03 December 2011

Tionghoa Makin Berkurang



Huang Meili, gadis Tionghoa Sidoarjo.


Berapa jumlah warga negara Indonesia (WNI) keturunan Tionghoa? Angkanya masih simpang siur. Ada pengamat yang menyebut lima juta jiwa. Ada yang bilang tujuh juta. Ada lagi yang menyebut muslim Tionghoa mencapai 1,5 juta.

Kalau yang muslim saja 1,5 juta, jika digabungkan dengan penganut agama-agama lain (Katolik, Kristen Protestan, Buddha, Konghucu, Tao), populasi Tionghoa tentu jauh lebih besar. Tapi, yang menarik, hasil sensus penduduk 2010 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, saat ini penduduk Indonesia yang mengaku keturunan Tionghoa hanya 2,8 juta jiwa.

Adapun total penduduk Indonesia mencapai 237 juta jiwa. Dus, persentase Tionghoa sekarang 1,2 persen. Mengapa jumlah dan persentase Tionghoa menurun? Dan apakah penurunan ini akan berlangsung terus-menerus?

Menurut sejumlah analis, penurunan ini merupakan bukti suksesnya upaya pembauran dan akulturasi budaya di kalangan warga Tionghoa dengan penduduk setempat.

Begitu membaurnya dengan warga lokal, ketika ditanya petugas sensus, orang-orang Tionghoa generasi baru itu mengaku sebagai bukan lagi 'orang Tionghoa', melainkan orang Bangka, Belitung, Singkawang, Pontianak, Flores, Timor, Jawa, Madura, dan sebagainya. Apalagi, banyak generasi muda Tionghoa yang sudah lama 'hilang' ketionghoaannya.

Menurut Jousairi Hasbullah, analis statistik BPS, seorang imigran yang telah menetap lama di sebuah daerah, dari generasi ke generasi, niscaya dipengaruhi tradisi, bahasa, budaya, dan norma setempat. Akhirnya, dia mengaku sebagai anggota suku tempat dia berada.

"Petugas sensus akan mencatat sesuai pengakuan orang itu," kata Hasballah tentang pendekatan etnodemografis yang lazim dipakai BPS saat sensus penduduk di Indonesia.

Faktor lain adalah kawin campur. Ketika orang Tionghoa menikah dengan penduduk setempat, maka keturunannya biasanya cenderung masuk kategori pribumi. Asimilasi tuntas ini, menurut mendiang Dr Ong Hok Ham, banyak terjadi di Pulau Madura, khususnya Sumenep.

Karena itu, populasi Tionghoa yang cukup signifikan di Sumenep sejak tahun 1790, ketika Raja Sumenep mendatangkan tukang-tukang dari Tiongkok untuk membuat keraton dan masjid, lama-lama berkurang... dan akhirnya tinggal sedikit saat ini.

Mengapa?

Ketika imigran Tiongkok generasi awal, yang semuanya laki-laki itu, ingin menikah dengan perempuan lokal, harus lebih dulu masuk Islam. Keturunan mereka kian melebur dalam budaya, agama, dan bahasa setempat, dan tak lagi mengenal tradisi, bahasa, atau agama leluhurnya.

Karena itu, bisa dipahami jika Hasbullah dalam tulisannya di KOMPAS edisi 2 Desember 2011 menyebutkan bahwa populasi Tionghoa saat ini (sensus tahun 2010) menurun drastis dibandingkan sensus penduduk tahun 1930. Saat sensus di era Hindia Belanda itu populasi Tionghoa mencapai 2,04 persen.

Selain itu, menurut saya, penurunan persentase Tionghoa di Indonesia ini juga akibat represi rezim Orde Baru yang berkuasa sejak 1966 hingga 1998. Selama 32 tahun orang-orang Tionghoa dipaksa MENJADI INDONESIA dengan kewajiban ganti nama, ganti agama, dan tidak boleh melestarikan atau mengembangkan budaya leluhur. Ekspresi budaya Tionghoa hanya dilakukan di dalam rumah atau komunitas khusus.

