30 January 2011

Damianus Wera Promotor Tinju



Selama bertahun-tahun masyarakat Surabaya dan sekitarnya lebih mengenal Damianus Wera (51) sebagai tabib pengobatan alternatif. Namun, beberapa tahun belakangan ini Om Dami, sapaan akrab pria kelahiran Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), ini aktif mempromotori pertandingan tinju profesional. Pemilik Sasana Rokatenda Sidoarjo ini pun diganjar penghargaan dari World Boxing Organization (WBO).



Berikut petikan percakapan Radar Surabaya dengan Damianus Wera di sela-sela acara timbang badan menjelang pertarungan petinju Tommy Seran (Rokatenda, Indonesia) melawan Mating Kilakil (Filipina), Jumat (28/1/2011) siang. Damianus Wera didampingi perwakilan WBO, Antonio M. Comia.

Sejak kapan Anda tahu kalau akan mendapat penghargaan dari WBO?

Waduh, kalau soal itu saya malah tidak banyak tahu. Bahkan, saya tidak pernah berpikir bakal dikasih penghargaan oleh WBO mengingat saya masih tergolong promotor baru. Tapi beberapa waktu lalu saya memang mendengar ‘bocoran’ bakal ada penghargaan itu.

Apa pertimbangan WBO memberi penghargaan kepada Anda?

Wah, itu tentu yang tahu pihak WBO sendiri. Tapi mungkin saja karena saya sudah bisa menggelar enam pertandingan tinju internasional dalam satu tahun. Padahal, situasi pertinjuan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir kurang kondusif. Pertimbangan lain mungkin terkait dengan perhatian saya terhadap dunia pendidikan, khususnya anak-anak dari keluarga tidak mampu.

Penghargaan WBO itu dalam bentuk apa?

Uang sebesar USD 3.500 (sekitar Rp 35 juta). Tapi uang itu tidak masuk ke kantong saya, melainkan harus dibagikan kepada anak-anak yang kurang mampu di bidang pendidikan. Pembagiannya tidak dalam bentuk tunai, tapi berupa peralatan sekolah. Saya langsung menyalurkan bantuan tersebut kepada 25 anak sekolah dari Surabaya dan sekitarnya di GOR Hayam Wuruk, Kodam V/Brawijaya, di sela-sela pertarungan tinju antara Tommy Seran melawan Mating dari Filipina.

Damianus Wera memang sudah lama getol melakukan bakti sosial di bidang pendidikan dan pengobatan massal. Meski putus sekolah sejak kelas satu SD, sehingga Damianus ini buta huruf, perhatiannya di bidang pendidikan, khususnya di Pulau Palue, NTT, kampung halamannya, sangat besar. Pada November 2002, misalnya, dia membagikan belasan ribu buku paket kepada sekolah-sekolah di Palue. Om Dami juga memberikan bantuan berupa satu unit genset (PLTD) berkekuatan 10 KW untuk Desa Uwa di Palue.

“Saya ingin ke depan ada putra-putri Bumi Rokatenda (sebutan Pulau Palue yang punya Gunung Rokatenda, Red) yang punya kualitas dan bisa memajukan kampung halamannya,” kata Damianus. Menurut ayah dua anak ini, angka putus sekolah atau drop out di Palue sangat besar karena keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan. Jarak rumah dengan sekolah yang serba darurat itu pun sangat jauh.


Rupanya, pertandingan tinju Tommy Seran melawan Mating Kilakil hampir bersamaan dengan ulang tahun Anda?

Hehehe... Jadwalnya memang sengaja disesuaikan dengan berbagai pertimbangan, khususnya dari pihak WBO. Sebagai orang kampung, kami tidak punya kebiasaan merayakan ulang tahun. Tapi persis pada usia saya yang ke-51 ini tidak ada salahnya kalau ‘dirayakan’ dengan menggelar pertandingan tinju. Sebab, tinju memang olahraga yang paling saya gemari sejak masih muda. Tinju itu saya punya hobi. Ada sembilan partai yang dipertandingkan, dan partai utamanya Tommy Seran vs Mating Kilakil. Saya juga menyertakan ekshibisi untuk petinju perempuan biar lebih menghibur para pecinta olahraga tinju di Jawa Timur.

Lantas, kapan Anda mengorbitkan petinju-petinju kita ke jenjang internasional yang lebih bergengsi seperti kejuaraan dunia IBF, WBA, atau WBC?


Sasaran utamanya tentu saja ke sana. Tapi ini semua harus dilakukan dengan persiapan yang matang, tahap demi tahap. Jangan terlalu buru-buru diorbitkan, sementara si petinjunya sendiri belum siap. Saya juga tidak mau petinju-petinju kita hanya melawan petinju-petinju ayam sayur. Makanya, saya memilih petinju-petinju Filipina yang memang sangat keras dan bagus.

Apa motivasi Anda terjun ke dunia tinju profesional?

Saya hanya ingin membawa petinju-petinju kita berprestasi di ajang internasional. Bisa mengharumkan nama Indonesia. Saya tidak kejar uang, cari nama, popularitas, atau tujuan politik. Buat apa? Kalau mau kejar uang, jangan kejar di tinju. Hehehe.... (*)

BIODATA SINGKAT

Nama : Damianus Wera Vincentius
Lahir : Palue, Sikka, NTT, 27 Januari 1960
Ayah : Ware Ratu
Ibu : Maria Lanu
Istri : Selvia
Anak : Daniel Don Bosco Ware dan Veronika Lanu
Profesi : Tabib pengobatan alternatif, pemilik Sasana Rokatenda, dan promotor tinju
Alamat Praktik : Pondok Candra, Jalan Rambutan D 215 Sidoarjo
Pendidikan : Sekolah Dasar (SD) kelas 1.


Bikin Sasana karena Hobi

DILAHIRKAN di Gunung Rokatenda, Pulau Palue, NTT, yang gersang dan keras, Damianus Wera sejak dulu sangat menyukai tinju, olahraga keras. Ketika merantau ke Pontianak, Kalimatan Barat, pada 1980-an, Damianus pun berlatih di sebuah sasana setempat.

“Salah satu partai yang selalu saya kenang ketika tampil dalam partai tambahan perebutan juara dunia IBF Ellyas Pical. Saya kemudian menjadi akrab dengan Ellyas Pical,” kenang Damianus Wera.

Damianus kemudian menjadi salah satu petinju sparing partner sang juara dunia asal Saparua, Maluku,pada era 1980-an. Ternyata, pengalaman menekuni olahraga tinju meski tak punya prestasi fenomenal, terus membekas dalam hidup suami Selvia ini. Ketika modalnya sudah lumayan cukup dari hasil pengobatan alternatif, Damianus pun akhirnya membuka sebuah Sasana Rokatenda pada 2005.

Namanya Rokatenda diambil dari nama Gunung Rokatenda di kampung halaman Damianus. “Saya buka sasana ini karena hobi saja. Waktu itu belum terpikir bakal menghasilkan petinju-petinju level nasional, apalagi jadi promotor tinju segala,” ujarnya.

Salah satu tokoh tinju yang menjadi inspirasinya tak lain mendiang Hery Aseng Sugiarto. Sebelum meninggal dunia, promotor tinju terkenal memang memintanya mendirikan sebuah sasana tinju. Perlahan tapi pasti, Sasana Rokatenda yang bermarkas di Pondok Candra Sidoarjo ini kian melejit di kancah tinju nasional. Gun Tinular, Julio Basis, dan Tommy Seran kini menjadi juara nasional dna internasional.

“Saya bahagia ketika melihat petinju-petinju saya bisa naik ring, apalagi kalau menang. Itu kepuasaan yang luar biasa. Saya tidak pernah berpikir Sasana Rokatenda sebagai ajang bisnis. Faktanya saya justru nombok terus,” pungkasnya.

27 January 2011

Uskup Surabaya Pimpin Pemakaman Ibunda



Sekitar 800 jemaat melepas jenazah mendiang Ursula Madijanti Wisaksono (87) ke Makam Kristen Kembang Kuning, Surabaya, Kamis (20/1/2011). Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono, anak kedua Ursula, memimpin misa requiem di Gereja Katedral Surabaya dan dilanjutkan dengan upacara pemakaman di Kembang Kuning Surabaya.

Didampingi Romo Damar Cahyadi dan Romo Harjanto Prajitno, perayaan ekaristi ini berlangsung sekitar satu jam. Tak hanya umat awam, misa pelepasan ibunda Mgr Sutikno yang meninggal di RKZ Surabaya pada 17 Januari lalu itu dihadiri puluhan pastor dan suster yang berkarya di Keuskupan Surabaya.

Umat secara bergantian memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah Ursula yang disemayamkan di dalam Gereja Katedral sejak Senin malam itu.

Berbeda dengan misa penutupan peti jenazah sehari sebelumnya, Mgr Sutikno tak kuasa menahan kesedihan akibat ditinggal ibunda yang sangat dikasihinya. Uskup kelahiran Surabaya, 26 September 1953, itu bahkan nyaris kesulitan menyelesaikan khotbahnya.

“Ibu adalah teladan hidup bagi kami. Ibu sejak dulu akrab dengan penderitaan, akrab dengan kesederhanaan,” kata Mgr Sutikno.

Sebagai ibu rumah tangga biasa, menurut uskup, Ursula setiap hari melakukan pekerjaan-pekerjaan rutin di rumah seperti memasak, mencuci pakaian, menyeterika, atau mencuci piring. Saat itu belum ada kompor listrik atau kompor gas, sehingga semuanya harus dikerjakan secara manual dengan peralatan yang sangat sederhana.

Mgr Sutikno punya pengalaman paling berkesan dengan mendiang mamanya. Yakni, sang mama tak pernah absen mengantarkannya saat pulang ke tempat belajarnya di seminari. “Bayangkan, sampai saya sudah tingkat tujuh pun Ibu masih mengantar hingga stasiun kereta api atau terminal bus,” tutur pria bernama asli Oei Tik Hauw ini dengan suara tercekat.

Nah, setiap kali mengantar putra kedua dari tiga bersaudara ini kembali ke seminari, Ursula Madijanti selalu berurai air mata. Air mata yang melambangkan kasih sayang dan pengobanan yang besar dari seorang ibu kepada putra tunggalnya itu. Air mata itu pun kembali terurai ketika Sutikno ditahbiskan sebagai pastor pada 23 September 1981 dan uskup Surabaya pada 29 Juni 2007.

Meski kehilangan ibunda tercinta, Mgr Sutikno menegaskan bahwa kematian, seperti juga kehidupan, tidak akan sia-sia jika kita percaya pada Tuhan. Ursula Madijanto telah akrab dengan perjuangan selama 87 hidupnya di dunia ini. Dan selama itu pula almarhumah telah menunjukkan iman dan cintanya kepada Tuhan.

Setelah upacara selama 30 menit, para pelayat secara bergantian memberikan ucapan belasungkawa dan berjabat tangan dengan Mgr Sutikno serta kedua saudarinya, Reniwati dan Mia Swandajani. (lambertus hurek)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 21 Januari 2011

Kor Sederhana di Lembata



Kor OMK mengiringi Romo Bernardus Keban membagikan komuni di Gereja Stasi Lewotolok. Semua anggota kornya perempuan. Ama lake tega nai?



Saya harus mengacungkan dua jempol untuk para remaja di kampung halaman, Lewotanah, yang aktif di paduan suara gerejawi. Kor-kor di pelosok Lembata, NTT, sangat sederhana. Suara polos-polos, alami, nyaris tak ada polesan apa-apa.

Saya pastikan mereka tidak kenal teknik bell canto. Tidak latihan olah pernapasan diafragma. Tidak latihan vokalisasi. Tidak latihan naik turun interval nada. Tidak latihan resonansi. Tidak diajari teknik membuat suara kepala, khususnya sopran dan alto, dan suara perut, khususnya untuk alto dan bas.

Singkatnya, ilmu-ilmu dasar paduan suara yang dibahas panjang lebar oleh Romo Karl Edmund Prier SJ, bos Pusat Musik Liturgi [PML] di Jogjakarta, yang juga rujukan para aktivis paduan suara Gereja Katolik di Indonesia, tidak sampai di pelosok Lembata. Sistem latihan ala Paul Widyawan, juga pentolan PML, juga tidak dikenal.

Mereka punya dedikasi tinggi, aktif berlatih, setelah sibuk kerja di kebun atau budidaya rumput laut. Tanpa bimbingan guru vokal, apalagi pelatih kor kawakan macam di Jawa, para OMK (orang muda Katolik) itu setiap minggu mewarnai misa atau ibadat sabda tanpa imam di gereja.

Sejak dulu laki-laki Lamaholot -- yang meliputi Kabupaten Flores Timur, Lembata, Alor -- senang merantau ke Malaysia Timur. Sabah dan Serawak sudah seperti 'kampung kedua' orang Lamaholot. Merantau puluhan tahun, kumpulkan ringgit, pulang sejenak di kampung... kemudian balik lagi ke Malaysia. Biasanya, RIP-nya juga di negeri orang: Negara Bagian Sabah, Malaysia.

Urusan TKI legal atau ilegal, pendatang haram atau pendatang halal, itu nomor 17 bagi kami, etnis Lamaholot. Bukankah tauke-tauke di Malaysia Timur, yang doyan makan babi itu, senang dengan orang-orang kampung di Flores yang memang tidak jijik merawat babi-babi gemuk, mendaras getah, mengolah kebun sawit, atau menebang pohon?

