04 December 2011

Rahady GM The Sun Hotel Sidoarjo




Oleh LAMBERTUS HUREK

Dibandingkan lima atau 10 tahun lalu, wajah Sidoarjo saat ini sudah jauh berubah. Kini, Sidoarjo semakin kinclong dan 'metropolis'. Sudah punya hotel, mal, water park, hingga convention hall di tengah kota. The Sun Hotel tercatat sebagai hotel berbintang pertama di tengah kota Sidoarjo.

Berlokasi di Jalan Pahlawan 1, hotel yang berada di dalam kompleks Sun City Mall ini sudah menjadi jujukan para pebisnis ketika berkunjung ke Sidoarjo. Begitu pesatnya perkembangan hotel ini, The Sun Hotel bahkan sedang mengembangkan sayap ke Madiun dan Bekasi.

Tentu saja, kemajuan hotel bintang tiga yang eksis sejak tahun 2008 ini tak lepas dari kerja keras Timotius Rahady (42), sang general manager, bersama staf dan karyawannya. Berikut petikan percakapan Radar Surabaya dengan Timotius Rahady di sela makan siang, Kamis (1/12/2011).

Berapa kamar yang Anda miliki dan bagaimana tingkat huniannya?


Total, kami punya 129 kamar, mulai kelas superior, de luxe, executive, dan suite. Yang suite ini hanya ada dua kamar dengan tarif sekitar Rp 2 juta semalam. Syukurlah, okupansinya (tingkat hunian, Red) sangat bagus. Sekarang ini hampir semua kamar yang ada di sini penuh. Jadi, tugas kami sekarang adalah bagaimana mempertahankan okupansi yang sudah baik itu serta terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada para tamu.

Bagaimana dengan pendapat bahwa para pebisnis yang punya urusan di Sidoarjo lebih suka menginap di Surabaya?

Dulu, anggapan seperti ini memang ada benarnya. Sebab, waktu itu belum ada hotel berbintang di Sidoarjo. Kalaupun ada, hotel-hotel itu terkonsentrasi di dekat kawasan Bandara Juanda. Sehingga, tentu saja pengusaha-pengusaha atau tamu-tamu dari luar memilih menginap di hotel-hotel yang ada di Surabaya. Apalagi, sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya punya berbagai fasilitas hiburan, belanja, rekreasi, dan sebagainya yang komplet.

Tapi, dalam perkembangannya, tamu-tamu dari luar memilih menginap di tempat kami (The Sun Hotel) ketika melakukan kunjungan kerja atau acara-acara bisnis di Kabupaten Sidoarjo. Buktinya, okupansi hotel ini justru lebih tinggi daripada di kawasan Juanda yang masih sekitar 55 persen. Di Surabaya sekitar 77 persen. Jadi, so far, kondisi Sidoarjo ini cukup prospektif untuk bisnis perhotelan.

Boleh tahu tamu-tamu Anda dari kalangan mana saja?


Hampir 80 persen berasal dari Jakarta dan sekitarnya. Sebagian besar tamu adalah pebisnis yang punya urusan dengan pabrik-pabrik di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Karena itu, karakter tamu-tamu kami agak berbeda dengan tamu-tamu di hotel-hotel berbintang yang lain.

Bisa diperjelas?


Begini. Karena tamu-tamu kami ini kebanyakan businessman, maka okupansi yang tinggi itu justru terjadi pada saat hari kerja. Saat weekend justru berkurang karena mereka kembali ke rumahnya masing-masing. Pada hari Senin sampai Jumat, tingkat hunian melonjak lagi.

Ada lagi yang menarik. Biasanya, tamu-tamu yang sebagian besar dari Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) ini datang lewat Bandara Juanda pada first flight atau penerbangan awal. Dari bandara, mereka langsung berangkat ke tempat kerja, menemui rekanan bisnis dan sebagainya, dan baru check-in pada malam hari setelah selesai bertugas.

Artinya, tamu-tamu The Sun ini umumnya tidak hanya menginap satu dua malam saja?