32 tahun jelas bukan masa yang pendek. Suka tidak suka, Tionghoa generasi Orde Baru yang lahir setelah tahun 1966 ini, sudah berbeda dengan orang tua mereka yang rata-rata bersekolah di sekolah-sekolah Tionghoa. Tionghoa Orba ini umumnya sekolah di sekolah-sekolah Katolik, Protestan, negeri, atau sekolah swasta umum. Bahasa Tionghoa generasi Tionghoa Orba pun tidak sefasih orang tua, apalagi kakek-neneknya.

Orang-orang Tionghoa Orba ini, yang sekarang berusia di bawah 45 tahun, pun tidak begitu tersinggung, apalagi marah, ketika kita menggunakan istilah CINA (tanpa H) dan bukan TIONGHOA. Yenny Wijayanti, mahasiswi Universitas Kristen Petra Surabaya, misalnya, selalu menulis CINA dan bukan TIONGHOA seperti dianjurkan oleh bapak-bapak dan ibu-ibu aktivis masyarakat Tionghoa di Kota Surabaya.

Yenny alias Huang Meili ini mengaku tidak bisa mengerti mengapa saya selalu mengubah istilah CINA yang dia tulis dengan TIONGHOA atau TIONGKOK. Begitulah. Tionghoa Orba ini rata-rata kurang membaca sejarah dan asyik-asyik aja mau disebut CINA, CHINA, CHINESE, TIONGHOA, atau apa saja... terserah.

Tapi jangan coba-coba menyebut CINA, apalagi CINO, atau menulis CINA (tanpa H) di depan Pak Lim yang Tionghoa golongan totok. Beliau pasti marah dan akan memberi kuliah khusus tentang masalah ini secara panjang lebar.

"Wartawan itu harus tahu sejarah dan banyak baca. Kalau Saudara males baca, tidak mau tahu sejarah, sebaiknya pulang saja ke kampung halamanmu. Pasti tulisanmu akan kacau!" begitu antara lain kata-kata Pak Lim.

Dan saya setuju pendapat beliau. Kita harus banyak baca, belajar sejarah, tenggang rasa, sensitif memilih kata atau istilah agar orang lain tidak tersinggung.

Karena berkali-kali dapat 'kuliah' macam ini di Surabaya, sejak delapan tahun lalu saya tidak pernah menggunakan kata CINA dalam semua tulisan saya. Saya selalu pakai TIONGHOA atau TIONGKOK, dan belakangan ini ZHONGGUO (baca: Cungkuo) setelah saya mulai sedikit-sedikit paham karakter hanzhi di komputer atau telepon seluler.

12 comments:

  1. Sebenarnya di manapun juga, kaum imigran akan membaur ke kuali masyarakat, asalkan diberi waktu. Kaum Tionghoa peranakan di Indonesia yang sudah ratusan tahun turun menurun beranak pinak, tidak berbahasa Tionghoa lagi. Kaum totok yang baru datang sekitar tahun 1930-40an (karena melarikan diri dari kekacauan perang saudara dan kelaparan) memang mencoba mempertahankan bahasa dan budaya, tetapi jika diberi waktu dan tanpa dipaksa Orde Baru pun mereka akan membaur seperti golongan peranakan. Justru dengan ketidakbijakan Orba yang mengharuskan orang Tionghoa dicap "WNI" di KTP mereka, perbedaan itu jadi seperti jelas dipaksakan. Begitu diskriminasi ala Orba dicabut, orang Tionghoa memang mau mengeksplorasi bahasa Tionghoa dan budaya nenek moyang, tapi mereka tetap berbahasa Indonesia dan merasa 100% orang Indonesia. Pokoknya, pembauran itu tidak usah dipaksakan. Sejalan waktu, akan terjadi sendiri.

    ReplyDelete
  2. setuju!!!! pembauran itu alamiah, gak bisa dipaksakan.. apalagi dgn gaya orba...

    ReplyDelete
  3. ada juga warga tionghoa di adopsi ama orang pribumi tapi dia seperti orang pribumi tapi ras masih tionghoa . saya adik kakek dari ibu ku mengadopsi anak orang jepang asli dan dia sudah di anggap dia orang aceh .