Karena itu, paduan suara di kampung-kampung di Lembata umumnya kekurangan laki-laki. Bahkan, yang saya lihat di Gereja Stasi Lewotolok, Kecamatan Ile Ape, penyanyi laki-lakinya tidak ada. Kor hanya punya sopran dan alto minus tenor dan bas. Kor sejenis putri, female choir, memang lazim dalam jagat paduan suara.

Sayang, seperti yang saya lihat, aransemen kor yang dipakai di kampung adalah kor campuran, mixed choir. Kor SATB. Maka, kor-kor yang ada pun tidak bisa dibilang kor beneran. Sudah untung OMK-OMK itu mau menyisihkan waktu untuk datang berlatih dan melayani nyanyian di gereja. Tidak adil kalau kita menuntut terlalu banyak pada mereka.

Meski sederhana, kor-kor di kampung ini sangat berkesan bagi warga Lamaholot macam saya. Mereka lebih banyak membawakan lagu-lagu liturgi bernuansa Lamaholot yang khas. Misalnya, INA MARIA [Bunda Maria] beberapa versi yang syairnya sangat menyentuh. Kita bisa menitikkan air mata begitu mendengar nyanyian yang diciptakan Ama Thomas Kwae Laga dari Adonara Timur ini.

Saya bilang kepada orang-orang di kampung:

"Denga kantar INA MARIA heloka denga ata diken tani ata maten!"

[Mendengar lagu INA MARIA ini ibarat mendengar orang-orang kampung menangis, meratapi kepergian orang yang meninggal dunia.]

Sungguh pedih dan menyanyat hati. Kor-kor sederhana, nyanyian pendek dengan melodi dan harmoni yang juga tidak ruwet.. ternyata membekas luar biasa di dalam hati.

Ketika menyaksikan Yulius Kristanto, dirigen dan pelatih paduan suara terkenal di Surabaya, memimpin paduan suara di Gereja Katedral Surabaya, dengan komposisi-komposisi klasik yang hebat, batin saya pun tergetar. Indah bak suara malaikat.

Toh, tetap saja beda rasa dengan kor-kor OMK di pelosok Lembata yang membunyikan nada-nada Lamaholot dari kesederhanaannya.



25 January 2011

RIP Mama Mady, Ibunda Uskup Surabaya



Kwa Siok Nio (87 tahun) alias Ursula Madijanti, ibunda Uskup Surabaya Mgr Sutikno Wisaksono, tutup usia di RKZ Surabaya pada Selasa (18/10/2010) pukul 14.15. Sepanjang hidupnya, mendiang Mama Mady dikenal sederhana, tekun, dan sangat religius.

Setelah menikah dengan Oei Kok Tjia (sekarang almarhum), pegawai Penataran Angkatan Laut (PAL), pada 30 April 1950, Kwa Siok Nio tinggal bersama suaminya di Perak Timur 216 Surabaya. Dua tahun kemudian, tepatnya 27 Juni 1952, pasutri muda yang masih punya hubungan kekerabatan ini dikarunia anak pertama, Oei Lwan Nio.

Tak lama kemudian, 26 September 1953, lahir anak kedua yang diberi nama Oei Tik Hauw. Kelahiran anak laki-laki ini, sebagaimana keluarga Tionghoa umumnya, disambut sukacita pasutri Kok Tjia-Siok Nia. Sang papa yang pegawai negeri ini sengaja menamai anaknya Tik Hauw, artinya kebijaksanaan yang indah. Kelak, Tik Hauw tumbuh menjadi rohaniwan Katolik yang mumpuni hingga ditahbiskan sebagai uskup Surabaya oleh Julius Kardinal Darmaatmaja SJ di Lapangan Bumimoro, Surabaya, 29 Juni 2007.

Ketika Tik Hauw berusia dua tahun, Siok Nio dikarunia seorang putri lagi. Anak ketiga ini diberi nama Oei Swan Nio. Dokter Hartles kemudian menyarankan agar pasutri ini menghentikan punya momongan. Sang dokter khawatir pernikahan sedarah ini berpotensi melahirkan anak yang tidak normal. Saran dokter keluarga pun diikuti, sehingga Swan Nio menjadi anak bungsu.

Sebagai satu-satunya anak laki-laki, Tik Hauw (kelak bernama Vincentius Sutikno Wisaksono) paling disayangi papa dan mamanya. Tik, tutur Siok Nio suatu ketika, sangat lucu, lincah, dan periang. Dia juga selalu lekat alias kinthil dengan mamanya. Porsi makan untuk Tik pun biasanya lebih banyak ketimbang dua saudarinya. Biasanya, Kwa Siok Nio membagi satu telur untuk ketiga anaknya. Nah, Tik selalu mendapat jatah separo, sedangkan Lwan Nio dan Swan Nio masing-masing kebagian jatah seperempatnya.

Meskipun mendapat porsi makan lebih banyak, ternyata kondisi fisik Tik lebih lemah dari kakak dan adiknya. Tik mudah sakit. Ini sangat merepotkan sang mama, Siok Nio, mengingat sang suami sering berdinas ke luar daerah, bahkan keluar negeri dalam waktu lama. Mama Mady, sapaan akrab Kwa Siok Nio di rumah, pernah pusing tujuh keliling gara-gara Tik Hauw punya luka (borok) yang tak sembuh-sembuh. Beberapa kali diobati, dibawa ke dokter, borok itu tetap saja membandel.

Tik Hauw kemudian dibawa ke rumah tetangga, Sutiksno, untuk diobati dengan obat luka spesial. Aha, beberapa hari kemudian borok itu akhirnya sembuh. Sutiksno dan istri, Suharni, kemudian ikut berperan penting dalam perjalanan rohani keluarga Oei Kok Tjia.

Ketika menikah di Surabaya, Siok Nio sebenarnya sudah ingin diberkati secara Katolik meskipun saat itu dia belum resmi menganut Katolik. Dia terkesan dengan dedikasi para misionaris, khususnya pastor-pastor Karmelit asal Belanda sewaktu tinggal di Lumajang. Dia juga terkesan dengan liturgi syahadu di gereja Katolik pada era 1960-an. Saat itu perayaan ekaristi atau misa memang dilakukan dalam bahasa Latin dengan lagu-lagu gregorian yang khas.

Namun, untuk dibaptis secara Katolik perlu proses yang agak lama. Siok Nio mulai rajin ke gereja meski harus duduk di bagian belakang. Waktu itu memang ada tradisi bahwa umat yang belum dipermandikan tidak boleh duduk di depan. Toh, Siok Nio senang melihat putranya, Tik Hauw, aktif menjadi misdinar atau putra altar di gereja.

“Padahal, saat itu Tik belum dibaptis,” kenang Siok Nio beberapa waktu silam.

Berkat ketekunan Kwa Siok Nio mengikuti pelajaran agama selama empat tahun, dan rajin misa di gereja, akhirnya pada 7 Mei 1966 seisi keluarga Oei Kok Tjia dibaptis di Gereja Santo Mikael, Tanjung Perak, Surabaya, oleh Romo A van Rijnsoever CM. Tik Hauw saat itu duduk di kelas enam sekolah dasar (SD).

Setelah dibaptis, kelima jemaat baru ini mendapat tambahan nama santo/santa di depan nama Tionghoa. Nama-nama mereka menjadi Stefanus Oei Kok Tjia, Ursula Kwa Siok Nio, Maria Regina Oei Lwan Nio, Vincentius Oei Tik Hauw, dan Vincentia Oei Swan Nio.

Perkembangan politik dan keamanan pascaperistiwa G30S/PKI membuat warga keturunan Tionghoa di tanah air harus tiarap. Muncul aturan agar warga Tionghoa mengganti namanya dengan nama-nama Indonesia. maka, atas masukan Sutiksno, tetangga depan rumah di Perak Barat 221, nama-nama mereka pun diganti lagi.

Stefanus Oei Kok Tjia ‘disesuaikan’ menjadi Stefanus Widiatmo Wisaksono. Ursula Kwa Siok Nio menjadi Ursula Madijanti. Ini karena sejak kecil Siok Nio memang punya nama kecil Mady. Maria Regina Oei Lwan Nio menjadi Maria Regina Reniwati Wisaksono. Vincentius Oei Tik Hauw menjadi Vincentius Sutikno Wisaksono. Vincentia Oei Swan Nio menjadi Vincentia Mia Swandajani Wisaksono.

Sebagai pegawai negeri dengan penghasilan pas-pasan, Kwa Siok Nio yang kini bernama Ursula Madijanti merasakan betul beratnya beban hidup. Semua anggota keluarga harus kerja keras agar bisa bertahan hidup sebulan. “Sebab, belum tanggal 10 gajian sudah tipis,” kenang Ursula Madijanti.

Karena itu, dia pernah meminta Tik Hauw alias Sutikno Wisaksono agar tidak menjadi pegawai negeri. “Anakku ojo sampek dadi pegawai negeri. Iso kere!” katanya. Namun, Ursula dan suami pun tak pernah membayangkan anak laki-laki satu-satunya itu memilih menjadi pastor dengan masuk seminari. Ini berarti Sutikno tak akan berkeluarga, punya istri dan anak.

Namun, Pak Wisaksono dan istri akhirnya dengan bijak menerima kenyataan ini. Mereka merelakan Sutikno menempuh pendidikan di Seminari Menengah Santo Vincentius a Paulo di Garum, Blitar. “Sudahlah, ini sudah jalan Tuhan. Tuhan sudah atur. Kita harus percaya kalau ini jalan yang terbaik,” kata Wisaksono yang meninggal dunia akibat komplikasi diabetes pada 12 November 1996.

Berkat dukungan orangtua, perjalanan imamat Sutikno berjalan mulus. Pada 21 Januari 1982, frater muda asal Tanjung Perak ini ditahbiskan sebagai imam (pastor) di Gereja Katedral Surabaya. Sang mama yang berurai air mata ketika melepas anaknya ke seminari beberapa tahun silam, kini juga tak kuasa menahan linangan air mata. Mama Mady bahagia karena cita-cita Sutikno akhirnya terwujud.

Ketika Romo Sutikno ditunjuk Paus Benediktus XVI menjadi uskup Surabaya menggantikan Mgr Johanes Hadiwikarta, yang meninggal dunia, mata Mama Mady untuk kesekian kalinya berkaca-kaca. Dan kalimat yang pernah dilontarkan Stefanus Wisaksono, almarhum suaminya, pun diucapkannya dengan yakin. “Njootje (sapaan akrab Sutikno), jalan Tuhan adalah yang terbaik!”

Bagi Mgr Sutikno, kenangan yang paling berkesan dari sang mama adalah kesederhanaan, kejujuran, dan ketetekunan berdoa. Doa sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup Ursula Madijanti. Bahkan, setelah jadi uskup pun, Mgr Sutikno masih juga diingatkan agar tidak lupa berdoa.

“Njootje, kamu jangan lupa berdoa ya! Jangan lupa berdoa!” pesan Ursula. Mgr Sutikno sendiri tersenyum simpul mendengar imbauan mamanya.

“Saya ini sudah uskup, tapi selalu disuruh berdoa oleh ibu saya,” cerita monsinyur di sejumlah acara. Hehehe.... Umat pun tertawa-tawa mendengar cerita ini. (*)

CATATAN:

Bahan-bahan utama dikutip dari buku MAESTRO DARI PERAK, biografi Mgr Sutikno karya Kanisius Karyadi. Bekas ketua PMKRI Surabaya yang mulai merintis karier sebagai penulis buku, petani, dan pengelola koperasi kredit. Matur nuwun Cak Karyadi lan Ning Sisilia.

23 January 2011

Tedja Suminar Pendekar Sketsa Jatim


Oleh Lambertus Hurek

Di usianya yang sudah 74 tahun, Tedja Suminar masih tetap produktif berkarya. Pelukis senior Surabaya ini bahkan sedang menggarap sketsa-sketsa tentang kehidupan para pekerja di sebuah perusahaan rokok terkenal di Surabaya. Hari-hari ayah dua anak dan kakek enam cucu ini disibukkan dengan melukis, melukis, dan melukis.

Di sela-sela kesibukannya membuat sketsa, Tedja Suminar menerima wartawan Radar Surabaya untuk wawancara khusus di studio sekaligus rumahnya di Jalan Dharmawangsa Surabaya, Sabtu (22/1/2010). Belasan karya terbarunya terlihat menemani seniman yang sejak dulu tidak suka dipublikasikan itu. Berikut petikan percakapan dengan Tedja Suminar:


Anda kelihatannya masih semangat dan produktif.

Ya, harus semangat dong! Orang hidup itu harus semangat, kerja keras, dan tidak boleh putus asa. Saya ini kemarin (21/1/2010) baru pulang dari wisata di kota budaya Thailand. Saya benar-benar terkesan dan kagum dengan kemajuan yang luar biasa di Thailand. Kita di Indonesia pun seharusnya bisa begitu kalau tidak ada korupsi dan orang-orang seperti ini.

(Tedja Suminar memperlihatkan koran berisi foto Gayus Tambunan, salah satu mafia pajak.)

Di Bangkok barangkali ada acara pameran lukisan atau kesenian?

