menimba air. Tiga ember hitam ditaruh di bibir sumur. Timbanya pun bukan NERA atau MAYA yang dibuat dari KOLI alias daun lontar (siwalan), tapi plastik. Nuansa khas pedesaan sudah tak ada lagi.

Pikiran saya pun langsung melayangkan ke masa lalu. Dulu, setiap hari puluhan orang selalu memenuhi Sumur Atawatung itu. Jangankan menaruh ember di bibir sumur, kita sangat sulit mendapat tempat untuk menimba air. Begitu ramainya, tali-tali timba selalu melilit ke sana ke mari, tali putus, timba jatuh... dan sebagainya. Ribet bukan main!

Orang-orang Mawa, yang jalan kaki hampir dua kilometer, sering cekcok mulut dengan orang-orang Atawatung, si empunya sumur, karena rebutan tempat. UNO GENING ULI. Hehehe.... Cekcok mulut yang justru menciptakan keakraban di antara penduduk Mawa dan Atawatung. Orang Mawa sebagai tamu sering tidak ‘tahu diri’ karena paling banyak menimba air sumur di Atawatung.

Habis mau timba air tawar di mana lagi? Syukurlah, Tuhan berbaik hati sehingga perigi sederhana itu bisa menghidupi penduduk dua kampung dari generasi ke generasi. Ditimba terus-menerus, sampai jauh malam, tapi stok airnya tetap ada. Di musim kemarau memang sumurnya agak mengering, tapi tidak sampai tandas sama sekali.

Ketika membaca atau mendengar cerita AIR KEHIDUPAN dalam Alkitab, Yohanes 4:1-42, yang selalu muncul di benak saya selalu Sumur Atawatung ini. Sungguh! Sebuah sumur di desa terpencil yang bisa menghidupkan penduduk dari dua kampung sekaligus. Sumur yang tak pernah kering!

Kini, air di Sumur Atawatung masih tetap berlimpah. Tapi kita tak akan pernah lagi melihat warga uyel-uyelan atau UNO GENING ULI seperti dulu. Penduduk Mawa sudah ramai-ramai bikin bak untuk menampung air hujan yang kemudian diolah menjadi air minum. Kemudian ada lagi proyek instalasi penyulingan air laut menjadi air tawar di Desa Bungamuda yang jaringan pipanya menjangkau Mawa dan sekitarnya.

Romantika hidup anak kampung tempo doeloe, kewajiban menyetor jatah air minum untuk guru-guru SD, tak ada lagi. Tapi pengalaman masa kecil tentang air kehidupan, the water of life, dari Atawatung tetap melekat di dalam benak saya. Sampai kapan pun!

09 February 2011

Bhakti Luhur Cari Donatur



Meski sudah eksis selama 50 tahun, banyak orang belum mengenal Bhakti Luhur. Yayasan sosial bentukan Romo Paul Hendrikus Janssen CM yang melayani saudara-saudara kita yang telantar, cacat, dan dipinggirkan masyarakat.

Karena itu, sejak awal pekan ini pengelola Bhakti Luhur melakukan sosialisasi ke sejumlah gereja di Surabaya. “Kita berharap semakin banyak orang yang ambil bagian dalam pelayanan Bhakti Luhur,” ujar Romo Rudi Sulistijo CM, pengurus Persaudaraan Kasih Bhakti Luhur.

Di hadapan ratusan umat yang memenuhi Gereja Katolik Redemptor Mundi, Dukuh Kupang Barat, Romo Rudi memutar film dokumenter tentang aktivitas Bhakti Luhur di Malang dan sejumlah kota di tanah air. Orang-orang berkebutuhan khusus, lansia, hingga bayi diasuh oleh Romo Janssen bersama staf Bhakti Luhur.

Saat ini, menurut Romo Rudi, Bhakti Luhur memiliki 400 wisma sosial di seluruh Indonesia. Wisma tersebut termasuk 40 pusat rehabilitasi, unit terapi, balai latihan kerja, klinik bimbingan, klinik psikologi, dan unit penanganan sosial.

Sebanyak 2.000 suster ALMA membaktikan dirinya secara full time untuk pelayanan sosial ini. “Total ada sekitar 5.000 anak dan lansia yang dibina setiap hari di Bhakti Luhur,” kata pastor Kongregasi Misi ini.

Di Surabaya sendiri, Romo Janssen CM membuka Wisma Bhakti Luhur di Perumahan Wisma Tropodo, Jalan Kapuas FI/22, Waru, Sidoarjo. Romo Rudi mengundang para donatur dan masyarakat umum untuk berkunjung ke wisma-wisma sosial Bhakti Luhur di mana saja.

“Kunjungan Anda merupakan sentuhan kasih bagi para penghuni wisma sosial,” kata Romo Rudi dalam misa yang dihadiri Konsul Filipina Carmelito Sagrado.