Betul. Bahkan, ada tamu kami, pebisnis, yang tinggal di sini sampai enam bulan bersama enam rekannya. Karena itu, kami selalu berusaha memperlakukan tamu-tamu The Sun sebagai keluarga sendiri. Kami, misalnya, menanyakan makanan-makanan kesukaan mereka, dan kami siap membuatkannya. Mau sambal yang spesial, ya, kami buatkan.

Bahkan, saat weekend pun kami sengaja mengajak mancing bareng di kawasan Lingkar Timur bersama beberapa staf dan manajemen hotel. Atau, jalan-jalan melihat dari dekat kondisi semburan lumpur di kawasan Porong. Sebagai hotel yang berada di Sidoarjo, kami juga ikut memperkenalkan objek-objek wisata Sidoarjo, termasuk kulinernya.

Servis spesial ini apakah hanya untuk tamu yang menginapnya lama?

Oh tidak. Tamu yang hanya nginap tiga minggu pun kita kasih layanan spesial. Selama ini kami juga menawarkan jasa mengantar tamu gratis ke tempat kerja. Misalnya, si tamu ingin agar jam delapan sudah sampai di pabrik di daerah Buduran, ya, kami siap antar.

Apa pertimbangan memberikan layanan seperti itu?


Simpel saja. Bagi kami, hotel itu ibarat sebuah rumah. Ketika orang kedatangan tamu di rumahnya, wong iku wani repote. Kita nggak punya ayam, dicari ayam untuk dihidangkan untuk tamu. Nggak punya kambing dicarikan kambing. Hehehe.... Lha, kalau tamunya senang, merasa enak, maka otomatis dia akan cerita ke keluarga atau teman-temannya. Sehingga, suatu saat, ketika ada urusan di Sidoarjo, dia akan menginap lagi. Sebab, hotel itu sudah seperti rumahnya sendiri.

Lantas, bagaimana Anda melihat potensi perhotelan di Sidoarjo?


Sangat baik. Di wilayah Kabupaten Sidoarjo ini ada sekitar 450 pabrik besar baik itu PMA (penanaman modal asing) maupun PMDN (penanaman modal dalam negeri). Ini merupakan potensi besar yang perlu kita garap. Sebab, ratusan pabrik itu punya rekanan bisnis yang tersebar di seluruh Indonesia maupun luar negeri. Kalau berkunjung untuk urusan bisnis di Sidoarjo, ya, jelas mereka perlu menginap di hotel. Lha, kalau di Sidoarjo sudah ada hotel berbintang, mengapa harus stay di Surabaya? (rek)




Main Musik untuk Tamu

SEJAK kecil Timotius Rahady sudah senang bernyanyi dan main musik. Hobi yang bikin awet muda ini semakin ditekuni Rahady ketika kuliah di Semarang. Di ibu kota Provinsi Jawa Tengah itu, Rahady menimba ilmu di Sekolah Tinggu Ilmu Ekonomi Pariwisata.


Saat mahasiswa Rahady bahkan aktif sebagai pemain band. "Yah, ngeben itu sebenarnya hanya sekadar hobi. Tapi ternyata bisa juga untuk sekadar cari uang di sela-sela kuliah," kenang Rahady seraya tersenyum.

Berbagai aliran musik ditekuni Rahady bersama teman-teman band-nya. Tapi, sesuai dengan 'keinginan pasar' saat itu, Rahady dan kawan-kawan lebih banyak memainkan lagu-lagu dari band legendaris. "Kayak lagu-lagu tahun 1960-an, sixties, band-band legendaris. Lagu-lagunya terkenal dan lebih mudah dimainkan," katanya.

Meski aktif main band, kuliah Rahady lancar-lancar saja. Lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata itu, ayah dua anak ini mulai merintis karier di dunia perhotelan. Jadi pelayan alias waiter di sebuah hotel di kawasan Malioboro, Jogjakarta. Rupanya, Rahady cukup menikmati pekerjaan awalnya.

Pengalaman selama dua dasawarsa di perhotelan membuat Rahady sangat paham lika-liku dan manajemen sebuah hotel berbintang. Karena itu, pria berkacamata ini kemudian dengan mudah diterima sebagai sales marketing di Hotel Graha Santika Semarang. "Tujuh tahun saya kerja di Graha Santika," tuturnya.