Oh, tidak ada urusan dengan itu. Cuma wisata, jalan-jalan biasa saja. Saya ini sebetulnya lebih suka dianggap sebagai orang biasa seperti masyarakat masyarakat lain yang butuh rekreasi, wisata, jalan-jalan. Jangan sedikit-sedikit dikaitkan dengan kesenian atau pameran lukisan. Selama satu minggu di Thailand itu saya kagum sekali menyaksikan Grand Palace yang agung dan damai. Pagoda-pagoda di Bangkok juga bagus-bagus dan sudah berusia ratusan tahun. Semua keindahan itu cocok dengan prinsip saya, yakni ingin hidup di bumi seperti di dalam surga.

Lantas, bagaimana ceritanya Anda mengerjakan sketsa tentang kehidupan di Wismilak yang cukup banyak ini?


Saya memang menerima order atau pesanan dari pihak Wismilak untuk membuat sketsa-sketsa tentang kehidupan ribuan pekerja pabrik rokok serta suasana kehidupan di pabrik secara keseluruhan. Meskipun pesanan, tapi saya diberi kebebasan sepenuhnya untuk berkarya, membuat skesta sesuai dengan kebebasan yang ada dalam jiwa saya. Jadi, kekuatan garis yang menjadi ciri khas seorang Tedja tidak akan hilang.

Coba Anda perhatikan beberapa sketsa ini dan silakan dibanding dengan karya-karya saya sebelumnya. (Tedja Suminar menunjuk empat sketsa terbarunya. Dua di antaranya berjudul Ngelinting dan Ngelembur.) Saya mengerjakan ini dengan penghayatan yang mendalam.

Ada target kapan harus diselesaikan?


Tidak ada. Tapi saya harus disiplin, tetap bekerja, agar pesanan ini segera selesai. Saya juga berkomtimen agar karya-karya terbaru saya ini akan menjadi koleksi Wismilak yang langka dan berharga.

Di mana Anda membuat sketsa-sketsa itu?

Ya, langsung di lapangan. Jadi, saya harus datang ke pabrik, melihat langsung pekerjaan ribuan buruh yang ngelinting rokok, ngelembur, pekerja di gudang tembakau, dan sebagainya. Saya mencium langsung aroma tembakau serta berbagai kesibukan di dalam pabrik. Ini sangat perlu karena membuat sketsa itu, bagi saya, harus punya penghayatan yang mendalam. Harus benar-benar menjiwai. Kalau tidak datang ke pabrik, ya, saya nggak mungkin bisa membuat sketsa-sketsa seperti ini.

Dan, biasanya, saya mengerjakan sketsa itu pada jam-jam yang sama. Makanya, kalau sebuah sketsa belum selesai, besoknya saya harus datang ke lokasi pada jam yang sama juga. Kalau hujan, misalnya, ya saya datang lagi keesokan harinya. Kalau nggak begitu, suasana, komposisi, dan jiwanya menjadi hilang.

Apakah sketsa-sketsa itu akan dipamerkan?

Mudah-mudahan demikian. Tapi ini juga kembali ke pihak Wismilak sendiri. Saya dengar karya-karya terbaru saya ini akan dipamerkan di Grha Wismilak pada Hari Ulang Tahun Kota Surabaya, bulan Mei 2011. Saya sendiri sejak dulu tidak suka yang namanya pameran bersama. Kalau pemeran seni rupa, ya, harus pameran tunggal agar karya-karya seni itu bisa dipertanggungjawabkan secara jelas. Masyarakat juga bisa mengapresiasi karya-karya itu dengan baik.

Anda tergolong pelukis yang sukses. Punya studio yang bagus di Bali dan Surabaya, bisa jalan-jalan ke banyak negara, kemudian keliling Indonesia. Apa rahasianya?

Sejak dulu saya memang punya prinsip: “Ingin hidup di bumi seperti di dalam surga!” Karena itu, saya harus bekerja keras, membuat karya-karya seni rupa dengan penghayatan yang mendalam. Karya-karya seni itulah yang kemudian diapresiasi dan membuat saya bisa membeli tanah di Ubud (Bali) dan kemudian membangun sebuah studio seni rupa. Dan itu semua juga tidak lepas dari dukungan istri saya (Anastasia Moentiana). (*)






Nama : Tedja Suminar
Lahir : Ngawi, 1936
Istri : Anastasia Moentiana (alm)
Anak : Swandayani dan Natalini Widihiasi
Alamat : Jalan Dharmawangsa Surabaya
Pekerjaan : Pelukis, pembuat relief
Studio : Ubud, Bali
Pendidikan : Akademi Kesenian Surakarta




Kenangan Manis di Ubud

KARYA-KARYA Tedja Suminar sejak dulu menjadi buruan para kolektor di tanah air. Ini membuat ayah dua anak punya modal yang cukup untuk membangun studio seni rupa nan eksotik di kawasan Ubud, Bali. Bersama istrinya, Anastasia Moentiana (almarhumah), yang juga pelukis, Tedja Suminar menikmati suasana alam pedesaan Ubud selama hampir 30 tahun.


Tedja membeli sebidang tanah sawah seluas 200 meter persegi di Ubud pada 1980-an. Waktu itu belum ada jaringan listrik, telepon, dan fasilitas modern di kawasan favorit seniman itu. “Penerangannya, ya, pakai lampu minyak atau petromaks. Benar-benar suasana pedesaan yang sederhana,” kenang Tedja Suminar.

Studio sekaligus rumah itu kemudian diisi Tedja Suminar dengan berbagai aksesoris dan furnitur antik. Di antaranya, kursi besi peninggalan Portugis, porselin dari Tiongkok, seperangkat furnitur kayu jati asal Madura, hingga aneka kerajinan dari Suku Asmat di Papua. Kebetulan pada 1980-an dan 1990-an, pelukis senior ini suka bertualang ke berbagai daerah di Indonesia.

“Empat kursi Portugis itu saya peroleh dari Pulau Banda. Berat bukan main karena terbuat dari besi zaman dulu. Ada ukiran-ukiran khas seperti lambang negara Portugis yang ada salibnya,” ujar Tedja seraya memperlihatkan foto-foto aksesoris koleksinya di Ubud itu.

Mengetahui Tedja Suminar punya studio istimewa di kawasan Ubud, para seniman asal Jawa Timur sering mampir sekaligus mencari inspirasi di situ ketika berkunjung ke Pulau Dewata. Turis-turis Barat pun kerap datang bertamu. Selain itu, Tedja dan istri beberapa kali menggelar even kesenian yang dihadiri para seniman dan budayawan di Bali.

Peristiwa besar dalam hidup Tedja Suminar terjadi pada 30 Oktober 2009. Sang istri tercinta, Anastasia Moentiana, meninggal dunia dalam usia 69 tahun. Tedja yang dikenal sebagai family man pun merasa terguncang. Dia ibaratnya kehilangan separo jiwa yang selama bertahun-tahun mendampingi dirinya dalam perjalanan hidup ini. Sejak itulah, Tedja lebih banyak menghabiskan waktu di Surabaya untuk menemani enam cucunya sambil terus berkarya.

“Saya sepertu tidak tahan tinggal di Ubud. Bayangkan, saya dan istri membangun studio itu dari tanah kosong. Mulai pasang fondasi sampai jadi kami selalu bersama-sama,” ujarnya perlahan. (rek)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu, 23 Januari 2010

21 January 2011

Gereja Lewotolok dan Jam Karet



Sebelum dipecah menjadi dua kecamatan dan dua paroki, 15 desa di Kecamatan Ile Ape bergabung dalam satu paroki. Paroki Ile Ape. Ada juga yang bilang Paroki Gunung Api. Di hampir semua desa, kecuali Desa Napasabok (Mawa), terdapat gereja-gereja stasi. Stasi-stasi itulah yang membentuk paroki.

Maka, pastor paroki dan pastor pembantu harus turne dari kampung ke kampung keliling gunung. Kemudian rapat dekenat di Lewoleba, dipanggil ke Keuskupan Larantuka, atau melakukan reksa pastoral lainnya. Berat nian tugas para pastor di pedalaman Flores Timur, khususnya sebelum tahun 2000.

Konsep paroki berikut stasi macam ini sangat berbeda dengan di Jawa, yang umat Katoliknya hanya segelintir. Umat Katolik di kota-kota di Jawa Timur, misalnya, rata-rata kurang dari 1 persen. Maka, gereja-gereja paroki di Jawa Timur umumnya lebih kecil ukurannya daripada gereja-gereja stasi di Lembata atau Flores pada umumnya.

Di Ile Ape, Kabupaten Lembata, ini sejak dulu ada dua stasi yang menonjol, yakni Waipukang dan Stasi Lewotolok. Pastor Petrus Maria Geurtz SVD dan Pastor Willem van der Leur SVD, keduanya sudah almarhum, biasanya suka menginap di dua stasi ini. Kondisi Gereja Lewotolok dan Waipukang pun lebih bagus ketimbang gereja-gereja lain.

Sekali lagi, itu dulu... 20-an tahun lalu. Sekarang Gereja Stasi Atawatung di Desa Lamagute jauh lebih cantik luar dalam ketimbang gereja-gereja lain di Ile Ape, bahkan seluruh Lembata. Gereja Stasi Ebak, yang dulu mungil dan bundar, sekarang pun terlihat megah meskipun belum diplester.

Kalau ada perayaan Natal dan Paskah, ribuan umat dari 15 desa berkumpul di suatu tempat. Pekan Suci, bagi saya sebagai bocah SD, sangat menyenangkan. Kita bisa ikut ritual tahunan yang benar-benar meriah meskipun penuh kesederhaan ala jemaat pedesaan.

Gereja Lewotolok saat ini menjadi tempat ibadah untuk umat Katolik dari tiga desa. Yakni, Desa Lewotolok sendiri, kemudian Desa Lamawara dan Desa Bungamuda alias Nobolekan. Zaman saya kecil dulu Lamawara dan Nobolekan ini sama-sama satu desa: Desa Bungamuda.

Beberapa bulan lalu, begitu kata orang-orang kampung, Gereja Lewotolok jadi tuan rumah tahbisan dua pastor baru. Pejabat-pejabat penting NTT, Flores Timur, dan Lembata ikut hadir. Ramai sekali. Orang-orang kampung senang sekali dengan kemeriahan ini.

Saat berlibur di kampung, belum lama ini, saya berkesempatan ikut misa di Gereja Lewotolok. Gereja di dekat pantai dan dekat lapangan bola ini terlihat megah dan lapang. Paroki Ile Ape sudah terpecah dua, sehingga Lewotolok ikut Paroki Tokojaeng, bukan lagi Waipukang. Pastor parokinya Romo Blasius Keban. Romo asal Solor ini lancar sekali berbahasa Lamaholot versi Ile Ape, sehingga khotbahnya pun diselingi bahasa daerah.

Sayang, ketika saya ikut misa itu, gairah umat mengikuti perayaan ekaristi tidak sehebat zaman saya kecil dulu. Disiplin waktu benar-benar hampa. Bayangkan, misa yang seharusnya dimulai pukul 07.00 molor hingga 07.40. Telat hampir satu jam. Di gereja-gereja di Jawa Timur, umat tak pernah kenal yang namanya jam karet. Misa selalu on time. Setengah jam sebelum misa dimulai, gereja-gereja sudah hampir terisi semua.

Romo Blasius pun terpaksa mengalah, mengikuti kemalasan umat Katolik di Lewotolok yang sangat sulit diajak untuk disiplin.

Menurut cerita beberapa umat, Romo Blasius sering ngambek, bahkan patah arang melihat sikap umatnya yang loyo dan aras-arasan. Dia pernah memaksakan diri untuk memulai misa sesuai dengan jadwal meskipun umat yang hadir baru beberapa gelintir orang. Asumsinya, ini jadi semacam terapi kejut bagi umat. Ke depan, diharapkan umat Stasi Lewotolok bisa lebih tertib dan disiplin.

Rupanya, shock therapy ala Romo Blasius ini tidak mempan. Umat Stasi Lewotolok malah tenang-tenang saja. Menganggap terapi kejut ini sebagai lelucon biasa. “Namanya romo, ya, harus sabar. Umat itu kan punya banyak kesibukan di rumah,” kata seorang umat, 30-an tahun, asal Lewotolok.

Wah, wah, wah....

20 January 2011

Perlu Mengingat Nomor Telepon



Berapa banyak nomor telepon, entah telepon rumah, kantor, atau ponsel (HP) yang Anda ingat? Lima, tujuh, 10... atau mungkin hanya dua? Hehehe....

Sejak ada teknologi seluler, HP, terus terang saja, saya tidak banyak mengingat nomor-nomor telepon. Bahkan, nomor HP adik saya di kampung, yang sangat sering berkomunikasi dengan saya, tak saya ingat. Cukup membuka daftar nomor telepon, phone book, selesai.

Tak perlu lagi mengingat nomor-nomor telepon yang biasanya 10 digit lebih itu. Memori di kepala kita rupanya tak lagi dipakai untuk menyimpan nomor-nomor telepon, termasuk nomor-nomor telepon orang yang sangat dekat dengan kita.

Mengapa saya tiba-tiba membahas nomor telepon?

Aha, tadi pagi, saya kebetulan mendampingi Ibu Yati, usianya mendekati 80 tahun, untuk mengurus surat-surat tanah di kantor Pemkot Surabaya. Bu Yati, sebagai wong lawas, tidak pernah kenal HP. Gagap teknologi lah. Beliau hanya punya telepon rumah, yang dikenalnya sejak era kolonial Belanda.