Sebagai yayasan sosial nonpemerintah, menurut Romo Rudi, sejak awal Bhakti Luhur menghidupi dirinya dengan mengandalkan donasi dari masyarakat. Para donatur itu bernaung dalam wadah bernama Persaudaraan Kasih (Perkasih) Bhakti Luhur. Melalui Perkasih, warga memberikan donasi secara periodik maupun temporer.

“Jadi, kami juga mengetuk hati Bapak dan Ibu sekalian untuk bersedia menjadi donatur Perkasih. Berapa pun nilai donasi Anda, itu sangat berarti bagi pelayanan Bhakti Luhur,” ujar Romo Rudi. (*)

08 February 2011

Mayoritas - Minoritas - Ateis



Setiap hari di kota-kota besar macam Surabaya selalu ada banyak turis atau ekspatriat dari Amerika, Eropa, Asia, Australia, hingga wilayah kutub datang. Tidak semua turis itu punya agama. Apalagi, mereka yang memang berasal dari negara komunis atau bekas komunis.

Di negara-negara Barat yang sekuler, agama mutlak menjadi urusan privat. Anda sangat tidak sopan ketika menanyakan apa agama seorang Barat, berapa kali sehari dia berdoa, ke gereja atau tidak, salat atau tidak, puasa atau tidak... dan seterusnya.

Negara Indonesia ini lain. Rakyat diwajibkan punya agama. Dan tidak boleh sembarang agama: harus salah satu agama yang diakui oleh negara. Saat ini ada enam agama yang 'diakui': Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu.

Sebetulnya ada juga agama Taoisme yang dianut sebagian warga Tionghoa, tapi selama ini dianggap ‘satu paket’ dengan Buddha-Khonghucu-Taoisme, yang kemudian disebut SANJIAO alias Tridharma. Hampir semua kelenteng di Indonesia, kecuali Boen Bio yang murni Khonghucu, terkait erat dengan Taoisme.

Bagaimana kalau Anda tidak memilih salah satu dari enam agama ini? No problem! Tenang saja.

Orang Sumba, NTT, di pedalaman banyak yang beragama Merapu. Dan itu aman-aman saja meskipun sudah lama mereka ‘dipaksa’ jadi Nasrani baik oleh pemerintah maupun misionaris. Kalau mau jujur, Merapu yang hanya dianggap tradisi budaya itu sudah dianut orang Sumba jauh sebelum para misionaris Barat datang menyebarkan agama Kristen Protestan dan Katolik.

Di Pulau Lembata, NTT, generasi kakek-nenek saya masih banyak yang menganut ‘agama asli’, kepercayaan etnis Lamaholot. Lera Wulan Tana Ekan. Agama asli Lamaholot yang membuat nenek moyang orang Lamaholot di Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Lembata, dan Kabupaten Alor [semuanya di NTT] hidup selaras dengan alam.

Agama Lamaholot -- sebut saja begitu mengingat agama asli di Flores Timur ini memang tidak punya nama -- pelan-pelan tergusur oleh agama Katolik.

Meski agama Katolik diperkenalkan di Kepulauan Solor oleh misionaris Dominikan asal Portugal sejak 1510 [tahun lalu ada peringatan besar-besaran 500 tahun kedatangan agama Katolik di tanah Lamaholot], sampai sekarang agama Lamaholot masih dianut oleh warga lansia. Dan, hebatnya, kakek-nenek penganut agama Lamaoholot, yang buta huruf itu, tidak pernah korupsi, tidak pernah mencuri, pantang berbohong.....

Berbeda dengan orang-orang modern di Indonesia yang punya agama, suka menyebut nama Tuhan, hafal kitab suci, tapi doyan korupsi. Ingat, di Indonesia ini korupsi paling subur justru di Kementerian Agama. Bahkan, kalau tidak salah ada menteri agama yang dipenjara karena korupsi alias mencuri uang rakyat.

Kembali ke agama resmi yang enam tadi.

Walaupun Anda sudah menganut salah satu agama, misalnya Kristen, harus dipastikan bahwa aliran yang Anda anut tidak bertentangan dengan aliran utama (mainstream). Maka, Gereja Saksi Yehuwa atau Gereja Scientology, misalnya, sulit hidup di Indonesia.

Saksi Yehuwa memang sudah dilegalisasi, tapi karena dianggap menyimpang, sesat, oleh Kristen mainstream, sehingga harus bergerilya di bawah tanah. Dan itu membawa komplikasi di masyarakat karena gereja-gereja bawah tanah ini doyan melakukan 'penginjilan' dari rumah ke rumah, membagi-bagi buku atau traktat, tidak sungkan-sungkan mengajak orang pindah gereja atau pindah agama.

Di Flores, gereja-gereja Kristen beraliran pentakosta dan karismatik, yang sangat kental nuansa USA-nya, sangat sulit berkembang, bahkan ditolak rame-rame oleh masyarakat. Mengapa? Karena rakyat Flores itu secara tradisional berafiliasi dengan Gereja Katolik. Katolik di Flores itu, istilah saya, Katolik Inkulturasi. Gereja Katolik yang sudah menyerap secara luas berbagai tradisi budaya lokal Flores.