Dari Semarang, Rahady pun 'digeser' ke Surabaya lantaran Santika tengah merintis hotel baru di Kota Pahlawan. Kembali Rahady memperlihatkan totalitasnya sebagai 'orang hotel' tulen. Begitulah. Sebagian besar usia Rahady, yang kini sudah 42 tahun, didekasikan dari hotel ke hotel.

Lantas, bagaimana dengan hobi bermusiknya yang sudah mendarah daging itu?

Rupanya, terus berlanjut meski wujudnya yang berbeda. Sebagai mantan anak band, tentu saja Rahady punya teman dan relasi yang erat dengan pemusik-pemusik ternama di tanah air. Khususnya musisi-musisi aliran jazz mainstream. Sebut saja Embong Rahardjo (almarhum), Arief Setiadi, Bintang Indrianto, atau Didiek SSS.

Nah, ketika konco-konco lawas ini kebetulan bertandang ke Surabaya, Rahady mengajak mereka untuk main bareng alias bikin jam session. Jadilah semacam 'festival' jazz kecil-kecilan di dalam hotel. "Saya memang ingin agar tamu-tamu hotel kerasan, kayak tinggal di rumah sendiri," katanya.

Di Sun Hotel Sidoarjo sendiri, Rahady sekali-sekali memperlihatkan bakatnya dengan memainkan piano klasik. Saat hendak difoto Radar Surabaya, misalnya, jari-jemari Rahady terlihat lincah di depan piano. Lalu, meluncurlah melodi Balada Pelaut, lagu pop daerah Manado, Sulawesi Utara.

"Siapa bilang pelaut mata keranjang.
Kapal bastom lapas tali, lapas cinta
Siapa bilang pelaut pamba tunangan
Jangan percaya mulut rica-rica...."



BIODATA SINGKAT

Nama : Timotius Rahady
Lahir : Rembang, 19 Mei 1969
Istri : Listiowati
Anak : dua orang
Jabatan : GM The Sun Hotel Sidoarjo
Hobi : Musik, khususnya piano

Alamat : Jl Pahlawan 1 Sidoarjo
E-mail : timotius_rahady@yahoo.co.id

Pendidikan
- SD di Rembang
- SMPN 2 Rembang
SMAN 2 Semarang
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata, Semarang

Riwayat Karier
- Hotel Mutiara Jogjakarta sebagai waiter
- Hotel Graha Santika Semarang, sales marketing
- Hotel Santika Surabaya
- Hotel Insumo Kediri
- MX Plaza Malang
- The Sun Hotel Sidoarjo sejak 2011

Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 4 Desember 2011

5 comments:

  1. matematika posting.
    Ada yang perlu diperjelas lagi om Hurek. Karier Rahady 34 (20 +7+7) tahun. Sekarang usia beliau 42 tahun, berarti Om Rahady mulai bekerja di hotel sebagai waiter umur 8 tahun?
    Pada umur segitu dia masih sekolah SD dan SMP di Rembang. Maaf Om, cuma matematika posting saja.
    Bagaimanapun juga sy adalah penggemar berat tulisan anda. Sedikit banyak hal itu mempengaruhi gaya posting saya.
    Terima kasih om..Keep Smile..

    ReplyDelete
  2. Benar Mas Jusup, matematikanya agak kacau nih. Terima kasih sudah kasih koreksi. Ngetiknya terlalu cepat, lolos edit...

    Selamat berjuang. Matur nuwun.

    ReplyDelete
  3. mnt info ttg keanggotaan / club d hotel
    tq :)

    isna fitria (juri CSR 2011)

    ReplyDelete
  4. GM yang humble ...
    Pak Rahady emg kren ..
    Dtang lagi ke d' Oria Boutique n Resort Lombok ya pak ..
    Qt masih pengen d training lagi ...
    :)

    GBU

    ReplyDelete
  5. GM yang humble ...
    Pak Rahady emg kren ..
    Dtang lagi ke d' Oria Boutique n Resort Lombok ya pak ..
    Qt masih pengen d training lagi ...
    :)

    GBU

    ReplyDelete