Karena tak pernah punya HP, meskipun uangnya banyak, rumahnya di kawasan elite Surabaya, Bu Yati terbiasa menyimpan nomor-nomor telepon penting di kepalanya. Telepon-telepon teman dekat, keluarga, keponakan, dokter, relasi... Termasuk nomor HP saya yang 11 digit itu. Bu Yati juga punya buku catatan nomor-nomor telepon penting yang ditulis secara manual.

Tiba di pemkot, Taman Surya, Bu Yati meminta saya menghubungi lima orang yang terkait dengan urusan tanah via HP-ku. “Nomor teleponnya berapa, Bu?” tanya saya.

Lalu, beliau dengan fasih menyebut 10 sampai 12 digit nomor HP. Dan ternyata semuanya benar. Luar biasa orang tua ini! Saya sendiri bahkan tidak hafal nomor HP saya yang baru, XL, karena angkanya ada 12. Kalau nomor lama, Simpati, sih ingat karena usianya sudah 12 tahun lebih. Wah, ternyata Bu Yati ingat nomor HP alternatif saya yang XL, yang jarang dipakai, itu.

Di sepanjang jalan, saya terkagum-kagum dengan memori orang-orang lama macam Bu Yati ini. Almarhum Gus Dur kabarnya hafal 500-an nomor telepon teman-teman dan keluarga dekatnya. Di Palestina, seperti yang saya baca di internet, mampu menghafal 80 ribu nomor telepon.

Saya hanya menghafal kurang dari 10 nomor telepon! Bahkan, nomor telepon rumah Bu Yati pun tidak saya hafal. Cukup melihat di phone book HP saja. Hehehe.... Ada penyiar radio terkenal di Surabaya yang tidak hafal nomor telepon kantor studionya sendiri. Setiap kali siaran, si cewek itu selalu bertanya kepada penyiar rekannya, “Nomor telepon kita berapa ya?”

Bagaimana kalau HP yang menyimpan ratusan, bahkan ribuan, nomor telepon itu hilang? HP dicuri orang? HP rusak?

Kalau Anda punya anak, pembantu rumah tangga, mulai sekarang biasakan untuk menghafal nomor telepon rumah, nomor HP ayah, ibu, kakak, adik, dan orang-orang terdekat. Siapa tahu suatu ketika dia tersesat di sebuah tempat yang jauh, sementara HP-nya hilang atau dicolong orang.

Jeane Mandagi - Anugerah School



Cukup lama menjadi pendidik di Jayapura, Papua, sejak beberapa tahun terakhir Jeane Andreta Mandagi dipercaya memimpin TK Anugerah School Sidoarjo. Panggilan hidupnya sebagai pendidik dan kecintaannya pada anak-anak membuat Jeane selalu terlihat ceriah di sekolah.

Oleh Lambertus Hurek
Dimuat RADAR SURABAYA edisi 15-16 Januari 2010

SEBELUM rezim Orde Baru berkuasa, Sidoarjo punya sebuah sekolah Tionghoa di kawasan Jalan Gajah Mada. Sekolah setingkat TK dan SD ini kemudian tutup dan nyaris tak berbekas hingga 30 tahun lebih. Kini, setelah reformasi, muncullah Anugerah School yang mengajarkan bahasa Mandarin, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia kepada para siswa sejak dini.

“Jadi, Anugerah School ini sekolah nasional. Bukan sekolah eksklusif untuk etnis tertentu. Hanya kami mengondisikan para siswa agar menguasai bahasa Inggris dan Mandarin, selain bahasa Indonesia,” ujar Jeane Mandagi.

Dirintis pada tahun ajaran 2006/2007, seperti sekolah-sekolah baru umumnya, Anugerah School awalnya adalah sebuah kelompok bermain alias play group. Jumlah siswa saat itu 86 anak. Rupanya, minat para orangtua di Sidoarjo untuk menyekolahkan anak-anaknya di lembaga pendidikan berstandar internasional cukup tinggi. Maka, jumlah siswa Anugerah School pun berkembang jadi 160 orang.

“Trennya memang selalu naik setiap tahun. Dan sekarang total siswa kami sudah sekitar 350 orang. Siswa SD 150 orang dan siswanya taman kanak-kanak,” ujar ibu tiga anak ini seraya tersenyum.

Sebagai sekolah baru, yang didesain mengikuti standar pendidikan internasional (Barat), menurut Jeane Mandagi, para guru di Anugerah School dituntut untuk punya kemampuan di atas rata-rata. Mereka harus bisa menguasai bahasa Inggris dan bahasa Mandarin agar bisa mendampingi anak-anak didiknya.

“Kami juga punya native speaker dari Tiongkok. Tapi guru-guru lokal pun dituntut bisa berkomunikasi secara aktif dalam bahasa internasional,” kata Jeane Mandagi.

Bagi perempuan kelahiran Manado, Sulawesi Utara, 25 Mei 1968, ini, bahasa Inggris dan bahasa Mandarin sudah menjadi bahasa internasional yang perlu dikuasai di era globalisasi sekarang. Karena itu, anak-anak Indonesia sejak dini harus dibiasakan untuk berkomunikasi dalam bahasa global tersebut. Jeane Mandagi bahkan menyekolahkan dua anaknya ke Xiamen, Provinsi Fujian, di Tiongkok Selatan.

“Jadi, saya bisa memperdalam bahasa Mandarin saya langsung sama anak-anak saya itu,” tukas guru yang suka bercanda ini.



Sebagai kepala sekolah, Jeane Andreta Mandagi selalu membiasakan anak-anak didiknya untuk praktik langsung di lapangan. Para murid juga dibiasakan untuk tidak malu bertanya dan menyatakan pendapat.

"SISTEM pendidikan ala Barat yang kami kembangkan memang agak berbeda dengan apa yang kita kenal di Indonesia selama ini," tutur Jeane Mandagi kepada saya. Setelah mendapat penjelasan dari guru, anak-anak dibagi dalam beberapa kelompok, kemudian dibawa ke lapangan.

Ketika belajar mengenai rumah, misalnya, sang guru akan membawa anak-anak didik ke Perumahan Citra Garden Sidoarjo untuk melihat langsung proses pembuatan rumah. Anak-anak kemudian diperlihatkan berbagai bagian rumah seperti pintu, jendela, lantai, kamar mandi, atap, tembok, dan sebagainya. Anak-anak juga bisa mewawancarai para tukang yang sedang bekerja.

Ketika menjelaskan tentang tanaman, sambung Jeane Mandagi, anak-anak pun harus diantar untuk melihat langsung tanaman-tanaman yang ada di sekitar sekolah. “Jadi, guru di Anugerah School tidak bisa hanya sekadar bercerita macam-macam kepada anak didik. Anak-anak didik sedapat mungkin dibawa ke alam,” kata ibu tiga anak ini seraya tersenyum.

Tak hanya relasi dengan alam, menurut Jeane Mandagi, pihaknya juga membiasakan sekitar 350 siswa TK dan SD Anugerah School untuk memiliki kepedulian terhadap sesama. Ketika terjadi bencana alam di berbagai daerah di tanah air seperti banjir di Wasior, tsunami di Mentawai, kemudian letusan
Gunung Merapi di Jogjakarta dan Jawa Tengah, Jeane Mandagi bersama guru-guru yang lain segera membuka dompet bencana alam.

Anak-anak diajak untuk menyisihkan sebagian uang jajannya untuk disumbangkan kepada korban bencana alam. Siswa bebas memasukkan uang ke kotak amal. Hasilnya ternyata cukup menggembirakan. Nilai sumbangan anak-anak Anugerah School mencapai Rp 7.999.000.

Duit yang terkumpul tersebut kemudian disalurkan lewat Palang Merah Indonesia (PMI) Sidoarjo. Pihak sekolah mengundang pengurus PMI ke sekolah, kemudian digelar acara doa bersama di halaman sekolah. Sejumlah orangtua dan wali murid juga dilibatkan dalam even tersebut. Setelah itu, uang yang dihimpun para siswa diberikan kepada PMI dan disaksikan bersama oleh anak-anak didik.

“Jadi, mereka sejak kecil memang sudah kami biasakan untuk melakukan bakti sosial, peduli pada sesama,” tukas istri Rudi Supit, personel TNI Angkatan Darat ini.

Masih dalam rangka meningkatkan kepedulian kepada sesama, menjelang Natal lalu, anak-anak Anugerah School juga mengadakan bakti sosial ke Panti Asuhan Bhakti Luhur di kawasan Wisma Tropodo, Waru, Sidoarjo.

17 January 2011

Andrea Hirata Novel PADANG BULAN




Dalam dua bulan terakhir, saya membaca tujuh novel karangan penulis Indonesia. Lima novel baru dan dua novel yang sebenarnya sudah terbit lama, tapi baru diindonesiakan. Tapi, dari sekian banyak novel itu, saya harus jujur mengatakan bahwa tak ada penulis cerita fiktif yang punya daya pukau macam ANDREA HIRATA.

Sukses dengan tetralogi LASKAR PELANGI, SANG PEMIMPI, EDENSOR, dan MARYAMAH KARPOV, Andrea Hirata kembali menghibur kita dengan PADANG BULAN. Dalam sebuah buku ada dua novel, yakni PADANG BULAN SENDIRI dan CINTA DI DALAM GELAS.

Seperti empat novel seri LASKAR PELANGI, saya pun menyelesaikan dua novel satu buku terbitan Bentang, 2010, ini dengan sangat cepat. Kalimat-kalimat Andrea Hirata punya daya sihir yang luar biasa. Setelah membaca satu kalimat, kita dirangsang membaca deretan kalimat-kalimat lain. Habis satu halaman, pindah ke halaman lain. Lalu, menuntaskan bab demi bab sampai tamat uraian penulis asal Belitong itu.

Begitu banyak penulis, sastrawan, novelis, cerpenis... di negeri ini. Tapi, buat saya, sangat jarang ada penulis fiksi jenius macam Andrea Hirata. Kata-katanya tidak berbelit-belit, ndakik-ndakik, menggurui, kecam sana-sini, berkhotbah, sok tahu...

Di PADANG BULAN, seperti tetralogi LASKAR PELANGI, Andrea mengambil cerita sederhana dari kampung halamannya di Tanjongpandan, Belitong. Tentang kebiasaan orang-orang Melayu yang doyan cangkrukan di warung kopi, bicara ngalor-ngidul, menjelek-jelekkan pemerintah hehehe... Tentang jenis kopi yang bermacam-macam.

Saya tergelitik dengan deskripsi KOPI MISKIN: kopi tanpa gula untuk konsumsi orang miskin karena harga gula pasir di Belitong mahal. "Kopi miskin adalah kopi pahit, sepahit-pahitnya, seperti nasib pembelinya," tulis Andrea Hirata di halaman 155 novel CINTA DI DALAM GELAS.

Sang Paman secara diam-diam menyuruh Andrea, yang bekerja bekerja di warung kopi milik paman, untuk menambahkan sedikit gula. Agar kopi miskin tadi tidak terlalu pahit. Eh, ternyata pembeli melarat malah tak suka hal itu. Maka, Andrea Hirata pun menemukan pelajaran moral nomor 22:

Kemiskinan susah diberantas karena pelakunya senang menjadi miskin!

Humor-humor segar, pelajaran moral ala orang kampung Belitong, membuat saya tertawa sendiri saat menikmati novel-novel Andrea Hirata. Kemampuan menertawakan diri sendiri, kaum sendiri, golongan sendiri... inilah kelebihan Bung Andrea Hirata. Beda banget dengan beberapa novel lain yang saya baca dalam dua bulan terakhir yang isinya banyak menertawakan, bahkan melecehkan orang lain, yang tidak sepaham.

Di novel perdananya yang fenomenal itu, LASKAR PELANGI, Andrea Hirata pernah membuat deskripsi tentang orang cerdas, jenius. Di halaman 113 LASKAR PELANGI Andrea Hirata menulis begini:

Ada orang genius yang jika menerangkan sesuatu lebih bodoh daripada orang yang paling bodoh. Semakin keras ia berusaha menjelaskan, semakin bingung kita dibuatnya. Hal ini biasanya dilakukan oleh mereka yang sangat cerdas.

Ada pula yang kurang cerdas, bahkan bodoh sebenarnya, tapi kalau bicara ia terlihat paling pintar.

Ada orang yang memiliki kecerdasan sesaat, kekuatan menghafal yang fotografis, namun tanpa kemampuan analisis.

Ada juga yang cerdas, tapi berpura-pura bodoh. Dan lebih banyak lagi yang bodoh, tapi berpura-pura cerdas."

Membaca enam novel karangan Andrea Hirata, mulai LASKAR PELANGI hingga CINTA DI DALAM GELAS, tak syak lagi bahwa Andrea Hirata memang penulis cerdas. Dia tipe penulis yang mampu menjelaskan konsep-konsep rumit dalam bahasa sederhana. Mampu menghadirkan novel yang dahsyat hanya berbekal cerita-cerita masa anak-anak serta pengalaman orang-orang sederhana di Belitong.

Novel PADAGANG BULAN berangkat dari cerita sederhana di Belitong. Maryamah, seorang perempuan kampung yang bertekad melampiaskan dendam dengan mengalahkan jawara catur di desa. Sang jawara itu, namanya Matarom, tak lain laki-laki yang pernah sangat menyakiti dirinya. Maka, dia belajar keras teknik permainan catur melalui Ikal [Andrea Hirata] yang online langsung dengan grandmaster Ninochka Stronovsky.