Karena itu, saya sangat sulit membayangkan gereja-gereja Katolik di Pulau Flores mengadakan perayaan ekaristi (misa) dengan gaya gregorian murni atau Misale Romanum murni ala misa yang dipimpin Paus Benediktus XVI di Vatikan seperti yang sering disiarkan di stasiun televisi INDOSIAR. Atau, misa ala komunitas gregorian di Kota Surabaya. Atau, misa dengan iringan orkes simfoni plus paduan suara motet, klasik, barok, atau romantik ala Eropa.

Budaya Flores telah melebur ke dalam liturgi sehingga menjadikan tradisi liturgi di Flores cenderung berbeda dengan liturgi Katolik di Pulau Jawa atau Pulau Kalimantan, misalnya. Akan sangat sulit mengajak orang Flores di kampung-kampung ikut kebaktian dengan puji-pujian sambil meloncat-loncat, jingkrak-jingkrak, bertepuk tangan ekspresif, plus teriakan 'Haleluya! Haleluya!'.

Saya kira, kasus Sekte Ahmadiyah di Indonesia menjadi masalah karena dia tumbuh di masyarakat Indonesia dengan latar belakang yang sama-sama kita tahulah. Indonesia tidak mengenal konsep hak asasi manusia (HAM) seperti di Barat. Tidak ada "kebebasan beragama", dalam arti bebas memilih agama apa saja sesuai selera atau keinginan. Juga tidak ada kebebasan untuk tidak beragama.

Orang HARUS beragama, paling tidak tercatat di kolom KTP, meskipun Anda tidak pernah mengikuti ritual atau syariat agamamu yang di KTP itu. Kalau Anda ngotot menyatakan tidak beragama, apalagi ateis, maka KTP, kartu keluarga, SIM, paspor, dan surat-surat lain tidak akan bisa dibuat. Anda pun tidak akan bisa bekerja sebagai PNS atau Polri atau TNI.

Akan lebih aman jika Anda pura-pura beragama meskipun hanya sekadar formalitas saja.

Opsi itu hanya enam, dan sebaiknya memilih agama mainstream yang dianut mayoritas. Sekte Ahmadiyah akhir-akhir ini dipersoalkan warga karena itu tadi: menyempal dari dogmatika mainstream.

Lantas, apa penyelesaikan kasus Ahmadiyah ini?

Di media massa sejak dulu muncul solusi khas Indonesia: BUBAR, kemudian TAUBAT NASUHA, kemudian back to mainstream. Ojo neko-neko! Ojo macem-macem! Ojo golek perkoro!

Tapi bagaimana kalau jemaat Ahmadiyah tetap bertahan?

Apakah surat keputusan bersama (SKB) bisa menjadi solusi?

Apakah pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah cukup untuk menuntaskan kasus ini?

Silakan direnungkan!

Saya langsung teringat kata-kata seorang teman, yang pernah tinggal selama belasan tahun di Australia dan Eropa. Di Indonesia, kata teman ini, jauh lebih aman orang-orang yang tidak beragama baik itu agnostik maupun ateis ketimbang penganut agama minoritas, apalagi sekte 'sempalan' macam Ahmadiyah atau Saksi Yehuwa.

Mengapa? Orang-orang yang tidak beragama [ateis, agnostik] ini tidak akan mengalami ancaman kekerasan. Tidak perlu capek-capek mengurus izin mendirikan rumah ibadah. Tidak perlu takut acara kebaktiannya dibubarkan massa karena ateis memang tidak butuh kebaktian. Tidak perlu cari tanda tangan sekian ratus orang setempat agar bisa dapat izin mendirikan tempat ibadah atau sekadar gedung serbaguna.

“Kok bisa begitu?” tanya saya.

“Hehehe.... Orang Kristen HKBP diserang, tidak boleh kebaktian hari Minggu. Ngurus izin gereja sulit. Orang yang sedang kebaktian bisa diusir paksa oleh massa, sementara polisi diam saja, bahkan ikut merestui aksi massa. Gereja-gereja dirusak dan dibakar di berbagai tempat."

Terus?

"Lha, kalau mereka yang ateis dan agnostik kan nggak perlu tempat ibadah, nggak perlu misa, nggak perlu kebaktian, nggak perlu ngurus izin mendirikan tempat ibadah....,” kata sang teman dengan logat Jawa Timur yang khas.

"Tapi di Flores gereja-gereja kan aman. Anda bisa kebaktian berjam-jam sampai semaput. Hehehe," saya menukas dengan logat Flores Timur yang khas juga.

"Iya, karena mayoritas Nasrani!"

Ah, mayoritas-minoritas lagi!

06 February 2011

Menonton Ki Anom Suroto



Asyik juga menonton wayang kulit di pendapa Kabupaten Sidoarjo, Jumat malam. Penonton membeludak, duduk lesehan beralas sandal atau plastik. Saya pun membeli sehelai plastik seharga Rp 1.000. Lesehan, beli kopi hitam Rp 2.000...

