21 December 2011

TURIS JERMAN KE PECINAN SURABAYA

Kawasan pecinan atau china town di surabaya rupanya menarik perhatian turis Barat. Prof Susanne Altenburg dari Koeln, Jerman, Senin (19/12/2011), sengaja jalan-jalan ke kawasan Kembang Jepun dan sekitarnya.

Susanne Altenburg sebenarnya ingin ke Makassar dan Toraja. Namun karena harus transit sehari, dosen filsafat ini memanfaatkannya dengan mengunjungi pecinan. Ini juga dilakukan Susanne ketika berkunjung ke Myanmar, Vietnam, Malaysia, India, atau Afrika.

"Karena China town itu unik dan beda. Banyak hal menarik yang bisa kita lihat," kata Susanne kepada saya yang jadi pemandu wisata dadakan.

Dari Jerman, Susanne membekali diri dengan buku tentang informasi pariwisata di Asia Tenggara. Di situ tercantum tempat-tempat yang dianggap menarik di Surabaya. Sebagian besar justru berada di pecinan.

Saat melintas di Jagalan, Susanne tersenyum melihat toko-toko obat dan aneka aksesoris Tionghoa. Bau yosua atau hio cukup menyengat. Dia kemudian mampir ke pak kik bio, kelenteng terkenal di Jagalan. Sibuk memotret dan melihat dari dekat rupang-rupang di altar. Belasan umat sedang berdoa.

"Hallo," sapa susanne seraya menjabat tangan jemaat kelenteng.

Dia mengaku belum mendalami filsafat timur sehingga kurang memahami dewa-dewi dalam tradisi Tionghoa. "Saya hanya tahu dewa perang," katanya lantas tertawa kecil.

Dari jagalan, Susanna mampir di Kelenteng Dukuh. Saat itu Grup Lima Merpati sedang memainkan wayang potehi. Lagi-lagi dia surprise, tak menyangka kesenian Tiongkok Selatan ini dimainkan di Surabaya. Dalang, asisten dalang, dan semua pemusiknya bukan Tionghoa, melainkan Jawa asli.

"Wah, baru pertama kali ini saya melihat pertunjukan boneka seperti ini," kata Susanne yang sibuk memotret adegan potehi dengan kamera sakunya.

Penggemar kebudayaan asia ini kemudan masuk ke ruang kru potehi. Dia menyalami Eddy Sutrisno dan kawan-kawan dan melakukan percakapan singkat, dalam bahasa Inggris tentu saja. Susanne ini hanya ingat sekitar 10 kata bahasa Indonesia seperti 'terima kasih' atau 'apa kabar'.

Puas menikmati wayang potehi, susanne melanjutkan pelancongannya ke Kembang Jepun. Pusat bisnis grosir utama di Kota Surabaya. Di gapura kya-kya profesor filsafat ini tertarik dengan ukiran naga yang khas Tionghoa.

Siang itu Kembang Jepun sedang sibuk-sibuknya. Jalanan padat meski tak sampai macet. Karena itu, dia bisa melihat sendiri geliat ekonomi di pecinan yang menjadi lokomotif ekonomi sebuah kota.

"Di mana-mana china town itu selalu bergairah. Aktivitas ekonominya luar biasa," kata dosen yang banyak mengkritik sisi gelap sistem kapitalisme itu.

Kunjungan dilanjutkan ke Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria di Jalan Kepanjen, sekitar Jembatan Merah. Gereja tua ini merupakan jujukan warga Tionghoa di kawasan pecinan yang beragama Katolik.

Susanne memperhatikan arsitektur gereja yang menjadi salah satu cagar budaya di Surabaya itu. Sayang, pintu gereja tertutup rapat karena tak ada kegiatan. Padahal, perempuan yang juga Katolik ini ingin melihat interior gereja dan... mungkin berdoa.

Kecewa, tapi tetap tersenyum. "Kalau di jerman, yang namanya Gereja Katolik itu tidak pernah tutup. Sebab, banyak pengunjung dan jemaat yang ingin masuk. Justru gereja-gereja Protestan yang sering tutup," katanya.

Meski begitu, dia mengaku lega karena sudah bisa menjelajahi Kota Surabaya, khususnya China town. Pengalaman yang memperkaya wawasannya sebagai intelektual sekaligus turis backpacker.

3 comments:

  1. Di Jerman mungkin jumlah pastur nya banyak ya? Kl di sini jumlah pastur masih kurang, kalau gereja dibuka terus, siapa yang jagain ? =P

    ReplyDelete
    Replies
    1. yg jaga gereja itu satpam dan mengurus kebersihan serta perlengkapan it koster. pastor itu urusannya cuma liturgi, bukan jaga gereja hehehe...

      Delete
  2. Koeln atau Cologne dalam bahasa Prancis / Inggris itu terkenal ada gereja Katedral Katolik (Koeln Dom) yang termasuk UNESCO Heritage Site. Karena itu mungkin turis tsb ingin lihat gereja tua di Surabaya, walaupun Gereja Kelsapa belum masuk UNESCO Heritage Center.

    ReplyDelete