Happy ending! Kita pun puas karena begundal-begundal Belitong pun akhirnya takluk di tangan wanita pecatur yang mengenakan burkak selama pertandingan. Andrea Hirata menulis dengan gaya khasnya untuk merayakan kemenangan Maryamah:

Matarom tersandar lemas di kursinya dengan mata nanar. Sabuk emas yang melilit pinggangnya selama dua tahun terlepas sudah. Karmanya telah terhemas di atas papan catur perak yang selalu diagung-agungkannya.

Andrea Hirata memang benar-benar fenomenal. Tanpa pernah menyebut dirinya sebagai sastrawan, novelis, atau budayawan, dia menggebrak jagat sastra Indonesia dengan enam novel sekaligus yang bikin kita semua tercengang kagum.

Djaja Laksana - The Joy of Giving



Selama ini DJAJA LAKSANA (58 tahun) lebih dikenal masyarakat Surabaya dan sekitarnya sebagai insinyur lulusan ITS Surabaya yang getol ‘mempromosikan’ Bendungan Bernoulli temuannya. Rekayasa bendungan dengan prinsip mekanika fluida ini dia yakini bakal mampu menutup semburan lumpur di Porong, Sidoarjo, yang sudah berlangsung selama empat tahun.

Oleh LAMBERTUS HUREK
Dimuat Radar Surabaya edisi 26 Desember 2010

DJAJA Laksana tak hanya omong doang. Bersama Tim ITS, Djaja berhasil menutup semburan-semburan kecil di kawasan bencana lumpur Lapindo. Namun, di kalangan tetangga dan masyarakat di kawasan Pucang, Surabaya, ayah dua anak ini lebih dikenal sebagai seorang filantropis. Seorang pengusaha yang mau berbagi dengan sesama.

Dan, Djaja Laksana, tak hanya berbagai secara sporadis, sekali-sekali, tapi konsisten, dengan skala yang terus meluas. Djaja Laksana menikmati apa yang disebut dengan The Joy of Giving. Kegembiraan, kebahagiaan, karena selalu memberi dan memberi.

Nah, menjelang Natal 2010 lalu, saya menemui Djaja Laksana untuk berbagi cerita tentang makna Natal, kepedulian terhadap sesama, hingga laku filantropisnya selama ini. Berikut petikannya:

Sebagai umat Katolik dan pengusaha sukses, bagaimana Anda menghayati makna Natal?

Sederhana saja. Natal itu berarti kita harus lebih peduli pada sesama. Membagikan kasih Tuhan kepada orang lain, khususnya orang-orang di sekitar kita. Tentu saja, sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Dan berbagai kasih kepada sesama itu, ya, kita tidak boleh melihat agama, suku, ras, asal-usul seseorang. Sebab, kasih itu memang universal.

Sejak kapan Anda menggelar pembagian sembako untuk warga kurang mampu di sekitar rumah Anda?

Kira-kira sejak tahun 1983. Waktu itu saya merasa bahwa usaha saya mulai maju, berkembang. Saya pun tergerak untuk membagian sebagian rezeki untuk sesama. Sebab, saya tahu banyak warga kita yang belum beruntung. Mau cari makan saja susah setengah mati. Mau makan hari ini pun belum tentu ada makanan di rumah.

Berapa orang yang mula-mula Anda bantu?

Saya mulai berbagi dengan 10 orang saja. Usaha saya kan masih kecil waktu itu. Kemudian tambah jadi 15 orang, 20 orang... tambah, tambah terus. Dari tahun ke tahun selalu ada peningkatan.

Jadi, dengan berbagi justru usaha Anda makin maju?

Betul. Dari tahun ke tahun, sejak 1983 itu, saya terus menyisihkan dana untuk dibagikan kepada warga kurang mampu. Yah, sampai sekarang. Menjelang Natal, saya juga bikin bakti sosial kecil-kecilan di depan rumah ini.

Sejak dulu Anda memberikan jatah bulanan untuk warga kurang mampu?

Kalau yang bulanan baru sekitar lima tahun lalu. Setelah berjalan selama 10 tahun lebih, saya berpikir, orang-orang ini kan harus makan setiap hari. Sementara kita tahu kalau sebagian saudara-saudari kita tidak punya kemampuan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari yang paling dasar sekalipun. Lha, kalau bantuan diberikan cuma setahun sekali atau setahun tiga kali, wah.. jauh sekali. Mereka kan perlu makan tiap hari untuk hidup.

Berapa orang yang Anda berikan jatah bulanan?

Sekitar 140 orang. Saya saring betul, cek langsung ke lapangan, agar bantuan ini benar-benar tepat sasaran. Kenapa? Karena waktu pembagian sembako menjelang Lebaran lalu itu, sekitar 1.250 orang, datang juga orang yang gak karu-karuan. Nah, yang 140 orang ini saya kasih jatah hidup setiap bulan berupa beras 10 kilogram dan uang Rp 50.000. Yah, lumayanlah untuk makan sehari-hari daripada perut mereka kosong terus.

Warga dari kawasan mana saja yang Anda santuni setiap bulan?

Dari dekat-dekat sini saja. Pucang, Manyar Sambongan, Menur, Pumpungan, hingga Pandegiling. Kita cek betul dan para penerima itu masing-masing dikasih kartu. Tiap bulan mereka datang ke sini untuk mengambil jatahnya dengan menunjukkan kartu itu.

Ini pertanyaan klasik. Mengapa Anda tidak menyalurkan bantuan itu melalui lembaga-lembaga atau yayasan sosial, tapi langsung ke tangan penerima?

Begini. Dengan memberi langsung itu kebahagiaan batin lebih terasa. Lebih nikmat. Dibandingkan dengan menyalurkan lewat yayasan, wah, rasanya beda sekali. Dengan memberi langsung, silaturahminya lebih mengena. Saya jadi kenal bapak-bapak, ibu-ibu, bisa berbicara langsung dengan mereka. Saya juga bisa silaturahmi setiap saat ke tempat tinggal mereka. Saya jadi tahu kondisi keluarga dan kehidupan mereka sesungguhnya.

Menjelang Lebaran lalu, Anda membagikan paket sembako kepada sekitar 1.250 orang. Tidak khawatir warga berdesak-desakkan dan terjadi ekses buruk?

No problem. Saya sudah melakukan selama bertahun-tahun dan ternyata tidak ada masalah. Saya punya pengalaman sehingga tahu betul kiat-kiatnya. Prinsipnya, pria, wanita, anak-anak harus dipisah. Orang tua dengan yang masih muda juga jangan dicampur. Ibu-ibu yang membawa anak juga harus mendapat perhatian khusus.

Dan jangan terpaku pada jam. Biarpun jadwal pembagian jam 13.00, ketika warga sudah berjubel sejak jam 10.00, ya, harus cepat-cepat dibagi. Saya sudah melakukan ini selama 25 tahun, dan ternyata tidak ada masalah. Kita juga perlu koordinasi dengan kepolisian. (*)



Tentang DJAJA LAKSANA

Nama : Ir Djaja Laksana
Lahir: Singaraja, Bali, 15 Juli 1952
Istri: Maya
Anak: Renny Djaja Putri dan Rendra Djaja Putra

Hobi: Tenis, golf, fitness
Pekerjaan: Kontraktor, desainer mesin
Alamat: Pucang Jajar Tengah 55 Surabaya
E-mail: djajalaksana@yahoo.com

Pendidikan:
-SMAN Singaraja
-Fakultas Teknik Mesin ITS Surabaya

Temuan: Bendungan Bernoulli Setempat untuk Stop Semburan Lumpur (nomor paten P.00200700135)

15 January 2011

Triyogi Yuwono Rektor ITS




Setelah melalui proses panjang, Prof Dr Ir Triyogi Yuwono DEA akhirnya terpilih sebagai rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Rabu (12/1/2011) lalu. Ayah tiga anak ini menyisihkan calon incumbent, Prof Dr Priyo Suprobo, dan Daniel Muhammad Rosyid. Maka, Prof Triyogi bakal berperan penting dalam membentuk wajah ITS selama empat tahun ke depan.

Berikut petikan wawancara khusus LAMBERTUS L. HUREK, wartawan Radar Surabaya, dengan Prof Triyogi Yuwono, Jumat (14/1/2011).



Sudah dapat ucapan selamat dari dua kompetitor Anda?

Wah, kalau ucapan selamat sih langsung. Begitu proses (pemilihan rektor ITS) ini selesai, kita masuk ke ruangannya Pak Rektor (Priyo Suprobo, yang juga salah satu calon rektor ITS), kita berangkulan, saling memaafkan... di depan Pak Dirjen Dikti (Djoko Santoso) dan panitia pemilihan. Jadi, nggak ada ganjalan apa-apa di hati. Saya sangat berterima kasih kepada semua pihak karena suasana tetap kondusif, tetap rukun, tetap guyub. Dan itu menjadi modal dasar bagi saya dalam mengelola ITS ke depan.

Apa prioritas Anda setelah dilantik sebagai rektor ITS?

Begini. Kami sekarang sedang menggodok statuta ITS yang baru. Sebab, statuta yang ada sekarang ini dibuat tahun 1992. Jadi, sudah cukup lama. Sekarang statuta itu sedang diperbaiki. Nah, dengan statuta itu, kita melihat bagaimana penataan ITS ke depan. Statuta itu semacam pedoman dasar bagi kami dalam melaksanakan tugas sehari-hari di ITS.

Apakah statuta sekarang sudah kurang relevan?

Ini juga terkait dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang baru. Nah, statuta ITS yang sekarang itu dibuat sebelum ada UU Sisdiknas itu. Karena itu, ya, harus disesuaikan. Dan sebetulnya proses perubahan statuta itu sedang digodok oleh timnya Pak Rektor yang sekarang (Priyo Suprobo). Mudah-mudahan segera tuntas sehingga bisa dipakai untuk menata perguruan tinggi ini ke depan.

Anda dilibatkan dalam proses revisi itu?

Ya, saya termasuk anggota tim yang dibentuk Pak Rektor sekarang. Kita akan kembangkan berbagai program. Tentu saja kalau program-program yang bagus, ya, harus ditingkatkan. Sementara beberapa poin yang kita rasakan kurang, ya, harus diperbaiki kualitasnya.

Selama proses pemilihan rektor, Anda menyatakan akan meningkatkan core bisnis ITS. Bisa diuraikan secara singkat?

Core bisnis ITS ini kan Tridarma Perguruan Tinggi. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Untuk pendidikan, insyaallah, sudah berjalan dengan bagus. Kemudian bagaimana penelitian ini bisa kita tingkatkan agar riset-riset ini bisa menghasilkan sebanyak mungkin intelectual output yang diakui secara nasional dan internasional. Untuk pengabdian pada masyarakat, bagaimana membuat ITS ini lebih membumi lah. Artinya, ITS bisa memberikan banyak sumbangsih bagi bangsa Indonesia.

Kita akan memulai dengan penataan laboratorium. Kualitas dan kuantitas laboratorium harus ditingkatkan agar intelectual output-nya lebih banyak dihasilkan. ITS ini harus menjadi perguruan tinggi yang bisa bersaing di dunia internasional. Dalam empat tahun ke depan ini, saya harus memasang landasan agar ITS ini mendapat pengakuan internasional. International recognize.

Apa saja yang dilakukan untuk go international itu?

Kita harus banyak-banyak melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi mana pun. Dan ITS sendiri akan terus melakukan hal itu. Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) sendiri memang sudah mencanangkan go international itu. Bahwa dalam tahun 2020 perguruan-perguruan tinggi yang mampu sudah harus dikenal di dunia internasional. Bahkan, tidak cukup hanya dikenal, tapi juga terpandang di dunia.

ITS sendiri sudah mampu menjawab tantangan kemendiknas itu?

Iya. Dan, tahun 2017, insyaallah, ITS sudah bisa ke sana, go international. Tentu ini sangat sejalan dengan program kemendiknas. Jadi, selama empat tahun (menjadi rektor) ini, tugas saya adalah menyiapkan ITS ke sana.

Posisi ITS di lingkungan perguruan tinggi di Indonesia sendiri bagaimana?

Saya kira, posisi ITS bagus dan akan terus kita tingkatkan. Perguruan tinggi mana pun harus terus meningkatkan kinerja dan kualitasnya. Bagaimanapun juga ITS harus memimpin di kawasan Indonesia Timur. ITS harus menjadi perguruan tinggi unggulan.

Dari segi input mahasiswanya bagaimana? Apakah para mahasiswa ITS sudah memenuhi standar kualitas yang diinginkan ITS?

Begini. ITS ini termasuk lima besar perguruan tinggi (terbaik) di tanah air. Dalam lima tahun terakhir ini jumlah mahasiswa yang masuk ke perguruan tinggi kan berbeda-beda. Kenyataannya, perguruan-perguruan tinggi hanya mengambil 10 persen dari tes nasional, SNMPTN. Nah, kalau dia hanya ambil 10 persen, pasti perguruan tinggi itu tidak akan bisa menghasilkan intelectual output yang bagus.