Baru kali ini, dalam 10 tahun belakangan, saya merasakan betapa masyarakat Sidoarjo sangat antusias dengan wayang kulit. Pergelaran wayang sih sering, tapi respons warga biasa-biasa saja. Tapi tidak pada acara puncak HUT Ke-152 Kabupaten Sidoarjo ini.

Mengapa rakyat begitu senang datang ke pendapa, duduk lesehan sesak-sesakkan?

Jawabnya ini: Ki Anom Suroto. Dalang asal Solo, kelahiran 1948, ini memang punya pesona luar biasa. Salah satu dalang kondang, bisa juga disebut terkondang, di Indonesia saat ini. Kharismatik!

Gaya bicara Ki Anom tidak berlebihan. Tak ada banyolan-banyolan ngeres macam beberapa dalam muda yang ingin jadi kondang. Iringan musik, sound system, grup lawak, sinden... serbakelas satu. Tampak sekali kalau Ki Anom Suroto benar-benar menjaga kualitas. Dan, dengan begitu, tarifnya pun naik dari tahun ke tahun.

Ki Anom Suroto tidak sendirian. Selepas dagelan, Ki Anom menepi. Giliran Ki Bayu Aji Pamungkas, putra Ki Anom Suroto, yang dikasih kesempatan tampil. Bayu Aji kebagian adegan perang yang dahsyat antara pasukan Pendawa dan Kurawa. Cerita klasik ini dilah Ki Bayu dengan sabetan yang prima. Musik menggelar kian mendukung suasana perang.

Hebat benar Ki Anom Suroto! Sang dalang senior ini berhasil mengkader anaknya sendiri, Bayu Aji, sebagai penerus kekondangannya. Namun, bagaimanapun juga Bayu Aji belum bisa lepas dari bayang-bayamg ayahnya.

Coba Ki Bayu Aju disuruh mendalang sendiri tanpa ditemani Ki Anom Suroto! Apakah penonton berduyun-duyun datang seperti di Sidoarjo? Waktu pulalah yang akan menjawab.

Meski dialog-dialog dalam bahasa Jawa kelas tinggi kurang saya pahami, malam itu saya merasa terhibur bisa berada di antara ribuan orang penggemar wayang kulit. Termasuk Bupati Saiful Ilah dan Wakil Bupati Hadi Sucipto.

Mudah-mudahan kesenian rakyat macam wayang kulit ini tetap lestari dan hidup di Kabupaten Sidoarjo. Matur nuwun Pak Bupati yang sudah bersedia nanggap wayang kulit ke pendapa.

Ciswak Tahun Kelinci 2562



Pergantian tahun dari Tahun Macan ke Tahun Kelinci tentu saja mempengaruhi fengshui. Posisi bintang-bintang, bulan, bumi, planet-planet lain di galaksi pun ikut bergesar. Bagi sejumlah orang Tionghoa, pergeseran ikut mengubah hoki dan ciong seseorang.

Di Tahun Kelinci 2562, yang dimulai pada 3 Februari 2011, ada empat shio yang mengalami ciong besar sepanjang tahun. Yakni, Shio Kelinci, Ayam, Tikus, Kuda. Menurut Juliani Pudjiastuti, pengurus TITD Hong San Ko Tee, warga Tionghoa pemilik empat shio tersebut dianjurkan untuk menjalani ciswak alias ruwatan ala Tionghoa.

“Intinya, mendoakan supaya orangnya selamat, tidak mendapat kesusahan selama satu tahun ini,” jelas Juliani kepada saya.

Akan lebih baik jika semua orang, apa pun shio-nya ikut menjalani ciswak massal. Semua orang tentu ingin selamat, sukses, tak kurang rezeki, bukan?

TITD Hong San Ko Tee di Jalan Cokroaminoto 12 Surabaya akan mengadakan upacara ciswak pada Ahad (13/2/2011). Dipimpin Suhu Johnny Ho, guru spiritual yang selama beberapa tahun terakhir melayani ritual di Kelenteng Hong San Ko Tee, ruwatan massal ini dimulai pukul 09.00.

“Kita adakan doa bersama, kemudian peserta ciswak harus mengikuti tata upacara seperti yang sudah menjadi tradisi ciswak dalam adat Tionghoa,” terang Juliani.

Seperti juga ruwatan dalam tradisi Jawa, ada sejumlah bahan yang disyaratkan Suhu Johnny untuk ciswak Tahun Kelinci ini. Catat baik-baik: Pakaian bekas yang masih layak pakai. Tujuh guntingan kuku jari tangan dan kaki. Tujuh helai rambut yang dicabut.

Sementara itu, pengurus kelenteng sudah menyiapkan pula bahan-bahan lain seperti satu genggam beras, 1,5 meter kain mori, tiga keping koin Rp 500, hio dan kimcua (kertas sembahyang), satu botol air mineral.