    ReplyDelete
  4. tionghoa peranakan tidak penah dianggap sebagai tionghoa oleh tionghoa totok, itu mental yg terkadang dijumpai diantara tionghoa" totok, alasanya krn perbedaaan budaya, bahasa, dan indentifikasi diri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebaliknya yang aku alami pada diriku sendiri. Mertua perempuanku Tionghoa peranakan, dia selalu mengatakan aku sebagai Singkek. Kalau dia bilang bahwa aku Cina, pasti aku senang, mungkin aku akan pay-kui didepannya 3 kali. Walaupun demikian aku lebih hormat kepada Tionghoa Baba daripada Tionghoa Belandis.
      Sayang Ibu mertua sudah meninggal, seandainya beliau masih hidup, entah bagaimana reaksinya, mendapat kenyataan, anak perempuannya gua gondol pulang Tiongkok.

      Delete
  5. Ada 2 penyebab mengapa persentasenya menurun: 1.petugas sensus yg mengisi formulir yg menilai apakah anda tionghoa atau bukan, jadi bukan kita yg merasa orang tionghoa atau mengaku tionghoa. 2.jumlah penduduk yg dikampung kenaikkannya lebih banyak daripada kenaikkan jumlah penduduk kota dikarenakan kb bukan merupakan keharusan. Akibatnya org tionghoa yg kebanyakan tinggal dikota persentasenya menjadi mengecil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak setuju ! Mana ada petugas sensus yang sedemikian dungu. Petugas hanya mencatat pengakuan dari penduduk ! Setelah G-30-S siapakah dari golongan Tionghoa yang mau mengaku, bahwa dirinya Cina, apalagi sesudah ganti nama.
      Gua punya teman sekolah di SMA, sejak kelas 1, gua kenal dia pakai nama cina. Tentu saja gua waktu ketemu lagi setelah 40 tahun, tetap menyapanya dengan akrab pakai nama cina-nya. Anak lelakinya yang kebetulan berdiri disebelahnya, nyeletuk : Ooh,
      jadi papi ini adalah chinese ya ? Entah bagaimana seterusnya, temanku itu harus menerangkan persoalan ganjil ini kepada anaknya. Gua tidak tahu nama Indonesia-nya dia, dan sebaliknya dia juga tidak tahu nama Indonesia-ku. Hellen, lain kali jangan sembarangan nulislah. Cek Lotek ini suka kritik lho.

      Delete
  6. Bole gak kita kenalan... sapa tau kita bisa kawin campur... ane keturunan Arab. Kita bisa menciptakan generasi Android yang disebut ARTIOHO (Arab Tionghoa)...

    ReplyDelete
  7. Saya yakin tionghoa lebih besar jumlahnya dibanding suku lain di Indonesia, tionghoa ada dimana-mana dan tersebar disetiap kota-kota besar, suku etnis lain belum tentu ada kelihatan di kota yang lain, sementara tionghoa ada dimana2 disetiap daerah dan semakin bekembang ditengah kota dan menggusur etnis lain kepinggir, tidak ada maksud SARA tapi ini kenyataan. etnis tionghoa bukannya berkurang tetapi semakin banyak dan mereka juga tak pernah mengikuti proggrgam keluarga berencana(KB) sementara yg lain disarankan untuk ikut (KB).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya biarin mau banyak mau sedikit biarin, terserah pribadi masing masing, setiap org punya hak asazi untuk hidup dan bahagia, yg penting dalam hidup ini setiap orang bisa berbuat kebaikan,biarpun agama kristen,islam,budha hindu konghucu dll. Yg penting berbuat kebaikan, agar karmanya baik keanak cucunya.setiap org akan dibalas sesuai perbuatannya sendiri

      Delete
    2. kenyataannya, temen temen saya yang etnis tionghoa enggang punya anak banyak, menurut mereka repot ngurusnya, mana biaya pendidikan dan membesarkan mereka tinggi lagi, tapi banyak temen temen saya yang sopir atau dari kampung, anaknya banyak, tetapi ada juga yang bilang ke saya, ya cukup anak dua saja, repot nanti pendidikannya kalau banyak anak, negeri ini tidak memaksa orang utk KB, itu bukan paksaan, kalau memang bisa membiayai, punya anak 10 juga silahkan.

      Delete
  8. Saya sendiri sudah indonesia banget, ibu saya belanda tulen dan ayah saya campuran indo belanda, tapi saya merasa sebagai orang jawa karena saya lahir dan besar di jogja, ketika berbicara pun saya medok banget, aku ra ngapusi dab!

    ReplyDelete