Nah, ITS ini selalu mengambil 60 persen. Sekarang ada ketentuan dari kemendiknas bahwa mulai tahun ini 60 persen dari mahasiswa di perguruan tinggi negeri itu harus diseleksi secara nasional. Dan 20 persennya harus dari golongan tidak mampu. Tentu saja, ITS sangat mendukung program seperti ini.

Bagaimana dengan lulusan SMA yang cerdas, tapi orangtuanya kurang mampu? Apakah mereka bisa menikmati kuliah di ITS?

Sejak tahun 2004, walaupun persentasenya tidak sebesar 20 persen, ITS sudah melakukan rekrutmen langsung siswa-siswi terbaik dari SMA-SMA. Kita datang langsung ke rumah-rumah-rumah mereka. Ini untuk melihat bahwa anak-anak ini bagus secara akademik, tapi memang ada masalah dalam sisi ekonomi. Ini yang kita sebut sebagai kebijakan keberpihakan. Kalau tidak ada yang membela, tentu tidak akan ada kesempatan kepada mereka.

Ada pepatah mengatakan, "Jangan beri ikan, tapi beri kail." Lha, kalau tidak ada kesempatan memancing, mana pernah dia dapat ikan? Jadi, harus ada kail, tapi juga harus ada kolam (kesempatan) untuk mancing. Kalau nggak ada kesempatan, ya, Anda hanya akan memegang kail ke mana-mana. (rek)

Tentang Triyogi

Nama : Prof Dr Ir Triyogi Yuwono, DEA
Lahir : Tulungagung, 29 Januari 1960
Jabatan : Rektor ITS Surabaya
Hobi : Bersepeda

Pendidikan
Teknik Mesin ITS Angkatan 1979
S2 dan S3 Institut National Polytechnique de Grenoble, Prancis

Riwayat Karir
Kepala Jurusan Teknik Mesin ITS, 1996-2003
Dekan FTI hingga 2007


Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 16 Januari 2011.

14 January 2011

Jalan di Lembata dan Silaturahmi Keluarga



Jalan raya yang dibiarkan rusak di Waipukang, Ile Ape. Tunggu bupati baru!

Bagi orang Lembata yang tinggal bertahun-tahun jauh di luar Lembata, seperti saya di Jawa Timur, kondisi jalan raya di kabupaten pemekaran Flores Timur ini sudah SANGAT BAIK. Sangat baik di sini kalau dibandingkan dengan pengalaman masa kecil saya dulu di kampung. Jalan aspal bisa dinikmati dari Lewoleba ke Bungamuda atau Mawa atau Atawatung.

Daerah Waimatan, Kelar, Ebak, hingga Tokojaeng pun bisa dilalui kendaraan roda empat. Praktis, semua desa di Ile Ape dan Ile Ape Timur bisa dijangkau dengan mudah oleh mobil. Daerah di belakang gunung, yang biasa disebut Lewohala, jalan-jalan mulus hingga Waipukang, tembus ke Lewoleba.

Kenikmatan macam ini tidak pernah dinikmati masyarakat sebelum 1990-an. Dulu, waktu kecil di Mawa, saya tidak pernah membayangkan di Atawatung, Waimatan, Ebak, Kelar, Lemau, hingga Tokojaeng bisa dibuat jaringan jalan buat kendaraan roda empat. Sebab, jalan-jalan di daerah itu berada di atas tebing terjal yang sangat sempit. Begitu banyak batu-batu berukuran raksasa di pinggir jalan.

Lantas, bagaimana mungkin kita bisa memecahkan batu itu, dengan risiko sangat tinggi, untuk memperlebar jalan raya?

Aha, ternyata apa yang dulu dianggap tidak mungkin, kini sudah mungkin. Seluruh desa di kecamatan Ile Ape [termasuk di dalamnya Ile Ape Timur] sudah terhubungkan. Untuk ukuran Lembata, kondisi jalan di Ile Ape sudah oke.

Waktu berada di kampung halaman akhir Desember 2010 dan awal Januari 2011, saya pun merasa bersyukur karena kondisi jalan raya dari Mawa hingga Lewoleba sudah lumayan baik. Tidak ada lagi istilah OTO TEBEMBA seperti yang sering saya lihat tempo doeloe. Jembatan-jembatan sudah ada. Maka, mobil [orang Lembata bilang OTO] tidak perlu masuk kali mati yang dalam di Waowala atau Riangbao [Desa Petuntawa] dengan kondisi yang mengerikan.

Karena infrastruktur jalan raya yang lumayan inilah, Ile Ape dan Lewoleba ibaratnya sudah menyatu. Nyaris tak ada jarak lagi. Apalagi, saat ini pusat pemerintahan Kabupaten Lembata berada di Lamahora, yang berbatasan dengan Kecamatan Ile Ape. Mungkin, suatu ketika, orang bekerja di Lewoleba, tapi bisa tinggal di Ile Ape. Cukup naik sepeda motor selama 20 atau 30 menit saja akan sampai!

Kondisi jalan raya Ile Ape-Lewoleba yang membaik ini, saya saksikan sendiri, menyebabkan perubahan luar biasa dalam perilaku dan mentalitas orang-orang di kampung saya, Ile Ape. Orang tidak perlu lagi belanja berlama-lama di Pasar Lewoleba yang ramai setiap hari Senin itu. Tidak perlu lagi jalan kaki pagi hari, belanja, kemudian sampai ke kampung pada malam hari.

Turun di Dermaga Lewoleba, misalnya dari Larantuka atau Kupang, orang Ile Ape sudah ditunggu begitu banyak tukang ojek. "Ile Ape! Ile Ape! Mau ke Bungamuda oke! Lewotolok oke! Atawatung oke!" teriak si tukang ojek dengan bahasa Indonesia logat Ile Ape yang khas.

Turun di Bandara Wunopito, Lewoleba, tepatnya di Lamahora, tukang ojek pun berjubel. Kendaraan roda dua dan roda empat sudah siap mengantar orang Ile Ape ke kampung halaman. Cukup 30-40 menit, atau 60 menit, sampailah kita di rumah masa kecil. Sebuah perubahan besar bagi saya yang mengalami era jalan kaki atau naik sepeda pancal di jalan berbatu sejauh hampir 30 kilometer pergi-pulang.

Kondisi ini, di pihak lain, membuat renggang hubungan persaudaraan antara orang Ile Ape from kampung [macam saya] dengan kerabat-kerabat kami [ina, ama, kaka, ari] orang Ile Ape yang tinggal di Lewoleba. Dulu, kami biasa mampir berlama-lama di rumah keluarga dekat, biasanya satu marga [suku], bahkan menginap barang satu dua malam di Lewoleba.

Mau ke Larantuka, Kupang, Jawa, atau Sulawesi... pasti bermalam dulu di Lewoleba, kemudian besoknya berangkat ke dermaga. Banyak orang yang numpang tidur ramai-ramai di rumah keluarga dekat di Lewoleba. Silaturahmi antara orang kampung, macam saya dan keluarga di Mawa atau Bungamuda, dengan orang Ile Ape di Lewoleba, yang sudah jadi "orang kota", terjalin dengan sangat baik. Rasa bersalah (guilty feeling) akan timbul jika kami yang dari Ile Ape tidak mampir ke rumah keluarga Ile Ape di Lewoleba.

Silaturahmi ini juga efektif untuk membuat keluarga-keluarga Ile Ape di Lewoleba selalu PETEN LEWO. Mau menyisihkan waktu untuk pulang kampung barang satu dua hari. Toh, jarak Ile Ape dan Lewoleba sangat dekat, berbatasan langsung. Ile Ape memang kecamatan minus, sulit air minum [air laut sih berlimpah ruah], tapi ada budaya, tradisi, dan kehangatan khas yang tak mungkin dijumpai di Lewoleba yang sudah multikultur.

Apa boleh buat. Apa yang saya alami di masa kecil itu sekarang perlahan-lahan mulai hilang. Sekarang ini sudah jarang ada orang Ile Ape yang bermalam, numpang tidur, di rumah kerabat dekat di Lewoleba kalau hendak berangkat ke Larantuka, Kupang, atau Jawa. Cukup tembak langsung dari kampung kira-kira satu dua jam sebelum jadwal kapal laut atau pesawat terbang. Tak ada lagi acara pamitan, kemudian dapat oleh-oleh dari keluarga-keluarga kami, orang Ile Ape, yang tinggal di Lewoleba.

Kondisi ini membuat kita, yang tinggal di rantau orang, akan sulit mengenal generasi-generasi muda asal Ile Ape yang lahir, tinggal, sekolah, kemudian bekerja di Lewoleba. Dan, sebaliknya, orang-orang keturunan Ile Ape di Lewoleba, yang lebih maju dan "lebih kota", kurang mengenal keluarga-keluarga mereka di kampung, Ile Ape. Warga keturunan Ile Ape yang lahir di Lewoleba lama-kelamaan tak punya lagi ikatan batin dengan keluarga-keluarga di Ile Ape.

TITE TOI WEKIKE HALA MURI.

"Saya bukan orang Ile Ape le! Saya orang Lewoleba le!" kata beberapa anak Lamahora, salah satu kampung di Lewoleba, yang orangtuanya jelas-jelas orang Ile Ape.

Saya merasa nelangsa, sangat sedih, ketika mendengar anak-anak Lamahora, yang orangtuanya asli Ile Ape dan masih kerabat dekat suku Hurek Making, setiap hari menertawakan logat anak-anak kampung Ile Ape ketika berbahasa Indonesia.

Sejak kecil anak-anak "kota" ini tanpa sadar sudah dibiasakan untuk menertawakan, menghina [bahasa Jawanya: NGENYEK] bahasa Ile Ape, yang nota bene salah satu ragam bahasa Lamaholot yang paling sederhana di Pulau Lembata.

Yah, penghargaan terhadap bahasa, bahasa apa pun, sejak dulu memang kurang ditanamkan di kalangan anak-anak di Lewoleba, Larantuka, atau Kupang. Sebagai pencinta bahasa, penggemar bahasa-bahasa di dunia [Melayu, Indonesia, Inggris, Belanda, Tionghoa, Jerman, Lamaholot, Kedang, Jawa, Madura, Osing...], kuping saya memang langsung panas bila mendengar ungkapan, meski diucapkan dalam konteks guyon atau bercanda, yang merendahkan martabat sebuah bahasa tertentu.

Ingat, bahasa Lamaholot adalah bahasa kebudayaan Lamaholot yang tersebar di tiga kabupaten, yakni Flores Timur, Lembata, dan Alor. Adat dan tradisi Lamaholot yang khas tidak mungkin diungkapkan dalam bahasa Indonesia atau bahasa Melayu. Karena itu, memelihara dan menghormati bahasa Lamaholot -- meminjam istilah orang Jawa -- sama dengan NGURI-URI BUDAYA. Merawat kebudayaan nenek moyang!



Jalan raya yang sudah beraspal di Waimatan, tetangganya Atawatung, Ile Ape Timur. Dulu jalan raya macam ini dianggap mustahil dibikin.

Kembali ke jalan raya di Lembata. Bagi masyarakat Lembata, yang tinggal dan bekerja di Lembata, perubahan besar jalan raya Trans Lembata, khususnya Ile Ape-Lewoleba, ini rupanya kurang dirasakan. Masyarakat Ile Ape di kampung-kampung rupanya sudah lupa dengan masa lalu yang pahit sebelum 1990-an.

Orang-orang kampung, seperti yang saya tangkap dari obrolan-obrolan ringan, sudah lupa dengan long march, jalan kaki dari Atawatung/Mawa/Bungamuda ke Lewoleba pergi-pulang selama berjam-jam hingga malam menjelang. Orang lupa bahwa dulu yang namanya jalan beraspal itu hanya bisa dilihat di Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur. Orang-orang lupa bahwa dulu di musim hujan selalu ada yang namanya OTO TEBEMBA.

Oto tebemba adalah istilah khas untuk menyebut truk, yang dimodifikasi sebagai kendaraan pengangkut manusia, terjebak di jalan raya berlumpur. Kalau sudah tebemba, para penumpang pun turun dan ramai-ramai jalan kaki. Bagi orang Ile Ape, dulu, jalan kaki 10 km, 15 km, bahkan 30 km adalah soal kecil. Jalan kaki sambil bicara ngalor-ngidul, tertawa, atau bersenandung. Tak ada komplain!

"Itu kan zaman dulu. Sekarang Ile Ape sudah lain, sudah maju," kata seorang remaja di Bungamuda.

ABG Ile Ape ini tak mau jalan kaki dari Bungamuda ke Mawa atau Atawatung. Dia tak pernah membayangkan orang Ile Ape berjalan kaki pergi-pulang dari Mawa ke Lewoleba dan sebaliknya. Yah, zamannya memang sudah jauh berbeda!

Sikap manja, bahkan malas, sudah terlihat di mana-mana di Lembata. Ketika sudah jadi kabupaten sendiri, punya bupati bernama ANDREAS DULI MANUK atau Pak Ande Manuk, masyarakat berharap terlalu banyak pada Pak Bupati.

Jalan rusak, bupati disalahkan. Aspal bolong-bolong, Pak Bupati dimaki-maki. Di internet, Kawan, begitu banyak tulisan yang mengecam Bupati Ande Manuk karena dianggap kurang memperhatikan kualitas jalan raya.