“Ciswak ini juga sekaligus untuk memelihara tradisi dan budaya Tionghoa. Sebab, sejak dulu nenek moyang orang Tionghoa memang sudah melakukan upacara seperti ini. Lha, kalau kita tidak mau merawat, lama-kelamaan tradisi seperti ini bisa hilang,” kata Juliani.

02 February 2011

Gongxi Facai! Semoga Makmur




Selamat tahun baru Imlek 2562!
GONGXI FACAI!

Tahun baru Tionghoa punya ucapan yang khas: GONGXI FACAI. Sementara tahun baru internasional (Masehi), di Indonesia, tak ada ungkapan khas. Hanya HAPPY NEW YEAR dalam bahasa Inggris. Semoga Anda berbahagia!

Tahun baru Jawa, saya rasa, tidak punya ungkapan khas yang disepakati layaknya GONGXI FACAI di Tiongkok sana. Mungkin saja ada, tapi saya yang belum tahu.

Bagi saya, ungkapan GONGXI FACAI punya makna yang sangat dalam sekaligus menjadi filsafat hidup orang Tionghoa di mana pun. GONGXI FACAI tak sekadar 'selamat tahun baru', tapi juga ungkapan penuh motivasi. Semoga Anda makmur, kaya-raya, bertambah rezeki. Uangnya bertimbun-timbun.

Makmur. Kaya. Sukses. Dan ukuran sukses tentulah harta benda, kekayaan, perusahaan yang terus membesar, ekspansif. Betapa semua orang Tionghoa, baik di Tiongkok maupun di perantauan alias huaqiao, sejak bayi sudah dikasih suntikan motivasi: GONGXI FACAI! Anda harus sukses, kaya, makmur, banyak duit.

Karena itu, motivasi warga Tionghoa menjadi orang sukses-kaya-makmur [di bidang apa saja, termasuk badminton macam Rudy Hartono atau Liem Swie King, atau fisika macam Prof. Yohanes Surya] sudah tidak diragukan lagi. DNA orang Tionghoa memang sudah didesain sedemikian rupa agar menjadi orang sukses-kaya-makmur. Tidaklah aneh jika warga Tionghoa, di mana pun, selalu menjadi orang paling kaya, paling makmur, paling banyak duit.

Motivasi sukses ala GONGXI FACAI inilah yang hampir tidak ada di kalangan masyarakat yang menamakan dirinya PRIBUMI, khususnya di Flores, NTT. Orang Flores kayak saya, karena sejak 500 tahun silam diceramahi para pastor asal Eropa, punya filsafat yang cenderung bertolak belakang dengan filsafat GONGXI FACAI dari Tiongkok. Filsafat orang Flores rata-rata mengutip Khotbah di Bukit dari Yesus Kristus.

Bunyinya begini:

"BERBAHAGIALAH ORANG YANG MISKIN di hadapan Allah karena merekalah yang empunya kerajaan surga!"

Kutipan ini rupanya sudah menyatu dalam benak orang Flores. Para pastor, guru-guru agama, katekis, suster, bruder, siswa seminari, anak asrama... sering sekali mengutip salah satu dari delapan butir Sabda Bahagia itu. Berbahagialah orang yang MISKIN!

Tidak ada kata-kata, misalnya, berbahagialah orang yang kaya-raya. Malah orang kaya-raya sering dikecam [oleh para pengkhotbah] karena "mereka akan sulit masuk ke dalam kerajaan surga. Lebih mudah seekor unta masuk ke lubang jarum daripada orang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah."

Gara-gara tidak punya filsafat GONGXI FACAI [jadi kaya-sukses-makmur], sampai sekarang masyarakat Flores, dan NTT umumnya, tidak pernah makmur. Dari dulu miskin terus. Susah terus. Mana bisa berbahagia kalau uang tak punya, harta benda tak ada, harus merantau berjemaah ke Malaysia Timur?

Sebaliknya, orang-orang Tionghoa yang ada di Flores, karena punya filsafat GONGXI FACAI itu tadi, sejak dulu bisa kaya-raya, sukses, dan makmur di Pulau Flores. Ada saja usaha orang Tionghoa di Flores agar bisa makmur tanpa harus merantau ke Malaysia.
Rupanya, kita yang mendaku PRIBUMI ini perlu belajar banyak filsafat GONGXI FACAI-nya orang Tionghoa agar kita bisa kaya-raya dan makmur di bumi, tapi juga kelak berbahagia di dalam surga.

GONGXI FACAI!
Xinnian Kuaile!
Salam Kelinci!

01 February 2011

Andaikan Ariel Orang Flores Timur



Ariel Peterpan divonis 3,5 tahun penjara gara-gara video hubungan seksnya dengan Luna Maya dan Cut Tari beredar di masyarakat. Begitu banyak komentar di televisi, khususnya infotainmen, tentang kasus ini. Tapi saya belum pernah mendengar atau membaca pernyataan keluarga Luna Maya dan Cut Tari.