"Jalan raya di Lembata itu sudah rusak berat. Tidak usah jauh-jauh ke Ile Ape atau Hadakewa, di sekitar Pelabuhan Lewoleba saja kondisi jalan sudah tidak karuan. Tapi Bapak Bupati di Lewoleba tenang-tenang saja. Sudah menjabat 10 tahun, tapi hal-hal seperti ini kurang diperhatikan," kecam seorang aktivis yang sering bikin demonstrasi di Lewoleba.

Berapa banyak sih uang APBD Lembata untuk meng-cover perbaikan jalan raya?

Pendapatan yang masuk ke kas Pemkab Lembata berapa?

Benarkah Pak Bupati tidak tahu kondisi jalan-jalan raya di wilayahnya?

Saya kira, komunikasi antara pemkab, DPRD, LSM, gereja, dan masyarakat masih menjadi masalah besar di Kabupaten Lembata. Kecurigaan terhadap Pak Bupati dan pejabat-pejabat di Lembata terlalu besar.

Budaya lisan Lamaholot, yang suka bergunjing di sana-sini, menyebabkan distorsi informasi sangat menonjol di Lembata. Dapat informasi sepotong-potong, dikembangkan, dibumbui di sana-sini, kemudian disebarkan ke mana-mana. Dialog, konfirmasi, verifikasi... jarang dilakukan orang-orang Lembata, termasuk yang sudah tergolong pintar-pintar itu.

Setelah jadi kabupaten, rakyat Lembata mulai dihinggapi BUDAYA MALAS. Padahal, dulu, sekali lagi dengan referensi 1980-an, masyarakat bisa dengan mudah kerja bakti, gotong-royong, GEMOHING... bikin balai desa, perbaiki jalan raya, sekolah, kapela, atau rumah-rumah penduduk. Ramai-ramai mengadakan listrik desa meski dayanya terbatas.

Orang-orang dengan ikhlas kerja bakti, kerja sosial, tanpa mengharap imbalan apa pun. Semuanya demi gelekat Lewotanah! Demi kemajuan kampung halaman tercinta.

Begitu melihat jalan rusak, berlubang, masyarakat secara spontan mengambil pasir, kerikil, tanah... untuk menutup. Warga yang tinggal di depan jalan raya itu punya semacam "kewajiban moral" untuk menutup beberapa meter jalan raya yang rusak. Tapi, sayang sekali, ini semua cerita masa lalu. Nostalgia masa kecil saya di Ile Ape yang sederhana, terbelakang, tapi sangat guyub dan rukun.

Kini, zaman yang makin maju, modern, juga dinikmati masyarakat Ile Ape. Dan modernitas selalu diartikan dengan UANG, UANG, dan UANG. Kalau tidak dikasih uang, siapa yang mau membetulkan jalan-jalan rusak itu? Doi take ka, kame kerejan hala!

"Itu kan urusan pemkab, bupati. Kita orang kan sudah bayar pajak, mencoblos dia saat pilkada," kata orang kampung.

Hare gini kerja gak dibayar??? Mimpi kali!!!

13 January 2011

Open House di Wawali Kupang





Ada satu kesempatan langka saat saya berada di Kupang, persis hari Natal, 25 Desember 2010. Yakni, mengikuti open house ke rumah pejabat teras di kota itu. Selepas magrib, kami meluncur ke rumah dinas wakil wali kota Kupang. Namanya DANIEL HUREK.

Banyak pejabat, pegawai negeri sipil (PNS), pengacara, pengusaha, hingga rakyat biasa datang bergantian untuk kasih ucapan selamat Natal. "Semoga damai Natal, kasih Kristus, memberikan kebahagiaan kepada kita semua! Khususnya rakyat Kota Kupang!" begitu kira-kira harapan doa warga yang datang berjabat tangan, termasuk saya.

Pak Daniel Hurek dan istri, Ibu Vita, bersama putrinya, Dita, berdiri di teras. Capek juga Pak Dan, yang juga keluarga dekat saya, melayani acara jabat tangan hampir sepanjang hari. Jabat tangan, cipika-cipiki, mendengar ucapan selamat Natal yang rata-rata mirip. Tapi, mau bilang apa, open house Natal macam ini memang sangat khas di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kalau di Jawa Timur, yang hampir semua rakyatnya Islam, open house dilakukan saat Idul Fitri. Pejabat-pejabat, anggota DPRD, kontraktor, kepala-kepala dinas, asisten ini-itu, PNS kelas menengah hingga tukang sapu menunda acara mudik. Harus datang ke pendapa kabupaten untuk open house.

Rupanya di NTT, provinsi asal saya, ini pendapa-pendapa kabupaten/kota tidak ada. Maka, open house Natal langsung dilakukan di rumah dinas alias rumah jabatan. Masyarakat bisa melihat dari dekat suasana rumah jabatan, aksesoris, furnitur, menu makanan, keluarga pejabat, hingga taman bunga.

"Bukan main rumah jabatan ini. Kalau melihat suasana seperti ini, ya, pantas saja kalau begitu banyak orang ingin menjadi pejabat di NTT," kata bapak saya yang disilakan duduk di ruang depan. Hehehe....

Saya tertawa geli mendengar komentar bapak saya, orang kampung di pelosok Pulau Lembata, yang memang asing dengan suasana rumah mewah khas pejabat di ibu kota Provinsi NTT. Rumah dinas bupati di Lembata, katanya, tidak sebagus di Kupang. Ada hiasan musik sasando, topi khas Timor, hingga anyaman daun lontar nan eksotik.

Sebagai PNS di pelosok terpencil, bapak saya juga pernah tinggal di rumah dinas di kampung selama puluhan tahun. Rumah dinas PNS kelas kampung di Lembata ini lebih pantas disebut GUBUK DERITA.

Rumah gedhek berlantai tanah, atapnya alang-alang. Jendelanya dari daun lontar. Lebih parah ketimbang gubuk-gubuk darurat penjaga tambak di pedalaman Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Tak usahlah diceritakan soal aksesoris di dalam rumah dinas bapak saya, selain foto hitam putih Pater Gabriel Goran SVD dan brosur doa Aksi Puasa Pembangunan Keuskupan Larantuka.

Dalam suasana open house yang ramai itu, tak banyak waktu untuk banyak bicara. Basa-basi sejenak, senyam-senyum, kemudian langsung ke aula di samping rumah dinas wawali. Makanan berlimpah di atas meja, tapi awas, banyak kolesterol dan lemak jahatnya. Selera makan, apalagi buat orang NTT yang doyan makan banyak, pun terbit. Orang yang sedang berdiet rendah lemak, rendah kalori, pun membatalkan dietnya.

Sambil makan, para hadirin -- ada yang diundang, tapi banyak juga yang datang sendiri karena kebiasaan -- dihibur organ tunggal. Siapa saja boleh sumbang suara. Dan di Kupang, saudara-saudara, tidak sulit mencari orang yang bisa menyanyi dengan bagus. Saya lihat, banyak pengunjung seakan berlomba pamer suara emas.

"Selamat Natal, Merry Christmas! Saya mau mempersembahkan sebuah lagu untuk kita semua," ujar seorang ibu berpenampilan anggun, busana motif tenun ikat. Suaranya mantap. Oh, ternyata Mama Vita, istri Wawali Kupang Daniel Hurek.

"Terima kasih Tuhan atas kasih setia-Mu
Yang Kauberikan dalam hidupku,
Terima kasih Yesus atas kemurahan-Mu
di dalam hidupku....."


Lagu rohani populer ini dibawakan oleh Mama Vita dengan asyik. Saya tak menyangka kalau Mrs Dan Hurek ternyata punya kemampuan olah vokal di atas rata-rata. Seandainya ada lomba menyanyi antarnyonya pejabat di NTT, Mama Vita akan dengan mudah menembus babak empat besar.

Mama Vita kemudian melanjutkan dengan lagu pop lawas milik Bob Tutupoly, SIMPHONY YANG INDAH. Di sini kemampuan olah vokal Sang Mama semakin terlihat jelas. Vibrasi, suara altonya, timing-nya pas. Belakangan, setelah cek sana-sini, tahulah saya bahwa Mama Vita ini tadinya memang anggota paduan suara yang terlatih di Kupang.

Pantas saja suara Mama Vita enak dinikmati. Dan beliau tampak enjoy ketika ada kesempatan bernyanyi di depan orang banyak.

Syair dan melodi
kau bagai arena penghapus pilu
Gelora di hati
bak mentari kau sejukkan hatiku
...............

12 January 2011

Gila Gelar di NTT



Hampir setiap hari saya membaca paling sedikit lima surat kabar terbitan Surabaya dan Jakarta. Kadang-kadang juga membaca koran berbahasa Inggris lewat internet. Jadi, boleh dikata, sebagai orang media, saya cukup tahu gaya penulisan masing-masing koran.

Jawa Pos kayak apa. Radar Surabaya macam apa. Kompas yang memelihara standar jurnalisme. Indopos yang mirip Jawa Pos. Surya. Memorandum. Surabaya Post. Kontan. Koran Tempo. The Jakarta Post. Saya juga berlanggan majalah mingguan TEMPO meskipun mahal.

Ketika berada di Nusa Tenggara Timur (NTT), saya mencoba memelototi beberapa surat kabar lokal. Wuih, wartawan-wartawan di NTT rupanya senang sekali menulis nama sumber lengkap dengan macam-macam gelarnya. Praktik yang sebetulnya tidak lazim dalam standar jurnalisme internasional.

Di Surabaya atau Jakarta, kita bebas menulis WALI KOTA SURABAYA TRI RISMAHARINI atau WAKIL WALI KOTA SURABAYA BAMBANG DH. Di bumi NTT yang selalu krisis pangan itu cara penulisan macam ini dianggap salah. Yang benar, menurut wartawan di NTT, harus IR. TRI RISMAHARINI, MSc. Atau, Drs. Bambang DH, MPd.

Kami di Jawa biasa menulis mantan ketua MPR Amien Rais. Di NTT, koran-koran menulis PROF. DR. H.M. AMIEN RAIS, MSi. Panjang banget. Gelar HAJI rupanya sangat penting ditulis meskipun masyarakat NTT mayoritas beragama Kristen (Katolik, Protestan, Pentakosta). Lupa menulis gelar HAJI bisa berbahaya di NTT.

“Mulai sekarang kalian tidak boleh memanggil nama saya seperti dulu. Saya sudah naik haji di Makkah. Makanya, mulai sekarang saya harus dipanggil PAK HAJI,” ujar Pak Haji di Ile Ape yang kebetulan masih kerabat dengan kami.

Saya ketawa-ketawa ketika mendengar cerita tentang Pak Haji marah-marah di kampung. Gilar gelar!!!!

Wartawan di Lembata pun sama saja. Meski sebagian besar dari mereka sudah pernah studi banding di Jawa, ikut sekolah demokrasi, punya jaringan dengan media utama di Jawa, paradigma “gila gelar” tak juga hilang. Bupati Andreas Manuk ditulis lengkap dengan gelarnya. Bukti bahwa Pak Bupati itu lulusan universitas, orang hebat.

Nama-nama anggota dewan ditulis lengkap dengan gelar akademiknya. Bahkan, nama terdakwa, tersangka, hingga pemborong pun ditulis gelar di depan dan belakang namanya. Padahal, sumber itu tidak sedang membahas masalah ilmiah yang menjadi otoritasnya.

Orang Jawa bilang NGGILANI. Karena nggilani itu pula, semangat saya membaca koran-koran di NTT jadi hilang. Orang-orang media yang seharusnya bisa menjadi agen perubahan malah ikut larut dalam kultur feodalisme ala NTT.

Bahkan, mantan-mantan wartawan yang kebetulan terpilih menjadi anggota dewan atau wakil bupati di Flores Timur ikut menikmati kultur feodalisme yang tidak sehat ini. Bangga bukan main dengan pajangan gelar akademik, haji, atau bangsawan (lokal) di depan namanya.

Apakah gelar itu berbanding lurus dengan kinerja pejabat-pejabat NTT? Hehehe... Nanti dulu.

Sampai sekarang NTT belum juga beranjak sebagai provinsi termiskin di Indonesia. Lembata dinilai sebagai kabupaten pemekaran yang gagal. Jalan raya di Lembata tergolong paling buruk di Indonesia. Protes rencana tambang mineral berlangsung berbulan-bulan. Skandal pembunuhan berencana yang melibatkan keluarga pejabat menjadi buah bibir sehari-hari di Lembata.

Felix Fernandez, bekas bupati di Larantuka, pun konyol. Dia harus berhadapan dengan aparat hukum karena korupsi. Budaya KKN justru makin disuburkan oleh pejabat-pejabat NTT yang menikmati kultur feodalisme yang gila-gilaan itu.

Gereja Stasi Mawa di Lembata





Orang Mawa di Ile Ape, Kabupaten Lembata, NTT, bisa punya gereja? Jangan mimpilah! Mustahil. Sampai kapan pun penduduk Mawa, Desa Napasabok, harus pergi ke Gereja Atawatung. Harus jalan kaki sekitar 1,5 kilometer pergi pulang.

Kebiasaan bergereja di Atawatung selama bertahun-tahun membuat orang Mawa masuk ke zona nyaman. Menikmati jalan kaki jarak jauh hanya untuk beribadah setiap minggu. Sejak agama Katolik dianut hampir semua orang Mawa, kampung halaman saya, orang merasa harus ke Atawatung.

Syukurlah, zona nyaman yang sebenarnya tidak nyaman ini sudah berhasil dibongkar. Belum lama ini, ketika liburan akhir tahun, saya sudah bisa menikmati perayaan ekaristi di Gereja Stasi Mawa. Misa yang dipimpin Romo Bernard ini sangat meriah. Gereja penuh. Umat dan paduan suara bernyanyi dengan penuh semangat.

Sebuah pemandangan yang tak pernah saya bayangkan ketika menghabiskan masa kecil di Mawa, desa di pinggir pantai utara Laut Flores. Dulu, ketika Mawa masih nunut Gereja Atawatung, orang Mawa rasanya tak punya kemampuan yang bagus di bidang liturgi. Jarang ada orang Mawa yang terpilih sebagai solis atau pemimpin kor.

Bahkan, saya hampir tak pernah melihat anak-anak Mawa jadi ajuda (di Jawa disebut misdinar) di Gereja Atawatung. “Sejak Mawa punya gereja sendiri, jadi stasi yang mandiri, pelan-pelan kita mulai meningkatkan kapasitas umat. Kita jangan sekadar bisa bikin gereja sendiri, tapi juga harus bisa menghidupi semua urusan kegerejaan,” kata Anton Hurek, ketua Stasi Mawa, kepada saya.

Anton Hurek saat itu didampingi teman SD saya, Lambertus Pitang Nimanuho, yang dipercaya sebagai bendahara Stasi Mawa. Para kader muda ini saya nilai sukses mengangkat Stasi Mawa sebagai salah satu stasi terkemuka di Paroki Tokojaeng. Stasi baru yang mendapat apresiasi positif dari Romo Blasius Keban, pastor paroki sekarang.

Wuih, saya ikut bangga mendengar cerita-cerita positif tentang jemaat Stasi Mawa yang terus berkembang. Mereka juga sering menang dalam lomba paduan suara antarstasi. Dan, yang paling saya sukai ini: umat Katolik di Mawa selalu on time kalau mengikuti perayaan ekaristi.

Misa jam enam pagi, ya, dimulai jam enam. Jam tujuh, ya, jam tujuh. Beda dengan stasi tetangga sebelahnya, stasinya bapak saya setelah pensiun, yang misanya selalu molor 40 menit, bahkan satu jam. Dua jempol untuk Stasi Mawa!

Kiprah Stasi Mawa ini, kalau dikilas balik, tidak diperoleh dengan mudah. Proses perintisan untuk memisahkan diri dari Stasi Atawatung boleh dikata berlangsung dengan penuh kendala. Pastor paroki saat itu, kalau tidak salah, Romo Dominikus Luro Kelen, tak berkenan. Baginya, seperti juga pikiran saya tempo dulu, Mawa harus tetap bergabung dengan Stasi Atawatung. Toh, orang Mawa selalu pergi ke Atawatung untuk mengambil air sumur.

Saking marahnya pihak hirarki, beberapa tokoh umat di Mawa diberi sanksi ekskomunikasi. Tak boleh terima komuni. Hukuman rohani yang bagi orang Flores merupakan sanksi sangat berat. Ada orang Mawa yang dipermalukan di depan ratusan umat ketika akan menerima komuni. Sang pastor tidak mau membagikan hostia kudus itu.

“Yah, itu semua merupakan bagian dari perjuangan kami untuk menjadi stasi yang mandiri. Kalau punya stasi sendiri kan umat bisa ikut misa di dalam kampung sendiri. Kenapa harus jauh-jauh ke desa lain hanya untuk misa?” kata Philipus Pedaman Hurek, mantan kepala desa Mawa, kepada saya.

Saat ini Ama Philipus, yang juga tukang terkemuka, dipercaya menjadi koordiantor perluasan Gereja Stasi Mawa. Ama Philipus sangat bersemangat ketika berbicara tentang masa-masa perjuangan menjadikan Mawa Napasabok sebagai stasi mandiri. Dia bersama Ama Anton Jago sampai harus menghadap langsung Uskup Larantuka Mgr Darius Nggawa SVD untuk menceritakan secara langsung rencana-rencana dan konsep orang Mawa sebagai persekutuan umat Allah yang bertekad menegakkan gereja Katolik di kampung.

Mgr Darius Nggawa (sekarang almarhum) tentu saja tak bisa meluluskan begitu saja keinginan orang Mawa. Beliau harus mendengar dulu laporan Romo Dominkus Luro, Pastor Paroki Ile Ape. Kuncinya ya di pastor paroki. Sementara sang pastor paroki, kita tahu, sejak awal tidak ingin ada stasi baru di Mawa.

Puji Tuhan, berkat kegigihan dan kerja keras warga desa, pemerintah desa, guru-guru SD yang sejak dulu menjadi ujung tombak pewartaan sabda Tuhan... akhirnya Stasi Mawa pun berdiri. Romo Paskalis Hurek, pastor asli Mawa, kalau pulang kampung berkenan memimpin perayaan ekaristi di Mawa.

Oh, ternyata misa di Gereja Mawa pun boleh! Oh, ternyata misa kudus itu tidak harus dilakukan di Gereja Atawatung! Oh, ternyata Tuhan Allah juga ada di Mawa dan berkenan menerima doa-doa dari penduduk Mawa yang sederhana. Jadi, Tuhan dengan kuasa roh kudus-Nya tidak hanya menerima doa-doa orang Atawatung, Ebak, Lewotolok, Ohe, Waipukang, Riangbao, Baopukang, Tokojaeng, Kimakamak, Tagawiti, Lamahora, Lewoleba, Hadakewa, atau Larantuka.

Tempo dulu, ketika saya masih SD di Mawa, ada semacam guyonan bahwa berkat dan kasih Tuhan tidak sampai ke Mawa. Buktinya, orang Mawa tidak pernah mendapat air sumur yang layak konsumsi. Sumur yang dianggap baik, ya, di Atawatung. Maka, kalau mau bikin misa atau ibadat sabda tanpa imam, ya, harus jalan kaki pergi-pulang ke Atawatung. Hehehe....

Minggu pagi, 2 Januari 2010. Setelah misa kudus yang meriah, Anton Hurek, ketua stasi yang juga kepala sebuah SMP swasta di Lewotolok, mengumumkan rencana perluasan gereja stasi. Sederhana saja, tidak muluk-muluk. Masing-masing keluarga diminta menyumbang uang Rp 50.000. juga menyumbangkan pasir dan batu kali.

“Satu umat cukup mengumpulkan 10 batu,” kata Anton Hurek yang saya lihat sangat berwibawa. Ratusan umat pun menyimak pengumuman ini dengan antusias.

Kepala Desa Mawa, Ama Kristo Kerua, mendukung sepenuhnya rencana pembangunan Gereja Stasi Mawa yang memang belum selesai itu. Saya merasa tersanjung ketika Ama Kristo, bapak kepala desa Mawa, memeluk saya erat-erat di halaman gereja. Tak terasa air mata saya menetes melihat orang-orang Mawa yang sangat saya kenal yang tak pernah saya jumpai selama bertahun-tahun.

Sebuah keakraban, persahabatan, kekeluargaan... yang sangat sulit kita jumpai di negeri orang! Salam dan doa saya untuk ina, ama, kaka, ari, binek, opulake, ana opo... dan semua penduduk Mawa!

Semoga perjuangan kalian mendapat berkat dari Tuhan!

11 January 2011

Ulang Tahun yang Hambar



Merayakan ulang tahun (birthday) rupanya masih tabu di kampung halaman saya, Lembata, NTT. Tak pernah ada kue ultah, lilin, potong kue, nyanyi selamat ulang tahun, panjang umurnya, atau happy birthday.

Saat berulang tahun belum lama ini, di pekan pertama Januari 2010, saya berada di kampung halaman. Berada di tengah-tengah keluarga dekat. Ayah, tiga adik perempuan, dan keluarga besar. Saya yakin mereka tahu persis hari lahir saya.

Diam-diam, saya menunggu sekadar ucapan selamat ulang tahun. Atau, barangkali ada acara khusus mengingat bertahun-tahun saya tak balik kampung. Ternyata, hehehe.... tak ada apa-apa. Semuanya berlalu begitu saja. Saya pun hanya ketawa-ketawa sendiri.

Rupanya, sampai hari ini belum ada “budaya” merayakan hari ulang tahun di Lembata, mungkin NTT umumnya. Orang suka bicara ngalor-ngidul, tapi sama sekali tidak memperhatikan ulang tahun. Dan memang harus diakui bahwa pesta ulang tahun di Indonesia sejatinya adalah tradisi orang Barat, khususnya penjajah Belanda.

Orang-orang kampung yang sederhana, hidup susah, pendidikan pas-pasan... mana pernah berpikir untuk merayakan ulang tahun? Alih-alih bikin pesta, sekadar makan sehari-hari saja susah minta ampun. Merayakan ulang tahun hanya akan memperberat beban hidup yang sudah sangat berat.

Selama dua minggu saya sengaja berpuasa internet. Sama sekali tidak membaca berita, blogging, cek email, dan sebagainya. Hidup di kampung tanpa internet ternyata sangat menyenangkan. Otak jernih, tak berpikir macam-macam.

Kembali ke Surabaya, saya mau tak mau harus berhadapan lagi dengan internet. Wow, ternyata begitu banyak orang yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya via Facebook. Sebagian besar justru teman-teman dunia maya yang belum pernah saya temui secara langsung di alam nyata.

10 January 2011

Suster Benediktin di Kupang



Suasana haru begitu terasa dalam perayaan ekaristi penerimaan jubah empat suster Benediktin di Sikumana, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (26/12/2010).

Tak hanya keempat gadis yang kini resmi menjadi anggota kongregasi Benediktin, para orangtua dan ratusan umat yang hadir pun tak kuasa menahan haru.

Ketika salah satu suster senior membacakan nama-nama baru para suster, umat memberikan aplaus meriah. Sang Benediktin baru pun menghadap umat, tersenyum bahagia, kemudian memperlihatkan semacam ‘kartu nama’ anggota Benediktin. Tak sedikit umat yang menitikkan air mata bahagia.

Empat gadis sederhana, yang semuanya berasal dari Flores, hari itu menyerahkan diri sepenuhnya sebagai anggota Benediktin. Kongregasi suster-suster kontemplatif pertama di Indonesia. NTT sengaja dipilih kongregasi asal Lazio, Italia, ini karena panggilan hidup membiara di provinsi ini tergolong sangat tinggi di dunia.

Agustina yang mengenakan pakaian adat Lio, Ende, Flores, mendapat nama baru: Suster Maria Priscilla. Edeltrudis menjadi Suster Maria Elena. Lugardis menjadi Suster Maria Laetitia. Rufina menjadi Suster Maria Clara.

Dipimpin Vikjen Keuskupan Agung Kupang Romo Daniel Afoan, yang didampingi Romo Gerardus Duka, misa penerimaan jubah Benediktin ini berlangsung selama hampir tiga jam. Meski terbilang sangat lama, ratusan umat mengikuti dengan saksama perayaan ekaristi mulia yang digelar di Kapela Benediktin Kupang itu.

“Kita di NTT memang sudah biasa menyaksikan misa penerimaan jubah suster-suster yang baru. Tapi khusus untuk Benediktin benar-benar masih baru di NTT, bahkan di Indonesia,” kata Fidelis, jemaat asal Sikumana, Kota Kupang.

Berbeda dengan suster-suster kongregasi lainnya, Benediktin dikenal sebagai kongregasi kontemplatif dengan disiplin sangat ketat. Mereka tak bisa bebas bepergian ke mana-mana dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdoa, misa, ibadat harian, bekerja... di dalam tembok biara.

Umat, bahkan keluarga terdekat, pun tak bisa bertemu langsung dengan para Benediktin. Kalaupun bertemu, para suster Benediktin ini hanya berdiri di balik terali besi biara. Begitu pula di kapel alias gereja kecil, para Benediktin punya tempat doa sendiri di belakang altar, yang juga dibatasi terali besi.

Tak bisa berbaur langsung seperti suster-suster kongregasi lain yang biasa kita kenal. Persis abas-abas di pertapaan Rawaseneng, Jawa Tengah.

Karena disiplin kongregasi yang relatif berat inilah, anggota Benediktin di Indonesia masih sangat sedikit. Ditambah empat suster baru, maka total suster Benediktin di tanah air baru berjumlah 13 orang.

“Saya tahu bahwa kongregasi ini tuntutannya tidak ringan. Tapi saya sejak awal sudah memutuskan untuk menjadi anggota Benediktin, bukan kongregasi lain,” kata Suster Maria Clara yang sebelumnya bernama Rufina.

Menurut Romo Daniel Afoan, penerimaan jubah untuk empat suster Benediktin ini merupakan kali pertama di Keuskupan Agung Kupang, bahkan di Indonesia. sebelumnya, para suster yang ada langsung digembleng di pusat Benediktin di Italia.

“Jadi, peristiwa ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi umat di Keuskupan Agung Kupang,” katanya.

Setelah resmi mengenakan jubah Benediktin, menurut Romo Daniel, perjalanan keempat suster baru ini masih panjang. Mereka harus menjalani masa novisiat, sebuah masa krusial untuk memurnikan panggilan mereka sebagai anggota komunitas Benediktin.

“Tuhan meminta dari para novis ini sebuah ketulusan hati, komitmen yang tulus untuk mencari Tuhan,” papar Romo Daniel. Barulah di akhir masa novisiat, mereka akan mengikrarkan kaul kemurnian, kesetiaan, dan ketaatan.