Mengapa demikian? Jawabnya sederhana saja:

Luna Maya dan Cut Tari bukan orang Flores Timur alias Lamaholot. Sebagai orang Lamaholot [penduduk yang menempati ujung timur Pulau Flores, kemudian Pulau Adonara, Pulau Solor, Pulau Lembata, dan Pulau Alor], saya sering membayangkan seandainya kasus ini terjadi di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Pasti keluarga pihak perempuan, Luna Maya dan Cut Tari, akan cepat-cepat turun tangan agar skandal seks di luar nikah ini [bahasa Lamaholotnya: GOWA] diselesaikan secara adat. Orang Lamaholot jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah, membawa kasus macam ini ke pengadilan. Selain terlalu panjang, berbelit-belit, melelahkan, solusi adat dianggap lebih cepat dan memenuhi rasa keadilan.

GOWA alias (ketahuan) selingkuh dengan perempuan lain, baik itu masih gadis atau istri orang, cukup sering terjadi di Lamaholot. Meskipun agama Katolik dan Islam sudah lama masuk dan dipeluk hampir semua orang Lamaholot, tradisi ‘kawin kampung’ masih ada sampai sekarang.

Kawin kampung artinya menikah sesuai hukum adat, tapi belum sah menurut hukum gereja. Kalau belum disahkan gereja, ya, tentu saja negara pun belum bisa mengesahkannya.

Kembali ke skandal Ariel Peterpan GOWA Luna Maya dan Cut Tari. Begitu kasus ini terungkap secara luas, andaikata Ariel, Luna, dan Cut Tari orang Lamaholot -- kalau di kampung ditandai hamilnya si perempuan -- maka pihak keluarga besar atau sukunya Ariel dimintai pertanggungjawaban. Harus bayar belis berupa GADING GAJAH, sarung, dan beberapa aksesoris adat. Belis utama tetaplah gading alias BALA.

Berapa banyak dan sebesar apa gading itu?

Yang menentukan adalah majelis KODA KIRING, pembicaraan adat antara para pemuka sukunya Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari. Pihak wanita yang merasa dirugikan, anaknya disetubuhi di luar nikah, biasanya menuntut belis yang setimpal. Pembicaraan adatnya sama persis dengan proses pernikahan yang normal.

Menurut adat Lamaholot, laki-laki hanya punya jatah SATU paket gading untuk satu perempuan yang bakal menjadi istrinya. Bagaimana dengan Ariel yang meng-GOWA Luna Maya dan Cut Tari? Atau, jangan-jangan lebih dari dua perempuan?

Pihak suku atau marga atau fam akan konsisten menanggung satu gading untuk satu perempuan. Urusan belis lain, silakan Ariel (dan keluarga langsungnya) yang tanggung. Katakanlah gadis resmi diberikan untuk Luna Maya. Pihak keluarga Cut Tari tidak mau tahu. Yang penting, putrinya yang sudah kadung disetubuhi, dan mungkin hamil, harus dimahari juga. Laki-laki, entah dia pejabat, pengusaha kaya, artis terkenal, tidak boleh seenaknya menyetubuhi anak perempuan orang tanpa ganjaran.

GOWA itu perbuatan melanggaran adat, sehingga patut beroleh hukuman adat pula. Martabat keluarga dan suku pihak perempuan akan jatuh jika anaknya di-GOWA tanpa ada ganjaran apa-apa berupa BALA alias gading tadi.

Oke, Ariel orang kaya, bisa menyediakan belis gading berapa pun untuk Luna dan Tari. Lantas, siapakah perempuan yang bakal menjadi istri Ariel? Pilihannya ada tiga, tergantung Ariel sendiri.

1. Ariel memilih Luna Maya sebagai istri. Setelah menerima belis, Luna Maya resmi menjadi suami dan masuk ke dalam keluarga besar (suku) Ariel. Luna Maya, sebagai perempuan, tidak punya pilihan lain, selain menerima ketentuan adat bahwa dia harus dinikahi Ariel.

Konsekuensinya, anak Ariel yang dilahirkan Cut Tari menjadi putranya suku atau keluarga besar perempuan. Biasanya, dia dianggap putranya ayah si Cut Tari. Syukurlah, berkat kontrasepsi dan kepandaian manusia-manusia modern di kota, baik Cut Tari maupun Luna Maya tidak hamil meski telah beberapa kali berhubungan seks dengan Ariel. Jadi, tak perlu ada persoalan tanggung jawab pemeliharaan anak hasil hubungan si Ariel dengan Luna dan Tari.

2. Ariel memilih Cut Tari sebagai istri. Opsi ini terbalik dengan opsi pertama.

3. Ariel memilih kedua-dua perempuan itu sebagai istri. Toh, belis gading sudah keluar dari rumah suku. Tapi opsi ketiga ini sudah lama tidak berlaku setelah masyarakat Lamaholot memeluk agama Katolik yang hanya mengenal pernikahan monogami. Bahkan, orang Lamaholot yang Islam pun lazimnya tak akan menerima jika anaknya memperistri dua perempuan sekaligus dengan metode selingkuh alias GOWA.

Meskipun proses hukum sedang berjalan, sekali lagi, seandainya kasus ini terjadi di Bumi Lamaholot, pihak keluarga Luna Maya [juga Cut Tari] akan ngotot agar anaknya segera dinikahkan. Tak ada alasan sedikit pun untuk mengulur-ulur waktu karena ANA KEBAREK KAMEN DATA LAGA KAE.

Bahasa harfiahnya: “Anak gadis kami sudah telanjur dirusak!”

Kerusakan sudah terjadi. Dan si laki-laki yang menyetubuhi perempuan itu harus bertanggung jawab. Sekarang juga! Begitu kerasnya hukum adat yang mengatur hubungan laki-laki dengan perempuan di Flores Timur semata-mata untuk menjaga martabat kaum perempuan dan marganya. Keluarga besar perempuan akan sangat meradang jika pihak laki-laki tidak mendapat hukuman adat yang setimpal.

Syukurlah, sekali lagi, Ariel, Luna, Tari bukan orang Lamaholot, orang kampung di pelosok Flores Timur yang masih memelihara hukum adat peninggalan nenek moyang. Ketiga artis top ini orang kota yang punya peradaban yang sangat modern dan maju.

Sanksi sosial tak ada! Sanksi adat pun nihil!

Tante Tok Panen Kue Keranjang




Jelang xinnian, tahun baru Tionghoa, begini saya mampir ke rumah Tok Swie Giok di Jalan Raden Fatah, kawasan pecinan Sidoarjo. Tante Tok, 70-an tahun, sejak dulu selalu melestarikan tradisi Tionghoa, khususnya dalam soal makanan-makanan khas. Kue bulan, bacang, ronde, dan tentu saja nian gao alias kue keranjang khas tahun baru Imlek.

Rumah tua yang ditempati keluarga besar Tante Tok sepi. Oh, pasti mereka semua di dapur, bikin kue keranjang. Maka, setelah kulo nuwun, dan diterima si Tan, cucunya Tante Tok, saya pun langsung ke dapur. Benar saja. Tante Tok bersama tiga orang lain, salah satunya laki-laki, sedang asyik bikin nian gao.

Tepung ketan diayak. Gula pasir dipanaskan, jadi karamel. Menyiapkan pan dan dandang. Kemudian memasak. Sebagai pembuat nian gao, Tante Tok bertindak sebagai koordinator sekaligus pengawas kualitas. Rupanya, tahun ini tante yang sudah lama ditinggal mati suaminya, yang asli Hokkian (Fujian), itu kebanjiran pesanan. Bisnis musiman nan manis yang selalu ramai sebulan sebelum xinnian alias tahun baru Imlek.

Meskipun kue keranjang sudah banyak disediakan toko-toko makanan (bakery), warga Tionghoa, khususnya yang konservatif, lebih suka buatan rumahan macam produksi Tante Tok ini. Rata-rata mereka sudah punya langganan kue keranjang setiap tahun. Karena itu, Tante Tok tidak perlu promosi, pasang iklan di koran atau radio....

Cukup di rumah saja, telepon berdering... pesanan datang.

Selama hampir satu bulan ini, Tante Tok dan keluarga memang sibuk bukan main. Sebab, kue keranjang yang dibikin mencapai ribuan keping. Salah satu pengusaha asal Bali memesan sekitar 600 kue. Belum pemesanan dari Sidoarjo, Surabaya, dan kota-kota sekitar.

Rata-rata kue keranjang buatan Tante Tok dijual Rp 11.000. Naik sedikit dibandingkan tahun lalu gara-gara inflasi. Padahal, 20 tahun lalu, ketika Tante Tok mulai menekuni home industry ini, harga nian gao hanya Rp 700. Inflasi berapa persen itu?

"Tahun ini pesanan agak kurang. Gak kayak tahun-tahun lalu. Mungkin karena sudah banyak orang yang bikin dan gampang ditemukan di toko-toko," kata Tante Tok yang aktif di Vihara Dharma Bhakti Sidoarjo itu.

Bagi Tante Tok, yang lulusan sekolah Tionghoa di Sidoarjo dan Surabaya, kue keranjang alias nian gao ini bukanlah kue biasa macam pisang goreng, kue tar, bolu, atau kue-kue kering. Nian gao, kata dia, merupakan kue yang suci. Kue khusus yang dipakai untuk bersembahyang, meminta rezeki dari Tuhan Sang Pencipta.

Maka, tidak sembarang bisa bikin kue ini dengan berhasil. Harus memanjatkan doa-doa khusus. Harus keramas dulu. Harus punya niat suci. Hati bersih. Tak ada dendam atau iri hati. Bagaimana kalau si pembuat kue melanggar ketentuan itu? "Pasti kue keranjangnya tidak akan jadi. Nggak bisa matang," tegas Tante Tok.

Tok Swie Giok tak asal bicara. Dia punya pengalaman gagal menyelesaikan kue keranjang karena kebetulan beberapa tahun lalu punya sedikit halangan. Dia coba-coba bikin kue keranjang. Adonan sama, porsi gula, tepung... sudah standar. Perlengkapan memasak oke. Tapi tunggu punya tunggu, berjam-jam, nian gao itu tidak jadi.

Ada juga kejadian dandang yang dipakai untuk mengukus adonan nian gao jebol. Yah, orang boleh percaya boleh tidak, tapi pengalaman Tante Tok ini juga sering dialami oleh encim-encim Tionghoa yang terbiasa membuat nian gao menjelang tahun baru Imlek.

Setelah ngobrol-ngalor ngidul, ditemani secangkir teh Tiongkok yang khas, saya pun pamit. Aha, saya dikasih hadiah empat keping kue keranjang buatan Tante Tok yang terkenal itu. Xiexie nin! Terima kasih banyak, Tante Tok! Semoga tahun kelinci emas ini Anda sekeluarga diberi berkat rezeki dan kesehatan oleh Tuhan Allah!

Xinnian kuaile! Gongxi facai!

934 Pengunjung Sehari



Sejak terlempar dari 100 besar blog Indonesia tiga tahun lalu, saya tidak pernah lagi mengecek peringkat blog ini. Toh, peringkatnya tidak semakin membaik. Syukurlah, di laman www.hitstats.com, yang saya pasang di pojok kanan atas, jumlah pengunjung blog ini relatif stabil. Ada saja pengunjung baru yang diantar Mbah Google, dan sejenisnya.

Iseng-iseng saya mengklik hitstats.com untuk mengecek statistik kunjungan. Aha, situs ini ternyata memang menyediakan data yang komplet. Setiap kunjungan, meski hampir semuanya diarahkan mesin pencari Google, didata dengan sangat baik. Negara-negara asal pun jelas. Begitu juga dengan browser serta operating system yang dipakai.

Bukan main! Saya terkejut karena BLOG ORANG KAMPUNG, nama kampungan yang sebetulnya tidak keren sama sekali itu, punya pengunjung lumayan banyak. Setiap hari. Bahkan, ada teman menilai blog saya tergolong blog yang hitnya tinggi. Saya sih kurang yakin karena memang tidak pernah melakukan 'studi banding' dengan blog-blog lain.

Saya cek data pengunjung selama 120 hari terakhir, Last 120 Days, yang disediakan hitstats.com. Sejak 1 Oktober 2010 hingga 30 Januari 2011. Wow, selama empat bulan ini jumlah tamu saya ternyata ada 113.973 orang.

Kesimpulan:

Rata-rata pengunjung blog saya 934 orang per hari. Tentu saja, angka ini harus dikurangi hasil 'kunjungan sendiri', ketika mengecek data, membuat postingan baru, atau sekadar iseng membaca kumpulan tulisan-tulisan sendiri. Tapi bagaimanapun juga angka 900 itu cukup tinggi.

Pada 27 Oktober 2010 pengunjung saya bahkan menembus angka 1.628. Untuk ukuran blog pribadi, wong kampung pula, jelas angka yang tidak buruk.

Data statistik yang disediakan hitstats.com untuk blog saya ini sebagai berikut:

Oktober 2010 : 35.675 pengunjung -- rata-rata 1.150 pengunjung per hari. [Oktober merupakan bulan kunjungan selama tahun 2010.]

November 2010 : 30.760 pengunjung -- rata-rata 1.025 pengunjung per hari.

Desember 2010 : 23.493 pengunjung -- rata-rata 757 pengunjung per hari.

Januari 2011 : 24.045 pengunjung -- rata-rata 801 pengunjung. [Data pengunjung 31 Januari 2011 belum tersedia.]


Akankah angka pengunjung tetap stabil sepanjang Tahun Kelinci Emas ini? Tak ada yang tahu.

Internet adalah dunia yang sangat dinamis. Dulu, ketika Facebook belum ada, blogging menjadi aktivitas yang menyenangkan, hobi buat banyak pengguna internet, khususnya di kota-kota besar. Komunitas blogger muncul di mana-mana. Setiap tulisan di blog biasanya mengundang banyak komentar baik yang bernas, setengah berisi, asal bunyi, atau sekadar pesan sponsor. Tapi kini era blog booming pada tahun 2005-2006 itu sudah lama berlalu.

Orang lebih asyik mengurus Facebook dan cenderung menelantarkan blognya. Ada blog musik yang tadinya menulis hampir setiap hari, paling sedikit seminggu sekali, setelah saya cek, ternyata membiarkan blognya mangkrak selama delapan bulan. Delapan bulan, nol tulisan!

Ada blog wartawan senior, sangat terkenal di Indonesia, yang dulu rata-rata 10-16 tulisan per bulan, kini juga tak terurus. Dalam enam bulan, si gurunya wartawan-wartawan muda itu hanya membuat kurang dari 10 tulisan. Maka, saya bersyukur bahwa ternyata blog sederhana ini masih dikunjungi orang-orang yang tersasar gara-gara Mbah Google.

Terima kasih banyak.
Matur sembah nuwun!
Xiexie nin!